RSS

la la land, ira koesno dan akhir bahagia

Kabarnya film La La Land itu ending-nya ngeselin. Tidak sedikit juga yang bilang ini film bagus tapi ngga happy ending. Maka duduklah saya dengan manis di bioskop - menonton film ini untuk mencari tahu seperti apa yang dimaksud orang-orang ini sebagai 'akhir yang tidak bahagia'. Bagi yang belum nonton dan nggak keberatan dapat spoiler, sini saya beritahu: pemeran utamanya - si cowok ganteng dan si cewek cantik yang gerakan indahnya terpampang di poster itu pada akhirnya ENGGAK JADIAN aka ENGGA MENIKAH dan berbahagia selamanya. Pemeran utamanya - si cowok ganteng dan si cewek cantik itu mengambil jalan hidup yang berbeda.

Oh, jadi yang dimaksud dengan 'akhir yang tidak bahagia' alias 'nggak happy ending' itu adalah karena mereka enggak menikah dan hidup bahagia selamanya seperti kisah Cinderella, Putri Tidur dan dongeng-dongeng putri lainnya?

Ini jadi mengingatkan saya pada seorang jurnalis perempuan yang belakangan ini namanya kembali mencuat karena memoderatori debat pemilihan kepala daerah terheboh seantero nusantara. Iya, jurnalis perempuan itu bernama Ira Koesno - yang rumor nama dokter kulitnya menyebar di dunia maya setelah pemirsa sadar bahwa perempuan cantik bertampang usia 30an dengan kulit kencang ini ternyata berumur 45 tahun. Kurang apa coba? Sudah cantik, cerdas, terkenal, ..., eh tunggu dulu. Sebab kabar berikutnya tentang Jeng Ira Koesno yang nggak kalah hebohnya adalah dia masih SINGLE. Lalu, entah bagaimana dan entah karena apa, mulai terdengar omongan-omong busuk baunya. Persis bau mulut tidak tersentuh air dan pasta gigi berbulan-bulan.

        "Cantik-cantik kok belum kawin.”
“Makanya jadi cewek jangan pinter-pinter, ngga laku-laku kan?”
“Kebanyakan ngurus karir sih, makanya ngga kawin-kawin.”

Oh, jadi puncak kesuksesan perempuan itu dilihat dari dia udah kawin atau belum?

Sedih juga ya. Enggak, saya enggak lagi menentang perempuan atau siapapun itu untuk menikah. Menikah adalah sebuah pilihan, begitu juga dengan berkarir. Begitu juga dengan sejuta jalan hidup lainnya yang dipilih, sebab hidup enggak cuma perkara kawin dan berkarir saja. Saya sedih aja jika seorang perempuan baru dipandang sukses hanya karena ia menikah. Lha apa mereka pikir, menikah itu gampang? Segampang tajuk “hidup bahagia selamanya” di akhir dongeng-dongeng dimana pangeran dan putrinya menikah? 

Buat saya, film La La Land itu happy ending. Gimana nggak happy ending, impian-impian kedua pemeran utamanya tuh TERCAPAI! Si cowok ganteng yang pengen punya klub jazz sendiri untuk ‘menyelamatkan’ musik jazz akhirnya keturutan punya. Si cewek cantik yang pengen jadi aktris terkenal akhirnya tercapai juga keinginannya. Dapat bonus suami yang mendukung dan anak kecil yang lucu lagi. Saya tanya: ITU NGGA HAPPY ENDING-NYA DIMANA? 

Impian tercapai kok dibilang enggak happy ending. Puncak kesuksesan kok tergantung dari status. Bahagia kok cuma dilihat dari kawin atau enggak. Menurut saya sih, hidup kamu itu sempit kalau mendefinisikan kebahagiaan hanya dari itu aja. 

Ya…, sesempit vagina perempuan kali.



Surabaya, 31 Januari 2017
8 : 23 pm

dunia lebih memihak sang rama

Aku membenci Rama sepenuh hatiku. Iya. Rama yang itu. Yang kabarnya tampan dan bijaksana. Ramayana. Candi Prambanan saksinya beserta ratusan orang tak kukenal lainnya. Kalau dulu waktu aku kecil, saat kutonton film serinya di televisi, aku sudah tidak suka. Sekarang kunyatakan kebencianku pada laki-laki itu di bawah langit malam, tujuh belas kilometer jauhnya dari pusat kota Jogja.

Kau tentu tahu kisah Ramayana bukan? Singkatnya begini. Ramayana beristrikan Dewi Sinta yang cantik, anggun dan mempesona. Dan tak ada yang lebih sempurna di dunia ini selain daripada si tampan kawin dengan si cantik. Jangan diubah-ubah. Kalau tak percaya, boleh saja kau lihat betapa anak-anak muda itu memuja Glen Alinskie dan Chelsea Olivia. Mereka memuja sebab mereka melihat kesempurnaan. Kalau kau buruk rupa tapi ingin kawin dengan si tampan atau si cantik, niscaya dunia akan menggugat kau. Dan tak ada pepatah yang lebih tepat untukmu selain: bagai pungguk merindukan bulan. Sudahlah, jangan sekali-kali mencoba mendefinisikan ulang tentang kesempurnaan dunia!

Itu pula yang terjadi saat Rahwana, seorang raja buruk rupa yang jatuh cinta pada Dewi Sinta yang cantik itu. Tidak cocok. Penonton gemas karena Dewi Sinta begitu mudahnya masuk dalam perangkap Rahwana. Pembaca tak sabar menanti kisah heroik Hanoman yang dibantu oleh adik Rahwana sendiri saat menyelamatkan Dewi Sinta agar dapat kembali bersanding dengan suaminya yang tampan. Tapi barangkali hanya aku yang tersedu-sedu saat Rama mempertanyakan kesucian Dewi Sinta. Itu adalah saat aku membenci Rama. Aku benci ketika ia meminta bukti kesucian Dewi Sinta dengan membakarnya hidup-hidup. Sinta yang setia. Sinta yang suci. Meski ia berjuang untuk bertahan saat sedang ditawan oleh Rahwana, semua itu sia-sia. Tak cukup kepercayaan Rama, suaminya yang tampan itu untuknya. Aku makin tersedu sendu memendam kejengkelan ketika api itu tak membakar Sinta dan karenanya ia kembali ke pangkuan Rama sebagai permaisuri. Itu bukti yang dipertanyakan oleh Rama.

Akhir bahagia? Akhir bahagia tahi kucing. Kalau aku jadi Sinta, takkan sudi aku kembali pada laki-laki yang tak mempercayaiku. Aku lebih baik kembali pada Rahwana. Rahwana yang dengan sabar mencoba menaklukkan Dewi Sinta dengan cintanya, namun masih menghormati penolakannya. Rahwana tak beruntung, sebab ia buruk rupa. Dunia tak berpihak padanya. Dunia penonton dan dunia pembaca kisah itu.

Dunia yang sama, tempat kau dan aku hidup pun tak berbeda. Tak ada tempat bagi para buruk rupa. Mereka harus berjuang dengan keras agar dunia tempat kau dan aku hidup ini menerima mereka. Perjuangan yang bisa berhasil, bisa juga tidak.

Mari, para buruk rupa pejuang kehidupan. Mari berbaris denganku. Kita taklukkan dunia yang keras ini bersama-sama. Tak ada tempat untuk para buruk rupa, tapi selalu ada tempat untuk para pejuang.

Perkenalkan, aku yang tak pernah ingin menjadi perempuan cantik – aku, yang tak pernah ingin menjadi laki-laki tampan.

Aku, kami hanya ingin menjadi pejuang.

Seperti presiden kita itu. Yang hari ini berulang tahun.

Batu, 21 Juni 2016
1.14 pm

PS : Gambar milik Adipati Julian

tanah

Jika kau ingin belajar tentang penerimaan, jangan belajar dari aku. Belajarlah dari tanah.

Sebab tanah menerima siapapun dalam diam. Tanah tak hanya menerima orang-orang baik seperti Suster Teresa, tapi juga orang jahat seperti Hitler. Tanah tak pernah memandang latar belakang keluargamu, status sosialmu, dan profesimu. Tanah tidak menghujat. Tidak juga menghakimi. Ia berdenyut hidup, namun senyap.

Tanah menerimamu dalam diam. Dengan keanggunannya.
                Menerima pelajar.
                Menerima pelacur.
                Menerima doktor.
                Menerima koruptor.
                Menerima seniman.
                Menerima ilmuwan.
                Menerima pendeta.
                Menerima politikus.
                Menerima tuan tanah.
                Menerima buruh.
                Menerima ateis.
                Menerima teroris.
                Menerima feminis.
                Menerima komunis.
                Menerima protagonis.

Kelak tanah menerimamu, tanah menerimaku. Tanpa banyak tanya. Meski syarat dan birokrasi diberikan oleh negara.

Jika kau ingin belajar tentang penerimaan, jangan belajar dari aku. Belajarlah dari tanah.


Surabaya, 24 Mei 2016

Terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono
“Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati”

Gambar diambil dari sini