RSS

dunia lebih memihak sang rama

Aku membenci Rama sepenuh hatiku. Iya. Rama yang itu. Yang kabarnya tampan dan bijaksana. Ramayana. Candi Prambanan saksinya beserta ratusan orang tak kukenal lainnya. Kalau dulu waktu aku kecil, saat kutonton film serinya di televisi, aku sudah tidak suka. Sekarang kunyatakan kebencianku pada laki-laki itu di bawah langit malam, tujuh belas kilometer jauhnya dari pusat kota Jogja.

Kau tentu tahu kisah Ramayana bukan? Singkatnya begini. Ramayana beristrikan Dewi Sinta yang cantik, anggun dan mempesona. Dan tak ada yang lebih sempurna di dunia ini selain daripada si tampan kawin dengan si cantik. Jangan diubah-ubah. Kalau tak percaya, boleh saja kau lihat betapa anak-anak muda itu memuja Glen Alinskie dan Chelsea Olivia. Mereka memuja sebab mereka melihat kesempurnaan. Kalau kau buruk rupa tapi ingin kawin dengan si tampan atau si cantik, niscaya dunia akan menggugat kau. Dan tak ada pepatah yang lebih tepat untukmu selain: bagai pungguk merindukan bulan. Sudahlah, jangan sekali-kali mencoba mendefinisikan ulang tentang kesempurnaan dunia!

Itu pula yang terjadi saat Rahwana, seorang raja buruk rupa yang jatuh cinta pada Dewi Sinta yang cantik itu. Tidak cocok. Penonton gemas karena Dewi Sinta begitu mudahnya masuk dalam perangkap Rahwana. Pembaca tak sabar menanti kisah heroik Hanoman yang dibantu oleh adik Rahwana sendiri saat menyelamatkan Dewi Sinta agar dapat kembali bersanding dengan suaminya yang tampan. Tapi barangkali hanya aku yang tersedu-sedu saat Rama mempertanyakan kesucian Dewi Sinta. Itu adalah saat aku membenci Rama. Aku benci ketika ia meminta bukti kesucian Dewi Sinta dengan membakarnya hidup-hidup. Sinta yang setia. Sinta yang suci. Meski ia berjuang untuk bertahan saat sedang ditawan oleh Rahwana, semua itu sia-sia. Tak cukup kepercayaan Rama, suaminya yang tampan itu untuknya. Aku makin tersedu sendu memendam kejengkelan ketika api itu tak membakar Sinta dan karenanya ia kembali ke pangkuan Rama sebagai permaisuri. Itu bukti yang dipertanyakan oleh Rama.

Akhir bahagia? Akhir bahagia tahi kucing. Kalau aku jadi Sinta, takkan sudi aku kembali pada laki-laki yang tak mempercayaiku. Aku lebih baik kembali pada Rahwana. Rahwana yang dengan sabar mencoba menaklukkan Dewi Sinta dengan cintanya, namun masih menghormati penolakannya. Rahwana tak beruntung, sebab ia buruk rupa. Dunia tak berpihak padanya. Dunia penonton dan dunia pembaca kisah itu.

Dunia yang sama, tempat kau dan aku hidup pun tak berbeda. Tak ada tempat bagi para buruk rupa. Mereka harus berjuang dengan keras agar dunia tempat kau dan aku hidup ini menerima mereka. Perjuangan yang bisa berhasil, bisa juga tidak.

Mari, para buruk rupa pejuang kehidupan. Mari berbaris denganku. Kita taklukkan dunia yang keras ini bersama-sama. Tak ada tempat untuk para buruk rupa, tapi selalu ada tempat untuk para pejuang.

Perkenalkan, aku yang tak pernah ingin menjadi perempuan cantik – aku, yang tak pernah ingin menjadi laki-laki tampan.

Aku, kami hanya ingin menjadi pejuang.

Seperti presiden kita itu. Yang hari ini berulang tahun.

Batu, 21 Juni 2016
1.14 pm

PS : Gambar milik Adipati Julian

tanah

Jika kau ingin belajar tentang penerimaan, jangan belajar dari aku. Belajarlah dari tanah.

