RSS

blah blah blah


Awalnya cuma karena kepepet. Betul. Kepepet. Kalian tahu kan teori the power of kepepet? Teori ini sungguh ada, nyata dan berkuasa. Dan konon, lebih powerful daripada The Wizard of Oz atau bahkan  Voldemort himself.

Pernah suatu hari ada yang bertanya pada saya, saya lupa siapa. Begini dia tanya: “Bagaimana ceritanya kamu bisa bikin naskah panggung?” Jawaban saya enteng: “Kepepet. Nggak ada orang lain yang mau repot-repot bikin. Yang mau repot-repot bikin sudah minggat ke luar negeri.” Ini juga betulan, nggak bohong, dan nggak bermaksud merendah. Saya sudah cukup rendah (baca: pendek) tanpa perlu direndah-rendahkan. Waktu itu saya memang menulis karena kepepet.

Karena itu lah, ketika naskah panggung yang dibikin dengan menggunakan teori the power of kepepet ini dipentaskan, karakter-karakternya dihidupkan, dan para penonton mengapresiasi apa yang terjadi diatas panggung berikut dialog-dialognya, rasa bangga belum ada. Yang ada rasa senang sekaligus rasa haru. Biar saja orang bilang saya sungguh India, karena harus merasa terharu hanya gara-gara naskah bikinan hasil the power of kepepet tadi diproduksi. Memang itu kenyataannya. 

Kata orang, jika ada yang pertama, maka ada yang kedua, ketiga dan seterusnya. Itu pula yang terjadi pada saya. Saat naskah ketiga dan seterusnya dipertunjukkan, rasa senang berangsur-angsur bersembunyi – diganti dengan rasa bangga. Nah, seharusnya saya tahu, yang namanya rasa bangga alias kebanggaan ini kalau dibiarkan terus tumbuh bisa menjadi rasa sombong alias kesombongan. Bangga boleh, sombong tentu jangan. Kata nenek saya begitu sih. 

Saya nggak ingat juga sejak kapan saya mulai dicari pada saat orang-orang butuh naskah ‘custom’. Custom disini maksudnya ‘minta’. Minta naskah dengan tema ini. Minta naskah dengan jumlah pemain segini. Minta naskah untuk pentas dua puluh menit atau satu jam atau dua jam. Minta naskah kolosal, ada nyanyi-nyanyinya tapi jangan sulit-sulit, ada puisi-puisinya, ada ayat-ayat Alkitabnya, dan sebagainya dan sebagainya. Awalnya saya setres. Lha, dipikir mereka, saya ini super apa? Saya nggak nganggur, broow. Tapi ya itu, diakui atau tidak diakui, disadari atau tidak disadari, ternyata saya menikmati proses pembuatan naskah dan proses produksi naskah tersebut. Jadi, biarpun sambil nggerundel dan nggak yakin, saya terima saja permintaan mereka. 

Perhatikan ini: saya menulis tak lagi dengan the power of kepepet , sudah ada reaksi kimia disana. Semacam phenylethylamine  yang entah sejak kapan tinggal di dalem sini. Saya jatuh cinta dengan proses menulis. Jatuh cinta dengan proses berubahnya naskah menjadi satu produksi yang hidup di atas panggung. Dan orang yang jatuh cinta itu bermacam-macam bentuknya. Bentuk saya? Bergairah dan berusaha merendah, tapi wujud yang keluar barangkali adalah kebanggaan yang terlalu tinggi. Jauh lebih tinggi dari tinggi badan saya yang sebenarnya.

Mau ngomong kalau saya sombong aja kok susah amat ya. Iya, saya kok jadi sombong. Saya merasa pinter. Saya merasa super. Saya merasa saya harus selalu didengerin kalau proses produksi naskah saya sudah dimulai. Saya yang tadinya enggak pede ngomongin bagaimana cara bikin naskah panggung, mendadak jadi merasa yang ahli. Padahal apalah saya ini sih dibandingkan Arifin C. Noer, Nano Riantiarno, Agus Noor yang kemampuannya jauuuuhhh diatas saya itu? Yang sudah go international sejak lama. Diakui sana-sini sebagai  penulis. Lha saya? Yang mengakui saya penulis itu ya saya sendiri, dan suami saya kayaknya. Itu pun karena saya yang paksa suami. Suami bisa saya paksa dengan ancaman “Ntar malem tidur sendiri loh!” atau “Ntar malem posisinya nggak macem-macem loh!” atau… tuh kan saya jadi ngelantur.
Jadi ceritanya saya ini lagi berusaha keras. Gimana sih caranya supaya saya tetap serendah atau sependek fisik saya? Kenapa sulit untuk tetap merasa jadi orang biasa? Sulit untuk netral terhadap diri sendiri? Sulit untuk meletakkan ego, gengsi dan kebanggaan berlebih itu di bawah pantat saya?

Saya jadi penasaran, gimana ya si William Shakespeare kalau sekarang masih hidup dan melihat naskah The Twelfth Night dipentaskan berulang-ulang? Gimana ya rasanya si Victor Hugo melihat novel Les Miserable-nya jadi pertunjukan musikal panggung yang memenangkan 8 Tony Awards? Atau si Jonathan Larson yang nggak sempat mengalami kesuksesan Rent hasil karyanya karena keburu mati sebelum sukses dipentaskan di panggung Broadway?

