RSS

jalan laki-laki dan perempuan

Well, buat teman-teman cewekku yang masih jomblo, biarlah kali ini aku yang mengumbar iri melihat kalian. Karena kalian tidak perlu memusingkan makhluk yang bernama pria dengan segala keunikan dan keanehan mereka yang membuat kita benci sekaligus cinta. Terlebih lagi, kalian juga tidak perlu lebih pusing lagi karena kalian tetap mempertahankan pria itu meskipun mereka membuat kalian tidak bisa tidur berhari-hari, jengkel sepanjang hari, marah-marah bahkan ketika mereka baru mengucapkan satu patah kata saja dan protes ketika mereka tidak punya cukup waktu untuk kalian. Dan kalian jadi sama anehnya dengan mereka.

Satu yang ingin kutandaskan disini, aku menulis sekarang ini bukan sebagai cewek materialistis yang melihat segala sesuatu hanya dari satu dimensi saja, yaitu uang dan sejenisnya. Berubahnya harga BBM diikuti oleh naiknya harga barang-barang yang dibutuhkan membuat aku berpikir. Kepala kantorku pernah berkata, keadaan seperti ini membawa dampak psikologis bagi keluarga dan pasangan suami istri. Istri akan mengeluh dan marah-marah karena uang yang disediakan sang suami tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dan karena keluhan istrinya itu, suaminya berinisiatif untuk mencari kerja tambahan yang tentu saja merampas sisa waktu yang dimiliki suami untuk keluarga. Si suami akan pulang kerja malam-malam dalam keadaan capek dan tidak menyenangkan untuk diajak mengobrol dan sekedar bertukar pikiran. Kalau itu terjadi, si istri akan kembali mengeluh dan marah-marah karena suaminya sudah tidak punya cukup waktu untuknya dan keluarganya. Kemudian itu semua menjadi lingkaran setan yang terus merongrong, membuat semakin terperosok dan kalau sudah terlalu dalam akan sulit menarik diri keluar dari lingkaran itu. Dan mengapa aku harus berpikir sejauh itu? Aku, yang belum resmi menjadi seorang istri.

Baiklah, ini daerah teritorialku menyingkirkan topeng. Kau akan melihat aku yang sejujurnya disini. Jessie tanpa topeng. Karena itulah aku takkan ragu-ragu menceritakan apa yang kurasakan disini. Well, ketika aku merencanakan untuk menikah, aku sama sekali tidak menyangka memerlukan uang sebanyak itu. Maksudku, kenapa sih harus merepotkan diri sendiri untuk menyewa gaun pengantin seberat dan semahal itu? Menyewa orang untuk melukis wajahmu yang akan membuat wajahmu terasa lebih tebal berlapis-lapis? Membuat tuxedo semahal itu padahal dipakai hanya untuk sehari? Memesan makanan sebanyak itu untuk menjamu sebagian tamu yang belum tentu kau kenal dengan baik? Membayar orang untuk mendekorasi gedung yang kau sewa dan pusing mencari-cari dekor macam apa yang harus dipasang supaya tamu-tamu berdecak kagum? Itu semua membutuhkan biaya besar, aku sadar itu. Dan kalau bisa, aku ingin lari dari itu semua. Menurutku, pernikahan lebih dari sekedar pesta. Lebih dari sekedar mengeluarkan uang sebanyak itu. Dan kau tahu? Demi melaksanakan suatu rangkaian acara yang durasinya tidak lebih dari dua puluh empat jam, diperlukan berlembar-lembar rupiah, berliter-liter keringat dan air mata, dan berjuta-juta pasir waktu yang ada yang mestinya bisa dipakai untuk berbincang-bincang santai, saling mencurahkan hati jadi lebur ditengah kesibukan-kesibukan yang dipaksa.

Aku merasakannya. Itu betul. Dalam beberapa bulan ini, San sulit dijangkau. Emailnya jarang muncul di inbox-ku. SMS-nya apalagi. Ia sendiri juga jarang hadir di area messenger. Dan kalau aku tidak meminta, mungkin dia tidak akan meneleponku sama sekali. Kalau aku mengirim email padanya, aku harus menunggu berhari-hari untuk mendapat balasan atau respon darinya. Kalau aku mengirim SMS, aku juga harus menunggu berjam-jam atau berhari-hari mendapat balasan. Bahkan mungkin aku harus menggigit jari karena tidak ada tanggapan sama sekali. Ketika dia muncul di area messenger itu pun, aku harus menerima untuk diduakan karena kalau sampai ia muncul di area itu, berarti ada satu atau dua tugas kuliahnya yang harus dikerjakan dan memerlukan komputer lab kampusnya. Dan diduakan sama sekali tak enak. Kau mengoceh panjang lebar dan tak ada tanggapan seolah-olah yang hadir disana itu hantunya yang sedang menggodamu. Berkali-kali harus mengetik: “u there?” atau “kamu masih disitu?” atau “halooo???” hanya untuk memastikan dia benar-benar masih ada. Menjengkelkan. Kadang-kadang. Kemudian sering. Aku tahu ia sibuk. Ia kerja. Banting tulang. Demi mengumpulkan dolar untuk ditukarkan dengan rupiah, untuk satu acara yang akan berlangsung kurang dari dua puluh empat jam. Kadang-kadang aku berpikir, lebih baik tidak usah pesta sama sekali, daripada aku harus kehilangan dia berbulan-bulan. Sungguh. Aku merasakan lingkaran setan itu. Yang menelanku tanpa ampun dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kata-kata cinta dan kangen sudah tidak mempan membakar apa yang ada di hati ini. Seperti pemantik yang kehabisan gas.

Jadi kalian tahu kan mengapa kali ini aku yang berkata iri pada kalian, para high quality jomblo? Hubungan pria dan wanita itu rumit. Dan jauh di luar pikiran kalian. Aku menganggap San itu aneh dan menjengkelkan. Kemudian aku sadar, aku juga jadi aneh dan menjengkelkan. Yang membuat San lebih aneh dan lebih menjengkelkan. Terus menerus, seperti cincin yang tidak ada ujung pangkalnya. Membuat kecanduan. Dan kalau lama-lama dibiarkan, mungkin kami akan mati lemas.

Thursday, 27 October 2005
11:12 pm

“Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.”
- Amsal 30 : 18-19 -

siapkan tempat untuk inspirasi

Hampir seminggu kejenuhan, kebosanan, kesepian menyerang jessie habis-habisan. Dan hampir seminggu itu, jessie seperti makhluk tak bertenaga. Yang seperti robot. Hanya mampu mengerjakan tugas-tugas rutin, tanpa bisa berpikir layaknya manusia normal.

Setelah otak ini dapat berpikir dengan normal, aku jadi bertanya-tanya dalam hati. Hampir seminggu itu aku bersikap seolah-olah aku ini pesakitan dengan hakim-hakim bernamakan kejenuhan, kebosanan dan kesepian itu. Dan tentu saja jessie tidak akan membiarkan itu berlangsung lama.

Pekerjaan yang menumpuk membangunkan jessie ke dunia nyata. Welcome back, Jes. This is your real world. Never avoid it. Tentu. Aku takkan menghindarinya. Maksudku, aku sebenarnya tidak ingin menyalahkan teman-temanku karena aku kesepian. Aku yang menghilang dari peredaran mereka dan bukan sebaliknya. Jadi, tak patut aku berpikir yang bukan-bukan tentang mereka.

Hari minggu kemarin, banyak orang menyapaku. Mereka tersenyum padaku, menanyakan kabar. Bahkan ada yang langsung memelukku begitu melihatku. Perasaan terkejut, senang dan terharu campur aduk di dalam sini. Dan aku tahu, aku tak pernah kehilangan mereka. Jessie mungkin tak memiliki sahabat, tapi ia punya banyak teman-teman yang siap membantu.

Beberapa hari ini, seorang teman banyak bercerita tentang masalahnya. Masalah keluarganya. Masalah pasangan hidupnya. Masalah pekerjaannya. Masalah masa depannya. Sambil berkali-kali mengatakan bahwa aku salah satu orang terberuntung di seluruh dunia karena aku tak perlu dirubung masalah sebegitu banyak dalam satu waktu. Melihat itu, aku jadi berpikir kembali, benarkah aku ini seberuntung itu. Seperti kembali disadarkan bahwa aku tidak cukup bersyukur terhadap apa yang aku punya sekarang. Maafkan aku, Tuhan.

Hari ini, semangat itu kembali meletup. Adanya masalah dalam pekerjaan justru memunculkan apa yang hilang selama seminggu. Dalam waktu yang bersamaan datanglah inspirasi untuk menulis. Natal yang kian dekat membuat aku kangen menulis naskah. Pembaca yang budiman, jujur saja, aku tak pernah percaya diri dalam hal menulis naskah. Aku tak pernah yakin aku bisa. Aku bisa menulis, itu betul. Tapi tidak menulis naskah. Tapi entah bagaimana, inspirasi itu tiba-tiba menclok, membuat aku bersemangat untuk pulang dari kantor, cepat-cepat mandi biarpun udara dingin, ngopi sejenak dan duduk manis dihadapan komputer pentium 1 kebanggaanku sambil menuangkan semua ide imajinatif yang ada di kepala. Sesuatu yang membuat hidup jadi lebih hidup, menyingkirkan kepenatan yang ada.

Mungkin aku masih tetap perlu berlibur. Membunuh waktu dengan menulis, bercanda dengan karakter-karakter yang sedang kuciptakan dan membiarkan jessie melahirkan sesuatu. Untuk mengubahnya. Mengubah orang-orang disekitarnya. Mengubah sesuatu menjadi lebih baik.

Monday, 24 October 2005
09:34 pm

Menulis adalah perjalanan menuju suatu kelahiran. Dan karya yang dilahirkan ibarat air nan bergulir bebas di lereng perasaan dan pikiran. Ia dapat bertahan di semak. Ia bisa hinggap di akar yang merambat. Namun ia juga bisa menggelinding lancar untuk melebur dalam samudera luas. Tak ada dapat yang menghitung berapa ceruk di lereng itu. Tak ada yang tahu seberapa gerah tetumbuhan disana. Ia hanya akan mengalir … sebisanya.”
- Dee, Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, 2001-

tanpa sahabat

Ok! Aku mengaku! Aku lelah. Aku capek. Aku kesal. Aku marah. Everything sucks. Life sucks. Kenapa? Karena meskipun banyak orang lalu-lalang di sekitarku, aku tetap merasa kesepian. Tak ada seorangpun yang bisa kujadikan pegangan.

Baru sekarang kusadari. Ternyata jessie tidak mempunyai sahabat. Kalau teman, iya. Banyak. Tapi, sahabat? Ok, akan kusebutkan satu-persatu orang yang menurutku cukup dekat denganku namun saat ini mereka seperti hilang dari peredaran.

1. NOO
Nun jauh disana, hiduplah ia. Dengan peluh mencucur dan keringat membanjir. Membunuh waktu dengan bekerja dan belajar. Demi masa depan nan cerah ceria. Habis sudah waktunya untukku. Mungkin ia berpikir aku cukup kuat bertahan hidup tanpa ia. Tak pernah bertanya tentang kabarku. Sekali pesannya muncul di inbox-ku, hanya permintaan dan perintahlah yang ia kirimkan. Statistik namanya muncul di dalam email-ku sebagai pengirim kalah jumlah dengan temanku yang bahkan ketemu pun hanya sekali seumur hidup. Dan bagaimana mungkin aku masih menuntut waktunya?

2. IIA
Peristiwa tak enak yang sudah hadir diantara kami menyebabkan aku selalu urung menceritakan banyak hal padanya. Tidak menceritakan masalah-masalahku pun ia sudah menganggapku anak kecil yang merepotkan, apalagi kalau bercerita setumpuk masalah yang mungkin menurutnya hanya membuang-buang waktu dan energinya saja. Kusadari kini, meski pernah dalam beberapa waktu di kehidupanku, aku menganggap dia kakak kandungku, seseorang yang kukagumi, dan sekarang… wush..! ia bertransformasi menjadi seseorang yang menakutkan, yang mana aku harus berhati-hati sekali bersikap dan berkata-kata, yang mana aku harus memakai topeng berlapis-lapis jika berhadapan dengannya. Kau pikir enak mengenakan topeng berlapis-lapis?

3. AI
Aku bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu. Belum selesai aku bercerita, waktu sudah memperingatkan kami. Tak ada waktu. Dua tiga jam tidaklah cukup untuk setumpuk masalah yang ada. Sibuk. Sibuk. Sibuk. Dengan urusan kami sendiri. Waktu bertemu yang sedikit, sekali bertemu mungkin kami tidak bisa duduk berdua karena teman-teman kami yang lain mengalihkan perhatian kami.

4. EIO
Kuharap kalian tak bosan melihat inisial nama ini untuk yang kedua kalinya. Pekerjaan dan keluarga barunya menuntut waktu dan energinya. Dan aku masih harus menuntut sisa waktu yang seharusnya digunakan untuk dirinya sendiri? Jessie tidak seegois itu.

