RSS

secangkir kopi bersama ayah

SECANGKIR KOPI BERSAMA AYAH

Aku menyeruput kopi pahit itu perlahan, sambil menahan rasa tidak enak di ujung lidahku. Belum lagi butiran-butiran kopi yang belum mengendap di dasar cangkir, ikut nangkring disitu. Kalau tidak sedang bersama Ayah, aku takkan mau minum kopi pahit kesukaannya. Buatku, cappuccinolatte atau sekedar kopi susu masih jauh lebih nikmat ketimbang secangkir kopi hitam di tanganku ini.
"Ndak suka kok maksa," gerutu Ayah melihatku meringis-ringis. "Memangnya Ayah suka memaksa keinginan Ayah ya?" 
Aku menggeleng perlahan. Ayah memang jarang memaksa. Ibu yang lebih sering memaksa, karena itu aku lebih punya banyak rahasia dengan Ayah ketimbang dengan Ibu. Sama seperti ketika aku menyatakan keinginan kuliah di kota yang ratusan kilometer jauhnya dari kampung halamanku ini. Sepuluh jam perjalanan darat, enam jam perjalanan di atas rel dan tak ada penerbangan udara yang langsung dari kota kelahiranku ini ke kota yang ingin kutuju.
Ibu membujuk-bujukku supaya memilih untuk kuliah di kota yang lebih dekat, tapi ia lupa kalau kekeraskepalaanku ini aku warisi darinya. Maka, Ayah turun tangan. Biarkan saja, kata Ayah waktu itu. Biarpun perempuan, kata Ayah, aku tidak manja seperti anak-anak perempuan lainnya. Bahkan menurutnya juga, aku ini setengah laki-laki. Barangkali karena itu Ibu suka sekali memaksaku mengenakan baju-baju berenda, agar setengahku yang laki-laki ini tidak kelihatan dan supaya laki-laki yang sebenarnya tidak terlalu takut mendekatiku. Aku sendiri cuma mencibir malas kalau Ibu sudah mulai bersabda tentang apa yang seharusnya ada pada anak laki-laki dan apa yang seharusnya ada pada anak perempuan.
"Masih mendengarkan Backstreet Boys?" tanya Ayah.
Aku tergelak, karena Ayah masih mengingat betapa aku dulu sangat tergila-gila pada grup boyband itu sampai-sampai harus berebut tivi dengan adikku yang ingin nonton Ksatria Baja Hitam. "Tidak, Ayah," jawabku. 
"Boyzone? Westlife? 911? Hanson?" desaknya lagi. 
Aku kembali terkekeh. Mengingat masa-masa aku merengek padanya untuk dibelikan kaset-kaset grup band tersebut meskipun Ibu melarang atas nama pemborosan. "Ayah, aku berhenti menyukai Boyzone sejak masuk kuliah. 911 sudah bubar, cowok-cowok Hanson sudah menikah dan Westlife...." Aku mendesah. "Berapa kali aku harus bilang pada Ayah kalau aku tak pernah suka Westlife?"
"Tapi, Ayah melihat CD itu di rumah," kilah Ayah tak mau kalah. "Siapa lagi kalau bukan punyamu?"
Sambil menyembunyikan senyum geli, aku tolah-toleh, seperti kebiasaan kami kalau hendak berbagi rahasia, Ayah memberikan telinganya mendekat. "Nenek yang beli, Yah! Kata Nenek, Shane yang penyanyi utamanya Weslife itu selain suaranya bagus, wajahnya juga ganteng!" Kami terbahak-bahak bersama. 
Kuseruput lagi kopi hitamku, dan kulihat Ayah meneguk ludahnya - tanda bahwa ia kepengen tapi berusaha menahan diri. 
"Ayah mau?" Kusodorkan kopiku.
Ayah menggeleng, sambil tersenyum sedih. "Nanti Ibumu mengomel."
Aku menundukkan kepala – menekuri beberapa butiran kopi yang masih mengambang di permukaan. “Maaf ya, Ayah.”
“Untuk?”
“Aku tidak ada saat Ayah di rumah sakit.”
Ayah mendengus. “Kamu baru masuk kerja. Ayah mengerti.”
Hening sejenak, aku masih saja tertunduk.
“Ayah….” “Kamu….”
