RSS

virus

Kadang aku tak paham mana yang lebih baik: tahu sedikit namun bahagia atau tahu banyak namun senantiasa gelisah?

Maksudku begini. Pernah pada suatu masa aku tak terlalu paham tentang bahaya plastik dan sampah-sampah non-organik yang dihasilkan oleh manusia. Dan masa-masa itu adalah masa dimana hidupku lebih sederhana dan bahagia. Bagaimana tidak; karena aku tak paham maka untuk tiap pembelanjaan yang aku lakukan, aku tak pernah merasa terganggu jika diberi kantong plastik sebagai wadah hasil belanjaku. Hidupku juga lebih sederhana. Otakku tak perlu bekerja terlalu keras untuk berpikir bahwa kantong plastik membutuhkan belasan tahun untuk terurai dan karenanya tak seharusnya aku memakainya secara boros. Dan bayangkan, berapa banyak manusia seperti aku yang membuang plastik-plastik seenak jidat? Sehingga mari kita visualisasikan bumi ini ternyata penuh dengan… ah, sudahlah.

Tapi, tahu maksudku kan?

Ketika kau tahu banyak hal, hidupmu tak lagi mudah. Gerakmu lantas terperangkap dengan pengetahuan-pengetahuanmu sendiri. Kau jadi gelisah atas banyak hal. Hal-hal yang dulu kau nikmati dan yang dulu tak kau pikirkan tak lagi sama. Tiba-tiba kau menjadi seseorang yang terlalu sibuk untuk bersenang-senang. Benakmu terlalu sibuk untuk santai. Barangkali kau lantas menjadi idealis. Dan karenanya kau tak lagi jadi orang yang menyenangkan. Kau tak lagi cukup menuntut dirimu sendiri untuk terus lebih baik menurut kau. Kau pun mulai menuntut orang lain mengikuti alur pikirmu. Mengikuti idealismemu. Lalu tiba-tiba kau dan orang-orang lain menjadi sekumpulan orang-orang yang tidak bahagia dan selalu gelisah. Dan makin kau tahu, kau makin lapar, makin haus mencari-cari lebih banyak. Kau makin gelisah.

Kau tahu ujung dari ini semua? Tak lain tak bukan adalah sekelompok orang-orang yang terus menerus gelisah dan makin menuntut. Orang-orang yang takkan pernah puas bahkan atas pencapaian mereka sendiri dan karenanya sengaja atau tidak tak puas juga dengan pencapaian orang lain. Padahal orang lain itu juga sedang berusaha menyamai gerak langkah mereka.

Kebahagiaan dan kesederhanaan pun tinggal kenangan.

Sampai saat ini, aku masih tak paham mana yang lebih baik: tahu sedikit namun bahagia atau tahu banyak namun senantiasa gelisah? Be damned Thomas Gray who wrote “Ignorance is a bliss” in his poem because he could be right all this time!

Barangkali karena itu aku masih mencari tahu. Yang menyebabkan kegelisahan ini mengikat kaki, tangan dan kepalaku. Dan seperti virus yang belum ada penangkalnya, ia menular.

Surabaya, 26 November 2017
8.31 pm

Gambar diambil dari sini.

suatu malam minggu di Surabaya

PADA SEBUAH KEDAI KOPI

Aku penasaran
pada seorang perempuan muda
yang duduk sendirian di pojok ruangan
Telinganya ditutup headset
Kepalanya bergoyang-goyang kecil
Menikmati sesuatu yang tak kumengerti
Sebab ia tak berbagi kenikmatan yang ia dengar denganku

Aku penasaran
pada seorang laki-laki
yang menatap perempuan yang duduk di hadapannya
Tatapan yang hangat
Seolah-olah dunia ini cuma dihuni oleh mereka berdua
Meski perempuan yang duduk di hadapannya
berbagi dunianya dengan orang-orang lain
lewat ponsel pintarnya
sampai ia memutuskan dunia itu miliknya sendiri
dan karenanya layar ponsel pintarnya 
dipenuhi seluruh wajahnya dari dekat
Dan laki-laki itu masih saja menatapnya hangat
mengajaknya bicara

Aku penasaran
Dengan keluarga bahagia yang duduk dekat jendela
Seorang pria bersama istri, kedua anak perempuan dan ibunya
Istri yang tersenyum, anak-anak yang berisik
Meski hanya dengan segelas teh dingin di depannya,
ia dengarkan cerita lucu yang dituturkan sang istri
Lalu hanya Tuhan dan mereka yang tahu
apa yang lucu sehingga menyebabkan gelak mereka tersembur

