RSS

sebuah cermin dan seorang pemilik restoran

Pada sebuah restoran ada sebuah cermin yang tingginya menjulang hingga ke langit-langit. Si empunya restoran cinta betul dengan cermin itu karena melaluinya ia seperti menonton layar lebar yang dibintangi oleh tamu-tamunya sendiri. Jika sedang sendu hatinya atau muram harinya, ditatapnya cermin itu lama-lama pada jam-jam makan dimana restorannya dipenuhi pengunjung untuk mengisi perut mereka. Dan hatinya kembali senang, harinya kembali riang. Suatu hari, saat restorannya kembali ramai dengan pengunjung, ditatapnya kembali cermin itu lama-lama. Mencoba mencari kehangatan dan keakraban yang bisa bikin hatinya kembali senang dan harinya kembali riang dari para pengunjungnya. Tapi berapa kalipun mengejapkan mata hingga mendelik, tetap saja hatinya masih sendu dan harinya masih muram. Bertanya-tanyalah ia pada diri sendiri apa ada yang salah pada dirinya atau cermin itu. Ia dongakkan lagi kepalanya, ditatapnya kembali cermin kebanggaannya itu lekat-lekat, kemudian ia tersentak. Keesokan harinya ia tatap kembali cermin itu, dan tetap saja tak ia temukan yang ia cari. Begitu juga dengan keesokan harinya lagi dan lagi dan lagi.

Barulah setelah frustasi selama berminggu-minggu tak menemukan yang ia biasa ia dapatkan dari tamu-tamunya, sebuah kesadaran menggetok kepalanya atas sebuah pertanyaan tentang mengapa tak lagi bisa ia lihat kehangatan pada cermin itu. Dan barangkali untuk pertama kalinya, matanya beralih menatap langsung pada pengunjung-pengunjungnya, pada tamu-tamunya. Diamatinya tiap keluarga yang makan disitu. Diamatinya satu persatu dan kemudian hatinya semakin sedih, harinya makin muram. Masuklah ia ke ruangannya dan menangis tersedu-sedu disana

Tamu-tamunya, keluarga-keluarga yang datang ke restorannya, yang dulu selalu membawa kehangatan atas keakraban yang terjalin diantara mereka sudah berubah. Tak lagi ada kehangatan yang ia rasakan. Meskipun duduk mengelilingi satu meja, bersama-sama dalam satu tempat, mereka sibuk sendiri-sendiri. Mereka tak lagi saling ngobrol, saling berceloteh, atau saling melempar gurauan. Mereka asyik sendiri-sendiri dengan benda yang ada di tangan mereka. Tersenyum-senyum sendiri sambil membaca entah apa pada benda itu. Anak tak lagi ngobrol dengan ayah ibunya karena sibuk memberi komentar pada status teman-temannya di situs jejaring sosial. Istri tak lagi berceloteh manja pada suaminya karena sibuk dengan online shop yang baru ia rintis. Kakak tak lagi menggoda adiknya karena sibuk memperbarui status tentang dimana ia berada saat itu. Nenek tak lagi dapat berbincang-bincang dengan cucunya karena cucunya sibuk menggebuki musuh melalui benda yang ia pegang kemana-mana. Mereka hanya berhenti sibuk dengan benda itu jika makanan datang.

Tak lama kemudian, pada jurnal hariannya si empunya resto dengan menggebu-gebu menulis begini:  Apa jadinya sebuah keluarga jika mereka sudah tak saling peduli satu dengan yang lain? Apa jadinya sebuah keluarga jika mereka lebih peduli dengan siapa yang tidak bersama-sama dengan mereka daripada dengan siapa yang bersama-sama dengan mereka? Jika sebuah keluarga harus sibuk, bukankah seharusnya mereka harus sibuk mempedulikan satu dengan yang lain? Mengapa kelihatannya jauh lebih penting apa yang terjadi di luar sana ketimbang apa yang terjadi pada keluarganya sendiri? Apa cermin itu harus kuhancurkan agar aku tak perlu lagi melihat keluarga modern tapi dingin yang lebih sering muncul daripada keluarga yang akrab dan hangat?

Pemilik restoran itu lantas berhenti menulis. Direnungkannya kembali yang ia tulis dan melalui jendela ruangan kantornya ia tatap kembali tamu-tamunya. Sudut matanya menemukan sebuah keluarga dengan tawa dan gelak yang telinganya rindukan. Senyumnya mengembang. Tak perlu ia hancurkan cermin itu, karena ia percaya masih ada keluarga-keluarga yang tetap akrab dan hangat di tengah-tengah modernitas yang sedang merajalela.

Ia keluar dari ruangannya, mendekati meja dimana keluarga yang sudah membuat hatinya kembali senang dan harinya kembali riang. Dan senyumnya semakin lebar. Karena tak ada benda-benda mahal dan katanya pintar itu diatas meja mereka.

“Mau pesan apa? Hari ini saya yang traktir,” katanya kemudian.

                Surabaya, 23 September 2011 
PS : Gambar diambil dari sini

tentang cinderella

Ada yang salah pada dongeng Cinderella.  Bahwa sesungguhnya barangkali si ibu tiri dan kakak-kakak tiri Cinderella itu tidak jahat. Karena jika demikian, mengapa ayah Cinderella mau-mau saja mengawini sang ibu tiri jika ia memang jahat? Pria bukanlah makhluk yang bodoh. Jika kau melihat pria sebagai makhluk bodoh, maka aku sarankan, sebaiknya berhentilah kau menontoni sinetro-sinetron busuk itu – yang dengan senang hati mempertunjukkan para pria yang sepertinya tidak punya otak dan yang isi kepalanya cuma air mata saja. Berhenti. Pria di dunia nyata tidak setolol mereka.

Dengarkan aku, barangkali apa yang akan aku ceritakan ini tidak bikin enak kuping. Tapi ini yang sesungguhnya terjadi. Sesuatu yang sesungguhnya terjadi namun kurang sensasional memang tidak terlalu menarik, bukan? Sesuatu yang sesungguhnya terjadi namun pemeran utama di dalamnya kurang rupawan juga tidak menarik hati bukan? Tapi biar bagaimanapun, kebenaran tetap kebenaran, walaupun yang sudah telanjur menyebar beritanya bukanlah yang benar.

Jadi begini.

Kau tahu, selama ini dunia diberitahu bahwa Cinderella adalah perempuan rupawan yang ditinggal mati oleh ibunya yang baik hati dan dermawan. Yang sesungguhnya terjadi ibunya Cinderella mati bukan karena sakit, tetapi karena ia terlalu banyak minum alkohol. Ia sering pergi ke tempat-tempat untuk minum minuman keras sambil memamerkan anaknya yang cantik jelita bernama Cinderella itu. Sedari kecil, Cinderella terus-menerus diberitahu oleh ibunya bahwa ia akan tumbuh jadi perempuan yang cantik dan rupawan. Dan perempuan yang cantik dan rupawan selalu punya tempat tersendiri di bumi manusia ini. Mereka yang cantik dan rupawan tidak perlu khawatir akan hidup susah. Tidak perlu khawatir akan hidup menderita. Dunia akan selalu memihak mereka yang cantik dan rupawan. Biarlah yang perlu khawatir akan hidup susah dan menderita adalah mereka yang berburuk rupa atau yang diberi wajah biasa-biasa saja. Mereka yang akan merasakan betapa hidup ini tidak adil adanya. Biar mereka saja. Karena itulah Cinderella tidak pernah khawatir akan hidupnya. Ia tahu ia cantik, dan ia akan menikah dengan pria kaya yang tampan kemudian hidup bahagia selamanya.

Sebab itulah Cinderella benci betul dengan perempuan yang dikawini ayahnya setelah ibunya meninggal. Ia juga benci dengan kakak-kakak tirinya. Ia tidak mengerti kenapa perempuan tidak rupawan itu dikawini oleh ayahnya. Ibunya jauh lebih cantik dari ibu tirinya. Tiap kali ia mematut-matutkan diri di depan cermin, ia selalu tertawa terbahak-bahak membayangkan kakak-kakak tirinya. Dipandang dari segi manapun, dilihat dari ujung bumi manapun, ia tetap yang paling cantik diantara semuanya.

Tapi Cinderella tak hanya benci pada ibu dan saudara-saudara tirinya karena mereka buruk rupa. Ia benci karena ibu barunya suka mengatur kapan ia harus belajar untuk sekolahnya. Jam pulang rumah yang tidak boleh terlalu malam. Ibu barunya juga selalu ingin tahu kemana ia pergi dan bersama dengan siapa. Padahal dulu dengan ibunya, tidak pernah ia diberitahu ini dan itu, kapan pulang dan kemana ia pergi juga dengan siapa. Ia bisa pulang dan pergi seenaknya sendiri. Bukankah sudah biasa jika gadis cantik sering diajak kencan oleh teman-teman prianya? Kan bukan urusannya kalau tak ada laki-laki yang sudi mengajak kakak-kakak tirinya yang rupanya biasa-biasa saja itu? Yang lebih senang mendekam di kamar, tekun belajar demi hari esok yang lebih cerah untuk mereka? Ia sudah tahu kalau hari esoknya akan cerah, jauh lebih cerah dari kakak-kakak tirinya. Courtesy  dari wajah cantiknya.

