RSS

simbiosis persahabatan

Kembali duduk di depan komputer kuno ini. Komputer Pentium 1, tanpa CD ROM, yang berjalan lambat seperti siput yang belum makan, yang mungkin sudah bervirus dan si empunya tidak tahu bagaimana harus menghapus karena kekasihnya yang sarjana informatika berada nun jauh disana. Tapi komputer inilah yang sudah menemaniku bertahun-tahun. Saat aku mengerjakan skripsi. Saat aku masih tergila-gila pada F4 dan men-download semua gambar-gambar mereka, mengisi disket penuh-penuh supaya wallpaper-nya bisa aku ganti sesuka hati dengan foto-foto mereka. Saat-saat daya imajinasiku mengalir menggila dari sore hari sampai pagi hari. Persis seperti sahabat. Sahabat yang menemani suka dan duka.

Kembali melamun. Sahabat. Mengingatkanku pada pelajaran biologi bertahun-tahun yang lalu. Pelajaran tentang simbiosis. Mutualisme. Parasitisme. Something-isme lainnya. Apa sih definisi sahabat? Pernahkah kau mencoba merenungkan tentang arti dari seorang sahabat? Ia mungkin seseorang yang terus ada bersamamu siang dan malam. Ia juga bisa seseorang yang jauh tapi tetap berdoa untukmu dan memperhatikanmu dari kejauhan. Ia juga bisa seseorang yang kau kenal sejak kau masih lucu-lucunya menyandang tas yang lebih besar dari badanmu sendiri dan masuk ke sebuah gedung bernama Taman Kanak-Kanak sampai kau berpenampilan keren nan percaya diri dan menyebut diri sebagai mahasiswa. Yang manapun, namanya tetap sahabat. Buatku, sahabat adalah seseorang yang pernah memiliki waktu bersama-sama denganku, di kala senang, di kala rapuh, dan yang terlebih penting ketika kami memasuki tahap pertengkaran, kami bisa melalui tahap itu dan berangkulan kembali.

Sekarang bayangkan. Kau ada di posisiku sebagai anak rantau. Jauh dari orang tua menyebabkan aku mencari-cari komunitas dimana aku bisa mengembangkan sayapku dan berinteraksi dengan manusia-manusia lain sampai memiliki kesatuan hati sebagai keluarga. Melupakan sekat yang ada dan menganggap tahun-tahun yang terbuang ketika kami belum bertemu hanyalah tahun-tahun persiapan diri kami masing-masing. Persiapan pra pertemuan. Disinilah aku sekarang. Dalam sebuah komunitas dimana aku merasa kami sedang merenda sayap kami, saling membantu sebelum kami membubung tinggi dengan sayap-sayap yang sudah direnda bersama. Aku bahagia. Aku bangga dengan komunitasku. Mereka sahabat-sahabatku. Mereka orang-orang yang sudah kuanggap sebagai keluarga. Merekalah yang aku andalkan ketika aku butuh bantuan. Aku tak pernah menghitung berapa lama kami sudah bersama. Dan aku tak pernah mau. Aku tidak peduli seberapa lama kami sudah bersama, aku hanya peduli seberapa dekat hati kami bertaut.

Memandang ke belakang. Terlonjak karena luapan gembira. Merasakan hangatnya sesuatu yang membuncah di dalam dada jika mengingat semua yang sudah dialami bersama. Pekik gembira dan tawa canda masih tergaung di telinga.

Menatap kembali ke tempat aku berpijak sekarang. Termangu. Kosong. Senyap. Dingin. Pekik gembira dan tawa canda hanya sayup-sayup saja. Aku berpikir. Apa mungkin aku bermimpi. Tawa canda dan obrolan ringan pun terdengar kaku dan tak tulus. Kupanggil-panggil mereka. Dan semakin aku frustasi. Tak ada yang bisa aku lakukan. Selain berdoa, maksudku. Seseorang menangis. Aku semakin frustasi. Tidak. Aku tidak marah. Aku frustasi. Dan aku sedih. Oh. Betapa aku merindukan masa-masa itu. Kuping ini memerah begitu mendengar bahwa di balik sesuatu yang menakutkan ini hanyalah sesuatu yang sepele. Kau tahu kan rasanya? Menakutkan. Menakutkan ketika kau merasa persahabatanmu tak lagi tulus, tak lagi membuat dirimu nyaman dan semuanya memakai topeng. Lebih menakutkan lagi, kau tak tahu harus berbuat apa.

Dee bilang, persahabatan tak pernah butuh tali. Bahkan benang merah sekalipun, tambahku. Hanya hati.


-jc-
Tuesday, 16 August 2005


Persahabatan tidak mungkin terjalin jika kita hanya memberikan sebagian dari diri kita; sebab setiap jiwa berbeda dengan jiwa yang lain. Dalam persahabatan dan cinta, dua tangan terangkat berdampingan bersama untuk menemukan apa yang tidak dapat dicapai sendirian

0 komentar ajah: