RSS

bicara tentang perempuan (lagi)


Beberapa hari yang lalu aku chatting dengan seorang kawan lama yang sekarang tinggal di Union City, US. Dia seorang penulis naskah sastra dan tentu saja aku mengaguminya sebagai seorang penulis yang membiarkan imajinasinya bergerak liar dan membimbing tangannya menulis apa saja yang mengalir. Asal kau tau, aku ingin imajinasiku seliar miliknya.

Anyway, tidak lama setelah bercakap-cakap ngalor ngidul, kami berdebat kusir soal perempuan. Asal muasalnya dia mengirimkan monolog karangannya padaku yang menurutku isinya sarat dengan kritik sosial. Dan obyek tunggalnya adalah makhluk yang bernama perempuan. Dalam monolognya ia menulis bahwa menjadi perempuan di zaman sekarang itu tidak gampang. Dan dengan senang hati aku menyetujuinya. Kubilang padanya, perempuan di Indonesia masih dianggap dibawah level lelaki selalu jadi makanan empuk untuk di-diskreditkan. Dari segi manapun. Jawabannya cukup diplomatis: lah, kok mau?

Aku tercenung. Iya sih. Kok mau sih kita? Beberapa waktu yang lalu aku nonton Gie. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh Gie: Bagaimana perempuan mau lebih tinggi levelnya dari pria, yang dipikirkan cuma pakaian dan kosmetik. Kurang lebih seperti itu. Memang paling gampang merayu para perempuan untuk membeli sesuatu. Barang yang seharusnya tidak perlu dibeli jadi dibeli hanya karena ada embel-embel diskon atau promo.

Berikut adalah sedikit opini yang aku tulis tentang perempuan dua tahun yang lalu.


CANTIK

Aku kadang-kadang bisa benci banget yang namanya masyarakat. Boleh dibilang kalau aku menganggap masyarakat tuh seperti segerombolan mata-mata yang siap memberikan komentar-komentar negatif dan sinis dari mulut tajam mereka. Komentar-komentar yang mungkin keluar begitu saja tanpa melalui saluran-saluran hati dan otak. Dan mungkin, komentar yang singkat dan pedas itu mampu membunuh jiwa seorang manusia.

Aku ini seorang gadis. Muda. Mungil pula. Dan termasuk dalam kelompok minoritas di tengah bangsa yang kuanggap bangsaku sendiri, tapi tidak sebaliknya. Terima kasih. Perlahan-lahan, mulai kubaca jalan pikiran mereka, paradigma yang ngendon dalam otak dan hati mereka. Sampai (tanpa) kusadari, mereka turut andil dalam membentuk diriku yang sekarang. Hanya saja, semakin aku menuruti mereka, semakin mereka dapat menemukan dengan mudah apa-apa saja dalam diriku yang ‘perlu’ mereka kritik dan ‘perbaiki’. Akan kuceritakan sebagian kecil paradigma yang mungkin mereka hunjamkan dalam diriku.


Beberapa saat yang lalu sedang ada tren di layar kaca (katakanlah, Indonesian Model di Indosiar, Cantik
Indonesia di Trans TV, Ajang Ajeng di MTV, dan masih banyak yang lain lagi) untuk berlomba-lomba menayangkan kontes untuk para gadis yang merasa dirinya ‘cantik’. Plus berbakat. Tapi, aku rasa ‘berbakat’ itu syarat nomor dua. Yang pertama adalah appearance - how they look. Mau sepintar apapun, inggrisnya secanggih apapun, tapi kalo tingginya nggak nyampe 160 cm juga nggak bakal terpilih.

Sekarang, aku mau coba jabarin ‘cantik’ ala masyarakat
Indonesia pada umumnya. Kukatakan pada umumnya, karena aku masih percaya bahwa masih ada segelintir orang-orang yang memberikan definisi yang berbeda tentang ‘cantik’. Dan setelah melihat, menelaah dan memberikan hipotesis, yah, mungkin inilah hasilnya;
CANTIK ala masyarakat
Indonesia:
1. berambut panjang dan lurusss; (lihat aja iklan shampoo, emang ada yang pake model dengan rambut keriting?)
2. ku-ti-lang alias kurus tinggi langsing (sekali lagi boleh deh dilihat di iklan, kebanyakan ngiklanin produk untuk menguruskan badan)
3. punya kulit kayak pualam alias putih nan halus (lagi-lagi lihat iklan deh..., sabun, body lotion, dst, dst)
4. smart (kalau bisa, kalau nggak ya nggak apa-apa, asal tiga nomor diatas terpenuhi)
5. udah ah..., kebanyakan, ntar berat amat syaratnya, yang diatas aja susah dipenuhin

Menurutku, gadis-gadis muda punya ingatan yang payah. Baru beberapa menit meninggalkan cermin dan menikmati bayangannya, mereka sudah mencari-cari cermin lain dalam beberapa langkah untuk memastikan apakah mereka masih terlihat cantik atau tidak. Aku mengatakan hal ini bukannya mengada-ada, tapi bahkan aku sendiri mengalaminya.

Setiap gadis punya obsesi untuk jadi cantik menurut standar mereka masing-masing. Dan karena punya obsesi seperti itulah, mereka seperti kehilangan jati diri. Ketika mereka mulai merasa kehilangan jati diri, maka mereka mulai mengenakan topeng. Mereka mulai memasang berlembar-lembar topeng yang bernama kosmetik untuk menutupi wajah mereka yang sesungguhnya. Mereka mulai tergila-gila dengan sesuatu yang namanya cermin. Sementara mereka menikmati bayangan mereka yang mengenakan topeng lewat cermin itu dengan menyisir ribuan helai benang halus yang bernama rambut. Entah berapa ayunan.

Lalu? Memang kenapa kalau mereka memakai topeng? Bukannya kadang-kadang mereka malah lebih percaya diri ketika mereka mengenakan topeng itu? Ironisnya, meskipun mereka sudah mengenakan topeng, mereka masih merasa tak puas. Keluhan dan decak tak puas sering keluar dari mulut. Kadang begitu tajam dan menukik, kadang begitu sendu dan suram. Sampai air mata ikut berbicara.

Yang terjadi pada fase selanjutnya adalah mereka sakit. Sakit jika tidak dikatakan cantik. Sakit jika tidak dipuji cantik. Dan sakit karena merasa penampilan mereka tidak sesuai dengan kriteria menurut hipotesaku diatas.

Gadis-gadis yang sudah memiliki rambut panjang lurus nan hitam berharap supaya rambutnya sedikit ikal dan disembur warna favorit. Sebaliknya, gadis-gadis yang memiliki rambut ikal dan keriting yang susah diatur bermimpi untuk memiliki rambut selurus jarum dan sehalus sutra. Itu hanya rambut. Belum lagi keluhan tentang tubuh. Tubuh yang kurang langsing, kurang berisi, kurang proporsional, kurang kurus. Lalu mereka menjalani program diet yang ketat yang menyebabkan mereka tidak bisa menikmati hidup ini lebih indah. Kalaupun akhirnya keinginan mereka terpenuhi, keluhan dan gerutuan tak puas masih meluncur cepat dari lidah mereka. Kompensasinya adalah mereka mulai menutupi ‘ketidaksempurnaan’ mereka dengan pakaian yang memamerkan sebagian tubuh mereka atau mengenakan rok sependek celana anak SD sampai-sampai ada bagian dalam yang mencuat keluar, mengintip seolah-olah ingin meneriakkan sesuatu yang mengundang.

Ironisnya, ketika mereka berusaha memenuhi kriteria ‘cantik’ ala masyarakat Indonesia, masyarakat itu sendiri kembali nyinyir dengan usaha mereka. Lalu, gadis-gadis itu dinyatakan gila karena penampilan mereka yang dianggap aneh. Masyarakat malah memandang rendah mereka, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya sadar atau tidak masyarakat ikut mengubah mereka menjadi seperti sekarang ini.

Dan kemudian, pertanyaan itu mampir di benakku. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Sebagai seorang gadis. Yang masih muda. Yang mungil. Yang minoritas.

Sebagai seorang gadis yang mungkin berpenampilan biasa-biasa saja, aku percaya sempat terbersit dalam pikiranku untuk ikut arus, untuk percaya pada masyarakat bahwa seorang gadis tidak pernah akan sempurna dan cantik. Bahwa seorang gadis akan menjadi gadis normal di tengah masyarakat ketika ia mengenakan topengnya dan banyak asesoris yang melapisi tubuhnya. Dan kalau aku benci dengan masyarakat mengapa aku menuruti omongan mereka? Mengapa???

