RSS

satu bulan

Sebulan sudah umur anakku. Rasanya baru kemarin kurasakan ketegangan menunggu ia lahir dan memandang wajahnya untuk yang pertama kalinya. Buntelan kecil sepanjang tiga perempat lenganku itu sudah mulai berat dan memanjang. Wajahnya sedikit berbeda dari pertama kali ia lahir. Pipinya menggembung, matanya bertambah lebar, kaki dan tangannya lebih aktif menendang-nendang dan ia mulai menatap dengan rasa ingin tahu jika diajak bicara. Kadang-kadang dari mulutnya yang mungil mulai terdengar ocehan-ocehan kecil. Aku tak pernah bisa melakukan pekerjaan lain jika matanya melek dan ia mulai mengeluarkan suara-suara kecilnya. Pernah, setelah kususui, ia tidak segera tidur. Matanya melek lebar sekali. Kuletakkan ia diatas ranjangku dengan cermat kemudian aku menyalakan komputer untuk bermain. Tak sampai lima menit, aku mematikan komputer itu kembali. Aku tak tahan untuk tidak berada di sebelahnya mengajak bicara selagi ia melek.

Ia juga mulai mengerti jika kumarahi. Waktu itu ia buang air besar. Kutunggu hingga ia selesai mengeluarkan kotoran-kotoran dari dalam tubuhnya. Selagi kukira ia telah selesai, tiba-tiba muncratlah cairan kental kekuningan itu ke tanganku dan almari kecil yang ada di dekatku. Aku memekik kencang dan bersuara cukup keras. Ia pikir mungkin aku marah karena itu ia memutuskan untuk menangis (catatan: menangis minta minum dan menangis karena ngompol bisa dibedakan menurut ritme dan iramanya). Ketika kuhibur ia, kubilang aku tidak marah, dsb, berangsur-angsur tangis kerasnya berhenti dan tak lama ia tertidur tenang.

Kalau dulu pernah kubilang bahwa anakku ini cukup tenang - hanya menangis jika ia lapar, sekarang ini ia tidak hanya menangis jika lapar belaka tapi juga ketika ia merasa sendiri dan tak dipedulikan, ketika ia minta digendong (yang satu ini cukup mengganggu karena ia sudah bertambah berat yang mengakibatkan tangan ini terasa pegal dengan hanya beberapa menit menggendongnya).

Anakku merayakan satu bulannya dengan berputar-putar keliling Surabaya bersamaku, neneknya, daddy-nya dan pembantu neneknya mengantarkan kue untuk sekedar berterima kasih dan memberitahu orang-orang yang sudah memberi kado-kado bahwa satu bulan sudah umurnya.

Ah. Aku ingin menikmati setiap detik waktu bersamanya, karena aku sadar waktu berlari dengan cepat dan mau tak mau aku harus terus mengikutinya. Dan aku berdoa supaya aku siap jika anakku mulai membagi cintanya dengan perempuan lain selain diriku.

Ah, waktu. Berjalanlah santai. Demi aku dan anakku. Demi setiap ibu dan anaknya di belahan bumi manapun.

Selasa, 17 April 2007
7:44

0 komentar ajah: