RSS

dunia versus

"I don't know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody."
~Bill Cosby
~

Pada beberapa kali percakapan dan obrolan penting maupun tak penting, ada teman-teman dan keluarga yang ternyata mampir di blog ini tanpa saya tahu. Hari ini, saya baru tahu kalau om saya kadang-kadang suka baca blog saya ini. Beliau saya tanya, kalau memang kadang-kadang mengunjungi blog ini kenapa nggak pernah drop some comments sih? Jawaban beliau enggak saya duga sama sekali. Jawabannya gini: jangan dan belum waktunya. Ya jelas saya tanya balik dong: kenapa om kenapaaaaa???? apa om pemalu??? apa om takut eksis??? (sambil guncang-guncang bahu dan nangis bombay). Enggak ding, yang terakhir saya karang sendiri kalau-kalau nanti ada yang berminat bikin autobiografi saya dalam bentuk komik *lho?*. Saya tanya kenapanya masih biasa-biasa aja kok. Jawaban selanjutnya lebih nggak diduga lagi: nggak papa, supaya produktif. He? Maksudnya? Ada yang tahu maksudnya? Adaaaa??? Adaaaa??? Stop.

Percakapan nan absurd di dunia maya itu (saya dan om pake ym) mengingatkan saya pada seorang teman yang pernah mengkritik salah satu postingan saya secara anonymous (yups, akhirnya dia ngaku dan menurut saya, pengakuan macam itu butuh keberanian yang besar dan saya salut sama dia). Dia bilang, dia takut kalau kritiknya bisa bikin saya berhenti menulis. Istilah kerennya, dia takut saya mutung (tanpa kasarung) kemudian mendelete blog saya kemudian saya terjun dari gedung tingkat tinggi karena ngikuti trend bunuh diri. Not.

Lalu saya bilang sama dia,
jangan khawatir, bro, it would take more than that to stop me writing, istilah lainnya: bunuh saya dulu baru saya berhenti menulis! Pada waktu pertama kali bikin blog, saya bikin untuk diri saya sendiri. Untuk menuang segala apa yang ada dalam pikiran saya. Enggak mikir grammatical error, enggak mikir apa kata orang, enggak mikir dibaca atau nggak, pokoknya asal nulis aja. Biar aneh juga, pokoknya nulis *ih maksa deh*. Lama-lama ketika blog ini mulai go public *ceilah* saya mulai menyadari bahwa ada hal-hal tertentu yang enggak bisa ikutan go public. Misalnya tentang masalah keluarga, atau masalah pribadi dengan pasangan (masa saya curi-curi pandang ke cowok lain saya tulis disini? ketahuan hubby gimana?? hehehe). Tapi ada satu hal yang bikin saya sadar, apapun yang saya tulis disini, di blog ini, jika sudah mendarat di dunia maya tanpa batas ini, segala resiko harus diterima. Pujian dan kritik pun harus diterima dua-duanya. Itu resiko punya blog yang bisa diakses manapun. Jadi kalau saya cuma mau menerima bagus lho blognya atau keren nih blog atau menarik banget tulisanmu itu saya nggak fair. Saya juga harus menerima komentar-komentar macam saya nggak setuju dengan apa yg kamu tulis atau atau menurut saya tulisan kamu terlalu obyektif atau blog kamu ini rubbish! atau tulisan kamu sama freak-nya sama kamu, itu saya harus terima. Saya juga enggak bisa tanya kenapa, karena tiap kali dapet pujian saya juga enggak tanya kenapa. Ini sama dengan perkara berkat vs musibah. Kenapa tiap kali terima berkat saya nggak pernah protes ke Tuhan, tapi tiap kali ada musibah, saya protes! Itu kan aneh!

Pernah dalam satu kurun waktu hidup saya terbengkalai. Sepertinya ada yang menyeret kesana dan kesini tapi saya malah jadi depresi. Intinya adalah saya berusaha membuat senang semua orang. Orang ngomong apa saya pikirin, komentar apa saya turutin, dan ternyata itu bikin saya frustasi, karena saya melakukan apa yang orang lain bilang, bukan apa yang bener-bener pengen saya lakukan. Makanya pekerjaan paling berat di dunia ini bukan angkat besi apalagi angkat traktor, tapi bikin semua orang yang kita kenal itu senang hatinya. Hati senang atau enggak itu bukan dari faktor eksternal, tapi sembilan puluh persen merupakan faktor internal. Orang boleh bikin kesel, bikin capek hati, tapi yang mutusin untuk terus-terusan bete dan mengeluh siapa? Tentu diri sendiri kan?

Jadi intinya apa sih saya ngomong ngalor-ngidul (ngalor ngidul itu bahasa indonesianya apa ya? hehehehe) ini? Intinya barangkali, dalam hidup ini enggak selalu yang enak aja yang bakal diterima, kalau kita mau terima yang enak-enak aja dan enggak pengen terima yang enggak enak, percayalah, semakin rendah harga dan apresiasi yang diberikan untuk sesuatu yang enak-enak itu. Dan semakin tidak istimewa rupanya.


Lagipula, coba bayangkan jika semua manusia di dunia ini punya pemikiran yang sama, pendapat yang enggak beda dan ide-ide yang kembar, betapa membosankan bukan main dunia ini!

Wednesday, 10 February 2010
4:09 pm

5 komentar ajah:

Fanda said...

Pokoknya berani tampil sebagai diri sendiri. Perkara org ga setuju, ya..salah sendiri ga setuju! Toh yg menjalani hidup ini kita. Yg akan merasakan akibat keputusan kita, ya kita juga kok.

Mengenai tulisan di blog...untunglah manusia2 yg sering kubicarakan di blogku ga ada yg pernah baca. Bahkan nama blogku pun ga tau.

Btw, om-mu kok tahu blogmu ya? Pernah kamu kasih tau?

~ jessie ~ said...

Betul sekali, Fan! Istilah lainnya adalah: be yourself! Hehehe.. Ow, saya pernah sih nulis tentang orang lain dalam bentuk keluhan, pujian, maupun kritik tp ya itu tadi kok ya pas orangnya baca gitu loh...
Aku ga kasi tau omku aku pny blog, Fan. Emg sih aku cantumin nama blogku di info fb, tp bknnya org2 jarang bgt ya liat info di fb? Tauk deh. Aku jg br tau kok soal omku itu.
Btw, ada gt yg msh blom tau blog Fanda? Ckckckck..krg gaul itu orang.. famous Fanda kok ga tahu! Hehehehe..

Sang Cerpenis bercerita said...

bebas berpendpt dan menuliskannya dalam blog. cuek aja apa kata orang.

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Kalo aku males ngasih kritik. Kalo aku ngedit ya minimal harus dibayar. Money eye mode on. Hehe.

Iya Jess. Salut. Masih banyak orang gak nerima kritik. Tapi biasanya kalo blog yang wagu banget aku nggak repot2 ngritik, kecuali orangnya temen deketku yang berambisi jadi penulis online (obsesi:blogger) baru aku kasih tahu pendapatku yang sebenernya. Tapi kalo blog tak dikenal ya aku tutup aja sambil ketawa2 dan nggak mampir lagi (kecuali butuh ngetawain hal yang mnrtku wagu, tapi jelas ga repot2 komen). Aku juga tahu tulisan di blogku wagu, karna mulanya kan bukan buat bikin kolom yang dibaca publik. Itu sarana komunikasi (baca:curhat) aku ama Kristina. Jadi isinya lebih sering jayus dan gak mutu karena kami jadi diri sendiri yang motonya: wagu atau mati. Jadi jangan harap bisa ngritik blogku. Suka2 kita dunk. Halah haha... Btw, sampai dimana ya obsesi kita jadi penulis? Apa blog bisa memberi jalan?

~ jessie ~ said...

@Fanny: Iya sih, Fan.. apalagi kalo kritiknya berbau anonymous ya? Hehehehe...

@Ria: Haruse aku niru motomu, Ya! Tenan! Wagu atau mati! Sesuai dengan nenek moyang kita dulu: Merdeka atau Mati! Sampai dimana obsesis kita ya?? Nulis blog aja ini masih keteteran coba... ;(( huhuhuhu