Aku penasaran
Aku selalu penasaran
Kisah-kisah yang membawa tiap pengunjungnya
menghabiskan sisa hari mereka hari itu
di situ

Pada sebuah kedai kopi
Aku penasaran
Mengapa seorang pengunjung yang datang sendirian,
mengambil meja untuk pengunjung yang datang berempat

DI TOILET UMUM

Aku melihat koin di dasar closet
Entah cerita apa yang dibawa koin itu
hingga ia sampai di sana
Barangkali mantan pemiliknya
buru-buru menurunkan celananya
untuk buang hajat
lalu buru-buru menaikkan celananya lagi
setelah puas ia buang hajat
dan saat itulah koin itu meloncat keluar dari celananya yang agak sesak
Sebab ia ada janji dengan seorang perempuan
yang telah lama ia incar
Ia perlu tampil sempurna,
meski celananya kekecilan sedikit,
tapi tak mau raut mukanya menahan sesuatu
Sebab tak ada yang paling mengerikan
dari raut wajah yang menahan desakan kuat untuk memenuhi panggilan alam
Dan barangkali selesai kencan singkat itu,
ia baru sadar kehilangan sekeping koin
Atau saat ia harus bayar parkir
dan uang di dompetnya tidak cukup
untuk membayar tukang parkir yang melotot
Ah, seandainya ia tak buru-buru melorotkan celananya

Aku melihat sekeping koin di dasar closet
Dan barangkali kisah yang kuceritakan padamu tadi
hanya terjadi di kepalaku


Sabtu, 5 Agustus 2017
menjelang malam di sebuah kedai kopi

kisah laki-laki setengah baya berkulit gosong, berpakaian lusuh, bersendal jepit dan bertas selempang

Ini kisah sekumpulan orang-orang yang  tinggal di sebuah kota di sebuah negeri yang baru saja melek teknologi, dimana ponsel-ponsel pintar mulai banyak digunakan mulai dari anak-anak sampai orang-orang tua.

Saking takjubnya akan betapa pintar ponsel-ponsel itu, kepala mereka sering terlihat tertunduk dimana-mana. Di jalan, di kedai kopi, di sekolah, di kantor, di rumah, bahkan di kamar tidur. Mereka takjub betapa banyaknya informasi dan pengetahuan yang bisa diambil atau menggunakan istilah baru ‘diunduh’ dari ponsel pintar itu. Beberapa dari mereka bahkan mulai bersabda: “Suatu saat buku akan punah dan akan digantikan oleh benda pintar ini! Kita semua akan pintar, sepintar ponsel yang kita miliki!”

Seiring dengan berjalannya waktu, mereka tidak hanya takjub dengan berita atau informasi atau pengetahuan yang mereka dapat, mereka mulai berani berbagi berita dan berbagi informasi. Mulai dari hal sepele macam guyonan garing ala Cak Lontong sampai cara-cara pengobatan penyakit yang dalam dunia kedokteran pun belum pernah terdengar obatnya.

Yang paling baru: penculikan anak.

Konon kata berita yang tersebar di ponsel-ponsel pintar orang-orang ini, mereka semua harus waspada. Penculikan anak sedang marak dan anak yang diculik akan diambil ginjal, hati, usus dan jantungnya untuk dijual. Ciri-ciri penculik anak dikabarkan sebagai berikut: laki-laki setengah baya, kulit gosong, suka memakai tas kain bermotif batik yang diselempangkan di bahu kirinya, baju lusuh dan menggunakan sandal jepit. Tak cukup terungkap dalam narasi, foto laki-laki dengan diskripsi yang disampaikan pun tersebar. Mulai dari grup sebelah, ke grup sebelahnya lagi, ke grup sebelahnya lagi, ke grup sebelahnya lagi dan seterusnya. Biasanya berita ini dimulai dengan: “Copas dari grup sebelah” atau “Nggak tahu bener atau enggak, tapi nggak ada salahnya kita waspada” dan diakhiri dengan “Sebar jika anda peduli!”.

Warga kota itu jadi was-was. Setiap kali melihat pria setengah baya dengan kulit gosong meskipun tanpa tas kain yang diselempangkan, para orang-orang tua menggenggam tangan anak-anak mereka erat-erat. Persis seperti lagu balonku yang sisanya dipegang erat-erat setelah yang hijau meletus. Mereka berjengit kaget jika kebetulan di dekat mereka ada laki-laki mengenakan baju lusuh dan sandal jepit meskipun kulitnya tidak gosong dan usianya jauh di atas setengah baya.

Di suatu hari yang panas, Birowo, dari kota seberang, datang berkunjung ke kota berponsel pintar tersebut. Tujuannya cuma satu, dia ingin menengok anaknya yang sudah ditinggal lama karena ia harus bekerja mencari nafkah di luar kota meninggalkan istri dan anak-anaknya. Ia turun di stasiun terdekat dengan rumahnya. Tidak membawa koper, tidak membawa kardus berisi oleh-oleh seperti orang-orang lain pada umumnya jika berkunjung  ke keluarganya. Uangnya habis untuk ongkos pulang dan istrinya tidak keberatan ia pulang tanpa oleh-oleh untuknya dan anak-anaknya. Yang penting mereka bisa berkumpul meski hanya sejenak.

Birowo, turun dari kereta api dengan pakaian lusuh karena keringat. Sendal jepitnya membawanya ringan keluar dari stasiun. Di depan stasiun, ia mengambil botol minum yang dibawanya dari tas kain yang diselempangkan di bahu kirinya. Berjalanlah ia dengan senyum merekah karena mengingat sebentar lagi ia akan bertemu dengan istri tercinta dan anak-anaknya. Mendekati pasar yang terletak tak jauh dari rumahnya, ia mulai sadar orang-orang di sekitarnya kasak-kusuk sambil menunjuk-nunjuk dirinya. Namun ia tidak mau berburuk sangka, maka ia terus melangkah. Di depan warung mertuanya, ia melihat anak bungsunya sedang bermain. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari memeluk anak tersebut dan menciuminya karena rindu bukan kepalang. Digendongnya anak tersebut meskipun anak itu jadi menjerit-jerit karena lupa akan wajah bapaknya yang lama tak pulang-pulang. Ia gendong sambil memanggil-manggil nama istrinya: “Sri! Sri! Aku pulang!”

Sri belum keluar tapi orang-orang di pasar mulai mengerumuni Birowo. Ada yang merebut anak bungsunya dari gendongannya, lalu yang lain mulai memukulinya bertubi-tubi. Tak hanya dipukul, beberapa malah melemparinya dengan batu sambil berteriak-teriak: “Penculik bangsat! Kalau cari rejeki yang halal! Bangsat!”

Birowo mencoba terus memanggil-manggil istrinya, tapi lama-lama suaranya hanya sayup-sayup terdengar dan hilang ditelan orang-orang di pasar yang mengeroyoknya habis-habisan. Anak sulung Birowo yang kebetulan lewat, melihat adiknya menangis meraung-raung digendong tukang parkir pasar.
“Adikmu hampir diculik, Le. Itu penculiknya sedang dikeroyok. Untung ketahuan orang-orang,” katanya dengan nada sedikit bangga karena ia baru saja menyelamatkan seorang anak dari penculik.

Si anak sulung yang penasaran dengan wajah orang yang gagal menculik adiknya, menyeruak masuk ke kerumunan orang-orang yang sudah mulai berhenti memukuli orang tersebut. Wajah penculik itu memar di sana sini dan darah berceceran di sekitarnya. Si anak sulung terkesiap melihat wajah yang ia kenal itu dan ia mulai berteriak-teriak histeris: “Bapak! Bapak! Ibu, Bapak dikeroyok! Pak! Pak!”

Kerumunan orang-orang tadi mulai mundur melingkari laki-laki yang baru saja mereka bunuh karena dikira penculik. Sri, ibu si anak sulung, istri Birowo tergopoh-gopoh mendekat begitu mendengar suara histeris anaknya. Begitu dilihatnya suaminya bersimbah darah, ia pun tak kalah histeris dengan anak sulungnya. Kedua ibu dan anak itu meraung-raung meratapi laki-laki yang sudah terbaring tak bernyawa di atas jalanan berdebu di bawah terik matahari yang mulai naik.

Birowo, laki-laki berkulit gosong yang mengenakan pakaian lusuh dan sendal jepit cuma bermaksud pulang untuk menemui istri dan anak-anaknya.

Dari kerumunan orang-orang yang tadi memukulinya mulai terdengar bisik-bisik: “Salah sendiri rupanya seperti penculik anak.”

Sementara itu di televisi, kepolisian pusat baru saja melakukan konferensi pers bahwa isu penculikan anak itu hanya isapan jempol belaka.

Surabaya, 6 Juni 2017


Foto ilustrasi diambil dari sini.