RSS

yang tak abadi


Ada hal-hal yang indah karena ketidakabadiannya
  Seperti senja di Pulau Merah
Seperti kue nastar di hari Natal
Seperti masa kanak-kanak dan cinta pertama yang datang hanya sekali
Seperti secangkir kopi segar di saat gerimis
Seperti rahasia-rahasia kecil dengan ayah yang terbawa mati
Seperti liburan di akhir tahun

Yang tak abadi lah yang kau dan aku selalu tunggu,
sambil berharap yang tak abadi itu menjadi abadi.
Tapi, keabadian yang kau dan aku harapkan itu tak lama akan membosankan adanya
     
      Seperti senja yang tak kunjung tenggelam sementara kau dan aku menantikan bulan tambun di langit
      Seperti kue nastar yang tersedia sepanjang tahun sehingga ia tak lagi istimewa
      Seperti masa kanak-kanak anak perempuan tanpa adanya buah dada atau anak laki-laki tanpa     mimpi basah
      Seperti cinta pertama yang terjadi pada orang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, lalu kau dan aku bertanya: apa itu cinta? Apa bedanya dengan rasa penasaran?
      Seperti liburan tanpa pekerjaan, sehingga otak dan otot tak lagi bekerja dengan baik; sehingga barangkali takkan muncul generasi masa kininya Leonardo da Vinci, Henry Ford, Stephen Sondheim, Ahok, dan Rowan Atkinson.

Ada hal-hal yang indah karena ketidakabadiannya
Seperti secangkir kopi segar di saat gerimis
Seperti rahasia-rahasia kecil dengan ayah yang terbawa mati

Hidup ternyata lebih indah karena banyak ketidakabadian di dalamnya.
Kau dan aku tak lagi perlu melihat orang lain susah untuk bisa bersyukur.
Seperti kata Sapardi: “Yang fana adalah waktu, kita abadi."
Dan yang tak abadi membuat kau dan aku abadi.


Banyuwangi – Surabaya, 30 Desember 2015

happiness is like a carpet


Are you happy because you are happy or you think you are supposed to be happy?

What is happiness?
Life is series of choices. So is happiness.
Happiness is a choice. She said.
Happiness is a thought. He said.
Happiness is a collection of certain memories.
Of your families. Of your friends. Of your exes.
Happiness is a glass of water when you really need one. 
Happiness is a few seconds of the ecstasy in bed with someone. 
Yes, I know, it’s also called orgasm. And germ.
Happiness is a clock. Tick tock tick tock.
He’s coming to your door, standing on the floor, his kiss you’re craving for.
Happiness is breathing at the breaking dawn, flirting with the falling dusk, making love with the big fat moon.
Happiness is tears of joy after watching a movie with a stranger beside you.
Happiness is a cup of coffee you brew for yourself, when rain stepping its feet on the ground, shaping a beautiful sound, healing your wound, with books you were born.
At the end, happiness is a price you have to pay, then, to spend, make you bend to mend.
For me, happiness is like a carpet. 
It helps you stay comfortable on the ground.
However, you have to clean it day by day, or from it, the dust will keep you away.
Happiness is like the carpet.
It is not a choice, it is not a thought. 
Happiness is like the carpet.
It is sewed to keep your feet safe and warm.
For you need to step a little farther.
A little farther. A little farther.
Happiness will guide you a little farther.
A little farther. A little farther.
The carpet is as far as you are walking on.
Happiness is not a choice. Happiness is not a thought.
Happiness is just there for you. For me. 

Are you happy because you are happy or you think you are supposed to be happy?


Surabaya, 6 November 2015
11:46 pm

[PROMPT : THE CARPET]  #NANOWRIMO

PS : Picture taken from here

dunia maya

Dunia maya adalah dunia yang mengerikan. Di dunia ini, kau belum tentu kau dan aku belum tentu aku. Aku yang kau kenal di dunia maya bisa berbeda dengan yang kau kenal di dunia nyata. Dan kau yang kukenal di dunia maya bisa berbeda dengan yang kukenal di dunia nyata. Tidakkah itu mengerikan?

Dunia maya adalah dunia penghakiman. Dimana aku menghakimi kau sebagai manusia terkeren sejagat raya dan kau menghakimi aku sebagai makhluk teraneh di seluruh muka bumi ini. Aku menghakimi tokoh-tokoh ternama berdasarkan judul dan isi sebuah artikel yang ditulis oleh orang yang bahkan tak kukenal. Tapi aku percaya. Atas nama ilmu jurnalisme. Kau? Kau menghakimi teman-temanmu melalui tulisan-tulisan singkat yang kau bagikan. Seolah-olah kalian saling mengenal satu dengan yang lain, padahal tidak sama sekali.

Dunia maya juga dunia perbandingan. Hei, kau tahu Steve Jobs yang menciptakan produk-produk Apple yang kau pakai itu ternyata tidak mengijinkan anak-anaknya menggunakan produk-produk yang ia ciptakan sendiri! Gawai-gawai yang keren dan kekinian itu? Yang sudah banyak diberikan pada anak-anakmu yang bahkan mengikat tali sepatu sendiri pun belum bisa. Lalu? Anak-anak Steve Jobs main apa? Main pasir! Main di kebun, halaman belakang rumah! Bersenang-senang di bawah sinar matahari! Dan tiba-tiba semua orang di negeri ini setuju. Bagikan. Bagikan. Bagikan. Sembari bicara setengah menasehati: tuh makanya anak-anak lu dikasi main pasir, main di kebun, senang-senang di bawah sinar matahari. Seperti anak-anaknya Steve Jobs, orang jenius itu. Aku sendiri bertanya-tanya. Dimana aku menemukan pasir terdekat buat anak-anak untuk bermain? Aku harus menempuh perjalanan minimal satu jam untuk mendapatkan pasir dengan pemandangan seadanya dan sampah-sampah yang mengganggu pandangan mata. Jika aku ingin menemukan pasir yang bersih berikut pemandangan indah, harus kulalui daratan dan lautan selama belasan jam. Merasakan mabuk darat dan mabuk laut sekaligus. Berbahagialah mereka, anak-anak pantai yang tiap hari punya hak istimewa untuk menikmati pasir dan tepi lautan dengan lengkungan setengah lingkaran fajar merah dan senja oranye tiap harinya. Kebun? Halaman belakang rumah? Mana ada kebun, atau halaman belakang rumah di kota yang sesak ini? Kebun hanya milik orang-orang kaya di daerah tertentu saja. Tentu bukan daerah tempat tinggal rakyat jelata sepertiku. Jadi mengapa kau harus repot-repot meniru Steve Jobs, kalau kau punya cara sendiri bermain dengan anak-anakmu – yang tidak mengandung produk-produk mahal yang ia ciptakan itu. Siapa Steve Jobs, sampai harus pula kau dan aku tiru caranya berrelasi dengan anak-anaknya? Tidak cukupkah kau dan aku gunakan saja produk ciptaannya? Sebab untuk itulah aku merogoh kocekku dan membayar dengan cukup mahal barang tersebut?

Hei, kau tahu tidak, Zuckerberg, pencipta Facebook yang ternama dan dianggap anak muda terkaya di seluruh dunia pun tak mengadakan pesta yang mewah! Hanya seratus orang dia undang! Kenapa kau harus buang uangmu untuk memberi makan ribuan orang di pest perkawinan yang mahal? Tak malu kau? Hah? Hah? Tapi, kenapa kau harus malu? Itu toh pestamu. Uangmu sendiri yang kau hambur-hamburkan. Kau tak harus merasa malu dan bersalah karena pesta perkawinanmu kau rayakan besar-besaran dan mewah-mewahan. Sebab itu hakmu. Seperti si Zuckerberg yang juga punya hak untuk bikin pesta perkawinannya sederhana dan eksklusif.
Dunia maya adalah dunia yang aneh. Sekaligus menghibur untukku. Sebab di sanalah aku bisa mengenakan topeng dan tetap bisa bersenang-senang. Mentertawakan apa saja yang lucu menurutku, tanpa harus kuanggap serius. Tanpa harus kupercayai sepenuh hatiku.

Hei. Tak perlu serius mengenalku di dunia maya, sebab aku tak terlalu nyata disana. Kemarilah. Duduk disampingku dan berbicaralah denganku sambil menatap mataku.

Aku lebih nyata disitu.



Surabaya, 3 November 2015
1.15 am


PS : Gambar diambil dari sini

kuku-kukuku

Kalau kau sungguh ingin tahu seberapa serius kujalani hidupku, lihatlah kuku-kukuku. Namun yang perlu kau ketahui sebelum melihat kuku-kukuku adalah semakin serius yang kuhadapi, semakin jelek pula kuku-kukuku. Terkadang bahkan sudah tak bisa lagi dibedakan mana kuku dan mana dagingnya, saking tipis kukus yang kumiliki. Pernah, aku menggigiti kukuku sedemikian rupa sehingga sisi kuku yang kugigiti itu bengkak dan harus kujalani operasi kecil-kecilan karena 

Jadi, sudah kau lihat kuku-kukuku? Kalau kau lihat mereka jelek, tahu kan seberapa serius kupandangi dan kujalani hidupku?

Aku selalu menggigiti kukuku setiap kali aku berpikir. Padahal kata Descartes: kau harus berpikir dulu supaya kau ada. Sebab itu untuk selalu ada, aku harus mengorbankan kuku-kukuku.

Baru-baru ini aku terpaksa menutup ujung jari tengahku dengan plester. Bukan apa-apa, tapi ini demi melindungi eksistensi kuku-kukuku supaya tetap pada tempatnya. Beberapa kali, apabila tak tahan, kubuka plesternya dan kugigiti kembali kukuku itu sampai tipis dan tinggal seperempat. Ada kenikmatan tersendiri atas nyeri yang datang akibat apa yang kulakukan itu.

Jorok? Barangkali. Tapi apa boleh buat. Seorang kenalan sudah membuatku gelisah. Dan buatku, gelisah sama dengan berpikir, yang berarti juga lagi-lagi mengorbankan kuku-kukuku yang sebenarnya sudah tak layak lagi disebut kuku.

Begini.

Beberapa waktu yang lalu, seseorang berucap begini dihadapanku: “Saya menghayati rumah adalah tempat kita bisa tampil apa adanya.”

Satu detik setelah aku mendengar kalimat ini, kuku-kukuku gatal tak terkira. Dan makin gencar kugigiti mereka. Aku gelisah sebab buatku ucapannya sungguh omong kosong. Dan omong kosong ini ia ucapkan di depan banyak orang yang mengangguk-angguk  aja seperti burung perkutut mendengarkannya. Iya, aku tidak sedang salah bicara. Buat aku, tampil apa adanya itu omong kosong. Di rumah. Di sekolah. Di kantor. Di tempat umum. Dimanapun. Omong kosong.

Tahu apa lagi yang omong kosong? Frasa “be yourself” atau “jadilah dirimu sendiri”. Itu frasa paling absurd yang pernah kudengar di muka bumi ini. Frasa terabsurd nomor dua jatuh pada “Behind every successful man, there is a great woman” alias “Dibalik kesuksesan para pria, ada wanita yang hebat”. Namun, lain kali sajalah kuceritakan alasan mengapa kubilang frasa ini kunobatkan menjadi frasa terabsurd nomor dua.

“Tapi, bukannya kalimat ‘jadilah dirimu sendiri’ itu bagus?” kilah kawanku. “Hidup terlalu singkat untuk jadi orang lain, Sis!”

Sumpah, aku benci dipanggil ‘sis’ sementara namaku sama sekali tidak mengandung suku kata itu. Mendekatinya pun tidak. Dan saat ini yang paling ingin kulakukan adalah memukul muka kawanku itu keras-keras dan menampar kedua pipinya. Sebab, mulutnya saja yang bilang “jadilah dirimu sendiri” tapi kalau aku berbusana sesuai dengan seleraku, mulutnya juga yang paling pertama celometan alias berceloteh dan mengomentari apa yang kupakai mulai dari ubun-ubun sampai jari kakiku. Ujung-ujungnya dia menyarankan gaya berbusana yang lebih menarik, lebih kekinian , lebih sopan. Menurut dia.

“Jadilah dirimu sendiri”? Omong kosong.

Seumur hidupku, aku tak pernah merasakan benar-benar jadi diri sendiri. Aku yakin kau juga. Seyakin aku pada eksistensi pelangi dan salib Yesus.

Aku tak heran kalau kau saat ini mulai bertanya-tanya: “Kok bisa?”

Coba pikir. Aku sudah. Kuku-kukuku buktinya. Dulu waktu aku kecil, seandainya aku bisa menjadi aku apa adanya, aku mungkin malas berangkat sekolah, malas mandi, malas tidur karena acara tivi makin malam makin menarik, juga malas belajar. Aku akan lebih memilih memakai jeans setiap hari ketimbang mengenakan rok berbunga-bunga yang selalu dibelikan ibuku. Tapi kenyataannya tidak. Tiap pagi, ibuku harus menyeret aku dari tempat tidurku untuk mandi supaya aku tidak terlambat masuk sekolah. Dan itu semua terjadi di dalam rumah.

Iya. Rumah. Yang dihayati oleh seseorang sebagai tempat kita semua tampil apa adanya.

“Tapi kelak nanti kalau kau kawin, tentu kau akan kawin dengan seseorang  yang menerimamu apa adanya bukan?” tukas kawanku lagi. Belum kapok juga dia.

“Kau mau kawin dengan seseorang yang menerimamu apa adanya?” tanyaku padanya.

“Pasti dong!” jawabnya tegas.

“Aku ogah,” balasku tak kalah tegasnya.

“Kenapa?”

Untunglah dia bertanya 'kenapa', dan bukannya 'siapa yang tanya'. Dan semoga setelah ini, ia tidak hidup dengan cara pandang lagu-lagu cinta jaman dulu. Tahu kan? George Benson. Billy Joel. Barry White. Ah, sudahlah.

“Kalau aku kawin supaya orang menerima aku apa adanya, aku nggak akan kemana-mana! Aku nggak akan jadi lebih baik! Aku perlu dituntut untuk mengubah sesuatu yang perlu kuubah! Kalau hanya begini-begini saja, ngapain aku kawin? Buang-buang energi saja!”

Dan kawanku pun diam.

Aku sendiri jadi ingat lagunya Tulus.

“Tapi,” kata kawanku lagi, “masa di rumah kita sendiri kelak kalau sudah kawin pun tidak bisa apa adanya?”

Tidak bisa, kawan. Seumur hidup kita tidak akan pernah bisa apa adanya. Dengan siapapun. Dimanapun. Yang kau kira apa adanya, seperti baju-baju yang kau pakai dan pasanganmu tidak protes akan apa yang kau pakai, bukan karena kau tampil apa adanya, tapi pasanganmu menghargai seleramu meskipun barangkali matanya sepet lihat kau pakai kaos berlubang dimana-mana di rumah. Kalau pasanganmu tidak protes dengan apa yang kau pakai meskipun ia tidak suka, bolehkah kukatakan padamu, kau mungkin sedang tampil apa adanya, pasanganmu tidak. Apakah itu adil? Kau tampil apa adanya sementara pasanganmu tidak?

Tidak bisa, kawan. Kalau kau tampil apa adanya di rumah, setiap saat kau ingin marah-marah dan melontarkan cacian pada pasanganmu, kau akan lakukan. Tapi kalau kau tidak lakukan, itu karena kau menghargai pasanganmu. Apa kau masih bisa apa adanya kalau kau orang yang sangat berantakan dan tak peduli barang-barangmu ada dimana sementara pasanganmu gerah jika ada satu baju saja berceceran di lantai? Kau harapkan dirimu apa adanya. Iya. Dengan pengorbanan pasanganmu.

Jadi, omong kosong kau bisa selalu tampil apa adanya di rumah. Apalagi setelah menikah. Yang ada, kau dan pasanganmu saling menyesuaikan.

Kawanku diam. Ia mulai memandang kuku-kukunya. Barangkali ia sedang berpikir. Entahlah.

