RSS

cerita dalam celana

Dalam sebuah celana ada rahasia hidup. Rahasia yang paling gelap sekaligus paling sakral. Dalam sebuah celana ada banyak cerita. Cerita-cerita itu biasanya bicara tentang nafsu. Nafsu untuk ketawa, nafsu untuk marah, nafsu untuk sedih, juga nafsu untuk bernafsu. Tidak ada cerita yang membosankan dalam sebuah celana. Jadi jika ada sepuluh ribu manusia di muka bumi ini, bisakah terbayangkan ada berapa celana dan lantas ada berapa cerita yang tercipta di dalamnya?

Tiap celana punya ceritanya sendiri-sendiri.

Cerita kali ini mendarat dalam sebuah celana perempuan. Perempuan yang diberi label oleh masyarakat sebagai perempuan baik-baik, tidak macam-macam, yang menikah tepat pada waktunya dan mengurus rumah tangganya sesuai dengan primbon wanita ideal ala timur. Masalah perempuan baik-baik ini cuma satu. Itu pun dianggap masalah karena masyarakat menganggap hal itu adalah masalah. Perempuan ini belum juga punya anak.

Sebagai perempuan baik-baik, cerita dalam celananya tentu boleh dikatakan suci. Boleh juga dibilang sakral. Sebuah ruang dalam celananya hanya mengenal satu benda asing yang dapat masuk disana. Tidak sembarang benda dapat masuk. Hanya satu benda itu saja. Sebab itu perempuan ini menghormati betul benda asing yang ia ijinkan masuk dalam celananya. Bertahun-tahun kemudian, celana perempuan itu hanya tahu benda itu yang dapat masuk hingga ke dalam, mengaduk-aduk apapun yang ada dalam ruang itu. Menjilati dindingnya hingga sensasinya bisa naik sampai ke ujung kepala.

Suatu hari ruangan dalam celana itu berkedut. Bukan karena ada benda asing lain yang masuk. Sudah kubilang, ini cerita dalam celana perempuan baik-baik. Perempuan baik-baik tidak akan pernah membiarkan benda-benda asing yang berbeda-beda masuk silih berganti. Ruangan ini berkedut karena pemilik benda asing bernama laki-laki yang selama ini diijinkan masuk hingga ke sudut ruang rahasia dalam celananya bilang hendak minta ijin masuk ke dalam celana perempuan lain. Ia ingin beranak. Bertahun-tahun makhluk dalam celana laki-laki itu berbagi cerita dan sensasi dengan makhluk dalam celana perempuan baik-baik itu, tapi tak ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu bernama anak. Jika tidak ada anak, orang tua menyindir, teman-teman mengira mereka pandir, dan tetangga biasanya ikutan nyinyir. Perempuan baik-baik itu tak mengerti mengapa laki-laki ini lebih peduli dengan perasaan orang lain daripada perasaannya? Hanya makhluk yang tinggal dalam celana laki-laki itu yang paling tahu jawabannya. Anak bukanlah satu-satunya alasan. Alasan lainnya adalah, laki-laki itu ingin tahu ada cerita apa lagi dalam celana-celana lainnya. Siapa tahu dalam celana-celana lain ada petualangan berharga yang dapat ia nikmati?

Pikir laki-laki itu, ia sudah tahu dan cukup menikmati semua cerita-cerita dalam celana perempuan baik-baik yang oleh masyarakat telah diakui sebagai istrinya. Ia penasaran dengan cerita-cerita dalam celana perempuan lain. Apakah ceritanya akan lebih menarik dari cerita dalam celana istrinya? Atau lebih membosankan? Lebih menggairahkan? Lebih membahagiakan? Ia penasaran. Dan sebagai laki-laki yang baik-baik pula, ia harus ijin pada istrinya untuk menengok cerita-cerita dalam celana perempuan lainnya.

Perempuan baik-baik itu menangis. Ia bertanya keras-keras pada siapapun yang mau mendengarkan. Apa cerita dalam celananya sudah tamat sampai-sampai suaminya ingin mencari cerita dalam celana lainnya? Ia berpikir cerita dalam celana tak seharusnya tamat. Ruang dalam celana seharusnya bukan seperti buku yang habis dibaca disimpan dalam rak dan empunya membeli buku lain, demikian seterusnya. Bukan. Karena itu perempuan baik-baik ini menolak permintaan suaminya mengintip cerita dalam celana perempuan-perempuan lain.

Lantas, cerita dalam celana perempuan baik-baik ini kemudian masih sama. Masih benda itu yang dapat masuk dalam ruang dalam celananya.

Sampai suatu ketika, ruangan dalam celananya itu bergoncang. Ada benda asing lain masuk ke dalam celananya. Benda asing yang tidak serupa dengan benda yang selama ini keluar masuk dalam celananya.

Dan tahulah perempuan itu, laki-laki yang diakui masyarakat sebagai suaminya tidak lagi hanya menikmati cerita dalam celananya saja, tapi juga cerita dalam celana perempuan-perempuan lain.

Benda itu, biarpun mungil adanya, tetap saja bernama virus. Virus yang dari waktu ke waktu akan menggerogoti seluruh tubuhnya sehingga kelak, cerita dalam celananya akan berakhir mengenaskan.

Di jalan menuju rumahnya, sambil menangis dalam hati, perempuan itu berjalan pelan-pelan. Dua orang ibu-ibu dengan celana besarnya, yang biasa menyapanya jika bertemu memalingkan wajah mereka sambil berbisik. Dan gendang telinganya menangkap sebuah kata.

”Pelacur.”


written by: Jessie
Monday, 9 May 2011
8: 22 pm

PS: gambar diambil dari sini