RSS

hidup adalah mencari

Seumur hidup, barangkali tujuan utama makhluk yang bernama manusia adalah mencari. Mencari jati diri, mencari makna, mencari kebenaran. Ia bisa-bisa saja berkata bahwa ia sudah tak lagi mencari. Ujung pencariannya sudah ketemu. Akhir pencariannya sudah kelihatan. Tapi selama ia masih bernafas dan menjejakkan kaki di bumi ini, sesungguhnya ia masih terus mencari.

Aku selalu berpikir bahwa cara manusia mencari kebenaran tidak sama satu dengan yang lain. Seperti sudah kubilang berkali-kali, jika ada seratus ribu manusia di muka bumi ini, maka ada seratus ribu cara untuk mencari kebenaran. Makanya, aku tak setuju denganmu saat kamu bilang bahwa kebenaran hanya bisa didapat di dalam tembok gereja. Maaf jika sudah lama aku melihat bahwa tembok gereja dibangun semakin tinggi, hingga ada satu momentum orang-orang mengira gereja hanya untuk orang-orang terpilih. Orang-orang khusus. Orang-orang spesial. Orang-orang tertentu. Yang harum baunya. Yang mahal asesorisnya. Yang terhormat busananya. Tidak boleh terlalu kumuh. Tidak boleh terlalu seksi. Tidak boleh terlihat berandalan. Intinya: hanya untuk orang-orang tertentu saja.

Tapi menurutmu sendiri, siapa Tuhan? Katamu, Tuhan adalah pencipta alam semesta ini. Kutanya, apakah jawaban itu kamu temukan sendiri? Kamu bilang tidak. Kamu bilang guru agamamu yang bilang begitu. Maka kutanya lagi, jadi siapa Tuhan menurutmu? Kemudian jawabmu, Tuhan adalah Yesus, nabi yang menyelamatkan manusia-manusia berdosa di dunia ini diatas kayu salib. Kutanya, darimana jawaban itu kamu dapatkan? Kamu jawab lagi dari pendeta di gereja. Sudah kubilang, kataku sewot, kalau menurutmu sendiri bagaimana? Lantas satu per satu jawaban meluncur dari mulutmu. Tuhan adalah ini. Tuhan adalah itu. Tuhan itu begini. Tuhan itu begitu. Ini itu, begini begitu. Tapi waktu kutanya lagi, kamu selalu bilang bahwa jawaban itu kamu dapatkan dari orang lain. Jika kamu mengenal Tuhan dari orang lain, lalu untuk apa kamu percaya padaNya? Kamu toh tidak mengenalNya sendiri. Apa kamu yakin Tuhan yang kamu percaya itu sama dengan Tuhan orang-orang yang kamu sebut tadi?

Kemudian kamu diam. Entah jengkel atau putus asa mendengarku bertanya tak henti-henti. Barangkali hanya karena tidak ingin bertengkar saja, kamu tidak menutup mulutku dengan apapun yang bisa tanganmu jangkau.

Tapi kamu harus tahu, bahwa aku sedang mencari sendiri jawaban tentang Tuhan seumur hidupku. Aku tak mau mendefinisikan Tuhan berdasarkan apa yang orang lain katakan padaku. Karena makna Tuhan bagi hidup mereka barangkali dapat berbeda dengan makna Tuhan bagi hidupku. Apakah ada yang salah dengan itu? Apakah ada yang salah jika aku mulai mencari Tuhan dari luar tembok gereja? Tembok yang menurutku sudah menjulang terlalu tinggi sehingga orang-orang yang ada di dalamnya telanjur hidup enak sehingga enggan melangkahkan kaki keluar dan melihat ada apa saja yang terjadi di luar tembok gereja yang tinggi itu. Apakah ada yang salah jika aku mulai mencari Tuhan dengan cara-cara yang tidak biasa kamu lakukan? Dengan mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani satu ke Kebaktian Kebangunan Rohani lainnya, misalnya? Dengan membaca buku rohani satu ke buku rohani lainnya, misalnya? Tak dapatkah aku mencari Tuhan di tempat-tempat yang menurutmu gelap dan suram, yang kamu masukkan dalam kotak sekularisme? Hanya karena aku percaya Tuhan dapat hadir dengan berbagai bentuk?

Ada yang berbeda tatkala aku mencari sendiri makna Tuhan untuk hidupku. Aku merasa lebih hidup karena aku selalu bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang barangkali terdengar bodoh dan konyol, tapi ketika kutemukan jawabannya, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi lebih sederhana. Dan aku makin menyadari bahwa hidup tak serumit yang aku kira sebelum kuajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku juga merasa lebih bergairah, karena aku tak melulu ikut kata orang lain untuk mencari makna Tuhan - hanya supaya aku dapat segera punya jawaban yang memuaskan kuping saja.

Sampai hari ini aku masih terus mencari. Dan menurutku, Tuhan sesungguhnya tidak rumit. Aku lah yang rumit. Aku lah yang lebih sering mengada-adakan sesuatu yang tidak ada dan meniadakan sesuatu yang sesungguhnya ada. Aku juga pelan-pelan memahami bahwa yang sering kamu namakan berkat tidak melulu soal materi. Tidak melulu soal uang, kesuksesan dan kebahagiaan menurut ukuran manusia pada umumnya. Pada sebuah masalah, pada sebuah kisah sedih, pada sebuah tragedi, ada sesuatu yang sesungguhnya dapat membuat kamu lebih merasakan saripati hidup. Sehingga ketika kamu berdoa, kamu tak lagi menunggu sesuatu yang menurutmu baik akan terjadi. Kamu hanya berdoa karena hatimu ingin berdoa. Sehingga ketika kamu dirundung masalah tak henti, kamu akan berhenti menunggu kapan akhir bahagia itu tiba seperti dongeng Cinderella. Sehingga ketika kamu melihat kemiskinan, kamu tak lagi melihat bahwa itu sebuah kesalahan, sebuah dosa yang harus ditebus supaya si miskin dapat rutin makan di restoran mewah atau sering minum kopi di cafe bersama teman-temannya yang berjas atau nonton tivi yang isinya sebenarnya kebanyakan sampah.

Dan kemudian kamu juga akan mengerti bahwa Tuhan lebih besar dari cinta, lebih besar dari seluruh keadilan di dunia ini, bahkan jika dijadikan satu sekalipun, dan bahwa Tuhan lebih besar dari sebutan apapun yang sudah manusia ciptakan untuk menamaiNya, sebab apapun sebutannya, terlebih penting apa yang ada di hatimu, dan untuk apa kamu menyebut demikian.

Sampai mati nanti aku pasti akan terus mencari. Tapi yang kucari bukan Tuhan, karena Ia memberi diri untuk ditemukan dalam berbagai bentuk. Yang kucari adalah pengenalanku akan Ia yang lebih dulu mengenalku. Dan Alkitab hanyalah salah satu cara.


Monday, 23 April 2012
12.55 pm

PS: Gambar diambil dari sini

jalan itu


Jalan itu sempit dan berbau. Selain itu juga kumuh. Barangkali karena itu, jalannya jadi sepi. Banyak orang tak sudi lewat jalan itu. Namun anehnya, tiap kali ada orang lewat jalan itu, sebagian besar keluar dengan raut wajah berbinar-binar. Seolah melewati lorong kumuh itu ia menemukan sesuatu untuk memperbarui hidupnya. Sudah lama aku memperhatikan fenomena ini. Hanya aku masih enggan melewati jalan itu. Apa jadinya kalau aku tidak mengalami yang mereka alami? Apa jadinya kalau aku malah terbunuh di lorong itu? Atau kalau tidak dibunuh pencoleng, aku dirampok dan ditendangi sampai hampir mati? Bagaimana? Apa ada yang mau bertanggung jawab?


Tapi yang namanya rasa penasaran itu memang selalu mengganggu. Tidak hanya mengganggu. Ia merayu-rayu. Dari rayuan gombal sampai rayuan pulau kelapa. Lengkap. Dan aku semakin tergelitik untuk lewat. Kawan, jangan pernah biarkan rasa penasaran menempel otakmu. Sekali ia menempel, ia bisa menguasaimu sedemikian rupa sehingga tak ada jalan lain selain menurutinya. Hanya saja, kubilang pada si penasaran, bahwa aku bersedia melewati jalan kumuh itu tapi tidak sendirian. Maka kupaksa sahabatku untuk menemaniku. Kubagi rasa penasaran padanya sehingga ia merasakan candu penasaran persis seperti yang aku rasakan. Kami kadang-kadang malah mabuk bersama jika rasa penasaran itu menggeliat-geliat merasuki kami.


Maka hari itu datanglah. Dengan hati berdebar dan rasa penasaran yang masih menempel seperti lintah, kami berdua melewati jalan kumuh itu pelan-pelan. Meskipun sepi, tapi entah kenapa selalu ada saja orang-orang yang lewat situ. Dan hari itu, selain kami berdua, ada beberapa orang lain juga. Ada yang berjalan lambat-lambat seperti kami. Ada yang jalan biasa saja, kepalanya tolah-toleh seolah menikmati jalan kumuh itu seperti berjalan di mall. Tapi lebih banyak lagi yang bergegas. Apalagi setelah membaca poster-poster yang banyak tertempel di dinding lorong itu. Terheran-heran aku melihatnya. Sepertinya tembok itu memang dibangun untuk ditempeli poster-poster. Meskipun tidak rapi, tapi poster itu cukup jelas untuk dibaca.


Sahabatku tiba-tiba mencolekku. “Coba baca ini!” katanya nyaris berbisik.


Maka aku membacanya: “Enam ekor domba hilang. Empat jantan dua betina. Hah?”


“Yang ini!” sahut sahabatku sambil menunjuk poster lainnya. “Sekolompok domba hilang. Diduga diculik oleh serigala yang menyamar menjadi domba.”


Aku segera membaca poster lainnya lagi: “Dicari seratus ekor domba yang hilang dua tahun yang lalu. Ini gila bukan? Bagaimana mungkin seratus ekor domba yang hilang dua tahun yang lalu bisa ketemu? Mereka pasti sudah dimakan serigala! Atau paling tidak, singa!”


“Yang ini!” teriak sahabatku seolah tak mendengarku. “Telah hilang satu ekor domba pada tanggal… hei ini baru kemarin hilang! Diduga tersesat. Ah, tapi kalau hanya satu ekor domba saja, ngapain harus dicari?”


“Satu ekor domba sangat berharga, anak muda.”


Kami menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki. Ia tidak tampan tapi entah mengapa kami terpesona. Sorot matanya hangat dan menimbulkan rasa percaya. Rasa percaya yang tidak beralasan. Padahal secara penampilan ia biasa-biasa saja. Bajunya bukan merk Armani ala businessman atau quiksilver ala laki-laki sporty atau zara ala pria metroseksual yang sering kami temui. Pun demikian, kami sampai berdiri mematung memandangnya dan tidak bisa bicara. Lidah kami kelu, tangan kami kaku dan kaki kami seperti dipaku.


“Satu ekor domba sama dengan satu jiwa. Satu jiwa sama berharganya dengan seribu jiwa. Matematika tidak berlaku untuk hal seperti ini. Ilmu ekonomi juga tidak. Karena ini tidak bicara tentang untung rugi dan neraca keseimbangan, apalagi teori ekuilibrium.” Ia terkekeh, seolah mentertawakan leluconnya sendiri. Kami sendiri tak tahu harus menanggapi dengan apa.


“Semuanya ini..tentang domba?” Pelan-pelan aku memberanikan diri bertanya pada lelaki mempesona ini.


Laki-laki itu mengangguk, kemudian menggeleng. “Ini betul tentang domba. Domba yang punya jiwa dan jiwa itu hilang.”


“Sebegini banyak?” tanya sahabatku sambil membelalakkan matanya.


Laki-laki itu mengangguk lagi. “Betul! Dan tidak banyak yang tergerak untuk membantu menemukan mereka. Mereka yang melewati jalan ini, tidak semuanya mendapat panggilan untuk menemukan domba-domba yang hilang itu.”


“Barangkali karena domba-domba itu bukan milik mereka…,” kataku hati-hati.


Laki-laki itu mengangguk lagi. Lebih tegas. “Betul! Sayang sekali! Padahal domba-domba ini sangat memerlukan pertolongan.”


“Kami dapat apa kalau membantu menemukan domba-domba ini?” tanya sahabatku.


Raut wajah laki-laki itu sekilas meredup – seolah-olah sedih karena pertanyaan macam itu didengar oleh kupingnya. “Ini bukan tentang pekerjaan yang mendapatkan bayaran seperti pekerjaan-pekerjaan pada umumnya. Kalau ada orang ingin membantu menemukan domba-domba yang hilang ini, tapi di dalam hati mengharapkan upah maka orang itu tidak akan dengan sungguh-sungguh melakukannya. Kalian pikir menemukan domba-domba yang hilang itu pekerjaan mudah? Kalian pikir perjalanan yang kalian lakukan untuk pencarian ini akan mulus-mulus saja? Keinginan saja tidak cukup. Kalau kalian terpanggil dan hati kalian siap, maka itulah saatnya.”


“Kapan?” tanyaku. “Maksudku, kapan kami akan merasakannya?”


Laki-laki itu tersenyum. “Ada kalanya kalian tidak akan merasakan panggilan untuk mencari itu sama sekali. Tapi kalian bisa merasakan panggilan untuk membantu mereka yang terpanggil untuk melakukan pencarian domba-domba itu. Tapi dapat pula terjadi sebaliknya: kalian akan merasakan panggilan itu. Dan sekali panggilan itu merasukimu, kalian akan tahu apa yang harus kalian lakukan.”


Aku dan sahabatku saling berpandangan.


“Jalan saja terus. Biarpun kumuh dan kelihatan kotor, sesungguhnya jalan ini dapat mencerahkan mata hatimu. Tak usah bergegas melewati jalan ini karena waktu tidak berarti. Bacalah satu persatu dinding-dinding itu. Resapi. Rasakan. Maknai. Supaya ketika kalian keluar nanti, kaki kalian tahu kemana harus melangkah.”


Lalu laki-laki itu pergi. Pergi begitu saja. Meninggalkan kami yang terbengong-bengong. Sekilas kulihat seperti ada sesuatu yang aneh pada kakinya. Seperti ada lubang dikakinya. Namun sebelum kuperhatikan dengan sungguh-sungguh, tangan sahabatku menggamit tanganku. Kami lagi-lagi saling berpandangan dan bersama-sama memutuskan untuk mengikuti saran laki-laki itu.


Kami telusuri jalan kumuh itu perlahan-lahan. Pelan-pelan. Laki-laki itu benar. Waktu tak berarti disini. Jadi kami leluasa membaca satu persatu apa yang tertempel di dinding. Cerita tentang hilangnya domba-domba. Ada yang baru tadi pagi hilang. Ada yang kemarin. Ada yang bulan lalu. Tapi ada pula yang bertahun-tahun yang lalu. Kami resapi dan rasakan jalan itu.
Dan di ujung jalan, langkah kaki kami semakin ringan. Kami seperti tahu kemana harus melangkah. Lagi-lagi aku dan sahabatku berpandang-pandangan dan saling membaca pikiran masing-masing untuk kemudian tersenyum.


“Aku ke kanan,” kataku.


“Aku ke kiri,” kata sahabatku.


“Sampai ketemu!” ucap kami berbarengan.


Langkah kami berdua ringan. Ringan sekali. Karena di depan kami, ada sesuatu yang sangat berharga untuk dituju.


Written by: Jessie
Sunday, 27 March 2011
6:29 pm


Revised on Easter Day, 8 March 2012
12:49 pm


PS: Gambar diambil dari sini

tinggi di langit


Teman-temanku bilang aku kampungan. Yang lain bilang aku ndeso. Yang lebih halus bilang aku nggak gaul. Semuanya karena benda yang sekarang ada di tanganku ini. Tapi aku tak peduli. Biarpun barangkali harus sendiri aku memainkannya. Atau dengan ibuku.

Ibuku bilang, untuk memainkan benda ini, aku harus cari tanah lapang yang luas dan berumput. Kilahku, aku pernah melihat anak-anak kampung memainkannya di jalanan, kenapa aku tak boleh. Sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ada anak kampung yang tertabrak sepeda motor karena bermain dengan benda ini di jalanan. Sejak itu lah aku mulai terobsesi mencari tanah lapang yang luas dan berumput seperti kata ibuku supaya aku dapat memainkan benda yang saat ini ada di tanganku tanpa harus membahayakan diriku.

Berminggu-minggu aku mencari tanah lapang yang luas dan berumput itu. Tapi tak kunjung juga kutemukan. Pernah suatu hari kutemukan tanah lapang itu tak jauh dari rumahku. Buru-buru aku pulang mengambil mainanku dan ketika aku kembali ke tanah lapang itu, sudah ada para pria berhelm kuning yang melarangku masuk ke tanah lapang itu karena berbahaya. Kutanya pada mereka, apa bahayanya? Aku toh baru dari situ dan tahu bahwa tempat itu baik-baik saja. Tapi mereka ngotot mengatakan bahwa tempat itu berbahaya karena mereka akan segera memasang alat-alat untuk membangun ruko. Kutanya lagi pada mereka apa itu ruko. Mereka menjawab dengan tak sabar bahwa ruko adalah sesuatu yang bisa menghasilkan duit. Diamlah aku, padahal aku masih belum mengerti apa itu ruko. Apakah sama dengan bank?

Esoknya lagi kucari di tempat yang agak jauh dari rumahku. Kutemukan ada tanah lapang yang biarpun tidak terlalu luas tetapi berumput hijau segar. Lagi-lagi aku berlari pulang untuk mengambil mainanku dan kembali ke tempat itu. Dan ketika aku kembali, sudah banyak anak-anak kampung situ yang bermain bola di tanah lapang berumput hijau tadi. Ragu-ragu kulangkahkan kakiku menginjak rerumputan hijau itu, tiba-tiba ada seorang anak yang membentakku.

"Hei, kamu! Mau ngapain disini?" bentaknya. "Kamu mau mainan itu ya?" Ia menunjuk benda yang kupegang.

Kuanggukkan kepalaku berharap dia tidak marah jika aku berkata jujur.
"Kamu bukan anak kompleks sini kan? Kalau bukan anak kompleks ini tidak bisa pakai! Kamu nggak tahu sulit sekali cari tanah lapang model beginian buat kami bermain bola! Enak saja kamu mau merebut dari kami!"

Ingin sekali kujawab bahwa aku tahu dan sependapat dengannya tentang betapa sulitnya mencari tanah lapang yang luas dan berumput untuk aku bermain benda yang ada di tanganku ini dan bermain bola seperti mereka. Ingin juga kukatakan padanya bahwa aku tak bermaksud merebut dan bahwa aku tidak keberatan berbagi tanah lapang itu untuk bermain bersama. Tapi anak itu badannya lebih besar, jadi aku mundur sebelum babak belur.

Melihatku sering melamun dan selalu lunglai sesampainya di rumah sesudah mencari tanah lapang untukku bermain, ibuku turun tangan. Suatu hari ia mengajakku ke gedung olahraga yang punya lapangan sepakbola yang luas. Ibuku bilang pada petugas gedung bahwa kami datang untuk meminjam lapangan sepakbola itu sebentar saja. Hanya supaya aku dapat bermain dengan benda yang kubawa itu sejenak.

"Tak sampai satu jam lah, bapak," kata ibuku. Tapi petugas itu tetap menggelengkan kepalanya. Jika ingin meminjam lapangan bola, ibuku harus mengisi formulir tertentu disertai surat permohonan sebagai lampirannya kemudian formulir dan surat permohonan itu akan diajukan oleh petugas gedung tadi kepada bapak pengelola gedung. Nanti bapak pengelola akan memberikannya pada para pengurus gedung untuk dibawa ke rapat paripurna supaya dapat diputuskan apakah aku dapat bermain di lapangan bola itu atau tidak. Aku sungguh tak menyangka bahwa untuk bermain di lapangan bola barang sejenak saja diperlukan proses sepanjang itu. Maka aku pun menarik tangan ibuku mengajaknya pulang karena percuma bernegosiasi dengan birokrasi semacam itu. Anehnya ketika kami beranjak pulang, si petugas gedung tadi membisikkan sesuatu di telinga ibuku yang membuat raut muka ibuku begitu mengerikan. Tak pernah kulihat ibuku marah bukan main seperti hari itu.

"Apa-apa kok duit! Sudah bobrok negara ini!" Begitu omelnya ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Aku diam saja karena merasa bersalah sebab rupa-rupanya aku sudah menularkan obsesiku pada ibuku. Hanya untuk benda yang ada di tanganku ini.

Sekonyong-konyong, kudongakkan kepalaku ke langit. Lewat jendela mobil, kulihat diatas sana ada benda serupa dengan yang sedang kupegang ini. Kuremas tangan ibuku dan menunjuk ke langit. Ibuku memekik senang, lupa dengan kemarahannya pada petugas gedung olah raga tadi. Ia langsung memutar setirnya mengikuti arah benda yang kutunjuk tadi. Belok kanan, belok kanan lagi, belok kiri, lurus, belok kanan, belok kiri lagi, seolah jalanan itu tak ada ujungnya. Tapi kemudian sekujur tubuhku bergetar karena melihat tanah lapang yang begitu luas dengan rumput hijau yang segar. Disana ada beberapa anak yang sedang bermain dengan benda seperti milikku ini. Turunlah aku dari mobil dan mendekati lapangan hijau yang selam ini kucari-cari. Anak-anak itu tersenyum dan memberi isyarat padaku untuk bergabung dengan mereka. Kulangkahkan kakiku ringan mendekati mereka. Seperti inilah rasanya ketika kamu merasa bahwa sebentar lagi obsesimu menjadi kenyataan. Ada rasa yang tak terdefinisikan saat waktu itu akan tiba.
Ibuku kemudian mengambil benda yang sedari tadi kupegang erat-erat, yang sudah menjadi obsesiku selama berminggu-minggu. Aku menarik simpul benang di ujung benda tadi sambil berjalan mundur. Tadinya berjalan, lama kelamaan aku berlari sambil menarik benang itu. Pada saat itu lah ibuku mulai melepaskan benda tadi.

"Tinggi! Tinggi!" kata anak-anak tadi sambil bersorak-sorak. "Lebih tinggi lagi! Masih bisa!"

Aku mulai menarik-narik benang mengikuti arah angin, membiarkan benda itu melayang tinggi, lebih tinggi dari gedung-gedung dan ruko-ruko. Luar biasa sensasinya. Seperti ada yang mengaduk-aduk perutku saking senangnya hatiku. Kami semua yang ada di lapangan melihat mainanku tinggi di langit, melawan sinar matahari yang menyengat. Ia bergoyang-goyang riang diatas sana, bercakap-cakap dengan angin, barangkali juga dengan awan, atau bahkan dengan burung yang kebetulan lewat. Setelah berminggu-minggu kukurung di kotak mainanku di rumah.

Terbanglah layang-layangku, walaupun kamu kuno, kamu kampungan, kamu nggak gaul jika dibandingkan dengan mainan-mainan bertombol nan canggih yang dimainkan teman-temanku di rumah mereka yang ber-AC. Terbanglah, selagi masih ada tanah-tanah lapang yang luas dan berumput hijau seperti ini di tengah-tengah gedung pencakar langit, ruko-ruko yang menjamur dan perumahan-perumahan mewah yang tersebar untuk orang-orang kaya. Terbanglah, supaya aku tahu bahwa bumi ini sesungguhnya masih bisa diselamatkan dari kapitalis-kapitalis rakus dan birokrasi-birokrasi tak penting yang saat ini merajalela.

Terbanglah, layang-layangku. Tinggi. Tinggi di langit.

Sunday, 1 April 2012
11:34 am

PS: Gambar diambil dari sini