RSS

mencintaiku

Ditegur or dikritik orang itu menyakitkan. Bertengkar dengan temen or sahabat itu menyakitkan. Punya masalah dengan orang-orang sekitar itu menyakitkan. Digosipin itu menyakitkan. Ditertawakan itu menyakitkan. Diremehkan itu menyakitkan. Dianggap nggak becus itu menyakitkan.

Kalau dipikir-pikir, kok bisa aku masih hidup sampai saat ini kalau aku pernah mengalami semua yang aku sebutin diatas. Itu belum semuanya lho. Kalau kubeberkan satu persatu, mungkin bisa habis halaman ini bercerita tentang semua penyakit yang pernah kuderita. Memangnya menyenangkan untuk dibaca?

Entah mengapa, setelah aku ditegur (atau dikritik, whatever) dengan tidak menyenangkan (yah… emang ada manusia yang senang ditegur??), sekuat tenaga aku berusaha introspeksi diri. Bertanya kesana kemari apakah aku memang benar-benar seperti apa yang sudah dikatakan orang itu. Setengah mati aku memeriksa diri apakah aku ini memang separah itu. Hasilnya? Entahlah. Tidak seburuk yang kubayangkan, dan tidak seburuk yang ia beberkan. Maksudku, setelah pidatonya yang panjang dan menyakitkan itu, aku berusaha berpikir positif. Dulunya mungkin ia pernah menjadi seseorang yang kukagumi. Seseorang yang mungkin secara tak sengaja kuanggap sebagai manusia yang sempurna dan yang patut diteladani. Kini barulah aku mengerti, kejadian waktu itu menyadarkan aku bahwa tak ada manusia yang terlalu sempurna untuk diteladani. Sekali kau mengagumi seorang manusia, ketika kau sadar bahwa ia sama tak sempurnanya denganmu, kau bisa mencopot kacamata kuda yang sedang kau pakai itu. Dan lihatlah sekelilingmu. Kemudian kau akan mendongakkan kepalamu keatas (sama sepertiku) dan berkata, “Memang tak pernah ada yang seperti Kau, Dad!” Jangan pernah meneladani manusia secara keseluruhan. Jangan pernah menganggap seseorang terlalu sempurna menjadi seorang manusia. Minggu lalu mungkin memang giliranku ditegur oleh Tuhan bahwa aku tidak patut mengaguminya sedemikian rupa. Saat ini aku bisa melihat orang itu dengan lebih baik. Sebagai manusia yang punya kelebihan juga kekurangan.

Datang ke kebaktian hari ini, mendengarkan khotbah pendeta yang bertugas yang entah bagaimana bisa-bisanya ia mengatakan sesuatu tentang teguran yang menyakitkan. Seolah-olah menohok hatiku, menelanjangi jiwaku. Tapi kemudian, kudapatkan satu hal yang bisa membuat aku tersenyum kembali meskipun dengungan-dengungan berisik yang biasa mengganggu setelah sesuatu tak mengenakkan terjadi masih berkeliaran di sekelilingku. Bahwa ketika kau mengalami banyak hal yang mungkin menyakitkan, sesuatu yang tak mengenakkan, berkali-kali musti merasa sakit hati karena ditegur dan dikritik orang, Tuhan tak henti-hentinya membentuk dirimu. Bayangkan! Tuhan tak pernah berhenti menyempurnakan aku. Membuat aku jadi lebih baik. Dan kurasakan, betapa beruntungnya aku begitu banyak ditegur dan dikritik oleh orang-orang disekitarku. Betapa beruntungnya aku sering dengan tiba-tiba mendapat masalah meskipun tidak mencari-carinya dan dibiarkanNya aku menghadapi masalah itu sambil mengirim para malaikatNya menemaniku. Aku jadi merasa betapa sayang Tuhan padaku. Tuhan ingin membuatku jadi lebih baik.

Orang yang menegurku itu… yah well…, aku tidak tahu apakah dia juga sering ditegur dan dikritik. Aku mungkin tak terlalu mengenalnya. Aku hanya melihat ia sebagai sosok yang mungkin tidak pernah terlalu susah untuk apapun. Maksudku, terkadang aku iri betapa mudahnya ia mendapatkan sesuatu yang aku juga inginkan sementara aku harus berjuang keras untuk itu. Terkadang mulut ini maunya protes saja kenapa hidup ini begitu tidak adil. Tapi hari ini aku belajar sesuatu. Justru ketika aku mendapatkan sesuatu dengan susah payah, aku belajar menghargai apa yang aku miliki. Aku tahu Tuhan sedang membentukku. Aku tahu Tuhan sedang menyempurnakan aku.

U know what? He loves me so much…! (Sing it!) Mencintaiku... sepenuh hati-Nya... selamanya... :D

Sunday, 16 October 2005
09:52 pm

Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.
taken from Mazmur 13:24

0 komentar ajah: