RSS

hal-hal konyol

Hidup saya memang tidak melulu diisi dengan masalah. Hidup saya juga tidak melulu diisi dengan hal-hal yang bikin hati bahagia. Hidup saya diisi juga dengan hal-hal konyol yang bikin malu. Tapi justru hal-hal yang konyol itu yang kadang-kadang bikin saya senyum-senyum sendiri waktu sedang mengingatnya.

Berikut adalah hal-hal terkonyol yang pernah saya alami. Tentu sebenarnya masih banyak hal konyol lainnya, tapi semuanya tidak akan cukup dituangkan disini.


Hal konyol #1 
Venue: samping Matahari plaza, Pekalongan 
Misi: mencari poster Boyzone, Backstreet Boys, etc 
Waktu: saya masih SMA (tahun berapa tuh!) 
Kronologi: 
Ini saat-saat saya sedang tergila-gila dengan yang namanya Boyband. Jadi sering banget saya pergi hunting poster supaya poster di kamar saya terus nambah. Waktu itu, biarpun matahari panasnya amit-amit, berangkat juga saya berburu poster di sebuah tempat. Sebenarnya saya tahu kalau daerah itu agak rawan. Banyak yang sering kehilangan helm atau asesoris sepeda motor disitu. Apalagi saya naek motor sendirian. Jadi tidak akan ada yang menjaga motor itu pada waktu saya asyik memilih poster. Tapi saya tetap nekad. Pada waktu saya parkir, saya melihat dua orang laki-laki *masih muda*, senyum-senyum penuh arti sambil melihat-lihat saya dan sepeda motor saya. Hati saya enggak enak. Jangan-jangan mereka mengincar sesuatu dari sepeda motor saya! Itu yang ada dalam benak saya. Tapi saya tetap saja keukeuh dengan misi saya. Sampai saya sendiri lupa sudah dengan kecurigaan saya dengan kedua laki-laki itu. Ketika selesai dengan poster-hunting, saya dengan langkah enteng kembali ke sepeda motor saya. Saya tertegun. Dan saya langsung membayangkan wajah marah papi saya karena spion sepeda motor saya HILANG. Segera saya hampiri itu motor sambil lirik-lirik ke laki-laki yang saya curigai tadi. Mereka berdua masih senyum-senyum sambil melihat-lihat saya. Tukang parkir datang dan saya langsung protes. Saya bilang, "Pak, ini spion saya hilang!" Jawab si tukang parkir yang mulai pasang tampang bingung: "Waduh, nggak tahu saya, mbak." Saya sahut lagi, "Lha, bapak gimana, masa ga perhatiin sih?" Si tukang parkir diam saja, tapi wajahnya mulai panik. "Coba tolong bapak tanya sama mas-mas itu, barangkali mereka tahu!" saran saya agak memerintah dengan ketus gitu. Pergilah tukang parkir bertanya pada kedua laki-laki itu. Mungkin di pikirannya, daripada dia yang bayar kali ya.... Waktu tukang parkir tanya, jawaban salah satu laki-laki tadi: "Lho, mbak, itu bukan sepeda motor mbak. Sepeda motor mbak yang di sebelahnya." Baru kemudian saya pelototi sepeda motor tanpa spion itu dan baru sadar bahwa ITU MEMANG BUKAN SEPEDA MOTOR SAYA. Ngeloyorlah saya dari situ tanpa ngomong apa-apa. 
Moral of the story: Jika hendak mengambil motor, harap perhatikan apakah motor tersebut betul-betul milik anda!




Hal konyol #2 
Venue: Happy Puppy Kebon Bibit, Surabaya 
Misi: Menghilangkan stress dengan karaoke 
Waktu: saya kuliah semester-semester awal 
Kronologi: 
Saya pergi dengan kedua teman kost saya. Waktu itu memang tanggal tua sebenarnya, jadi duit yang ada pada kita ngepas banget. Plus ATM yang paling dekat dengan kost sedang tidak bisa berfungsi. Dan kita agak ngotot pergi karaokean. Masalahnya: 1. nggak ada satu pun diantara kita yang bawa motor; meskipun ada, yang bisa mengendarai sepeda motor cuma saya, misalpun saya dapat pinjaman sepeda motor, satunya mau ditaruh dimana? 2. nggak ada satupun dari kita yang bawa dan bisa nyetir mobil. Jadi untuk memecahkan masalah ini adalah: kita harus naek taksi. Waktu itu argo taksi belum gila seperti sekarang. Kita sudah hitung duit masing-masing, cukup untuk 2 jam karaoke, ongkos taksi dan lunch di tempat dengan harga terjangkau. Sesampainya di tempat karaoke, kita cari lunch yang deket-deket situ. Ada sebuah resto yang dalamnya cukup cozy untuk nongkrong, namanya: KJ's cafe. Seharusnya kita tahu, kalau yang namanya cafe, biarpun makanannya enggak seberapa enak, harga tidak sesuai dengan kantong anak kost di tanggal tua. Tapi entah apa yang ada di pikiran kami waktu itu, kami nekad masuk aja. Dan betul saja, ketika kami harus membayar, kami memelototi struk-nya, dan apa boleh buat, kami harus membayar. Memangnya ada pilihan laen? Setelah itu, kami berunding, ok, duit yang ada sekarang cuma bisa bayar karaoke 1 jam. Oke lah, 1 jam cukup untuk melepaskan stress. Ongkos pulang? Urusan nanti! Cari ATM dulu! Akhirnya kami tetap nekad berkaraoke-an. Ternyata untuk jam segitu, dikenakan harga promo di Happy Puppy. Dan harga promo yang petugasnya sebutkan itu, uang kami masih lebih dari cukup untuk 1 jam. Yang tidak kami sadari adalah, harga promo itu baru berlaku untuk penggunaan minimal 2 jam! Jadi harga promo itu dikalikan dua! Kesimpulannya: UANG KAMI TIDAK CUKUP UNTUK MEMBAYAR. Karena pada waktu itu Happy Puppy belum menerima gesek-menggesek debit card, dengan sangat terpaksa salah satu dari kami harus tinggal di tempat itu sementara dua yang lain mencari ATM untuk mengambil tambahan uang. Setengah jam mencari, tidak ada ATM di dekat-dekat situ. Kami akhirnya kembali sambil sepakat untuk menelepon kost, minta tolong teman yang ada di kost untuk menyusul dan bawa uang. Malu?? Jangan tanya! Setelah menelepon, bengonglah kami duduk di ruang depan, sambil menghisap asap rokok tamu-tamu lain. Tidak berapa lama, salah satu kawan-nya teman saya lewat. Dengan semangat empat lima, teman saya itu memanggil, dan voila! Dapat pinjaman duit! Kami keluar dari tempat itu sambil berjanji bahwa untuk beberapa bulan kedepan kami tidak akan pergi karaokean disitu!  
Moral of the story: Pastikan uang anda cukup untuk ongkos pulang pergi, lunch dan karaoke untuk dua jam sebelum berangkat karaoke!




Hal konyol #3 
Venue: Jalan tol HR Muhammad, Surabaya 
Misi: mengunjungi Grand Ocean untuk sewa tempat 
Waktu: tahun 2005 
Kronologi: 
Saya pergi dengan teman gereja saya. Namanya Nita. Nita ini agak parno dengan namanya polisi. Jadi kalau lagi naek sepeda motor, terus lihat polisi, biarpun tu polisi ga ada ganteng-gantengnya, Nita bisa tiba-tiba grogi dan serba salah. Biarpun tahu parno-nya Nita, sebagai teman yang baik, saya tetap mengajak dia pergi, hehehe. Waktu itu, dengan naek sepeda motor, kami meluncur menuju arah Grand Ocean Restoran. Ketika hendak belok, ada polisi sedang menilang mobil, grogi-nya Nita kumat. Jadi dalam posisi sebagai yang membonceng, saya yang mau belok ke arah kanan *biarpun ragu-ragu*, jadi lurus karena Nita ngotot jalan yang lurus adalah yang betul. Ya saya nganut aja wong dia orang Surabaya asli gitu. Tapi yang namanya orang Surabaya asli, tapi yang lagi grogi dan parno ama polisi, memang sebaiknya tidak didengarkan. Ketika meluncur di jalan itu, saya curiga karena tidak melihat sepeda motor lain. Saya sempat tanya sama Nita, "Eh, kok ga ada sepeda motor ya?" Nita enggak jawab. Kemudian... eng ing eng.. sampailah kami DI DEPAN JALAN TOL. Astaga ajubilah... ternyata kami nyasar ke JALAN TOL. Seolah-olah belum cukup menanggung malu karena para pengendara mobil yang lewat di samping kami menyempatkan diri membuka jendela dan bertanya, "Ngapain disini, mbak?", petugas jalan tol dengan menggunakan speaker *yang berarti didengar oleh seluruh pengguna jalan tol berteriak, "Mbak, mbak.. itu sepeda motor mau kemana?? Ini jalan tol, mbak.. bukan untuk sepeda motor. Ayo putar balik, mbak...." Bla bla bla... masih panjang komentar si petugas lewat speaker. Saya dan Nita langsung putar balik dan tancap gas. KABUR! Sambil berdoa supaya tidak ketemu polisi yang sudah bikin Nita kumat groginya tadi... 
Moral of the Story: Kalau lagi naek sepeda motor, jangan takut sama Polisi! Apalagi grogi! 


Hal konyol #4 
Venue: tram lewat Brunswick West, Victoria 
Misi: menuju ke Melbourne CBD 
Kronologi: 
Waktu itu saya lagi pakai softlens saya yang warna ungu. Sebenarnya saya bawa dua *karena dengar-dengar softlens disana mahal banget*, satu warna cokelat, satu warna ungu. Tapi yang cokelat waktu itu sudah robek. Jadi terpaksa saya pakai yang warna ungu, walaupun agak aneh kelihatannya. Wajah oriental, mata ungu? No way! Benar saja, baru saya tapakkan kaki di lantai tram, ada seorang bule perempuan langsung teriak-teriak ngelihat saya. Dia bilang, "Oh, freak, her eyes are purple!" Dalam hati saya langsung misuh-misuh. Kurang ajar banget nih orang, emang nggak pernah lihat orang pake softlens apa? Terus bule itu tanya, curiously "Are those real?" Saya yang sudah ilfil males ngejawab, hubby yang ngejawab, "No, she's just wearing contact lens." Baru tahu kalau disitu bule-bule biasanya pake softlens yang bening, bukan yang warna-warni. Tapi emang perlu gitu dipanggil FREAK gara-gara pake softlens warna?? 
Moral of the story: Jangan pernah pakai softlens warna kalau kamu merasa wajahmu oriental dan bakal sering ketemu bule, karena kamu bakal dipanggil FREAK. 



Hal konyol #5 
Venue: tram stop di Elizabeth street, Melbourne 
Misi: mengejar tram 
Kronologi: 
Pulang dari kerja di Resto Jepang di Swanston street, Melbourne, saya harus jalan kaki dulu ke Elizabeth street untuk dapat tram yang langsung berhenti di depan flat saya. Yang namanya tram kalo siang datangnya bisa 5-10 menit sekali. Nah waktu itu, tram sudah menunggu di tram stop, siap untuk berangkat. Malas menunggu 10 menit lagi untuk tram berikutnya, berlarilah saya sekencang-kencangnya supaya masih bisa ikut tram tersebut. (Perhatian: jangan ditiru, karena kurang baik untuk kesehatan). Sedang enak-enaknya berlari, entah bagaimana kaki saya terantuk sesuatu dan terjerembablah saya dengan sukses di tengah jalan raya dekat tram stop. Persis di sebelah saya, sebuah mobil van lewat, supirnya melihat saya dan bertanya, "What are you doing there?" Saya misuh lagi, sudah tahu jatuh malah tanya! Heran deh! Sambil menanggung malu, saya tertatih-tatih jalan dan memutuskan untuk menunggu tram berikutnya sambil menenangkan jantung yang berdebar-debar kencang dan membersihkan luka di kaki saya. Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah jatuh di jalan raya, malu pula, ditinggal tram. Huh. 
Moral of the story: Jangan pernah mengejar tram, karena tidak sesuai dengan kata pepatah yang kita pelajari pada waktu SD dulu: TAKKAN LARI GUNUNG DIKEJAR. Karena tram jelas akan lari jika sudah waktunya meskipun kita mengejarnya. 

Konyol? Tak apa! They are! Tapi betapapun malunya, betapapun marahnya pada waktu itu, ketika sekarang saya mengingatnya kembali, saya hanya tertawa. Karena semuanya mewarnai buku kehidupan saya.

Friday, 12 December 2008 
3:08 pm 

PS: Happy birthday to my brother!


5 komentar ajah:

Anonymous said...

yeah, I still remember when I first met you and saw your purple contact lenses.. I thought that was an unusual colour. Guess what, my ex-colleague wore green ones. Let me tell you, purple is so much nicer ;)

By,
you know who...

Surti said...

hehe..kalo dah ada maunya emang susah dibendung yah..dulu kita jg gitu, main2 ke timezone sampe gak ngeh kalo duit pada abis, pas keluar dari parkiran baru bingung, ternyata parkirannya mahall *krn berjam2*,akhirnya ngerogoh kantong masing2, untungggggggg masih cukup, kalo gak bisa di klaksonin mobil belakang krn lama bener transaksinya hihih

Lisa said...

Haiyaaaa Jesss.....
Koe ki jan lucu bianget yooo
Huaaaaa....
Aku ngakak dewe...
Bayangin kamu ngejar tram dan gedubrak...hahahahha

Salah motor, idih malu banget hehehe
Kurang duit.. aku juga pernah, tapi nda sampe segitunya...hehehe

Nyasar sampe diteriakin petugas tol...aiiihhh pasti malu banget...
Dan pake softlens ungu, yo emang koe ae sing rodo freak!hahahaha

Sangat menghibur deh tulisanmu hahahhahaha

KAMSIAAAAA!!!!

kristina said...

hahahaha..jes..takpikir kowe orang yang cool ternyata pernah mengalami hal2 konyol juga..hehehe.. paling lucu yang salah ngambil motor pas beli poster..hahahaha..udah nuduh2 ternyata salah motor. :p

jc said...

to Anonymous aka you-know-who aka Dilys: Actually I wasn't that confident wearing the purple contact-lens, but since I didn't have any choice, that would do, haha.. Well, I once wore the green ones as well, and guess what, I think green is more suitable for me than purple. ;D

to C'Surti: Iya ce, kalo diinget-inget lagi yak.. bisa bertanya-tanya dalam hati.. kenapa nggak berpikiran panjang waktu itu.. bego banget bwahahaha.. tapi gpp lah.. as i said, all the happy memories include the ridiculous one.

to C'Lisa: Waaa.. ya syukur dehh ada yg merasa terhibur dengan kekonyolan2ku... kalo waktu kejadiannya sih malu begete, tapi sekarang sih takguyu tokkk hehehehe..

to Kristina: Wah.. Kris, ente enggak salah kok menganggap saia ini orang yg cool *duh baru kali ini ada yang ngomong kalo aku cool*... bwahahaha.. itu di Pekalongan loh!!!!! Sampe sebulan aku ga wani lewat situ!