RSS

this Christmas



Christmas isn't about the tree
Christmas is neither about expensive presents and splendid party
It isn't even about the fat man called Santa Clause as well!


CHRISTMAS IS ABOUT THE GREATEST GIFT EVER TO THIS WORLD.
THE GIFT IS CALLED: JESUS


Merry Christmas, everybody!!

-jc,win,vinn-

Thursday, 25 December 2008
9:28 am

tentang merokok


Buat saya, keputusan untuk merokok dan keputusan untuk kecanduan merokok itu adalah murni hak asasi manusia. Betul. Kecanduan pun juga merupakan satu keputusan. Seperti sekarang, kalau saya kecanduan sambal dan kopi, juga keputusan saya. Bukan karena TELANJUR. Karena itu saya enggak pernah secara langsung berkampanye STOP SMOKING karena dapat mengakibatkan impotensi, dsb, dsb. Memang, pada sebuah banner di blog saya, saya terang-terangan pasang tulisan: KEREN TANPA ROKOK, tapi saya tidak menulis BERHENTI MEROKOK. Saya cuma mengatakan lebih keren kalau enggak merokok. Jadi kalau mau lebih keren ya silahkan berhenti merokok. 

Bicara soal merokok, kampus saya (sekaligus tempat kerja saya) termasuk kampus yang mengilegalkan merokok. Jadi sangat nyaman kalau singgah di kampus saya makan di kantin, karena bebas asap rokok. Saya baru mensyukuri hal itu setelah singgah di kampus tetangga yang masih membebaskan mahasiswanya merokok, jadi pada waktu makan di kantinnya, saya harus rela cuping hidung saya menyerap asap rokok. Dulu waktu kampus saya ini baru-baru saja melarang orang merokok di area kampus, saya enggak termasuk mereka yang pro. Karena seperti yang saya bilang diatas, merokok adalah hak asasi manusia (hak asasi mereka yang mau merusak tubuh sendiri) dan saya menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hanya saja, saya suka enggak habis pikir dengan mereka yang merokok. Kalau memang mau merokok, prinsip saya, ya monggo, saya hormati haknya untuk merokok, tapi mbok ya hormati hak saya yang tidak mau menghirup asap rokoknya! Kalau mau rusak badan, ya rusak sendiri, jangan bawa-bawa orang lain! *hosh hosh.. saya mulai emosi lagi* Jadi pada akhirnya, saya nggak suka orang merokok adalah karena kebanyakan mereka tidak menghormati saya! Ngapain saya hormat sama orang yang tidak menghormati saya.

Tapi saya baru sadar bahwa merokok adalah BIG DEAL bagi saya setelah ada satu kejadian. Begini ceritanya.

Karena setiap pagi saya mengantarkan anak saya ke childcare di daerah Tenggilis, mau tidak mau, minimal dua kali saya bolak-balik lewat jalan yang sama. Di suatu pertigaan lampu lalu lintas, karena sedang berhenti, saya sering tengak-tengok, melihat-lihat. Dan sering mata saya tertumbuk dengan sebuah iklan besar, gambarnya sesosok laki-laki muda, salah satu dari tampang-tampang narsis yang mulai berceceran di kota Surabaya karena mereka adalah calon legislatif dapil 1, dapil 2, asal enggak ngupil aja. Saya tertarik dengan iklan itu karena: 1. dia dari partai yang tidak berasaskan agama; 2. dia masih tergolong muda; 3. dia mencantumkan alamat blog-nya di bawah iklan tersebut.

Ketika ingat dan ada waktu longgar, saya iseng membuka blog-nya. Sebagai warga negara yang akan memilih, ya tentu saya kepingin tahu dong seperti apa calon wakil rakyat yang berkampanye? Ketika membuka blog-nya, saya menelan kekecewaan. Kenapa?
1. Di blog itu baru ada 4 posting, itu pun 3 posting pertama tentang dia dan aktifitasnya, juga janjinya untuk memperkenalkan diri pada posting-posting berikut, which turned out TO BE NOTHING. Hal ini bikin saya berpikir, nah, janji untuk posting saja dia nggak bisa menepati apalagi janji untuk rakyat ya?
2. Pada postingan yang terbaru, dia memang menulis tentang tekadnya menjadi calon legislatif. Tapi pada satu baris kalimat (yang mungkin hanya untuk keindahan belaka), dia menulis sambil menghisap sebatang LA Lights merah favorit saya... which means DIA MEROKOK.

Entah karena postingnya yang masih terlalu sedikit tetapi dia sudah mencantumkan alamat blog-nya itu besar-besar pada iklan gambar dirinya. Atau barangkali karena dia mengaku secara tidak langsung bahwa dia merokok. Yang jelas saya TIDAK AKAN MEMILIH DIA. 

Barangkali ada yang akan bilang ke saya, oh come on, jess.. it's not a big deal, dia merokok atau tidak yang penting apa yang bisa dia lakukan untuk rakyat atau come on, jess.. it's not something serious, cuma tulisan di blog aja lho.. life is too precious to be taken seriously (ha! Sorry, cuma quote ini yang nempel di kepala saya saat mau nulis bagian yang ini.). But I assure you... orang yang bahkan tidak menghargai tubuhnya sendiri, sangat diragukan (apalagi) bisa menghargai orang lain. Apalagi soal blog.. untuk sesuatu yang kecil seperti blog saja tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, apalagi sesuatu yang besar. Saya nggak mau memilih wakil rakyat hanya karena tampang mereka tercecer dimana-mana sementara saya nggak tahu pemikiran-pemikirannya seperti apa, program-programnya apa saja. Saya tahu. SAYA TAHU pejabat-pejabat sekarang barangkali kebanyakan merokok. SAYA TAHU pabrik rokok di Indonesia adalah penghasil pajak terbesar, dan saya menggunakan fasilitas negara yang barangkali ditunjang oleh pajak dari pabrik rokok tersebut. But still.... Saya nggak akan pernah milih orang yang tidak menghargai tubuhnya sendiri.

Merokok? It's A BIG DEAL! Kecuali dia jauh-jauh dari saya dan anak saya (dan orang-orang yang lagi hamil) kalau sedang merokok dan tidak melakukannya di ruangan ber-AC atau di dalam gedung. Sekali lagi, saya tidak anti smoker, ada beberapa teman saya yang merokok. Sepupu saya yang ganteng juga merokok. Saya tidak anti. Saya menghormati mereka dan hak-hak mereka. Tapi tolong... hormati juga kami yang tidak mau merokok maupun menghisap asap rokok! PLEASE!

Untuk calon legislatif yang menghisap LA Lights merah... maaf... saya tidak jadi memilih anda. 

Wednesday, 17 December 2008
1:49 pm

hal-hal konyol

Hidup saya memang tidak melulu diisi dengan masalah. Hidup saya juga tidak melulu diisi dengan hal-hal yang bikin hati bahagia. Hidup saya diisi juga dengan hal-hal konyol yang bikin malu. Tapi justru hal-hal yang konyol itu yang kadang-kadang bikin saya senyum-senyum sendiri waktu sedang mengingatnya.

Berikut adalah hal-hal terkonyol yang pernah saya alami. Tentu sebenarnya masih banyak hal konyol lainnya, tapi semuanya tidak akan cukup dituangkan disini.


Hal konyol #1 
Venue: samping Matahari plaza, Pekalongan 
Misi: mencari poster Boyzone, Backstreet Boys, etc 
Waktu: saya masih SMA (tahun berapa tuh!) 
Kronologi: 
Ini saat-saat saya sedang tergila-gila dengan yang namanya Boyband. Jadi sering banget saya pergi hunting poster supaya poster di kamar saya terus nambah. Waktu itu, biarpun matahari panasnya amit-amit, berangkat juga saya berburu poster di sebuah tempat. Sebenarnya saya tahu kalau daerah itu agak rawan. Banyak yang sering kehilangan helm atau asesoris sepeda motor disitu. Apalagi saya naek motor sendirian. Jadi tidak akan ada yang menjaga motor itu pada waktu saya asyik memilih poster. Tapi saya tetap nekad. Pada waktu saya parkir, saya melihat dua orang laki-laki *masih muda*, senyum-senyum penuh arti sambil melihat-lihat saya dan sepeda motor saya. Hati saya enggak enak. Jangan-jangan mereka mengincar sesuatu dari sepeda motor saya! Itu yang ada dalam benak saya. Tapi saya tetap saja keukeuh dengan misi saya. Sampai saya sendiri lupa sudah dengan kecurigaan saya dengan kedua laki-laki itu. Ketika selesai dengan poster-hunting, saya dengan langkah enteng kembali ke sepeda motor saya. Saya tertegun. Dan saya langsung membayangkan wajah marah papi saya karena spion sepeda motor saya HILANG. Segera saya hampiri itu motor sambil lirik-lirik ke laki-laki yang saya curigai tadi. Mereka berdua masih senyum-senyum sambil melihat-lihat saya. Tukang parkir datang dan saya langsung protes. Saya bilang, "Pak, ini spion saya hilang!" Jawab si tukang parkir yang mulai pasang tampang bingung: "Waduh, nggak tahu saya, mbak." Saya sahut lagi, "Lha, bapak gimana, masa ga perhatiin sih?" Si tukang parkir diam saja, tapi wajahnya mulai panik. "Coba tolong bapak tanya sama mas-mas itu, barangkali mereka tahu!" saran saya agak memerintah dengan ketus gitu. Pergilah tukang parkir bertanya pada kedua laki-laki itu. Mungkin di pikirannya, daripada dia yang bayar kali ya.... Waktu tukang parkir tanya, jawaban salah satu laki-laki tadi: "Lho, mbak, itu bukan sepeda motor mbak. Sepeda motor mbak yang di sebelahnya." Baru kemudian saya pelototi sepeda motor tanpa spion itu dan baru sadar bahwa ITU MEMANG BUKAN SEPEDA MOTOR SAYA. Ngeloyorlah saya dari situ tanpa ngomong apa-apa. 
Moral of the story: Jika hendak mengambil motor, harap perhatikan apakah motor tersebut betul-betul milik anda!




Hal konyol #2 
Venue: Happy Puppy Kebon Bibit, Surabaya 
Misi: Menghilangkan stress dengan karaoke 
Waktu: saya kuliah semester-semester awal 
Kronologi: 
Saya pergi dengan kedua teman kost saya. Waktu itu memang tanggal tua sebenarnya, jadi duit yang ada pada kita ngepas banget. Plus ATM yang paling dekat dengan kost sedang tidak bisa berfungsi. Dan kita agak ngotot pergi karaokean. Masalahnya: 1. nggak ada satu pun diantara kita yang bawa motor; meskipun ada, yang bisa mengendarai sepeda motor cuma saya, misalpun saya dapat pinjaman sepeda motor, satunya mau ditaruh dimana? 2. nggak ada satupun dari kita yang bawa dan bisa nyetir mobil. Jadi untuk memecahkan masalah ini adalah: kita harus naek taksi. Waktu itu argo taksi belum gila seperti sekarang. Kita sudah hitung duit masing-masing, cukup untuk 2 jam karaoke, ongkos taksi dan lunch di tempat dengan harga terjangkau. Sesampainya di tempat karaoke, kita cari lunch yang deket-deket situ. Ada sebuah resto yang dalamnya cukup cozy untuk nongkrong, namanya: KJ's cafe. Seharusnya kita tahu, kalau yang namanya cafe, biarpun makanannya enggak seberapa enak, harga tidak sesuai dengan kantong anak kost di tanggal tua. Tapi entah apa yang ada di pikiran kami waktu itu, kami nekad masuk aja. Dan betul saja, ketika kami harus membayar, kami memelototi struk-nya, dan apa boleh buat, kami harus membayar. Memangnya ada pilihan laen? Setelah itu, kami berunding, ok, duit yang ada sekarang cuma bisa bayar karaoke 1 jam. Oke lah, 1 jam cukup untuk melepaskan stress. Ongkos pulang? Urusan nanti! Cari ATM dulu! Akhirnya kami tetap nekad berkaraoke-an. Ternyata untuk jam segitu, dikenakan harga promo di Happy Puppy. Dan harga promo yang petugasnya sebutkan itu, uang kami masih lebih dari cukup untuk 1 jam. Yang tidak kami sadari adalah, harga promo itu baru berlaku untuk penggunaan minimal 2 jam! Jadi harga promo itu dikalikan dua! Kesimpulannya: UANG KAMI TIDAK CUKUP UNTUK MEMBAYAR. Karena pada waktu itu Happy Puppy belum menerima gesek-menggesek debit card, dengan sangat terpaksa salah satu dari kami harus tinggal di tempat itu sementara dua yang lain mencari ATM untuk mengambil tambahan uang. Setengah jam mencari, tidak ada ATM di dekat-dekat situ. Kami akhirnya kembali sambil sepakat untuk menelepon kost, minta tolong teman yang ada di kost untuk menyusul dan bawa uang. Malu?? Jangan tanya! Setelah menelepon, bengonglah kami duduk di ruang depan, sambil menghisap asap rokok tamu-tamu lain. Tidak berapa lama, salah satu kawan-nya teman saya lewat. Dengan semangat empat lima, teman saya itu memanggil, dan voila! Dapat pinjaman duit! Kami keluar dari tempat itu sambil berjanji bahwa untuk beberapa bulan kedepan kami tidak akan pergi karaokean disitu!  
Moral of the story: Pastikan uang anda cukup untuk ongkos pulang pergi, lunch dan karaoke untuk dua jam sebelum berangkat karaoke!




Hal konyol #3 
Venue: Jalan tol HR Muhammad, Surabaya 
Misi: mengunjungi Grand Ocean untuk sewa tempat 
Waktu: tahun 2005 
Kronologi: 
Saya pergi dengan teman gereja saya. Namanya Nita. Nita ini agak parno dengan namanya polisi. Jadi kalau lagi naek sepeda motor, terus lihat polisi, biarpun tu polisi ga ada ganteng-gantengnya, Nita bisa tiba-tiba grogi dan serba salah. Biarpun tahu parno-nya Nita, sebagai teman yang baik, saya tetap mengajak dia pergi, hehehe. Waktu itu, dengan naek sepeda motor, kami meluncur menuju arah Grand Ocean Restoran. Ketika hendak belok, ada polisi sedang menilang mobil, grogi-nya Nita kumat. Jadi dalam posisi sebagai yang membonceng, saya yang mau belok ke arah kanan *biarpun ragu-ragu*, jadi lurus karena Nita ngotot jalan yang lurus adalah yang betul. Ya saya nganut aja wong dia orang Surabaya asli gitu. Tapi yang namanya orang Surabaya asli, tapi yang lagi grogi dan parno ama polisi, memang sebaiknya tidak didengarkan. Ketika meluncur di jalan itu, saya curiga karena tidak melihat sepeda motor lain. Saya sempat tanya sama Nita, "Eh, kok ga ada sepeda motor ya?" Nita enggak jawab. Kemudian... eng ing eng.. sampailah kami DI DEPAN JALAN TOL. Astaga ajubilah... ternyata kami nyasar ke JALAN TOL. Seolah-olah belum cukup menanggung malu karena para pengendara mobil yang lewat di samping kami menyempatkan diri membuka jendela dan bertanya, "Ngapain disini, mbak?", petugas jalan tol dengan menggunakan speaker *yang berarti didengar oleh seluruh pengguna jalan tol berteriak, "Mbak, mbak.. itu sepeda motor mau kemana?? Ini jalan tol, mbak.. bukan untuk sepeda motor. Ayo putar balik, mbak...." Bla bla bla... masih panjang komentar si petugas lewat speaker. Saya dan Nita langsung putar balik dan tancap gas. KABUR! Sambil berdoa supaya tidak ketemu polisi yang sudah bikin Nita kumat groginya tadi... 
Moral of the Story: Kalau lagi naek sepeda motor, jangan takut sama Polisi! Apalagi grogi! 


Hal konyol #4 
Venue: tram lewat Brunswick West, Victoria 
Misi: menuju ke Melbourne CBD 
Kronologi: 
Waktu itu saya lagi pakai softlens saya yang warna ungu. Sebenarnya saya bawa dua *karena dengar-dengar softlens disana mahal banget*, satu warna cokelat, satu warna ungu. Tapi yang cokelat waktu itu sudah robek. Jadi terpaksa saya pakai yang warna ungu, walaupun agak aneh kelihatannya. Wajah oriental, mata ungu? No way! Benar saja, baru saya tapakkan kaki di lantai tram, ada seorang bule perempuan langsung teriak-teriak ngelihat saya. Dia bilang, "Oh, freak, her eyes are purple!" Dalam hati saya langsung misuh-misuh. Kurang ajar banget nih orang, emang nggak pernah lihat orang pake softlens apa? Terus bule itu tanya, curiously "Are those real?" Saya yang sudah ilfil males ngejawab, hubby yang ngejawab, "No, she's just wearing contact lens." Baru tahu kalau disitu bule-bule biasanya pake softlens yang bening, bukan yang warna-warni. Tapi emang perlu gitu dipanggil FREAK gara-gara pake softlens warna?? 
Moral of the story: Jangan pernah pakai softlens warna kalau kamu merasa wajahmu oriental dan bakal sering ketemu bule, karena kamu bakal dipanggil FREAK. 



Hal konyol #5 
Venue: tram stop di Elizabeth street, Melbourne 
Misi: mengejar tram 
Kronologi: 
Pulang dari kerja di Resto Jepang di Swanston street, Melbourne, saya harus jalan kaki dulu ke Elizabeth street untuk dapat tram yang langsung berhenti di depan flat saya. Yang namanya tram kalo siang datangnya bisa 5-10 menit sekali. Nah waktu itu, tram sudah menunggu di tram stop, siap untuk berangkat. Malas menunggu 10 menit lagi untuk tram berikutnya, berlarilah saya sekencang-kencangnya supaya masih bisa ikut tram tersebut. (Perhatian: jangan ditiru, karena kurang baik untuk kesehatan). Sedang enak-enaknya berlari, entah bagaimana kaki saya terantuk sesuatu dan terjerembablah saya dengan sukses di tengah jalan raya dekat tram stop. Persis di sebelah saya, sebuah mobil van lewat, supirnya melihat saya dan bertanya, "What are you doing there?" Saya misuh lagi, sudah tahu jatuh malah tanya! Heran deh! Sambil menanggung malu, saya tertatih-tatih jalan dan memutuskan untuk menunggu tram berikutnya sambil menenangkan jantung yang berdebar-debar kencang dan membersihkan luka di kaki saya. Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah jatuh di jalan raya, malu pula, ditinggal tram. Huh. 
Moral of the story: Jangan pernah mengejar tram, karena tidak sesuai dengan kata pepatah yang kita pelajari pada waktu SD dulu: TAKKAN LARI GUNUNG DIKEJAR. Karena tram jelas akan lari jika sudah waktunya meskipun kita mengejarnya. 

Konyol? Tak apa! They are! Tapi betapapun malunya, betapapun marahnya pada waktu itu, ketika sekarang saya mengingatnya kembali, saya hanya tertawa. Karena semuanya mewarnai buku kehidupan saya.

Friday, 12 December 2008 
3:08 pm 

PS: Happy birthday to my brother!


the moment


Hujan di bulan Desember selalu kutunggu. Karena ketika hujan datang itu berarti Natal sudah dekat. 


Ketika hujan, hal yang paling kuinginkan adalah, aku ada di rumah, dengan secangkir mochaccino atau cappuccino atau latte atau susu cokelat hangat juga boleh, disertai buku tebal yang tidak akan habis dalam sekejap sambil mendengarkan musik Natal (Kenny G!) di atas sofa atau tempat tidur. Paling tidak itu dulu yang kulakukan saat aku tinggal di kost dulu. Enam tahun. Tidak perlu memikirkan jemuran (karena ada pembantu kost). Tidak perlu memikirkan piring kotor yang menumpuk (lagi-lagi karena ada pembantu kost). Tidak perlu juga memikirkan timbunan baju yang siap untuk diseterika atau tidak ada baju yang bisa dipakai (oh, pembantu kost… betapa berjasanya dirimu). Juga… tidak perlu memikirkan seorang makhluk mungil nan lucu yang harus dijaga setiap saat (waktunya makan! waktunya minum susu! waktunya mandi!)

Aku tidak sedang mengeluh. Aku mensyukuri setiap hal yang aku miliki sekarang. Kalau dulu aku hanya tinggal di kost, sekarang aku tinggal di rumahku sendiri. Kalau dulu aku tidak suka anak kecil, sekarang aku cinta berat dengan anak laki-laki kecil yang selalu menyita waktu dan perhatianku. Anak laki-laki kecil yang baru berumur 21 bulan, minggu depan. 

Tadi hujan turun. Hanya sebentar. Aku memang tidak sedang menikmati cappuccino atau mochaccino atau latte diatas sofa sambil membaca buku, tapi aku sedang memandang wajah pulas anakku yang tertidur disampingku sambil mendengarkan musik natal dari Kenny G. Dan untuk waktu yang sesaat itu, aku tidak ingin menggantikannya dengan apapun. Meskipun timbunan baju untuk diseterika masih disitu dan satu dua piring kotor menunggu untuk dicuci.

Friday, 5 December 2008
9:36 pm

what my dad would never know


What my dad would never know include:

1. my son, meaning his first grandchild. He was born 13 days after my dad passed away.

2. my house; I mean, my own house, where he could stay if he visited me. And also helped me to manage the electricity as well.

3. me driving car; really, I drive car now, I just haven't had the driving license yet.

I just think... what a short time I had with my dad. =(

Tuesday, 25 November 2008
1:11 pm

warna-warni perbedaan



"Jika kamu melihat warna-warni itu sebagai suatu perbedaan, aku langsung tahu, justru kamu lah orang yang paling sakit...."

Itu sepenggal dialog yang terus terngiang di kuping saya setelah nonton drama musikal NEGERI WARNA garapan anak-anak SMP-SMA Cita Hati, Surabaya. Koreografinya keren, audio-visual yang mendukung dan kostum yang semarak buat saya hanyalah supporting units. Saya sangat sesalkan karena drama ini tidak ditayangkan di televisi. Justru drama seperti ini penting di saat-saat seperti sekarang, dimana orang sudah lupa keindahan dari sebuah perbedaan. Lupa bahwa Indonesia dilahirkan dari asas Bhinneka Tunggal Ika yang artinya: BERBEDA-BEDA TAPI TETAP SATU JUA. Saat orang-orang lupa bahwa persamaan adalah sesuatu yang MEMBOSANKAN.
Dari kecil, saya belajar tentang lima agama di negeri yang saya tinggali, Indonesia. Dari kecil pula, saya belajar tentang berbagai suku yang tinggal di Indonesia. Dan segala perbedaan itu membuat negeri ini SPESIAL.


Karena itu saya nggak akan pernah mengerti dengan jalan pikiran orang-orang yang hendak membuat negeri ini jadi SATU AGAMA atau jadi SATU MODEL BUSANA gara-gara
stupid and silly thing called UU Anti Pornografi atau jadi SATU SUKU BANGSA, menyingkirkan suku-suku lainnya. Mereka yang melihat warna-warni sebagai suatu perbedaan adalah mereka YANG PALING SAKIT dan BUTUH DISEMBUHKAN.

Friday, 14 November 2008
1:33 pm

five days in childcare

When my maid said she could not go back to work for me, I started to think the solution of the problem. I hate to admit but, yes it is a problem. Well, of course, it would be OBVIOUSLY a problem for me, since my son is still not yet 2 years old and ABSOLUTELY cannot take care of himself, rite? It was not only my maid who did not come back after Lebaran day, but also my mother-in-law's and sister-in-law's maid. Thus, we had to look for 3 (THREE) new maids, which turned out to be a nasty business because it was kind of hard to look for LOYAL maid to work for us. Besides, my another sister-in-law (the one who also has a son with almost the same age with mine) needs a maid, as well! All in all, we had to look for APPARENTLY 4 (FOUR) new maids. Gosh.

This sister-in-law and I, then, decided to do some hunting of childcare near our neighbourhood - only to find it out to be another nasty business, because childcare or baby school in Surabaya has a VERY EXPENSIVE tuition and monthly fee (!!). One of the childcares I have observed requires us to pay IDR 3,000,000 for a class till my son turns three, another IDR 900,000 for monthly fee and another IDR 300,000/year for school's tools. Oh, well, I'd rather looking for the maid, then if so.

The childcare-hunting resulted zero on the day we were doing. First, because of the fee. Second, because of our considering to still hire maids. Until I heard from some friends about a childcare with not-too-expensive monthly fee nearby. At least, it only takes 15 minutes to reach for the place from my residence and workplace. There I went to search for the information and to take a glimpse of the place itself. The place is ok. It is two-floor wide room where kids can take a nap or sleep in the second floor and it even has its own kid's bathroom (it's very cute, by the way and outside the room), and a special room (they call it a soft-play room) where kids can play sliding, trampoline and house in there. They also have a program every month for every day's activity. Like introducing the name of fruits and playing 'looking for fruits' on the yard or introducing a knowledge about magnet, etc. So I took my son and hubby to the place on the following day, and my son was like happy to see the place. He asked me to get down from my arm and joined the other kids to play.

A few weeks away after that (my mom came to help me from my hometown), I've got 5 trial-days (I paid for it, of course) in the childcare. So, for four days, I was accompanying my son in the childcare and had to observe whether he could follow their schedule or not, since my son a little bit too young to be left without company. On the fifth day, I would be nowhere to be seen by my son, so that the staffs could recognize whether my son would be very difficult or not when he could not see me anywhere.

Four days plus one in the childcare, I just knew that kids could be very unusual. There are about 15-20 kids every day (they normally receive max. 25 children per day) and they all have different habits.

Note: all of these names are not their real names, I do not want their moms, who may drop by in my blog and recognize their kids' name mentioned in this blog, suing me. No way.

NON
It takes almost one hour for her to finish her meal. She usually eats twice, for lunch and in the afternoon around 4 pm before her parents pick her up. But, get this: she MUST eat her meal with CHOCOLATE on top of every spoon. Hello, chocolate on top of a soup with rice? What kind of taste will you get? Apparently, CHOCOLATE helps her to finish the meal more quickly.

CING
She was usually accompanied by her nanny, because of her age (less than 2 years old). Her nanny told me, that her parents do not really love her on account of she is a girl not a boy and the parents have got two boys already so that she is kind of needed anymore. I don't know whether the nanny told me the truth or not, but overall, this little girl is quite close enough with my son.

AVATAR (hah? avatar? I told you this will be a real name)
Avatar is Ching's brother, but he's not too attentive of his sis. He likes to play with Brenda (haven't been mentioned, don't worry).

HANS
He would be crying from the first time her mother takes him there until her mother picks him up and he cannot be separated with his goling and pooh doll. Take one of them and you will hear him crying even more loudly. Once, one of the staffs asked him: "Are you not tired crying all the time, Hans?" And this boy solemnly shook his head and said, "No." and continued his crying.

VINA
Vina is also usually accompanied by her nanny. She also always keeps her meal in her mouth during lunch time till nap time and after she wakes up the meal has been gone. I don't know when she swallows it, though, because when she is asleep, I see she still has meal in her mouth.

SATRIA
Oh, this boy is quite handsome. He's got big eye with quite long lashes and he's quite good as well.

BRENDA
Brenda is a sweet and friendly girl. This girl is the first to be shouted by Avatar every time he arrives at the childcare. She is also helpful. Once I saw my son like slipping on the floor, she helped him out by pulling his hand.

TINO
Tino has a very curly hair, like -if you ever read comic of Candy-candy- Eliza's hair, plump face, quite big body for a 2-year-old boy and tiny nose out there. He's also friendly and really looks alike his father. Sometimes he pups in his short pant without even saying anything to anyone.

FERRE
Ferre is a quiet girl, with small eyes, and never cries (at least when I was there, I never saw her crying). She used to be shy if asked to sing in front of her friends, but last time I came, I saw her singing in front of them already.

JALI
Jali is quite often to be punished since he sometimes pushes or disturbs his friend. I hope he doesn't have a chance to push my son, but anyway, he does not stay there every day - maybe only the days while his parents cannot take him with them.

RINA
Rina is also a quiet girl, but not as quite as Ferre. Sometimes when she is not in good mood, she does not want to play with her and will be sitting in some place all alone. Oh, and she also takes a very long time to finish her lunch, maybe one hour or more.

HENDRA
Hendra is a very active boy and quite handsome as well. But unlike Satria, he is more -what is it- naughty (?) and sometimes does not really care about what the staffs ask him to.

ROY
Roy has a big body but needs some therapy because he still cannot speak much in his age. He is about 4 years old. He is also accompanied by his nanny and likes chocolate milk in bottle, not glass, with nipple. His nanny told me that when his mother was pregnant, she had to consume some medicine on account of her weak pregnancy for 8 months. And when she got the labor, the baby would not come out because the head was stuck by the intestine. Whooa.. what a story.

DANIE
Danie looks very ALIKE my friend. I think my friend was like Danie when he was a kid. He was also quiet but once grumbled that he was bored in the place.

RANDY
Randy is a very small boy, less than a year, younger than my boy as well, but we can communicate with him. He understands what we say even though still does not have many words to respond. And get this: he tried TO KISS me! Not once, not twice, but several times. Hah.

Still, I prefer working at my workplace to working at childcare. I like to see and watch children, but I think I don't have enough patience to look after them. I hope everything will be ok. Today, I left my son in the childcare, and hopefully he will be ok and developed well.

I really hope so.

Please pray for us.

Monday, 10 November
3:30 pm

PS: Happy Heroes' Day!

orang-orang yang bergegas


Teman saya yang baru saja tiba di Melbourne berkata pada saya di area messenger. “Dingin banget ya, disini.” Begitu katanya. Padahal, ketika pertama kalinya ia injakkan kaki di kota empat musim itu, penduduk disana sedang menikmati musim semi. Tapi musim semi di Melbourne yang terkenal dengan cuacanya yang nasty (panas, hujan, berangin dan kering bisa terjadi dalam satu hari), memang cukup dingin bagi orang yang terbiasa hidup di negeri tropis macam Indonesia. Apalagi yang terbiasa dengan udara panas Surabaya. Saya jadi teringat ketika untuk pertama kalinya saya merasakan musim gugur/autumn. Kalau lihat di gambar-gambar di internet, musim gugur itu kelihatannya romantis, banyak daun berguguran (iya lah, namanya juga musim gugur!), suasananya jadi cokelat keemasan, tapi kenyataannya saya tidak begitu menikmati musim gugur. Karena pada musim itulah transisi dari cuaca panas ke cuaca dingin. 


BERGEGAS DI MUSIM DINGIN

Di Melbourne pada waktu saya tinggal disana, musim gugur sudah berhasil bikin saya menggigil di pagi hari. Tapi di musim dingin, saya tidak berani nekad keluar dengan busana selapis. Karena saya bekerja, saya tetap harus bangun pagi-pagi, dan keluar rumah juga pagi-pagi, dimana udara segar bercampur dingin dapat menusuk tulang. Yang paling saya perhatikan di kala musim dingin adalah, orang-orang yang berjalan dengan bergegas-gegas sambil memasukkan tangan dalam kantong jaket. Berbeda dengan musim panas, dimana orang-orang lebih santai ketika berjalan bahkan terkadang berhenti sejenak untuk menontoni etalase toko. Jadi pada waktu musim dingin, orang-orang memang kelihatan lebih tidak peduli, padahal mereka hanya berusaha cepat-cepat sampai ke tempat tujuan atau ke tempat yang lebih hangat. 

BERGEGAS DIBALIK MEJA KASIR SUPERMARKET

However, di luar semuanya itu, masih bicara ketika saya hidup di Melbourne, saya paling kagum dengan orang-orang yang bekerja dibalik meja kasir supermarket. Dengan cekatan mereka menghitung belanjaan saya, menerima uang dan memberikan kembalian supaya antrian tidak makin memanjang karena berlama-lama menghitung belanjaan saya. Tanpa bermaksud membandingkan, saya perhatikan orang-orang yang duduk di meja kasir supermarket di Indonesia, tidak bisa se-cepat dan se-cekatan orang-orang disana. Barangkali budaya alon-alon asal klakon begitu mendarah daging sehingga sudah tidak bisa lagi diubah. Pernah saya belanja di Hero Supermarket di TP (Tunjungan Plaza), saya sudah ditunggu hubby diluar, tapi si mbak kasir dengan santainya menghitung uang kembalian, kemudian diulanginya lagi di depan saya, satu per satu lembaran uang itu dihitungnya kembali untuk menunjukkan pada saya bahwa ia tidak salah hitung. Well, that’s good but not that good for a hasty customer like me at that time. What a waste of time.

BERGEGAS MENCEGAH GLOBAL WARMING

Manusia yang sadar bahwa bumi mulai menua dan tak lagi segar seperti dulu pun bergegas pula melakukan sesuatu. Kampanye tentang Global Warming dimana-mana. Pesan untuk menjaga alam tetap hijau dengan mengurangi menggunakan kantong plastik dan air-conditioner (syulit sungguh syulit, dengan udara sepanas ini...), membuang sampah sembarangan, illegal logging, penanaman kembali pohon-pohon yang sudah ditebang juga diseru-serukan. Es di kutub yang sudah mencair yang menyebabkan permukaan air laut lebih tinggi juga digembar-gemborkan, supaya orang-orang merasa bahwa sudah waktunya kita tak lagi memikirkan keuntungan diri kita sendiri di masa sekarang, tapi juga kehidupan anak cucu kita kelak. 

Indonesia sebagai Negara kepulauan, seharusnya lebih serius menghadapi isu Global Warming ini. Karena jika ramalan para ahli itu terjadi beberapa tahun mendatang, Indonesia termasuk salah satu dari beratus-ratus ribu pulau lainnya yang akan tenggelam. Tapi dari apa yang saya lihat di keseharian saya, saya tidak melihat keseriusan itu dalam gaya hidup masyarakat Indonesia. Orang-orang yang buang sampah ke sungai, ke sembarang tempat yang kebetulan dilalui, dari jendela mobil, masih banyak. Puntung rokok juga banyak berserakan di jalan. Ternyata, manusia-manusia yang tinggal di Indonesia bukan termasuk mereka yang bergegas melakukan tindakan pencegahan Global Warming. Ironis. 

BERGEGAS? 

Saat ini, krisis ekonomi global yang berpusat di Amerika membuat orang-orang di seluruh dunia tertegun. Ekstrimnya barangkali diam sejenak untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri Paman Sam sana. China mungkin sedang kalang kabut karena ekspor barang ke sana berkurang yang menyebabkan sumber devisa menurun. Pabrik mobil di Jerman barangkali juga menurunkan produksi mobilnya karena pembelian mobil di Negara maju tersebut mengalami kemunduran. Alih-alih mobil, rumah pun sedang ramai-ramai dijual di sana. Ketika saya nonton Metro TV kemarin, saya tahu kalau stasiun TV ini bikin program baru dengan judul OPPORTUNITY IN CRISIS. Barangkali memang waktunya. Bukan karena senang dengan krisis global yang sedang terjadi (alisa bersenang-senang diatas penderitaan orang lain) tapi lebih kepada kesempatan yang tiba-tiba ada. 

Sayangnya, instead of menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk menangani banyak masalah yang sebenarnya sudah terjadi di Indonesia, ada orang-orang yang lebih ribut dan bergegas-gegas mengurusi moral orang lain ketimbang ribut dan bergegas-gegas mencari cara bagaimana perekonomian di Indonesia semakin membaik, tingkat kriminalitas di Indonesia menurun, pendidikan yang layak di Indonesia bisa diberikan pada seluruh lapisan masyarakat, dan pembangunan lebih merata ke seluruh tempat di Indonesia, bukan hanya di pulau Jawa saja. Orang-orang dibalik pembuatan RUU Anti Pornografi yang bergegas-gegas memaksa bapak presiden untuk mensahkannya jadi UU. Seriously, saya nggak tahu musti ngomong apa. Membaca draft-nya yang sudah diperbarui itu pun bikin saya mual. Mereka memberi arti sendiri tentang pornografi. Padahal menurut Wikipedia (yang memberikan arti global), pornography or porn is the explicit depiction of sexual subject matter with the sole intention of sexually exciting the viewer (pornografi adalah penggambaran eksplisit menurut subyek secara seksual dengan tujuan yang murni untuk menyenangkan pelihat secara seksual).Which means, yang menjadi masalah adalah bukan gambar atau obyek-nya, tapi subyek yang terangsang. Ibaratnya, pisau yang diciptakan untuk memotong sayur-sayuran dan daging di atas meja dapur, tapi digunakan untuk membunuh manusia. Apa yang salah pisaunya? Pencipta pisaunya? Tentu penggunanya kan? Dan seriously, apa dengan dilarang semuanya tiba-tiba akan baik-baik saja? Sekarang saja, angka pemerkosaan di Indonesia masih lebih tinggi daripada Negara-negara lain yang barangkali norma agamanya tidak sekeras yang digembar-gemborkan di Indonesia. Tapi tak banyak yang peduli dengan masalah ini, lebih banyak yang peduli dengan artis-artis yang kawin cerai. 


Saya sendiri merasa bahwa memang ada kalanya perlu sekali untuk bergegas. Tapi bergegas dalam hal yang positif. Yang tidak mengutak-utik moral orang lain dan hak asasi masing-masing individual, karena moral adalah hal yang sangat pribadi dan tidak ada yang dapat mengubah moral seseorang selain orang itu sendiri. Bergegas menentukan prioritas, yang mana yang harus diperbaiki lebih dahulu. Tapi jangan sampai bergegas sehingga lupa menikmati hidup. Itu saja.  
 

Friday, 17 Oktober 2008

100%? hell no!

"There's a history here, and history doesn't happen overnight." -Katie to Ben, after picking up their children from summer camp, talking about their divorcement, THE STORY OF US-

Bicara tentang pernikahan tidak akan pernah habis. Selalu ada pro dan kontra. Kalau suka nonton infotainment, masyarakat sering sekali dicekoki berita tentang artis yang kawin-cerai. Alasan boleh bermacam-macam, tapi yang paling sering jadi kambing hitam adalah: perbedaan. Entah itu perbedaan karakter, perbedaan prinsip. Pokoknya sudah beda sehingga sudah tidak bisa lagi hidup bersama. Saya nggak suka nonton infotainment, tapi kadang-kadang berita-berita semacam itu sampai juga ke  telinga saya. Saya nggak terlalu peduli sih. Mau cerai kek, mau jungkir balik kek, mau kawin lagi kek, emang gue pikirin? Peduli apa saya sama mereka? Wong mereka juga nggak peduli sama saya kok! *saya mulai esmosi lagi, kenapa kok saya nggak masuk infotainment, bwahahaha! males bok!*

Tapi telinga saya suka gatal kalau dengar artis-artis itu bilang: sudah beda, sudah tidak cocok, blah blah blah. Lha gimana, kita semua ini memang udah beda dari awalnya. Laki-laki dan perempuan itu memang beda. Enggak usah laki-laki dan perempuan. Perempuan satu dengan perempuan lainnya pun juga beda. Kenapa menyadari ketidakcocokan itu setelah menikah? Bukan sebelum menikah? Apa karena sebelum menikah merasa sudah mengenal? Makanya langsung tancap gas? 

Saya pacaran dengan laki-laki yang sekarang jadi suami saya itu 3 tahun. Satu tahun terakhir kita habiskan dengan LDR (Long Distance Relationship). Saya tahu hubby saya orangnya seperti apa. Kebiasaan-kebiasaannya. Dia kalau marah kayak gimana. Dia nggak suka kalau saya melakukan apa.Waktu saya menikah dengan dia, saya merasa saya cukup mengenal dia, tapi kenyataannya? Nonsense. Lima puluh persennya pun mungkin kurang. Saya pernah tanya sama mami saya. Dua puluh lima tahun hidup dengan papi saya sebelum meninggal kan cukup lama ya? Tapi waktu saya tanya, berapa persen mami mengenal papi, mami menjawab mungkin cuma delapan puluh lima persen. Saya lantas berpikir, seumur hidup saya tinggal dengan seseorang, saya NGGAK AKAN PERNAH mengenal dia sampai 100%. Coba tanya sama saya, warna favorit hubby saya apa, makanan kesukaannya apa, hobby-nya apa, kalau ada masalah yang seperti ini dia nanggepin kayak apa, jawaban saya pasti betul, tapi itu bukan tanda-tanda saya sudah mengenal dia 100%. Nggak usah orang lain, nggak usah suami sendiri, mengenal diri saya pun nggak akan bisa sampai 100%. Manusia berubah dari waktu ke waktu. Cara saya mengatasi masalah waktu dulu dan sekarang jelas beda, sehingga kadang-kadang saya mikir, bisa juga saya nyelesain masalah serumit ini. Atau sebaliknya, ternyata untuk mengatasi masalah seperti ini saya masih butuh bantuan orang lain. Dan segudang 'ternyata' lainnya. Yang mengenal manusia sampai 100%, sampai sedalam-dalamnya memang cuma Penciptanya manusia saja. 

Kemarin pas mampir di blog-nya Desi yang membahas tentang perselingkuhan (kayaknya waktu dia nulis lagi esmosi tinggi deh.. hehehe), saya sempat berpikir, kenapa sih orang memilih untuk berselingkuh? Selingkuh disini belum tentu dengan pihak ketiga lho, berselingkuh dengan hobby juga bisa. Kalau seorang suami/istri lebih mentingin hobby diatas segala-galanya, sampai mengabaikan tanggung jawabnya, dia juga SEDANG melakukan perselingkuhan. Pihak ketiga dalam perselingkuhan juga belum tentu WIL (Wanita Idaman Lain)/PIL (Pria Idaman Lain), tapi juga ORANG TUA. Kan ada tuh di Alkitab bilang, laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya. Jadi kalau yang laki-laki lebih mentingin ayah dan ibunya daripada keluarganya sendiri, ya itu selingkuh juga. Ayah dan ibu itu penting, tapi tidak lebih penting dari suami/istri dan anak-anak. Tapi disitu Desi lebih bicara tentang perselingkuhan dengan WIL/PIL, yang notabene kalau dilakukan, alasannya bisa bermacam-macam. Tapi sebenarnya, orang selingkuh itu kebanyakan karena dia mau lari dari masalah yang dihadapi di rumah. Padahal ketika dia selingkuh, dia nggak sadar kalau dia hanya sedang lari dari masalah satu dan kecemplung ke masalah lain. Ibaratnya, lolos dari cengkeraman harimau, masuk ke mulut buaya. Nah lho! Desi bilang pernikahan itu sulit. Memang! Kalau nggak siap punya masalah, ya jangan nikah deh. Serius. Biar nanti kalau sudah beberapa waktu menikah tidak ada lagi kata-kata sebelum perceraian: "sudah tidak cocok" atau "sudah beda" apalagi "sudah waktunya".

Talking abour marriage, do not give up because the history is not yet finished to be written. And love is not to be made but to fight for. 

And we're still fighting for it... even though we never know each other 100%. Seriously, who can, anyway?

Monday-Tuesday, 6-7 October 2008

homework

Got a homework from c'Rika (hi, ce!). These are the rules:

1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog.

Here we go.
TEN THINGS ABOUT ME (not about Mary):
1. Hate to admit, tapi saya termasuk orang yang agak idealis. Keidealisan saya bikin saya agak repot. Keidealisan saya ngelarang saya untuk makan di Hoka-Hoka Bento JS Plaza, karena mereka menggunakan stereofoam yang tidak ramah lingkungan. Kalau Hoka-Hoka Bento di GM ya ayo wae. Keidealisan saya bikin tas saya penuh sampah (kertas-kertas yang tidak terpakai, bahkan bungkusan permen dan snack) karena tidak nemu tempat sampah untuk membuang sampah-sampah itu, sampai akhirnya lupa. Keidealisan saya kadang-kadang membuat mulut saya meluncurkan kata-kata yang bikin orang speechless terus jadi bete. Barangkali memang tidak selalu kita harus jujur, karena orang-orang lebih suka mendengar kata-kata yang nyenengin kuping saja walaupun itu bohong.

2. I love quotes! Kalau saya nonton film, terus ada serentetan kalimat yang bagus, wah bisa saya quote di ym saya, email saya, status ym saya, berhari-hari. Yang paling saya ingat sekarang, kata-kata yang diucapkan Carrie Bradshaw di Sex and The City: The Movie. "It wasn't logical, it was love." Memang perempuan, kalau soal cinta pasti perasaan nomor satu, logika nomor dua. Hehehe. Oiya, ini juga menjelaskan bahwa saya juga movie mania. Target film yang kudu ditonton: LASKAR PELANGI dan BODY OF LIES.

3. Percaya nggak percaya, saya ini gampang nangis lho! Huhuhu... buka rahasia deh. Kalau saya marah dan nggak bisa mengeluarkannya, saya pasti nangis. Kalau saya nonton film yang endingnya bagus dan juga mengharukan (contoh: The Story of Us *waktu Katie ngoceh panjang lebar ngebatalin perceraiannya dengan Ben* dan PS I Love You *tiap kali Holly baca surat-surat dari Gerry, bayangin berapa kali nangis tuh!*). Tapi kalau nonton sinetron Indonesia, bah, najis gue nangis. Hehehe.

4. Saya CINTA sambal! Serius! Saya pernah cerita ke Desi *yang lantas ngomeli saya* kalau saya nggak bisa ninggalin sambal. Saya rela makan nasi dengan lauk ketimun dan sambal saja. Makanya saya tersiksa sekali kalau lagi batuk atau radang tenggorokan. Karena nggak bisa makan sambal! Jadi kalau mau beliin saya makanan, gampang banget, beliin aja makanan yang pedes, hehehe.