Namun yang saat ini sungguh ingin kulakukan adalah melemparkan potongan-potongan kukuku pada kenalanku yang sudah menciptakan kegelisahan berhari-hari. Atas omongkosongnya tentang kebisaan selalu tampil apa adanya di rumah sendiri.

Kuku-kukuku, kisah kita belum selesai.

Kuambil plester lagi. Untuk menutup salah satu ujung kukuku. Sebelum darahnya kembali mengucur. Kali ini korbannya kuku jari manisku. Ukurannya tak kurang dari seperempat.




Surabaya, 20-21 Oktober 2015
10.05 pm – 09.56 am


Gambar diambil dari sini

secangkir kopi bersama ayah

SECANGKIR KOPI BERSAMA AYAH

Aku menyeruput kopi pahit itu perlahan, sambil menahan rasa tidak enak di ujung lidahku. Belum lagi butiran-butiran kopi yang belum mengendap di dasar cangkir, ikut nangkring disitu. Kalau tidak sedang bersama Ayah, aku takkan mau minum kopi pahit kesukaannya. Buatku, cappuccinolatte atau sekedar kopi susu masih jauh lebih nikmat ketimbang secangkir kopi hitam di tanganku ini.
"Ndak suka kok maksa," gerutu Ayah melihatku meringis-ringis. "Memangnya Ayah suka memaksa keinginan Ayah ya?" 
Aku menggeleng perlahan. Ayah memang jarang memaksa. Ibu yang lebih sering memaksa, karena itu aku lebih punya banyak rahasia dengan Ayah ketimbang dengan Ibu. Sama seperti ketika aku menyatakan keinginan kuliah di kota yang ratusan kilometer jauhnya dari kampung halamanku ini. Sepuluh jam perjalanan darat, enam jam perjalanan di atas rel dan tak ada penerbangan udara yang langsung dari kota kelahiranku ini ke kota yang ingin kutuju.
Ibu membujuk-bujukku supaya memilih untuk kuliah di kota yang lebih dekat, tapi ia lupa kalau kekeraskepalaanku ini aku warisi darinya. Maka, Ayah turun tangan. Biarkan saja, kata Ayah waktu itu. Biarpun perempuan, kata Ayah, aku tidak manja seperti anak-anak perempuan lainnya. Bahkan menurutnya juga, aku ini setengah laki-laki. Barangkali karena itu Ibu suka sekali memaksaku mengenakan baju-baju berenda, agar setengahku yang laki-laki ini tidak kelihatan dan supaya laki-laki yang sebenarnya tidak terlalu takut mendekatiku. Aku sendiri cuma mencibir malas kalau Ibu sudah mulai bersabda tentang apa yang seharusnya ada pada anak laki-laki dan apa yang seharusnya ada pada anak perempuan.
"Masih mendengarkan Backstreet Boys?" tanya Ayah.
Aku tergelak, karena Ayah masih mengingat betapa aku dulu sangat tergila-gila pada grup boyband itu sampai-sampai harus berebut tivi dengan adikku yang ingin nonton Ksatria Baja Hitam. "Tidak, Ayah," jawabku. 
"Boyzone? Westlife? 911? Hanson?" desaknya lagi. 
Aku kembali terkekeh. Mengingat masa-masa aku merengek padanya untuk dibelikan kaset-kaset grup band tersebut meskipun Ibu melarang atas nama pemborosan. "Ayah, aku berhenti menyukai Boyzone sejak masuk kuliah. 911 sudah bubar, cowok-cowok Hanson sudah menikah dan Westlife...." Aku mendesah. "Berapa kali aku harus bilang pada Ayah kalau aku tak pernah suka Westlife?"
"Tapi, Ayah melihat CD itu di rumah," kilah Ayah tak mau kalah. "Siapa lagi kalau bukan punyamu?"
Sambil menyembunyikan senyum geli, aku tolah-toleh, seperti kebiasaan kami kalau hendak berbagi rahasia, Ayah memberikan telinganya mendekat. "Nenek yang beli, Yah! Kata Nenek, Shane yang penyanyi utamanya Weslife itu selain suaranya bagus, wajahnya juga ganteng!" Kami terbahak-bahak bersama. 
Kuseruput lagi kopi hitamku, dan kulihat Ayah meneguk ludahnya - tanda bahwa ia kepengen tapi berusaha menahan diri. 
"Ayah mau?" Kusodorkan kopiku.
Ayah menggeleng, sambil tersenyum sedih. "Nanti Ibumu mengomel."
Aku menundukkan kepala – menekuri beberapa butiran kopi yang masih mengambang di permukaan. “Maaf ya, Ayah.”
“Untuk?”
“Aku tidak ada saat Ayah di rumah sakit.”
Ayah mendengus. “Kamu baru masuk kerja. Ayah mengerti.”
Hening sejenak, aku masih saja tertunduk.
“Ayah….” “Kamu….”
Kami berpandangan. Mata Ayah berkilat-kilat jenaka. Aku juga mulai tertawa.
“Ayah dulu.” “Kamu dulu.”
Kami terkekeh bersama.
“Aku punya kabar gembira untuk Ayah,” kataku akhirnya setelah Ayah memaksa aku ngomong duluan.
“Oya? Apa itu?”
“Para pria sekarang sudah bisa pakai celana ketat diatas tumit, Yah! Berwarna-warni pula!”
Ayah mendengus. “Mana mungkin!”
Aku berkilah tak mau kalah karena pada kenyataannya para lelaki muda gaul yang sering kulihat di Mall akhir-akhir ini memang seperti itu. Sangat mengingatkanku pada Ayah yang pernah membalas protesku tentang apa yang boleh bagi perempuan dan apa yang boleh bagi laki-laki.
“Jadi perempuan itu enak juga lho.” Begitu kata Ayah pada waktu itu. Pada waktu aku sedang protes kenapa adik laki-lakiku diijinkan membawa sepeda motor saat kuliah di luar kota, sementara aku tidak.
“Apa enaknya?” tanyaku ketus pada waktu itu.
“Perempuan bisa pakai celana diatas tumit, ketat dan berwarna-warni. Coba kamu bayangkan kalau kami para laki-laki ini mengenakan yang serupa? Apa kata dunia?”
Aku protes lagi, tidak terima dengan pernyataan Ayah tentang keuntungan perempuan hanya berkisar tentang busana dan cara berpakaian.
“Jadi kata dunia akhir-akhir ini tentang laki-laki bercelana ketat diatas tumit dan berwarna-warni itu apa?” tanya Ayah ingin tahu.
Aku tertawa lagi. “Ya dunia nggak ngomong apa-apa. Dunia menerima mereka apa adanya. Be yourself, kata mereka.”
“Jangan ngomong pakai bahasa linggis. Kamu tahu Ayah susah ngertinya,” gerutu Ayah, seperti biasa kalau aku mulai menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris untuk menjelaskan tugas-tugas kantorku pada beliau.
“Artinya: jadi dirimu sendiri. Gitu, Yah. Lagipula sekarang kan katanya zamannya demokrasi, Yah. Sudah nggak ada lagi itu pemerintah yang terlalu paranoid sama orang-orang tertentu.”
“Masa? Apa buktinya?”
“Ya sekarang banyak kritik bisa dilayangkan ke pemerintah tanpa perlu khawatir leher mereka digorok dan hilang tiba-tiba. Padahal kadang-kadang kritiknya kayak ditulis tanpa mikir dulu. Tanpa bukti-bukti yang akurat. Tanpa data-data pula. Parahnya dipercaya lagi sama orang-orang.”
Ayah termenung-menung. “Apakah itu jadi lebih baik?”
“Baiknya ya makin banyak yang bisa mengekspresikan pendapat dan pemikiran mereka, Ayah.”
“Walaupun pendapat dan pemikiran mereka sembrono dan terdengar bodoh?” tanya Ayah lagi.
Aku terdiam dan mengingat-ingat kapan terakhir kali kami ngobrol tentang politik. Sepertinya sudah lama sekali.
“Tapi sekarang aspirasi perempuan juga mulai banyak ditampung, Ayah. Perempuan sekarang pekerjaannya nggak melulu urusan dapur dan rumah tangga saja!” kilahku.
“Iya, seperti kamu kan? Ndak bisa masak, ndak bisa menjahit, lebih sering pakai celana….”
“Memangnya salah ya perempuan nggak bisa masak, nggak bisa menjahit dan lebih sering pakai celana?”
 “Bagaimana dengan Andi?” tanya Ayah akhirnya, mengalihkan pembicaraan mendengar aku terus membantah. “Dia sering bikin kamu marah-marah tidak? Atau malah bikin kamu nangis?” Pertanyaan terakhir diajukan dengan nada agak tajam.
Kali ini aku yang mendengus. “Ayah sudah menanyakan ini – kira-kira err.. seratus kali?”
“Ck. Baru dua kali.”
“Seratus.”
“Dua kali!”
“Dua ratus!”
Ayah ingin menjawabku kembali namun tidak jadi.

Aku meringis, lalu balik bertanya: “Memangnya Ayah nggak pernah bikin Ibu menangis? Nggak pernah bikin Ibu marah-marah?”
“Makin dewasa kok mulutmu makin pinter membantah segala omongan Ayah,” gerutu Ayah lagi. “Makin mirip Ibumu juga.”
“Ayah juga tanya yang aneh-aneh. Dari dulu kalau soal Andi, kenapa sih Ayah selalu suka tanya yang aneh-aneh? Ehm…, ralat, nggak cuma Andi sih, waktu aku masih sama Domi, Ayah juga tingkahnya aneh-aneh. Terus….”
“Ah itu cuma perasaanmu saja,” gerutu Ayah. “Ayah memang ndak ngerti, kenapa kamu mau sama laki-laki yang ndak suka dengerin musik yang kamu dengerin. Katamu, Andi bahkan ndak tahu Backstreet Boys itu siapa. Itu kan keterlaluan! Lha seumur Ayah saja tahu kok kalau Nick Carter yang paling banyak fans-nya diantara mereka berlima!”
“Ayah tahu itu juga dari aku.” Aku terkekeh.
“Selamat sore, Non.” Sapaan itu datangnya dari seorang bapak yang barangkali lebih tua sedikit dari Ayah. Gigi depannya tanggal satu, sisanya kuning kehitaman, kulitnya legam. “Tumben sendirian, Non. Pacarnya mana?”
“Iya,” sahut Ayah seperti mengingat sesuatu. “Mana Andi?”
Aku nyengir lagi. “Pacar saya lagi ada perlu, Pak Di. Nanti saya yang jemput sekalian jalan pulang.”
Yang dipanggil Pak Di mengangguk-angguk. “Ini tiap minggu pasti saya bersihin lho, Non! Ora tau[1] absen! Ora ngapusi[2]! “
“Iya, Pak Di. Matur nuwun sanget[3].”
Tak lama bapak itu pergi sambil tersenyum-senyum penuh arti.
“Dia bohong. Mana ada tiap minggu dibersihin. Yang ada dia duduk-duduk aja kerjaannya sambil ngerokok,” gerutu Ayah lagi. “Dan…Ayah baru tahu sekarang kamu bahkan nyetir mobil sendiri. Iya? Dulu Ayah yang selalu jemput Ibumu, bukan sebaliknya! Laki-laki ndak boleh manja…!”
“Perempuan juga nggak boleh manja, Ayah,” potongku. “Perempuan juga harus mandiri. Dan aku senang Andi tidak melarangku nyetir mobil sendiri. Naik sepeda motor sendiri….”
“Tidak bisa! Bahaya! Kamu selalu sembrono kalau di jalan! Berapa kali kamu hampir nabrak tukang becak, tukang parkir, sampai tukang bakso juga kamu tabrak…!”
“Ayah, itu kan waktu aku masih SMP. Sekarang aku sudah dewasa. Lagipula kalau nantinya Andi sudah nggak bisa… ehm, maksudku kalau Andi lagi sibuk kan aku nggak perlu nunggu Andi untuk bisa pergi kemana-mana.”
Ayah terdiam. “Maksudmu kalau nantinya Andi sudah ndak bisa anterin kamu kemana-mana ya? Seperti Ayah sekarang ini? Ndak bisa antar Ibu. Ndak bisa antar kamu. Ndak bisa melihatmu mengucapkan sumpah di depan altar….”
Air mataku mulai menetes sambil memain-mainkan pinggiran cangkir berisi kopi Toraja Mamali yang dari tadi kuminum – kopi terakhir yang kubelikan sebagai oleh-oleh untuk Ayah. “Aku selalu rindu dikhawatirkan Ayah.”
Kali ini Ayah diam saja.
“Minggu depan, Ayah. Akan kuucapkan sumpah itu minggu depan. Dan aku yakin Ayah bisa melihatku maju ke depan altar dari tempat Ayah sekarang.”
Ayah masih diam.
Air mataku mulai menetes. “Aku juga yakin, Andi kuat seperti Ayah. Sabar seperti Ayah. Melindungi keluarganya seperti Ayah….”
“Say….”
Aku menoleh. Andi, laki-laki yang kupilih untuk menjadi tua bersama mulai minggu depan, membuyarkan percakapanku dengan Ayah. Ia meletakkan tangannya di atas bahuku.
“Sudah selesai?” tanyanya.
Aku melirik kopi hitam itu yang cuma mampu kuhabiskan setengahnya. “Sudah. Kok kamu disini? Nggak tunggu aku jemput?”
“Om Benny memaksa mengantarku. Katanya sekalian keluar dan lewat.”
Aku mengangguk. Kuusap tanah berumput yang pinggirannya sudah ditutup dengan bebatuan.
“Aku pulang dulu, Ayah.”
Ayah masih diam saja.
Aku meletakkan secangkir kopi yang sedari tadi kuminum perlahan-lahan sambil ngobrol dengan Ayah di depan batu bertuliskan namanya. Bersama dengan enam cangkir lainnya. Kubaca sekali lagi tulisan disitu sebelum beranjak pergi.
R I P
INDRA SUSANTO
1958 – 2009
Rasanya baru kemarin ia memelukku, mengkhawatirkanku, mengomeliku sambil minum kopi  – dan bukannya tujuh tahun yang lalu.



Direvisi dan dimodifikasi pada 9 Agustus 2016
oleh: Jessie M.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com.




[1] Tidak pernah.
[2] Tidak bohong.
[3] Terima kasih sekali.

tuan merah jambu dan nona biru laut

Di sebuah negeri yang membosankan, pada sebuah café yang suram, Tuan Merah Jambu dan Nona Biru Laut bertemu. Tuan Merah Jambu sedang memesan latte dengan pesan spesifik: tolong kopinya di-decaf, saat Nona Biru Laut di balik jendela menyeruput espresso yang ia pesan dengan tambahan: make it strong and black, pada sang barista.

Saat latte sudah di tangan, Tuan Merah Jambu duduk di dekat Nona Biru Laut. Ia membuka buku yang sudah dibawanya: Little Women yang ditulis oleh Louisa May Alcott dan tak lama tenggelam bersama kehidupan putri-putri keluarga March.

“Menurutmu, apakah manusia itu terlahir baik atau buruk?” 

Tuan Merah Jambu, yang tidak merasa diajak bicara, tidak menyahuti pertanyaan tersebut.

“Hei.”

Tuan Merah Jambu mendongak, sadar bahwa ternyata ia yang diajak omong oleh perempuan itu. Alis mata Tuan Merah Jambu berkerut, tanda ia merasa terganggu.

“Bagaimana menurutmu?” Nona Biru Laut meneruskan pertanyaannya. “Apakah manusia itu terlahir baik atau buruk?”

Sumpah, pikir Tuan Merah Jambu, aku hanya ingin membaca buku ini dengan tenang dan menikmati latte-ku tanpa perlu merasa terusik oleh pertanyaan absurd macam beginian

“Dulu kupikir manusia terlahir baik. Bayi lahir seperti kertas yang putih bersih. Tabula rasa. Kau tahu? Tapi sekarang aku berubah pikiran.” Nona Biru Laut kembali menyerocos sambil meneguk espressonya.

Dan itu menjadi urusanku karena? Tuan Merah Jambu kembali mengerutkan dahi. Oh, sebentar, itu bukan urusanku. Karena aku malas berpikir repot-repot seperti kau, Nona. Aku lebih suka merasa. Merasa bikin aku merasa manusiawi.

“Tapi kalau memang bayi lahir sebagai makhluk suci, mengapa ada bayi yang sangat pendiam dan ada bayi yang ributnya bikin ibunya naik darah?” Nona Biru Laut kembali berucap tanpa peduli.

Aku tak tahu. Sumpah, aku tak tahu. Aku belum pernah punya bayi, belum pernah pegang bayi. Aku belum kawin dan belum akan kawin dalam waktu dekat. Jadi, please, ijinkan aku menikmati kesendirianku dengan tenang.

“Namaku Biru Laut.”

Tuan Merah Jambu menoleh. Itu pertama kalinya ia menoleh dan memandang perempuan yang dari tadi menyerocos tak henti meskipun tidak ia tanggapi. Perempuan itu menyodorkan tangannya. Matanya yang tajam menyebabkan Tuan Merah Jambu ikut mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya: “Hai, aku Merah Jambu.”

Tuan Merah Jambu sudah bersiap menyediakan telinganya dan menelan tawa mengejek yang biasa ia dengar dari orang-orang setiap kali ia memperkenalkan diri. Namun tak disangka, perempuan itu malah tersenyum manis. Seolah-olah baru saja mendengar nama paling indah sedunia.

“Merah Jambu, menurutku kita lahir di negeri yang salah,” kata Nona Biru Laut.

Tuan Merah Jambu menutup bukunya, menyerahkan kesendiriannya diusik oleh perempuan yang baru dikenalnya. “Bagaimana bisa?”

Nona Biru Laut mendekatkan kursinya ke meja Tuan Merah Jambu. Bibirnya yang merah merona berucap, “Coba kau perhatikan, mengapa aksesoris bayi laki-laki kebanyakan biru dan bayi perempuan berwarna pink? Mengapa semua orang-orang negeri ini seperti sepakat bahwa biru adalah warna untuk laki-laki dan merah muda alias pink adalah warna milik perempuan? Mengapa?”

Tuan Merah Jambu mengeluh dalam hati. Tak satu pun dari segala pertanyaan absurd yang keluar dari bibir indah perempuan muda ini bisa ia jawab. “Mengapa kau selalu mengajukan pertanyaan yang sulit?” keluhnya akhirnya pada Nona Biru Laut.

Nona Biru Laut menghempaskan tubuhnya, menyeruput kembali espressonya dan memandang gerimis yang mulai turun di balik jendela. “Aku pikir….”

“Cobalah sesekali kau merasa, bukan berpikir,” potong Tuan Merah Jambu. 

“Mengapa?” tanya Nona Biru Laut memandang Tuan Merah Jambu kembali dengan tatapannya yang tajam. “Mengapa aku harus merasa kalau aku bisa berpikir? Kau pikir karena aku perempuan maka tugasku hanya merasa? Tidak boleh berpikir?”

Tuan Merah Jambu gelagapan. Ia tidak pernah suka bertengkar dengan orang lain. Ia juga selalu menghindari konflik. Karena itu ia candu akan kesendirian. Kesendirian bikin ia tenang. Hari itu nasib sial melemparkannya ke pangkuan perempuan ini, yang selalu bertanya dan berpikir.

“Karena merasa bikin kau seperti manusia!” jawab Tuan Merah Jambu cepat, sebelum didului rentetan pertanyaan dan pikiran perempuan itu lagi. “Ini bukan persoalan milik perempuan atau laki-laki. Ini hanya soal rasa. Semua manusia, mau laki-laki, perempuan, bencong, setengah bencong, bisa merasa. Dan menurutku, rasa adalah komponen paling indah yang ada dalam tubuh manusia. Bisa merasakan itu suatu anugerah. Bayangkan kalau kau kebanyakan berpikir, kau bakal bikin hidupmu sendiri susah! Bukan aku berpikir maka aku ada, tapi aku merasa maka aku ada!”

“Tapi manusia juga perlu berpikir, Tuan!” kilah Nona Biru Laut lagi. “Dengan berpikir, ia tak hanya bertahan hidup, tapi juga menciptakan sesuatu yang baru. Yang orisinil!”

Tuan Merah Jambu mendecak. “Tidak ada yang baru di atas bumi ini, Nona.  Orang selalu merasa mereka yang paling orisinil dan berbeda di muka bumi ini. Iming-iming menjadi yang paling orisinil dan berbeda itu hanya permainan kata-katanya motivator-motivator narsis itu. Supaya mereka diundang kembali  dengan biaya yang lebih mahal untuk menghibur mereka-mereka yang putus asa!”

Senyum Nona Biru Laut mengembang kembali. Lebih lebar dari yang tadi. Menyebabkan jantung Tuan Merah Jambu seperti kebat-kebit kesambit langit. “Aku suka laki-laki yang tidak memperlakukan orang lain berdasarkan jenis kelamin mereka. Laki-laki seperti itu selalu membuatku… terangsang.” Matanya kembali tajam menatap laki-laki dihadapannya lalu turun ke bawah.

Keringat dingin mulai muncul di dahi Tuan Merah Jambu, membuatnya tak sengaja menutupi selangkangannya dengan kakinya.

“Bagaimana kalau kita ke toilet dan bercinta disana?” tanya Nona Biru Laut lagi. Kakinya yang jenjang semakin dekat dengan kaki  Tuan Merah Jambu.  Jantung Tuan Merah Jambu makin berdegup-degup, bikin ia meneguk habis latte-nya. Sesuatu yang kurang biasa ia lakukan saat sedang menikmati candu kesendiriannya. 

Tolong, siapapun, tolong selamatkan saya dari sesuatu yang jelas tidak bisa saya tolak

“Kenapa? Kau pasti berasumsi perempuan tidak bisa terangsang begitu saja terhadap laki-laki. Seperti yang ditulis oleh psikolog-psikolog kampret itu. Dan yang digembar-gemborkan tokoh-tokoh agama itu. Mereka sibuk merancang peraturan tentang apa yang harus kami pakai dengan dalih melindungi kami. Kenapa tidak sekalian mereka rancang peraturan tentang apa yang harus laki-laki pakai? Memangnya kami para perempuan tidak bisa birahi melihat laki-laki?” Nona Biru Laut mulai menyerocos lagi. 

Tuan Merah Jambu terdiam.  Tubuhnya berhenti gemetar dan ia membalas tatapan Nona Biru Laut dengan dingin. Lantas ia menyahut: “Asumsi.”

“Maksudmu?”

“Kau mulai berasumsi tentang aku. Asumsi adalah racun dari sebuah relasi. Kau bisa saja tertarik berelasi denganku, dan aku juga. Tapi kalau kita memulainya dengan asumsi, kita selesai sampai disini.”

Nona Biru Laut melipat tangannya. Kali ini ia mengatupkan mulutnya, menunggu laki-laki yang duduk di sampingnya itu meneruskan curahan hatinya tentang asumsi.

“Aku benci dengan asumsi. Asumsi bikin aku ditertawakan saat kuucapkan namaku. Persis seperti yang kau katakan.  Seolah-olah warna merah jambu hanya untuk mereka yang memiliki vagina. Dan namamu, Biru Laut….”

“… bikin mereka mengernyitkan dahi untuk kemudian bertanya mengapa perempuan cantik sepertiku diberi nama Biru Laut. Bukankah biru hanya milik makhluk yang memproduksi sperma?”

“Ternyata selain absurd, kau juga narsis.”

“Aku tidak narsis, aku hanya percaya diri. Aku percaya aku cantik. Apakah dengan begitu kau akan bilang aku arogan? Sombong? Tak tahu diri?”

“Kau berasumsi lagi.”

Nona Biru Laut menggeleng. “Kali ini tidak. Sebab aku bertanya, agar aku tak berasumsi salah tentangmu. Aku sepakat denganmu bahwa asumsi hanya membawa kita pada kepuasan diri sendiri saja. Tidak peduli apakah asumsi itu benar atau salah. Apalagi jika kau bertemu dengan orang-orang yang kebetulan punya asumsi yang sama tentang sesuatu. Kau akan mulai berpikir bahwa asumsimu adalah sebuah kebenaran yang kau pegang erat-erat supaya tak bisa meletus seperti balon hijau pada lagu Balonku Ada Lima yang legendaris itu.”

“'When you’re surrounded by people who share the same set of assumptions as you, you start to think that’s reality. Emily Levine, penulis, komedian, dan kata mereka, juga filsuf.”

“Ah, aku makin menyukaimu, Tuan Merah Jambu. Tapi mulai berpikir bahwa sebuah sesuatu adalah kebenaran tidak sama dengan kebenaran itu sendiri.”

“Tidak usah khawatir, Nona Biru Laut. Aku hanya mengutip, tanpa menyetujui. Asumsi hanyalah makanan orang yang sepertinya peduli padahal tidak. Orang yang sok tahu,” sahut Tuan Merah Jambu. Diambilnya kembali buku Little Women yang tadi ia letakkan di atas meja. 

“Kau tahu profesi apa yang bikin orang jadi sok tahu sedunia?” tanya Nona Biru Laut.

“Apa?”

“Pendeta. Tokoh agama. Dan sejenisnya.”

Tuan Merah Jambu tidak menyahut. Tidak jelas ia setuju atau tidak. Ia buka kembali buku yang ia bawa, sebab ia menganggap percakapannya dengan perempuan absurd tadi telah selesai. 

“Juga psikolog.”

Tuan Merah Jambu kembali mengeluh dalam hatinya. “Ya, kau sudah mengatakannya tadi. Dan aku belum terlalu pikun untuk melupakannya dalam beberapa menit saja.”

“Politikus.”

Tuan Merah Jambu menatap Nona Biru Laut dengan putus asa. “Ada lagi?”

“Netizen.”

Nona Biru Laut mengedikkan bahunya sambil tersenyum menatap Tuan Merah Jambu. Kemudian tangannya meraih cangkir espresso-nya, menyesapnya dalam-dalam dan tiba-tiba menganggap laki-laki yang diajaknya bicara tadi tidak ada.  

Tuan Merah Jambu termangu-mangu sejenak, sebelum lantas tenggelam kembali dalam kisah putri-putri keluarga March. Di sebelahnya, duduk Nona Biru Laut. Menatap kembali gerimis yang masih turun di balik jendela. Menegak habis  espressonya yang sudah mendingin. Hening menyeruak. 

Di salah satu sudut di negeri yang membosankan, café itu mulai ramai. Nona Biru Laut dan Tuan Merah Jambu membaur bersama Pak Kuning Neon, Ibu Hitam Pekat, Opa Merah Darah, Oma Hijau Daun dan lain-lainnya. Dari kejauhan café itu tak lagi suram. 

Dan Tuan Merah Jambu tidak tertarik untuk bercerita pada gadis absurd di sebelahnya kalau ia seorang pendeta yang tadinya lulusan Psikologi yang punya beberapa akun aktif di media sosial dan sedang ditawari masuk dalam sebuah partai politik. Saat ini, yang ia inginkan cuma menjadi dirinya sendiri. Kesoktahuan hanya pekerjaan.


Written on 3 March 2015
4:12 pm
rewritten on 29 July 2015
9:18 pm

PS : Gambar diambil dari sini

menangis

Hai.

Saya sedang ingin menangis. Ingin sekali. Tapi semakin kuat keinginan saya untuk menangis, semakin tidak ada satu tetes air mata pun yang keluar. Saya jadi bertanya-tanya pada Tuhan. Saya ingin ini, tidak boleh. Saya ingin itu, jalan buntu. Saya ingin begini, tidak bisa. Saya ingin begitu, tidak diijinkan. Kali ini, bahkan saya cuma ingin menangis, masa masih juga tidak boleh? Jadi, apa yang boleh?

Perkara menangis ini sebenarnya perkara mudah buat saya. Untuk setiap film yang pernah saya tonton, barangkali kecuali film-filmnya Dono Kasino Indro, minimal satu kali saya menangis. Berapa kali pun nonton Lion King, berapa kali itu pula saya menangisi kematian Mufasa. Lebih baik saya mendapatkan peran yang mengharuskan saya untuk menangis, daripada dapat peran yang mengharuskan saya ketawa terbahak-bahak. Akting menangis itu tidak terlalu sulit buat saya. Saya juga bisa meneteskan air mata kalau saya sangat marah dan saya harus menahan kemarahan saya.

Setelah saya ingat-ingat, saya menangis karena sedih mungkin cuma dua kali. Yang pertama saat mendengar tentang kematian papi saya, yang kedua tentang kematian mami saya. Yang sering, saya menangis karena harus menahan marah.

Sedih ya. Ternyata saya nggak bisa segampang itu mengeluarkan air mata. Lebih sedih lagi karena tahu, kalau semuanya ini berhubungan dengan yang namanya ego.

Iya. Ego.

Saya kayaknya terlalu sombong buat menangis karena sedih. Ralat. Saya memang terlalu sombong buat menangis karena sedih. Mungkin karena saya selalu bilang pada diri sendiri, kesedihan cuma untuk mereka yang lemah. Dan saya tak sudi dicap sebagai makhluk lemah.

Anjing.

Ego saya ternyata lebih keras kepala daripada saya. Sudah lama saya ingin usir dia jauh-jauh, tapi dia makin betah ngendon dalam diri saya. Sepertinya karena saya tidak pernah sungguh-sungguh mengusirnya. Seperti sekarang ini. Betapa pun ingin saya menangis karena sedih.

Mungkin nanti malam. Ego dan Tuhan akan membiarkan saya menangis sejadi-jadinya. Saat sunyinya malam datang. Saat hanya terdengar detak jarum jam.

Dan saat saya menjadi satu-satunya makhluk di dalam rumah saya yang belum tidur.

Mungkin.


Wednesday, 10 June 2015
6:26 pm 
Life has been so cruel to me recently.

#NulisRandom2015

PS : Gambar diambil dari sini 

bu tono dan tuntutan tetangga

Malam itu bu Tono termenung-menung. Wajahnya yang cantik kelihatan suntuk. Melihat istrinya tercinta melamun seperti itu, pak Tono menghampirinya dan mengelus-elus lengannya yang masih langsing. Bu Tono memang cantik dan badannya masih langsing. Kecantikan dan keelokannya menurun ke anaknya, si Tini.
“Ada apa, Mam kok malam-malam melamun begini?” tanya pak Tono.

“Nggak apa-apa.” Tapi wajahnya tetap kosong.

“Walah, kalau nggak apa-apa kok melamunnya sampai sebegini malam. Ayo cerita ke Papa biar lega hatimu. Kalau hati sudah lega kan, kita bisa….” Mata pak Tono tiba-tiba berbinar-binar.

Bu Tono mencubit perut suaminya yang genit. “Papa genit ah. Itu lho, Pap, tadi siang ibu-ibu tetangga ramai-ramai ke rumah kita.”

“Lho, kok tumben arisannya siang-siang? Biasanya kan malam hari?” tanya Pak Tono heran.

“Nah itu dia. Mereka memang kemari bukan karena mau arisan, Pap. Mereka kemari karena mau demo. Mau menuntut kita. Tepatnya mau menuntut Tini, anak kita.”

“Lho? Mau demo? Mau menuntut kita? Lha apa mereka pikir kita ini anggota DPR yang sampai sekarang nggak jelas juntrungannya itu? Lagian mau ngapain juga mereka menuntut Tini? Toh Tini nggak pernah mengganggu mereka?” Pak Tono tidak terima mendengar laporan istrinya. Apalagi ini perihal anak kesayangannya.

“Iya, Pa. Mereka datang kemari untuk menuntut kejelasan tentang Tini, anak kita itu.”

“Lho kurang jelas apa si Tini itu? Dia cantik. Berprestasi. Baik. Suka menolong. Cuma kurang bisa menabung aja si Tini itu. Bawaannya belanja sendal jepit terus kalau punya duit. Ya memang aneh sih si Tini, koleksi kok malah sendal jepit begitu. Memang kurang elegan. Tapi masa gara-gara itu si Tini didemo sama tetangga?”

“Bukan, Pa. Ini bukan perkara sendal jepit koleksinya Tini. Mereka menuntut kejelasan tentang pacarnya si Tini.”

Pak Tono melongo. “Pacarnya si Tini? Memangnya Tini sudah punya pacar, Ma? Kok kamu nggak cerita ke papa? Ganteng nggak pacarnya? Kuliah dimana? Orang tuanya kerja apa?”

Bu Tono mengibaskan tangannya menyuruh suaminya diam. “Ih, papa ini gimana sih. Tini itu belum punya pacar. Dia bilang masih mau fokus kuliah dulu.”

“Lho, tapi kok tetangga menuntut kejelasan tentang pacarnya Tini?”

“Ya itu dia yang bikin mama melamun sampai malam begini. Jadi, ibu-ibu itu tadi siang kemari. Mereka bilang mereka sering melihat Tini itu pergi dan pulang diantar oleh laki-laki. Kalau laki-lakinya sama sih mereka nggak masalah. Lha ini yang anterin dan yang jemput bisa beda. Dalam satu hari bisa ada dua atau tiga laki-laki yang mengantar dan menjemput Tini. Mereka menuntut penjelasan. Sebenarnya pacarnya Tini itu yang mana sih?”

“Lha, mama kenal nggak dengan semua laki-laki yang mengantar dan menjemput Tini itu?”

“Ya mama sih tahu. Dan menurut Tini, mereka cuma berteman. Lagipula yang antar dan jemput Tini juga nggak selalu laki-laki kok. Pernah juga teman perempuannya menjemput. Mama juga bingung kenapa mereka harus dapat penjelasan tentang yang mana sesungguhnya pacar Tini. Masa Tini disuruh bohong supaya mereka puas?”

“Apa mama sudah bilang kalau anak laki-laki yang menjemput dan mengantar Tini itu cuma teman-temannya saja?”

“Sudah, tapi mereka tetap tidak percaya. Mereka tetap menuntut kejelasan tentang pacar anak kita. Sebuah nama. Kalau perlu sekaligus alamat, nama orang tua anak laki-laki itu, kuliah dimana, nanti mau kerja sebagai apa dan….”

“Lho lho… itu kan harusnya hak papa untuk bertanya. Bukan mereka.” Pak Tono tidak terima mendengar cerita istrinya. “Terus apa yang mama jawab?”

“Mama tidak bisa menjawab. Dan mereka memberi waktu sampai besok untuk menjawab tuntutan mereka. Kalau memang Tini belum punya pacar, bagaimana Mama harus bertatap muka dengan ibu-ibu itu? Nanti siapa yang akan beli kue-kue bikinan kita kalau tuntutan mereka tidak bisa Mama jawab?”

Pak Tono berpikir, kemudian membisikkan sesuatu di telinga istrinya. Seketika mata sang istri berbinar seolah baru tiba-tiba menemukan kebenaran.

Esok paginya, bu Tono menemui ibu-ibu yang menagih jawaban atas tuntutan mereka tentang pacar Tini. Dijawabnya bahwa nama pacar Tini itu Tony. Lengkapnya Antony Sitanggang. Baru-baru saja pacarannya. Antony Sitanggang ini kuliah di jurusan Manajemen Pemasaran, jadi sudah pasti cerah masa depannya. Orang tuanya cukup terpandang, tapi tidak tinggal di kota ini. Ibu-ibu tadi mengangguk-angguk puas mendengar jawaban bu Tono. 

Bu Tono lega karena ia masih bisa ikut arisan bersama ibu-ibu tadi.

Tak sampai dua bulan, ibu-ibu tadi kembali demo di depan rumah bu Tono. Kali ini mereka menuntut penjelasan kapan Tini akan menikah dengan Tony.


Wednesday, 3 June 2015
10:59 pm

participating in #NulisRandom2015

PS: Thank you, MY for inspiring me to write this story

Foto diambil dari sini 

perempuan, pelacur dan cita-cita

Di kolong jembatan layang itu mereka bertemu. Hari hampir berganti meski mereka belum menunggu terbit matahari. Dan disitulah kaki-kaki jembatan layang menjadi saksi secuplik kisah mereka.

Mereka berenam. Semuanya memakai rok, dan mengaku perempuan. Dari dandanan mereka, para lelaki hidung belang yang lewat barangkali akan segera mendekat, memilih-milih satu untuk kemudian bertanya: “Satu jamnya berapa?”

Tapi malam itu malam sepi laki-laki hidung belang. Asal tahu saja, mereka berenam itu tadi jadi luntang-lantung tanpa tujuan seperti ini karena tempat kerja mereka yang lama dan sudah terkenal sampai ke luar negeri itu ditutup dengan paksa oleh walikota setempat. Kompensasi sih kompensasi, tapi bisa bertahan sampai kapan kalau cuma mengandalkan kompensasi tok?

Salah satu dari mereka, namanya Susi, mengeluarkan rokok dari tasnya, menyalakan dan menghisapnya dalam-dalam. Yang lain, namanya Tasya, langsung menggerutu: “Ya makhluk kayak kamu ini, Sus, yang membunuh mimpi-mimpi perokok pasif seperti kami. Kamu pikir asap yang kamu hasilkan itu nggak beracun?”

“Pelacur kok punya mimpi. Sejak kapan?” sahut yang lain sambil memonyongkan bibirnya yang bergincu merah muda. Namanya Renata. Menurutku ia yang paling cantik diantara semuanya. Ia juga yang paling pendiam.

“Nggak ada asap ini juga kamu tiap hari menghirup racun dari jalanan,” kilah Susi tak peduli.

“Lho, jadi pelacur nggak boleh punya mimpi?” tanya yang lain lagi. Namanya Yusi. Kalau Yusi ini menurutku yang paling montok diantara semua, tapi yang paling kritis. Memangnya cuma mahasiswa saja yang boleh kritis? Pelacur juga!

“Boleh, boleh!”

Tiba-tiba saja suasana jadi ramai. Memperdebatkan tentang apa boleh atau tidak pekerja seks komersil macam mereka punya mimpi dan cita-cita. Awalnya banyak yang tidak setuju dengan Yusi. Sebab mereka berpikir, percuma pelacur punya cita-cita. Toh selangkangan juga yang akan berbicara dan menentukan. Tapi berangsur-angsur mereka menyadari bahwa pelacur juga manusia yang bisa dan boleh punya mimpi dan cita-cita.

Dari suasana yang ramai, sepi kemudian menyeruak. Hanya bunyi hisapan rokok Susi yang terdengar. Mereka mengenang-ngenang masa ketika masih mempunyai cita-cita.

“Dulu waktu perayaan hari Kartini, aku selalu pakai pakaian dokter, Yus,” kata Adinda. Rambutnya cepak tapi wajahnya manis. “Tapi itu bukan karena aku kepengen jadi dokter.”

“Lantas?” tanya Tasya.

“Sebab pakaian dokter yang paling gampang dicari ibuku yang sibuk. Meskipun waktu itu aku bilang aku ingin pakai kostum pilot. Menurutku gagah betul kostum pilot itu.” Adinda bercerita dengan berapi-api. “Ibu menolak karena menurutnya pekerjaan pilot hanya untuk laki-laki!”

“Bah!” semprot Hesti, salah satu perempuan yang paling kelihatan mencolok disitu. Bagaimana tidak mencolok kalau ia mengecat rambutnya dengan warna kuning menyala seperti itu. Dan jangan salah, boleh lah kau anggap rambutnya norak, tapi dia punya pelanggan yang setia dan selalu datang ke selang-, maksudku ke pelukannya - memberikan ia uang bulanan yang lumayan untuk menyekolahkan adik-adiknya di desa. Dia pula yang paling sensitif masalah beginian. “Masa mentang-mentang kita perempuan, kita tidak boleh punya cita-cita tinggi?”

“Menurutmu menjadi pilot itu cita-cita yang tinggi?” Susi balik bertanya.

“Iya dong,” jawab Adinda. “Gimana enggak tinggi kalau kerjaannya menerbangkan burung besi ke langit?”

Semuanya tertawa mendengar jawaban Adinda yang seenaknya. Semuanya kecuali Hesti. “Ini bukan cuma perkara menjadi pilot. Ini tentang cita-cita. Yang dipertanyakan oleh Yusi tadi. Buat aku cita-cita itu hak semua manusia. Nah kita ini kan masih manusia tho? Berarti kita semua masih boleh punya cita-cita tho?”

“Iya kita ini memang manusia, Hes. Tapi kita ini pelacur! Kalau pelacur kayak kita ini masih boleh punya cita-cita, nasib kita nggak berakhir di kolong jembatan layang seperti sekarang!” gerutu Susi sambil membuang puntung rokoknya dan mengambil rokok baru.

Tasya langsung menyambar dan membuang rokok barunya Susi. “Justru supaya kita nggak terus-terusan berakhir disini, kita harus punya cita-cita, Sus! Sekarang coba katakan padaku tentang mimpi-mimpimu! Cita-citamu waktu kecil, yang mungkin sampai sekarang masih ingin kamu perjuangkan!”

Susi misuh. “Sudah kubilang aku tidak punya cita-cita! Kalau aku punya cita-cita, aku nggak akan berada disini bersama pecundang macam kalian!”

“Cita-citaku sederhana,” sahut Yusi. “Aku cuma ingin bertemu dengan laki-laki yang mencintai aku apa adanya, menikah dan punya anak.”

Hanya bunyi klakson mobil dari kejauhan yang menyela. Teman-teman Yusi terdiam mendengar cita-cita Yusi. Hesti yang pertama kali berucap keras. “Menikah? Mana ada yang sederhana dari menikah dan beranak? Ujung-ujungnya kamu tetap berakhir di bawah ketiak laki-laki! Dan kamu dihujani lagi tuntutan-tuntutan lainnya! Pilihan-pilihan yang serba salah, seperti: menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir? Terus apa kamu pikir keduanya sama enaknya? Enggak! Ibu rumah tangga akan diremehkan dan wanita karir akan dihujat. Anak nakal ibu disalahkan, anak pintar, ayah dipuji! Darimana sederhananya cita-citamu itu, Yus?”

“Wah, kamu jangan cuma bisa menjelek-jelekkan mimpi kawan-kawanmu, Hes. Jangan-jangan kamu sendiri tidak punya cita-cita?” ucap Tasya panas.

“Cita-citaku jadi politikus, Sya!” jawab Hesti cepat. “ Terus aku akan maju jadi presiden! Coba bayangkan headline surat kabar ibukota kelak kalau aku naik jadi presiden: Mantan Pelacur Resmi Menjadi Presiden. Nah! Kurang keren apa kalau dibandingkan dengan cita-citamu tadi, Yus?”

“Iya, terus habis jadi presiden, ternyata kamu ditangkap KPK gara-gara korupsi! Lebih keren lagi media cetak akan menulis: Presiden Hesti Ditahan KPK Terkait Masalah Moralitas. Jadi politikus kok dibilang keren. Manisnya itu di mulut doang, hatinya berlobang,” sahut Tasya pedas.

“Kayak punya elu!” Adinda menyambar yang langsung disambut gelak tawa teman-temannya. “Cita-cita itu nggak usah yang tinggi-tinggi. Kalau ketinggian nanti jatuh. Cita-citaku lebih sederhana dari jeng Yusi. Aku cuma pengen sekolah lagi. Belajar bisnis, supaya enggak lagi-lagi menggantungkan nasib pada orang lain.”

“Sekolah lagi, tapi nulis skripsinya dibantu joki ye, Din, biar cepet lulusnya,” sindir Susi. “Kalau kamu gimana, Ren? Dari tadi bengong aja kayak Bagong.”

Renata menatap kawan-kawannya di balik bulu matanya yang lentik. “Aku pengen jadi laki-laki.”

Jawaban Renata kali ini betulan disambut senyap seketika. Tidak ada cita-cita yang lebih ambisius ketimbang cita-cita Renata.

“Aku bosan jadi perempuan. Capek jadi perempuan. Tuntutannya banyak. Penghakimannya sepanjang jaman. Jangankan punya cita-cita, tidak diremehkan sekali-sekali saja aku sudah bersyukur,” kata Renata. “Mana yang lebih ramai dihujat dan dimaki-maki oleh masyarakat saat seorang pekerja seks dengan tarif puluhan juta disorot oleh media? Sang mucikari? Si pekerja seks? Atau pelanggannya? Nggak lain nggak bukan ya si pekerja seksnya! Mucikari nomor dua! Lah pelanggannya kemana? Melenggang kakung begitu saja, pokoknya nafsu mereka sudah terpuaskan dan sudah juga mengeluarkan kocek untuk itu. Aman. Asal ada duit, kamu nggak akan terusik. Nah, terus pansel KPK yang baru saja dibentuk itu. Yang isinya perempuan semua itu. Yang isinya nggak cuma perempuan-perempuan biasa, tapi perempuan-perempuan pintar dan berpendidikan. Tetap aja diremehkan oleh masyarakat. Sepintar apapun perempuan, tetap aja dinilai nggak punya kompetensi dan kemampuan buat perkara-perkara yang membutuhkan otak untuk berpikir. Bahkan ada yang terang-terangan menulis di media cetak nasional, kalau pembentukan pansel yang isinya perempuan semua ini kemunduran besar buat negara. Status pemimpin tetap lebih layak dipegang makhluk-makhluk berpenis itu. Bagaimana aku tidak bosan jadi perempuan? Tidak capek jadi perempuan? Aku kepengen jadi laki-laki saja. Supaya tidak melulu diremehkan, dihujat dan dihakimi!”

Teman-teman Renata melongo mendengar pidato sepanjang itu. Renata yang cantik dan pendiam, tiba-tiba menjadi corong yang mewakili suara hati mereka sebagai perempuan.

“Aku mengundurkan diri jadi calon presiden, Ren,” kata Hesti akhirnya. “Kamu yang lebih pantas. Dan kalau kelak kamu jadi presidan, jangan lupa memperjuangkan nasib-nasib orang-orang pinggiran seperti kita. Kita bukan barang. Bukan obyek untuk seenaknya digunjingkan, dihakimi dan dicaci maki.”

Waktu sudah diatas angka dua belas. Tengah malam sudah lewat. Betul-betul malam yang sepi laki-laki hidung belang, tapi ramai mimpi dan cita-cita. Sungguh magis apa yang bisa diubah sang waktu saat berganti hari. Seolah-olah dunia kemarin bisa sangat berbeda dengan dunia hari ini. Hari baru setiap pagi.

Susi mengambil sebatang rokok dari kantungnya lagi. Tasya sudah hampir menyemprot Susi sampai ia berkata begini: “Ijinkan aku menyulut rokokku yang satu ini, Kawan. Sebab ini akan menjadi yang terakhir untukku. Ini cita-citaku sejak dulu.”

Kawan-kawannya bersorak.

Pagi-pagi, orang-orang ramai mengerubungi sudut kolong jembatan layang. Disitu tergeletak beberapa mayat yang selangkangannya berdarah-darah. Semuanya laki-laki. Ditengarai yang mati seorang pejabat setempat bersama para pengawalnya.

Seorang saksi bersumpah, pembunuhnya adalah para perempuan pekerja seks komersil yang biasa mangkal disitu. Motif mereka membunuh? Entahlah. Yang jelas pejabat itu memang sudah terkenal suka birahi tiba-tiba saat lewat tengah malam.

Seharusnya pejabat itu tahu, jangan pernah main-main dengan para pelacur yang punya cita-cita.


Saturday, 30 May 2015
11.03 pm

Diinspirasi oleh enam perempuan jejadian yang saya temui di malam tanggal dua puluh enam bulan lima tahun dua ribu lima belas. :)