Saya nggak mau ah mati dulu gara-gara diduduki kesombongan saya sendiri  sebelum melihat hasil karya saya dipentaskan di panggung besar minimal di Taman Ismail Marzuki. Tuh kan, sombong lagi. 

Ah, susahnya untuk tidak mengembangkempiskan hidung saat diapresiasi. Susahnya untuk stay cool saat dipuji. Susahnya untuk tidak sombong....




Curcol bla bla bla ini ditulis di sela-sela tugas revisi bikin SOP dan proposal kegiatan di kantor
Kamis, 25 September 2014
11:27 am

PS: Hati, tolong jangan berharap ‘like’ atau pujian yah… Plisss….

"Ada! Ibu rumah tangga!"

Sejak subuh tadi perempuan itu sibuk. Menjerang air. Menyiapkan sarapan. Mencuci baju. Belanja sayuran di depan rumah. Supaya tiap makhluk hidup yang tinggal serumah dengannya dapat memulai hari dengan tenang. Tak berapa lama suaminya bangun. Seperti biasa, ritual yang dilakukan adalah mandi, ganti baju kemudian sarapan. Setelah membaca surat kabar sebentar, sang suami berangkat. Itu berarti tinggal makhluk hidup satu lagi dalam rumah itu yang belum memulai harinya.

Si perempuan membuka pintu kamar si makhluk hidup satunya, yaitu anak laki-lakinya – seorang mahasiswa – dengan hati-hati. Sebab ia tahu semalam anaknya tidur lewat jam dua belas karena mengerjakan tugas kuliah. Lewat pukul sembilan pagi, setelah ia merapikan kamar tidurnya, dan anaknya belum juga bangun, ia bangunkan anaknya pelan-pelan karena ia tahu pukul sepuluh anaknya harus mengikuti kelas wajib.

Sambil menggerutu sedikit, tanpa ganti baju si anak mengambil sarapan paginya, membawanya ke ruang tengah dan makan sambil nonton siaran pagi. Selesai sarapan, si perempuan, ibunya bilang air hangatnya sudah siap di kamar mandi untuknya. Pukul sepuluh kurang sedikit, si anak sudah sampai di kelasnya siap untuk mengikuti kuliah.

Di rumah, ibunya menyiapkan makan siang untuk ia sendiri lalu mulai menyeterika baju, menyapu dan mengepel lantai rumah. Menginjak sore, sang ibu akhirnya punya waktu sejenak untuk diri sendiri. Diseduhnya teh dan dibacanya novel yang minggu lalu ia beli. Tak lama, si suami pulang dan selesai lah waktu untuk diri sendiri pada hari itu. Ia kembali menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, lantas menyiapkan makan malam.

Si anak baru pulang ke rumah setelah makan malam – sambil mengomel kanan kiri tentang dosen yang menyebalkan, tugas yang sulit, teman kuliah yang cerewet dan juga pacar yang cemburuan. Didengarkannya curhatan si  anak dengan sabar sambil menemaninya makan malam. Perempuan itu mengerti bahwa malam itu akan dilewati lagi oleh anaknya hingga larut untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum rampung.

Esoknya, rutinitas sang ibu tetap sama, namun anaknya bangun lebih pagi. Ia makan sarapannya dengan cepat dan buru-buru berangkat kuliah. Pagi itu, si anak ada janji kerja kelompok bersama teman-teman sekelasnya.

Di kampus, selesai kerja kelompok, mereka ngobrol ngalor ngidul – mengeluhkan pekerjaan apa yang akan dilakukan selepas lulus nanti. Ada yang bilang kalau ia pernah ditawari kerja di bank, tapi ngeri dengan targetnya yang berbunyi satu setengah em. Ada juga yang menyahut lebih ngeri lagi kalau dapat kerja yang waktunya shift-shift­an - kapan pacarannya coba? Lantas mereka berpikir: Memang ada pekerjaan yang gampang? Yang nggak pake target?

Si anak laki-laki tadi, sambil makan bekal yang disiapkan oleh ibunya, berucap dengan lantang: “Ada! Ibu rumah tangga!”

Sementara di rumahnya, sang ibu sedang memasak makanan kesukaan anaknya untuk makan malamnya nanti karena ia tahu anaknya baru melewati dua malam yang melelahkan.

Thursday, 20 March 2014
4:45 pm
   

tepok jidat

Di sebuah mini market, seorang ibu muda marah-marah. Ia baru saja membeli beberapa barang disitu, dan ketika ia membayar, penjaga kasir memberinya kembalian permen dua biji. Padahal jika membaca struk yang ia terima, ia seharusnya mendapatkan kembalian sebesar empat ratus rupiah. Ini sudah kedua kalinya dalam minggu ini.