5. SDO
Dekat dengannya dalam beberapa bulan ini. Kuangkat ia seperti kakakku sendiri. Kami hampir mirip dalam beberapa hal. Tapi entah mengapa, begitu hujan masalah menimpaku begitu derasnya, begitu juga ia. Jadilah, aku tak tega menambahi hujan masalah lagi dalam hidupnya. Masalahnya sendiri sudah cukup berat, dan hati ini selalu ragu bercerita, gemetar karena saat ini ia seperti beruang yang siap hibernasi, marah kala diusik, mencakar kala disentuh, menerkam kala diganggu.

Seseorang pernah berkata padaku, jangan pernah memperlihatkan kesedihan, kemarahan dan kejengkelanmu ketika kau sedang berada di tengah-tengah kerumunan orang. Mereka tak suka melihat wajahmu ketika semua perasaan itu tengah bertamu dalam hatimu. Mereka hanya suka melihat senyummu, tawamu, candamu. Sekuat tenaga aku berusaha tersenyum tatkala air mata sudah mengambang di pelupuk. Setengah mati aku berusaha tertawa tatkala hati ini sedang mengembung karena marah. Sebisa mungkin aku berusaha bercanda meskipun tak ada satu joke pun mampir di benakku, dan kemudian joke itu menjadi kering melebur dengan udara.

Ingin kubatalkan semua rencanaku. Ingin kubuang semua yang sudah telanjur kuambil dan sekarang hampir kusesali. Hanya ingin hidup untuk hari ini. Tidak untuk kemarin, apalagi untuk besok. Hanya hari ini.

Friday, 21 October 2005
04:16 pm

Malcolm Forbes bilang: “Kehadiran adalah lebih daripada sekedar berada disana.” Dan aku hanya ingin bilang: “Tak ada yang berada disini, tak ada yang hadir, mereka hanya menuntut topengku yang sebenarnya rapuh.”

theme song of mine

Reflection (OST. Mulan)
by: Coco Lee

Look at me, you may think you'll see who I really am
But you'll never know me
Every day, it's as if I play a part
Now I see, if I wear a mask, I can fool the world
But I cannot fool my heart
Who is that girl I see, starring straight back at me?
When will my reflection show who I am inside?
I am now in a world where I have to hide my heart and what I belive in
But somehow, I will show the world what's inside my heart and beloved for who I am
Who is that girl I see, starring straight back at me?
Why is my reflection someone I don't know?
Must I pretend that I'm someone else for all time?
When will my reflection show who I am inside?
There's a heart that must be free to fly
That burns with a need to know the reason why
Why must we all conceal what we think, how we feel?
Must there be a secret me I'm forced to hide?
I won't pretend that I'm someone else for all time
When will my reflection show who I am inside?

Friday, 21 October 2005
03:28 pm

... pecinta hujan yang sedang jenuh

Setelah beberapa hari mengeluh panas, rupanya Tuhan mendengar keluhanku. DibiarkanNya selama dua hari ini, setiap siang Surabaya diguyur air hujan. Mula-mula gerimis, kemudian deras. Seperti baru saja ditumpahkan dari langit.

Aku suka memandang hujan. Tidak peduli dimana aku. Aku suka berada di dekat dimana air hujan menciprat ke sebagian tubuhku. Ke tangan. Ke kaki. Ke wajah. Ke lengan. Belum lagi bau tanah basah yang sedap. Plus udara yang sejuk. Meski ketika hujan turun dan udara menjadi dingin, tubuh ini maunya lari ke kamar kost. Mendengarkan musik, membaca novel atau Donal Bebek yang tebal (biar nggak cepet habis terbaca, maksudnya), minum susu coklat or capuccino hangat, kemudian meletakkan pantat di atas ranjang yang dingin. Bisa betah banget aku ngendon di dalam kamar dan nggak keluar-keluar, kecuali ada bom meledak atau kebakaran, amit-amit deh… jangan sampe.

Tiap kali memandang hujan, ada dua yang kupikirkan. Tuhan sedang menangisi manusia yang (lagi-lagi) jatuh dalam dosa atau alam sedang membersihkan diri. Cuaca dan udara yang panas terus-terusan bisa membuat gerah suasana. Bisa menjadikan tanah kering dan retak. Bisa membuat udara pengap. Bisa menebarkan debu dimana-mana. Bisa membuat manusia-manusia mengeluh dan mengomel, karena mereka harus berkeringat dan keringat menyebabkan tubuh mereka berbau tak sedap.

Tahu tidak, tadi siang, saat hujan tanpa ampun melibas kota tempat tinggalku sekarang ini, aku merasa aku ingin berlari dibawah hujan dan menari. Menikmati air yang pasti akan membasahi sekujur tubuhku. Merasakan nikmatnya air dingin yang menyentuh kulitku. Persetan dengan pandangan dan kata orang. Biar saja mereka memandang aneh, karena ketika mereka mencibir melihatku yang hujan-hujanan seperti itu, bisa jadi sebenarnya mereka kepengen, tapi tidak berani. Sayangnya, bayangan mengasyikan itu hanya ada di benakku.

Aku, yang selama ini ceria, super sibuk, terlihat menikmati hidup, seolah-olah tak pernah mengalami kebosanan akut, saat ini malas melakukan segala sesuatu. Malas ke kantor karena ada kemungkinan bertemu Mr. R. Malas mengajar anak didik karena tubuh ini maunya nggeletak diatas ranjang begitu pulang dari kantor. Malas ke gereja meskipun ada kegiatan dengan alasan yang sama. Malas ketemu teman-teman yang biasanya bikin suasana hati jadi enak dan tak pernah kesepian. Jenuh. Nggak tahu musti ngapain. Nggak tahu juga musti cerita ke siapa. Tidak kuceritakan secara rinci kemalasanku ini pada San karena kebetulan ia sedang menjalani minggu yang berat. Dan aku tak mau ia terganggu untuk sesuatu yang rewel yang disebut aku. Kalau sudah seperti ini, aku jadi seperti seonggok tubuh yang meskipun memiliki tulang dan daging yang lengkap tapi tak berguna. Hanya bisa tidur, makan dan main. Cewek yang kayak gini nih yang bakalan married tahun depan?

Mungkin aku perlu berlibur. Menjauh sejenak dari kerumunan manusia, bercinta dengan kesunyian dan sekedar menghindar dari pemakaian topeng yang berlebihan.

Tuesday, 18 October 2005
08:44 pm

mencintaiku

Ditegur or dikritik orang itu menyakitkan. Bertengkar dengan temen or sahabat itu menyakitkan. Punya masalah dengan orang-orang sekitar itu menyakitkan. Digosipin itu menyakitkan. Ditertawakan itu menyakitkan. Diremehkan itu menyakitkan. Dianggap nggak becus itu menyakitkan.

Kalau dipikir-pikir, kok bisa aku masih hidup sampai saat ini kalau aku pernah mengalami semua yang aku sebutin diatas. Itu belum semuanya lho. Kalau kubeberkan satu persatu, mungkin bisa habis halaman ini bercerita tentang semua penyakit yang pernah kuderita. Memangnya menyenangkan untuk dibaca?

