RSS

saya dan omong-omong kosong tentang agama

God didn't do this. We did.
-Robert Neville, I am Legend-

Dari kecil saya diajari bahwa saya tinggal di negara dengan lima agama, berbagai suku dan ras didalamnya - multikulturalis dimana perbedaan adalah sesuatu yang menyatukan dan bukannya memecahbelahkan. Tapi saat ini, saya lagi pengen ngomong tentang agama saja. Kenapa? Karena saya, kamu, kalian nggak pernah bisa milih kita lahir sebagai suku atau ras apa, sementara saya, kamu, kalian bisa memilih agama apa yang mau kita anut. Dan karena saya, kamu, kalian nggak bisa memilih suku dan ras mana, maka it will end of any points. Mau diperdebatkan sampai tua juga, suku dan ras enggak akan berubah. Dan karena saya beragama Kristen, maka saya tidak akan membahas tentang agama lain disini - it doesn't seem right kalau saya mengkritisi agama lain padahal yang sebener-benernya saya enggak betul-betul mengerti tentang agama mereka.

Pada suatu waktu di gereja, si pengkhotbah bertanya: what is religion? Apakah agama itu? Selama ini ketika orang-orang melakukan hal baik dan menurut mereka benar, mereka melandaskan perbuatan itu atas nama agama. Tapi yang menarik kuping saya adalah, menurut beliau, agama hanyalah media yang terstruktur rapi, ada aturannya dan ada pemimpinnya. That's it. Itu menurut beliau. Saya sendiri berpendapat agama adalah sebuah sistem yang mengatur cara manusia beribadah pada Tuhan mereka sekaligus wadah buat mereka untuk melakukan ibadah itu.

Karena itu saya kadang nggak habis mengerti jika kebetulan kuping saya mendengar ada orang-orang yang menjelek-jelekkan gereja lain *sori saya pakai gereja, karena disini saya beribadah di gereja bukan di tempat ibadah lain*. Misalnya: gereja itu noh kaga ada roh kudus, soalnya nggak ada yang bisa pakai bahasa roh atau eh, di gereja lu baptis percik atau baptis selam? kalau baptis percik, kaga sah tauk! baptis selam lebih alkitabiah! (kalau mau lebih alkitabiah lagi ke sungai yordan noh...) atau gereja lu rame kayak diskotik gitu, aye kaga bisa konsen beribadah dan laen-laen. Tapi yang sebenar-benarnya saya mikir, emangnya siapa dia kok berani-beraninya bilang itu jelek dan ini bagus, atau itu benar dan ini salah, atau disitu ada nggak ada roh kudus hanya karena enggak kelihatan jemaat yang berbahasa roh, atau sah enggak sah cara baptisan yang dilakukan, atau bagaimana cara memuji Tuhan. Memangnya Tuhan pernah membatasi bagaimana cara kita memujiNya? I'm under impression we can do any ways to worship Him. Dan soal cara baptisan, menurut saya, mau percik maupun selam itu enggak menjadi masalah. Kalau ketika saya dibaptis tapi hati saya sebenarnya enggak percaya sepenuhnya, baptisan yang dilakukan juga mungkin tetap nggak sah kali ya? Yang penting hati bukan sih? Karena (sekali lagi) menurut saya, baptisan di gereja itu adalah simbol, bahwa jemaat itu sudah menerima Yesus sebagai juru selamat dan siap menyatakan diri pada dunia bahwa ia adalah seorang Kristen.