"Dua hari yang lalu saya kemari, saya juga dapat kembalian permen. Kalau permen-permen yang saya dapatkan dari sini saya kumpulkan, saya bila beli satu bungkus mie instan. Gimana? Bisa nggak saya beli satu bungkus mie instan pakai permen yang kalian beri?" tanyanya sewot. Si kasir, seorang trainee yang baru masuk hari itu hanya bisa menggelengkan kepala. Wajahnya pucat, tak menyangka di hari pertama ia masuk kerja sudah kena semprot pembeli.

"Ini bentuk lain dari korupsi!" kata si ibu muda itu tadi. "Yang nilainya kecil macam begini saja kalian lakukan, apalagi kalau ditawari yang besar! Saya laporin KPK baru tahu rasa!" Dan setelah puas mengomeli si trainee tadi, ibu muda itu pulang ke rumah.

Di rumah, suaminya sedang membaca surat kabar sambil menggerutu. "Negara ini sudah edan. Pejabat-pejabat yang digaji pakai uang pajak kita itu isinya kok koruptor semua. Wakil rakyat mbahe dewe! Ditawari Toyota Alphard satu biji plus duit bunyinya M langsung takluk. Ora nduwe udel! Mereka nggak takut karma apa? Disiksa setan di neraka? Mantan putri kecantikan ketemon korupsi! Menteri ketemon korupsi! Petinggi partai besar korupsi! Sampai orang hukum tertinggi pun korupsi! Edan! Bau uang sudah bikin mereka mabuk kepayang!"

Gerutuan sang suami disambut oleh sang istri, si ibu muda tadi yang baru marah-marah di mini market perkara uang seribu seratus tujuh puluh lima yang dikorupsi oleh pemilik mini market. Mereka berdua sepakat negara ini isinya kebanyakan oportunis yang buta dengan kekuasaan dan semerbak bau uang bergepok-gepok. Nilainya tak lagi ratusan, bahkan sudah M sampai T. Ratusan sih untuk mereka di level lele! Level hiu kayak mereka kurang jika dapat ratusan saja.

Dan pada akhirnya, mereka menyimpulkan: "Kasihan bukan kepalang KPK itu. Tugas mereka banyak dan berat…." Mereka - suami istri itu – lantas mendesah bersama-sama.

Sementara itu, trainee bagian kasir di mini market tadi termenung-menung teringat si ibu yang marah-marah padanya perkara kembalian sebesar uang empat ratus lima puluh rupiah. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu, dan mengantar anaknya yang kelas 1 SD ke sebuah mall untuk mengikuti lomba mewarnai. Jika anaknya menang, lumayan ada hadiah uang tunai yang bisa ditabung untuk membelikan anaknya tas baru.

"Tidak boleh dibantu orang tuanya ya," kata si petugas sambil menyerahkan kertas gambar untuk diwarnai anaknya setelah ia membayar uang pendaftaran.

Saat ia sedang menunggui anaknya mewarnai gambar dengan seriusnya, ia melihat beberapa orang tua lain kasak kusuk sambil menunjuk-nunjuk. Rupanya ada salah satu peserta lomba yang didampingi kedua orang tuanya, dan orang tuanya ikut mewarnai kertas bergambar milik anaknya. Beberapa sudah lapor pada petugas dan ia sendiri melihat petugas itu mencatat sesuatu di kertas yang ia pegang, jadi ia berasumsi peserta itu akan didiskualifikasi - atau paling tidak, tidak dinilai.

Tibalah mereka di akhir acara, yaitu pengumuman para pemenang lomba mewarnai. Satu per satu MC menyebutkan berurutan pemenang dari juara harapan tiga hingga juara satu. Saat nama pemenang juara satu disebut, para orang tua yang tadi kasak kusuk kembali heboh. Rupanya pemenangnya justru peserta yang orang tuanya ikut nimbrung mewarnai sehingga hasilnya memang jauh lebih bagus, rapi dan bersih dibandingkan dengan peserta lainnya – yang sebenarnya jika para panitia menggunakan akal sehat mereka, agak mustahil hasil pewarnaan serapi dan sebersih itu dilakukan oleh anak kelas 1 SD.

Namun, tak ada yang lebih mengejutkan bagi si trainee itu, selain kenyataan bahwa ia sudah pernah bertemu dengan sang ibu dari peserta juara 1. Itu ibu yang pernah marah-marah padanya perkara uang empat ratus lima puluh rupiah dan menudingnya melakukan korupsi. Punahlah sudah kesempatan untuk beli tas baru buat anaknya.

Saya? Saya yang mengamati kisah ini cuma bisa getun bin gumun. Atau niru bapak presiden deh: saya prihatin. Dan saya sama sekali nggak berminat berempati menjadi ketua atau wakil ketua 1 atau wakil ketua 2 atau posisi apapun di KPK. Kerjaannya terlalu berat untuk ikut dirasakan. It's a never ending job, kayak kerjaan nyuci piring dan nyuci baju. Lha wong generasi penerusnya saja sudah diajarin seperti itu sejak kecil. 

Lebih baik saya wara-wiri di media sosial aja deh, sambil tepok jidat dan nulis di blog.

Negeri ini memang lucu.


Sunday, 2 February 2014
9.45 pm

Based on true story. 

Gambar diambil dari sini.