RSS

kuku-kukuku

Kalau kau sungguh ingin tahu seberapa serius kujalani hidupku, lihatlah kuku-kukuku. Namun yang perlu kau ketahui sebelum melihat kuku-kukuku adalah semakin serius yang kuhadapi, semakin jelek pula kuku-kukuku. Terkadang bahkan sudah tak bisa lagi dibedakan mana kuku dan mana dagingnya, saking tipis kukus yang kumiliki. Pernah, aku menggigiti kukuku sedemikian rupa sehingga sisi kuku yang kugigiti itu bengkak dan harus kujalani operasi kecil-kecilan karena 

Jadi, sudah kau lihat kuku-kukuku? Kalau kau lihat mereka jelek, tahu kan seberapa serius kupandangi dan kujalani hidupku?

Aku selalu menggigiti kukuku setiap kali aku berpikir. Padahal kata Descartes: kau harus berpikir dulu supaya kau ada. Sebab itu untuk selalu ada, aku harus mengorbankan kuku-kukuku.

Baru-baru ini aku terpaksa menutup ujung jari tengahku dengan plester. Bukan apa-apa, tapi ini demi melindungi eksistensi kuku-kukuku supaya tetap pada tempatnya. Beberapa kali, apabila tak tahan, kubuka plesternya dan kugigiti kembali kukuku itu sampai tipis dan tinggal seperempat. Ada kenikmatan tersendiri atas nyeri yang datang akibat apa yang kulakukan itu.

Jorok? Barangkali. Tapi apa boleh buat. Seorang kenalan sudah membuatku gelisah. Dan buatku, gelisah sama dengan berpikir, yang berarti juga lagi-lagi mengorbankan kuku-kukuku yang sebenarnya sudah tak layak lagi disebut kuku.

Begini.

Beberapa waktu yang lalu, seseorang berucap begini dihadapanku: “Saya menghayati rumah adalah tempat kita bisa tampil apa adanya.”

Satu detik setelah aku mendengar kalimat ini, kuku-kukuku gatal tak terkira. Dan makin gencar kugigiti mereka. Aku gelisah sebab buatku ucapannya sungguh omong kosong. Dan omong kosong ini ia ucapkan di depan banyak orang yang mengangguk-angguk  aja seperti burung perkutut mendengarkannya. Iya, aku tidak sedang salah bicara. Buat aku, tampil apa adanya itu omong kosong. Di rumah. Di sekolah. Di kantor. Di tempat umum. Dimanapun. Omong kosong.

Tahu apa lagi yang omong kosong? Frasa “be yourself” atau “jadilah dirimu sendiri”. Itu frasa paling absurd yang pernah kudengar di muka bumi ini. Frasa terabsurd nomor dua jatuh pada “Behind every successful man, there is a great woman” alias “Dibalik kesuksesan para pria, ada wanita yang hebat”. Namun, lain kali sajalah kuceritakan alasan mengapa kubilang frasa ini kunobatkan menjadi frasa terabsurd nomor dua.

“Tapi, bukannya kalimat ‘jadilah dirimu sendiri’ itu bagus?” kilah kawanku. “Hidup terlalu singkat untuk jadi orang lain, Sis!”

Sumpah, aku benci dipanggil ‘sis’ sementara namaku sama sekali tidak mengandung suku kata itu. Mendekatinya pun tidak. Dan saat ini yang paling ingin kulakukan adalah memukul muka kawanku itu keras-keras dan menampar kedua pipinya. Sebab, mulutnya saja yang bilang “jadilah dirimu sendiri” tapi kalau aku berbusana sesuai dengan seleraku, mulutnya juga yang paling pertama celometan alias berceloteh dan mengomentari apa yang kupakai mulai dari ubun-ubun sampai jari kakiku. Ujung-ujungnya dia menyarankan gaya berbusana yang lebih menarik, lebih kekinian , lebih sopan. Menurut dia.

“Jadilah dirimu sendiri”? Omong kosong.

Seumur hidupku, aku tak pernah merasakan benar-benar jadi diri sendiri. Aku yakin kau juga. Seyakin aku pada eksistensi pelangi dan salib Yesus.

Aku tak heran kalau kau saat ini mulai bertanya-tanya: “Kok bisa?”