Sebab tanah menerima siapapun dalam diam. Tanah tak hanya menerima orang-orang baik seperti Suster Teresa, tapi juga orang jahat seperti Hitler. Tanah tak pernah memandang latar belakang keluargamu, status sosialmu, dan profesimu. Tanah tidak menghujat. Tidak juga menghakimi. Ia berdenyut hidup, namun senyap.

Tanah menerimamu dalam diam. Dengan keanggunannya.
                Menerima pelajar.
                Menerima pelacur.
                Menerima doktor.
                Menerima koruptor.
                Menerima seniman.
                Menerima ilmuwan.
                Menerima pendeta.
                Menerima politikus.
                Menerima tuan tanah.
                Menerima buruh.
                Menerima ateis.
                Menerima teroris.
                Menerima feminis.
                Menerima komunis.
                Menerima protagonis.

Kelak tanah menerimamu, tanah menerimaku. Tanpa banyak tanya. Meski syarat dan birokrasi diberikan oleh negara.

Jika kau ingin belajar tentang penerimaan, jangan belajar dari aku. Belajarlah dari tanah.


Surabaya, 24 Mei 2016

Terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono
“Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati”

Gambar diambil dari sini
 

apa kabar?

"Halo." Kamu menyapaku di tengah keramaian.

"Halo juga." Dan kusebut namamu. Kita pernah satu kelas selama empat tahun. Karena itu aku masih ingat wajah dan namamu. Ini istimewa, karena sebenarnya aku kurang baik mengingat nama. Jadi, kalau aku masih mengingat namamu, maka itu pertanda baik. 

“Kamu apa kabar?” tanyaku.

Seketika itu wajahmu lesu. Dan aku jadi merasa bersalah karena bertanya. Lalu kamu mengajakku minum teh di sebuah kedai di mall tempat kita bertemu. Aku mengiyakan. Kapan lagi bisa mengobrol dengan kawan lama? Aku toh memang sungguh-sungguh ingin tahu kabarmu.

Lantas kamu bercerita. Cerita yang serupa dengan keluhan. Tentang anak pertamamu yang bikin susah. Bikin kamu sering dipanggil guru. Anak pertamamu yang malas. Yang sulit diatur. Yang tak pernah menurut. Tak punya ambisi. Padahal sebagai anak laki-laki harusnya ia lebih bisa diandalkan. Tapi apa daya, disuruh ini tak mau. Disuruh itu tak mau. Sampai kamu menyerah. Kamu biarkan anak sulungmu melakukan apa yang ia mau.

Kabar anak sulungmu: checked. Aku mengangguk-angguk. Sabar.

“Kalau anak keduaku beda,” lanjutmu lagi.

Oh, ceritamu belum selesai rupanya.

Menurutmu, anak keduamu yang perempuan itu pintar. Ia juara di kelasnya. Dan meskipun perempuan, ia selalu berambisi jadi yang terbaik. Membuatku mengerutkan kening, seolah-olah aneh adanya jika perempuan punya ambisi untuk jadi yang terbaik. Masih menurutmu, anak perempuanmu tak perlu kamu suruh akan belajar sampai ia bisa mendapatkan nilai yang terbaik.

“Mirip papanya,” katamu sambil terkekeh. Aku tak paham mengapa kamu terkekeh.

Kabar anak keduamu: checked.

Dan kamu masih menyerocos. Rupanya masih harus kupertahankan persediaan kesabaranku.

“Papanya anak-anak,” katamu, “suamiku itu, sering pergi.” Kali ini nadamu kembali seperti saat kamu bercerita tentang anak pertamamu. Kamu bilang suamimu sering harus ke luar kota. Menemui klien-kliennya yang kaya. Mungkin karena ia pintar dan punya ambisi, klien-klien jadi percaya padanya. Makanya perusahaannya bisa berkembang pesat.

Ah, ternyata kamu hanya ingin memamerkan suamimu dalam bentuk keluhan.

Kabar suamimu: checked.

Namun demikian, masih belum kudapatkan jawaban dari pertanyaanku padamu. Pertanyaanku yang hanya terdiri dari tiga kata tadi.

“Lalu, kamu apa kabar?” tanyaku sekali lagi. Kutambahkan satu kata di depannya. Biar terdengar lebih jelas di kupingmu.

Mendengar pertanyaanku lagi, entah bagaimana kamu lebih ceria. Kamu bilang kamu sedang mulai bisnis kecil-kecilan. Sebuah online shop yang menjual busana-busana kekinian untuk wanita modern. Selain itu, kamu juga berjualan produk kesehatan. Baru kamu mulai juga karena diajak teman. Bisnis ini menjanjikan, katamu dengan lebih semangat. Sebab gara-gara bisnis ini temanmu bisa sering berlibur ke luar negeri. Hitung-hitung membantu menambah penghasilan suami sambil jaga anak-anak di rumah.

Aku manggut-manggut, sementara persediaan kesabaranku mulai menipis. Dan kutanya padamu sekali lagi: “Kalau kamu sendiri, apa kabar?” Itu terjadi tepat sebelum anak-anakku datang memanggilku dari kejauhan. 

“Baik,” jawabmu akhirnya. Dan matamu melihat kedua anak perempuanku. 

“Ini anak-anakmu?” tanyamu. Akhirnya. Sebuah pertanyaan keluar dari mulutmu untukku.

Aku mengangguk dan kusuruh anak-anakku bersalaman denganmu.

“Anak-anakmu cewek semua ya?” Pertanyaan keduamu muncul. Retorik. “Kurang satu lagi.” Kamu menambahkan. Sebab menurutmu, kurang lengkap kebahagiaan kami tanpa kehadiran anak cowok. 

Kali ini aku yang mengeluh. Dalam hati. Persediaan kesabaran itu langsung habis. Butuh kopi bercangkir-cangkir, Haruki Murakami yang berduet dengan Banda Neira atau Payung Teduh dan gerimis semalaman untuk mengisinya kembali penuh dengan cepat. 

Aku berdiri dan tersenyum padamu. Senyum yang palsu, aku tahu. Berusaha pamit sesopan mungkin. Kamu terkejut karena aku tiba-tiba pamit. 

Aku pun tak tahan untuk tak bertanya padamu mengapa aku tak bisa tahu kabarmu. Kita sudah lama tak bertemu dan aku hanya ingin tahu kabarmu. Bukan kabar anak-anakmu, bisnismu, apalagi suamimu yang tak kukenal sama sekali. Aku hanya ingin tahu kabarmu. Itu saja. Apakah itu sulit?

Kamu tergagap dan kemudian menjawab: “Baik. Kabarku baik.”

Kutunggu beberapa detik setelah jawabanmu itu. Berpikir bahwa ada kelanjutan setelah jawaban singkat itu. Nihil. 

Aku pun melangkah meninggalkanmu. Barangkali kabar hidupmu sebelum pertemuan tak sengaja kita ini memang sudah terangkum sempurna dalam kata ‘baik’. Atau mungkin buatmu sendiri, kabarmu tak penting, sehingga kamu tak perlu berpanjang-panjang mengisahkan kabarmu padaku. 

Tak lama kamu ikut menyusul langkahku dan menanyakan nomor teleponku. Kamu bilang kamu ingin menghubungiku lagi kapan-kapan. Siapa tahu aku bisa join bisnismu yang menjanjikan itu.

Aku hanya tersenyum. Yang lagi-lagi palsu. Sepalsu nomor telepon yang kusebut untukmu. 

Dan seandainya kamu menanyakan kabarku hari ini, aku akan menjawab kalau kabarku jadi jauh dari baik. Terima kasih untukmu. 

Tak pernah kukira, perkawanan tak lagi dapat sesederhana “apa kabar?”


Surabaya, 22 Mei 2016

Terinspirasi dari diskusi sore dengan seorang kawan di pinggiran lapangan hijau.

Gambar diambil dari sini.