RSS

gunanya stitch menangis

Kemarin Stitch menangis. Nggak tau kenapa kalau Stitch bercerita soal orang tuanya, Stitch selalu menangis. Dan Stitch menangis di depan teman-temannya. Apa gunanya coba?

Kenapa sih kemarin aku musti menangis? Dan kenapa kemarin aku musti cerita soal papi mamiku? Aku yang jarang cerita masalah keluarga selain dengan San tiba-tiba meluncurkan cerita itu. Mustinya aku tabu menceritakan tentang keluargaku pada teman-temanku meskipun mereka teman dekatku. Waktu itu pemimpin persekutuan kecil kami meminta kami membuka kidung jemaat 441 (semoga aku tidak salah). Liriknya kurang lebih begini: "Oh, Cahya Kasih, jalanku kelam, oh bimbinglah, rumahku jauh, gelap pun mencekam,...". Buat dia (pemimpin persekutuan, dan namanya Inge), rumah jauh itu berarti tujuan hidup. Tapi buatku, rumah jauh itu betul-betul aku artikan secara harafiah. Rumahku jauh dan aku sudah lama tidak pulang. Dan ketika aku pulang, aku tidak merasakan aku jadi bagian dalam rumah itu. Aku cuma tamu. Titik.

Aku ceritakan itu semua dan aku menangis. Aku bercerita tentang papiku. Aku bercerita tentang mamiku. Aku bercerita tentang emakku. Tapi pertanyaannya sama, mengapa aku harus menangis? Seolah-olah dengan tangisan itu aku bisa membuat segala sesuatunya jadi lebih baik. Aku tidak suka menangis karena menangis punya hubungan erat dengan perempuan lemah dan cengeng. Memangnya kau suka dibilang lemah dan cengeng? Sampai pagi tadi doaku tetap sama. Aku memohon pada Tuhan supaya aku hanya bisa menangis di saat-saat aku benar-benar butuh menangis. Please....

Gunanya Stitch menangis apa coba? Nggak ada. Cuma bikin orang lain ngerasa bersalah. Ngerasa kasihan. Dan Stitch sudah cukup merepotkan orang lain. Ngapain Stitch menambah ricuh suasana dengan menangis?


-jc-
Friday, 12 August 2005

"Aku adalah orang lain, yang menjadi diriku sendiri; Akulah dia yang ingin pergi. Kembali adalah menangis. Aku tak menyesali dunia luas ini. Bukanlah aku yang ingin kembali, tapi sepasang kakiku yang terborgol."
(Carlos Fuentes, "Menulis: Ziarah & Pergaulan", 2003)

0 komentar ajah: