RSS

me and the apparel

Karena kelalaian saya (dan bukan juga untuk yang pertama kalinya) saya harus ganti kacamata. Itulah akibatnya kalau terlalu meremehkan intelegensi dan kekuatan tangan anak kecil. Yang ada gagang kacamata saya patah di tangan anak saya padahal kacamata itu juga termasuk baru. Perihal saya pakai kacamata baru ini bikin beberapa teman saya komentar. Dan komentar itu tak lain tak bukan, katanya wajah saya nampak lebih galak jika sedang memakai kacamata. Tidak memakai pun sudah tampak sedikit galak, apalagi memakai. Begitu kata teman saya. Yang lain bisa saja berpendapat lain. Dan pendapat kayak begini kebenarannya sangat subyektif.

Tapi benar enggak benar, saya merasa memakai kacamata ada untungnya biarpun nampak galak. Karena ketika saya lagi memakai kacamata dan nyetir mobil ke kantor saya enggak pernah didatangi satpam untuk diminta mindahin mobil lantaran satpamnya butuh kacamata juga, dikira mereka saya masih mahasiswa. Seringnya mereka mendatangi saya yang sedang sibuk parkir mobil di area parkirnya karya
wan sambil berwajah garang dan bilang, “Maaf, mbak, mahasiswa dilarang parkir disini!” Di lain waktu ada satpam yang lebih ramah mendatangi saya dan mengatakan: “Mahasiswa, mbak? Parkirnya bukan disini.” Kalau sudah begini saya selalu ngebayangin datang pakai kacamata hitam kemudian pas didatangin saya kasih lihat ID Card saya yang kayak punya Federal Agent Jack Bauer-nya 24 sehingga satpamnya langsung hormat grak dan memberikan tempat parkir terhormat pada saya. Not. Mimpi aja, deh.

Pengalaman saya ini membuktikan bahwa orang masih sangat peduli dengan penampilan. Biarpun pepatah don’t judge book by its cover sampai sekarang masih didengungkan, tapi entah bagaimana bagi beberapa orang penampilan itu penting adanya. Di kampus tempat saya bekerja mahasiswi-mahasiswinya keren-keren. Boleh lah dibilang, mau lihat model terbaru busana saat ini? Silahkan datang ke kampus saya! Saya bahkan pernah melihat seorang mahasiswi keren dengan rambut ikal menggelantung di punggung mengenakan baju model terbaru, celana pendek gaul dan sepatu high-heel. Bahu kanan menyanding tas LV (entah asli, entah KW1, entah KW2, entah KWekKWek, saya enggak pernah bisa bedain), tangan kiri pegang Blackberry. Ada kolega saya pernah komentar: ”Mau ke kampus atau mau nge-mall?” Kalau saya sih cuek aja. Soalnya itu semua menurut saya enggak penting. Mereka mau dandan kayak apa itu hak mereka. Mau dandanan lu ancur kek, mau dandanan lu keren kek, mau madu di tangan kanan, blackberry di tangan kiri kek, yang penting kuliahnya serius maju terus pantang mundur! Saya juga pernah dengar kalau mahasiswi yang biasanya dandan abis hanya untuk datang ke kelas mendengarkan dosen berceramah biasanya prestasi akademiknya kurang bagus. Saya juga kurang setuju. Saya punya sepupu yang cantik, keren, sangat paham bagaimana mendandani wajah, rambut dan tubuhnya, up-to-date busananya dan dia lulus cum laude. See?

Kalau sudah begini ada ju
ga yang bilang you are what you wear. Memang dari penampilan sekilas bisa kelihatan nih orang karakternya seperti apa. Tapi cuma sekilas lho, enggak mungkin langsung tahu nih orang kayak apa hanya dari penampilan belaka. Busana cewek tomboy biasanya nggak jauh-jauh dari kaus oblong, celana seadanya dan enggak memilih stilleto untuk dipakai sebagai alas kaki. Sebaliknya cewek feminin biasanya suka pakai rok, kaus yang rapi, berkesan anggun dengan warna-warna lembut dan sepatu/sandal cewek yang dibeli di Charles & Keith atau Jimmy Choo. Tetapi bahkan untuk pemilihan gaun malam cewek tomboy dan feminin pun berbeda. Biasanya (biasanya lho ya) gaun malam cewek tomboy enggak ribet, simpel dan nyaman dipakai. Sedangkan cewek feminin barangkali gaunnya lebih ada pernak-pernik dan berkesan.. feminin dong. Itu juga enggak salah. Penampilan jadi sesuatu yang penting untuk ditunjukkan. Maap ya kalau perbandingannya cewek tomboy dan cewek feminin aja, yang setengah tomboy setengah feminin enggak disebut jangan marah hehehehe. Kita hidup di dunia yang lebih berpihak pada hitam putih mennn..

Jadi intinya kalau menurut saya sih, kita semua bebas memilih apa pun yang ingin kita pakai mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kalau ada orang yang enggak suka dengan apa yang kita pakai? Selamanya kita enggak bisa kok mencegah orang lain berpikir penampilan kita ini keren/jelek/ancur/bagus/ok/asik. Kalau saya sih (kalau saya lho ya) biarin aja orang ngomong apa, baju juga baju saya sendiri, beli pake uang saya sendiri, saya yang make, kalau situ nggak suka silahkan alihkan pandangan situ ke tempat lain! Hehehehe.. Eh, tapi saya juga enggak sembarang berbusana kalau pas lagi jalan-jalan ama hubby en Vinn lho. Apalagi kalau pas nge-mall yang kebanyakan ibu-ibu yang jalan disitu bawa baby sitter-nya - satu anak satu baby sitter. Daripada saya dikira babysitter anak saya sendiri?

Dan saya sama sekali enggak berpikir bahwa teman saya itu jahat karena ngomentarin saya yang tampak galak dengan kacamata baru saya lho. Saya sama sekali enggak tersinggung dengan komentarnya. Saya malah senang, karena itu berarti dia memperhatikan saya. Dia teman saya, ingat? Beda dengan orang yang baru ketemu sekali dan udah komentar ini dan itu, nah lho!

Tuesday, 23 March 2010
12:11 am

5 komentar ajah:

Vicky Laurentina said...

Aku juga pakai kacamata. Kata orang, kalau aku pakai kacamata, tampangku jadi serius. Ada yang bilang tampangku jadi jutek. Halah..mana yang bener?

Ya udah, kucopot aja kacamataku. Cuman dipakai kalau lagi peristiwa tertentu. Misalnya, nonton simposium. Cek harga barang. Atau kalau lagi ngeliatin cowok-cowok cakep..^^

jc said...

Juga nonton film yang bahasa aslinya bahasa jerman/prancis/india yang mau ga mau harus baca subtitle hehehe..

Fanda said...

Setuju Jes! pertama bahwa what we wear will show what we are. Serius nih! Orang bisa aja bilang yg penting kan isi otakdan hatinya. Tapi, org yg pertama kali ketemu kita kan gak bisa ngeliat isi otak dan hati kita? Satu-satunya ya dari penampilan kita.

Maka, menurut aku kita tetap harus berpenampilan sebagaimana kita ingin dilihat orang. Kalo kita pengen dianggap serius, ya jangan pake kaos oblong, jeans belel dan sandal jepit dong, meskipun dandanan itu yg paling kita sukai dan bikin kita nyaman. Apa artinya nyaman kalo akhirnya gak dapet kepercayaan dari klien misalnya.

Khusus buat cewek, bagiku tampil rapi setiap saat itu harus. Aku paling ga suka liat cewek yang keluar rumah masih acak2an. Kok kayaknya gak menghargai dirinya sendiri ya... (menurut aku loh)

Grace Receiver said...

Hehe.. sama saya juga pake kacamata. Jadi pengen tau, kamu minus berapa? Saya minus 9 (hehe.. minus koq bangga ya?). Harusnya ngga boleh terlalu lama di depan komputer, tapi sudah kecanduan internet. Jadi sempatin dulu bw. Kalo menurut saya, meski penampilan itu penting, tapi tetap saja, inner beauty jauh lebih penting.

jc said...

@Fanda: Iyup emang bener Fan. Jadi kalau enggak peduli orang mau apa baru terserah mo pakai baju apa, gitu yah? Hehehehe. Aku juga setuju kalau bagaimana kita berbusana harus menyesuaikan waktu dan tempat yang akan kita tuju. Makanya jangan sampe yah kaos oblong jeans belel dan sandal jepit masuk ke ruang rapat dimana kita hendak mempresentasikan ide dan program2 kita.

@Grace Receiver: Halo sesama pengguna kacamata!! HEehhe.. Wah lumayan gede juga tuh ukuran minusnya. Kalau aku yang kiri cuma 2,75 yang kanan 2,25 jadi enggak terlalu tebal. Lebih sering pake softlens sih daripada kacamata karena kalo pake softlens kan biasanya ga melorot ke hidung ya? *lho?* Hehehe