Tertawa sajalah. Meskipun itu berarti kau menertawakan dirimu sendiri. Tapi biar kuberitahu satu hal, rahasia penting untuk menjadi cantik tanpa perlu mengenakan berlembar-lembar topeng diatas kulit wajahmu dan berpura-pura menjadi orang lain. Kala kau merasa bahagia, hatimu damai, dan penuh dengan cinta; kala kau merasa bahwa kau seorang yang sangat berarti untuk orang-orang disekitarmu; kala kau mengerti bahwa untuk dicintai oleh orang lain kau harus mencintai dirimu dulu; kala kau sadar bahwa kau cantik, tengoklah cermin manapun, karena kau akan melihat sosok yang berbeda yang tak hanya cantik, tapi juga bersinar. Harus kuakui bahwa pria yang mencintaiku memang tak pernah mengatakan aku cantik, tapi ia dengan tulus mengatakan bahwa aku gadis yang bersinar dan sinar yang kupancarkan memberi damai dan cinta dalam dirinya.

Tahu tidak? Itu sudah cukup. Hal-hal rumit lainnya, tentu tidak disini.


27 Oktober 2004

9:52 pm


Waktu itu kubilang pada si kawan lama ini, lebih tepat dikatakan kalo jadi perempuan di negeri Indonesia ini tidak gampang. Jadi perempuan di Indonesia itu harus tahan banting, kuat mental dan kebal kuping. Suami berpoligami? Itu mah biasa, coba kalau ada istri yang bersuami banyak. Wah… komentarnya pasti lebih sinis, lebih negatif, dan lebih bikin sakit hati. Perempuan nafsu gede, misalnya. Lah, emang cuma laki-laki yang punya nafsu? Perempuan juga punya nafsu. Terus waktu lalu, aku sempat ngobrol dengan mertua. Kubilang, di Melbourne aku masih sering lihat para suami membawa bayi-bayi mereka jalan-jalan tanpa istri. “Si Erwin juga nggak keberatan tuh kalo harus gitu,” kataku bersemangat. Sahut mertua, “Nggak bisa disamain dengan disini. Apa kata orang.” Tidak persis seperti itu beliau ngomong, tapi intinya sama. Buat beliau, masih terlihat aneh dan bakal dijadikan bahan omongan orang jika nantinya Erwin membawa anaknya sendirian tanpa sang istri. Sebaliknya jika aku sebagai sang istri yang membawa anakku sendirian tanpa sang suami adalah sudah sewajarnya. Bah!

Ada satu hal lagi yang menggelitik aku buat bicara soal perempuan. Pernah kudengar dari radio seorang perempuan dengan lantang dan penuh percaya diri mengajukan protes pada perusahaannya. Apa pasal? Ternyata eh ternyata hanya gara-gara perusahaannya itu tidak memberikan kompensasi khusus terhadap pegawai perempuan tentang datang bulan. Huh. Pantas kebanyakan perusahaan masih lebih sering memilih laki-laki untuk dijadikan pegawai, lha kalo perempuan sedikit-sedikit minta kompensasi. Datang bulan minta kompensasi. Nanti sebentar dikawin nggak bisa kerja. Lalu kalo hamil juga minta cuti berikut biaya melahirkan. Nah, lho…. Ribet kan? Sekarang ini, aku yang sedang hamil sebisa mungkin tidak menggunakan kehamilan sebagai alasan untuk menghindari pekerjaan dan meminta kompensasi. Hamil tuh bukan penyakit. Jangan pernah dijadikan alasan untuk hal-hal yang tidak penting. Memang harus dijaga baik-baik, tapiii… ya itu tadi. Kalau tidak penting ya jangan mentang-mentang hamil terus sedikit-sedikit minta kompensasi. Ingat! Perempuan bukan makhluk lemah, sebaliknya perempuan tuh sebenarnya jauh lebih kuat dari lelaki.

Bicara tentang perempuan memang tidak akan pernah habis. Makhluk yang kadang-kadang sangat bergantung pada perasaan dan hormon. Makhluk terkonsumtif di seluruh dunia. Makhluk yang tergila-gila pada cermin. Makhluk yang selalu diijinkan menangis kapanpun dan dimanapun. Makhluk yang sebenarnya lebih kuat baik jiwa maupun raga, karena ia terbuat dari tulang rusuk, bukan dari tanah.


Selasa, 30 Januari 2007
11:37 am

To Vincent: it’s absolutely nice to chat with you!

Mengapa saya kembali menulis dengan bahasa Indonesia

  1. Karena saya sudah kembali ke Indonesia
  2. Karena saya kangen menulis dengan bahasa Indonesia
  3. Karena saya sudah tidak bisa lagi menulis dengan bahasa inggris
  4. Karena saya ingin
Jawabannya: tidak semuanya benar.

Tidak tahu mengapa dan bagaimana, tiba-tiba terbersit keinginan untuk menulis lagi dengan bahasa Indonesia. Bukannya saya suka sok, begitu tinggal di luar negeri langsung menulis dengan bahasa inggris kemudian setelah pulang ke Indonesia saya kembali menulis dengan bahasa Indonesia.

Seperti yang sudah saya tuliskan di blog terdahulu bahwa saya sudah ada di Surabaya dengan segala bentuk keberantakan dan kesemrawutan yang ada, bahasa yang saya dengar, saya ucapkan dan saya tuliskan, tentu saja bahasa Indonesia. Semuanya menggunakan bahasa Indonesia, baik bahasa baku, ejaan yang disempurnakan, bahasa slang maupun bahasa suroboyoan. Saya jadi teringat ketika saya di Melbourne, saya dan Erwin (atau kadang-kadang dengan teman Indo) bisa dengan bebas menggosipkan, membicarakan maupun memaki orang yang duduk di depan kami atau berdiri dekat kami dengan bahasa Indonesia. Kalau tentu saja kami yakin bahwa orang yang kami gosipkan, bicarakan ataupun maki itu jelas-jelas bukan orang Indonesia. Disini kebalikannya. Kalau kami ingin membicarakan orang yang di depan kami tapi tidak ingin ia tahu apa yang kami bicarakan, kami harus bicara dengan bahasa inggris. Itupun tidak sembarang kami bisa, karena pastilah banyak orang disini juga bisa berbahasa inggris.

Jadi, mengapa saya kembali menulis dengan bahasa Indonesia?

Entahlah. Kadang-kadang apa yang ingin saya ungkapkan disini, lebih seru dan lebih ekspresif jika diungkapkan dengan bahasa Indonesia. Hanya sayangnya sahabat Malaysia saya tidak akan bisa membaca tulisan-tulisan saya lagi.

Karena itulah saya putuskan, saya akan meluncurkan blog satu lagi… *penonton mulai bertepuk tangan dengan riuh* apa??? No way!! Jessie yang tidak telaten punya dua blog? Apa sudah gila?? Tidak. Satu blog saja sudah cukup bikin pusing. Karena itu saya putuskan, di suatu waktu saya akan menulis dengan bahasa inggris dan di waktu yang lain saya akan menulis dengan bahasa Indonesia. Habis perkara.

Jadi maksud dari posting yang ini apa?

Lu kira-kira sendiri deh….


Minggu, 28 Januari 2007
8:57 pm

monster jessie

A few days after my visit to my hometown, Erwin and I had to take a bed rest for several days. Erwin got sick first. He got headache, upset stomach and fever. The following day, I got upset stomach as well and always vomited a few seconds after eating some meal. This condition was getting worse till two following days, which brought us to unable to eat any food. We reckoned our body systems were having themselves adapted with food and weather in Surabaya (which I regretted to say that the weather in this city has been pretty weird since the first day I arrived – kind of cloudy but hot and no rain, you can’t even see a clear blue sky up here).

However, soon after we had our body adapted with the food and the weather, we found ourselves back to normal. I gradually realized that I never feel full enough after having meals. One day, I had to admit that it was an unusually day for me, prior to my eating behavior. So… on that day, I had some breakfast in the morning before I went to work. Right after I sat at my desk, I saw chocolate wafer I left in our refrigerator yesterday. And you could guess that I finished out all the wafers. Then, after having a training at Computer Center, I found myself having lunch with my colleagues at canteen. Back to my desk, I could not help myself not to eat lemper (Indonesian traditional snack) I got from the training. Before going home, my boss invited me and Erwin to go with her and her hubby to have meatball soup alias bakso (just to let you know, my boss is also pregnant at the moment) together. So there we were having a lunner (a term I use for combination of lunch and dinner hehehe) – too late for lunch but too early for dinner. At home, I still grabbed an apple I put at refrigerator and ate it. Not long after that, my mother in law asked us to have dinner and I said yes (please do not think I was kind of monster…). Dinner’s done. Then, I drank up a glass of milk and still consumed some lychees to close that day. Phew. Still, you know what, I did not feel full at all. I guess all food I consumed had been extracted to be passed on to my dude. Gee… he likes to eat very much then!