Saya pernah terlibat percakapan seru dengan seorang teman. Mulainya dari saya sih. Saya bilang gini: kenapa sih cewek-cewek itu saling menggosipkan satu dengan yang lain? Maksud saya, diakui atau nggak, yang sering ngomong jelek di belakang itu cewek, dan siapa yang diomongin jelek? Ya cewek juga! Got what I mean? Terus teman saya bilang, iya juga sih, kapan hari waktu kebaktian di gerejanya terus dia lihat cewek pakai tanktop dia langsung ngebisikin pacarnya dan bilang: "Ko, liat deh, itu cewek kebaktian kok pakai tanktop?" Saya langsung bersin. Bukan karena denger dia ngomong gitu, tapi karena emang lagi mau bersin, hehehe. Enggak, tapi saya langsung meng-counter kata-katanya. Apa ada aturan kita harus pakai apa kalau mau ke gereja? Harus rapi jali? Berpakaian bagus? Bersepatu? Harus dandan? Harus tampil cantik? Tampil ganteng? Harum baunya? Enggak ada, saya kira! Lantas kenapa sih kita menghakimi atau ngomongin orang berdasarkan apa yang enggak patut menurut kita? Dulu papi saya juga pernah negur seorang anak remaja, hanya karena dia pakai sandal waktu ikut kebaktian. Kalau memang dia punyanya sandal aja gimana? Bukankah jauh lebih penting menyiapkan hati sebelum kebaktian daripada menyiapkan penampilan? Mungkin cewek ber-tanktop memang mau pamer badannya yang seksi waktu datang kebaktian *siapa tahu ada cowok sugan (super-ganteng) datang ke gereja? hehe*, tapi we never know kan? So why are we bothered with this matter?

Pernah juga dengar percakapan kayak begini nggak?
Interviewer: Denger-denger, anda sedang menggugat cerai suami anda?
A: Iya benar.
Interviewer: Kenapa ya, mbak? Apa ada sesuatu?
A: Ya ini semua mungkin takdir. Memang sudah jalan Tuhan harus melewati cobaan yang begini.

Pernah enggak? Pernah? Pernah? Lha, yang menggugat cerai itu siapa? Kok jadi nyalahin Tuhan sih? Yang serupa seperti ini nggak melulu tentang perceraian lho. Tapi banyak juga saya dengar *salah satunya terkadang keluar dari mulut saya sih*, jika terjadi sesuatu yang jelek terjadi *banjir, perang, penyakit*, banyak yang bertanya: kenapa sih Tuhan? Yah ini memang kehendak Tuhan. Waktu nonton I am Legend dan si Neville bilang: GOD DIDN'T DO THIS. WE DID. Bener banget!!! Banjir? Lah, siapa yang buang sampah sembarangan? Yang nebangin pohon seenak udel? Perang? Lah, siapa yang memulai peperangan? Siapa yang memutuskan mereka salah dan kami benar? Penyakit HIV yang belom ditemukan obatnya? Lah, siapa yang memutuskan untuk melakukan hubungan sex dengan lebih dari satu pasangan? Siapa? Dan seenaknya saja kita bilang TUHAN ADA DI BALIK SEMUA INI.

Barangkali saya sendiri juga tidak melulu benar. Saya terkadang bisa salah. Pemikiran saya bisa juga keliru. Dan saya sedang belajar untuk tidak men- judge from what it seems only. Pada kenyataannya sulit sekali untuk melakukan hal itu. Mungkin karena itu saya bilang juga, enggak mudah jadi orang Kristen. Lebih mudah melihat apa yang salah atau jelek pada diri orang lain daripada apa yang salah atau jelek dari diri sendiri. Sama dengan kata pepatah: gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak atau apa kata Alkitab:
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (Mat 7:3)

Sungguh. Saya
enggak bermaksud memojokkan orang Kristen atau agama Kristen. Saya juga orang Kristen dan saya bangga mengakuinya. Dan menurut saya, Kristen bukanlah sekedar agama. Kristen adalah orang-orang yang mengaku murid Kristus - yang (menurut saya, sekali lagi) seharusnya lebih peduli dengan ajaran Kristus daripada doktrin atau interpretasi yang dibuat oleh manusia - terlebih lagi daripada ngurusin bagaimana cara kita beribadah. Ngomong-ngomong soal itu, saya pernah diminta menulis di majalah gereja. Dan inilah waktu itu yang saya tulis:

PERDEBATAN
Seorang majelis gereja marah-marah. Dia baru saja bertugas di kebaktian pemuda. Namanya juga anak muda, kebaktiannya tentu ala anak muda. Alat musik lengkap, mulai dari yang berisik sampai yang mengalun. Memang jadi lebih bagus, tapi bapak majelis itu merasa tidak sepantasnya kebaktian model begitu diterapkan di gereja ini.

