RSS

quick text, another link

Just inform you guys.. that you can stop by in my another blog if you enjoy some short-stories. They're not much, and I just wrote them in my spare time.

Please leave some comment if you like, critics and inputs are welcome.

I called it : collection of my imaginations

Enjoy!

Monday, 16 March 2009
8:31 pm

untuk mereka

Namanya Mar. Barangkali singkatan dari Maria. Atau Mariyati. Bisa juga Sumariani atau Marisa. Tapi tidak mungkin Marwoto, apalagi Marzuki atau Qomar. Ia seorang perempuan tulen. Yang artinya dari dulu sudah perempuan dan sekarang pun masih perempuan. Aku memang tak pernah menanyakan apalagi memperhatikan nama lengkapnya, meskipun nama itu terpampang di dadanya setiap hari, wira-wiri di depan mataku. Ia bekerja di tempat penitipan anak-anak sebagai salah seorang pengasuh.

Baru saja ia melahirkan. Pada suatu kesempatan basa-basi, kutanyakan padanya, siapa yang menjaga bayinya jika ia bekerja. Jawabnya, saya titipkan di tetangga. Aku tertawa. Garing. Tidak tahu apa yang sebenarnya aku tertawakan. Barangkali jawaban dari ibu Mar - yang menunjukkan bahwa hidup terkadang bisa terlihat aneh. Ia mengasuh belasan anak orang lain, sementara anaknya sendiri ia titipkan pada seorang tetangga. Hidup memang berat. Namun ia melambaikan tangan sambil tersenyum saat pamit. Menandakan bahwa meski hidup ini berat, jika dijalani dengan senyum, beratnya dapat sedikit berkurang.

Sebut saja ia Ri. Bukan. Itu bukan nama sebenarnya. Dan yang ini masih seorang perempuan. Ia salah seorang yang paling sensitif yang pernah kukenal. Tapi kesensitifannya tidak pernah membuatku terganggu. Kelihatannya ia seorang yang galak, selalu cemberut dan hanya berteman dengan orang-orang tertentu saja. Yang sesungguhnya, ia orang yang penuh perhatian dan berhati lembut. Diingatnya hari ulang tahun kami semua dengan seksama, sehingga ketika hampir tiba waktunya, ia menjadi
reminder kami.

Suatu hari hatinya robek. Kupingnya mendengar sesuatu yang kurang enak tentang dirinya. Dan sesuatu yang kurang enak itu justru datangnya dari orang-orang yang baru mengenalnya beberapa hari. Ia masih tersenyum ketika menceritakan hal itu padaku, tapi aku tahu hatinya terkoyak. Betapa menyakitkannya sebuah penghakiman tanpa alasan yang kuat. Ia memang pendiam. Ia memang tak banyak bicara. Barangkali ia bekerja lebih serius daripada kami sehingga wajahnya pun tak tampak ramah. Tapi ia salah seorang tersabar yang pernah kukenal. Sakit hatinya bukan main pada waktu itu, namun masih kulihat senyumnya bahkan kepada orang-orang yang sudah mengeluarkan pernyataan tak sedap tentang dirinya. Dua ibu jari.


Untuk mereka yang diperlakukan tidak adil tapi masih bisa tersenyum. Untuk mereka yang terhakimi dengan semena-mena tapi masih bisa tertawa. Untuk mereka yang hidupnya tidak jauh-jauh dengan penderitaan tapi masih bisa menikmati hari. Mereka-lah yang seharusnya diberikan hormat. Atas bagaimana mereka menjalani hidup mereka, bukan pada level apa posisi mereka.

Thursday, 12 March 2009
12.25 am

golput?

Sumpek melihat pemandangan kota Surabaya yang semakin tidak jelas dengan hadirnya wajah-wajah narsis our dearest caleg, saya jadi kepengen golput. Serius. Gimana enggak kepengen golput, tiap hari sepertinya wajah-wajah itu semakin bertambah dan semakin enggak jelas, mereka mau bawa rakyat ke arah mana. Di metro tv sendiri dibilang, katanya sebanyak 61% dari para caleg itu PENGANGGURAN. Ngapain saya milih orang pengangguran untuk jadi wakil saya di pemerintahan???

Ngomong-ngomong soal capres... kok banyak yang kepengen jadi presiden ya ternyata? Yang paling enggak masuk akal, sekarang pemilihan capres-cawapres masuk infotainment! Persaingan mereka sudah jadi panggung hiburan. Kawin-cerainya seleb kalah!

Jadi, enaknya golput nggak nih?

Wednesday, 4 March 2009
10:40 pm