Well, now I need second helping in every lunch. Scary, eh?


Thursday, 25 January 2007
9:16 am

jessie's envy


You can learn how to be honest from children They will say what they see and what they feel without doubt
(“Gee.., you are as fat as my granny!”)

You can learn how to be sincere from children
They will give what they want to give without expecting the same thing
(“This cake is for you, Auntie..., eat! Eat!”)

You can learn how to be fearless from children
They will show you why you should enjoy a dangerous game
(In a theme park. “Wow, this riding was cool!!!!”)

You can learn how to be expressive from children
Their face will show you exactly what they feel
(“I got it, Uncle!! I won the game!!!”)

Most of all,
You can learn how to enjoy your life from children
They play whenever they want to play
They do not really care about what they will eat tomorrow
They are not afraid to face tomorrow
They are not too picky to choose friends

And you know what? Watching kids sometimes make me envious and wish I could turn back time – be a little girl who was not afraid of everything and enjoyed her life so much.

When I was a child, I spoke as a child, I understood as a child, I thought as a child; but when I became a man, I put away childish things.
1 Corinthian 13:11


Wednesday, 24 January 2007
1:24 pm

the last day which became the first day



The last day before our departure to Indonesia was unusually cold, especially at Christmas Eve in Australia. It is summer in the end of year and the first two months of the following year in Australia. Different with Europe and USA. We went to city having a walk and lunch and wished that it was not the last day for us in Melbourne. We love this city already. I am pretty sure enough that we’ll be missing this city, the people, the surrounding, the transportation (I really mean it!!! Be damned all the buses in Sydney!!!), the system, everything! But, well, show must go on, right?

Arrived at Tullamarine Airport, Melbourne almost midnight at Christmas Eve and accompanied by our pastor and his wife, all things that had to be done went pretty well. We did not have much problems with the check-in, our luggage and even the safety check. And there we were waiting for boarding, trying to entertain ourselves by purchasing some more liquors and walking around the stores nearby. From faraway, I heard Christmas tunes played. And when I was sticking around in small shop, Christmas Celebration in City of Melbourne was playing on TV. I wish I could be there watching it live. It would be an extraordinary experience and I would never find such event in Indonesia – or I will but it won’t be as safe as attending the event in Melbourne. We’ve got some delay about thirty minutes (I thought there would be no flight delay when you deal with a developed country like Australia?).

The journey by the plane was ok, though, as long as you’re not pregnant. Since we only got economic class (with really expensive price that actually could cost us for business class ticket!!!), we did not have comfy-enough space either for sitting or for sleeping – not to mention that we had bad weather in the air.


Before six o’clock in the morning (local time), we already stepped on the Kuala Lumpur Airport for the first time. It was outstanding. It was so big. It was clean (something that I later on found it extremely different with Juanda Airport, Surabaya). It was modern. Perhaps it was the best airport I have ever seen. The airport has two big buildings side by side. If you need to go to the other building, you have to take a ride on any monorail they provide every five to ten minutes and it takes another three minutes only to go to.

Having finished our checking-in and had some breakfast, we were waiting near the gate we were supposed to depart. Forty-five minutes went by and there was no prospect of boarding call for passengers because it seemed the gate door stayed closed. Suddenly we heard a final boarding call to both of us only! It turned out we had been waiting near the wrong gate which explained why that gate door remained closed! The officer even asked us, “Kenapa lambat ni?” (we were in Kuala Lumpur, Malaysia, remember?). Then, there we were sitting in a smaller plane with only one hour journey and a few passengers. Something which could be noticed soon was that we already heard our local language in the conversation between passengers.

One hour later, we arrived at Juanda Airport, Surabaya and were welcome by horrible cigar-smog smell in air-conditioned room (ckckckckck)! And when I went to the toilet, it was quite dirty. It turned out the last person who used the toilet did not flush it, so it was pretty disgusting for me to use it.

Hot weather. Extremely crowded. Cigar-smog pollution. It took only a few minutes for me to get sweat here while I never got sweat as I was in Melbourne.
Yet…, it was honestly nice to get home. We probably just need a few times to have ourselves adapted.

Thursday, 11 January 2007

10:14 am