Sunday, April 05, 2020

apa kabarmu hari ini?


Male Hand Reaching Out photos, royalty-free images, graphics ... 
Beberapa minggu yang lalu saya mungkin siap dengan segala kemungkinan. Kemungkinan kerja di rumah. Kemungkinan karantina wilayah maupun pusat. Kemungkinan tidak bisa keluar rumah untuk sementara waktu, entah sampai kapan. Tapi ternyata tidak juga. Ada banyak rasa yang muncul setelah beberapa minggu di rumah saja.

Rasa tidak berguna karena merasa tidak banyak melakukan apa-apa. Dan tiba-tiba seperti terdaftar menjadi anggota kaum rebahan.

Rasa sedih karena hampir setiap hari mendengar berita duka dan orang sakit. Lingkarannya pun makin sempit. Kalau dulu seperti jauh di negeri China sana, sekarang saya tahu siapa yang meninggal karena terpapar virus tersebut. Saya kenal dengan orang yang sedang menderita karenanya. Dan istrinya terus menerus meminta pada kami, teman-temannya untuk mendoakan suaminya.

Rasa kecewa dan frustasi karena hampir setiap hari pula saya membaca segala aksi yang harusnya segera dilakukan oleh sistem dan pemerintahan tidak dilakukan. Di mana nyambungnya membebaskan napi yang terlibat korupsi dengan menyelesaikan wabah di negeri yang mereka pimpin?

Rasa marah dan gemas karena juga hampir setiap hari masih saja ada orang-orang yang menyebarkan berita-berita hoaks yang tidak penting dan bikin panik. Punya kuota untuk menyebarkan berita yang belum tentu benar ke mana-mana tapi tidak punya waktu untuk mencari tahu dulu kebenarannya? Tolong otaknya dipakai. Jangan semuanya diserahin ke Tuhan.

Rasa bersalah karena banyak orang yang terus menerus mengatakan bahwa kita harus terus bersyukur dan selalu berpikir positif sementara saya sulit melakukannya. Kalau saya masih bisa makan, pikirkan orang di luar sana yang tidak bisa makan gara-gara ini. Harus bersyukur. Kalau saya masih punya atap dan dinding di mana saya bisa berlindung di dalamnya dari panas, hujan dan orang-orang pembawa virus, bersyukurlah. Banyak orang di luar sana tidak punya rumah, atau bahkan punya rumah tapi harus tinggal dengan orang-orang beracun alias toxic (ya, saya bicara tentang kamu wahai para pelaku KDRT baik fisik maupun verbal!), bersyukurlah. Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Dan ketika saya memaksa untuk bersyukur dan mencoba berpikir positif, mencari-cari sedikit hal-hal baik di antara banyak hal-hal buruk ternyata melelahkan. Ini belum ditambah dengan tudingan-tudingan saya sebagai salah satu bagian dari privileged people community atau komunitas orang-orang yang memiliki hak istimewa, yang bahkan mengunggah atau memamerkan hasil masakan sendiri saja bisa merasa berdosa dan tidak sensitif. Dan merasakan lelah pun menghasilkan rasa bersalah.

Lalu saya mencoba berhenti. Berhenti dari hiruk pikuk rasa yang dalam beberapa minggu terakhir ini memenuhi isi kepala saya. Berhenti sedih, berhenti kecewa dan frustasi, berhenti marah dan gemas, berhenti merasa bersalah dan berhenti lelah. Tapi kemudian saya ingat, manusia tidak didisain untuk untuk tidak bisa merasa. Dan merasa sama pentingnya dengan berpikir (yes, Descartes, I’m talking to you) agar saya, kamu, kita tetap ada.

Saya tidak pandai berbicara di depan orang banyak. Saya tahu talenta saya tidak di situ jadi jangan paksa-paksa saya untuk percaya bahwa saya bisa kalau saya mau belajar karena saya tahu saya jauh lebih baik jika menulis. Barangkali karena itulah tulisan ini ada: senukil campuran rasa yang mencoba saya tutupi dan saya hindari beberapa waktu terakhir ini. Pada akhirnya saya pelan-pelan menyadari, saya tidak sendirian, dan semua sedang berusaha untuk tidak gila dengan caranya masing-masing. Semua sedang berusaha berjuang dengan caranya masing-masing. And it’s okay. Membicarakannya, menuliskannya, menceritakannya, berbagi rasa. Dan kita akan saling menemukan, karena kita tidak sendirian menanggung ini semua.

Apa kabarmu hari ini? Rasakan saja. Saya, kamu, kita tidak perlu merasa bersalah karena itu. Sebab bersyukur bukan sebuah keharusan, tapi sebuah rasa tanpa paksaan.

Aku, kamu, kita tidak sendirian.


Surabaya, 5 April 2020
di tengah gempuran virus COVID-19

Gambar diambil dari sini.

Monday, November 27, 2017

virus

Kadang aku tak paham mana yang lebih baik: tahu sedikit namun bahagia atau tahu banyak namun senantiasa gelisah?

Maksudku begini. Pernah pada suatu masa aku tak terlalu paham tentang bahaya plastik dan sampah-sampah non-organik yang dihasilkan oleh manusia. Dan masa-masa itu adalah masa dimana hidupku lebih sederhana dan bahagia. Bagaimana tidak; karena aku tak paham maka untuk tiap pembelanjaan yang aku lakukan, aku tak pernah merasa terganggu jika diberi kantong plastik sebagai wadah hasil belanjaku. Hidupku juga lebih sederhana. Otakku tak perlu bekerja terlalu keras untuk berpikir bahwa kantong plastik membutuhkan belasan tahun untuk terurai dan karenanya tak seharusnya aku memakainya secara boros. Dan bayangkan, berapa banyak manusia seperti aku yang membuang plastik-plastik seenak jidat? Sehingga mari kita visualisasikan bumi ini ternyata penuh dengan… ah, sudahlah.

Tapi, tahu maksudku kan?

Ketika kau tahu banyak hal, hidupmu tak lagi mudah. Gerakmu lantas terperangkap dengan pengetahuan-pengetahuanmu sendiri. Kau jadi gelisah atas banyak hal. Hal-hal yang dulu kau nikmati dan yang dulu tak kau pikirkan tak lagi sama. Tiba-tiba kau menjadi seseorang yang terlalu sibuk untuk bersenang-senang. Benakmu terlalu sibuk untuk santai. Barangkali kau lantas menjadi idealis. Dan karenanya kau tak lagi jadi orang yang menyenangkan. Kau tak lagi cukup menuntut dirimu sendiri untuk terus lebih baik menurut kau. Kau pun mulai menuntut orang lain mengikuti alur pikirmu. Mengikuti idealismemu. Lalu tiba-tiba kau dan orang-orang lain menjadi sekumpulan orang-orang yang tidak bahagia dan selalu gelisah. Dan makin kau tahu, kau makin lapar, makin haus mencari-cari lebih banyak. Kau makin gelisah.

Kau tahu ujung dari ini semua? Tak lain tak bukan adalah sekelompok orang-orang yang terus menerus gelisah dan makin menuntut. Orang-orang yang takkan pernah puas bahkan atas pencapaian mereka sendiri dan karenanya sengaja atau tidak tak puas juga dengan pencapaian orang lain. Padahal orang lain itu juga sedang berusaha menyamai gerak langkah mereka.

Kebahagiaan dan kesederhanaan pun tinggal kenangan.

Sampai saat ini, aku masih tak paham mana yang lebih baik: tahu sedikit namun bahagia atau tahu banyak namun senantiasa gelisah? Be damned Thomas Gray who wrote “Ignorance is a bliss” in his poem because he could be right all this time!

Barangkali karena itu aku masih mencari tahu. Yang menyebabkan kegelisahan ini mengikat kaki, tangan dan kepalaku. Dan seperti virus yang belum ada penangkalnya, ia menular.

Surabaya, 26 November 2017
8.31 pm

Gambar diambil dari sini.

Monday, August 07, 2017

suatu malam minggu di Surabaya

PADA SEBUAH KEDAI KOPI

Aku penasaran
pada seorang perempuan muda
yang duduk sendirian di pojok ruangan
Telinganya ditutup headset
Kepalanya bergoyang-goyang kecil
Menikmati sesuatu yang tak kumengerti
Sebab ia tak berbagi kenikmatan yang ia dengar denganku

Aku penasaran
pada seorang laki-laki
yang menatap perempuan yang duduk di hadapannya
Tatapan yang hangat
Seolah-olah dunia ini cuma dihuni oleh mereka berdua
Meski perempuan yang duduk di hadapannya
berbagi dunianya dengan orang-orang lain
lewat ponsel pintarnya
sampai ia memutuskan dunia itu miliknya sendiri
dan karenanya layar ponsel pintarnya 
dipenuhi seluruh wajahnya dari dekat
Dan laki-laki itu masih saja menatapnya hangat
mengajaknya bicara

Aku penasaran
Dengan keluarga bahagia yang duduk dekat jendela
Seorang pria bersama istri, kedua anak perempuan dan ibunya
Istri yang tersenyum, anak-anak yang berisik
Meski hanya dengan segelas teh dingin di depannya,
ia dengarkan cerita lucu yang dituturkan sang istri
Lalu hanya Tuhan dan mereka yang tahu
apa yang lucu sehingga menyebabkan gelak mereka tersembur

Aku penasaran
Aku selalu penasaran
Kisah-kisah yang membawa tiap pengunjungnya
menghabiskan sisa hari mereka hari itu
di situ

Pada sebuah kedai kopi
Aku penasaran
Mengapa seorang pengunjung yang datang sendirian,
mengambil meja untuk pengunjung yang datang berempat

DI TOILET UMUM

Aku melihat koin di dasar closet
Entah cerita apa yang dibawa koin itu
hingga ia sampai di sana
Barangkali mantan pemiliknya
buru-buru menurunkan celananya
untuk buang hajat
lalu buru-buru menaikkan celananya lagi
setelah puas ia buang hajat
dan saat itulah koin itu meloncat keluar dari celananya yang agak sesak
Sebab ia ada janji dengan seorang perempuan
yang telah lama ia incar
Ia perlu tampil sempurna,
meski celananya kekecilan sedikit,
tapi tak mau raut mukanya menahan sesuatu
Sebab tak ada yang paling mengerikan
dari raut wajah yang menahan desakan kuat untuk memenuhi panggilan alam
Dan barangkali selesai kencan singkat itu,
ia baru sadar kehilangan sekeping koin
Atau saat ia harus bayar parkir
dan uang di dompetnya tidak cukup
untuk membayar tukang parkir yang melotot
Ah, seandainya ia tak buru-buru melorotkan celananya

Aku melihat sekeping koin di dasar closet
Dan barangkali kisah yang kuceritakan padamu tadi
hanya terjadi di kepalaku


Sabtu, 5 Agustus 2017
menjelang malam di sebuah kedai kopi