RSS

... pecinta hujan yang sedang jenuh

Setelah beberapa hari mengeluh panas, rupanya Tuhan mendengar keluhanku. DibiarkanNya selama dua hari ini, setiap siang Surabaya diguyur air hujan. Mula-mula gerimis, kemudian deras. Seperti baru saja ditumpahkan dari langit.

Aku suka memandang hujan. Tidak peduli dimana aku. Aku suka berada di dekat dimana air hujan menciprat ke sebagian tubuhku. Ke tangan. Ke kaki. Ke wajah. Ke lengan. Belum lagi bau tanah basah yang sedap. Plus udara yang sejuk. Meski ketika hujan turun dan udara menjadi dingin, tubuh ini maunya lari ke kamar kost. Mendengarkan musik, membaca novel atau Donal Bebek yang tebal (biar nggak cepet habis terbaca, maksudnya), minum susu coklat or capuccino hangat, kemudian meletakkan pantat di atas ranjang yang dingin. Bisa betah banget aku ngendon di dalam kamar dan nggak keluar-keluar, kecuali ada bom meledak atau kebakaran, amit-amit deh… jangan sampe.

Tiap kali memandang hujan, ada dua yang kupikirkan. Tuhan sedang menangisi manusia yang (lagi-lagi) jatuh dalam dosa atau alam sedang membersihkan diri. Cuaca dan udara yang panas terus-terusan bisa membuat gerah suasana. Bisa menjadikan tanah kering dan retak. Bisa membuat udara pengap. Bisa menebarkan debu dimana-mana. Bisa membuat manusia-manusia mengeluh dan mengomel, karena mereka harus berkeringat dan keringat menyebabkan tubuh mereka berbau tak sedap.

Tahu tidak, tadi siang, saat hujan tanpa ampun melibas kota tempat tinggalku sekarang ini, aku merasa aku ingin berlari dibawah hujan dan menari. Menikmati air yang pasti akan membasahi sekujur tubuhku. Merasakan nikmatnya air dingin yang menyentuh kulitku. Persetan dengan pandangan dan kata orang. Biar saja mereka memandang aneh, karena ketika mereka mencibir melihatku yang hujan-hujanan seperti itu, bisa jadi sebenarnya mereka kepengen, tapi tidak berani. Sayangnya, bayangan mengasyikan itu hanya ada di benakku.

Aku, yang selama ini ceria, super sibuk, terlihat menikmati hidup, seolah-olah tak pernah mengalami kebosanan akut, saat ini malas melakukan segala sesuatu. Malas ke kantor karena ada kemungkinan bertemu Mr. R. Malas mengajar anak didik karena tubuh ini maunya nggeletak diatas ranjang begitu pulang dari kantor. Malas ke gereja meskipun ada kegiatan dengan alasan yang sama. Malas ketemu teman-teman yang biasanya bikin suasana hati jadi enak dan tak pernah kesepian. Jenuh. Nggak tahu musti ngapain. Nggak tahu juga musti cerita ke siapa. Tidak kuceritakan secara rinci kemalasanku ini pada San karena kebetulan ia sedang menjalani minggu yang berat. Dan aku tak mau ia terganggu untuk sesuatu yang rewel yang disebut aku. Kalau sudah seperti ini, aku jadi seperti seonggok tubuh yang meskipun memiliki tulang dan daging yang lengkap tapi tak berguna. Hanya bisa tidur, makan dan main. Cewek yang kayak gini nih yang bakalan married tahun depan?

Mungkin aku perlu berlibur. Menjauh sejenak dari kerumunan manusia, bercinta dengan kesunyian dan sekedar menghindar dari pemakaian topeng yang berlebihan.

Tuesday, 18 October 2005
08:44 pm

0 komentar ajah: