RSS

pembantu oh pembantu

Pergi dengan seorang kenalan ternyata memberiku pemahaman baru. Kemarin ia bercerita kalau subuh-subuh ketika hendak mendudukkan pantatnya di lubang closet, ia melihat pemandangan yang memprihatinkan. Ia melihat seekor tikus kecemplung di dalamnya, mendecit-decit, menggapai-gapai ingin keluar dari situ. Tak jadilah ia meletakkan pantatnya diatas lubang itu. Sepanjang subuh itu, ia biarkan tikus itu terus menggapai-gapai, mendecit-decit, mengganggu kelanjutan tidurnya. Beberapa jam kemudian, saat matahari sudah muncul dan pembantunya sudah bangun, dimintanya pembantunya melakukan sesuatu terhadap tikus malang tersebut. Pembantunya itu perempuan. Kecil dan masih muda pula. Tapi, nyalinya tak sekecil badannya. Tanpa ragu ia mengulurkan tangannya dan merogoh tikus malang itu, mengeluarkannya, menyelamatkannya dari lubang closet tapi kemudian dibunuhnya pula tikus itu dan dilemparkan entah kemana.

Setelah mendengar cerita kenalanku itu, aku jadi berpikir, mungkin jika diadakan penelitian tentang pekerjaan terberat di seluruh dunia, jawaban yang paling masuk akal adalah pembantu. Catat! Bukan sekedar pembantu, tapi seorang pembantu yang berdedikasi. Rasanya, pembantu yang bekerja di kostku tidak termasuk di jajaran para pembantu yang berdedikasi. Tingkahnya tidak beda dengan majikannya. Malahan tante kost-ku itu yang diinjak-injak. Semua harus nurut dengannya. Belum lidahnya yang panjang itu, yang sudah pergi kemana-mana menjilat gosip manapun dan tak pernah menelan karena ia keburu memuntahkannya lagi di wajah siapapun yang berkenan menerima muntahan gosipnya. Pagi-pagi buta, ia sudah berbelanja gosip dan laki-laki yang kadang-kadang disumpal dengan sayuran di pasar. Pagi-pagi juga, saat kami anak-anak kost masih menyelesaikan jam istirahat kami setelah sibuk seharian di hari kemarin, ia sudah memuntahkan gosipnya ke wajah tante kost yang cuma manggut-manggut dan sesekali menjilat muntahan gosip di wajahnya, bersuara tak kalah lantangnya dengan pembantunya. Lukisan seorang majikan dan pembantu jaman sekarang. Kalau kau ingin melihatnya, datanglah ke kost-ku, sebelum jadi mahal harganya.

Dulu sekali, aku sering bertengkar dengan pembantu rumah. Tapi sejak aku tinggal di kost, aku bersyukur sekali pembantu rumahku masih jauh lebih manusiawi ketimbang pembantu di kost-ku yang satu ini. Kadang-kadang, untuk membunuh waktu, aku sempat membaca tabloid-tabloid ringan yang yah… isinya bikin keningku berkerut dan mengelus dada sambil berusaha menerima kenyataan bahwa ada bertriliun-triliun jenis manusia di muka bumi ini dan tiga perempatnya mungkin tak pernah kumengerti jalan pikirannya. Kadang-kadang aku membaca tentang pembantu yang diperlakukan tidak adil oleh majikannya. Punggung mereka diseterika. Tangan mereka sering dipukul. Kepala mereka sering ditempeleng atas kesalahan yang mungkin tidak mereka lakukan. Mereka tidak dibayar sesuai dengan pekerjaan mereka.

Pernah suatu kali, sebuah pertanyaan muncul dalam benakku, kenapa sih ada orang-orang yang mau saja jadi pembantu? Maksudku, jam kerja mereka jelas lebih panjang daripada orang-orang kantoran. Kalau orang-orang kantoran bekerja delapan jam per hari dikalikan lima per minggu, maka para pembantu itu harus siap dua puluh empat jam kalau-kalau majikannya tiba-tiba ada keperluan. Diluar itu, ia harus bangun pagi-pagi buta untuk membersihkan seluruh rumah tatkala seisi rumah majikannya sedang terlelap, berbelanja untuk keperluan makan, menyiapkan sarapan, membersihkan kamar kalau yang punya rumah sudah minggat bekerja keluar rumah, memasak untuk makan siang, dan oh… segudang pekerjaan lainnya. Belum lagi kalau ada kasus-kasus khusus macam tikus kecebur closet itu. Aku masih ingat waktu aku bertemu dengan makhluk menjijikkan bernama kecoak untuk pertama kalinya. Entah bagaimana, meskipun belum tahu kalau binatang itu bernama kecoak, dan yang namanya kecoak sudah terkenal dimana-mana sebagai salah satu binatang yang paling menjijikkan, aku sudah merasa jijik duluan. Dan orang pertama yang kuteriaki untuk membunuh kecoak itu karena binatang itu tiba-tiba mengibaskan sayapnya dan terbang ke arahku adalah pembantuku. Tiba-tiba ada kelabang di WC, dialah yang kupanggil. Bak mandi kotor dan ada uget-uget kecil (sampai sekarang aku tidak tahu nama sebenarnya binatang kecil-kecil yang suka ngendon di dalam bak mandi yang belum dikuras, apa sih itu?), kuteriaki dia. Mungkin pahlawan bumi yang sebenarnya bukanlah superman, tapi pembantu rumah tangga yang berdedikasi. Dan oh ya! Aku lupa menyebutkan satu hal, dari sekian banyak yang harus dikerjakannya, ia cuma mendapatkan bayaran yang mungkin tidak ada seperempatnya gaji orang kantoran. Padahal orang-orang kantoran yang berdasi dan berdandan cantik itu belum tentu bisa mengerjakan pekerjaan para pembantu itu. Jangan katakan padaku bahwa jadi pembantu hanya perlu tenaga dan tidak otak. Emakku tidak pernah mau menerima pembantu yang biasa-biasa saja, ia mau pembantu yang bisa memakai otaknya, biar bisa menawar harga di pasar, biar bisa membedakan yang mana sabun pencuci lantai dan sabun pembersih kaca, biar bisa cepat tanggap kapan ia diperlukan, biar ia bisa mengira-ira berapa banyak garam yang harus ia cemplungkan di dalam sup yang ia buat.

Wahai para pembantu yang berdedikasi, jangan berpikir kalian adalah orang terendah di seluruh muka bumi ini, karena tanpa kalian aku tidak pernah bisa membayangkan apa jadinya orang-orang yang disebut kaya itu.


Monday, 19 September 2005
07.58 pm

… dedicated to sijuk, mbak yani, mbok ni, anyes dan mbok yah, selamat bekerja!!

0 komentar ajah: