RSS

merenung, masalah, diganggu, berserah


Saya sedang berpikir.

Salah! Saya sedang merenung.


Tapi kemudian saya bingung.


Kebingungan itu bikin saya jadi khawatir.


Sebagai bagian dari tim, saya wajib khawatir. Bagaimana tidak khawatir, kalau setiap saat kami semua dihantui godaan, masalah dan runtutan kejadian yang tidak terprediksi??


Besok, teater kami, teater Imaji akan mengadakan penggalangan dana. Diadaptasi bebas dari kumpulan puisi karya WS Rendra "Mencari Bapa", pementasan akan dilakukan dengan judul "Suto Mencari Bapa". Buat yang ingin nonton drama ini, bisa datang langsung ke GKI Jemursari, Jl. Jemursari Selatan VII no. 6-10, Surabaya (Belakang JS Plaza/Sinar Supermarket) hari Jumat, 30 Mei 2008 pukul 19.00. Setelah pementasan akan diedarkan kantong persembahan yang keseluruhannya tidak akan dibuat gala dinner para pemain dan kru pendukung melainkan disumbangkan kepada SD Kristen Petra, Tulungagung. Untuk kesejahteraan para guru di sekolah tersebut, juga kelengkapan fasilitas dan multimedia.


Saya cinta drama. Saya cinta teater Imaji. Dan saya tahu, setiap kali ada pementasan kami akan mengalami banyak godaan yang tidak akan berhenti sampai hari H. Hanya, saya tidak menyangka, godaan dan masalah itu akan datang bertubi-tubi seperti ini. Seolah-olah setan tidak terima kami menggelar pementasan ini. Mulai dari pertengkaran antara pemain dan sutradara yang sebenarnya hanyalah masalah miskomunikasi saja. Kemudian, para pemain yang mengundurkan diri karena tidak bisa meninggalkan tugas kuliah. Pemeran utama yang sempat tidak jadi main karena hamil, tapi kemudian akhirnya memutuskan untuk tetap ikut. Semangat para pemain dan kru yang sempat luntur. Sutradara yang harus sempat tidak dapat melatih karena tekanan darah terlalu tinggi sehingga harus beristirahat total di rumah, dan harus rutin memeriksakan diri ke dokter. Latihan dengan musik yang baru bisa dilakukan dua minggu sebelum pementasan, itu pun masih banyak yang harus diperbaiki. Pertengkaran (lagi-lagi) antar kru dan panitia. Salah satu pemeran sakit dan harus diinfus karena tekanan darah turun drastis beberapa hari menjelang pementasan. Kemarin, pemeran utamanya mulai mengeluh kepala pusing dan tenggorokan sakit. Hari ini malah lebih parah. Seolah-olah itu belum cukup, MC (yang harus membawakan pengantar pementasan ini secara teaterikal) tiba-tiba kena diare, anaknya yang sulung sakit panas dan anaknya yang kedua juga diare.


Pusing kepala saya memikirkan itu semua. Mungkin itu sebabnya, saya yang pagi ini sebenarnya bertekad tidak akan minum kopi (bikin saya kecanduan, dan kata parttimer saya, kopi tidak bagus untuk mereka yang bergolongan darah AB *that's me!*), harus minum segelas cappuccino *yang rasanya
turned out agak aneh*. Dan segelas cappuccino itu ternyata tidak cukup untuk menghilangkan rasa ngelu di kepala saya. Lalu saya sadar... hari ini saya BELUM saat teduh. Saya ketik http://www.sabda.org/ untuk membaca renungan hari ini. Ini yang saya dapatkan. DIA yang jauh melebihi dari apa yang saya pikirkan dan renungkan, menjawab kekhawatiran saya sekaligus menyindir. Tak apa... saya senang-senang saja disindir apalagi oleh Dia yang menciptakan saya *sah-sah saja dong!*, kalau itu bisa membuat saya jadi a better being.

GANGGULAH AKU

Bacaan: 2 Samuel 11:1-27

Biasanya orang lebih suka berada di tempat yang aman daripada harus berpetualang dan meninggalkan kenyamanan. Begitu juga banyak orang kristiani sudah cukup puas dengan keadaan rohaninya yang "aman-aman" saja. Daripada memulai petualangan rohani yang seru bersama Tuhan, mereka lebih suka memiliki keadaan rohani yang monoton dan datar saja. Sedapat mungkin mereka berharap situasi akan terus stabil, tidak ada gangguan, masalah, ataupun hambatan.

Seorang yang luar biasa bernama Sir Francis Drake, merindukan petualangan rohani bersama Tuhan, sehingga saat keadaan "aman", ia berdoa demikian: "Ganggulah kami Tuhan, ketika kami berpuas diri karena mimpi-mimpi kecil kami menjadi nyata. Ketika kelimpahan harta benda membuat kami kehilangan rasa haus terhadap air kehidupan. Ketika kecintaan pada hidup ini membuat kami berhenti memimpikan kekekalan. Ketika keinginan kami membangun bumi baru meredupkan visi kami akan surga. Ganggulah kami agar berani berpetualang di lautan yang lebih luas, di mana badai akan memperlihatkan kuasa-Mu yang dahsyat!"

Doa di atas sebenarnya ingin menunjukkan betapa bahayanya sebuah tempat di mana kita merasa nyaman di situ. Lihatlah kehidupan Daud ketika jatuh dalam dosa perzinaan dengan Batsyeba. Ia jatuh bukan saat ia ada dalam pelarian atau peperangan yang menegangkan, tetapi justru saat ia santai di istananya yang nyaman.

Hati-hati jika kita sudah cukup puas dengan kekristenan kita selama ini. Daripada puas dengan kehidupan rohani yang biasa-biasa, sebaiknya kita berdoa meminta keberanian untuk mengalami perkara yang lebih besar -PK

KETIKA KITA BERPUAS DIRI DENGAN KEADAAN ROHANI KITA
ITU SAATNYA MEMINTA TUHAN AGAR IA MENGGANGGU KITA

Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!

Saya jadi sadar bahwa justru dengan masalah datang, kita akan semakin sering berdoa, menjalin hubungan lebih akrab lagi dengan Dia yang maha tahu. Kalau masalah tidak datang, ya pasti sampai sekarang kami cuma akan berdoa di awal dan akhir latihan. Selebihnya mungkin kami tidak akan khusus berdoa bagaimana pementasan ini dapat menjadi berkat bagi orang lain. Malah mungkin doa hanya akan menjadi rutinitas belaka tanpa arti khusus yang lalu kemuliaan itu akan kami curi. Pementasan macam ini sangat rentan akan kecenderungan untuk
show off - SAYA yang main, SAYA yang mimpin acara ini, SAYA yang mengkoordinir seluruh detail acara, SAYA yang ngumpulin dana sampai segini banyak, SAYA yang bisa bikin pementasan ini jadi sukses, SAYA, SAYA dan SAYA. Jadi apapun yang terjadi besok pagi, saya MAU percaya kalau itu diijinkan oleh Tuhan dan akan Tuhan pakai secara luar biasa, segala masalah ini Dia yang akan tanggung bersama-sama dengan kami.

Dear God,
Forgive me for being so evil last time.
Dear BA,
I'm sorry for being such a provokator and a backstabber in the same time
Dear Friends (esp. for YS),
I'm really sorry for being so snobbish and unwilling to understand your emotional condition

Together we're gonna make it!

Thursday, 29 May 2008
3:15 pm

0 komentar ajah: