RSS

tuan waktu dan aku


Salah. Hampir semua yang kupikir betul ternyata salah. Dan merasa bersalah jelas bukan sesuatu yang enak. Tidak ada yang senang jika merasa salah. Aku adalah salah satunya, meski juga kuyakini bahwa tiap kesalahan yang kubuat ada satu kebenaran lagi yang kupelajari.


Pada suatu waktu - saat aku lebih muda - aku merasa punya hak untuk bersenang-senang. Mengobral janji, kemudian ketika tak bisa kutepati, aku akan minta maaf dengan manis, sehingga yang kuberi janji akan maklum dan simpati terhadap kesulitanku memenuhi janji. Aku merasa masih punya banyak waktu untuk kuhabiskan dengan - menurut orang lain - sia-sia. Orang-orang yang menganggap bahwa waktu adalah uang. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga terkutuklah aku yang membuang-buang waktu dengan percuma. Orang-orang yang mengatur sedemikian rupa dalam hidupnya menit demi menit untuk banyak hal karena berpendapat bahwa tak seharusnya tiap menit dilalui dengan satu atau dua pekerjaan saja. Istilah keren orang-orang modern yang juga sering dipakai oleh para motivator adalah: multitasking. Ooh...betapa indahnya kata itu di kupingku saat pertama kali mendengarnya. Sehingga tatkala aku berhasil melakukannya aku merasa menjadi orang paling keren se-jagad raya. Lebih keren dari Britney Spears dan Bill Gates dijadikan satu.


Lantas beberapa tahun kemudian, sebagai makhluk sosial yang sempurna menyerap banyak hal dari orang-orang di sekitarnya, sedikit demi sedikit aku mulai sepakat dengan kebanyakan dari mereka. Tuan waktu memang tak pernah main-main. Ia akan melenggang tanpa peduli, melangkahkan kaki dengan pasti dan angkuh berjalan meski manusia tak sempat memberi arti. Sungguh kejam, karena pada beberapa saat, aku merasa ia sangat bergegas, sehingga terengah-engah aku mengikutinya. Namun, betul, rasanya sungguh luar biasa jika kau bisa menaklukkan waktu. Jika kau bisa lakukan multitasking yang keren itu sehingga orang-orang mulai mempercayakan banyak hal di pundakmu. Dan sungguh, yang kemudian ada di pundakmu itu niscaya sering membutakan hati, membuatmu berpikir kau lebih sakti dari Superman dan Samson tanpa kryptonite dan Delilah di duniamu sendiri. Lalu tiap Senin hingga Jumat kau akan bangun dan akan selalu punya tujuan: selesaikan pekerjaan; tak boleh buang waktu; ingat, hidup cuma satu kali.


Hidup cuma satu kali. Hidup cuma satu kali. Hidup cuma satu kali. Kalimat itu berputar-putar di sekelilingku, persis seperti lalat yang terbang diatas makanan berbau menyengat. Hingga suatu saat. Suatu saat jika memang saatnya, kau seperti disadarkan akan sesuatu. Seolah-olah pipimu baru saja ditampar oleh raksasa sehingga yang kau rasakan cuma sakit. Dan melek. Begitu lebarnya sehingga kau melihat dunia ini melalui kacamata baru.


Hidupku sudah seperti robot. Sesuatu yang kuanggap keren dan kuagungkan sedemikian rupa bernama multitasking itu berubah. Entah bagaimana, aku tak lagi menganggapnya keren. Aku tak lagi menganggapnya agung. Tuan waktu memang angkuh, namun jika lebih diamati, ia lebih ramah dari yang kukira. Sesungguhnya ia tak pernah menuntut manusia untuk menaklukkannya. Tak pernah menyuruh manusia untuk mengejarnya. Tak pernah meminta manusia untuk mengalahkannya. Tak pernah. Ia sebenarnya memberi diri untuk dinikmati. Tak perlu bergegas. Tak perlu terburu-buru. Dinikmati saja, karena sesungguhnya menikmati waktu lebih menjanjikan arti. Sebab kau tak lagi melakukan banyak hal untuk kemenangan yang barangkali semu.


Kupikir belum terlambat bagiku untuk berteman dengan waktu. Untuk bersenang-senang dengan waktu. Merangkul apa saja yang bisa diraih tanpa perlu bergegas. Sehingga naluriku bisa lebih tajam untuk merekam banyak hal yang terjadi dalam hidupku tanpa perlu merasa dikejar.


Barangkali ada yang akan bilang aku edan. Aku aneh. Aku mengada-ada. Dan aku absurd seperti tulisanku. Tapi biarlah. Bukankah hidup cuma satu kali? Jika memang cuma satu kali, mengapa tak kunikmati saja? Dengan tenang. Dengan senang. Tanpa perlu merasa kurang. Sebab sesungguhnya waktu tak perlu didefinisikan. Apalagi dihabiskan. Ia hanya perlu dinikmati. Seperti pemain musik tatkala memainkan musiknya. Seperti pecandu kopi tatkala menyeruput kopinya. Seperti pecinta hujan merasakan hujannya. Nikmat yang barangkali tak dapat dijelaskan dengan bahasa manapun.


Maka, bercintalah aku dengan tuan waktu. Berada di puncak berkali-kali. Dan aku belum (mau) bosan. Bisa jadi kelak apa yang kukira benar sekarang ternyata keliru. Ah, tapi untuk apa kupikirkan itu sekarang?




Thursday, 12 July 2012
08.21 pm


PS: Gambar diambil dari http://farm1.static.flickr.com/3/4058539_97040fea56.jpg