Entah mengapa, setelah aku ditegur (atau dikritik, whatever) dengan tidak menyenangkan (yah… emang ada manusia yang senang ditegur??), sekuat tenaga aku berusaha introspeksi diri. Bertanya kesana kemari apakah aku memang benar-benar seperti apa yang sudah dikatakan orang itu. Setengah mati aku memeriksa diri apakah aku ini memang separah itu. Hasilnya? Entahlah. Tidak seburuk yang kubayangkan, dan tidak seburuk yang ia beberkan. Maksudku, setelah pidatonya yang panjang dan menyakitkan itu, aku berusaha berpikir positif. Dulunya mungkin ia pernah menjadi seseorang yang kukagumi. Seseorang yang mungkin secara tak sengaja kuanggap sebagai manusia yang sempurna dan yang patut diteladani. Kini barulah aku mengerti, kejadian waktu itu menyadarkan aku bahwa tak ada manusia yang terlalu sempurna untuk diteladani. Sekali kau mengagumi seorang manusia, ketika kau sadar bahwa ia sama tak sempurnanya denganmu, kau bisa mencopot kacamata kuda yang sedang kau pakai itu. Dan lihatlah sekelilingmu. Kemudian kau akan mendongakkan kepalamu keatas (sama sepertiku) dan berkata, “Memang tak pernah ada yang seperti Kau, Dad!” Jangan pernah meneladani manusia secara keseluruhan. Jangan pernah menganggap seseorang terlalu sempurna menjadi seorang manusia. Minggu lalu mungkin memang giliranku ditegur oleh Tuhan bahwa aku tidak patut mengaguminya sedemikian rupa. Saat ini aku bisa melihat orang itu dengan lebih baik. Sebagai manusia yang punya kelebihan juga kekurangan.

Datang ke kebaktian hari ini, mendengarkan khotbah pendeta yang bertugas yang entah bagaimana bisa-bisanya ia mengatakan sesuatu tentang teguran yang menyakitkan. Seolah-olah menohok hatiku, menelanjangi jiwaku. Tapi kemudian, kudapatkan satu hal yang bisa membuat aku tersenyum kembali meskipun dengungan-dengungan berisik yang biasa mengganggu setelah sesuatu tak mengenakkan terjadi masih berkeliaran di sekelilingku. Bahwa ketika kau mengalami banyak hal yang mungkin menyakitkan, sesuatu yang tak mengenakkan, berkali-kali musti merasa sakit hati karena ditegur dan dikritik orang, Tuhan tak henti-hentinya membentuk dirimu. Bayangkan! Tuhan tak pernah berhenti menyempurnakan aku. Membuat aku jadi lebih baik. Dan kurasakan, betapa beruntungnya aku begitu banyak ditegur dan dikritik oleh orang-orang disekitarku. Betapa beruntungnya aku sering dengan tiba-tiba mendapat masalah meskipun tidak mencari-carinya dan dibiarkanNya aku menghadapi masalah itu sambil mengirim para malaikatNya menemaniku. Aku jadi merasa betapa sayang Tuhan padaku. Tuhan ingin membuatku jadi lebih baik.

Orang yang menegurku itu… yah well…, aku tidak tahu apakah dia juga sering ditegur dan dikritik. Aku mungkin tak terlalu mengenalnya. Aku hanya melihat ia sebagai sosok yang mungkin tidak pernah terlalu susah untuk apapun. Maksudku, terkadang aku iri betapa mudahnya ia mendapatkan sesuatu yang aku juga inginkan sementara aku harus berjuang keras untuk itu. Terkadang mulut ini maunya protes saja kenapa hidup ini begitu tidak adil. Tapi hari ini aku belajar sesuatu. Justru ketika aku mendapatkan sesuatu dengan susah payah, aku belajar menghargai apa yang aku miliki. Aku tahu Tuhan sedang membentukku. Aku tahu Tuhan sedang menyempurnakan aku.

U know what? He loves me so much…! (Sing it!) Mencintaiku... sepenuh hati-Nya... selamanya... :D

Sunday, 16 October 2005
09:52 pm

Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.
taken from Mazmur 13:24

attempting to transform...

Siapakah saja diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
- Matius 6:27 –

Khawatir. Khawatir. Khawatir. Well, aku nggak ngerti kenapa beberapa akhir belakangan ini aku selalu ditegur tentang kekhawatiran. Sampai aku bertanya pada Yang Di Atas, Tuhan apa aku ini selalu khawatir. Bikin orang khawatir iya, tapi khawatir? Mungkin salah satu motto hidupku adalah: kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Jadi, sementara orang-orang disekelilingku sudah mulai khawatir besok bakal ngapain, besok jadinya gimana, minggu depan musti makan apa, dsb, dsb, aku masih memikirkan tentang hari ini.
I’m not a good planner however. Yeah, that’s true, in fact I’m not a planner. And people around me have been frustrated of me about that matter.

Jujur saja, ketika aku menoleh ke belakang, hampir setahun yang lalu, saat kami berdua, aku dan San merencanakan untuk menikah, aku sama sekali tak yakin apakah kami bisa punya uang sebanyak itu untuk sebuah pesta pernikahan. Sebenarnya aku sama sekali tidak terlalu suka pesta. Aku hanya ingin pesta kecil sederhana yang hanya dihadiri keluarga dekat dan sahabat-sahabat. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Apalagi aku bermimpi membuat pesta yang unik, yang berbeda dari biasanya. Butuh konsep yang matang, butuh uang yang tidak sedikit (kalau tidak bisa dikatakan banyak), butuh rencana!! Aku tahu aku sudah khawatir, padahal sejelas aku melihat tanganku, sejelas itulah Tuhan pelihara aku sampai aku bisa jadi seperti sekarang ini. Dan mengapa aku harus khawatir?

Wahai saudara-saudara dan teman-temanku yang terkasih, jessie memang terbiasa dianggap anak kecil, adek kecil, bukan seorang yang dewasa, yang selalu merepotkan. Maafkan daku. Kadang-kadang aku menikmati saat-saat aku dianggap anak kecil, adek kecil dan bukan orang dewasa, tapi ketahuilah, aku menyadari waktuku untuk menikmati itu sudah hampir habis. Aku sendiri berusaha setengah mati supaya bisa dianggap dewasa. Aku berusaha setengah mati supaya tidak sakit hati dan berpikir negatif ketika seseorang mengatakan padaku bahwa aku dan San memiliki kesamaan yaitu kami berdua adalah orang-orang yang spontan dan tidak punya rencana kedepan seperti apa. Bahwa tidak terlihat dari kami berdua siapa menuntun siapa. Membuatku berpikir beratus-ratus kali apakah itu sinonim dari kalimat bahwa kami ini pasangan yang tak punya masa depan?

Apa hubungannya dengan kekhawatiran yang kusebutkan diatas? Tentu saja ada! Justru tatkala aku berpikir positif bahwa Tuhan pelihara dan aku tak perlu khawatir, orang-orang disekitarku-lah yang mengkhawatirkan aku. Tidak jelas apakah itu karena kepedulian mereka terhadap aku dan San, atau karena mereka sudah frustasi terhadap aku atau kami berdua. Yeah, saat ini aku sedang belajar menjadi perencana yang baik. Pada kenyataannya, menjadi dewasa tidak semudah yang dikira. Butuh transformasi total seperti ulat menjadi kupu-kupu atau kecebong mungil menjadi kodok bermata besar.

Jessie yang pelupa, jessie yang moody, jessie yang cerewet, jessie yang manja, jessie yang sudah membuat khawatir orang sekampung apakah dia punya masa depan atau tidak akan bermetamorfosis menjadi wanita dewasa??? Tidakkkk…!!!! Itu yang bikin khawatir!!! Itu yang bikin orang ragu, apakah dia berhasil atau tidak melalui metamorfosis itu. Akan sangat menyakitkan, kau tahu itu? Dan jessie harus siap-siap menerima tomat busuk dari penonton.

Aku hanya ingin berpikir sederhana. Aku tidak menyangkal kalau aku pernah khawatir akan masa depanku, tapi aku tahu aku bisa. Aku tahu aku bisa bermetamorfosis. Dan kalau aku tidak khawatir, mengapa kau harus?


Saturday, 15 October 2005
04:30 pm

dedicated to… Sister EIO, IIA and Brother S, SAA

dan topeng itu retaklah

Sudah lama sekali tidak menulis sesuatu. Sekalinya aku harus menulis, ternyata aku harus menulis di saat topengku retak.

Banyak hal terjadi. Dan meskipun kadang-kadang membuat sakit hati ini, aku merasa aku harus berakting menjadi seseorang yang seolah-olah tak pernah punya masalah. Aku tak tahu. Bolehlah kali ini kau anggap aku munafik. Karena sekali aku diam, sekali aku merasa aku punya masalah dan kuperlihatkan pada orang lain, aku dianggap orang yang sangat moody dan selalu bermasalah. Thanks.

Aku tak menyangka dosaku sebesar itu. Dulu seseorang yang pernah kupercaya mengatakan aku orang yang suka omong, pamer, dan bangga akan diri sendiri. Oke. Mungkin ada benarnya. Dan aku juga tidak suka itu. Seiring berjalannya waktu, aku mulai menekan perasaan itu. Menahan lidah yang kadang-kadang mau seenaknya sendiri bergerak. Mengunci rapat-rapat mulut yang siap membuka untuk membanggakan diri sendiri. Itu semua jadi tersimpan rapi. Aku merasa, aku cukup berhasil menekannya.

Sekarang masalahnya lain lagi. Jessie memang orang bermasalah. Selalu saja ia dikelilingi masalah. Seolah-olah tak pernah dibiarkannya tenang dan nyaman barang sejenak. Aku benci. Aku benci diriku sendiri. Barusan ada yang bilang aku terlalu mengagung-agungkan keempat temperamen yang terkenal itu. Yang mana saat aku memutuskan untuk berhenti mengkotak-kotakkan diriku dan orang lain ke dalam empat temperamen itu, aku justru terjerumus di dalamnya. Dan mengapa aku yang harus merasa dibenci? Mengapa bukan orang-orang di sekitarku yang selalu mendengung-dengungkan itu di telingaku dan menyeretku untuk turut memakai empat temperamen tersebut dalam segala situasi yang dibenci? Aku tak menyangka dosaku sebesar itu. Kemana aku harus meminta ampun? Aku yang ternyata menurut sebagian orang tidak mempunyai sisi baik. Orang yang membingungkan. Orang yang tak punya pendirian. Orang yang tidak tahu harus kemana. Orang yang tidak mempunyai planning dalam hidupnya. Well, orang yang nggak punya sisi baik sama sekali. Oh, bisa kubayangkan bagaimana masa depanku. Jessie, manusia yang tak punya masa depan.

Oke! Aku jujur. Aku sakit hati. Dan aku benci. Sungguh. Ijinkanlah aku kali ini, Tuhan. Kali ini saja. Untuk tidak berpura-pura bahwa aku tak ada masalah. Untuk benci pada orang lain - orang lain yang mungkin kuanggap sebagai kakakku sendiri, yang kujadikan contoh dalam beberapa hal, yang terlalu sempurna untuk dicacat. Untuk benci pada diri sendiri karena cuma bisa ngomong dan menulis tapi sulit memerintah otak ini untuk melakukan yang diomongkan dan dituliskan.

Aku benar-benar merasa sendiri. Sakit. Dan tempatku hanya di pojok, menutupi luka dengan tangis. Tak seorangpun tahu. Tidak mereka. Tidak dia. Apalagi kau.


Wednesday, 12 October 2005
11:18 pm

… tak adakah orang disana? Ayo…! Mumpung aku masih memperlihatkan wajah asliku – sesuatu yang jarang terjadi.

aku, orang tuaku, dan charlie

Dua hari yang lalu aku nonton Charlie and the Chocolate Factory. Alasan aku menonton… yah… karena aku ingin nonton. Dan sepupuku, Aris dan istrinya bilang ini film bagus. Jadilah kemarin aku berdua dengan temanku menonton film itu. Film itu… bagus! Aku tidak menemukan kata lain selain itu. Maksudku, so much lessons can be taken from that film. Dan ini merupakan must-see movie buat orang tua dan anak-anak. Film ini bisa jadi a different way to learn parenting. Cara yang unik untuk belajar bagaimana menjadi orang tua. Karena orang tua yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik pula.

Ijinkanlah aku mengatakan sesuatu. Ada satu hal yang mengganjalku setelah melihat film itu. Temanku tidak menyadarinya. Tapi sesuatu yang mengganjal itu terus berputar dan berputar di benakku. Agak menggangguku. Dan sekarang aku tahu apa itu. Sepenggal cerita dari masa laluku. Tapi, yakinlah cerita ini hanyalah bagian dari masa laluku, dan menjadi salah satu sendi yang membentukku sampai menjadi seperti sekarang ini.