Kami berpandangan. Mata Ayah berkilat-kilat jenaka. Aku juga mulai tertawa.
“Ayah dulu.” “Kamu dulu.”
Kami terkekeh bersama.
“Aku punya kabar gembira untuk Ayah,” kataku akhirnya setelah Ayah memaksa aku ngomong duluan.
“Oya? Apa itu?”
“Para pria sekarang sudah bisa pakai celana ketat diatas tumit, Yah! Berwarna-warni pula!”
Ayah mendengus. “Mana mungkin!”
Aku berkilah tak mau kalah karena pada kenyataannya para lelaki muda gaul yang sering kulihat di Mall akhir-akhir ini memang seperti itu. Sangat mengingatkanku pada Ayah yang pernah membalas protesku tentang apa yang boleh bagi perempuan dan apa yang boleh bagi laki-laki.
“Jadi perempuan itu enak juga lho.” Begitu kata Ayah pada waktu itu. Pada waktu aku sedang protes kenapa adik laki-lakiku diijinkan membawa sepeda motor saat kuliah di luar kota, sementara aku tidak.
“Apa enaknya?” tanyaku ketus pada waktu itu.
“Perempuan bisa pakai celana diatas tumit, ketat dan berwarna-warni. Coba kamu bayangkan kalau kami para laki-laki ini mengenakan yang serupa? Apa kata dunia?”
Aku protes lagi, tidak terima dengan pernyataan Ayah tentang keuntungan perempuan hanya berkisar tentang busana dan cara berpakaian.
“Jadi kata dunia akhir-akhir ini tentang laki-laki bercelana ketat diatas tumit dan berwarna-warni itu apa?” tanya Ayah ingin tahu.
Aku tertawa lagi. “Ya dunia nggak ngomong apa-apa. Dunia menerima mereka apa adanya. Be yourself, kata mereka.”
“Jangan ngomong pakai bahasa linggis. Kamu tahu Ayah susah ngertinya,” gerutu Ayah, seperti biasa kalau aku mulai menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris untuk menjelaskan tugas-tugas kantorku pada beliau.
“Artinya: jadi dirimu sendiri. Gitu, Yah. Lagipula sekarang kan katanya zamannya demokrasi, Yah. Sudah nggak ada lagi itu pemerintah yang terlalu paranoid sama orang-orang tertentu.”
“Masa? Apa buktinya?”
“Ya sekarang banyak kritik bisa dilayangkan ke pemerintah tanpa perlu khawatir leher mereka digorok dan hilang tiba-tiba. Padahal kadang-kadang kritiknya kayak ditulis tanpa mikir dulu. Tanpa bukti-bukti yang akurat. Tanpa data-data pula. Parahnya dipercaya lagi sama orang-orang.”
Ayah termenung-menung. “Apakah itu jadi lebih baik?”
“Baiknya ya makin banyak yang bisa mengekspresikan pendapat dan pemikiran mereka, Ayah.”
“Walaupun pendapat dan pemikiran mereka sembrono dan terdengar bodoh?” tanya Ayah lagi.
Aku terdiam dan mengingat-ingat kapan terakhir kali kami ngobrol tentang politik. Sepertinya sudah lama sekali.
“Tapi sekarang aspirasi perempuan juga mulai banyak ditampung, Ayah. Perempuan sekarang pekerjaannya nggak melulu urusan dapur dan rumah tangga saja!” kilahku.
“Iya, seperti kamu kan? Ndak bisa masak, ndak bisa menjahit, lebih sering pakai celana….”
“Memangnya salah ya perempuan nggak bisa masak, nggak bisa menjahit dan lebih sering pakai celana?”
 “Bagaimana dengan Andi?” tanya Ayah akhirnya, mengalihkan pembicaraan mendengar aku terus membantah. “Dia sering bikin kamu marah-marah tidak? Atau malah bikin kamu nangis?” Pertanyaan terakhir diajukan dengan nada agak tajam.
Kali ini aku yang mendengus. “Ayah sudah menanyakan ini – kira-kira err.. seratus kali?”
“Ck. Baru dua kali.”
“Seratus.”
“Dua kali!”
“Dua ratus!”
Ayah ingin menjawabku kembali namun tidak jadi.

Aku meringis, lalu balik bertanya: “Memangnya Ayah nggak pernah bikin Ibu menangis? Nggak pernah bikin Ibu marah-marah?”
“Makin dewasa kok mulutmu makin pinter membantah segala omongan Ayah,” gerutu Ayah lagi. “Makin mirip Ibumu juga.”
“Ayah juga tanya yang aneh-aneh. Dari dulu kalau soal Andi, kenapa sih Ayah selalu suka tanya yang aneh-aneh? Ehm…, ralat, nggak cuma Andi sih, waktu aku masih sama Domi, Ayah juga tingkahnya aneh-aneh. Terus….”
“Ah itu cuma perasaanmu saja,” gerutu Ayah. “Ayah memang ndak ngerti, kenapa kamu mau sama laki-laki yang ndak suka dengerin musik yang kamu dengerin. Katamu, Andi bahkan ndak tahu Backstreet Boys itu siapa. Itu kan keterlaluan! Lha seumur Ayah saja tahu kok kalau Nick Carter yang paling banyak fans-nya diantara mereka berlima!”
“Ayah tahu itu juga dari aku.” Aku terkekeh.
“Selamat sore, Non.” Sapaan itu datangnya dari seorang bapak yang barangkali lebih tua sedikit dari Ayah. Gigi depannya tanggal satu, sisanya kuning kehitaman, kulitnya legam. “Tumben sendirian, Non. Pacarnya mana?”
“Iya,” sahut Ayah seperti mengingat sesuatu. “Mana Andi?”
Aku nyengir lagi. “Pacar saya lagi ada perlu, Pak Di. Nanti saya yang jemput sekalian jalan pulang.”
Yang dipanggil Pak Di mengangguk-angguk. “Ini tiap minggu pasti saya bersihin lho, Non! Ora tau[1] absen! Ora ngapusi[2]! “
“Iya, Pak Di. Matur nuwun sanget[3].”
Tak lama bapak itu pergi sambil tersenyum-senyum penuh arti.
“Dia bohong. Mana ada tiap minggu dibersihin. Yang ada dia duduk-duduk aja kerjaannya sambil ngerokok,” gerutu Ayah lagi. “Dan…Ayah baru tahu sekarang kamu bahkan nyetir mobil sendiri. Iya? Dulu Ayah yang selalu jemput Ibumu, bukan sebaliknya! Laki-laki ndak boleh manja…!”
“Perempuan juga nggak boleh manja, Ayah,” potongku. “Perempuan juga harus mandiri. Dan aku senang Andi tidak melarangku nyetir mobil sendiri. Naik sepeda motor sendiri….”
“Tidak bisa! Bahaya! Kamu selalu sembrono kalau di jalan! Berapa kali kamu hampir nabrak tukang becak, tukang parkir, sampai tukang bakso juga kamu tabrak…!”
“Ayah, itu kan waktu aku masih SMP. Sekarang aku sudah dewasa. Lagipula kalau nantinya Andi sudah nggak bisa… ehm, maksudku kalau Andi lagi sibuk kan aku nggak perlu nunggu Andi untuk bisa pergi kemana-mana.”
Ayah terdiam. “Maksudmu kalau nantinya Andi sudah ndak bisa anterin kamu kemana-mana ya? Seperti Ayah sekarang ini? Ndak bisa antar Ibu. Ndak bisa antar kamu. Ndak bisa melihatmu mengucapkan sumpah di depan altar….”
Air mataku mulai menetes sambil memain-mainkan pinggiran cangkir berisi kopi Toraja Mamali yang dari tadi kuminum – kopi terakhir yang kubelikan sebagai oleh-oleh untuk Ayah. “Aku selalu rindu dikhawatirkan Ayah.”
Kali ini Ayah diam saja.
“Minggu depan, Ayah. Akan kuucapkan sumpah itu minggu depan. Dan aku yakin Ayah bisa melihatku maju ke depan altar dari tempat Ayah sekarang.”
Ayah masih diam.
Air mataku mulai menetes. “Aku juga yakin, Andi kuat seperti Ayah. Sabar seperti Ayah. Melindungi keluarganya seperti Ayah….”
“Say….”
Aku menoleh. Andi, laki-laki yang kupilih untuk menjadi tua bersama mulai minggu depan, membuyarkan percakapanku dengan Ayah. Ia meletakkan tangannya di atas bahuku.
“Sudah selesai?” tanyanya.
Aku melirik kopi hitam itu yang cuma mampu kuhabiskan setengahnya. “Sudah. Kok kamu disini? Nggak tunggu aku jemput?”
“Om Benny memaksa mengantarku. Katanya sekalian keluar dan lewat.”
Aku mengangguk. Kuusap tanah berumput yang pinggirannya sudah ditutup dengan bebatuan.
“Aku pulang dulu, Ayah.”
Ayah masih diam saja.
Aku meletakkan secangkir kopi yang sedari tadi kuminum perlahan-lahan sambil ngobrol dengan Ayah di depan batu bertuliskan namanya. Bersama dengan enam cangkir lainnya. Kubaca sekali lagi tulisan disitu sebelum beranjak pergi.
R I P
INDRA SUSANTO
1958 – 2009
Rasanya baru kemarin ia memelukku, mengkhawatirkanku, mengomeliku sambil minum kopi  – dan bukannya tujuh tahun yang lalu.



Direvisi dan dimodifikasi pada 9 Agustus 2016
oleh: Jessie M.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com.




[1] Tidak pernah.
[2] Tidak bohong.
[3] Terima kasih sekali.

3 komentar ajah:

Grace Receiver said...

Baca tulisanmu ini bikin mata saya jadi berkaca-kaca. Jadi ini cerita tentang ziarah ya? Percakapan sambil nyeruput kopi itu memori atau fantasi?

~ jessie ~ said...

Ya benar ziarah. Dan itu sebabnya percakapannya adalah imajinasi yang mengandung memori disana-sini. ��

Adhi Kristijono said...

Keren, Jes. Gak ngantuk aku bacanya. Juga gak minum kopi. Hanya punya sachetnya di atas mejaku.