RSS

seorang ibu tua dan keranjang birunya

Akhir-akhir ini ibu tua itu dengan keranjang birunya menyita perhatianku. Penampilannya tidak menarik. Rambutnya hitam keabu-abuan dengan uban menyembul disana-sini. Mungkin juga jarang tersentuh sisir dan shampoo. Kulitnya gelap karena terlalu lama berjemur dibawah teriknya matahari kota Surabaya. Badannya yang pendek semakin terlihat pendek karena ia berjalan membungkuk-bungkuk. Mungkin ada masalah dengan tulang punggungnya.

Ia sering sekali terlihat di sekitar kantorku pada jam-jam makan siang. Dengan keranjang birunya yang suatu hari tatkala ia mampir di kantor, sempat kuintip apa gerangan isinya. Waktu itu ia membawa cucur, jajan pasar tradisional – semacam kue isi cokelat, resoles dan puding. Rupanya pekerjaan ibu itu berkeliling menjajakan jualannya – yang menjelaskan mengapa ia selalu tampak lusuh dan tidak rapi.

Suatu hari kudengar dari salah satu rekan kerjaku yang sering membeli jajanannya, ia kecopetan di dalam bemo yang ia naiki di perjalanan pulangnya. Copet kurang ajar itu mengambil dompet si ibu tua ini tanpa peduli berapapun isinya. Jadilah ibu ini sedih bukan kepalang, bercerita pada rekan kerjaku itu bahwa ia masih ingat berapa banyak lembaran-lembaran rupiah yang tidak seberapa dalam dompetnya. Beberapa lembar uang seribuan dan dua atau tiga lembar uang lima ribuan. Tapi buat ibu ini, betapa besar arti lembaran-lembaran rupiah itu untuk menyambung hidupnya.

Aku giris mendengar cerita memilukan ini. Demi segala yang ada, copet itu pintar sekaligus bodoh. Tapi mungkin lebih tepat kalau kukatakan copet itu orang yang tidak tahu malu. Beraninya mencopet orang yang tidak akan melawan seandainya pun perbuatannya itu ketahuan. Ibu itu sudah tua. Kelihatan sekali dari jalannya yang pelan-pelan dan berhati-hati. Ibu itu sudah tua. Dengan keranjang birunya, ia hanya sedang berusaha bertahan hidup hanya dengan lembaran-lembaran rupiah yang tidak cukup berarti buat orang-orang tertentu. Ibu itu sudah tua. Tapi dengan heran dan miris aku bertanya, mengapa masih ada orang yang tega mengambil milik ibu tua yang tak seberapa itu.

Dan pertanyaan lain muncul. Mengusik hati dan pikiranku. Apa nurani sudah tidak ada? Atau ia ada tapi sudah bosan berteriak-teriak karena manusia menutup kuping rapat-rapat dan tidak mendengarkannya?

Entahlah. Aku sendiri juga harus mengakui bahwa mendengarkan nurani bicara sebenarnya mudah. Melakukannya yang kadang-kadang enggan. Hingga aku merasa di waktu-waktu tertentu ia jadi bisu.

Ibu tua itu dan keranjang birunya memang masih berkeliaran di sekitar kantorku – menawarkan jajanannya kepadaku dan rekan-rekan kerjaku. Dan aku hanya berharap, melalui kami, ia masih percaya bahwa tidak semua manusia di sekitarnya membungkam nurani mereka.


Selasa, 13 Februari 2007
2:43 pm

menjelang hari kasih sayang, semoga esok (dan esoknya dan esoknya) semua nurani dibiarkan bicara apa adanya oleh si empunya.

2 komentar ajah:

Surti said...

Happy valentine ya Jes..semoga cinta makin jaya!!! :))

~ jessie ~ said...

Hehehe... happy valentine too!! Hidup cinta!!!