Coba pikir. Aku sudah. Kuku-kukuku buktinya. Dulu waktu aku kecil, seandainya aku bisa menjadi aku apa adanya, aku mungkin malas berangkat sekolah, malas mandi, malas tidur karena acara tivi makin malam makin menarik, juga malas belajar. Aku akan lebih memilih memakai jeans setiap hari ketimbang mengenakan rok berbunga-bunga yang selalu dibelikan ibuku. Tapi kenyataannya tidak. Tiap pagi, ibuku harus menyeret aku dari tempat tidurku untuk mandi supaya aku tidak terlambat masuk sekolah. Dan itu semua terjadi di dalam rumah.

Iya. Rumah. Yang dihayati oleh seseorang sebagai tempat kita semua tampil apa adanya.

“Tapi kelak nanti kalau kau kawin, tentu kau akan kawin dengan seseorang  yang menerimamu apa adanya bukan?” tukas kawanku lagi. Belum kapok juga dia.

“Kau mau kawin dengan seseorang yang menerimamu apa adanya?” tanyaku padanya.

“Pasti dong!” jawabnya tegas.

“Aku ogah,” balasku tak kalah tegasnya.

“Kenapa?”

Untunglah dia bertanya 'kenapa', dan bukannya 'siapa yang tanya'. Dan semoga setelah ini, ia tidak hidup dengan cara pandang lagu-lagu cinta jaman dulu. Tahu kan? George Benson. Billy Joel. Barry White. Ah, sudahlah.

“Kalau aku kawin supaya orang menerima aku apa adanya, aku nggak akan kemana-mana! Aku nggak akan jadi lebih baik! Aku perlu dituntut untuk mengubah sesuatu yang perlu kuubah! Kalau hanya begini-begini saja, ngapain aku kawin? Buang-buang energi saja!”

Dan kawanku pun diam.

Aku sendiri jadi ingat lagunya Tulus.

“Tapi,” kata kawanku lagi, “masa di rumah kita sendiri kelak kalau sudah kawin pun tidak bisa apa adanya?”

Tidak bisa, kawan. Seumur hidup kita tidak akan pernah bisa apa adanya. Dengan siapapun. Dimanapun. Yang kau kira apa adanya, seperti baju-baju yang kau pakai dan pasanganmu tidak protes akan apa yang kau pakai, bukan karena kau tampil apa adanya, tapi pasanganmu menghargai seleramu meskipun barangkali matanya sepet lihat kau pakai kaos berlubang dimana-mana di rumah. Kalau pasanganmu tidak protes dengan apa yang kau pakai meskipun ia tidak suka, bolehkah kukatakan padamu, kau mungkin sedang tampil apa adanya, pasanganmu tidak. Apakah itu adil? Kau tampil apa adanya sementara pasanganmu tidak?

Tidak bisa, kawan. Kalau kau tampil apa adanya di rumah, setiap saat kau ingin marah-marah dan melontarkan cacian pada pasanganmu, kau akan lakukan. Tapi kalau kau tidak lakukan, itu karena kau menghargai pasanganmu. Apa kau masih bisa apa adanya kalau kau orang yang sangat berantakan dan tak peduli barang-barangmu ada dimana sementara pasanganmu gerah jika ada satu baju saja berceceran di lantai? Kau harapkan dirimu apa adanya. Iya. Dengan pengorbanan pasanganmu.

Jadi, omong kosong kau bisa selalu tampil apa adanya di rumah. Apalagi setelah menikah. Yang ada, kau dan pasanganmu saling menyesuaikan.

Kawanku diam. Ia mulai memandang kuku-kukunya. Barangkali ia sedang berpikir. Entahlah.

Namun yang saat ini sungguh ingin kulakukan adalah melemparkan potongan-potongan kukuku pada kenalanku yang sudah menciptakan kegelisahan berhari-hari. Atas omongkosongnya tentang kebisaan selalu tampil apa adanya di rumah sendiri.

Kuku-kukuku, kisah kita belum selesai.

Kuambil plester lagi. Untuk menutup salah satu ujung kukuku. Sebelum darahnya kembali mengucur. Kali ini korbannya kuku jari manisku. Ukurannya tak kurang dari seperempat.




Surabaya, 20-21 Oktober 2015
10.05 pm – 09.56 am


Gambar diambil dari sini

secangkir kopi bersama ayah

SECANGKIR KOPI BERSAMA AYAH

Aku menyeruput kopi pahit itu perlahan, sambil menahan rasa tidak enak di ujung lidahku. Belum lagi butiran-butiran kopi yang belum mengendap di dasar cangkir, ikut nangkring disitu. Kalau tidak sedang bersama Ayah, aku takkan mau minum kopi pahit kesukaannya. Buatku, cappuccinolatte atau sekedar kopi susu masih jauh lebih nikmat ketimbang secangkir kopi hitam di tanganku ini.
"Ndak suka kok maksa," gerutu Ayah melihatku meringis-ringis. "Memangnya Ayah suka memaksa keinginan Ayah ya?" 
Aku menggeleng perlahan. Ayah memang jarang memaksa. Ibu yang lebih sering memaksa, karena itu aku lebih punya banyak rahasia dengan Ayah ketimbang dengan Ibu. Sama seperti ketika aku menyatakan keinginan kuliah di kota yang ratusan kilometer jauhnya dari kampung halamanku ini. Sepuluh jam perjalanan darat, enam jam perjalanan di atas rel dan tak ada penerbangan udara yang langsung dari kota kelahiranku ini ke kota yang ingin kutuju.
Ibu membujuk-bujukku supaya memilih untuk kuliah di kota yang lebih dekat, tapi ia lupa kalau kekeraskepalaanku ini aku warisi darinya. Maka, Ayah turun tangan. Biarkan saja, kata Ayah waktu itu. Biarpun perempuan, kata Ayah, aku tidak manja seperti anak-anak perempuan lainnya. Bahkan menurutnya juga, aku ini setengah laki-laki. Barangkali karena itu Ibu suka sekali memaksaku mengenakan baju-baju berenda, agar setengahku yang laki-laki ini tidak kelihatan dan supaya laki-laki yang sebenarnya tidak terlalu takut mendekatiku. Aku sendiri cuma mencibir malas kalau Ibu sudah mulai bersabda tentang apa yang seharusnya ada pada anak laki-laki dan apa yang seharusnya ada pada anak perempuan.
"Masih mendengarkan Backstreet Boys?" tanya Ayah.
Aku tergelak, karena Ayah masih mengingat betapa aku dulu sangat tergila-gila pada grup boyband itu sampai-sampai harus berebut tivi dengan adikku yang ingin nonton Ksatria Baja Hitam. "Tidak, Ayah," jawabku. 
"Boyzone? Westlife? 911? Hanson?" desaknya lagi. 
Aku kembali terkekeh. Mengingat masa-masa aku merengek padanya untuk dibelikan kaset-kaset grup band tersebut meskipun Ibu melarang atas nama pemborosan. "Ayah, aku berhenti menyukai Boyzone sejak masuk kuliah. 911 sudah bubar, cowok-cowok Hanson sudah menikah dan Westlife...." Aku mendesah. "Berapa kali aku harus bilang pada Ayah kalau aku tak pernah suka Westlife?"
"Tapi, Ayah melihat CD itu di rumah," kilah Ayah tak mau kalah. "Siapa lagi kalau bukan punyamu?"
Sambil menyembunyikan senyum geli, aku tolah-toleh, seperti kebiasaan kami kalau hendak berbagi rahasia, Ayah memberikan telinganya mendekat. "Nenek yang beli, Yah! Kata Nenek, Shane yang penyanyi utamanya Weslife itu selain suaranya bagus, wajahnya juga ganteng!" Kami terbahak-bahak bersama. 
Kuseruput lagi kopi hitamku, dan kulihat Ayah meneguk ludahnya - tanda bahwa ia kepengen tapi berusaha menahan diri. 
"Ayah mau?" Kusodorkan kopiku.
Ayah menggeleng, sambil tersenyum sedih. "Nanti Ibumu mengomel."
Aku menundukkan kepala – menekuri beberapa butiran kopi yang masih mengambang di permukaan. “Maaf ya, Ayah.”
“Untuk?”
“Aku tidak ada saat Ayah di rumah sakit.”
Ayah mendengus. “Kamu baru masuk kerja. Ayah mengerti.”
Hening sejenak, aku masih saja tertunduk.
“Ayah….” “Kamu….”
Kami berpandangan. Mata Ayah berkilat-kilat jenaka. Aku juga mulai tertawa.
“Ayah dulu.” “Kamu dulu.”
Kami terkekeh bersama.
“Aku punya kabar gembira untuk Ayah,” kataku akhirnya setelah Ayah memaksa aku ngomong duluan.
“Oya? Apa itu?”
“Para pria sekarang sudah bisa pakai celana ketat diatas tumit, Yah! Berwarna-warni pula!”
Ayah mendengus. “Mana mungkin!”
Aku berkilah tak mau kalah karena pada kenyataannya para lelaki muda gaul yang sering kulihat di Mall akhir-akhir ini memang seperti itu. Sangat mengingatkanku pada Ayah yang pernah membalas protesku tentang apa yang boleh bagi perempuan dan apa yang boleh bagi laki-laki.
“Jadi perempuan itu enak juga lho.” Begitu kata Ayah pada waktu itu. Pada waktu aku sedang protes kenapa adik laki-lakiku diijinkan membawa sepeda motor saat kuliah di luar kota, sementara aku tidak.
“Apa enaknya?” tanyaku ketus pada waktu itu.
“Perempuan bisa pakai celana diatas tumit, ketat dan berwarna-warni. Coba kamu bayangkan kalau kami para laki-laki ini mengenakan yang serupa? Apa kata dunia?”
Aku protes lagi, tidak terima dengan pernyataan Ayah tentang keuntungan perempuan hanya berkisar tentang busana dan cara berpakaian.
“Jadi kata dunia akhir-akhir ini tentang laki-laki bercelana ketat diatas tumit dan berwarna-warni itu apa?” tanya Ayah ingin tahu.
Aku tertawa lagi. “Ya dunia nggak ngomong apa-apa. Dunia menerima mereka apa adanya. Be yourself, kata mereka.”
“Jangan ngomong pakai bahasa linggis. Kamu tahu Ayah susah ngertinya,” gerutu Ayah, seperti biasa kalau aku mulai menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris untuk menjelaskan tugas-tugas kantorku pada beliau.
“Artinya: jadi dirimu sendiri. Gitu, Yah. Lagipula sekarang kan katanya zamannya demokrasi, Yah. Sudah nggak ada lagi itu pemerintah yang terlalu paranoid sama orang-orang tertentu.”
“Masa? Apa buktinya?”
“Ya sekarang banyak kritik bisa dilayangkan ke pemerintah tanpa perlu khawatir leher mereka digorok dan hilang tiba-tiba. Padahal kadang-kadang kritiknya kayak ditulis tanpa mikir dulu. Tanpa bukti-bukti yang akurat. Tanpa data-data pula. Parahnya dipercaya lagi sama orang-orang.”
Ayah termenung-menung. “Apakah itu jadi lebih baik?”
“Baiknya ya makin banyak yang bisa mengekspresikan pendapat dan pemikiran mereka, Ayah.”
“Walaupun pendapat dan pemikiran mereka sembrono dan terdengar bodoh?” tanya Ayah lagi.
Aku terdiam dan mengingat-ingat kapan terakhir kali kami ngobrol tentang politik. Sepertinya sudah lama sekali.
“Tapi sekarang aspirasi perempuan juga mulai banyak ditampung, Ayah. Perempuan sekarang pekerjaannya nggak melulu urusan dapur dan rumah tangga saja!” kilahku.
“Iya, seperti kamu kan? Ndak bisa masak, ndak bisa menjahit, lebih sering pakai celana….”
“Memangnya salah ya perempuan nggak bisa masak, nggak bisa menjahit dan lebih sering pakai celana?”
 “Bagaimana dengan Andi?” tanya Ayah akhirnya, mengalihkan pembicaraan mendengar aku terus membantah. “Dia sering bikin kamu marah-marah tidak? Atau malah bikin kamu nangis?” Pertanyaan terakhir diajukan dengan nada agak tajam.
Kali ini aku yang mendengus. “Ayah sudah menanyakan ini – kira-kira err.. seratus kali?”
“Ck. Baru dua kali.”
“Seratus.”
“Dua kali!”
“Dua ratus!”
Ayah ingin menjawabku kembali namun tidak jadi.

Aku meringis, lalu balik bertanya: “Memangnya Ayah nggak pernah bikin Ibu menangis? Nggak pernah bikin Ibu marah-marah?”
“Makin dewasa kok mulutmu makin pinter membantah segala omongan Ayah,” gerutu Ayah lagi. “Makin mirip Ibumu juga.”
“Ayah juga tanya yang aneh-aneh. Dari dulu kalau soal Andi, kenapa sih Ayah selalu suka tanya yang aneh-aneh? Ehm…, ralat, nggak cuma Andi sih, waktu aku masih sama Domi, Ayah juga tingkahnya aneh-aneh. Terus….”
“Ah itu cuma perasaanmu saja,” gerutu Ayah. “Ayah memang ndak ngerti, kenapa kamu mau sama laki-laki yang ndak suka dengerin musik yang kamu dengerin. Katamu, Andi bahkan ndak tahu Backstreet Boys itu siapa. Itu kan keterlaluan! Lha seumur Ayah saja tahu kok kalau Nick Carter yang paling banyak fans-nya diantara mereka berlima!”
“Ayah tahu itu juga dari aku.” Aku terkekeh.
“Selamat sore, Non.” Sapaan itu datangnya dari seorang bapak yang barangkali lebih tua sedikit dari Ayah. Gigi depannya tanggal satu, sisanya kuning kehitaman, kulitnya legam. “Tumben sendirian, Non. Pacarnya mana?”
“Iya,” sahut Ayah seperti mengingat sesuatu. “Mana Andi?”
Aku nyengir lagi. “Pacar saya lagi ada perlu, Pak Di. Nanti saya yang jemput sekalian jalan pulang.”
Yang dipanggil Pak Di mengangguk-angguk. “Ini tiap minggu pasti saya bersihin lho, Non! Ora tau[1] absen! Ora ngapusi[2]! “
“Iya, Pak Di. Matur nuwun sanget[3].”
Tak lama bapak itu pergi sambil tersenyum-senyum penuh arti.
“Dia bohong. Mana ada tiap minggu dibersihin. Yang ada dia duduk-duduk aja kerjaannya sambil ngerokok,” gerutu Ayah lagi. “Dan…Ayah baru tahu sekarang kamu bahkan nyetir mobil sendiri. Iya? Dulu Ayah yang selalu jemput Ibumu, bukan sebaliknya! Laki-laki ndak boleh manja…!”
“Perempuan juga nggak boleh manja, Ayah,” potongku. “Perempuan juga harus mandiri. Dan aku senang Andi tidak melarangku nyetir mobil sendiri. Naik sepeda motor sendiri….”
“Tidak bisa! Bahaya! Kamu selalu sembrono kalau di jalan! Berapa kali kamu hampir nabrak tukang becak, tukang parkir, sampai tukang bakso juga kamu tabrak…!”
“Ayah, itu kan waktu aku masih SMP. Sekarang aku sudah dewasa. Lagipula kalau nantinya Andi sudah nggak bisa… ehm, maksudku kalau Andi lagi sibuk kan aku nggak perlu nunggu Andi untuk bisa pergi kemana-mana.”
Ayah terdiam. “Maksudmu kalau nantinya Andi sudah ndak bisa anterin kamu kemana-mana ya? Seperti Ayah sekarang ini? Ndak bisa antar Ibu. Ndak bisa antar kamu. Ndak bisa melihatmu mengucapkan sumpah di depan altar….”
Air mataku mulai menetes sambil memain-mainkan pinggiran cangkir berisi kopi Toraja Mamali yang dari tadi kuminum – kopi terakhir yang kubelikan sebagai oleh-oleh untuk Ayah. “Aku selalu rindu dikhawatirkan Ayah.”
Kali ini Ayah diam saja.
“Minggu depan, Ayah. Akan kuucapkan sumpah itu minggu depan. Dan aku yakin Ayah bisa melihatku maju ke depan altar dari tempat Ayah sekarang.”
Ayah masih diam.
Air mataku mulai menetes. “Aku juga yakin, Andi kuat seperti Ayah. Sabar seperti Ayah. Melindungi keluarganya seperti Ayah….”
“Say….”
Aku menoleh. Andi, laki-laki yang kupilih untuk menjadi tua bersama mulai minggu depan, membuyarkan percakapanku dengan Ayah. Ia meletakkan tangannya di atas bahuku.
“Sudah selesai?” tanyanya.
Aku melirik kopi hitam itu yang cuma mampu kuhabiskan setengahnya. “Sudah. Kok kamu disini? Nggak tunggu aku jemput?”
“Om Benny memaksa mengantarku. Katanya sekalian keluar dan lewat.”
Aku mengangguk. Kuusap tanah berumput yang pinggirannya sudah ditutup dengan bebatuan.
“Aku pulang dulu, Ayah.”
Ayah masih diam saja.
Aku meletakkan secangkir kopi yang sedari tadi kuminum perlahan-lahan sambil ngobrol dengan Ayah di depan batu bertuliskan namanya. Bersama dengan enam cangkir lainnya. Kubaca sekali lagi tulisan disitu sebelum beranjak pergi.
R I P
INDRA SUSANTO
1958 – 2009
Rasanya baru kemarin ia memelukku, mengkhawatirkanku, mengomeliku sambil minum kopi  – dan bukannya tujuh tahun yang lalu.



Direvisi dan dimodifikasi pada 9 Agustus 2016
oleh: Jessie M.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com.




[1] Tidak pernah.
[2] Tidak bohong.
[3] Terima kasih sekali.