RSS

my (damned) pride

Dari dulu saya suka nulis. Mulai nulis cerita sampai nulis naskah. Makanya waktu kecil doyan banget saya sama majalah Bobo, selalu rebutan sama adek kalo mau baca itu majalah. Saya pernah nulis cerita tentang lima puteri di sebuah kerajaan *lupa sudah namanya* yang ditinggal orang tuanya dan kerajaan itu hendak diambil alih oleh pengasuh mereka dan suaminya. Saya sendiri sebenarnya nggak inget kalau pernah nulis naskah kayak begituan. Tapi pernah waktu pulang ke rumah di kampung halaman, tiba-tiba nemu kertas-kertas tulisan saya itu. Saya sampai ketawa-ketawa sendiri ngebacanya. Mungkin itu sebabnya saya bikin blog. Untuk menuangkan tulisan-tulisan ga penting hasil pemikiran iseng-iseng saya. 

Tapi kali ini, ini baru pertama kalinya saya rasakan. Saya lagi benci menulis.

Beneran. Saya lagi nggak ada passion untuk nulis. Saya nggak tahu kenapa, tapi mungkin itu juga penyebab blog ini seperti dilupakan oleh penulisnya. Saya lama sekali enggak membuka blog ini. Ada beberapa teman yang menanyakan (adek saya juga) kenapa sih kok nggak pernah nge-blog lagi. Awalnya, saya pikir gara-gara facebook (salahin yang laen!! salahin!!). Tapi kemudian, saya pikir bukan juga lah. Mungkin karena kesibukan yang menyita waktu: pementasan bulan November, tugas kantor ke luar kota, kerjaan-kerjaan di kantor dan urusan rumah yang ribet juga (memang ribet kalau ga ada pembantu sih even though I hate to admit).

Beberapa waktu terakhir ini emang saya lagi dituntut nulis ini dan itu. Sebenernya enggak apa-apa sih, saya butuh juga dituntut supaya jam terbang kian tinggi *jyah gaya banget*. Tapi in the end ketika saya merasa tuntutan itu hanya untuk memenuhi ambisi pribadi seseorang, saya marah. Saya merasa dimanfaatkan. Dan saya berhenti menulis. Saya selesaikan naskah itu, tentu saja, karena saya sudah bilang ’ya’, karena saya nggak rela naskah itu jadi terbengkalai di tangan saya. Dan saya memaksa diri saya untuk menyelesaikan naskah itu bukan lagi untuk ambisi pribadi orang itu, tapi terlebih untuk Dia yang sudah kasih saya talenta untuk menulis. 

Belum juga itu naskah beres, dan hati yang campur aduk itu terbenahi, udah ada orang lain lagi yang minta tolong untuk bikin naskah. Sungguh. Saya nggak bermaksud nyombong. Saya sering dimintain tolong nulis naskah bukan karena tulisan saya bagus saya kira, tapi karena saya yang lagi available. Dan sejujur-jujurnya, saya nggak terlalu suka jika disuruh menulis naskah tapi ide dan konsep udah ada di kepala yang suruh nulis. Ya tulis aja sendiri napa?? Saya lebih enjoy kalau itu naskah saya tulis dengan ide saya sendiri, fresh from my kitchen’s brain dan itu naskah mau saya apain terserah saya. Mau saya bunuh semua karakternya juga terserah saya. Mau saya bikin seaneh mungkin endingnya juga terserah saya. Saya akan lebih puas dengan hasilnya daripada membaca naskah yang idenya dapet dari orang lain, yang alurnya juga ditentukan oleh orang lain. Jari-jari seperti ada yang ngiket. 

Lantas saya teringat sebuah kutipan: pride comes before a fall.

Yang membuat saya berpikir.. barangkali memang saya harus melewati yang seperti ini untuk pride saya yang udah terlalu tinggi. Entah sejak kapan saya berurusan dengan pride saya yang kian lama kian meninggi. Saya enggak mau diperintah. Saya enggak mau disuruh. Saya merasa bisa melakukan semuanya sendiri. Saya nggak mau orang lain ngurusin urusan pribadi saya. Saya kadang suka marah-marah karena orang-orang suka kasi comment atas apa yang saya perbuat sementara menurut saya mereka enggak tahu kenapa saya melakukan apa yang saya lakukan - dan karena mereka enggak tahu, enggak selayaknya mereka kasi comment. Padahal jika dipikir secara positif, barangkali mereka bukannya mau ikut campur urusan saya. Barangkali mereka memang tulus memberikan perhatian pada saya. Ketika saya disuruh dan diperintah, itu karena mereka nggak mau saya melakukan hal-hal yang mungkin enggak bijak keluar dari mulut saya. 

Me and my pride. Bikin saya benci melakukan sesuatu yang saya cintai. Ada yang bilang: it is better to lose your pride with someone you love rather than to lose that someone you love with your useless pride. Sempat juga meng-counter kalimat itu dengan: it is better to lose someone/something you lover rarter than to lose my pride – my pride makes me alive. Tapi pada kenyataannya, kehilangan sesuatu yang dicintai seperti kehilangan salah satu bagian tubuh. Biasanya ada, jadi nggak ada. Dan itu tidak mengenakkan sama sekali. Lebih baik sakit gigi daripada kehilangan sesuatu/seseorang yang dicintai. 

Saya lagi berjuang melawan ego saya. Saya lagi berjuang menjinakkan pride saya. Karena saya menyadari pride becomes useless when I let it control myself.

Dari situlah, saya kembali menulis ini. Berat sekali memulainya. Tapi saya percaya, sesuatu yang betul-betul saya cintai nggak akan pernah bisa saya lepaskan begitu saja.


Tuesday, 4 August 2009
2:01 pm 


2 komentar ajah:

Sri Riyati said...

Huaaa, Jessi, ini sama banget. Kadang males nulis karena dimintain ini itu tapi buat kepentingan orang lain. Adikku bikin website batik dan aku diminta bikin kata-katanya. Lhah aku nggak tau-menahu tentang usahanya dari awal, nggak tertarik sama topiknya, malah harus baca dulu dari sumbernya segala. Maksudku, ini kan bukan sekedar nulis bla2 tapi juga marketing. Aku selalu menulis apa yang aku sukai, apa yang aku pikirkan. Kata Amy Tan, menulis itu bisa memperbaiki masa lalu, mengubah sejarah. Tapi adikku ini bahkan tidak repot2 baca blogku, tapi minta aku koreksi atau edit tulisannya di website batiknya. ku tahu aku mungkin bisa bantu, tapi malesnya minta ampun. Apakah aku egois kalau cuma mau nulis blogku sendiri dan bilang aku tidak tertarik? Kayanya sih iya. Tapi bisa nggak nulis kalo kita merasa ini bukan topik yang kita minati, apalagi mereka menaruh harapan besar ke kita? Kadang aku pingin bilang, seandainya saja adik mau baca blogku dan berusaha ngertiin aku, mungkin aku lebih semangat bantu. Tapi bukannya kita mengerti dulu baru dimengerti? Huaaaa. Susah, susah. Salut ma Jessie yang masih bisa 'merendahkan diri'

jc said...

Btw, utk yg merendahkan diri itu.. jangan dikasi salut dulu deh daku.. coz masih gagal aja nih... maunya ngikutin pride muluuuu...