Aku lahir di tengah keluarga yang bahagia. Ayah ibuku mencintaiku. Karena aku anak pertama, terlihat sekali bahwa aku mendatangkan sukacita tersendiri buat mereka. Masa kecilku kulalui dengan indah. Semua orang bilang aku ini lucu, menggemaskan dan sedikit nakal. Adikku lahir empat tahun kemudian. Laki-laki. Lebih pendiam daripada aku, dan semua bilang aku lebih jahil, usil, nakal daripada adikku itu. Masuk sekolah dasar membuatku sadar bahwa dunia ini lebih daripada sekedar aku, adikku, orang tuaku dan sepupu-sepupuku. Ada manusia-manusia mungil lainnya yang disebut teman-teman. Ketika itulah aku baru menyadarinya, ayah ibuku memberikan cinta mereka tapi dari mulut mereka, tak pernah keluar kata pujian yang sering aku dengar dari ayah ibu teman-temanku. Kadang-kadang aku mendengar seorang ibu berkata pada anaknya, “Kamu sudah cantik.” Tak pernah sekalipun ibuku bilang aku cantik. Pernah kutanya pada ibuku itu, apakah aku cantik. Ia tidak menjawab. Hanya menyahut, “Yah… yang jelas tidak jelek.” Sampai setengah mati aku berpikir, apa itu sinonim dari kata tidak cantik? Seburuk itukah aku? Pernah juga sekali dua, aku memuji diri sendiri. Ingin melihat bagaimana reaksi ibuku. Seperti yang kuduga, ia menegurku keras. Katanya, tak baik memuji diri sendiri. Rupanya prinsip kekristenan yang ia anut dari alkitab bahwa orang yang direndahkan akan ditinggikan sangat dipegang teguh. Bahwa ia berpendapat kita tak boleh sombong. Dan jadilah, semasa aku remaja, aku tak pernah menganggap diriku istimewa. Aku hanyalah cewek biasa. Yang tidak menarik, baik secara fisik maupun karakter. Tak pernah aku belajar bagaimana menjadi cantik luar dan dalam dari orang tuaku. Ayahku sangat bangga denganku, anak perempuan satu-satunya, yang kulitnya putih ketika lahir hingga sekarang padahal kulit ayahnya coklat gosong meskipun cina. Tapi, ayahku juga tak pernah memujiku. Tanyalah pada guru-guru SMP-ku, tak banyak yang mengenal aku. Saat itu aku merasa seperti kerikil di jalan, yang tak bisa dibedakan satu dengan yang lainnya, yang tak ada istimewanya dan tak dihiraukan. Mereka mengenalku karena kebetulan aku keponakan guru matematika di sekolahku itu. Jarang ada yang mengenalku dengan namaku. Mereka mengenalku dengan keponakannya ibu A, guru matematika itu. Menginjak bangku SMA, tidak lantas membuat aku lebih percaya diri. Aku tetap menganggap diriku ini cewek biasa. Yang mana tidak akan bisa membuat kaum Adam naksir pada pandangan pertama dan kemudian melakukan pedekate. Maklumlah, masa-masa SMA adalah masa-masa para gadis bersaing memperebutkan hati lawan jenis mereka. Aku mulai percaya diri ketika kelas dua ada dua orang cowok yang mengatakan suka padaku. Satunya kutolak mentah-mentah, satunya lagi sempat kuterima tapi kemudian kutolak juga. Saat itu aku sadar, aku ternyata punya daya tarik. Setitik kepercayaan diri mulai tumbuh. Suatu sore aku menonton televisi dan mengomentari seorang artis. Kubilang, bagaimana mungkin dia jadi artis, wajahnya jeleknya minta ampun. Eh, ibuku membentak dan berkata, memangnya kamu cantik sampai kamu harus menjelek-jelekkan dia, jangan sombong. Aku terdiam. Seperti kembali disadarkan bahwa aku ini hanyalah gadis biasa yang tidak menarik. Pedih sekali hati ini. Aku membawa pemahaman bahwa aku gadis biasa yang tidak menarik sampai aku keluar dari rumah dan kampung halamanku untuk kuliah di Surabaya. Bertahun-tahun, aku berusaha menyingkirkan konsep yang sudah telanjur ngendon tertanam dalam diriku bahwa aku ini ordinary dan tidak spesial. Bahkan ketika akhirnya aku punya pacar pun, aku harus menerima dengan pasrah untuk dibandingkan dengan mantan kekasihnya yang pertama, yang lebih cantik, lebih tinggi, lebih putih, lebih cewek. Semakin sakit hati ini. Tapi di Surabaya ini aku mulai belajar sesuatu. Bahwa ternyata aku bukan gadis biasa. Aku gadis yang diberi oleh Yang Di Atas banyak talenta untuk dikembangkan. Disinilah aku tahu, bahwa aku bisa menulis sesuatu yang layak untuk dibaca, aku bisa mendisain acara-acara yang unik, aku bisa memimpin suatu organisasi, aku bisa berakting menjadi orang lain. Dan bertemulah aku dengan seseorang yang kupikir dikirim oleh Tuhan untuk memberiku rahasia kecantikan yang berasal dari hati dan bukan dari apa yang tampak di luar. Bahwa ketika kau bahagia, kau berpikir kau cantik dan menarik, kau percaya diri, kau tahu Tuhan mengasihimu dan selalu menganggapmu seorang yang spesial, kecantikan itu akan terpancar dengan sendirinya dari wajahmu. Saat ini, kalau kau bertemu denganku, kau takkan melihat an ordinary girl tapi kau akan melihat an extraordinary girl. Aku… yang tak pernah mendapat pujian dari orang tuaku.

Huff… aku tak mengerti mengapa aku harus menggali sedalam ini masa laluku setelah menonton film Charlie and the Chocolate Factory itu. Betapa orang tua berperan penting dalam kehidupan si anak. Orang tua yang mengajarkan anaknya makan apapun yang ia inginkan tanpa kompensasi apapun akan membuat si anak rakus. Orang tua yang mengajarkan tentang ambisi, kewajiban untuk menang dan jadi juara, membuat si anak jadi ambisius, egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Orang tua yang selalu mengabulkan keinginan anaknya, akan membuat anaknya manja, kurang ajar dan tak pernah puas dengan apa yang sudah ia miliki. Orang tua yang membiarkan anaknya duduk di depan televisi, hanya bermain dengan mesin-mesin yang memisahkannya dengan teman-temannya akan membuat si anak meremehkan anak-anak lain karena ia berpikir intelejensinya lebih tinggi daripada siapapun di dunia ini. Orang tua yang tak pernah memuji anaknya, akan membuat anaknya tak percaya diri dan menganggap semua orang jauh lebih baik daripada dirinya (sebuah kalimat lain untuk satu frase: rendah diri).

Aku tidak membenci orang tuaku. Aku mencintai mereka seperti mereka mencintai aku. Mereka sudah berbuat banyak untukku. Hanya, aku berpikir, sudah waktunya aku mulai belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik. Supaya aku tidak akan melahirkan generasi-generasi yang egois, serakah, tak pernah puas, tak percaya diri, manja, apatis, tak memikirkan orang lain selain dirinya. Tidak. Karena kepada generasi-generasi berikutlah, kita akan titipkan bumi ini.