5. Saya punya hubby yang keren dan anak yang cute. Saya cuma jarang menulis tentang mereka di blog saya, karena menurut saya, kehidupan saya dengan mereka terlalu berharga untuk hanya ditulis dalam blog. Seperti kata Katie di The Story of Us, membentuk keluarga seperti membuat sejarah, dan sejarah tidak dibangun dalam satu malam. Dan sejarah itu memang hanya milik kami.

6. Hidup saya jauh dari membosankan. Waktu SMP, saya sekolah di SMP swasta, tiap naik kelas, teman-teman sekelas beda lagi. Teman sebangku juga. Waktu SMA, saya diijinkan sekolah di sekolah negeri, ketemu dengan teman-teman dengan berbagai suku, agama dan ras. Pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup. Waktu kuliah, pertama kalinya tinggal jauh dari ortu, bikin geng, melakukan hal-hal yang nggak pernah dilakukan semasa tinggal di hometown. Kuliah belum selesai, dapet pacar *yang sekarang jadi suami*, terus bisa langsung kerja dengan suasana yang menyenangkan, bisa ikut studi banding ke luar kota segala. Setelah itu kenalan dengan dunia teater yang bikin saya jatuh cintrong klepek-klepek *hiperbolis banget*. Dikasi kesempatan juga ama Tuhan ngerasain LDR (Long Distance Relationship) sehingga punya waktu setahun penuh huru-hara dan gila-gilaan bersama teman-teman pemuda gereja *one memorable year!*. Abis itu married dan tinggal setahun di Melbourne, pulang-pulang punya anak laki-laki yang cute, terus pindah rumah baru... nah kan. Membosankan dimana coba??? Makasi ya, Tuhan.

7. Famous men that I like: Yosi Project Pop, Putu Wijaya, Andrea Hirata, Milo Ventimiglia, Jude Law, Orlando Bloom, Johnny Depp, Jon Bon Jovi (I love the way he smiles) dan Howard Schultz (sapa tuh? hayo coba tanya om Google sana). Oya satu lagi: Pak Paulus Kusuma! Bwahahaha, I love the way he preaches! Tajam, menusuk, apa adanya, singkat dan padat.
Famous women that I like: Dewi Lestari, Dian Sastro, Indi Barends, Ann Hathaway, Alice Pung (sapa lagi tuh? coba tanya om Google lagi, tapi om Google yang di Australia ya) dan Enid Blyton (whoaa.. I read most of her works when I was young).

8. Saya sependapat dengan Soe Hok Gie perihal pembentukan partai politik, bahwa politik tidak seharusnya dicampuradukkan dengan agama. Politik ya politik, agama ya agama. Politik itu berurusan dengan negara dan kesejahteraan rakyat. Agama itu cuma sistem yang menentukan moral manusia ke arah mana, dan moralitas adalah hal yang sangat pribadi.

9. Kuku saya nggak pernah kelihatan bagus. Apa pasal? Karena tiap kali saya sedang menunggu sesuatu, atau sedang tegang, kuku-kuku saya jadi sasaran gigi saya. Jorok sih, tapi kadang suka lupa juga, hehehe.

10. Kalau lihat saya jalan-jalan di mal, jangan heran kalau saya nggak pernah pakai busana yang keren dan ngikutin tren. Busana saya biasanya seputar: kaos seukuran tubuh saya, celana pendek/celana tigaperempat/celana jeans biasa, sandal jepit/sepatu sandal tanpa heel.

So... pe-er ini saya hibahkan ke: Desi, Icha, Lisa Boed, Victor, c'Surti, dan Danie! Selamat yaaa.... Selamat mengerjakan maksudnya.. hehehe.

Thursday, 9 October 2008
10:48 am

antara nama dan status

Alkisah, Raditya Dika dan Shakespeare ketemu dan berbincang-bincang.
Shakespeare : What is in a name?
Raditya Dika : Tentu saja ada, Shakespeare idiot. Bayangkan saya kalau nama 'bunga' diganti dengan 'eek', terus gue bakal ngomong ke cewek gue: "Sayang, aku baru saja naruh eek di depan rumahmu." Bisa-bisa dia ilfil.
Shakespeare : ...

Tenang saja, percakapan diatas murni adalah imaginary saya. Karena sedang melintas di kepala saya, apakah sebuah nama itu sungguh berarti? Sebab kenyataannya seorang yang mengaku idiot seperti Raditya Dika ngotot bilang kalau sebuah nama itu penting. Tapi sebenarnya yang ingin saya bicarakan disini bukan 'nama' seseorang atau suatu benda. Tapi status yang menentukan 'nama'.

Umpamanya begini. Pada minggu yang sama, dua pasang suami istri bercerai. Orang-orang menunjuk-nunjuk pada yang sepasang, sibuk berhipotesa apakah perceraian ini karena orang ketiga atau karena sudah bosan atau karena latah saja dan menyebarkan hipotesa-hipotesa (yang kebanyakan negatif) itu pada orang lain, menghakimi perbuatan mereka tanpa terlalu peduli apa yang sebenarnya terjadi di balik perceraian tersebut. Sedangkan untuk sepasang lainnya, mereka menjalaninya dengan lebih tenang, mungkin lebih 'sakral' tanpa perlu bertemu orang-orang yang heboh melihat mereka bercerai. Tak banyak hipotesa, tak banyak penghakiman. Mengapa orang-orang memperlakukan yang satu berbeda dengan yang lainnya? Karena yang satu itu adalah pasangan selebritis, yang hidup pribadinya tidak jauh-jauh dari wartawan media infotainment yang siap mengendus dan mengeluarkan berita apapun biarpun tak nyata asalkan dapat duit dan yang satu adalah pasangan biasa yang tak punya nama, sehingga barangkali jika proses perceraian pasangan biasa ini sampai ke telinga wartawan media infotainment, mereka bakal bilang: "So? Who are they, anyway?"

Atau barangkali tidak perlu selebritis. Di gereja pun, jika ada seseorang yang sangat aktif, orang-orang disana mengenal dia sebagai salah satu pelayan, kemudian suatu hari dia mengatkan sesuatu yang bikin sakit hati orang lain, dosanya akan terlihat lebih besar daripada orang biasa yang tidak terlalu aktif, yang invisible padahal barangkali juga sama-sama baru bikin sakit hati orang lain. Seperti kata uncle Ben di Spiderman 1, "With great power comes great responsibilities."

Saya sendiri sebenarnya berpendapat bahwa semua manusia itu setara, hanya jalan hidupnya saja yang berbeda. Jalan hidup yang berbeda itu yang membuat manusia mengkotak-kotakkan diri mereka sendiri. Ada yang masuk di kotak kaya, masuk di kotak terkenal, masuk di kotak pintar, dsb, dsb. Karena saya berpendapat begitu maka saya tidak mau repot-repot minta tanda tangan atau ngotot foto bareng artis/bintang film/penyanyi *ehm, mungkin kecuali Yosi project pop kali ya..., pasti aku ngotot hehehe*. Saya pasti berpikir: "Hah? Ngapain foto ama mereka? Emang mereka siapa? Hanya karena mereka sering nongol di tipi? Hanya karena mereka sering diteriakin ABG-ABG waktu pentas nyanyi? Hanya karena mereka berstatus artis atau bintang film atau penyanyi? Mereka juga manusia sama kayak saya! Kenapa saya harus mengagung-agungkan mereka?" *saya mulai esmosi, karena nggak ada yang mau foto sama saya! bwahahahaha* Tapi kalau fotonya sama om Putu Wijaya atau Andrea Hirata atau Dewi Lestari atau Yosi project pop, ayo aja deh!

Kenapa om Putu Wijaya? Karena tulisan-tulisan dia sering menyulut rasa nasionalisme yang selalu ada dalam diri saya yang suka melempem. Kenapa Andrea Hirata? Karena dia berani bermimpi dan berjuang untuk mimpinya itu biarpun harus jatuh bangun dalam menggapai mimpinya. Kenapa Dewi Lestari? Bukan, bukan karena dia penyanyi atau pernah kawin dengan Marcell, terus sekarang jadi sorotan dimana-mana gara-gara perceraiannya itu. Tapi karena gaya penulisannya yang segar dan cerdas. Kenapa Yosi project pop? Karena dia GANTENG!!!! Hah??? Ganteng darimana? Dia enggak ganteng ah, tapi lagu-lagu ciptaan dia itu yang bikin keren. Kreatip dan punya message. Enggak kayak lagu-lagu Indonesia sekarang yang cenderung bicara tentang aku cinta kamu apa adanya... atau cinta ini membunuhku.. hiks hiks.. atau jangan, jangan kau menolak cintaku, putuskan saja pacarmu... atau kuingin Tuhan bunuh pacarmu supaya kau jadi milikku *Tuhan, ampuni dia karena dia tidak tahu apa yang dia nyanyikan* (duh pasti kumatiin tivinya langsung kalau ada lagu-lagu kayak gitu sambil huek-huek). Saya akan minta foto bareng mereka supaya momen ketemu mereka bisa saya simpan dalam bentuk yang bisa dilihat. Dan itu bukan karena mereka terkenal/good-looking tapi karena apa yang mereka lakukan yang sudah menginspirasi saya. Tidak semua yang Putu Wijaya atau Dewi Lestari tulis itu saya amini dan telan mentah-mentah. Saya tetap punya filter. Saya tidak akan heboh dengan orang hanya karena dia seleb terkenal atau saya tidak akan bilang setuju jika hati saya mengatakan tidak meskipun yang saya hadapi itu seorang direktur perusahaan terkenal atau boss pabrik besar. Paling banter saya tanggapi hanya dengan mesem. Itu pun kalau saya lagi malas mendebat atau kelihatannya kalau saya tanggapi orangnya bisa tersinggung.

Kalau menurut saya, Shakespeare itu ada betulnya. Tidak penting nama orang itu siapa, yang penting adalah apa yang sudah dia lakukan untuk dunia (baca: orang-orang di sekitar). Tapi Raditya Dika juga benar. Kaerna sebuah nama yang sudah memiliki arti, jika seenaknya diganti, arti dibalik nama itu yang tidak bisa seenaknya diganti.

Jessie means God's gift. Barangkali itu yang ingin papi mami saya ingin sampaikan pada dunia ketika saya lahir. Saya adalah hadiah dari Tuhan buat papi mami saya.

Wednesday, 24 September 2008
10:05 pm

PS: Jadi ingat papi saya yang sudah meninggal... masih banyak yang belum saya lakukan untuknya. Maaf ya papi :(. Tapi papi sudah bahagia kan disana?

maaf dan waktu


Ada satu folder dalam file-file lama saya di komputer kantor. Salah satunya lagu-nya AQUA jaman saya masih SMA dulu yang judulnya: TURN BACK TIME. Orang bilang, sebuah lagu bisa punya daya magis tersendiri (betul ga, cung?). Mungkin kali itu saya terkena magisnya.

Liriknya seperti ini:


TURN BACK TIME

Give me time to reason

Give me time to think it through
Passing through the season,
where I cheated you

I will always have a cross to wear
But the bolt reminds me I was there
So give me strength,
to face this test tonight

If only I could turn back time

If only I had said what I still hide

If only I could turn back time
I would stay for the night.
For the night...


Claim your right to science
Claim your right to see the truth

Though my pangs of conscience,

Will drill a hole in you

I've seen it coming like a thief in the night

I've seen it coming from the flash of your light
So give me strength,
to face this test tonight

If only I could turn back time

If only I had said what I still hide

If only I could turn back time..
I would stay for the night

The bolt reminds me I was there
(2x)

If only I could turn back time
If only I had said what I still hide

If only I could turn back time
I would stay for the night

Memang, saya NGGAK AKAN PERNAH BISA kembali ke waktu-waktu saya pengen kembali.
Waktu-waktu dimana saya bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang yang saya cintai, tapi saya sia-siakan. Waktu-waktu dimana mulut saya malah ngoceh yang nggak penting pada waktu ia seharusnya bungkam. Waktu-waktu dimana saya harusnya ngomong tapi malah nggak ngomong. Waktu-waktu dimana saya seharusnya mengatakan yang sebenarnya, tapi tidak saya lakukan. Waktu-waktu dimana kata-kata saya bikin sakit hati orang lain dan meskipun saya sadar, saya nggak berusaha memperbaikinya. Waktu-waktu yang seharusnya saya gunakan untuk sekedar berkata maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Karena kata maaf mungkin tidak lagi terasa berguna jika diucapkan terlambat. Sementara kita tahu, manusia tidak akan pernah menemukan mesin waktu. Hidup, hanya untuk satu kali.

Jadi, buat kalian yang mungkin pernah sakit hati karena ucapan-ucapan saya, kata-kata saya, dari lubuk hati yang terdalam, saya MINTA MAAF. Terkadang saya lupa menarik rem mulut saat sedang bicara. Saya tidak akan menuntut kalian untuk langsung memaafkan saya, karena saya tahu untuk memaafkan pun butuh waktu. Tapi setidaknya, kali ini saya mendengarkan kata-kata roh yang ada di dalam saya. Saya minta maaf, meskipun kelihatannya terlambat. Tetapi, better late than never, right?


Tuesday,
23 September 2008
3:04 pm

sakit nggak sakit


Enggak tahu kenapa akhir-akhir ini kondisi saya drop sekali. Rasa-rasanya baru dua minggu yang lalu saya sakit, minggu ini saya awali pula dengan sakit. Sakitnya pun anak-anak banget: sakit panas. Memang sebenarnya itu bukan penyakit yang sesungguhnya. Panas itu gejala suatu penyakit. Kalau yang lalu panas itu diikuti dengan flu, yang ini radang tenggorokan. Sakitnya bukan main kalau sedang menelan sesuatu.

Dari dulu saya sebenarnya jarang sakit. Sudah umur segini, baru dua kali saya masuk Rumah Sakit *duh.. jangan sering-sering lah ya..*. Yang pertama operasi telinga karena ada benjolan di luar telinga. Yang kedua pada waktu melahirkan. Sakit saya juga biasanya nggak jauh-jauh dari sakit panas yang diikuti dengan flu, pilek, batuk atau radang tenggorokan. Bahkan pada waktu hamil pun saya SEHAT WALAFIAT, thank GOD for that! Mual-mualnya hanya di bulan kedua dan ketiga, itu pun hanya terjadi kalau saya nekad makan nasi, kalau nggak nekad ya nggak mual-mual. Barangkali karena jarang sakit itu, setiap kali sakit, saya tersiksa bukan main. Lebih tersiksa lagi kalau jarak waktu antara sakit yang satu dengan sakit yang lainnya belum ada satu bulan. Tapi memang enak gitu: sakit? Jawabannya: SERING ENGGAK SERING, YA TETAP NGGAK ENAK.

Radang tenggorokan saya kali ini barangkali peringatan dari Yang Di Atas kalau saya sudah kelewatan makan sambal. Saya suka sambal. Bukan sekedar suka. Saya cinta setengah mati dengan sambal. Saya bela-belain bawa cobek plus terasi banyak-banyak waktu dulu berangkat ke Melbourne, Australia, supaya saya tetap bisa bikin sambal terasi disana. Susah sedikit tidak mengapa, yang penting tetap makan sambal. Sambal disana tidak enak. Sudah gitu mahal pula. Cabe rawit sekilo harganya bisa $12-an
*berapa rupiah tuh?*, tapi tetap juga saya beli, meskipun akhirnya beli sedikit-sedikit, supaya tidak terasa mengeluarkan duitnya. Disini, karena harga cabe termasuk murah, saya sering beli. Saya sering bikin sambal. Buat saya, makan siang hanya dengan sambal terasi dan mentimun itu CUKUP adanya. Saya masih bisa menikmati. Mungkin itu sebabnya saya jadi sering sakit, karena makanan yang saya konsumsi tidak sehat. Bah. Di Indonesia, makanan sehat itu mahal. Boro-boro beli makanan organik yang harganya bisa bikin mata melotot, beli untuk sehari-hari saja juga sudah bisa bikin melotot.

Tapi kemudian saya jadi ingat: "
Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." ~ Amsal 17:22 ~

Jadi pertanyaan berikutnya: "Apa akhir-akhir ini aku kurang gembira dan tak bersemangat?"

Jawabannya: "
I dunno...."

Tuesday, 23 September 2008
12:01 pm

tentang minyak telon dan kebiasaan

Saya enggak tahu asal mulanya bagaimana sampai jenis minyak yang satu ini menjadi salah satu yang wajib diberikan pada bayi yang baru lahir sampai beberapa tahun ke depan. Tiba-tiba saja ketika saya dulu berbelanja perlengkapan bayi, minyak telon itu juga salah satu yang ada di keranjang belanja saya. Makanya kalau mencium aroma bayi-bayi Indonesia kebanyakan orang bilan, "Hmm... enaknya bau bayi." Padahal itu bukan bau bayi! Itu bau minyak telon dicampur bedak bayi! Kakak ipar saya melahirkan di Sydney dan bayi-bayi disana jelas nggak lazim diusapin minyak telon. Dia pakai minyak telon juga selama minggu-minggu pertama bayinya lahir saja karena dibawakan mama mertua saya dari Indonesia pada waktu itu. Alhasil, sampai segede sekarang (sebaya dengan anak saya), udah nggak pernah lagi pakai minyak telon. Selain disana carinya juga susah kalaupun ada, tempatnya jauh dari tempat tinggalnya. Sekarang mereka sudah balik ke Indonesia sih, tapi karena sudah biasa nggak pake minyak telon ya tetap aja nggak pake. Mama mertua saya sempat berkomentar, "Itu lho nggak pernah dipakein minyak telon!" Seolah-olah aneh betul anak seumur itu enggak dipakein minyak telon. Tapi saya lihat anaknya nggak apa-apa juga tuh nggak dikasi minyak telon. Nggak ada efek samping yang bikin anaknya jadi nggak normal atau gimana, jadi saya memutuskan bahwa sebenarnya bayi itu enggak apa-apa kalau enggak pakai minyak telon! Dan enggak apa-apa juga kalau pakai minyak telon! Karena apa? Karena biasanya seperti itu.

