RSS

sebuah percakapan



Suatu hari, waktu saya lagi nge-
blue dan sok melankolis sambil mengasihani diri sendiri, Tuhan mampir. Jangan bayangkan Beliau pake jubah putih ya... karena waktu itu Beliau lagi pake kaos oblong biasa dan celana batik. Hah?? Batik??? Iya! Nggak nyangka kan?? Kemudian terjadilah percakapan itu:

Jessie (J): Tumben pake celana batik, Tuhan? Biasanya yang saya lihat di buku-buku bergambar dan yang dikatakan orang-orang yang mengaku ketemu dengan Tuhan, Tuhan selalu pake jubah putih yang bercahaya dan bikin silau.
Tuhan (T): Bosen pake jubah putih melulu. Memangnya Saya tidak punya pakaian lain? Dan bukannya di Surabaya lagi nge-trend batik-batikan? Saya juga mengikuti trend.

J: Apa kabar, Tuhan?

T: Ah... tidak penting bagaimana kabar Saya. Kamu sendiri, sedang apa? Kok wajahmu kusut betul?
J: Lagi merenungi nasib, Tuhan.

T: Memangnya nasibmu kurang baik?

J: Enggak juga sih...

T: Nah terus?

J: Saya iri aja, Tuhan sama mereka yang kayaknya nggak pernah punya kesulitan hidup. Mau apa-apa kok gampang. Mau ke luar negeri, duitnya ada. Mau beli rumah lagi, duitnya ada. Mau beli mobil baru, duitnya ada. Lha saya? Wah ya mana mungkin... rumah yang sekarang aja masih nyicil, Tuhan, masa mau beli mobil baru...
T: Kamu lagi pengen mobil tho?

J: (
dengan semangat) Tuhan mau kasih ya?? Wah, terima kasih lho, Tuhan! Saya pengennya Toyota Yaris, Tuhan! Tapi kalo nggak boleh, Honda Jazz juga nggak papa! Nggak boleh juga?? KIA Picanto deh Tuhan... kan lebih murah ya kalo ga salah?
T: Memangnya kamu sudah siap punya mobil?
J: Apa yang perlu disiapkan, Tuhan? Kalo sudah punya mobil, saya akan belajar sampai bisa!

T: Tuh kan.. kamu sendiri belum bisa nyetir. Belajar nyetir dulu!
J: Ya saya pasti akan belajar nyetir kalo sudah ada mobil sendiri!

T: Ya sekarang kan kamu sudah ada mobil, apa yang sudah kamu lakukan dengan mobil itu?

J: (
bingung) Ehm... Suzuki Karimun saya yang biru itu? Memangnya apa yang harus dilakukan?
T: Ya kalau misalnya mobil itu lagi rewel... lampu dim-nya mati, temperatur-nya naik terus kalau lagi dipakai, terus kamu apakan?
J: Biasanya
hubby yang ngurus, Tuhan. Saya mah nggak tahu urusan mobil kayak begitu...
T: Persis! Kalau kamu nggak tahu gimana cara ngurusnya, kenapa minta mobil?
J: E.. a.. i.. u.. o...

T: (
lebih semangat) Kamu ingat perumpamaan talenta? Kenapa ada yang Saya beri lima talenta, ada yang Saya beri dua talenta, ada yang Saya beri satu talenta? Karena Saya tahu siapa yang lebih siap diberi lima talenta. Saya tahu, dia akan bertanggung jawab akan lima talenta itu dan ketika kembali pada Saya, lima talenta itu sudah berbuah lima lagi! Kenapa ada yang Saya beri satu talenta? Karena Saya tahu, dia hanya akan menyimpannya saja dan tidak digunakan! Satu saja dia tidak bisa mempertanggung jawabkan apalagi diberi lima!
J: Jadi ini tentang kesiapan?

T: Betul! Kalau menurut Saya, kamu sudah siap punya mobil baru, ya pasti tanpa banyak cingcong Saya akan kasi! Kalau menurut Saya, kamu sudah siap punya uang banyak sekaligus mengaturnya dengan baik terus mau pergi ke luar negeri, ya Saya pasti akan kasi! Lha memangnya kamu sudah siap? Jangan-jangan nanti kalau Saya kasi uang banyak, kamu nggak bisa mengelola dengan baik dan habis dalam waktu singkat! Jangan-jangan nanti kalau Saya kasi mobil baru, tidak sampai setahun, mobil itu sudah kumal dan tak terawat!

J: (
diam saja)
T: Lagi-lagi persoalannya tentang rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Sulit sekali membuat kalian para manusia bersyukur atas apa yang sudah dipunyai. Kamu sekarang sudah punya rumah, apa kamu sadar, ada banyak orang diluar sana tidak punya rumah yang layak untuk ditinggali? Setiap saat khawatir akan ambruk. Kalau hujan tetap basah, kalau panas juga kepanasan. Kamu minta mobil, apa kamu belum juga sadar, kalau bumi ini sudah sedemikian panas dan kotornya, tidak perlu lagi tambahan polusi dari asap mobilmu? Belum lagi bahan bakar yang akan kamu pakai? Kalian keruk habis-habisan alam ini tapi tidak berpikir tentang bagaimana merawatnya, bagaimana nanti nasib anak cucu kalian!

J: Saya... tidak berpikir sejauh itu...
T: Memang! Kalau semua manusia berpikir jauh ke depan, bumi tidak akan jadi begini! Kalau semua manusia berpikir positif dan selalu bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki dan bukannya malah iri melihat orang lain, bumi akan jadi tempat yang menyenangkan untuk ditinggali! Tapi bumi jadi begini buruk dan manusia mulai resah untuk tinggal di bumi, salah siapa? Salah Saya, pasti!
Wong kalau ada orang mau bercerai aja ngomongnya Semua ini kehendak Tuhan. Salah Saya lagi!
J: (
malu) Iya... kadang-kadang saya, eh, kami menyalahkan Tuhan atas semua keburukan yang terjadi...
T: Padahal siapa yang buat itu semua? Saya kasi bumi yang indah, Saya suruh pelihara, dipelihara nggak?

J: Nggak...

T: Nah!

Sampai disini percakapan berhenti. Tuhan membiarkan saya merenung sejenak sambil senyum-senyum. Kemudian pamit. Dia bilang, Dia harus mampir-mampir lagi ke tempat lain, tapi saya tidak perlu khawatir, karena Dia tetap ada dalam hati saya, kalau saya mengijinkanNya.

Saya mengijinkanNya. Biarpun kadang-kadang saya sok melankolis, saya sok nge-blue, tapi Dia nggak pernah meninggalkan hati saya biarpun saya tutup kuping tidak mau mendengarkan. Dan Dia bukan Tuhan yang kuno, Dia gaul. Tahu nggak? Tuhan dengan kaos oblong dan celana batik??

Thursday, 12 June 2008
9:10 am

2 komentar ajah:

^^ CaCa ^^ said...

Nice share :)
Thx ya..
Lam kenal..
Jbu

jc said...

Salam kenal, Ca... Jbu too!