Wednesday, 5 October 2005
12:15 am

… dedicated to all parents in the world, especially my parents, I always love you.

emotionless creature

Tepuk tangan untuk makhluk-makhluk yang sudah kembali mengingatkan kembali Indonesia pada kejadian tragis di tahun 2002 yang lalu. Wahai para peledak bom yang budiman, kuucapkan selamat pada kalian semua karena sudah berhasil menyelamatkan pemerintah yang kemarin baru saja mengubah (kubilang, mengubah dan bukan menaikkan) harga BBM dari caci maki dan kutukan rakyat, karena sekarang kalianlah yang justru sedang dicaci, dimaki dan dikutuk. Terima kasih atas pengorbanan kalian buat pemerintah negeri ini.

Berkali-kali aku berpikir, berkali-kali aku mengelus dada, berkali-kali aku merasa seperti orang terbodoh di seluruh dunia karena tidak pernah paham dengan apa yang ada di isi otak makhluk-makhluk yang (lagi-lagi) menggemparkan dunia dengan peledak-peledak itu. Kenapa kubilang mereka makhluk dan bukan manusia? Karena menurutku, manusia punya emosi, punya hati, punya perasaan, dan juga nurani. Sementara makhluk belum tentu punya emosi, belum tentu punya hati, belum tentu punya perasaan, apalagi nurani. Bisakah kau bayangkan seseorang yang punya hati nurani melakukan perbuatan bangsat macam itu?

Aku jadi ingat film War of the World yang dibintangi Tom Cruise. Menurut sepupuku, Justin, film ini hanyalah another stupid movie. Aku menontonnya bersama San. Film-nya sendiri biasa saja, maksudku, jauh lebih keren The Lord of the Ring: trilogy dan Independence Day. Kami berdua, aku dan San kemudian membahas tentang film itu sehabis menontonnya. Di film itu diceritakan bahwa ketika manusia dalam keadaan terlemah dan tidak siap, ada makhluk-makhluk di luar sana yang sedang bersiap-siap menyerang bumi. Makhluk-makhluk tanpa emosi. Ketika makhluk-makhluk itu menyerang bumi, bisa dipastikan dan ditebak, manusia-manusia itu tak dapat berbuat apa-apa. Makhluk-makhluk tanpa emosi itu membantai manusia-manusia semudah manusia membantai semut. Darah manusia jadi sumber energi para makhluk itu. Sementara manusia tak bisa berbuat apa-apa selain lari dan bersembunyi, para makhluk itu terus mencari manusia-manusia itu untuk disedot darahnya supaya mereka tambah kuat. Tragisnya, yang membuat makhluk-makhluk itu mati, bukan perlawanan manusia. Steven Spielberg dengan jelas menggambarkan bahwa manusia sebenarnya makhluk lemah yang bergantung pada siklus alam semesta. Makhluk-makhluk itu mati karena darah yang mereka sedot itu menjadi racun atas tubuh mereka. Darah manusia tak lagi segar kalau diambil dalam keadaan mati. Dan itulah yang merobohkan mereka. Bahwa manusia sebenarnya hanyalah sosok-sosok yang atas kemurahan Yang Di Atas bisa hidup di bumi. San mengatakan satu hal yang membuat aku berpikir, yah… dalam film ini, Steven Spielberg seperti hendak menunjukkan realitas dunia. Perang itu dimulai oleh makhluk-makhluk yang tak beremosi. Dan kalau saat ini, di dunia nyata, terjadi peperangan, maka manusia-manusia yang memulainya itu tak bisa lagi dikatakan sebagai manusia. Mereka lebih cocok dibilang sebagai makhluk-makhluk tak beremosi itu tadi.

Kupikir, para peledak-peledak dan teroris itu tepat menyandang gelar emotionless creature. Jadi kalau misalnya namanya Bara (hanya nama karangan), di ijazahnya akan tertulis seperti ini:

This certificate is rewarded to:
Bara, EC
for his participation in bombing the Kuta square, Bali on October 1, 2005

Kemana lagi aku harus berseru? Kemana lagi aku bertanya: mau dibawa kemana bangsa ini? Kemana lagi harus kusalurkan cinta di hati ini?

Sunday, 2 October 2005
10:15 pm

Ada tanah untuk yang hidup. Ada tanah untuk yang mati. Dan cinta (seharusnya - jc) adalah jembatannya.
­- Thornton Wilder -

pekalonganku tercinta

Ada satu hal yang selalu kurasakan tiap kali pulang ke Pekalongan. Perubahan. Yah…, aku tahu hidup selalu berubah. Things change a lot. Tapi kupikir aku tetap merasakan diriku masih menjadi bagian di kota ini. Banyak hal yang berubah disini. Yang memaksa diriku untuk beradaptasi dengan cepat, karena diberinya aku waktu hanya empat hari untuk beradaptasi.

