RSS

dasar ndeso!

Waktu tadi saya nonton iklannya Tukul terbaru tentang produk Air-Conditioner suatu merk, saya tertegun. Disitu ceritanya si Tukul kan kepanasan terus dia nyemplung ke bak mandi. Katanya itu cara tercepat dan terhemat untuk menghilangkan panas. Kemudian ada perempuan *yang rasanya disitu berperan sebagai istrinya - whatever* bilang: "Dasar ndeso! Pake AC *tittttt.. nyebutin merk* dong!" Kenapa saya tertegun? Karena iklan itu memberikan kesan bahwa apa yang dilakukan itu ndeso dan buruk adanya.

Saya enggak tahu darimana kata ndeso. Kalau nggak salah barangkali dari kata desa. Jadi bisa disimpulkan ndeso adalah orang-orang yang perilakunya seperti di desa. What's wrong with living in a village?? Oke, saya ngaku, mungkin saya nggak bisa hidup di desa, tanpa komputer, tanpa tivi, tanpa ponsel, tanpa listrik barangkali. DAN SAYA TIDAK BANGGA BILANG ITU SEMUA. Saya tidak bangga bilang kalau saya sangat bergantung dengan semuanya itu. Jika listrik mati maka saya mati gaya, gosh, what am I proud of that for? Saya justru salut dengan orang-orang yang bisa tinggal di desa. Yang masih bisa hidup tanpa itu semua! Mereka enggak tergantung dengan sesuatu yang bernama komputer, ponsel, maupun tivi!

Pernah saya mau ngenalin temen cewek saya ke temen cowok saya yang jomblo *gini-gini mantan makcomblang handal lho saya!!! leh jadi promosi wkwkwk*. Temen cewek ini enggak punya facebook. Sebenernya nggak masalah kan ya nggak punya facebook, tapi temen cowok saya bilang gini: "Hari gini nggak punya facebook?? Ngapain aja dia sehari-hari??" (Moral of this statement: sehari-harinya dia cuma maen facebook) Pernah juga ada satu teman yang enggak ngerti facebook itu apa, enggak tahu bagaimana penggunaan MS Word dan karenanya nggak tahu Ctrl+S itu apa, Copy-Paste itu apa, but then so what? Dia masih bisa menikmati hidup tanpa tahu facebook, tanpa tahu email, tanpa tahu MS Word and mantra-mantranya. Dia bahkan bisa pergi ke Manchester untuk mengikuti ujian musik sementara kami-kami ini yang sangat mengerti facebook, mahir menggunakan MS Word masih tinggal disini-sini aja, nggak bisa kemana-mana. Ada juga yang bilang: "Idih, hari gini henfon suamimu masih gitu-gitu aja, sekarang kan jamannya Blackberry boo." Tanpa Blackberry suami saya masih bisa hidup, masih bisa cari nafkah, masih bisa nemenin istrinya yang cantek ini hehehe, so what?

Being modern which means knowing almost everything about technology (and maybe owning Blackberry) is not a sin, but being ndeso pun ENGGAK APA-APA. Itu bukan sesuatu yang esensial untuk hidup. Buat apa punya Blackberry kalau dipakai hanya untuk update status di Facebook? Hanya untuk menjaga gengsi? Kata temen saya, gengsi itu letaknya di pantat! Buat apa punya mengejar punya IPhone kalau hanya digunakan untuk telepon dan SMS? Buat apa punya facebook kalau hanya untuk berstatus "oahmm.. ngantuk" atau "enaknya makan apa ya? bakso atau sushi?"? Untuk sebuah eksistensi? Sosialisasi? Saya punya facebook, dan saya juga lagi berjuang untuk tidak bergantung dan kecanduan pada facebook. Facebook berguna juga untuk ketemu lagi dengan teman-teman lama saya yang sudah menyebar kemana-mana. Artis-artis yang dulu sepertinya tak terjangkau juga sekarang hanya sejauh facebook, twitter dan blog. Tapi ENGGAK PUNYA pun enggak papa! Masih bisa menikmati hidup! Enggak ndeso!

Memangnya salah hidup tanpa AC? Salah hidup tanpa komputer? Salah hidup ndeso style? Karena ada orang-orang yang hidup di desa mengolah padi jadi beras itu yang bikin orang Indonesia hidup sekarang! *padahal kan makan ga harus pake nasi ya? dasar orang Indonesia hehehe*

Anyway, it's just a thought. Any opinion will be highly appreciated. Don't get me wrong, saya bukannya enggak suka modern lifestyle tapi modern lifestyle is not the only choice to live with kan? Why don't we respect each other then? Gosh...

Sunday, 13 September 2009
5:26 pm

10 komentar ajah:

Fanni said...

Jesi, I am always suspicious people who own the latest gadget, like Blackberry,(and think they're so modern) can use only up to 50% of their gadget's features :D

rikes said...

biarkanlah orang kota tetep di kota, dan orang desa tetep di desa. kalo gak ntar kota penuh
hehehehehe

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Jessi, 100% setubuh eh setuju!!! Tahu teknologi itu bagus buanget tapi yang gak bagus itu kalau ngatain atau menilai orang lain yang gak tahu teknologi (bukan pengalaman pribadi lho ya, hihihi). Salah kalau kemelekan terhadap teknologi jadi satu-satunya tolok ukur "kemajuan". Ini saya rasakan sekali waktu di Papua. Orang Papua HPnya selalu paling canggih meskipun di rumahnya gak ada sinyal. Sampai kita bikin becandaan:ibu-ibu DPR Papua belanja HP terbaru trus ditanya sama yang jual, "ibu rumahnya mana?"
Jawab ibu DPR, "Saya tinggal di Elagaima, Pegunungan Jaya Wijaya,"
"Wah di sana memangnya ada sinyal Bu? Kalalu nggak ada sinyal HPnya tidak bisa dipakai"
Ibu DPR katrok tapi kaya menjawab, "Kalau begitu saya beli HP satu sinyalnya satu. Bungkus!"

Seringkali yang dipikir terlalu banyak itu cuma pembangunan fisik, tapi lupa pembangunan mental. Kelihatannya dari luar bagus tapi nggak tahu fungsinya untuk apa. Fisiknya sih paling keren: pake blackberry, kerjanya nongkrongin internet, tas tangan louis vuitton dan nge-twitter tiap hari. Tapi otaknya tidak diisi. Cuma ikut tren dan nggak punya pendirian. Pandangan cuma sejauh layar komputer dan layar HP. Rasanya pingin menyadarkan orang-orang ini: Get a life! Hidup kok cuman di virtual reality. Gadgetnya canggih tapi tidak punya pengalaman apapun. Kemajuan menurutku perubahan pola pikir. Ketika kita berpindah dari 'mental bangsa terjajah' jadi 'mental setara' dan dari 'keren-kerenan' ke 'apa yang kita anggap berharga' saat itula kita maju selangkah. Jangan mundur selangkah. Emangnya main donal bebek. Khekhekhe. Nice post Jess!

jc said...

@Fanni: oh well.. it's ok lah they have Blackberry even though only using up to 50% of the features.. as long as they can respect each other.. No blackberry no cry! Wkakakaka

@Rikes: save ur comment to be sent to Cikeas hohohoho.. berani lo??

@Ria *kalo ga salah*: iya, Ya.. teknologi mah ga salah, teknologi membantu mempermudah apa aja yg bisa kita lakukan, teknologi hanya salah satu kemajuan gaya hidup manusia, tapi kan ada kemajuan yg lain ya? Hehehe.. thanks ya udh comment, daku juga suka terbang kemana-mana kalau dipuji oleh dirimu wkakaka..ini aja sekarang aku udh sampe di Bromo *loh?*

Mei Fang said...

setuju, jes. so what kalo ndeso. toh kita juga makan nasi dari orang ndeso juga yg namanya pak tani. mana ada nanam padi di pusat kota.

jc said...

Waaa... c'Meifannnggg... tak menyangka saya kalo cc ikut membaca blog sayaaaaaa.. hehheehehe..
Makasi ya cikkk.... ;D

hubby said...

so, My Love... stay out of the computer and facebook at home... so that I can use them...peace

jc said...

@hubby: as if I havent done it yet... *sigh*

Bandung Yes said...

No comment.. salam kenal aja dech..heheeee

jc said...

@BandungYes: enggak papa! salam kenal juga! Hehehehe..