Sampai suatu ketika, Cinderella pulang dari diskotik dalam keadaan mabuk, digotong oleh dua teman prianya yang juga hampir sama mabuknya. Meledaklah amarah ibu tirinya. Dihukumnya ia membersihkan gudang bawah tanah yang kotor, kumuh dan berbau tak sedap itu. Ia menangis tersedu-sedu, melolong keras-keras sehingga tetangga yang mendengarkan lolongannya yang menyayat hati itu ikut memohon pada sang ibu tiri untuk mengeluarkan Cinderella dari gudang bawah tanah. Namun sang ibu tiri tetap bersikeras bahwa Cinderella harus dihukum. Kakak-kakak tirinya yang juga mendengar sedu-sedan Cinderella pun ikut tergerak hatinya dan memohon pada ibu mereka untuk mengeluarkan Cinderella dari gudang bawah tanah. Sang ibu tiri pun akhirnya luluh dan mengeluarkan gadis itu dari gudang bawah tanah. Namun hukuman tetap berlaku bagi mereka yang melanggar, katanya. Karena itu sebagai gantinya, Cinderella tidak boleh menghadiri pesta yang diadakan oleh pangeran negeri itu.

Cinderella kembali melolong-lolong. Diobrak-abriknya seisi rumah. Ia mengamuk. Dan karena ia mengamuk, dengan sangat terpaksa sang ibu tiri memasukkan kembali ia ke gudang bawah tanah. Tersedu sedan lagi lah Cinderella disitu. Dan, kawan, sudah kubilang bahwa hidup kadang tak adil. Siapa yang bisa tahan melihat wajah cantiknya itu bersedih? Matanya yang indah itu meneteskan air mata? Bibirnya yang ranum itu melolong-lolong minta tolong? Siapa yang bisa tahan? Sudah juga kubilang, bahwa dunia ini selalu berpihak pada mereka yang cantik dan menawan biarpun kosong otaknya dan tak berperasaan hatinya. Karena itu ibu peri datang, menolong Cinderella yang cantik lagi rupawan ini untuk pergi ke pesta pangeran. Diberinya Cinderella gaun yang indah dan sepatu kaca yang legendaris itu. Didandaninya pula gadis itu agar layak datang ke pesta kerajaan. Terakhir, diubahnya labu menjadi kereta kencana, dan dua tikus kotor di gudang itu menjadi kusir dan pelayannya. Ahhh…, kecantikan rupa selalu dapat meluluhkan hati siapa saja, termasuk hati ibu peri yang seharusnya menolong mereka yang lebih susah walaupun rupa mereka biasa-biasa saja.

Jadi jangan kaget kalau pada akhirnya Cinderella dengan sepatu kacanya yang legendaris, dipinjami khusus oleh ibu peri kemudian yang dipilih oleh pangeran untuk dinikahinya. Jangan kaget kalau tak ada seorang pun yang tahu bahwa Cinderella mentertawakan kakak-kakak tirinya habis-habisan karena kaki mereka yang besar-besar itu tidak cukup untuk masuk dalam sepatu kaca itu. Takkan ada pernah kau baca yang seperti ini di buku manapun. Memang betul apa kata ibunya, bahwa perempuan cantik tidak perlu berusaha terlalu keras untuk mendapatkan sesuatu. Kecantikan mereka adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan. Semuanya menjadi tidak penting kalau kau sudah diberi wajah yang rupawan. Karena pada akhirnya, seperti kisah Cinderella, ia hidup bahagia dengan pangeran selamanya. Dan dongeng itu ditutup dengan tepuk tangan dari anak-anak kecil. Yang memihak pada Cinderella dan ibu peri serta pangeran yang buta dengan kecantikan Cinderella. Anak-anak perempuan akan bermimpi menjadi Cinderella dan jika pada akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tak serupawan Cinderella, mereka akan frustasi dan mengasihani diri sendiri. Maka kukatakan, kasihan sekali.

Begitulah ingin kuceritakan padamu, perempuan (dan juga laki-laki). Dunia memang ini tidak adil. Hidup  ini tak adil. Barangkali kau tak serupawan Cinderella, namun saranku, teruslah berusaha tanpa terlalu peduli apa kata orang mengenai penampilanmu. Tutuplah kupingmu, biarpun sekeras apapun kau berdandan, orang akan selalu menganggap kau tidak cantik. Kau tidak rupawan. Kau adalah kakak tiri dari Cinderella. Namun Cinderella akan bertambah tua, kecantikannya lama kelamaan akan luntur. Sedangkan usahamu akan terus membuahkan hasil. Hingga suatu saat nanti, dunia ini akan berpendapat isi kepala dan isi hati lebih penting daripada apa yang hanya bisa dilihat oleh mata.

Tunggu saja.


Monday, 5 December 2011
10:27 am

PS: gambar diambil dari sini

tumpukan bayangan

Masalah umpama bayangan tambahan nan pekat yang mengintip dari balik punggungmu. Ia ada bahkan ketika kamu belum menyadarinya. Dan bahkan kadang-kadang bayangan tambahan itu lebih besar dari yang kamu bayangkan. Begitu besarnya sehingga ketika kamu menyadarinya kamu hanya bisa tegak memandang dengan ngeri tanpa dapat berbuat apapun.


Jadi bayangkan saja, bayangan tambahan itu ada beberapa lembar. Ukurannya bervariasi pula. Yang kecil bisa segera kamu bunuh, tapi yang besar? Butuh berapa kali kekuatanmu sekarang untuk membunuh yang besar-besar itu?


Bayangan-bayangan pekat itu, yang aku benci dengan sedemikian rupa, yang ingin aku usir saja daripada bikin hidupku tambah gelap, malah melekat disana. Dibalik punggungku. Mengintip gerak-gerikku. Lebih parahnya lagi seolah-olah bayangan-bayangan itu punya mulut untuk tertawa terbahak-bahak. Mentertawakan kebodohanku. Mentertawakan nasibku.


Ya, aku memang bodoh. Tidak hanya bodoh, aku juga sial. Tertawalah karena pepatah ini, yang kumodifikasi sesuai dengan keadaanku sekarang ada benarnya: sudah jatuh tertimpa tangga diinjak-injak kucing dan disapa orang lewat demikian, ”Kok kamu bisa jatuh tertimpa tangga dan diinjak-injak kucing?” – seolah-olah semua yang tidak enak itu aku yang ciptakan sendiri, atau ”Kamu jadi naik tangga tidak? Bagaimana hasilnya?” – sehingga harus lagi kuceritakan bahwa aku sudah naik tangga, namun aku jatuh, dan setelah aku jatuh, tangga itu menimpaku, kemudian tak lama kemudian ada kucing lewat dan menginjak-injak harga diriku. Begitulah.


Ada yang bilang pengalaman itu mahal harganya. Dan harus kuakui sebuah pengalaman, semakin rumit dan nampak bodoh pengalaman itu, semakin mahal harganya meski bagi orang lain semata-mata disebabkan oleh kecerobohanku sendiri.


Aku ingin lari. Lari dari bayangan-bayangan yang menghantuiku siang dan malam ini. Yang bahkan tak nampak juga oleh mata orang lain sehingga mereka menganggap aku hanya sedang sinting. Sedang kumat. Sedang super sensitif sehingga tak lagi rasional apalagi masuk akal. Boleh-boleh saja kalian melihat tawaku yang terbahak-bahak. Boleh-boleh saja kalian masih melihat senyumku. Boleh-boleh saja kalian melihat bahwa aku baik-baik saja. Karena aku sehat. Aku tidak sakit secara jasmani.


Tapi disini. Di dalam tubuhku yang tak nampak oleh mata manusia, bahkan oleh mataku sendiri, aku sedang sakit. Aku tidak baik-baik saja. Aku merasa seperti orang paling bodoh dan paling sial di muka bumi ini. Dan untuk kali ini saja, tolong, untuk kali ini saja aku ingin berlebihan. Aku mau egois dan memikirkan apa yang sedang terjadi pada diriku. Sekali ini saja.


Dan karena aku sedang egois, maka kuajukanlah pertanyaan ini. Bagaimana perasaanmu jika kamu sedang stres, punya bertumpuk-tumpuk bayangan di belakang punggungmu dan lelah di waktu yang sama, dan melihat bahwa seseorang yang menjadi salah satu sumber stres-mu, menjadi salah satu bayangan di belakang punggungmu, dan membuatmu lelah mendapatkan apa yang ia inginkan dan bersenang-senang dengan hidupnya? Untuk beberapa waktu saja kamu tidak ingin bertemu dengan orang itu, tapi nasib mengatakan tidak, dan kamu terpaksa harus bertemu dengan orang itu walaupun hanya sekejap. Kamu ingin pura-pura tak melihatnya tapi tak bisa. Karena sudah telanjur tertulis dalam buku kehidupanmu bahwa hari itu kamu akan bertemu dengannya. Dengan orang itu.


Aku hanya ingin waktu berhenti. Berhenti untuk memberikanku cukup ruang untuk sekedar bernafas, tidak memikirkan dan melakukan apapun. Hanya diam dan bernafas. Itu saja yang kubutuhkan saat ini.


Sayangnya, tuan waktu memang tak pernah peduli. Ia terus berjalan. Berjalan. Berjalan. Membiarkan orang-orang sepertiku tersengal-sengal mengikutinya. Berat karena bertumpuk-tumpuk bayangan dibalik punggung mereka.


Monday, 29 August 2011

5:43 pm

negeri yang rendah hati

Seorang motivator muda sedang melamun. Ia melamunkan kesuksesannya yang datang dengan tiba-tiba. Pernah suatu ketika seseorang berkata kepadanya bahwa kesuksesan yang datang dengan tiba-tiba biasanya juga akan pergi dengan tiba-tiba pula. Sebenarnya ia sendiri heran begitu cepatnya kesuksesan dapat ia raih dan itu semua karena ia memutuskan pindah ke negeri ini. Motivator muda ini mendengar dari motivator seniornya tentang negeri yang sekarang ia tinggali ini – bahwa negeri ini merupakan ladang subur bagi motivator-motivator muda macam dirinya. Oleh sebab itu lah, ia mencoba mengadu nasib, mengikuti nasihat seniornya untuk datang ke negeri ini.

Percayalah, kesuksesan yang didapat dengan tiba-tiba itu sangat mengerikan. Tiba-tiba pula ia punya manajer yang mengaturkan jadwal seminarnya, bernegosiasi dengan para klien-nya dan memberikan penawaran berapa jumlah yang harus ditransfer ke rekeningnya untuk satu kali seminar. Tiba-tiba saja untuk seminggu ke depan ia sudah punya jadwal harus kemana dan berbicara tentang apa, dan rekeningnya terus bertambah jumlahnya. Ini aneh. Seharusnya ia senang. Tapi ia tidak.

Manajernya menghampiri motivator muda itu – menepuk bahunya ramah, pertanda ingin membicarakan jadwal baru untuk pekerjaannya sebagai motivator. “Boss, sibuk? Saya ingin membicarakan tentang seminar-seminar beberapa minggu lagi di….” Begitulah manajernya, pertanyaannya kebanyakan retoris, yang menyebabkan ia sering kelabakan menolak permintaannya untuk membawakan seminar yang seperti tak ada habisnya. Yang dibicarakan juga itu-itu saja.

“Saya sibuk,” jawab si motivator itu singkat. Oh ya, nama motivator itu Billy. Bukan Billy Joel, bukan juga Billy Berlapis Baja. Billy. Hanya itu saja. Singkat dan orang-orang mudah mengingat namanya.

Si manajer mengangkat alisnya – tanda bahwa ia tak senang dengan jawaban boss-nya. Oh ya nama manajer ini Julian Eldorado Smith. Dan saya enggan membicarakan namanya. Jadi kita panggil saja manajer ini: Julian. “Tapi saya lihat boss tidak sedang melakukan apa-apa.”

Billy merengut. Memangnya kalau ia tidak kelihatan sedang melakukan apa-apa, ia tidak boleh bilang sibuk? Memangnya sibuk itu selalu berarti melakukan sesuatu? Ia memang sedang sibuk. Sibuk melamun. Melamunkan kesuksesannya yang datang dengan tiba-tiba dan mengkhawatirkan kesuksesan itu akan pergi juga tanpa pamit dan tiba-tiba.

“Jadi begini, Boss, dua minggu lagi….”

“Sudah kubilang aku sibuk!” tukas Billy sewot.

Julian si manajer mengedip-ngedipkan matanya. Belum pernah sebelumnya ia dibentak oleh bossnya. Sebab itu ia menyimpan catatannya dan duduk di sebelah bossnya. Sebagai manajer yang baik, ia harus selalu bersama dengan bossnya dalam suka dan duka, bukan begitu?

“Ada apa, Boss? Akhir-akhir ini saya lihat kok Boss suka melamun?” tanyanya perlahan karena takut membuat Billy tersinggung.

Billy mendesah. “Aku sedang bingung.”

“Bingung kenapa, Boss?” tanya Julian lagi.

“Aku bingung dengan orang-orang di negeri ini,” kata Billy setelah menarik nafas panjang.

“Mengapa harus bingung dengan orang-orang di negeri ini, Boss? Orang-orang sini sangat mengagumi Boss! Mereka memuja Boss! Mereka selalu datang mencari Boss! Dan ini tentu saja keuntungan besar buat kita, Boss!” Manajer Julian mulai berkata-kata dengan semangat.

“Itulah kenapa aku bingung! Aku bingung kenapa orang-orang yang punya profesi sepertiku ini bisa laris manis di negeri ini sementara di negeri tetangga tidak terlalu? Kenapa?” Billy menarik-narik rambutnya frustasi.

Manajer Julian ikutan bingung. Baru kali ini ia melihat seseorang yang malah frustasi karena dipuja dan dikagumi oleh sekelompok besar manusia.

“Kau tahu, Julian, mereka ini terus membutuhkan orang-orang seperti aku karena mereka tidak punya percaya diri. Mereka terlalu rendah hati! Tidak heran negeri ini diberi nama negeri yang rendah hati! Bayangkan saja, ada peraturan yang tak tertulis di negeri ini yang mengatakan bahwa kesombongan adalah dosa besar! Betapa besarnya sehingga orang-orang takut dicap sombong! Hebat nian peraturan ini!”

Julian hendak menyahut tapi Billy masih mengoceh. “Coba saja kau lihat acara-acara mencari bakat di tivi yang mereka bikin? Pernahkah kau dengar para pesertanya berdiri di atas panggung dan berkata: ‘Aku pasti menang!’ atau ‘Ya aku pasti bisa!’ atau ‘Aku sudah pasti bisa melewati ini!’? Pernah? Pernah? Aku tidak pernah! Mereka selalu berkata: ‘Akan kucoba.’ atau ‘Dengan ijin Tuhan.’ atau ‘Semoga saja.’. Ini baru yang namanya petaka!”

Julian kembali mengedip-ngedipkan matanya tak percaya mendengar kata-kata bossnya. “Tapi, Boss…”

“Tunggu! Aku belum selesai! Dan seolah-olah itu semua belum cukup, pernah juga kudengar di acara mencari bakat, seorang juri malah mengomentari apa yang si peserta lakukan di belakang panggung, daripada bakatnya yang ia tampilkan di atas panggung! Seharusnya itu bukan acara mencari bakat! Itu acara mencari sikap! Juri edan! Juri gebleg!”

Lagi-lagi Julian mengedip-ngedipkan matanya mendengarkan Bossnya misuh-misuh.

“Anak-anak tidak pernah diajar untuk percaya diri! Yang mereka ajarkan untuk anak-anak mereka adalah tidak boleh sombong! Tidak boleh angkuh! Kesombongan akan berakibat kejatuhan! Orang tua gila! Orang tua sinting!”

“Tapi, Boss, “ Julian buru-buru menambahkan sebelum Bossnya melanjutkan omelannya. “Bukankah itu baik? Maksud saya, bukankah ajaran tentang kesombongan berakibat kejatuhan itu baik?”

“Memang!” jawab Billy cepat. “Tapi mereka juga harus diajarkan tentang kepercayaan diri! Itu penting! Bagaimana jadinya sebuah negeri jika orang-orangnya tidak ada yang diajarkan tentang kepercayaan diri? Masakan jika ada seseorang mengatakan: ‘Aku pasti bisa.’, yang lain berbisik satu dengan yang lain dan berpendapat bahwa orang ini sombong? Kau tahu apa bedanya kesombongan dengan kepercayaan diri? Tahu? Tahu?!” Billy tiba-tiba berdiri dan mencengkeram kerah baju Julian. Julian gemetar ketakutan melihat Bossnya. Dikiranya Bossnya sudah gila karena tiba-tiba kaya. Ia pernah membaca di koran, orang yang tiba-tiba kaya bisa berlaku yang aneh-aneh.

“Kesombongan adalah ketika kau bilang orang lain tak ada yang bagus, hanya kau sendiri. Tapi kepercayaan diri? Kepercayaan diri bicara tentang kemampuan diri. Talenta! Bakat! Bakat yang dimiliki, bukan yang dimiliki orang lain! Dimana kau bisa melakukan sesuatu dengan baik! Kau tahu? Kau tahu?? Tapi di negeri ini tidak! Negeri ini edan! Orang percaya diri disamakan dengan orang sombong! Karena itu mereka mencari-cari orang seperti aku untuk terus dimotivasi! Sebab orang-orang di sekitarnya sibuk mengkritik, sibuk mencari kesalahan, sibuk mengatakan untuk jangan sombong! Apa bukan edan itu namanya?”

Billy terengah-engah setelah mengeluarkan semua uneg-unegnya. Julian terdiam sejenak dan kemudian berbicara perlahan, “Saya setuju dengan semua ucapan Boss. Negeri ini mungkin memang edan, tapi saya yakin Boss datang kesini untuk bikin perubahan. Mengubah pola pikir mereka. Dan mengubah pola pikir itu memang mahal adanya, Boss. Mengubah budaya itu lebih mahal daripada mengubah sistem. Jadi menurut saya, Boss jangan berhenti menjadi motivator karena mereka disini memerlukan Boss! Mereka sebetulnya ingin betul menjadi percaya diri, cuma selama ini orang-orang yang mereka temui malah menyuruh mereka jadi rendah hati terus. Makanya mereka mencari Boss untuk mengelus-elus hati mereka supaya berubah dan jadi lebih baik. Bukankah itu misi Boss selama ini?”

Billy tercenung mendengar ucapan manajernya. “Tapi kenapa mereka mau membayar mahal saya untuk bikin mereka percaya diri?”

Julian langsung menjawab: “Kepercayaan diri memang mahal harganya, Boss! Sesuatu yang bagus itu memang tidak pernah murah! Boss tahu itu kan?”

Boss Billy kembali termenung-menung dan dalam beberapa menit ia sudah memegang jadwal baru untuk tiga bulan kedepan untuk membawakan seminar motivasi di berbagai tempat di negeri yang rendah hati ini. Ia sadar, pekerjaannya masih banyak, karena hampir setiap sudut di negeri ini menderita penyakit rendah hati. Terlalu akut. Terlalu lama penduduk negeri ini menderita penyakit rendah hati. Ia menghela nafas panjang, dan menganggukkan kepala kepada sang manajer – tanda menyetujui jadwal barunya. Kemudian ia masuk ke kamarnya dan beristirahat.

Ia tak tahu bahwa manajernya punya dua tuan. Tuan lainnya bekerja sebagai juri di acara mencari bakat di negeri itu.


Written by: Jessie
Friday, 3 June 2011
5:11 pm

cerita dalam celana

Dalam sebuah celana ada rahasia hidup. Rahasia yang paling gelap sekaligus paling sakral. Dalam sebuah celana ada banyak cerita. Cerita-cerita itu biasanya bicara tentang nafsu. Nafsu untuk ketawa, nafsu untuk marah, nafsu untuk sedih, juga nafsu untuk bernafsu. Tidak ada cerita yang membosankan dalam sebuah celana. Jadi jika ada sepuluh ribu manusia di muka bumi ini, bisakah terbayangkan ada berapa celana dan lantas ada berapa cerita yang tercipta di dalamnya?

Tiap celana punya ceritanya sendiri-sendiri.

Cerita kali ini mendarat dalam sebuah celana perempuan. Perempuan yang diberi label oleh masyarakat sebagai perempuan baik-baik, tidak macam-macam, yang menikah tepat pada waktunya dan mengurus rumah tangganya sesuai dengan primbon wanita ideal ala timur. Masalah perempuan baik-baik ini cuma satu. Itu pun dianggap masalah karena masyarakat menganggap hal itu adalah masalah. Perempuan ini belum juga punya anak.

Sebagai perempuan baik-baik, cerita dalam celananya tentu boleh dikatakan suci. Boleh juga dibilang sakral. Sebuah ruang dalam celananya hanya mengenal satu benda asing yang dapat masuk disana. Tidak sembarang benda dapat masuk. Hanya satu benda itu saja. Sebab itu perempuan ini menghormati betul benda asing yang ia ijinkan masuk dalam celananya. Bertahun-tahun kemudian, celana perempuan itu hanya tahu benda itu yang dapat masuk hingga ke dalam, mengaduk-aduk apapun yang ada dalam ruang itu. Menjilati dindingnya hingga sensasinya bisa naik sampai ke ujung kepala.

Suatu hari ruangan dalam celana itu berkedut. Bukan karena ada benda asing lain yang masuk. Sudah kubilang, ini cerita dalam celana perempuan baik-baik. Perempuan baik-baik tidak akan pernah membiarkan benda-benda asing yang berbeda-beda masuk silih berganti. Ruangan ini berkedut karena pemilik benda asing bernama laki-laki yang selama ini diijinkan masuk hingga ke sudut ruang rahasia dalam celananya bilang hendak minta ijin masuk ke dalam celana perempuan lain. Ia ingin beranak. Bertahun-tahun makhluk dalam celana laki-laki itu berbagi cerita dan sensasi dengan makhluk dalam celana perempuan baik-baik itu, tapi tak ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu bernama anak. Jika tidak ada anak, orang tua menyindir, teman-teman mengira mereka pandir, dan tetangga biasanya ikutan nyinyir. Perempuan baik-baik itu tak mengerti mengapa laki-laki ini lebih peduli dengan perasaan orang lain daripada perasaannya? Hanya makhluk yang tinggal dalam celana laki-laki itu yang paling tahu jawabannya. Anak bukanlah satu-satunya alasan. Alasan lainnya adalah, laki-laki itu ingin tahu ada cerita apa lagi dalam celana-celana lainnya. Siapa tahu dalam celana-celana lain ada petualangan berharga yang dapat ia nikmati?

Pikir laki-laki itu, ia sudah tahu dan cukup menikmati semua cerita-cerita dalam celana perempuan baik-baik yang oleh masyarakat telah diakui sebagai istrinya. Ia penasaran dengan cerita-cerita dalam celana perempuan lain. Apakah ceritanya akan lebih menarik dari cerita dalam celana istrinya? Atau lebih membosankan? Lebih menggairahkan? Lebih membahagiakan? Ia penasaran. Dan sebagai laki-laki yang baik-baik pula, ia harus ijin pada istrinya untuk menengok cerita-cerita dalam celana perempuan lainnya.

Perempuan baik-baik itu menangis. Ia bertanya keras-keras pada siapapun yang mau mendengarkan. Apa cerita dalam celananya sudah tamat sampai-sampai suaminya ingin mencari cerita dalam celana lainnya? Ia berpikir cerita dalam celana tak seharusnya tamat. Ruang dalam celana seharusnya bukan seperti buku yang habis dibaca disimpan dalam rak dan empunya membeli buku lain, demikian seterusnya. Bukan. Karena itu perempuan baik-baik ini menolak permintaan suaminya mengintip cerita dalam celana perempuan-perempuan lain.

Lantas, cerita dalam celana perempuan baik-baik ini kemudian masih sama. Masih benda itu yang dapat masuk dalam ruang dalam celananya.

Sampai suatu ketika, ruangan dalam celananya itu bergoncang. Ada benda asing lain masuk ke dalam celananya. Benda asing yang tidak serupa dengan benda yang selama ini keluar masuk dalam celananya.

Dan tahulah perempuan itu, laki-laki yang diakui masyarakat sebagai suaminya tidak lagi hanya menikmati cerita dalam celananya saja, tapi juga cerita dalam celana perempuan-perempuan lain.

Benda itu, biarpun mungil adanya, tetap saja bernama virus. Virus yang dari waktu ke waktu akan menggerogoti seluruh tubuhnya sehingga kelak, cerita dalam celananya akan berakhir mengenaskan.

Di jalan menuju rumahnya, sambil menangis dalam hati, perempuan itu berjalan pelan-pelan. Dua orang ibu-ibu dengan celana besarnya, yang biasa menyapanya jika bertemu memalingkan wajah mereka sambil berbisik. Dan gendang telinganya menangkap sebuah kata.

”Pelacur.”


written by: Jessie
Monday, 9 May 2011
8: 22 pm

PS: gambar diambil dari sini

malin kundang

Malin Kundang sedang uring-uringan. Ia bete berat karena beberapa hal. Mulutnya cemberut sambil mengomel. Rambutnya juga kusut karena stress. Istrinya yang melihat suaminya sedari pagi seperti itu lama-lama tidak tahan. Kalau hanya beberapa jam saja Malin Kundang berlaku seperti itu, biasanya karena klub sepak bolanya kalah tadi malam. Tapi ini, ini sudah dari tadi pagi dan sekarang hampir waktunya makan malam. Jadi, di malam hari sebelum tidur, istrinya memijat-mijat bahunya pelan-pelan.

“Ada apa sih, Pap, hari ini kok uring-uringan?” tanya istri Malin Kundang perlahan.

Malin Kundang tidak menjawab, hanya menggerundel pelan.

“Apa karena pekerjaan? Si Toha tidur di kantor lagi?”

Malin Kundang mendengus sambil bilang, “Tidak.”

“Terus kenapa kok hari ini Papi bete?” tanya istrinya lagi sabar.

“Papi lagi sebel, Mam. Tadi pagi papi dapat email dari banyak orang. Mereka marah-marah sama papi. Mencaci maki. Mereka bilang saya setan. Tidak punya perasaan. Tidak punya hati. Dan yang lebih bikin papi marah, mereka bilang papi anak durhaka!”

“Lho? Kok bisa mereka bilang begitu?” sahut istrinya tidak terima. “Memangnya mereka kenal papi?”

“Itulah! Mereka tidak kenal papi, karena itu papi sebel! Tidak kenal kok marah-marah!”

“Apa mungkin mereka habis membaca cerita papi yang terkenal itu?” kata istrinya sambil berpikir-pikir.

“Ah! Cerita papi yang mana?”

“Itu lho, Pi, tentang Malin Kundang anak durhaka!” ucap istrinya lagi.

Malin Kundang termenung. Mengingat-ingat cerita Malin Kundang si anak durhaka, kemudian sinar di wajahnya meredup. Ia tiba-tiba melamun. Mengingat-ingat cerita tentang dirinya yang terkenal beberapa tahun yang lalu. Kemudian ia tersedu.

“Lho, papi kok menangis?” tanya istrinya panik melihat Malin Kundang tiba-tiba terisak-isak.

Setelah beberapa waktu tersedu, Malin Kundang menatap istrinya. “Ternyata orang-orang memang tidak mudah melupakan sesuatu yang diceritakan buruk ya, Mam. Papi jadi ingat salah satu email tadi ada yang mengutuk papi untuk jadi patung selamanya. Orang ini menyalahkan Tuhan karena sudah mengembalikan papi kembali menjadi manusia karena kesalahpahaman.”

Istri Malin Kundang diam saja mendengarkan suaminya itu curhat.

“Padahal waktu itu papi sudah mengadakan konferensi pers. Papi juga sudah minta maaf sama Ibu atas kesalahpahaman yang terjadi. Bukankah waktu itu kamu juga ikut membantu meluruskan, Mam, kalau waktu itu papi tidak bermaksud tidak mengakui Ibu. Bertahun-tahun papi pergi meninggalkan Ibu, dan ketika papi kembali ke kampong, papi betul-betul tidak mengenali lagi Ibu. Papi tidak tahu kalau selama papi pergi Ibu berjuang sendirian untuk menghidupi diri Ibu sendiri. Bahwa kemudian penampilan Ibu jadi buruk dan kumuh seperti itu betul-betul tidak papi sangka. Dalam bayangan papi, Ibu masih berpenampilan seperti Ibu. Bersih, rapi, bersahaja. Papi marah-marah waktu itu karena papi sering dicopet oleh ibu-ibu yang menyamar jadi pengemis kotor. Papi jadi waspada. Lebih baik segera usir sebelum pengemis gadungan itu mencuri barang papi! Betul tidak? Papi tidak pernah malu punya Ibu yang miskin. Papi bisa jadi seperti sekarang kan karena Ibu juga! Masa papi setega itu sama ibu sendiri?”

Terengah-engah Malin Kundang curhat, seperti luapan emosi yang sudah mengendap bertahun-tahun lamanya. Istrinya hanya mengelus-elus tengkuknya menenangkan diri.

“Mereka tidak cuma menulis email, mencaci-caci papi di email, tapi mereka juga menulis status tentang papi di facebook!” lanjut Malin Kundang kemudian mengeluarkan laptopnya. “Coba lihat ini! Papi kenal sama orang ini juga tidak! Tapi dia add papi dan ketika papi confirm dia malah menulis status kayak begini! Coba baca! Itu kan namanya bikin sakit hati!”

Istrinya membaca status yang dimaksud suaminya. “Amit-amit deh jadi Malin Kundang. Memang durhaka betul itu orang! Harusnya jadi patung sampai kiamat! Wah, pap! Ini namanya ngajak perang!” Istrinya ikut marah membaca status tersebut.

“Itulah, mam!” kata Malin Kundang sambil menghela nafas panjang-panjang. “Mereka itu tidak tahu cerita sebenarnya tapi kok berani-beraninya nuduh dan ngomong kasar seperti itu? Tuhan saja sudah memaafkan papi karena buru-buru memaki-maki Ibu yang papi kira pengemis, kok mereka yang bukan Tuhan malah marah-marah? Kenapa mereka tidak tanya dulu bagaimana cerita sesungguhnya?”

Istrinya diam. Termenung sambil memikirkan kata-kata suaminya. Dalam hati sebetulnya ia marah. Sewot pada orang yang menulis status kurang ajar itu di facebook. Jengkel juga pada teman-teman orang itu yang ikutan memberi jempol pada statusnya.

“Barangkali memang sudah sifat dasar manusia, Pap,” kata istri Malin Kundang pelan.

“Maksudnya?”

“Ya, jaman sekarang mereka lebih suka cerita yang tidak benar dan belum selesai tapi heboh dan sensasional daripada kebenaran sederhana yang kurang sensasinya. Coba bayangkan kita baca koran. Mana yang lebih menarik: artis yang menjadi duta PBB atau artis yang video mesumnya beredar? Kita lebih mengikuti artis yang video mesumnya beredar kan? Nah itulah! Jaman sekarang ini jaman yang seperti itu, Pap. Jadi menurut mami, papi tidak perlu bete karena memang sudah susah mengubah masyarakat yang kayak sekarang ini! Kalau kata mami sih, lebih baik papi tidak usah mendengarkan caci maki mereka. Hapus saja email-email itu, buat alamat email baru. Yang di facebook, hapus saja orang yang kurang ajar itu. Atau kalau papi tidak mau menyakiti hatinya, papi bisa mengubah setting supaya status orang itu tidak muncul lagi di wall papi. Beres kan? Daripada dipikirkan dan jadi penyakit? Toh, Ibu sudah tidak marah. Sudah memaafkan papi. Hubungan kalian juga sudah baik. Ibu malah sayang sekali sama anak kita. Nah kurang apa? Masakan gara-gara segelintir orang-orang yang tidak kita kenal, kita jadi uring-uringan? Jadi bete sama orang-orang yang justru mengerti duduk perkaranya? Bagaimana? Betul tidak?”

Malin Kundang terdiam mendengar ocehan istrinya. Ia masih termenung bahkan setelah istrinya telah tertidur pulas disampingnya. Berpikir-pikir benarkah tidak perlu mengklarifikasi kesalahpahaman yang sudah terjadi yang menyebabkan orang-orang itu jadi marah-marah dan mencacinya walaupun tidak kenal padanya? Tapi mungkin, istrinya ada benarnya. Buang-buang waktu saja mengurusi orang-orang yang tidak jelas juntrungannya. Yang tidak mengerti tapi sok mengerti. Yang menghakimi tanpa cari tahu terlebih dahulu ada apa dibalik kejadian itu.

Malin Kundang kemudian mengambil Blackberry-nya. Dicarinya nama Ibunya di daftar Blackberry Messenger-nya. Kemudian diketiknya kalimat yang ada di kepalanya untuk Ibunya.

Malin sayang Ibu.”

Lama sekali BBM itu tidak terjawab sehingga Malin Kundang tertidur, tanpa tahu bahwa pesan itu membuat Ibunya di rumah menangis terharu sambil memeluk Blackberry-nya erat-erat dan bersyukur Tuhan sudah memberi anak seperti Malin Kundang.

Thursday, 24 March 2011
5:25 pm
Sambil menunggu hujan reda

PS: gambar diambil dari sini

kursi

Kursi itu sudah ada di tempat itu sejak ia belum hadir. Dan tentu saja, layaknya kursi yang dapat dibanggakan, kursi itu sudah ada yang menduduki. Yang menduduki adalah orang yang ia hormati dan ia kagumi. Dan ia pikir, tak ada orang lain yang lebih pantas daripada orang itu yang duduk di kursi itu.

Menduduki kursi itu tak pernah sekalipun ada dalam ruang keinginannya. Titik.

Suatu hari orang yang ia hormati itu memanggilnya. Orang itu masih duduk di kursi itu dengan anggun. Elegan. Memang tidak ada yang pantas duduk di kursi itu selain orang itu. Karenanya ia heran, sebab ia dipanggil untuk diberitahu bahwa sudah tiba waktunya ia menduduki kursi itu. Menggantikan orang itu.

Ia terpana. Tertegun. Tergugu. Terheran-heran. Dan sekali lagi mempertanyakan sesuatu pada Tuhan yang sering diulanginya tiap kali ia tak mengerti kemana waktu membawanya pergi. Kenapa sering sekali ia mendapatkan sesuatu yang tidak ia inginkan? Sebaliknya, kenapa sulit betul mendapatkan sesuatu yang benar-benar ia inginkan? Kenapa? Dan jawabannya hingga saat ini belum didapatkannya. Barangkali sama sulitnya dengan menjawab pertanyaan, mengapa bumi yang mengitari matahari dan bukan sebaliknya? Mengapa cicak sering menempel di dinding? Mengapa Doraemon berwarna biru? Atau mengapa orang jahat seperti Hitler lebih sulit mati daripada orang baik?

Orang yang ia hormati itu bilang sudah waktunya kursi itu berpindah tangan. Sudah waktunya diduduki oleh orang lain. Sudah waktunya. Dan tidak ada orang lain yang lebih tepat daripada ia, kata orang yang ia hormati itu. Ia membisu. Tak sekalipun dalam benaknya ada keinginan untuk menggantikan orang itu duduk di kursi itu. Ia sendiri tidak mau. Ia takut. Takut akan ikatan yang tidak ia inginkan dengan kursi itu tetapi ikatannya akan lebih kuat sehingga ia tak berani berkata bahwa tiba lagi waktunya kursi itu berpindah tangan. Sudah banyak ia dengar cerita-cerita tentang manusia-manusia yang mau melakukan apa saja hanya supaya kursi yang sudah telanjur mereka duduki tetap menjadi miliknya. Dan cara-cara yang mereka lakukan kadang-kadang di luar akal sehat. Cinta mereka terhadap kursi itu lantas menjadi obsesi yang dilumuri oleh ambisi. Percayalah, obsesi dan ambisi merupakan kombinasi terburuk yang pernah ada di dunia ini.

Ia tidak mau. Dan ia sudah sekali mengatakan tidak pada orang yang ia hormati itu. Namun orang yang ia hormati itu hanya tersenyum dan memberikan tenggang waktu buatnya untuk berpikir. Sambil berucap bahwa ia akan mengerti mengapa kursi itu harus didudukinya.

Maka ia berpikir. Berpikir yang kadang-kadang melanglangbuana sehingga berubah menjadi melamun. Bertanya betul-betul pada hatinya apakah memang ia layak menduduki kursi itu? Apakah ia pantas menduduki kursi itu? Apakah ia harus menduduki kursi itu? Apakah ia bisa menduduki kursi itu? Hatinya bilang tidak. Ia tidak layak. Ia tidak pantas. Ia tidak harus. Dan ia tidak bisa. Tapi seorang bijak pernah berkata padanya, jangan pernah mengikuti kata hatimu, karena terkadang kata hati dapat menjerumuskanmu. Masih kata orang bijak itu, pimpinlah hatimu dengan iman yang kau pegang, niscaya kau tahu apa yang harus kau lakukan.

Dibimbingnya hatinya untuk menerima bahwa ia layak, pantas, harus dan bisa menduduki kursi itu. Dibimbingnya hatinya sambil menangis. Karena sesungguhnya ia tidak ingin.

Beberapa waktu kemudian, resmi lah ia menduduki kursi itu. Awalnya ia merasa kursi itu menolaknya. Tidak mau ia duduki. Kursi itu tiba-tiba melempar ia sehingga ia harus menaklukkan kursi itu supaya mau ia duduki. Lambat laun kursi itu mulai menerima. Benda itu tak lagi menyakitinya. Namun meskipun ia sudah mulai bersahabat dengan kursi itu, ada manusia-manusia lain yang nyinyir, mencibir dan menganggap bahwa adalah kesalahan besar kursi itu didudukinya. Ia tak bergeming. Biarkan mereka menggonggong, katanya, mereka tak mengerti bahwa membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan untuk menduduki kursi itu. Tak seorang pun mengerti. Atau mungkin beberapa orang mengerti tapi lebih banyak lagi yang tak mengerti. Sehingga butuh waktu juga bagi mereka untuk menerimanya duduk di kursi itu.

Persahabatannya dengan kursi itu kian akrab, tapi apa yang dikhawatirkannya terjadi. Ia semakin terikat dengan kursi itu. Kursi itu tidak mau dilepas biarpun ia hanya pergi ke toilet. Biarpun ia hanya jalan-jalan ke mall. Atau sekedar mengambil uang di ATM terdekat. Atau makan malam di warung kumuh. Kursi itu menempel kemana pun ia pergi. Sampai-sampai ada yang menyarankan padanya untuk menyesuaikan busananya dengan kursi yang selalu menempel itu. Tak pantas jika membawa kursi itu kemana-mana tetapi busananya tidak cocok dengan kursi yang mewah itu. Begitu yang pernah ia dengar. Selain busana, jangan lupa berdandan, karena busana yang sesuai dengan kursi itu layak untuk dikombinasikan dengan dandanan yang serasi. Ia pun semakin frustasi. Kursi itu sedikit demi sedikit menggerogotinya. Sedikit-sedikit kursi itu mengambil bagian dari dirinya, membuang dan menggantinya dengan yang baru. Setengah sadar ia tahu bahwa ada beberapa bagian pada dirinya bukan lagi dirinya yang sesungguhnya. Ia sudah berubah. Tak lagi seperti yang dulu. Anehnya, meskipun ia nyaris tak mengenali dirinya, orang-orang terlihat senang melihat perubahan yang ada pada dirinya. Dan ia makin frustasi.

Hingga suatu hari, ketika kursi itu hendak mengambil bagian lain lagi untuk diganti dengan yang baru, ia dengan tegas menolak. Sudah cukup bagian-bagian dalam dirinya yang diambil dan diganti dengan yang baru. Persis seperti onderdil motor. Dan ia masih ingin menikmati hidup sebagai dirinya apa adanya. Ia tidak mau dikuasai oleh sebuah kursi. Tapi ia juga tak mau menyalahkan kursi itu atas apa yang diubahnya pada beberapa bagian dari dirinya. Tidak. Lagipula ia sudah menganggap perubahan-perubahan itu menjadi dirinya sendiri, karena ia sadar terkadang perubahan itu sejatinya ada.

Dan sejak ia lebih tegas pada kursi itu, pelan-pelan kursi itu tak lagi seperti anjing yang hidup di celana tuannya. Pelan-pelan ia lepaskan kursi itu di waktu-waktu tertentu. Mula-mula kursi itu berontak waktu dilepas. Tapi sebagaimana kata hati yang seharusnya dipimpin, kursi itu pun akhirnya patuh apa katanya. Pada saat itu lah ia dapat tersenyum. Biar saja orang lain membiarkan gaya hidupnya dikuasai oleh kursi mereka. Biar saja orang lain menyesuaikan apa yang ada pada dirinya dengan kursi mereka. Biar saja. Ia tak mau.

Karena hidup terlalu singkat untuk disetir oleh sebuah kursi.

Saturday, 18 February 2011
before the evening fell

PS: gambar diambil dari sini

hadiah

Hadiah itu kuterima dengan hati senang. Biarpun aku tak tahu isinya apa. Biarpun aku tak tahu aku akan suka atau tidak isi hadiah itu. Menerima hadiah, biarpun dibungkus dengan koran bekas pun hatiku tetap senang. Apalagi jika jumlah yang diterima lebih dari satu. Dan senangnya akan bertambah seiring jumlah hadiah yang diterima.

Aku hanya bingung. Hari ini toh bukan hari ulang tahunku. Bukan juga hari Valentine. Juga bukan hari jadiku dengan kekasihku. Lantas kenapa sahabatku ini memberiku hadiah?

"Selamat hari biasa-biasa saja!" Begitu ujarnya. Bikin aku semakin mengerutkan kening dan penasaran dengan isi bungkusan berpita di tangannya itu.

"Kalau memang hari ini hari biasa-biasa saja, untuk apa kau beri aku kado?" tanyaku heran.

Ia hanya terbahak sesaat tapi kuluman senyumnya tetap misterius. Menandakan bahwa ia senang betul membuatku penasaran setengah mampus. "Menurutmu?" Ia malah balik bertanya.

Otakku kembali kupaksa bekerja keras. Apakah ini hadiah ulang tahunku yang terlambat? Tapi tidak. Di ulang tahunku yang terakhir ia memberiku hadiah yang tak terduga indahnya.

Waktu itu bahkan sempat kubilang padanya, pada sahabatku itu. "Kenapa orang-orang memaksa memberiku gaun dan sepatu yang mahal jika aku tidak memerlukannya? Pernahkah mereka berpikir bahwa hanya membutuhkan satu buku cerita yang barangkali harganya 3 kali lipat lebih murah daripada hadiah-hadiah mahal itu untuk membuatku senang di hari ulang tahunku?"

"Pernahkah kau katakan pada mereka bahwa kau lebih menginginkan buku daripada barang-barang mahal itu?" sahutnya

Aku menggeleng. Aku tak mau bilang padanya bahwa menurutku hadiah yang diminta tak lagi merupakan hadiah tapi sebuah pemberian. Ada nilai yang jauh lebih istimewa pada sebuah hadiah dibandingkan dengan sebuah pemberian hasil meminta.

"Sebuah hadiah yang sejati," kataku, "harus mengandung setidaknya dua unsur, yaitu kejut dan cinta. Jika dua unsur itu dibungkus bersama dengan hadiahnya, niscaya hadiah itu menjadi istimewa."

"Tidak perlu mahal?" tanya sahabatku lagi.

Aku menggeleng dengan cepat dan pasti. "Tidak," jawabku, seolah gelengan kepala yang kuat saja tak cukup. "Kejut dan cinta. Itu saja sudah cukup."

Dan sahabatku hanya membisu. Bisu yang misterius. Entah ia paham atau tidak apa yang sudah kuocehkan waktu itu.

"Jadi ini hadiah di hari biasa-biasa saja?" tanyaku lagi.

Sahabatku itu mengangguk.

"Apa isinya?"

Sahabatku tertawa lagi. "Dimana unsur kejutnya kalau kautanyakan isinya, sobat?"

Aku ikut tertawa. "Baiklah, satu unsur terpenuhi. Bagaimana dengan cinta?"

Kali ini sahabatku mengatupkan geraham, seolah pertanyaanku seperti pisau yang telah menusuk hatinya dan tusukannya begitu menyakitkan. "You broke my heart."

"I'm sorry," kataku sambil tersenyum.

Ia tersenyum melihat senyumku. Ia selalu begitu. "Jika bukan karena cinta, aku tidak akan memberimu hadiah di hari biasa macam begini."

Aku tertawa lepas. Sahabatku memang luar biasa. "Oke, jadi dua unsur terpenuhi. Boleh kubuka sekarang?"

Hanya sudut matanya yang bergerak, membahasakan ijin yang kuperoleh untuk membuka hadiahnya di hari yang biasa-biasa ini.

Mataku terbelalak lebar, terpana menatap hadiahnya.

"Aku tidak pernah meminta barang ini," kataku.

"Aku tahu."

"Aku juga tidak pernah cerita apa-apa tentang ini."

"Memang tidak."

"Aku tidak pernah minta hadiah di hari yang biasa-biasa saja. Hadiah seharusnya diberikan di hari yang istimewa."

Sahabatku memandangku lama. "Memang. Tapi menurutku memberikan hadiah adalah hak. Jadi aku punya hak untuk memberimu hadiah di hari yang biasa-biasa saja seperti hari ini. Negara melindungiku untuk melakukan ini."

Aku mengejapkan mataku tak percaya. Dari segala analogi, hipotesis maupun definisi yang mungkin ada di dunia ini tentang ini, tak sekalipun lewat di otakku bahwa memberikan hadiah adalah sebuah hak asasi manusia yang dilindungi oleh negara.

"Jadi aku juga berhak menolak hadiah ini?" tanyaku polos.

Ia mengangguk. "Tentu saja. Pertanyaannya hanya dua. Satu, apakah kau akan melakukannya? Dua, jika kau melakukannya, apa yang membuatmu melakukannya?"

"Karena aku tidak mau kau repot-repot memberikanku hadiah di hari biasa-biasa saja seperti hari ini?"

Ia mendengus. "Untuk apa jadi manusia kalau tidak mau repot-repot? Hidup manusia ini diciptakan untuk saling merepotkan, Sobat. Bisa kau bayangkan jika seluruh manusia di bumi ini tidak mau saling merepotkan? Bisa? Aku tidak."

Aku hanya dapat menatapnya lekat-lekat. Dan sekali lagi kusadari betapa sayang aku dengan sahabatku. Beberapa detik kemudian kupeluk ia. Erat.

Dan ditengah-tengah pelukan kami, ada hadiah.

Sepasang kaus kaki.

Karena ia melihat lubang besar di kaus kaki yang selalu kupakai.

Thursday, 17 February 2011
12:07 am

sebuah rumah

Rumah itu dibuatnya dalam keadaan kosong. Ia yang mendesainnya sendiri meskipun desain awalnya sederhana. Desain awal yang disodorkan oleh yang empunya tanah.

Ketika rumah itu jadi, ia tidak punya kesulitan untuk berpikir apa-apa saja yang ada di dalamnya. Pelan-pelan ia isi rumah itu. Ia isi dengan apa saja yang ia sukai. Ia pikir itu toh rumahnya sendiri. Bikinannya sendiri. Jika memang miliknya sendiri, kenapa ia harus memikirkan apa kata orang? Dengan hati tapi tidak hati-hati, ia mulai mengisi rumah itu. Setiap jengkal dan inci yang ada di dalamnya menggambarkan apa yang ada pada dirinya. Tiap kali imajinasinya berhasil mencaplok ide, ia isi kembali rumah itu. Pelan-pelan. Pelan-pelan. Namun pasti. Dan ia betul-betul tidak peduli. Rumah itu miliknya, karena itu harus betul-betul menggambarkan dirinya.

Suatu hari seseorang mampir. Orang itu masuk ke rumahnya dengan sopan. Berkeliling dan kemudian keluar tanpa komentar. Esoknya ada orang lain lagi yang mampir, dan pergi dalam diam. Demikian juga esoknya, dan esoknya dan esoknya. Semuanya datang dan pergi, tapi masih dalam diam. Ia masih juga tidak peduli. Itu toh rumahnya sendiri. Ia tidak butuh komentar dan pendapat orang-orang itu untuk mengisi rumahnya. Dan ia meneruskan saja pekerjaan mengisi rumahnya dengan telaten.

Ia tahu rumah itu tidak akan pernah penuh. Selagi idenya terus muncul dan ia mampu meluangkan waktu untuk mengisi rumahnya dengan ide itu, rumah itu akan terus diperbarui. Diisi. Hingga suatu saat. Seseorang datang. Orang ini tersenyum, bahkan tertawa terbahak-bahak dan meninggalkan sepotong opini tentang rumahnya kepadanya. Orang lain lagi mampir, melihat ini dan itu, terdiam dan ikut merasakan apa yang ia rasakan pada waktu mengisi rumahnya. Lagi-lagi ditinggalkannya sepenggal komentar positif tentang rumahnya kepadanya. Ada rasa lain yang meraba hatinya. Ada rasa…dihargai. Ada rasa senang. Terharu. Dan bergejolak. Ada semangat untuk terus mengisi rumah itu dan mulai membuka pintu lebar-lebar mengundang orang-orang untuk masuk.

Lama-lama ia belajar, bahwa ia tidak sendirian. Ada banyak orang lain yang membangun dan mengisi rumahnya dari isi kepala mereka masing-masing. Ia belajar untuk tidak egois. Maka jika ada kesempatan, ia luangkan waktu untuk mampir ke rumah tetangga-tetangga sebelah rumahnya. Mula-mula yang terdekat dan yang memang sudah ia kenal, atau yang pernah mampir ke rumahnya dulu. Masih jarang ia berikan komentar dan pendapatnya tentang rumah-rumah tetangganya. Hatinya masih enggan untuk berbicara tentang rumah orang lain, karena ia berpikir siapa ia yang layak bicara ini itu tentang rumah orang lain. Karena itu, masih banyak yang belum mengenalnya. Ia masih anonim.

Namun lantas pelan-pelan ia tahu bahwa manusia memang tidak pernah bisa hidup sendiri. Senikmat-nikmatnya manusia dengan kesendiriannya, ia tetap butuh orang lain. Dan jika membutuhkan orang lain, ia juga harus mau melakukan sesuatu untuk orang lain. Ia mulai pergi ke rumah-rumah yang cukup jauh dan meninggalkan pesan. Di rumah-rumah terdekat yang lebih ia kenal, ia lebih berani memberikan pendapat tentang isi rumah tersebut. Jika menurutnya tidak menarik, maka ia akan diam saja, mengatupkan bibir dan pergi tanpa sepatah kata pun. Kadang-kadang jika yang dilihatnya menarik pun, ia tetap tak berkata apa-apa, hanya karena yang lain sudah mengatakan apa yang ingin ia katakan, sehingga tak lagi istimewa jika ia mengucapkan hal serupa dengan yang lain.

Di beberapa waktu, jika ia baru saja mampir ke rumah orang lain, ia jadi punya ide untuk mengisi rumahnya kembali. Menghiasnya dengan inspirasi yang baru saja didapat. Oleh karena itu ia berpikir, mungkin memang harus begitu adanya. Manusia satu dengan manusia lainnya harus saling menginspirasi untuk terus jadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Minggu menjadi bulan, rumahnya semakin ramai dikunjungi orang. Walaupun tentu saja masih kalah ramai dari rumah-rumah tertentu. Orang-orang yang berkunjung ke rumahnya rata-rata meninggalkan komentar yang positif. Jika ia terlalu sibuk, kadang-kadang ada yang memberikan semangat padanya untuk terus mengisi rumahnya dengan ide-idenya. Pelan-pelan juga ia mengisi dan menghias rumahnya berdasarkan apa yang kira-kira disukai oleh para pengunjung. Ia mulai berpikir keras bagaimana cara menyenangkan tamu-tamunya. Bagaimana membuat semakin banyak orang yang berkunjung ke rumahnya. Ia tak lagi peduli bahkan jika isinya mulai tak lagi menggambarkan tentang dirinya.

Suatu hari ia seperti terbangun dari tidur yang panjang, nyenyak dan bermimpi indah. Ia melihat ada beberapa hiasan dan sepetak ruangan di rumahnya dengan asing. Seolah-olah bukan ia yang waktu itu mengisi dan menghias ruangan tersebut. Ia bertanya-tanya, mengapa semuanya itu bisa ada disitu? Siapa yang meletakannya disitu? Tidak ada yang memegang kunci rumahnya selain ia.

Berkelilinglah ia sampai ke penjuru rumah sambil diburu rasa penasaran tentang benda-benda dan ruangan asing di rumahnya sendiri. Dan ia tertegun, karena ia menemukan bahwa ia sendiri yang meletakkan benda-benda asing dan menghias ruangan itu. Selama beberapa waktu lamanya ia terdiam. Otaknya mampet. Imajinasinya stop. Dan hatinya kehilangan gairah.

Ia tidak mengenali rumahnya sendiri.

Setidaknya sebagian kecil rumahnya sendiri. Dan itu masalah.