Kepulanganku kali ini benar-benar membuatku seperti orang asing di negeri sendiri. Aneh kedengarannya, tapi itulah yang kurasakan. Ada beberapa jalan yang ketika aku masih tinggal di Pekalongan boleh dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat, tapi sekarang hanya roda dua yang boleh lewat, dan roda empat tersingkirkan. Di beberapa traffic light, ketika aku berkendara motor aku sempat bingung apa aku boleh tetap menjalankan motorku untuk belok kiri. Tak ada tanda sama sekali. Akhirnya aku hanya menunggu kalau ada kendaraan motor lainnya langsung belok kiri meskipun lampu merah menyala, barulah aku mengikutinya. Tragis. Seperti tersesat di hutan saja layaknya. Pasar kumuh yang ada di dekat rumahku sekarang berubah menjadi bangunan tiga lantai bernamakan mall Pekalongan. SD tempat aku belajar dulu, sudah di-upgrading jadi bangunan yang lebih tinggi, lebih mewah, dan lebih dingin karena ber-AC. Entah berapa banyak uang gedung yang harus disumbangkan orang tua murid untuk bangunan baru seperti itu. Tak kalah dengan sekolah dasar-ku itu, rumah sakit yang terletak di sebelahnya pun ikutan di-upgrading. Diperluas dan dipertinggi. Seolah mengharap semakin banyak orang-orang sakit di kota ini, berdatangan dan memeriksa diri disitu. SMA temanku juga memperbarui gedungnya. Pagarnya dipertinggi seolah-olah dipasang sebagai perisai, takut-takut terjadi kerusuhan seperti dulu. Pekalongan anti cina. Itu dulu. Dan sampai sekarang aku masih berdoa semoga sekarang semuanya hidup rukun dan damai. Apapun ras-nya. Kalau dulu, masa-masa aku anak-anak dan remaja hanya ada dua mall kecil di kotaku ini. Sekarang ada empat. Rumah-rumah makan yang menyediakan makanan ala barat dan asia macam fried chicken, steak dan mie hotplate mulai menggeser warung-warung tradisional yang ada. Bahkan ketika aku datang berkunjung ke gerejaku pun, ada banyak wajah-wajah yang tak kukenal berseliweran. Aku, yang dulu seorang aktifis di gereja itu, bahkan tak banyak tahu perkembangan apa yang sudah terjadi di gerejaku. Selain bangunannya yang sudah direnovasi, maksudku. Gereja tempatku melayani dulu gereja berstruktur bangunan kuno khas belanda dengan lima tiang besar sebagai penyangganya. Banyak tembok-tembok yang sudah bocel. Bangkunya pun bangku lawas ditempatkan ruangan kuno dengan langit-langit yang tinggi yang membuat kami, para anggota paduan suara harus bernyanyi keras-keras karena kejelekan akustiknya. Dan sekarang gerejaku itu menjadi salah satu bangunan termewah di Pekalongan. Tiang-tiang besar itu tetap menyangga, tapi tembok-temboknya tak lagi bocel dan para anggota paduan suara telah kehilangan power untuk bersuara keras yang wajib dimiliki saat gereja belum direnovasi karena gedung yang baru didisain dengan akustik yang bagus. Sudah ada fasilitas AC di ruang kebaktian utama dan satu set LCD beserta komputernya. Kalau dulu, anak-anak remaja kadang-kadang berebut ruangan dengan orang-orang dewasa, sekarang tidak lagi, karena ada banyak ruangan disediakan disana. Tiga lantai. Kurang apa coba? Papi bangga sekali karenanya. Katanya pernah suatu kali sepasang pengantin sengaja mampir kesitu untuk berfoto.

Kadang-kadang aku berharap akan tetap menemukan kota dan atmosfir yang sama tiap kali aku pulang. Karena itulah, ada beberapa hal yang wajib kulakukan kalau aku pulang ke kampung halamanku itu. Yang pertama adalah makan soto tauco khas Pekalongan, yang mana takkan kutemukan makanan segurih itu di Surabaya dan di kota besar lainnya. Orang-orang Surabaya selalu merasa aneh kalau aku bilang aku kangen soto tauco-nya Pekalongan. Soto kok pakai tauco, begitu kata mereka sambil mengerutkan kening dan mencibir. Tapi aku selalu menyempatkan diri untuk makan di warung soto dekat terminal dan menikmati suap demi suap semangkuk kuah panas berwarna coklat kemerahan itu. Yang kedua adalah makan bakso dekat sekolahku dulu. Kalau yang ini, malah orang-orang Pekalongan yang bertanya-tanya padaku apa Surabaya tidak ada yang jualan bakso. Kubilang, banyak yang berjualan bakso di Surabaya tapi tak ada yang rasanya seperti ini. Yang ketiga adalah makan sambal cucut-nya pembantu rumah! Meski pembantu rumah sering datang dan pergi (berganti-ganti, maksudku), tetap saja buatan mereka memberikan rasa sedap bagi lidahku yang memang pecinta berat sambal. Yang keempat adalah makan nasi megono* yang dijual dekat rumahku di gang pesing. Dibilang gang pesing karena kadang-kadang ada orang-orang tak tahu aturan doyan kencing disitu. Dan jadilah bau yang mereka tinggalkan semerbak di ujung gang tersebut. Aku suka makan nasi megono yang jual disitu bukan karena aku sentimen atau sedang melakukan diskriminasi atau semerbaknya bau ujung gang tersebut. Tapi sungguh mati, tak ada nasi megono seenak yang dijual dekat rumahku itu. Dan kenapa semuanya makanan? Aku tak tahu. Kadangkala teman-temanku titip kain batik atau daster Pekalongan. Selain harganya jauh lebih murah daripada yang dijual di kota besar, mereka juga percaya bahwa batik yang asli diambil dari sumbernya jauh lebih baik daripada yang mereka temui di Surabaya. Tapi entah kenapa, delapan belas tahun aku hidup di Pekalongan, tak pernah bisa aku membedakan kain batik yang bagus dan yang biasa saja. Jadi tiap kali aku dititipi oleh teman-temanku batik Pekalongan, aku selalu mengajak mami dan emak untuk menemaniku. Jadilah aku tetap bodoh, tak bisa tahu kain batik mana yang berkualitas bagus.

Itulah. Buatku, sesuatu yang khas, yang lama, yang meskipun dicap kuno dan tradisional, adalah sesuatu yang harus dilestarikan. Bukannya digeser secara perlahan dan akhirnya diusir jauh-jauh karena dianggap tidak mengikuti perkembangan jaman. Aku tak pernah setuju dengan pendapat ‘sudah waktunya ekologi berubah menjadi teknologi’. Sori saja. Teknologi bisa membantu, tapi tanpa ekologi, aku tak pernah bisa bayangkan apa jadinya bumi kita yang sebagian besar sudah ditutupi bangunan-bangunan tinggi ini. Dan kukatakan sekali lagi padamu, jangan pernah bergantung dengan teknologi, karena sekali kau bergantung dan kecanduan, akibatnya bisa fatal untuk dirimu sendiri. Yah… berilah contoh saat ini. Sekarang kau dan aku sama-sama bergantung dengan mesin, dengan motor, dengan kendaraan bermotor roda dua, roda empat atau lebih. Dan kendaraan-kendaraan yang kau dan aku pakai itu memerlukan bensin, solar dan bahan bakar minyak lainnya. Marilah sekarang kita berdoa keras-keras karena ketar-ketir menanti hari esok dimana harga BBM akan naik. Ini baru BBM. Belum listrik, air dan lain-lainnya. Aku sendiri sangat bergantung pada komputer dan microsoft word, apalagi di saat-saat ide mengalir dengan derasnya untuk menulis. Menulis dengan tangan bisa putus jariku. Jadilah aku hanya bisa marah-marah kalau komputerku sudah kemasukan virus atau nge-hang­.

Sekarang aku hanya bisa menanti. Menanti perubahan apa lagi yang akan terjadi kelak kalau aku kembali ke Pekalongan lagi waktu berikutnya. Hanya sedikit berharap, tak banyak perubahan yang kutemui. Agar aku tak lagi merasa sebagai orang asing, agar aku tak lagi merasa tersesat di hutan amazon.


Friday, 30 September 2005
10:40 pm

… setelah berkeliling-keliling, menghirup udara perubahan dan memperpanjang perjalanan dua kali lipat jauhnya gara-gara tak yakin dengan peraturan rambu-rambu yang tak jelas