RSS

cinta

Cinta itu lucu. Apalagi kalau dirasakan sekaligus dipikirkan sesaat menjelang pernikahan. Saat itu, cinta tak lagi terasa absurd. Cinta nyata, ada dan bermuara. Legalitas yang bikin hati senang karena ada sesuatu yang baru yang akan dijalani bersama. Ada juga yang bilang cinta bukanlah cinta jika tidak membahagiakan. Tapi memang kebahagiaan itu bukan akibat, melainkan sebab. Kelak sepasang muda-mudi  yang telah berjanji setia di hadapan pendeta atau para pemuka agama lainnya berangsur-angsur akan mengerti, dalam pernikahan cinta tak lagi melulu soal rasa, melainkan hak sekaligus kewajiban. Cinta tak lagi pasif, tapi aktif. Ah, tapi bukankah cinta memang seharusnya aktif jika ingin berjalan ke tempat yang lebih baik?

Barangkali itu sebabnya aku tak pernah suka lagu-lagu cinta manusia kasmaran atau apa lah itu yang pada intinya seperti ini: “I love you just the way you are.” Kupikir, cinta tak sedangkal dan sesederhana itu. Cinta sepatutnya menjadikan manusia menjadi lebih baik dengan apa adanya ia pada dirinya.

Catatan ini ditulis setelah perjalanan dengan pesawat dari Kota Pahlawan menuju ibukota. Penumpang di sebelah tempat dudukku adalah perempuan setengah baya. Mungkin tak ada yang tahu, dan entah ia merasa atau tidak, sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Bukan. Bukan karena ia menarik atau tetap cantik meskipun usia mencuri sedikit-sedikit kulitnya yang kencang, rambutnya yang hitam dan menambahkan lemak-lemak tak perlu pada bagian tubuhnya disana-sini. Pernahkah memikirkan apa yang kupikirkan saat itu? Bahwa kelak bukannya tak mungkin aku akan seperti dia. Tak lagi muda. Kulit tak lagi kencang. Rambut tak lagi setebal atau sehitam dulu. Dan lemak-lemak… oh gosh aku berharap lemak-lemak tak perlu itu eksis di tubuhku kelak. Dan kalau nantinya aku tak lagi muda dan bahenol, masihkah suamiku mencintai dan menerimaku?

Tapi disitulah komitmen unjuk gigi. Janji yang diucapkan di depan pendeta, di hadapan para saksi, jelas bukan perkara main-main. Ini perkara kontrak seumur hidup, bersama orang yang barangkali tak kamu sadari baru setengah atau bahkan seperempatnya saja kamu kenal.  Seperti yang Meg Cabot pernah katakan:  pernikahan seumpama teken kontrak seumur hidup pada sebuah toko kue. Kue yang menurutmu enak dan gurih, sehingga bikin ketagihan. Lantas kamu berjanji pada toko kue itu bahwa  kamu akan terus membeli kuenya, apapun bentuk dan rasanya. Meskipun di sebelah toko kue tersebut muncul toko kue lain yang lebih menarik. Atau di seberang toko kue itu dibuka toko kue lainnya lagi yang kata-kata orang yang sudah mencicipi, kuenya lebih bikin ketagihan daripada toko kuemu. Dan kontrak yang sudah telanjur kamu tandatangani menyebabkan kamu tak lagi bisa mencicipi kue-kue di toko-toko yang lain – semenarik dan semenggiurkan apapun kue-kue mereka.

Cinta memang istimewa. Ia seperti ada dimana-mana. Di novel, komik, film, sinetron, panggung, lagu, mimbar keagamaan, kampus, rumah, de es be, de es be. Barangkali karena ia memberi diri dengan lapang dada untuk didefinisikan dalam berbagai bentuk oleh segala makhluk, terutama manusia.

Ah, tapi aku percaya kamu akan temukan sendiri definisi cintamu – khusus untukmu sendiri. Karena perjalanan cinta masing-masing orang itu berbeda. Dan perbedaan itu melahirkan definisi cinta yang berbeda-beda pula. Dan tak ada yang lebih indah dari sesuatu yang berbeda-beda. Sebab warna hitam tak lagi mencolok dan kelihatan indahnya jika dijajarkan dengan hitam lainnya.

Tulisan ini untuk sepupuku yang menikah hari Sabtu, 17 November 2012 kemarin. Kuucapkan selamat mencintai, dicintai, bercinta dan mendefinisikan cinta mereka sendiri.


Jakarta, 16 November 2012
11:42 pm

PS : Gambar courtesy of Daniel A. Sudarmadi

bertanya

Dari guru bahasa Indonesia-ku, aku belajar sebuah pepatah begini: malu bertanya, maka kamu akan sesat di jalan. Namun menurutku, pepatah ini belum selesai. Pepatah ini mungkin lebih masuk akal jika dilanjutkan dengan: tapi lebih baik sesat di jalan daripada dipermalukan.

Buatku, pepatah itu maknanya dalam, apalagi untuk anak-anak Indonesia yang sering kurang percaya diri untuk bertanya di dalam kelas. Selain dalam maknanya, buatku pepatah itu juga mustahil. Mustahil untuk sering-sering diterapkan. Sebab rupa-rupanya kebanyakan orang tua menganggap pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut anak-anak, selain kadang-kadang absurd, juga bisa sangat merepotkan. Satu pertanyaan berbuah jadi dua. Dua pertanyaan berproduksi jadi tiga. Dan seterusnya. Bagaimana tidak merepotkan coba? 

Sekali-kali cobalah alas kaki seorang guru dan berdirilah di depan kelas. Kemudian seorang murid mengajukan suatu pertanyaan yang ternyata tak bisa kamu jawab. Bagaimana perasaanmu? Biasa saja? Jengkel? Atau malu? Tidak usah malu mengakui kalau memang malu. Sebab reaksi itu wajar sekaligus manusiawi. Jika kamu tidak merasa malu, itu bukan karena hasil pembelajaran dalam satu malam. Itu hasil pembelajaran seumur hidupmu.

Sesungguhnya, pada sebuah pertanyaan – apapun itu – ada langkah pencarian jati diri disana. Bertanya adalah pembuktian bahwa otakmu bekerja cukup baik. Tak peduli apa kata orang. Tak peduli bagaimana tawa orang. Bertanya adalah bukti bahwa kamu merasa kurang. Atas sesuatu yang belum kamu pahami.

Dan Tuhan memang baik. Sangat baik. DiciptakanNya orang-orang yang menciptakan Google. Sebab kesanalah orang-orang jaman sekarang akan bertanya jika tidak ingin dipermalukan, ditertawakan atau dihina-hina. Yang menyebabkan pepatah malu bertanya, sesat di jalan menjadi relevan kembali.

T : Apa sih artinya hopeless romantic?
J : Tanya Google sana.

T : Apa itu kleptomania?
J : Tanya Google sana.

T : Bagaimana caranya upload foto di blog?
J : Tanya Google sana.

T : Gunung Raung itu dimana?
J : Tanya Google sana.

T : Lebih bau mana, kambing atau babi?
J : Tanya Google sana.

Google. Google. Google. Ia selalu punya jawaban atas segala pertanyaan konyolmu. Tanpa kamu perlu khawatir mukamu penuh lumpur karena malu. Tanpa kamu perlu khawatir diremehkan. Tanpa kamu perlu khawatir ditertawakan karena tidak tahu. Tanpa perlu kamu khawatir dihina-dina. Hampir semua jawaban ada disana. Free. Kecuali kalau kamu belum bayar tagihan internetmu.

Jadi pelajaran moral hari ini adalah: dengan meng-google kamu jadi gemar membaca. Dan tak pernah ada yang salah dengan gemar membaca, walaupun sebenarnya sama tak salahnya bertanya pada pacarmu, pada sahabatmu, pada temanmu, pada orang yang kamu rasa kamu percaya mereka tidak akan mentertawakanmu, sebodoh apapun pertanyaanmu.

Bertanya pada seseorang di jaman sekarang, ternyata merupakan kemewahan tersendiri. Yang tak mewah? Bertanya pada mesin atas nama teknologi.

Titi DJ sekarang kawin sama siapa? Tanya Google sana.


Wednesday, 7 November 2012
5:38 pm


PS : Gambar diambil dari sini

seorang ibu dan sebatang pohon


Di sebuah perumahan ada satu sudut yang tiap pagi selalu ramai orang. Bergerombol seperti semut yang merubung gula batu. Sudut itu sebenarnya bukan tempat yang istimewa. Yang dekorasi dan interiornya dapat menarik hati yang lewat sehingga mereka merasa harus berkunjung. Di sudut itu hanya ada tiga meja. Meja yang satu untuk makanan-makanan kecil, meja yang lain untuk bungkusan-bungkusan isi nasi. Diantara meja-meja itu, duduk seorang wanita setengah baya, menerima dan mengembalikan uang dari orang-orang yang datang dan pergi.

Kamu boleh bilang kalau tempat itu hanyalah tempat untuk menjual sarapan pagi untuk warga perumahan tersebut. Tapi kupikir, tempat itu tak hanya sekedar tempat transaksi jual beli makanan. Tempat itu juga transaksi informasi dari warga sekitar. Tanyalah pada ibu setengah baya yang duduk diantara meja-meja tadi peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di perumahan tersebut. Niscaya ia lebih tahu daripada kamu. Mulai dari bayi lahir, salah seorang anak warga yang berkelahi di sekolah, yang sedang sakit mulai dari yang ringan sampai yang paling berat, siapa yang baru membeli mobil baru, bahkan siapa yang baru menikah atau malah bercerai. Percayalah. Dia lebih tahu daripada kamu. Barangkali karena itu sudut tempat ia berjualan makanan-makanan itu selalu ramai dikunjungi orang tiap pagi. Aku bahkan pernah mendengar seseorang curhat padanya dengan menggebu-gebu. Dan ibu ini menanggapinya dengan penuh perhatian. Memberikan simpati dan empati, yang mungkin tidak didapat yang curhat di rumah.