“Sejak kapan kita pakai musik berisik seperti itu!” katanya keras. “Macam diskotik saja! Musik itu harus yang syahdu, bikin damai di hati, bukan musik yang bikin jantungan!”


“Jadi ini cuma soal musik ya, pak?” tanya ketua komisi pemuda.


“Apa bedanya diskotik dengan gereja kalau musiknya seperti itu?!” Bapak majelis tidak peduli dengan pertanyaan si ketua komisi pemuda. Dia tetap menyerocos panjang lebar.


“Kalau masalahnya cuma musik, mungkin kita hanya belum terbiasa saja menggunakan musik macam itu di gereja ini, Pak.” Ketua komisi pemuda masih berusaha menjelaskan dengan sabar, meskipun hatinya nggondok bukan main.

“Sebagai anak muda, kalian harus belajar lebih banyak tentang tata cara dan tata laksana di gereja kita! Jangan asal coba-coba kayak begitu!”


Ketua komisi pemuda yang semakin dongkol karena diomelin panjang lebar pun membantah. “Lho, Pak, komisi dewasa kemarin juga bikin kebaktian khusus! Mereka malah undang pembicara dari Jakarta! Bukan dari gereja yang sealiran kita! Sudah begitu bayar mahal lagi! Masa pembicara kayak begitu dibayar sepuluh juta! Kan bukan pelayanan lagi itu, tapi sudah komersil!”

Salah satu pengurus komisi dewasa yang mendengar percakapan anak muda dengan majelis itu jadi ikutan marah. “Lho, kok jadi menyalahkan komisi saya? Kan tidak apa sekali-kali mengundang pembicara dari gereja yang tidak sealiran dengan gereja kita? Betul kan, bapak majelis? Bukankah waktu itu dalam rapat bapak ibu majelis sudah setuju? Hitung-hitung kita juga bisa belajar sesuatu yang beda dari biasanya.”

“Ya itu maksud saya, Pak Majelis!” Si pemuda merasa mendapat angin segar. “Kami pakai musik yang beda juga supaya dapat suasana yang beda, yang nggak membosankan. Kami anak-anak muda juga ingin berkreasi! Musik kan juga ciptaan Tuhan. Dan lagi, apa salahnya juga bertepuk tangan ketika kita menyanyi? Kan tidak menyalahi aturan manapun?”

Bapak majelis semakin marah-marah. “Tidak bisa! Kreasi macam apa kalau malah mengabaikan apa yang sudah ada dan lagu-lagu yang ditetapkan? Apalagi pakai tepuk-tepuk tangan segala! Dalam tata laksana gereja kita tidak ada itu!”

Seorang guru Sekolah Minggu yang kebetulan lewat jadi ikut-ikutan. “Tapi, Pak, kita di Sekolah Minggu juga tidak pakai lagu-lagu yang ditetapkan, Pak! Kalau pakai lagu-lagu itu, anak-anak juga jadi sulit menyanyikannya. Jadi, menurut saya, musik dan lagu itu memang bukan sesuatu yang esensial. Dan saya rasa bertepuk tangan pada waktu menyanyi juga tidak salah. ”


Bapak majelis jadi bingung. Mengapa tiba-tiba jadi dia yang disalahkan? Lalu kepada ketua komisi pemuda dia berkata: “Pokoknya tidak boleh!”


Semuanya bengong.

Malamnya ketua komisi pemuda merenung di rumah – teringat kembali perdebatannya dengan bapak majelis tadi siang. Dia sebenarnya tidak terima dengan teguran bapak majelis yang berkesan menghakimi. Bukan sekali itu pula dia terima teguran serupa. Datangnya juga dari orang-orang tertentu saja. Barangkali orang-orang yang merasa lebih mengerti tentang sistem dan aturan-aturan di gereja itu. Ayahnya, seorang jemaat biasa dalam gereja itu bertanya padanya. “Ada apa?”

Ketua komisi pemuda menceritakan kembali yang terjadi tadi siang tanpa embel-embel bahwa ia marah dan kecewa dengan bapak majelis tersebut. Ia ceritakan dengan datar tanpa berharap ayahnya dapat memberikan solusi yang tepat.


“Apa ada yang salah dengan musik dan lagu-lagu yang dimainkan seperti biasa?” tanya sang ayah.

“Tidak ada, ayah. Kami hanya ingin bikin kebaktian ala anak muda. Ingin bikin sesuatu yang tidak biasa. Apa itu salah juga?”

Sang ayah manggut-manggut tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Kenapa ayah diam saja?”


“Ayah sedang berpikir.”


“Coba katakan apa yang sedang ayah pikirkan.”


“Ayah berpikir seandainya Tuhan ikut dalam percakapan kalian tadi siang, kira-kira apa yang akan Dia katakan?”


Ketua komisi pemuda tersentak mendengar apa yang ayahnya katakan. Sejurus kemudian dia senyum-senyum sambil menggumamkan kata terima kasih pada ayahnya.
Hari Minggu setelah kebaktian pemuda, sambil cengar-cengir ketua komisi pemuda mendekati bapak majelis. “Bagaimana, Pak kebaktian kali ini?”

Bapak majelis terlihat ragu-ragu untuk menjawab. “Yah… sudah lumayan. Mestinya tetap tidak perlu ada lagu-lagu itu. Kita kan punya lagu-lagu sendiri.”


Kali ini komentar bapak majelis tidak berhasil membuat hatinya jengkel. Ketua komisi pemuda tetap tersenyum dengan ramah, sehingga bapak majelis sendiri pun ikutan tersenyum.
“Sudahlah. Saya mengerti gairah anak muda untuk membuat sesuatu yang berbeda memang lebih besar. Kami yang sudah mulai tua ini memang lebih nyaman dengan yang sudah ada. Tapi juga merupakan tugas kami untuk memberitahu kalian supaya kalian tidak lantas melupakan apa yang sudah ada.”

Tidak jauh dari ketua pemuda berdiri, sang ayah disapa oleh salah satu pengurus komisi dewasa.
“Bapak datang KKR yang kami adakan minggu lalu kan ya, Pak?” tanya ibu muda itu dengan sopan.

Sang ayah mengangguk.


“Bagaimana pendapat bapak tentang acara KKR tersebut? Bagus? Biasa saja? Kurang bagus? Atau bagaimana? Perlukah kami adakan lagi?”

Sang ayah diam sejenak kemudian menjawab: “Tidak penting apa pendapat saya. Yang penting apa pendapat Tuhan. Betul begitu?”

Ibu muda itu tertegun.

21 Oktober 2008
2:41 pm


Thursday, 6 August 2009
11:40 am

2 komentar ajah:

rikes said...

hehehe
akhirnya back on track lagi yah.
diantara banyaknya perbedaan2 pikiran, pendapat dan pandangan tentang sesuatu hal antara diriku dan dirimu, tulisan ini adalah salah satu dari sekian sedikit hal yang sama yang bisa ditemukan dari kepala kita.
*halah bahasanya ribet bener... n____n
hohohoho

jc said...

Aduh.. my best friend... wkakakaka..
lebih sering sepahamnya ato enggaknya? ;D