Ia mulai mencoba mengisinya lagi dengan benda-benda yang menggambarkan dirinya. Menghiasnya dengan apa kata hatinya, bukan apa kata orang lain. Dan semakin frustasi karena kadang-kadang ia masih mendengar komentar tamu-tamunya yang mengatakan tanpa transparan kalau mereka lebih suka sepetak ruangan penuh benda asing tersebut.

Mulailah ia menyendiri. Mencoba kembali menikmati kesendiriannya. Merenungkan untuk apa sesungguhnya rumah itu dulu ia buat dan ia isi dengan sepenuh hati. Ketika ia mulai kembali menikmati kesendiriannya, ia mulai jarang berkunjung ke rumah-rumah tetangga, rumah teman-temannya yang walaupun jauh dulu rajin dikunjunginya. Ia berpikir, ia tidak mau mengunjungi rumah teman-temannya itu hanya supaya mereka mau berkunjung balik ke rumahnya. Itu bentuk lain dari keegoisannya. Ia mau jika ada orang-orang yang bertamu ke rumahnya, itu karena mereka menyukai apa yang ada dalam rumah itu, yang artinya apa yang menggambarkan dirinya.

Rumah itu ia bangun agar dunia tahu ia ada.

Dan benda-benda asing itu membuat ia ragu-ragu. Benarkah yang dikenal dunia adalah ia apa adanya? Atau sebuah citra yang ia bentuk?

Barangkali itu sebabnya saat ini rumahnya seperti rumah hantu. Diam, membisu dan tak berpendapat. Kembali menjadi anonim. Sehingga hampir dapat dipastikan dunia mungkin kembali melupakan bahwa ia ada.

Suatu saat. Mungkin. Mungkin, rumahnya akan ia hias kembali. Ia isi kembali.

Dengan apa adanya ia.

Untuk kali ini. Mungkin. Mungkin ia hanya ingin menikmati kesendiriannya.

Mungkin.
Wednesday, 16 February 2011
5:29 pm

PS: gambar diambil dari sini

hari yang baik untuk mati

Hari ini, jika bisa diwakili oleh sebuah warna, barangkali warna yang paling tepat adalah hitam keabu-abuan. Hari dimana sebuah pikiran mampir di benaknya bahwa mati barangkali lebih baik daripada hidup.

Banyak orang takut mati. Sebagian besar mengakuinya, namun sisanya bilang bukan kematiannya yang ditakuti tapi bagaimana cara mereka mati. Ia berpikir, kematian seperti gentayangan menakuti semua orang karena orang-orang itu tidak tahu ada apa dibalik kematian itu? Kemana jiwa mereka pergi? Masih bisakah mereka melihat orang-orang yang mereka cintai? Mereka kenal? Masih bisakah mereka membenci orang-orang yang mereka benci waktu mereka hidup? Atau masih bisakah mereka menyeruput minuman favorit masing-masing?

Hari ini, ia tidak peduli. Hari ini, menurutnya, hari yang baik untuk mati. Seorang teman pernah berandai-andai bahwa ada hari yang indah untuk mati. Dimana cuaca demikian bagus. Udara demikian segar. Segala sesuatu berjalan dengan baik. Orang-orang yang dicintainya ada disitu semua. Tapi jika semuanya begitu indah, ia berkilah pada temannya, mengapa harus mati? Hari ini, dimana segala sesuatu tidak ada yang beres, adalah hari yang baik untuk mati. Umpama sebuah ruangan, maka yang biasa tersusun rapi di ruangan tersebut, terjungkir kesana-kemari. Tempat tidur yang biasanya berada di dekat dinding, ada di tengah-tengah ruangan, merusak estetika interior. Kunci mobil yang harusnya ada diatas rak supaya mudah dijangkau ada di bawah kolong sofa, entah siapa yang iseng menaruhnya disitu. Buku-buku yang tersusun rapi menurut abjad, tiba-tiba tercecer hingga ke ujung-ujung ruangan.

Seperti itulah.

Belum keluar dari rumah saja ia merasakan yang tidak biasa. Pengamen yang biasanya tidak boleh masuk dalam kompleks rumahnya tiba-tiba ada di depan rumahnya menyanyikan sesuatu yang tak jelas dan tentu saja mengganggu telinganya. Dan ketika diusir, pengamen itu malah mengoceh dengan kata-kata kasar. Dalam perjalanan menuju ke tempat kerjanya, seharusnya menjadi sesuatu yang biasa jika ada kendaraan umum yang mendadak berhenti tanpa tahu aturan sehingga ia juga harus mendadak mengerem mobilnya. Ada orang-orang bodoh yang memarkir di pinggir jalan sempit, menyebabkan kemacetan konyol yang selalu bikin ia jengkel. Ada tukang koran di perempatan lalu lintas yang memaksa untuk membeli korannya walaupun ia tidak ingin. Dan semuanya tiba-tiba bikin ia capek. Ia lelah dituntut untuk selalu mengerti keadaan mereka. Kasihan supir kendaraan umum itu, jangan diomeli. Mereka masih bekerja di bawah sinar terik matahari, deras berpeluh sementara mungkin kau sudah duduk di ruangan ber-pendingin. Begitu kata seorang teman jika ia mulai mengomel tentang kendaraan umum yang sepertinya bebas dari peraturan lalu lintas jalan raya. Ia capek untuk terus-menerus mengerti bahwa tukang koran itu hanya sedang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya barangkali, dan pekerjaan yang ia lakukan jauh lebih menyenangkan daripada tukang koran brengsek itu. Ia capek untuk harus selalu mengerti apa yang sekiranya salah di matanya, tapi sepertinya tidak ada yang melakukan hal yang serupa terhadapnya. Sekali saja dalam hidupnya, ia ingin menjadi makhluk egois. Yang tidak perlu memikirkan orang lain.

Di kantor, mendadak semuanya salah. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia membenci hari kerjanya. Tapi hari ini, ia begitu rindu akhir pekan. Akhir pekan yang tidak akan berakhir. Tanpa peduli lagi bahwa sesuatu yang abadi hanya milik Yang Abadi dan jika ia memiliki sesuatu yang tidak memiliki akhir maka cepat atau lambat ia akan bosan.

Hidup menjadi sesuatu yang tak lagi menarik. Petualangan yang ada di dalamnya sudah tak lagi seru. Hari ini, hari yang baik untuk mati.

Karena itu, ia keluar kantor, membawa mobilnya kencang-kencang. Entah kemana. Ia ingin lepas. Ingin bebas dari penat yang mengganggu. Dan jika kematian adalah jawabnya, ia tidak keberatan untuk itu.

Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba saja ia ada di bandara. Toh tidak ada yang perlu dijemputnya hari ini. Ia juga tidak berencana pergi kemana-mana. Tapi disanalah ia, seolah-olah bandara adalah tempat sakral yang bisa mengembalikan akal sehatnya supaya bisa berpikir waras lagi padahal disanalah tempat perpisahan biasa terjadi.

Hari yang baik untuk mati.

Melangkahlah kakinya hendak membeli tiket. Kemana pun. Jam berapa pun. Berapa pun harganya. Dikeluarkannya dompetnya…

“Ayah!!”

Ia menoleh, cemberut karena terganggu dengan teriakan itu. Dan sedetik kemudian ia terpana melihat pemandangan itu. Seorang anak perempuan berkuncir dua lari mendapati ayahnya yang menangkapnya dan menggendongnya berputar-putar. Anak perempuan itu tertawa senang. Tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak peduli ada seorang perempuan yang berpendapat bahwa hari itu hari yang baik untuk mati. Tidak peduli.

Ia baru saja melihat cinta.

Sekonyong-konyong ia melihat cinta dimana-mana. Anak yang menjemput ayahnya. Suami yang menjemput istrinya. Anak laki-laki yang menjemput teman-temannya. Adik yang menjemput kakaknya. Supir yang menjemput bosnya. Paman yang menjemput keponakannya. Perempuan yang menjemput kekasihnya.

Jika ada perpisahan, maka ada pertemuan.

Jika ada hari yang baik untuk mati, barangkali hari ini bukan hari yang baik untuk mati.

Jika masih ada cinta, tiap hari bukan hari yang baik untuk mati dan berhenti hidup.

Jika memang lelah untuk selalu mengerti, tak apa lelah, istirahat, untuk kembali bersahabat dengan hidup yang selalu memberikan sesuatu yang baru.

Sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang tidak selalu pada tempatnya. Sesuatu yang jungkir balik dan tidak pakai aturan.

Karena semuanya itu hidup dan hidup tidak mati. Waktu tidak akan berhenti hanya karena ia ingin mati. Semuanya akan tetap melanjutkan hidup walaupun ia tidak.

“Selamat hari Valentine!” sapa seorang petugas. “Penerbangan kemana?”

Ia lupa hari ini hampir seluruh manusia di dunia bercinta. Dengan apa dan siapa saja.

Lebih baik bercinta daripada mati, ia tersenyum dalam hati.

Setidaknya untuk hari ini.

Ia belum mau mati.

Dan warna hari ini berangsur-angsur berubah.

Tak lagi hitam keabu-abuan.


Surabaya, 14 February 2011

In the morning – on a busy intersection

Inspired by "Hari yang indah untuk mati"