Seringkali kita melakukan apa yang biasa kita lakukan sekarang hanya karena sebuah kebiasaan. Memang sudah seperti itu, jadi tidak suah lagi dipertanyakan karena jawabannya sudah jelas: memang sudah biasanya. Sama seperti kawan-kawan saya yang lagi single, suka sekali ditanya orang (terutama orang tua yang bukan parents tapi older people): "Gimana? Sudah ada calon?" Atau kalau sudah pacaran agak lama, harus siap-siap ditanya juga: "Kapan kawin nih?" Enggak ada yang salah dengan pertanyaan-pertanyaan itu, malah mungkin bagi beberapa orang, pertanyaan-pertanyaan macam itu bisa dianggap sebagai sebentuk perhatian. Tapi enggak sedikit juga yang terganggu. Dan semuanya itu berawal dari yang biasa. Memang biasanya umur segitu menikah. Memang biasanya kalau sudah pacaran lama itu sebentar kemudian akan menikah. Padahal yang biasanya-biasanya itu sebenarnya lama-lama jadi sesuatu yang boring membosankan. Manusia butuh sesuatu yang berbeda dalam menjalani hidup. Bayangkan saja kalau manusia hidup hanya berdasarkan dari yang biasanya. Mungkin bisa terjadi super fatigue!

Tapi jangan lantas mengira karena saya ngomong kayak begini maka saya tidak menganut asas biasanyaisme. Terkadang saya larut juga dengan itu. Buktinya sampai sekarang terasa kurang afdol kalau selesai memandikan anak saya, ia tidak saya crut-i minyak telon. Hanya menurut saya, kadang-kadang setiap tindakan dan pikiran saya terlalu saya batasi sendiri dengan itu sehingga pengembangan diri saya juga mandeg. Barangkali juga karena tidak dibatasi dengan yang biasanya-biasanya itu Che Guevara sampai sekarang masih jadi idola para idealis, revolusioner, reformis, sastrawan, pemikir dan lainnya. Posternya barangkali tertempel dimana-mana: di kamar kost, di dinding dapur, di kulkas sebagai tempelan magnit. Karena pemuda dari Argentina itu, meskipun berpendidikan dokter, ia tidak lantas ongkang-ongkang kaki dan buka praktek supaya dapat duit banyak, tapi ia malah ikut bergerilya dengan rombongan pemberontak Kuba, Fidel Castro atas nama sebuah revolusi. Tapi memang tidak mudah hidup ala Che Guevara, karena itu lebih banyak lagi orang yang memilih hidup dari biasanya.

Tak mengapa. Dunia ini juga butuh orang-orang yang meneruskan kebiasaan secara turun-temurun agar apa yang terjadi di masa lalu tidak dilupakan begitu saja oleh generasi terbaru. Karena terkadang, sebuah kebiasaan adalah bagian dari sejarah.


Monday, 15 September 2008
11:52 pm

PS: Happy Birthday to my mother-in-law! There are many things that make you so special to me. One of them is
"biasanya seperti itu".And that doesn't make me stop loving you. I love you. Really.

things i really want to do

THINGS I REALLY WANT TO DO:

1. Taking master degree on creative writing or writing, publishing and editing. Melbourne, London, Berkeley, anywhere out of this country!
2. Finishing my novel at the end of the year
3. Finishing play-scripts for Christmas at church (Stuck! Stuck! Stuck! What the..??)
4. Going home right after work
5. Being a freelance writer in publishing company, magazine, print production, etc
6. Looking for another job in another country
7. Having lunch/dinner out in some restaurants with girlfriends, like Carrie, Samantha, Charlotte and Miranda. I really do!
8. Most of all… Taking quality time with my cutie son and stop comparing him with the other babies.

Can I add… spicy crab in the list above?
Gosh.. I think I need a cup of cappuccino.

Friday, 12 September 2008
12.11 am

what is love?

What is love?

An old friend said love is always about yes and no. I quite disagree with his opinion. I think love is more than yes and no, somehow it combines both. Some people, on the other hand, offer a different meaning of it. Like when I’ve just read a journal of a blogger who lives in UK right now. She said people there call what you call ‘maid’ here ‘love’ or ‘darling’. Then she concluded in UK, love is cheaper than a cup of espresso. The question is: why can’t we say love to any people even though he or she is.. what is it... a maid? A maid is also human, rite? Who are we to decide which one’s worth enough to love and who’s not? What is love, anyway?

Love is not just about relationship between man and woman. I said this so many times. Family and friendship is also about to love and beloved. We can also love our pets, home, collections, job, etc. Love is not cheap. It is PRICELESS. We cannot buy love with money as we cannot buy air to breathe as well.

So, what is love? Love is not meant to be defined, but to be done, to be shared, to any people. That is why heart always represents love by picture. Heart, not liver. Like this..

And love in our soap opera? That is definitely rubbish! It is not love, anyway. It’s madness.


Tuesday, 5 September 2008
11:17 pm

sejarah

Suatu hari, tak sengaja saya menonton The Candidate di Metro TV. Para calon presiden (orang-orang yang mengajukan diri menjadi Presiden) diberi kesempatan untuk mensosialisasikan pemikiran dan program-programnya jika dia terpilih menjadi presiden. Hari itu giliran Ratna Sarumpaet. Saya memang sudah pernah mendengar kalau seniman ini pernah berdeklarasi untuk menjadi presiden. Sebagai seorang perempuan sekaligus seniman juga *eh, saya juga seniman lah, ga percaya?*, saya jelas mendukung dia. Apalagi saya juga mendengar kalau pada jaman orde baru itu dia sudah berani mengemukakan opini-opininya dan ketidaksetujuan akan program pemerintah saat itu yang menyebabkan dia dilemparkan ke penjara. Paling enggak, dia pernah merasakan ketidakadilan sebuah sistem pemerintahan, dan karenanya harapan saya, dia tidak akan menerapkan sistem serupa jika dia betul-betul terpilih jadi presiden nantinya.

Hampir mirip dengan apa yang dijanjikan dan diucapkan calon presiden lainnya, Ratna Sarumpaet bicara tentang Indonesia mandiri dan pengoptimalan sumber daya alam yang dimiliki negara Indonesia. Jangan lagi hutang dan terlalu bergantung pada negara-negara asing. Dia bilang sekarang ini sebesar 30% *buset, besar juga ye?* dari APBN dipakai untuk membayar hutang yang dilakukan pemerintahan orde baru. Seharusnya yang 30% itu bisa dipakai untuk pendidikan, pembukaan lapangan kerja untuk rakyat Indonesia sendiri. Saya berpikir, lah kalau sudah telanjur hutang, gimana? Ada seorang audience bertanya serupa dengan yang saya pikirkan dan jawaban Ratna agak diluar dugaan saya.
Well, saya agak berekspektasi tinggi sih kepada dia. Dia bilang, seharusnya hutang itu tidak usah dibayar, kan yang berhutang orang-orang zaman orde baru.

Sampai disini, saya jadi setuju dengan apa yang pernah ditulis Goenawan Mohamad tentang sejarah. Di Indonesia, sejarah seolah-olah bukan selarik garis waktu yang saling terhubung. Karena itulah ada yang namanya angkatan 45, angkatan 66 dan angkatan pujangga baru. Karena itulah ada yang namanya orde lama, orde baru dan orde reformasi. Sebenarnya kalau nama-nama itu dipakai hanya untuk menandai lahirnya generasi baru dan pemikiran baru, tidak menjadi masalah. Tetapi terkadang tersirat bahwa angkatan yang satu tidak ada hubungannya dengan angkatan yang lain. Orde yang lama tak ada hubungannya dengan orde yang baru. Lebih baik yang jelek-jelek yang sudah terjadi di masa lampau dibuang saja, dilupakan. Kita bikin sistem yang baru, yang lebih baik. Saya rasa pemikiran tersebut sedikit keliru. Maaf kalau saya bilang keliru, karena saya masih berpendapat bahwa kesalahan di masa lampau tidak seharusnya dilupakan, tetapi dipakai sebagai bahan pembelajaran, ditelaah betul-betul dan diteliti dengan seksama mana yang masih bisa dipakai dan mana yang tidak perlu diulang. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? Karena itulah sejarah penting untuk diceritakan turun-temurun, agar generasi baru tidak lagi mengulang kesalahan yang sama, dan bahkan belajar dari kesalahan tersebut. Sejarah tidak seperti lapisan-lapisan tanah, dimana yang satu diatas yang lain sehingga terkubur dalam-dalam, dilupakan begitu saja.


Bicara soal hutang yang dibuat oleh pemerintah zaman orde baru, pertanyaannya bisa jadi seperti ini: kalau orang tua yang berhutang, apa lantas anak yang harus membayar hutangnya jika mereka sudah mati? Kalau pertanyaan yang ini, ya jawabannya: harus. Hanya mungkin perlu perencanaan yang lebih matang dan teliti dalam pengalokasian dana untuk membayar hutang dan kebutuhan primer lainnya. Yang tidak terlalu penting atau bersifat sekunder ya mungkin harus 'menunggu giliran'. Saya memang bukan ahli ekonomi dan pengatur keuangan yang baik, tapi saya tahu lah yang mana
urgent, yang mana prioritas, yang mana yang cuma untuk kesenangan alias kebutuhan tertier.

Buat Ratna Sarumpaet, saya masih mendukung anda. Dan atas nama perempuan Indonesia, saya berharap jika anda terpilih nanti, Indonesia ini bisa menjadi lebih mandiri, lebih maju seni dan budayanya dan perempuan-perempuannya tidak hanya bisa 3M (macak, masak, manak).


Thursday, 4 September 2008
11:31 am