Begitulah. Hampir tiap pagi, setiap aku lewat, tempat itu selalu ramai orang-orang datang dan pergi. Tak hanya membeli atau menitipkan makanan untuk minta tolong dijualkan, tetapi juga pusat informasi lokal ada disitu. Takkan kamu temukan di surat kabar manapun berita-berita yang berlalu lalang di tempat itu, dengan si ibu sebagai sentralnya.

Hingga suatu hari, kulihat tempat itu sepi. Hanya satu atau dua orang yang kelihatan, itu pun tidak berlama-lama disana. Sesekali aku mampir karena penasaran kenapa beberapa hari terakhir tempat itu tak lagi ramai pengunjung. Aku heran karena biasanya ketika aku kesana, meskipun hanya untuk melihat-lihat sekaligus menikmati transaksi informasi disitu, aku selalu mendapat senyum dari si empunya tempat. Tapi kali itu tidak. Jangankan senyum. Dilirik pun tidak. Ia sibuk menelepon dengan ponselnya yang jadul. Mukanya berkeringat, matanya menatap entah kemana, tangannya tak pernah lepas dari ponsel dan kerut-kerut di wajahnya semakin menjadi. Kamu tanya padaku ada apa? Aku pun tak tahu, karena aku malas berurusan dengan perkara yang bukan perkaraku.

Namun entah kenapa keesokan harinya aku kembali lagi. Hanya untuk mendapatkan senyum dari si ibu tadi dan lagi-lagi tak kudapatkan. Masih saja kutemukan raut muka yang sama dengan yang kutemukan kemarin. Tempat itu lebih sepi dari yang kukira. Kamu tanya lagi padaku ada apa? Baiklah kukatakan. Aku tak tahu sampai ujung telingaku tak sengaja mendengar ia berbicara dengan entah siapa di ponsel jadulnya. Dari yang kudengar lirih-lirih, sepertinya ia sedang punya masalah dengan anaknya. Tanyamu, masalah apa itu? Kubilang aku tak tahu. Lagi-lagi karena sepertinya aku tak berhak untuk tahu makanya aku segera berlalu dari situ.

Hari ini kulihat tempat itu masih sepi. Tak seramai dulu. Aku ikut sedih sekaligus prihatin tanpa bermaksud menghakimi orang-orang yang dulu sering berkunjung kesitu. Waktu ibu itu masih murah senyum dan sepertinya tidak punya masalah. Waktu ibu itu masih mendengarkan segala curhat, masalah-masalah rumah tangga yang sepele dan berita-berita ringan lainnya. Tak adil rasanya tapi aku berpikir, barangkali orang-orang itu terbiasa dengan senyum dan keramahan si ibu ketimbang raut mukanya yang sekarang lebih serius dan keruh seperti bak mandi yang lama tak dikuras. Mereka mungkin menginginkan si ibu kembali seperti dulu. Ceria dan mendengarkan segala yang mereka ceritakan, sepele atau tidak. Mereka rindu si ibu yang dulu. Mereka tidak mau si ibu yang sekarang. Yang tidak enak dilihat, bikin jengah dan tak nyaman. Sama sepertiku yang selalu berharap mendapatkan senyum sedikit saja dari si ibu, dan ketika tak kudapatkan, yang kulakukan hanyalah berlalu seperti kafilah tanpa anjing yang menggonggong.

Ini mengingatkanku pada sebatang pohon yang tumbuh di negara empat musim, bukan di negara tropis dimana kita berdua tinggal. Pohon yang sama dapat berbeda bentuk tiap musim, tapi sesungguhnya ia masih pohon yang sama. Hanya bentuknya yang berbeda. Jika ia dapat diterima dan dipuji-puji di musim semi, mengapa ia tak lagi dikagumi saat musim dingin?

Kupikir, ibu itu sama dengan pohon ini. Barangkali saat ini ia lebih butuh didengarkan daripada mendengarkan keluhan orang-orang yang datang dan pergi. Barangkali saat ini ia lebih butuh diterima saja tanpa dihindari dari kami. Barangkali. Aku tak tahu, karena hati ibu itu siapa yang tahu? Jelas bukan aku.  Tapi sungguh tak adil rasanya jika aku dan orang-orang itu hanya bisa menerima senyumnya saja tanpa cemberutnya. Hanya minta didengarkan saja tanpa mau mendengarkan.

Tapi aku setuju denganmu. Kamu bilang aku sok tahu. Ya. Mungkin aku sok tahu.

Tuesday, 18 September 2012
4:31 pm

PS: Gambar diambil dari sini

jangan panggil saya Cina

Suatu siang di masa lampau, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, seorang anak perempuan berumur kira-kira 9 tahun – dengan rambut tidak dikuncir dua – duduk dengan tenang di atas becak yang meluncur di atas salah satu jalan besar di kota kecil tersebut. Tiba-tiba di samping kanan dan kiri becak yang ia tumpangi, empat anak lelaki yang kira-kira seumuran dengannya sambil mengayuh sepeda mereka berboncengan berteriak pada anak perempuan itu: “Woooo Cino!”

Tukang becak hanya diam. Anak perempuan itu juga diam. Dan diamnya anak perempuan itu bukan karena dia tidak mau cari masalah. Ia diam karena ia tidak tahu kenapa ia harus diteriakin seperti itu. Mengingatkannya pada teriakan yang dicopet pada si pencopet di pasar dekat rumahnya.

Beberapa tahun kemudian, masih di kota yang sama, rumah-rumah orang-orang (yang katanya) keturunan Cina dilempari batu. Ada juga yang dibakar. Hanya karena ada warga setempat (yang katanya) pribumi bermasalah dengan warga lain (yang katanya keturunan Cina). Ia masih menonton Putri Sin Ye di televisi saat peristiwa kaca jendela rumahnya dilempar dengan batu oleh warga-warga (yang katanya pribumi). Keesokan harinya ia dan adiknya dihimbau untuk tidak masuk sekolah, karena sekolahnya adalah sekolah swasta yang murid-muridnya kebanyakan (katanya) keturunan Cina.

Hati anak perempuan itu ciut. Bertanya-tanya tentang berbagai peristiwa yang melibatkan label ‘keturunan Cina’. Membuat ia berpikir bahwa label itu sesungguhnya bisa sangat menyudutkannya tanpa ampun. Hingga pada satu titik, ia bisa sangat sensitif jika ada seseorang memanggilnya Cina atau mengajaknya berbicara bahasa Mandarin. Ia jadi tidak suka dengan film-film mandarin, yang penuh dengan orang-orang Cina berkelahi, berdialog dan bahkan bercinta. Ia tidak pernah mau belajar bahasa mandarin dan benci kalau kupingnya mendengar orang-orang di sekitarnya bicara bahasa mandarin padahal mereka juga fasih berbahasa Indonesia – seolah-olah mereka merasa lebih karena bisa bahasa mandarin.

Ada yang sedang terjadi di negeri berbendera merah putih ini. Yang katanya sudah merdeka selama 67 tahun, dengan rangkaian sejarah yang patut dipertanyakan dan diselidiki lebih lanjut. Ada sesuatu yang mulai ganjil. Seolah-olah bangsa ini lupa akan tiga kata yang tertulis pada pita di bawah kaki lambang negara kita tercinta ini. Tiga kata yang sakral. Yang indah. Yang sesungguhnya terdengar sangat beradab jika diucapkan. Namun bisa seolah-olah dilupakan. Seolah-olah, lambang negara itu hanya hiasan belaka – terpampang di sekolah-sekolah namun tidak untuk diresapi dan dilakukan. Garuda Pancasila yang sekarat, karena tiga kata pada pita di bawah kakinya semakin berat karena ditarik-tarik oleh banyak kelompok untuk dibuang. Mirip dengan nasib burung garuda yang sesungguhnya. Nyaris punah karena keserakahan manusia-manusia yang tinggal di negeri ini. Entah sejak kapan perbedaan menjadi masalah. Bahwa yang satu kaya (kata yang menjelaskan tentang punya banyak uang, rumah mewah, jabatan tinggi dan sering belanja ke luar negeri) dan yang lain miskin (kata yang menjelaskan tentang tinggal di gubuk kumuh, tidak punya pendapatan tetap, tidak punya televisi dan susah cari makan) itu adalah masalah yang sangat besar. Bahwa kulit putih itu lebih indah daripada kulit hitam, sehingga para perempuan Indonesia berlomba-lomba menyamakan warna kulit menjadi putih, hanya karena tuntutan masyarakat berkata demikian. Entah mengapa perbedaan menjadi sesuatu yang sensitif di negeri ini. Padahal ketika negeri ini pertama kali merdeka, para sesepuh justru sangat menghormati perbedaan yang ada. Entahlah.

Enam puluh tujuh tahun Indonesia merdeka. Entah apa yang merdeka. Entah siapa yang merdeka. Bahkan harapan-harapan pun terkungkung dalam penjara hati. Dipenjarakan sendiri oleh si empunya hati. Dan memenjarakan harapan, sungguh adalah tindakan kriminal paling kejam di seluruh muka bumi. Karena untuk apa manusia hidup jika tidak punya harapan? Atau untuk apa manusia hidup jika punya harapan namun tidak mau berusaha mewujudkannya?

Beberapa tahun kemudian, justru karena orang-orang yang menganggap diri mereka pribumi yang suka meneriaki “Cina!” pada anak perempuan itu, anak perempuan itu mulai berani berpikir dan berseru: “Saya bukan Cina. Jangan panggil saya Cina. Saya orang Indonesia. Saya lahir di Indonesia. Sejak kecil saya hormat pada bendera merah putih, bukan hormat pada bendera merah berbintang kuning. Saya tidak bisa bahasa Cina. Saya tidak berminat pindah ke daratan China. Saya juga tidak bisa memilih lewat keluarga mana saya dilahirkan. Dan tolong, jangan teriaki saya Cina hanya karena kulit saya kuning, mata saya sipit dan memeluk agama minoritas.”

Anak perempuan itu kemudian menuliskan tulisan ini. Ditulis dengan hati remuk, karena masih banyak orang-orang di negeri ini tidak mau menghargai perbedaan dan saling menghormati – bukan karena berbeda suku, agama ataupun ras. Saling menghormati karena memang sesama manusia harus saling menghormati. Apapun jabatan dan pekerjaan mereka.

Merdekakan harapan. Jangan penjarakan. Negeri ini butuh eksekusi harapan-harapan yang merdeka.

Thursday, 16 August 2012
5:09 pm

PS: Gambar diambil dari sini

tuan waktu dan aku


Salah. Hampir semua yang kupikir betul ternyata salah. Dan merasa bersalah jelas bukan sesuatu yang enak. Tidak ada yang senang jika merasa salah. Aku adalah salah satunya, meski juga kuyakini bahwa tiap kesalahan yang kubuat ada satu kebenaran lagi yang kupelajari.


Pada suatu waktu - saat aku lebih muda - aku merasa punya hak untuk bersenang-senang. Mengobral janji, kemudian ketika tak bisa kutepati, aku akan minta maaf dengan manis, sehingga yang kuberi janji akan maklum dan simpati terhadap kesulitanku memenuhi janji. Aku merasa masih punya banyak waktu untuk kuhabiskan dengan - menurut orang lain - sia-sia. Orang-orang yang menganggap bahwa waktu adalah uang. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga terkutuklah aku yang membuang-buang waktu dengan percuma. Orang-orang yang mengatur sedemikian rupa dalam hidupnya menit demi menit untuk banyak hal karena berpendapat bahwa tak seharusnya tiap menit dilalui dengan satu atau dua pekerjaan saja. Istilah keren orang-orang modern yang juga sering dipakai oleh para motivator adalah: multitasking. Ooh...betapa indahnya kata itu di kupingku saat pertama kali mendengarnya. Sehingga tatkala aku berhasil melakukannya aku merasa menjadi orang paling keren se-jagad raya. Lebih keren dari Britney Spears dan Bill Gates dijadikan satu.


Lantas beberapa tahun kemudian, sebagai makhluk sosial yang sempurna menyerap banyak hal dari orang-orang di sekitarnya, sedikit demi sedikit aku mulai sepakat dengan kebanyakan dari mereka. Tuan waktu memang tak pernah main-main. Ia akan melenggang tanpa peduli, melangkahkan kaki dengan pasti dan angkuh berjalan meski manusia tak sempat memberi arti. Sungguh kejam, karena pada beberapa saat, aku merasa ia sangat bergegas, sehingga terengah-engah aku mengikutinya. Namun, betul, rasanya sungguh luar biasa jika kau bisa menaklukkan waktu. Jika kau bisa lakukan multitasking yang keren itu sehingga orang-orang mulai mempercayakan banyak hal di pundakmu. Dan sungguh, yang kemudian ada di pundakmu itu niscaya sering membutakan hati, membuatmu berpikir kau lebih sakti dari Superman dan Samson tanpa kryptonite dan Delilah di duniamu sendiri. Lalu tiap Senin hingga Jumat kau akan bangun dan akan selalu punya tujuan: selesaikan pekerjaan; tak boleh buang waktu; ingat, hidup cuma satu kali.


Hidup cuma satu kali. Hidup cuma satu kali. Hidup cuma satu kali. Kalimat itu berputar-putar di sekelilingku, persis seperti lalat yang terbang diatas makanan berbau menyengat. Hingga suatu saat. Suatu saat jika memang saatnya, kau seperti disadarkan akan sesuatu. Seolah-olah pipimu baru saja ditampar oleh raksasa sehingga yang kau rasakan cuma sakit. Dan melek. Begitu lebarnya sehingga kau melihat dunia ini melalui kacamata baru.


Hidupku sudah seperti robot. Sesuatu yang kuanggap keren dan kuagungkan sedemikian rupa bernama multitasking itu berubah. Entah bagaimana, aku tak lagi menganggapnya keren. Aku tak lagi menganggapnya agung. Tuan waktu memang angkuh, namun jika lebih diamati, ia lebih ramah dari yang kukira. Sesungguhnya ia tak pernah menuntut manusia untuk menaklukkannya. Tak pernah menyuruh manusia untuk mengejarnya. Tak pernah meminta manusia untuk mengalahkannya. Tak pernah. Ia sebenarnya memberi diri untuk dinikmati. Tak perlu bergegas. Tak perlu terburu-buru. Dinikmati saja, karena sesungguhnya menikmati waktu lebih menjanjikan arti. Sebab kau tak lagi melakukan banyak hal untuk kemenangan yang barangkali semu.


Kupikir belum terlambat bagiku untuk berteman dengan waktu. Untuk bersenang-senang dengan waktu. Merangkul apa saja yang bisa diraih tanpa perlu bergegas. Sehingga naluriku bisa lebih tajam untuk merekam banyak hal yang terjadi dalam hidupku tanpa perlu merasa dikejar.


Barangkali ada yang akan bilang aku edan. Aku aneh. Aku mengada-ada. Dan aku absurd seperti tulisanku. Tapi biarlah. Bukankah hidup cuma satu kali? Jika memang cuma satu kali, mengapa tak kunikmati saja? Dengan tenang. Dengan senang. Tanpa perlu merasa kurang. Sebab sesungguhnya waktu tak perlu didefinisikan. Apalagi dihabiskan. Ia hanya perlu dinikmati. Seperti pemain musik tatkala memainkan musiknya. Seperti pecandu kopi tatkala menyeruput kopinya. Seperti pecinta hujan merasakan hujannya. Nikmat yang barangkali tak dapat dijelaskan dengan bahasa manapun.


Maka, bercintalah aku dengan tuan waktu. Berada di puncak berkali-kali. Dan aku belum (mau) bosan. Bisa jadi kelak apa yang kukira benar sekarang ternyata keliru. Ah, tapi untuk apa kupikirkan itu sekarang?




Thursday, 12 July 2012
08.21 pm


PS: Gambar diambil dari http://farm1.static.flickr.com/3/4058539_97040fea56.jpg

kotak telepon umum


Pada sebuah kotak telepon umum yang kotor dan kumuh, ada sebuah memori yang tak bisa diberi harga. Memori yang barangkali akan selalu membisikkan sesuatu bahwa cara manusia saling berhubungan senantiasa mengalami evolusi. Mengingatkanku bahwa dahulu untuk berkomunikasi jarak jauh, ada usaha keras yang harus dilakukan. Ada uang receh yang harus dikumpulkan. Ada langkah yang harus diadakan. Ada keegoisan yang harus disingkirkan. Sebab kotak telepon umum itu tentu saja milik umum, sehingga aku harus tahu diri bahwa aku bukan satu-satunya pengguna. Jadi, saat kulihat kotak telepon umum di pinggir jalan pada bulan keenam tahun dua ribu dua belas yang kotor, kumuh, dan tak berfungsi lagi, ingatanku kembali ke masa lalu.

Aku ingat betapa puasnya aku semasa SD jika jam istirahat bisa bermain bola bekel di depan kelas atau lompat tali di halaman sekolah. Tak pernah kubayangkan aku rela menukar itu semua dengan apa yang dimiliki oleh anak-anak SD jaman sekarang. Aku ingat aku merasa sangat keren jika bermain benteng-bentengan dan akulah yang berjasa menaklukkan benteng lawan. Aku ingat betapa menggebu-gebunya aku dan kawan-kawanku mengunyah permen karet Yosan hanya karena kami penasaran setengah hidup apakah kami akan menemukan huruf N di dalam bungkus yang kami buka. Aku sudah punya belasan YOSA tanpa N. Padahal 1 N saja aku temukan, aku bisa dapat hadiah sepeda. Aku curiga perusahaan permen karet Yosan akhirnya barangkali tutup karena mereka sudah menipu kami, anak-anak kecil yang masih lugu ini. Jangan kamu kira anak-anak mudah dikibulin. Dosamu besar dan balasannya tak terkira jika kamu berani membohongi anak-anak seantero nusantara secara publik.

Aku ingat semasa SMA, tak ada seorang pun di sekolah kami yang punya ponsel, tapi kami baik-baik saja. Gelak tawa dan keceriaan masih mewarnai hidup kami. Menggerutu tentang guru tertentu. Merencanakan bolos di pelajaran tertentu. Menggosipkan kakak-kakak kelas tertentu. Mentertawakan teman-teman tertentu. Semuanya kami lakukan dalam ribut. Dengan mulut kami. Bukan dengan jari kami.

Aku tidak malu juga untuk bilang bahwa dulu aku begitu kagum pada bapak presiden Soeharto, saat beliau muncul di layar tivi menemui petani dalam acara desa ke desa. Waktu itu kupikir, hebat betul seorang presiden mau turun ke sawah menemui petani. Sungguh berbeda dengan presiden sekarang yang setiap kali muncul di tivi, makin tua dan lelah saja raut wajahnya. Barangkali karena kelelahan dan kecapekan menanggung beban seluruh rakyat maka ia cuma bisa ngomong prihatin. Memprihatinkan rakyatnya dan memprihatinkan dirinya sendiri. Memang lugu saat kurenungkan saat ini betapa anak-anak sepertiku waktu itu bisa jatuh cinta pada pencitraan yang diciptakan oleh beberapa orang. Tapi bukankah anak-anak lebih berpikir positif daripada orang dewasa? Bukankah itu yang membuat masa kanak-kanak jadi istimewa? Mereka kritis tapi positif. Orang dewasa boleh kritis, tapi cenderung negatif.

Dulu, tiap kali aku melakukan kesalahan bodoh atau ketololan yang menyebabkan amukan orang tua atau guru, aku selalu merasa malu. Aku selalu merasa ingin tenggelam sampai ke dalam bumi saja agar tak perlu bertemu siapa-siapa. Namun toh ketika teringat kembali, semua kenangan-kenangan konyol itu selalu berhasil membuatku tertawa geli. Barangkali seperti sebuah pepatah pernah mengatakan: lakukanlah hal-hal tolol semasa mudamu, agar di masa tuamu nanti, kamu punya sesuatu yang bisa kamu tertawakan. Maka aku bersyukur betapa banyak kebodohan yang pernah kubuat, dan jika kuingat-ingat aku justru tak pernah menyesalinya, yang ada hanya kegelian yang kubagikan bersama teman-teman dan keluargaku.

Oleh sebab itu, jangan salahkan aku jika aku tiba-tiba teringat bahwa ada satu waktu, aku sudah sangat bahagia jika dibelikan Chiclets, yang hingga saat ini belum pernah kutemui yang rasa dan bentuknya serupa. Atau teringat betapa asyiknya mengunyah krip-krip, makanan kecil tak sehat tapi selalu kubeli karena murah harganya, enak rasanya, dan entah dibuat dari apa. Berbeda dengan krip-krip jaman sekarang. Sudah mahal, tak sama pula dengan memori masa kecil. Atau mengenang betapa sebuah kotak telepon umum menjadi saksi hatinya dan hatiku yang tak sempat bertaut.

Ah. Memori memang mahal harganya. Keliru. Memori tidak mahal, ia tak terbeli. Sepintar apapun manusia memproduksi tiruan barang-barang masa lalu, memori tetap lah memori. Tak dapat dibeli, tak bisa pula ditukar. Sheila on 7 lagi-lagi benar saat mereka menyanyi: bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan.

Kotak telepon umum itu, kulewati lagi pagi ini. Masih tegak berdiri meski renta. Masih kokoh berdiri meski kotor. Masih angkuh menatap jalan meski disfungsi. Barangkali karena menyadari, ia ada disitu untuk mengingatkan kami, bahwa hari ini ada karena masa lalu. Oleh sebab itu, tak sepantasnya masa lalu dilupakan begitu saja.


Saturday, 30 June 2012
1:30 am

sebungkus nasi megono dan tempe goreng

Buat ibuku, hidup tak ubahnya sebuah sungai yang mengalir lancar. Guncanglah sungai itu dengan batu kecil saja, maka riaknya akan sangat menganggu. Bagimu hidup yang seperti ini barangkali membosankan. Tetapi bagi ibuku, hidup sudah seharusnya seperti itu.

Ibuku tak pernah absen membawaku ke Sekolah Minggu. Dan tiap hari Minggu pula, menu sarapanku selalu sama: sebungkus nasi dengan lauk megono*, orak-arik tempe dengan kecap ditambah dengan tempe goreng ala koster gereja. Hingga belasan tahun kemudian, aku baru menyadari bahwa tak kutemukan menu persis seperti ini dimanapun aku berada. Mirip, mungkin. Persis, tidak. Dan bertahun-tahun kuhabiskan masa kecilku tiap minggu dengan menu seperti itu membuat lidahku hafal pasnya rasa nasi dan lauk yang dimasak..

Waktu aku beranjak remaja, aku sering mengajukan pertanyaan konyol ini pada ibuku. Pertanyaan konyol yang hampir selalu dijawab sama olehnya.

Beginilah aku bertanya: "Mam, apa aku cantik?"
Kemudian ibuku akan tersenyum, beberapa detik kemudian ia akan menjawab: "Yah...kamu tidak cantik, tapi juga tidak jelek."
Lantas aku akan bertanya-tanya dalam hati sambil menatap cermin: Jadi sesungguhnya aku ini cantik atau tidak?
Tiap kali kuajukan pertanyaan itu pada ibuku, ia tak pernah juga bosan menjawab kalimat yang sama: tidak cantik, juga tidak jelek.

Barangkali itu sebabnya, aku tumbuh dengan pertanyaan yang terus menghantuiku. Apakah aku cantik? Atau aku jelek? Cantik-cantik jelek? Jelek-jelek cantik? Buatku dulu, hitam adalah hitam, putih adalah putih. Abu-abu adalah warna air bak di kamar mandi yang sudah lama tak dikuras.

Bukannya aku menyalahkan ibuku karena tak mau bilang aku cantik supaya paling tidak anak perempuannya ini lebih punya rasa percaya diri dibanding dengan teman-temannya. Kupikir, ibuku hanya berkata apa adanya. Sesuatu yang kutiru kelak saat aku beranjak dewasa. Dan aku bersyukur juga karena ibuku tak pernah berambisi sedemikian rupa atas diriku seperti ibu-ibu jaman sekarang. Ibuku tak pernah memaksaku belajar piano, biarpun aku dibesarkan dengan bebunyian piano di rumahku yang dibuat oleh murid-murid les ibuku. Ibuku tak pernah memaksaku jadi juara pertama di kelas, yang penting nilaiku tak merah, ia sudah puas. Dibiarkannya aku mengkhayal bersama Lima Sekawan, Trio Detektif, Pasukan Mau Tahu, Darrel dan Sally di Malory Towers atau si Kembar O'Sullivan di St. Clare. Maka aku tak pernah protes punya ibu seperti ibuku. Barangkali jarang kau temukan ibu seperti ibuku yang membiarkan anak perempuannya mengkhayal sedemikian rupa bersama tumpukan buku-buku usang lungsuran dari sepupuku yang kaya yang tinggal di Jakarta.

Satu-satunya kekecewaan pada ibuku barangkali hanya pada saat aku sakit. Sebab biarpun badanku panas, setelah ibuku mengantar ke dokter dan dokter sudah memberi obat, maka ia tetap akan menyuruhku tinggal di rumah, berbaring diatas tempat tidurku dengan ditemani emakku (nenek, buatmu). Ia akan tetap pergi ke gereja, entah untuk berlatih paduan suara maupun melatih pemandu pujian. Pernah aku protes pada emakku, mengapa ibuku tidak tinggal di rumah saat aku sakit? Aku ingin juga ditungguin olehnya, dielus-elus rambutku, diajak ngobrol. Tapi emakku tak pernah menjawab pertanyaanku. Yang emakku selalu katakan tentang ibuku bahwa ibuku sayang padaku, dan ibuku tidak bisa juga meninggalkan tanggungjawabnya di gereja. Aku toh hanya demam biasa saja. Flu biasa yang diminumin obat tiga empat hari akan sembuh. Barangkali karena itu lah, aku selalu berusaha untuk sehat. Aku tidak suka sakit dan harus berbaring di tempat tidur. Karena sakit bagiku sama dengan tidak bisa bersama dengan ibuku. Jika aku sehat, aku suka diajak ke gereja, melihat orang-orang tua itu latihan menyanyi. Kadang-kadang aku juga ikut menyanyikan apa yang mereka nyanyikan, meskipun terkadang aku tak bisa selalu mengikuti instruksi dari pelatih. Barangkali juga sejak kecil aku tak pernah sulit minum obat, karena buatku, minum obat berarti cepat sembuh, dan cepat sembuh berarti cepat bisa pergi bersama-sama dengan ibuku.

Menginjak SMA, aku mulai minta lebih pada ibuku. Aku ingin sekali saja membolos menikmati sebungkus nasi megono dan tempe goreng ala koster gereja, yang berarti di hari Minggu aku tak perlu ke gereja. Supaya aku bisa pergi bersama teman-temanku seperti layaknya remaja lainnya yang tak merasa bersalah karena tidak pergi ke gereja pada hari Minggu. Tapi, tidak. Ibuku tak pernah mengijinkan aku mencicipi menu lain di hari Minggu. Buat dia, sebungkus nasi megono itu penting, sepenting aku harus pergi ke gereja setiap Minggu. Jadilah aku di-cap orang paling alim oleh teman-teman sekolahku.

Gara-gara ibuku juga, kadang-kadang aku merasa seperti alien jika dibandingkan dengan teman-temanku. Saat kulihat teman-temanku beramai-ramai membeli celana jeans, tak sekalipun permintaanku untuk dibelikan jeans dikabulkan oleh ibuku. Ia malah mengajakku pergi ke warung lontong tahu di depan pasar di malam hari dan bersabda sambil menunjuk celana yang dipakai tukang lontong tahu itu: "Coba kamu lihat mas lontong tahu ini pakai celana apa?" Kujawab dengan berat hati sesuai yang kulihat karena aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Sabda ibuku lagi: "Kamu lihat kan, celana jeans itu dipakai untuk jual lontong tahu! Masa kamu mau pakai celana yang sama dengan mas lontong tahu?!" Maka kandaslah keinginanku memiliki celana jeans. Sehingga yang kumiliki adalah rok-rok mekar dengan motif bunga-bunga yang tak pernah kusukai tapi selalu dibelikan oleh ibuku. Hingga suatu hari, emakku menyelamatkanku dari fashion disaster dengan membelikanku celana jeans. Ibuku tak bisa berkata apa-apa karena emakku bilang celana jeans itu beli di Mangga Dua Jakarta, dimana mas lontong tahu tidak mungkin beli celana jeans disitu. Kupakai kemana-mana celana jeans itu. Ke gereja. Ke luar kota. Ke rumah sepupu. Ke warung lontong tahu, sambil pamer pada ibuku bahwa meski celanaku dan celana mas lontong tahu sama-sama jeans, celana kami jelas beda kelas. Celana jeansku dibeli di Mangga Dua Jakarta, celana jeansnya dibeli di pinggir jalan kota Pekalongan.

Kelas tiga SMA, ganti aku bersabda pada ibuku: "Mam, Jessie mau kuliah di Surabaya. Sastra Inggris." Ibuku tercenung. Seumur hidupnya, ia tak pernah bermimpi keluar dari kota kelahirannya Pekalongan. Apalagi pindah ke kota lain. Baginya, Surabaya seperti luar negeri saja baginya. Ratusan kilometer harus ditempuh jika ia rindu padaku. Aku, anak perempuan satu-satunya, dan ia harus melepaskannya begitu saja? Ia keberatan. Ia bertanya padaku: "Kamu mau jadi apa kalau masuk Sastra Inggris?" Kujawab, aku belum tahu, walaupun dalam hati aku berkata, aku ingin pergi keluar negeri, keluar dari negara ini supaya tidak perlu ketemu sama orang-orang yang sering meneriaki aku "Cino!" di pinggir jalan seolah-olah aku maling, dan kawin dengan bule! Tapi sesungguhnya, aku ingin kuliah Sastra Inggris karena kudengar aku tak perlu lagi berurusan dengan matematika, fisika dan kimia yang kubenci setengah mati saat SMA. Ibuku lagi-lagi tercenung. Buat dia, Surabaya betul-betul asing buatnya. Ratusan kilometer dari tempat tinggalnya. Tak tahu ada apa di Surabaya selain tempat tinggal bonek dan cuaca yang panas.

Entah darimana ambisi tiba-tiba itu, karena sejak aku kecil, ayah ibuku tak pernah menyuruhku punya ambisi tertentu. Sudah kubilang, hidup buat ibuku seperti sungai yang mengalir tanpa sampah dan riak-riak. Yang jelas, ambisi tiba-tiba ini membuatku pertama kalinya hidup tanpa orang tua di kota yang sama sekali baru buatku. Surabaya, kota pahlawan. Berpisah dengan nasi megono dan tempe goreng ala koster gereja. Keluar dari rutinitas yang diciptakan oleh ayah dan ibuku.

Sungai ibuku mulai beriak dan bergelombang saat aku kuliah ke Surabaya dan beberapa tahun kemudian, stroke menyerangnya. Buatku pribadi, ibuku tak lagi sama semenjak serangan stroke itu. Stroke mengambil sebagian besar karakter dominan ibuku. Ia jadi mudah sekali menangis. Dan ia mulai menuntut perhatian berlebihan dari anak-anaknya. Seolah-olah peranku dan perannya jadi terbalik. Aku sendiri mulai merasa asing dan bersalah karena harus merasa asing terhadap ibuku sendiri. Tapi jangan salah sangka, aku tetap sayang padanya biarpun ia jadi aneh, suka mengasihani diri sendiri dan manja.

Beberapa tahun kemudian, kusadari sungai ibuku tak lagi sama. Selain riak dan gelombang, lumpur dan bebatuan mulai ada disana, menyebabkan alirannya tersendat. Ayahku meninggal. Membuat ibuku semakin lain. Semakin tak sama dengan ibuku yang kukenal dulu. Ibuku tak pernah pisah dengan ayahku. Kemanapun ayahku berada disitulah juga ibuku. Barangkali itu sebabnya, tak sampai lima tahun sejak ayahku meninggal, di sudut tempat piano gereja ibuku biasa mainkan, ia hembuskan nafas terakhir. Ibuku meninggal saat latihan pemandu pujian untuk kebaktian hari Minggu. Membuatku termenung-menung, kagum tak kepalang, bahwa bahkan di saat terakhir pun, ibuku masih melakukan pelayanan di gereja.

Pernah sekali aku bertanya pada ibuku: "Mam, enggak pengen ke luar negeri?" Ibuku menggeleng. "Ke Eropa? Kan enak, bisa jalan-jalan?" Ibuku lagi-lagi menggeleng. "Memangnya mami nggak pernah bosen apa tinggal di Pekalongan?" Lagi-lagi ibuku menggeleng. "Nggak pernah bosen tuh."

Tapi begitulah ibuku. Ia tak pernah berambisi apapun. Buatnya hidup tidak jauh-jauh dari membiarkan anak-anaknya lulus kuliah, memberi les piano dan pelayanan di gereja. Itu saja sudah cukup buatnya. Buat dia, sebungkus nasi megono dan tempe goreng ala koster gereja adalah segala-galanya, yang tak pernah ingin ia tinggalkan. Tak selalu aku cocok dengan ibuku. Selera bajuku dengannya seperti langit dan bumi. Jalan pikiran kami seperti kutub utara dan kutub selatan. Dan meski hingga saat ini tak juga kudengar jawaban yang memuaskan atas pertanyaan "Aku cantik atau tidak?", jika aku bisa punya kehidupan untuk kedua kalinya, aku tetap akan memilih rahimnya sebagai jalan keluarku ke dunia ini.


Berangsur-angsur kutemukan jawabnya: aku cantik, secantik ibuku. Ibuku hanya tak mau mengakui bahwa ia sesungguhnya cantik dan aku mirip dengannya.

Sunday, 13 May 2012
6:27 pm

Memperingati setahun Tuhan memanggil ibuku dari dunia yang berantakan ini.
I always love you, Mom.

*megono : makanan khas Pekalongan yang terbuat dari nangka muda

hidup adalah mencari

Seumur hidup, barangkali tujuan utama makhluk yang bernama manusia adalah mencari. Mencari jati diri, mencari makna, mencari kebenaran. Ia bisa-bisa saja berkata bahwa ia sudah tak lagi mencari. Ujung pencariannya sudah ketemu. Akhir pencariannya sudah kelihatan. Tapi selama ia masih bernafas dan menjejakkan kaki di bumi ini, sesungguhnya ia masih terus mencari.

Aku selalu berpikir bahwa cara manusia mencari kebenaran tidak sama satu dengan yang lain. Seperti sudah kubilang berkali-kali, jika ada seratus ribu manusia di muka bumi ini, maka ada seratus ribu cara untuk mencari kebenaran. Makanya, aku tak setuju denganmu saat kamu bilang bahwa kebenaran hanya bisa didapat di dalam tembok gereja. Maaf jika sudah lama aku melihat bahwa tembok gereja dibangun semakin tinggi, hingga ada satu momentum orang-orang mengira gereja hanya untuk orang-orang terpilih. Orang-orang khusus. Orang-orang spesial. Orang-orang tertentu. Yang harum baunya. Yang mahal asesorisnya. Yang terhormat busananya. Tidak boleh terlalu kumuh. Tidak boleh terlalu seksi. Tidak boleh terlihat berandalan. Intinya: hanya untuk orang-orang tertentu saja.

Tapi menurutmu sendiri, siapa Tuhan? Katamu, Tuhan adalah pencipta alam semesta ini. Kutanya, apakah jawaban itu kamu temukan sendiri? Kamu bilang tidak. Kamu bilang guru agamamu yang bilang begitu. Maka kutanya lagi, jadi siapa Tuhan menurutmu? Kemudian jawabmu, Tuhan adalah Yesus, nabi yang menyelamatkan manusia-manusia berdosa di dunia ini diatas kayu salib. Kutanya, darimana jawaban itu kamu dapatkan? Kamu jawab lagi dari pendeta di gereja. Sudah kubilang, kataku sewot, kalau menurutmu sendiri bagaimana? Lantas satu per satu jawaban meluncur dari mulutmu. Tuhan adalah ini. Tuhan adalah itu. Tuhan itu begini. Tuhan itu begitu. Ini itu, begini begitu. Tapi waktu kutanya lagi, kamu selalu bilang bahwa jawaban itu kamu dapatkan dari orang lain. Jika kamu mengenal Tuhan dari orang lain, lalu untuk apa kamu percaya padaNya? Kamu toh tidak mengenalNya sendiri. Apa kamu yakin Tuhan yang kamu percaya itu sama dengan Tuhan orang-orang yang kamu sebut tadi?

Kemudian kamu diam. Entah jengkel atau putus asa mendengarku bertanya tak henti-henti. Barangkali hanya karena tidak ingin bertengkar saja, kamu tidak menutup mulutku dengan apapun yang bisa tanganmu jangkau.

Tapi kamu harus tahu, bahwa aku sedang mencari sendiri jawaban tentang Tuhan seumur hidupku. Aku tak mau mendefinisikan Tuhan berdasarkan apa yang orang lain katakan padaku. Karena makna Tuhan bagi hidup mereka barangkali dapat berbeda dengan makna Tuhan bagi hidupku. Apakah ada yang salah dengan itu? Apakah ada yang salah jika aku mulai mencari Tuhan dari luar tembok gereja? Tembok yang menurutku sudah menjulang terlalu tinggi sehingga orang-orang yang ada di dalamnya telanjur hidup enak sehingga enggan melangkahkan kaki keluar dan melihat ada apa saja yang terjadi di luar tembok gereja yang tinggi itu. Apakah ada yang salah jika aku mulai mencari Tuhan dengan cara-cara yang tidak biasa kamu lakukan? Dengan mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani satu ke Kebaktian Kebangunan Rohani lainnya, misalnya? Dengan membaca buku rohani satu ke buku rohani lainnya, misalnya? Tak dapatkah aku mencari Tuhan di tempat-tempat yang menurutmu gelap dan suram, yang kamu masukkan dalam kotak sekularisme? Hanya karena aku percaya Tuhan dapat hadir dengan berbagai bentuk?

Ada yang berbeda tatkala aku mencari sendiri makna Tuhan untuk hidupku. Aku merasa lebih hidup karena aku selalu bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang barangkali terdengar bodoh dan konyol, tapi ketika kutemukan jawabannya, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi lebih sederhana. Dan aku makin menyadari bahwa hidup tak serumit yang aku kira sebelum kuajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku juga merasa lebih bergairah, karena aku tak melulu ikut kata orang lain untuk mencari makna Tuhan - hanya supaya aku dapat segera punya jawaban yang memuaskan kuping saja.

Sampai hari ini aku masih terus mencari. Dan menurutku, Tuhan sesungguhnya tidak rumit. Aku lah yang rumit. Aku lah yang lebih sering mengada-adakan sesuatu yang tidak ada dan meniadakan sesuatu yang sesungguhnya ada. Aku juga pelan-pelan memahami bahwa yang sering kamu namakan berkat tidak melulu soal materi. Tidak melulu soal uang, kesuksesan dan kebahagiaan menurut ukuran manusia pada umumnya. Pada sebuah masalah, pada sebuah kisah sedih, pada sebuah tragedi, ada sesuatu yang sesungguhnya dapat membuat kamu lebih merasakan saripati hidup. Sehingga ketika kamu berdoa, kamu tak lagi menunggu sesuatu yang menurutmu baik akan terjadi. Kamu hanya berdoa karena hatimu ingin berdoa. Sehingga ketika kamu dirundung masalah tak henti, kamu akan berhenti menunggu kapan akhir bahagia itu tiba seperti dongeng Cinderella. Sehingga ketika kamu melihat kemiskinan, kamu tak lagi melihat bahwa itu sebuah kesalahan, sebuah dosa yang harus ditebus supaya si miskin dapat rutin makan di restoran mewah atau sering minum kopi di cafe bersama teman-temannya yang berjas atau nonton tivi yang isinya sebenarnya kebanyakan sampah.

Dan kemudian kamu juga akan mengerti bahwa Tuhan lebih besar dari cinta, lebih besar dari seluruh keadilan di dunia ini, bahkan jika dijadikan satu sekalipun, dan bahwa Tuhan lebih besar dari sebutan apapun yang sudah manusia ciptakan untuk menamaiNya, sebab apapun sebutannya, terlebih penting apa yang ada di hatimu, dan untuk apa kamu menyebut demikian.

Sampai mati nanti aku pasti akan terus mencari. Tapi yang kucari bukan Tuhan, karena Ia memberi diri untuk ditemukan dalam berbagai bentuk. Yang kucari adalah pengenalanku akan Ia yang lebih dulu mengenalku. Dan Alkitab hanyalah salah satu cara.


Monday, 23 April 2012
12.55 pm

PS: Gambar diambil dari sini

jalan itu


Jalan itu sempit dan berbau. Selain itu juga kumuh. Barangkali karena itu, jalannya jadi sepi. Banyak orang tak sudi lewat jalan itu. Namun anehnya, tiap kali ada orang lewat jalan itu, sebagian besar keluar dengan raut wajah berbinar-binar. Seolah melewati lorong kumuh itu ia menemukan sesuatu untuk memperbarui hidupnya. Sudah lama aku memperhatikan fenomena ini. Hanya aku masih enggan melewati jalan itu. Apa jadinya kalau aku tidak mengalami yang mereka alami? Apa jadinya kalau aku malah terbunuh di lorong itu? Atau kalau tidak dibunuh pencoleng, aku dirampok dan ditendangi sampai hampir mati? Bagaimana? Apa ada yang mau bertanggung jawab?


Tapi yang namanya rasa penasaran itu memang selalu mengganggu. Tidak hanya mengganggu. Ia merayu-rayu. Dari rayuan gombal sampai rayuan pulau kelapa. Lengkap. Dan aku semakin tergelitik untuk lewat. Kawan, jangan pernah biarkan rasa penasaran menempel otakmu. Sekali ia menempel, ia bisa menguasaimu sedemikian rupa sehingga tak ada jalan lain selain menurutinya. Hanya saja, kubilang pada si penasaran, bahwa aku bersedia melewati jalan kumuh itu tapi tidak sendirian. Maka kupaksa sahabatku untuk menemaniku. Kubagi rasa penasaran padanya sehingga ia merasakan candu penasaran persis seperti yang aku rasakan. Kami kadang-kadang malah mabuk bersama jika rasa penasaran itu menggeliat-geliat merasuki kami.


Maka hari itu datanglah. Dengan hati berdebar dan rasa penasaran yang masih menempel seperti lintah, kami berdua melewati jalan kumuh itu pelan-pelan. Meskipun sepi, tapi entah kenapa selalu ada saja orang-orang yang lewat situ. Dan hari itu, selain kami berdua, ada beberapa orang lain juga. Ada yang berjalan lambat-lambat seperti kami. Ada yang jalan biasa saja, kepalanya tolah-toleh seolah menikmati jalan kumuh itu seperti berjalan di mall. Tapi lebih banyak lagi yang bergegas. Apalagi setelah membaca poster-poster yang banyak tertempel di dinding lorong itu. Terheran-heran aku melihatnya. Sepertinya tembok itu memang dibangun untuk ditempeli poster-poster. Meskipun tidak rapi, tapi poster itu cukup jelas untuk dibaca.


Sahabatku tiba-tiba mencolekku. “Coba baca ini!” katanya nyaris berbisik.


Maka aku membacanya: “Enam ekor domba hilang. Empat jantan dua betina. Hah?”


“Yang ini!” sahut sahabatku sambil menunjuk poster lainnya. “Sekolompok domba hilang. Diduga diculik oleh serigala yang menyamar menjadi domba.”


Aku segera membaca poster lainnya lagi: “Dicari seratus ekor domba yang hilang dua tahun yang lalu. Ini gila bukan? Bagaimana mungkin seratus ekor domba yang hilang dua tahun yang lalu bisa ketemu? Mereka pasti sudah dimakan serigala! Atau paling tidak, singa!”


“Yang ini!” teriak sahabatku seolah tak mendengarku. “Telah hilang satu ekor domba pada tanggal… hei ini baru kemarin hilang! Diduga tersesat. Ah, tapi kalau hanya satu ekor domba saja, ngapain harus dicari?”


“Satu ekor domba sangat berharga, anak muda.”


Kami menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki. Ia tidak tampan tapi entah mengapa kami terpesona. Sorot matanya hangat dan menimbulkan rasa percaya. Rasa percaya yang tidak beralasan. Padahal secara penampilan ia biasa-biasa saja. Bajunya bukan merk Armani ala businessman atau quiksilver ala laki-laki sporty atau zara ala pria metroseksual yang sering kami temui. Pun demikian, kami sampai berdiri mematung memandangnya dan tidak bisa bicara. Lidah kami kelu, tangan kami kaku dan kaki kami seperti dipaku.


“Satu ekor domba sama dengan satu jiwa. Satu jiwa sama berharganya dengan seribu jiwa. Matematika tidak berlaku untuk hal seperti ini. Ilmu ekonomi juga tidak. Karena ini tidak bicara tentang untung rugi dan neraca keseimbangan, apalagi teori ekuilibrium.” Ia terkekeh, seolah mentertawakan leluconnya sendiri. Kami sendiri tak tahu harus menanggapi dengan apa.


“Semuanya ini..tentang domba?” Pelan-pelan aku memberanikan diri bertanya pada lelaki mempesona ini.


Laki-laki itu mengangguk, kemudian menggeleng. “Ini betul tentang domba. Domba yang punya jiwa dan jiwa itu hilang.”


“Sebegini banyak?” tanya sahabatku sambil membelalakkan matanya.


Laki-laki itu mengangguk lagi. “Betul! Dan tidak banyak yang tergerak untuk membantu menemukan mereka. Mereka yang melewati jalan ini, tidak semuanya mendapat panggilan untuk menemukan domba-domba yang hilang itu.”


“Barangkali karena domba-domba itu bukan milik mereka…,” kataku hati-hati.


Laki-laki itu mengangguk lagi. Lebih tegas. “Betul! Sayang sekali! Padahal domba-domba ini sangat memerlukan pertolongan.”


“Kami dapat apa kalau membantu menemukan domba-domba ini?” tanya sahabatku.


Raut wajah laki-laki itu sekilas meredup – seolah-olah sedih karena pertanyaan macam itu didengar oleh kupingnya. “Ini bukan tentang pekerjaan yang mendapatkan bayaran seperti pekerjaan-pekerjaan pada umumnya. Kalau ada orang ingin membantu menemukan domba-domba yang hilang ini, tapi di dalam hati mengharapkan upah maka orang itu tidak akan dengan sungguh-sungguh melakukannya. Kalian pikir menemukan domba-domba yang hilang itu pekerjaan mudah? Kalian pikir perjalanan yang kalian lakukan untuk pencarian ini akan mulus-mulus saja? Keinginan saja tidak cukup. Kalau kalian terpanggil dan hati kalian siap, maka itulah saatnya.”


“Kapan?” tanyaku. “Maksudku, kapan kami akan merasakannya?”


Laki-laki itu tersenyum. “Ada kalanya kalian tidak akan merasakan panggilan untuk mencari itu sama sekali. Tapi kalian bisa merasakan panggilan untuk membantu mereka yang terpanggil untuk melakukan pencarian domba-domba itu. Tapi dapat pula terjadi sebaliknya: kalian akan merasakan panggilan itu. Dan sekali panggilan itu merasukimu, kalian akan tahu apa yang harus kalian lakukan.”


Aku dan sahabatku saling berpandangan.


“Jalan saja terus. Biarpun kumuh dan kelihatan kotor, sesungguhnya jalan ini dapat mencerahkan mata hatimu. Tak usah bergegas melewati jalan ini karena waktu tidak berarti. Bacalah satu persatu dinding-dinding itu. Resapi. Rasakan. Maknai. Supaya ketika kalian keluar nanti, kaki kalian tahu kemana harus melangkah.”


Lalu laki-laki itu pergi. Pergi begitu saja. Meninggalkan kami yang terbengong-bengong. Sekilas kulihat seperti ada sesuatu yang aneh pada kakinya. Seperti ada lubang dikakinya. Namun sebelum kuperhatikan dengan sungguh-sungguh, tangan sahabatku menggamit tanganku. Kami lagi-lagi saling berpandangan dan bersama-sama memutuskan untuk mengikuti saran laki-laki itu.


Kami telusuri jalan kumuh itu perlahan-lahan. Pelan-pelan. Laki-laki itu benar. Waktu tak berarti disini. Jadi kami leluasa membaca satu persatu apa yang tertempel di dinding. Cerita tentang hilangnya domba-domba. Ada yang baru tadi pagi hilang. Ada yang kemarin. Ada yang bulan lalu. Tapi ada pula yang bertahun-tahun yang lalu. Kami resapi dan rasakan jalan itu.
Dan di ujung jalan, langkah kaki kami semakin ringan. Kami seperti tahu kemana harus melangkah. Lagi-lagi aku dan sahabatku berpandang-pandangan dan saling membaca pikiran masing-masing untuk kemudian tersenyum.


“Aku ke kanan,” kataku.


“Aku ke kiri,” kata sahabatku.


“Sampai ketemu!” ucap kami berbarengan.


Langkah kami berdua ringan. Ringan sekali. Karena di depan kami, ada sesuatu yang sangat berharga untuk dituju.


Written by: Jessie
Sunday, 27 March 2011
6:29 pm


Revised on Easter Day, 8 March 2012
12:49 pm


PS: Gambar diambil dari sini

tinggi di langit


Teman-temanku bilang aku kampungan. Yang lain bilang aku ndeso. Yang lebih halus bilang aku nggak gaul. Semuanya karena benda yang sekarang ada di tanganku ini. Tapi aku tak peduli. Biarpun barangkali harus sendiri aku memainkannya. Atau dengan ibuku.

Ibuku bilang, untuk memainkan benda ini, aku harus cari tanah lapang yang luas dan berumput. Kilahku, aku pernah melihat anak-anak kampung memainkannya di jalanan, kenapa aku tak boleh. Sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ada anak kampung yang tertabrak sepeda motor karena bermain dengan benda ini di jalanan. Sejak itu lah aku mulai terobsesi mencari tanah lapang yang luas dan berumput seperti kata ibuku supaya aku dapat memainkan benda yang saat ini ada di tanganku tanpa harus membahayakan diriku.

Berminggu-minggu aku mencari tanah lapang yang luas dan berumput itu. Tapi tak kunjung juga kutemukan. Pernah suatu hari kutemukan tanah lapang itu tak jauh dari rumahku. Buru-buru aku pulang mengambil mainanku dan ketika aku kembali ke tanah lapang itu, sudah ada para pria berhelm kuning yang melarangku masuk ke tanah lapang itu karena berbahaya. Kutanya pada mereka, apa bahayanya? Aku toh baru dari situ dan tahu bahwa tempat itu baik-baik saja. Tapi mereka ngotot mengatakan bahwa tempat itu berbahaya karena mereka akan segera memasang alat-alat untuk membangun ruko. Kutanya lagi pada mereka apa itu ruko. Mereka menjawab dengan tak sabar bahwa ruko adalah sesuatu yang bisa menghasilkan duit. Diamlah aku, padahal aku masih belum mengerti apa itu ruko. Apakah sama dengan bank?

Esoknya lagi kucari di tempat yang agak jauh dari rumahku. Kutemukan ada tanah lapang yang biarpun tidak terlalu luas tetapi berumput hijau segar. Lagi-lagi aku berlari pulang untuk mengambil mainanku dan kembali ke tempat itu. Dan ketika aku kembali, sudah banyak anak-anak kampung situ yang bermain bola di tanah lapang berumput hijau tadi. Ragu-ragu kulangkahkan kakiku menginjak rerumputan hijau itu, tiba-tiba ada seorang anak yang membentakku.

"Hei, kamu! Mau ngapain disini?" bentaknya. "Kamu mau mainan itu ya?" Ia menunjuk benda yang kupegang.

Kuanggukkan kepalaku berharap dia tidak marah jika aku berkata jujur.
"Kamu bukan anak kompleks sini kan? Kalau bukan anak kompleks ini tidak bisa pakai! Kamu nggak tahu sulit sekali cari tanah lapang model beginian buat kami bermain bola! Enak saja kamu mau merebut dari kami!"

Ingin sekali kujawab bahwa aku tahu dan sependapat dengannya tentang betapa sulitnya mencari tanah lapang yang luas dan berumput untuk aku bermain benda yang ada di tanganku ini dan bermain bola seperti mereka. Ingin juga kukatakan padanya bahwa aku tak bermaksud merebut dan bahwa aku tidak keberatan berbagi tanah lapang itu untuk bermain bersama. Tapi anak itu badannya lebih besar, jadi aku mundur sebelum babak belur.

Melihatku sering melamun dan selalu lunglai sesampainya di rumah sesudah mencari tanah lapang untukku bermain, ibuku turun tangan. Suatu hari ia mengajakku ke gedung olahraga yang punya lapangan sepakbola yang luas. Ibuku bilang pada petugas gedung bahwa kami datang untuk meminjam lapangan sepakbola itu sebentar saja. Hanya supaya aku dapat bermain dengan benda yang kubawa itu sejenak.

"Tak sampai satu jam lah, bapak," kata ibuku. Tapi petugas itu tetap menggelengkan kepalanya. Jika ingin meminjam lapangan bola, ibuku harus mengisi formulir tertentu disertai surat permohonan sebagai lampirannya kemudian formulir dan surat permohonan itu akan diajukan oleh petugas gedung tadi kepada bapak pengelola gedung. Nanti bapak pengelola akan memberikannya pada para pengurus gedung untuk dibawa ke rapat paripurna supaya dapat diputuskan apakah aku dapat bermain di lapangan bola itu atau tidak. Aku sungguh tak menyangka bahwa untuk bermain di lapangan bola barang sejenak saja diperlukan proses sepanjang itu. Maka aku pun menarik tangan ibuku mengajaknya pulang karena percuma bernegosiasi dengan birokrasi semacam itu. Anehnya ketika kami beranjak pulang, si petugas gedung tadi membisikkan sesuatu di telinga ibuku yang membuat raut muka ibuku begitu mengerikan. Tak pernah kulihat ibuku marah bukan main seperti hari itu.

"Apa-apa kok duit! Sudah bobrok negara ini!" Begitu omelnya ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Aku diam saja karena merasa bersalah sebab rupa-rupanya aku sudah menularkan obsesiku pada ibuku. Hanya untuk benda yang ada di tanganku ini.

Sekonyong-konyong, kudongakkan kepalaku ke langit. Lewat jendela mobil, kulihat diatas sana ada benda serupa dengan yang sedang kupegang ini. Kuremas tangan ibuku dan menunjuk ke langit. Ibuku memekik senang, lupa dengan kemarahannya pada petugas gedung olah raga tadi. Ia langsung memutar setirnya mengikuti arah benda yang kutunjuk tadi. Belok kanan, belok kanan lagi, belok kiri, lurus, belok kanan, belok kiri lagi, seolah jalanan itu tak ada ujungnya. Tapi kemudian sekujur tubuhku bergetar karena melihat tanah lapang yang begitu luas dengan rumput hijau yang segar. Disana ada beberapa anak yang sedang bermain dengan benda seperti milikku ini. Turunlah aku dari mobil dan mendekati lapangan hijau yang selam ini kucari-cari. Anak-anak itu tersenyum dan memberi isyarat padaku untuk bergabung dengan mereka. Kulangkahkan kakiku ringan mendekati mereka. Seperti inilah rasanya ketika kamu merasa bahwa sebentar lagi obsesimu menjadi kenyataan. Ada rasa yang tak terdefinisikan saat waktu itu akan tiba.
Ibuku kemudian mengambil benda yang sedari tadi kupegang erat-erat, yang sudah menjadi obsesiku selama berminggu-minggu. Aku menarik simpul benang di ujung benda tadi sambil berjalan mundur. Tadinya berjalan, lama kelamaan aku berlari sambil menarik benang itu. Pada saat itu lah ibuku mulai melepaskan benda tadi.

"Tinggi! Tinggi!" kata anak-anak tadi sambil bersorak-sorak. "Lebih tinggi lagi! Masih bisa!"

Aku mulai menarik-narik benang mengikuti arah angin, membiarkan benda itu melayang tinggi, lebih tinggi dari gedung-gedung dan ruko-ruko. Luar biasa sensasinya. Seperti ada yang mengaduk-aduk perutku saking senangnya hatiku. Kami semua yang ada di lapangan melihat mainanku tinggi di langit, melawan sinar matahari yang menyengat. Ia bergoyang-goyang riang diatas sana, bercakap-cakap dengan angin, barangkali juga dengan awan, atau bahkan dengan burung yang kebetulan lewat. Setelah berminggu-minggu kukurung di kotak mainanku di rumah.

Terbanglah layang-layangku, walaupun kamu kuno, kamu kampungan, kamu nggak gaul jika dibandingkan dengan mainan-mainan bertombol nan canggih yang dimainkan teman-temanku di rumah mereka yang ber-AC. Terbanglah, selagi masih ada tanah-tanah lapang yang luas dan berumput hijau seperti ini di tengah-tengah gedung pencakar langit, ruko-ruko yang menjamur dan perumahan-perumahan mewah yang tersebar untuk orang-orang kaya. Terbanglah, supaya aku tahu bahwa bumi ini sesungguhnya masih bisa diselamatkan dari kapitalis-kapitalis rakus dan birokrasi-birokrasi tak penting yang saat ini merajalela.

Terbanglah, layang-layangku. Tinggi. Tinggi di langit.

Sunday, 1 April 2012
11:34 am

PS: Gambar diambil dari sini

guaku, guamu


Jika bumi seumpama dataran yang luas nyaris tak terbatas, maka diatas dataran yang luas nyaris tak terbatas itu ada gua-gua. Masing-masing gua punya pemiliknya sendiri-sendiri. Para pemiliknya disebut manusia. Dan gua itu berisikan seluruh perasaannya, berjengkal-jengkal pikirannya, dan setiap rinci memori yang tersimpan baik disengaja maupun tidak. Seberapa dalam gua itu, siapa yang tahu? Tak ada, bahkan oleh si pemilik guanya sekalipun.

Guaku, misalnya. Aku tak pernah tahu seberapa dalam guaku. Karena tiap kali aku menjelajah semakin ke dalam, rasa-rasanya tak pernah kutemukan ujungnya. Ada kalanya di ceruk-ceruk tertentu, cahaya matahari masuk begitu hebat sehingga ceruk itu terlihat indah dan aku jadi senang bukan kepalang karenanya. Namun di lubang-lubang tertentu, aku bahkan tak bisa melihat apa-apa saking gelapnya. Jika kutemukan yang seperti itu, hati ini sedih bukan main. Dan jika ada beberapa tempat yang berantakan, yang menurutku tak sesuai dengan keinginanku, aku jadi marah dan jengkel. Seperti itu lah.

Percaya tidak, aku menyeleksi dengan sungguh-sungguh siapa yang akan kuajak masuk dalam guaku. Kau harus mengerti karena tak semua manusia bisa dipercaya. Teman perempuanku contohnya. Biarpun barangkali statusnya adalah teman dan seluruh dunia mengira ia adalah salah satu yang dapat kupercaya hingga pasti akan kubiarkan ia masuk dalam guaku seenaknya, mereka cuma bisa mengira-ira. Dalam guaku, ia hanya sampai di bagian depan saja. Tak pernah kuijinkan ia masuk lebih dalam lagi. Namun, teman perempuanku ini salah berpersepsi tentang diriku. Ia pikir yang kubilang bagian depan itu sudah seluruh isi guaku. Ia keliru. Itu sebabnya ia selalu berpikir bahwa hidupku ini enak adanya. Hidupku ini nikmat adanya. Hidupku ini hanya diselingi masalah kecil-kecil saja yang tak ada artinya jika dibandingkan dengan ia dan guanya. Itu ia lakukan setelah kuijinkan ia bertamu dalam guaku dan masuk di bagian depan guaku saja. Aku hanya tertawa jika ia mulai mengoceh tentang diriku, seolah-olah ia sudah menjelajah hingga ke ujung-ujung guaku. Padahal paling-paling hanya seperdelapan saja atau bahkan seperduapuluh yang benar dari ocehannya. Tak sudi kubuang-buang energi dan waktuku hanya untuk bilang padanya bahwa ia sesungguhnya tak kenal diriku dan tak seharusnya ia mengarang-ngarang sendiri apa isi guaku. Biar saja. Ocehannya toh tak memberi makan mulutku.

Tapi tahukah kau bahwa teman perempuan-ku itu bukan satu-satunya yang berbuat begitu? Jika kau coba perhatikan dengan seksama, hampir tiap orang melakukannya. Yang satu merasa bahwa hidupnya begitu-begitu saja jika dibandingkan dengan tetangganya. Yang di depan guanya terbangun rumah mewah, terparkir mobil mahal dan terguna peralatannya yang serba canggih. Yang terlihat bahagia dan sejahtera. Yang ia tak tahu, rumah mewahnya sepi tanpa gelak tawa karena meski tiap-tiap anggota keluarganya ada di rumah, mereka sibuk dengan peralatan super canggih mereka masing-masing sehingga mereka ogah bertegur sapa meski tinggal dalam satu rumah. Yang ia tak tahu, mobil mahalnya sering menguras habis kantongnya karena tak boleh dirawat dengan sembarangan.

Barangkali aku pernah berbuat persis seperti yang mereka lakukan. Mereka-reka sendiri isi gua teman-temanku atau orang-orang yang aku kira aku kenal dengan baik, padahal sesungguhnya apa yang kureka-reka jauh dari isi sebenarnya gua mereka. Karena itu aku selalu menyesal jika tak sengaja kulakukan hal bodoh dan tak berguna seperti itu. Jika aku tak ingin orang menilai aku dan guaku dengan sok tahu, maka sudah seharusnya tak kulakukan juga yang demikian.

Jika bumi seumpama dataran yang luas nyaris tak terbatas dan diatasnya ada guaku, guamu, juga gua manusia-manusia lain, maka hidup sungguh terlalu berharga untuk dibuang-buang hanya untuk berpersepsi tentang isi gua orang lain. Terlalu berharga juga untuk membanding-bandingkan gua satu dengan yang lain, karena sesungguhnya masing-masing gua punya kedalamannya sendiri-sendiri, punya masalahnya sendiri-sendiri dan punya pergumulannya sendiri-sendiri, sesuai dengan kekuatan pemilik-pemilik guanya. Sehingga tak patut yang satu mengatakan guanya lebih sulit dan melelahkan ketimbang gua yang lain karena ukuran yang dipakai manusia pada umumnya tak berlaku disini.

Kedalaman guaku, siapa yang tahu? Tidak aku, tidak kau. Hanya Yang Menciptakanku saja yang paling tahu. Kedalaman guamu? Sama.

Tuesday, 27 Maret 2012
4:53 pm

PS: Gambar diambil dari sini

hidup ini (masih) indah

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat aku melihat dan mendengar tawa riang anak-anak perempuan bermain lompat tali di kampung dekat rumahku.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat aku melihat seorang pemuda bertampang dan berpakaian preman membantu seorang nenek tua menyeberang jalan.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat aku melihat sepasang kekasih generasi Y duduk berdua sambil berbincang-bincang hangat di sebuah restoran mahal tanpa sibuk sendiri-sendiri dengan ponsel pintar di tangan.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat aku melihat seorang ibu duduk di atas trotoar di pinggir jalan, sambil menyuapi anak-anaknya dengan sebungkus nasi di tangan, dan anak-anaknya masih saling bercanda satu dengan yang lain.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat di bagian kedatangan pada sebuah bandara, masih banyak pekik riang dan tawa menyambut keluarga atau teman yang baru turun dari pesawat.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat kulihat sekuntum bunga berwarna putih yang aku tak tahu namanya tumbuh dan mengembangkan kelopaknya diatas tanah yang ditutupi semen oleh manusia.

Aku juga tahu bahwa hidup ini (masih) indah saat hujan turun membasahi tanah dan rerumputan, cangkir berisi kopi instan favorit masih mengepul, Norah Jones masih bisa bernyanyi dan masih banyak buku yang belum habis dibaca.

Hidup ini (masih) indah saat aku, kamu, kita melihat semua yang ada di sekitar dari mata anak-anak kecil yang polos. Saat aku, kamu, kita melihat kesederhanaan sebagai sesuatu yang istimewa. Saat aku, kamu, kita tidak punya definisi yang kaku tentang sebuah keindahan dan kecantikan.

Dan kamu tahu? Hidup ini terasa (lebih) indah meski tak selalu kamu makan di restoran mewah. Tak selalu kamu bisa berlibur ke luar negeri sewaktu-waktu. Tak selalu pendapatanmu gemuk setiap bulan. Juga tak selalu sepatu, tas dan baju-mu ditempeli merek-merek macam Prada, Armani, Vera Wang, dan kawan-kawannya.

Tak selalu. Percaya?


Sunday, 4 March 2012
11.09 pm

PS: Gambar diambil dari sini

ada orang gila


Ada orang gila di pinggir jalan. Ia tertawa-tawa sendiri. Ia senyum-senyum sendiri. Ia bicara-bicara sendiri. Dan saat aku lewat, ia menyapaku dengan giginya yang hitam-hitam. Orang gila tidak pernah sombong. Ia selalu menyapa orang-orang yang lewat di depannya dengan senyum, walaupun ia tak kenal dengan orang-orang itu.

Orang gila itu mengaduk-aduk tempat sampah yang baunya minta ampun. Ragu-ragu kutinggalkan ia karena perut ini sudah protes minta makan. Namun dari sudut mataku, ia mengambil sesuatu, kembali tertawa-tawa, kemudian makan sesuatu yang ia ambil dari tempat sampah itu dengan riang gembira.

Aku mau muntah.

Masuklah aku ke rumah makan dekat orang gila tadi bercengkerama dengan tempat sampah. Kupesan makanan. Kemudian aku merenung. Dari balik jendela, aku masih melihat orang gila tadi makan di dekat tempat sampah yang baunya minta ampun. Kembali aku merenung. Barangkali makanku tiap hari tidak selalu di rumah makan. Hanya kadang-kadang di restoran sedikit mahal. Namun tak sekalipun aku pernah makan sesuatu yang kuambil dari tempat sampah. Tak pernah. Sehingga orang gila itu membuatku hatiku ciut, bahwa sesungguhnya, hidupku ini sudah terlalu mewah. Dan kemewahan bukan sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Kemewahan adalah bonus tak penting, jika dibandingkan dengan hidup itu sendiri.

Kuangkat tanganku memanggil pelayan rumah makan. Memesan satu paket nasi ayam goreng untuk dibungkus – sambil berjanji akan memberanikan diri memberikan itu untuk orang gila yang kutemui tadi. Orang gila yang selalu menyapa orang-orang asing baginya dengan senyum.

Kulirik kembali keluar jendela. Hatiku runtuh. Orang gila itu sudah tidak ada. Kupelototi jalanan depan rumah makan namun tak juga kutemukan. Aku menyesal. Aku menyesal harus merenung terlebih dahulu sebelum membelikan makanan untuknya. Aku menyesal.

Barangkali itu pertama kalinya aku iri pada orang gila. Orang gila akan memberikan senyum pada orang-orang lain meski ia tak kenal. Orang gila tidak perlu memikirkan apa kata orang lain jika melihat perbuatannya. Orang gila tak perlu repot-repot takut sakit perut karena makan dari tempat sampah. Orang gila tidak khawatir akan hari esok – apakah ia masih akan bertahan hidup, atau mati bertemu Sang Pencipta.

Merenung – memang tak selalu baik adanya.
Orang gila – memang tak selalu berbahaya, bisa jadi ia inspiratif sebagaimana adanya ia.


Tuesday. 28 Februari 2012
10.05 am

candu cabe

Apa kamu tahu bahwa sambal terasi itu sempurna sebagaimana adanya dia? Apa kamu tahu bahwa sambal terasi adalah penemuan paling jenius yang pernah ada di muka bumi ini? Dan apa kamu tahu bahwa merupakan tindak kriminal jika sambal terasi yang sempurna sebagaimana adanya dia itu dicampur dengan beberapa tetes kecap? Tidak usah beberapa tetes, setetes pun sudah tindak kriminal adanya. Sesalah soto ayam yang dicampur jeruk nipis. Sekeliru nasi yang ditaburi dengan keju. Dan juga sesembrono orang yang tidak mau antri.

Cabe adalah candu buatku. Aku selalu ada di pihak yang kalah jika sudah berhadapan dengan cabe. Tidak peduli berapa harganya, asal dia dapat meleleh di lidahku dan membuatku mendesah-desah, akan kubeli. Buatku, dia lebih candu dari tembakau, meski sama candunya dengan kafein. Sehingga aku berdoa keras-keras agar penanaman cabe lancar, petaninya makmur dan penjualan cabe tidak dilarang. Candu itu melekat seperti lintah dalam hidupku.

Mencandu cabe membuatku berpikir keras saat hari pertama puasa dalam masa pra Paskah dimulai. Karena bagiku berpuasa bukanlah sekedar menahan tidak makan sesuatu yang enak. Bukankah rasa enak itu tidak punya standar khusus? Rasa enak buatku, belum tentu rasa enak juga buatmu. Boleh-boleh saja aku dilarang untuk makan es krim. Hidupku tidak akan suram hanya karena selama beberapa waktu tidak mengkonsumsi es krim. Namun untukmu? Belum tentu. Tapi sejujurnya tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cabe. Sungguh. Aku tidak bohong.

Tuhan tahu canduku yang paling berat. Ia tahu betapa berat aku untuk melepas cabe. Dan lagi-lagi, seperti yang sudah-sudah, aku kalah.

Barangkali itu sebabnya, PSK tidak bisa lepas dari tindak prostitusi, koruptor tidak bisa lepas dari tindak korupsi, perokok tidak bisa lepas dari rokoknya, peminum kopi tidak bisa lepas dari kafein. Karena candu melekat seperti lintah, tanpa peduli dan tanpa kau sadari sedikit demi sedikit ia menggerogoti hidupmu dari dalam.

Dan hanya mereka yang kuat yang bisa lepas.

Betul aku lemah, Tuhan. Ampun.


27 Februari 2012
4:18 pm

PS: Gambar dibuat oleh Pandu W.