RSS

rumput yang bergoyang

Social Gathering. Topik itu-itu aja yang akhir-akhir ini dibicarakan orang-orang di kantor saya. Yang namanya Social Gathering ini adalah kumpul-kumpul antar orang-orang kantor beserta keluarga masing-masing. Bisa pergi ke luar kota, atau cuma jalan-jalan di dalam kota. Yang penting kumpul!!! Kenapa ribut dibicarakan sekarang? Karena tahun anggaran di kampus saya udah hampir habis! Jadi kalau tidak segera menggelinding pergi bersenang-senang, maka uangnya hangus! Hehehe...

Waktu itu memang ada beberapa pilihan. Tapi dasar orang-orang di kantor saya tuh maunya lain-lain. Lima orang aja sih, tapi keinginannya masing-masing udah beda-beda. Jadi bikin tambah pusing. Yang satu pengennya nginep di hotel yang ada fasilitas spa, sauna atau jacuzzi-nya. Satunya lagi pengen nginep di hotel yang dikelilingi tumbuh-tumbuhan nan segar hijaunya. Yang lain nggak ada masalah nginep di hotel mana asal nyaman aja tapi nggak terlalu mahal terus sisa uangnya dibuat wisata kuliner (tentu saja itu saya!). Kalau yang ini, maunya hotel aja yang nyaman buat ditiduri, biar bisa tidur puas dan nyenyak. Nah, boss saya sih cenderung terserah, tapi beliau ini tetap cari hotel yang (kalau bisa) ada kolam renangnya, supaya anaknya yang hobby berenang itu bisa berenang. Bisa dibayangkan bagaimana pembicaraan kami mengenai Social Gathering itu kan?


Awalnya kita pilih WBL (Wisata Bahari Lamongan), karena dari kita berlima, cuma boss saya aja yang udah pernah kesana, itu pun enggak nginep. Kali ini kita maunya nginep aja, coz kata temen saya hotelnya WBL tu oke punya. View-nya kan pantai tuh. Selain WBL kita juga punya pilihan yaitu Sarangan. Kalau ini sih kita cuma pengen dapet udara segar dan view-nya aja, karena disana nggak ada apa-apa sih. Betul-betul murni istirahat aja. Terus sempat terpikir juga ke JatimPark. Katanya ada wahana baru tuh... tapi pertimbangannya: tahun lalu kita udah kesitu! Dan untuk info aja, area JatimPark ini nggak friendly banget dengan baby stroller. Padahal kita bakal ajak 2 baby. Baby saya udah bisa jalan sih, tapi kan kasihan, masa disuruh jalan terus. Sementara kalau digendong juga, berat tuh. Setelah terjadi perdebatan panjang lebar, akhirnya ditanyakan dulu hotel WBL masih available ga... jangan-jangan full-booked padahal kita udah berdebat kusir begitu. Ya betulan tuh, ternyata pada tanggal-tanggal kita mo nginep, hotelnya udah full-booked. Terus cari penginapan-penginapan lain di sekitar Batu, juga full booked. Buset dah... alamat gagal lagi dong kayak dulu kita mo ke Bali kaga jadi. Sedang ramai-ramainya kekecewaan kita karena nggak dapat hotel, mantan parttimer kita si Icha datang. Jadi tambah rame deh.... Tau sendiri si Icha.. suaranya bisa berkali-kali lipat desibel-nya dari kita berlima sekantor. Yang lucu nih... kan sampai si Icha datang, kita masih belom nemu hotel yang nggak full-booked.

Trus saya tanya mulu ama si boss: "Bu, jadi dimana nih??"
Si boss jawab *ngasal sih*: "Ya tanya sana sama rumput yang bergoyang."
Saya ngomong ke Icha: "Ka, tanyain dong ke rumput yang bergoyang, kita musti nginep dimana...."
Terus Icha juga dengan konyolnya teriak di depan pintu (just info, depan kantor saya itu ada sepetak taman dengan kolam ikan, jadi ada rumputnya dong!!!): "Hei, rumput yang bergoyang, mereka harus nginep dimana?? (jeda) Rumput yang bergoyang bilang
Tretes Raya, Bu!"

Kita ketawa aja, tapi terus teman saya nanyain Tretes Raya dan ternyata
ADA kamar kosong pada tanggal segitu! Nah lho! Jadi akhirnya diputusin... nginepnya di Tretes Raya *gara-gara rumput yang bergoyang* terus jalan-jalan diputusin ntar... Weleh-weleh... lain kali tinggal tanya Rumput yang bergoyang aja kali ya... Konyol banget deh...

Thursday, 26 June 2008

9:29 am

milik-ku, -mu, -nya

Yong : (MASUK KE PANGGUNG – BINGUNG) Saya sedang heran. Bukan sekali ini mereka memperlakukan saya seperti ini. Dan yang melakukan juga orang-orang itu saja. Padahal saya cuma numpang lewat di depan mereka. Itu pun pakai kata: permisi. Tapi kemudian tak ada hujan tak ada angin mereka berteriak: DASAR CINA! Yang lain juga ikutan: CINA BUSUK! Saya bingung. Kata orang tua saya, saya memang keturunan cina, tapi sumpah! Saya lahir di Indonesia, makan beras hasil petani lokal – biarpun katanya pakai pemutih, dapat pendidikan juga dari sekolah di Indonesia dan saya juga tidak bisa bahasa CINA! Wo pu hue! (BERANGSUR-ANGSUR MARAH) Saya jelas marah! Ini tidak adil! Bukan mau saya mata saya sipit begini, kulit saya kuning mulus begini! Bukan mau saya! Dulu bu guru di sekolah bilang kita harus mencintai tanah air kita Indonesia! Lha, buat apa saya mencintai kalau mereka tidak mencintai saya! Mereka bahkan membenci saya! Mengasingkan saya! Mereka… (TERPUTUS)

Lelaki : Maaf mengganggu, mas…

Yong : Mas.. mas.. sekarang kamu panggil saya ‘mas’! Katamu saya cina?! Jangan panggil saya mas!

Lelaki : Maaf mas… eh maaf, saya cuma mau minta tolong…

Yong : (TERSADAR BAHWA YANG DIHADAPANNYA BUKAN SALAH SATU DARI MEREKA YANG MENCINA-CINAKAN DIA) Oh maaf pak.. saya kira bapak…

Lelaki : (MAHFUM) Tidak apa. Saya mengerti. Saya malah mau minta tolong.

Yong : Minta tolong apa, pak? Kalau bisa saya bantu, pasti saya bantu.

Lelaki : Mas ini kan kelihatannya masih akan lama disini ya? Saya mau titip bungkusan-bungkusan ini, mas. Mereka akan mengambilnya disini.

Yong : Isinya apa ya mas, kalau boleh tahu?

Lelaki : (BERBISIK, RAHASIA) Isinya sangat berharga mas! Saking berharganya, jadi priceless! Tidak bisa dikasi harga!

Yong : (KETAKUTAN) Wah.. saya nggak berani kalau gitu, pak!

Lelaki : Mas tidak perlu khawatir! Tidak ada yang mau repot-repot merampok barang ini kok. Dikasi aja barangkali cuma disimpan sama mereka karena sungkan menolak, padahal mungkin cuma dipakai jika dibutuhkan saja. Kita ini kan bangsa yang sungkanan, betul mas? Tapi mungkin ada juga yang akan menolak, mas!

Yong : (HENDAK MENOLAK) Wah.. kalau begitu..

Lelaki : Mas siapa namanya?

Yong : Yong.

Lelaki : Mas Yong! Jadi saya titip ya! Terima kasih lho! (BERBISIK) Jaga dengan nyawa ya, mas! Ini betul-betul barang berharga! (PERGI MENINGGALKAN YONG)

Yong : Pak! Lho, pak! (MEMANDANG KE TUMPUKAN BUNGKUSAN YANG DITINGGALKAN SI LELAKI) Waduh… kenapa saya jadi ketiban sial begini?

PAUSE. HANYA MUSIK. YONG CELINGUKAN. INGIN TAHU ISI BUNGKUSAN-BUNGKUSAN DALAM KOTAK WARNA-WARNI BERPITA INDAH ITU TAPI TIDAK BERANI MEMBUKA.

Bisnismen : Selamat siang!

Yong : Siang!

Bisnismen : Sekretaris saya bilang, saya diminta mengambil sesuatu disini. Dengan… (MELIHAT CATATAN YANG DI TANGANNYA) Saudara Yong?

Yong : (TERKEJUT) Kok tahu nama saya, pak?

Bisnismen : Sekretaris saya yang mencatat. Tadinya saya mau menyuruh pegawai saya saja kemari, tapi sekretaris saya bilang harus saya sendiri yang kemari mengambil.

Yong : (MASIH BINGUNG) Kalau begitu, silahkan ambil satu, pak!

Bisnismen : (MENERIMA BUNGKUSAN – INGIN TAHU) (MENGINTIP) Wah! Ternyata barang beginian masih ada!

Yong : (INGIN TAHU, TAPI TIDAK DIPERBOLEHKAN) Isinya barang langka ya, pak?

Bisnismen : Langka sekali! Saya saja jarang melihat barang ini! Di rumah saya sepertinya ada satu, jarang juga saya lihat! Setiap kali dibutuhkan, saya tinggal suruh kacung saya mengeluarkannya. Tapi…

Yong : Tapi apa, pak?

Bisnismen : Hadiah ini memberi saya ide bisnis yang mantap dan menguntungkan!

Yong : (INGIN TAHU, BERSEMANGAT) Bagaimana pak?

Bisnismen : (TIDAK PEDULI LAGI DENGAN YONG, SIBUK DENGAN PIKIRANNYA SENDIRI) Saya bisa memotong-motong barang ini jadi beberapa bagian. Tapi bagian yang sudah sesak manusia, biarlah tetap begitu saja. Sudah tidak lagi menguntungkan. Udaranya sudah tidak segar. Tanahnya sudah penuh ditindih bangunan-bangunan. Lebih sering banjirnya daripada enggaknya! Bagian-bagian yang lain lebih baik dibebaskan saja, dimerdekakan, dijual pada perusahaan asing! Biarpun yang merasa memiliki bagian itu ngotot ingin dikelola sendiri. Bule-bule itu lebih bisa mengelola bagian-bagian itu dengan lebih baik! Keuntungannya tentu saja untuk saya!

Yong : Saya juga dapat pak?

Bisnismen : (SEPERTI BARU TERSADAR ADA ORANG LAIN) Eh kamu! Mau untungnya saja, tapi tidak mau ikut berpikir! Kayak begini ini tipikal orang di negara ini! Mau duitnya saja, tapi bekerja malas-malasan! Sudah! Saya harus pergi. Ide ini mau saya implementasikan menjadi kenyataan! Doakan saya! (PERGI)

Yong : Wah… apa semua bisnismen kayak begitu ya. Bisa tiba-tiba punya ide untuk mendapatkan untung. (JEDA) Eh, tapi belum tentu dia bisnismen! Pakaiannya saja yang seperti bos! Berjas, berdasi, gendut perutnya, tapi belum tentu! Jaman sekarang banyak juga penipu yang berpenampilan keren!

Wanita : Maaf, mas… katanya disini ada pembagian sembako dan minyak curah gratis?

Yong : Tidak ada, bu.

Wanita : (BERSIKERAS) Tapi tadi saya dapat pesan dari anak saya disuruh kemari ambil sesuatu yang berharga katanya!

Yong : Oh, itu. (MEMBERIKAN BUNGKUSAN LAIN) Yang dititipkan ke saya bukan sembako, bu, tapi ini.

Wanita : (MENGINTIP ISI BUNGKUSAN) Walah… untuk apa barang seperti ini diberikan ke saya? Saya nggak perlu! Keluarga saya nggak perlu barang kayak beginian, mas! Keluarga saya butuh makanan! Butuh uang! Bukan barang beginian!

Yong : Tapi orang tadi bilang ini barang berharga, bu!

Wanita : (MARAH) Berharga dari mana?! Dijual saja belum tentu uangnya bisa dipakai buat beli beras! Barang beginian di toko juga banyak, mas! Di pinggir-pinggir jalan kalau mau harinya, juga berceceran! Saya bikin sendiri juga bisa! Mau yang warna apa? Harganya juga lain-lain, mas! Biru? Kuning? Atau batik? Sekarang lagi musim lho!

Yong : Lho, kok jadi jualan, bu?

Wanita : Habis mas ini ada-ada saja! Masa barang beginian dibilang berharga! Yang berharga buat saya sekarang uang, mas. Buat beli beras. Beli makanan sehari-hari susahnya minta ampun. Harga naik semua! Nggak ada yang turun! Pemerintah janji manisnya cuma waktu kampanye saja…

Yong : (KEWALAHAN) Maaf… maaf bu… saya cuma dititipin..

Wanita : Kok ya mau dititipin barang kayak begini! (NGELOYOR PERGI)

Yong : Aneh… kok jadi saya yang dimarah-marahin… Tapi ya diambil… lumayan kali bisa dijual. Orang tadi kemana pula.. tidak kembali-kembali, bikin saya tambah senewen saja disini.

RAMAI-RAMAI DARI KEJAUHAN.

Yong : Siapa lagi itu…

A : Tabik, mas! (MEMBERIKAN PARCEL, BROSUR PARTAI DAN KAOS) Ini baru ala kadarnya, mas. Kalau bapak Budiman ini sudah jadi gubernur, mas dan orang-orang tidak akan ditelantarkan lagi!

B : Sekolah gratis!

C : Harga pangan turun!

D : Lebih banyak lapangan kerja!

E : Eh.. uhm… apa lagi tadi? (MELIHAT CATATAN) Lumpur musnah!

Yong : Betulan, pak??

CaGub : Tentu saja betul… eh tapi itu kalau saya yang jadi gubernur lho… Kalau kamu coblos nama lain ya belum tentu…

Yong : Mas-mas dan mbak-mbak ini pendukung bapak ini toh?

E : Tidak hanya mendukung, mas! Kami tim sukses pak Budiman! Kalau beliau jadi gubernur, beliau janji bakal kasi…

Yang lain : Ssshhhh!!!!

Yong : (MANGGUT-MANGGUT)

CaGub : Tadi saya disuruh kemari oleh siapa? (BERTANYA PADA TIM SUKSESNYA)

A : Istri bapak!

CaGub : Ahh.. ya betul, istri saya bilang saya disuruh kemari mengambil sesuatu yang mahal harganya.

E : Kata ibu, mungkin minyak, pak! Kan lumpur yang….

Yang lain : Ssshhh…!

Yong : Oh, betul! Silahkan, pak. (MEMBERIKAN BUNGKUSAN)

CaGub : (MENGINTIP ISI BUNGKUSAN – MENGANGGUK-ANGGUK) Hmm… memang betul ini sangat berharga. Sangat berharga!

Yong : Kata ibu-ibu tadi, malah tidak ada harganya, pak!

CaGub : Tidak betul itu. Ya memang kadang-kadang kelihatannya tidak berharga sama sekali, tapi sebetulnya sangat berharga. Barang ini bisa menyatukan semua manusia di negara kita tercinta ini!

B : Yang betul, pak?

CaGub : Tentu saja betul! Saya bawa saja. Saya memang butuh barang ini untuk kampanye saya. Sebenarnya saya sudah punya yang serupa, tapi tak apa. Yang ini kelihatan lebih baru!

C : Kalau kelihatan baru kan malah sepertinya tidak pernah dipakai, pak!

CaGub : Tak apa. Yang kelihatan baru, bisa bikin semangat baru. Walaupun nantinya mungkin akan luntur lagi. Mari, dik, saya duluan.

CAGUB DAN PARA PENDUKUNGNYA PERGI MENINGGALKAN TEMPAT SAMBIL MENYORAK-NYORAKKAN YEL-YEL.

Yong : (KEHERANAN) Aneh.. ada yang bilang berharga, ada yang bilang nggak ada gunanya… yang ini bilang barang penting… Memang isinya apa sih? (PENASARAN, MENCOBA MENGINTIP LAGI)

Anak 1 : Permisi, Kak!

Yong : (TERLONJAK KAGET) Ya?

Anak 2 : Kakek bilang kami disuruh kemari.

Yong : Ambil barang?

Anak 1 : Iya. Katanya barang mahal! Jadi kami harus hati-hati membawanya.

Yong : (MEMBERIKAN BUNGKUSAN YANG DIPEGANGNYA) Ini.

Anak 1 : (MENGINTIP ISI BUNGKUSAN)

Anak 2 : Bagaimana?

Anak 1 : Masa begini dibilang mahal?

Anak 2 : Jadi tidak mahal?

Anak 1 : Ada dua sih…

Anak 2 : Bisa buat mainan tidak?

Anak 1 : Pak Guru bilang, barang kayak begini tidak boleh dibuat mainan…

Anak 2 : Ah, tapi pak guru kan tidak tahu!

Anak 1 : (RAGU-RAGU SEJENAK) Boleh deh! Daripada nggak ada mainan kan?

Anak 2 : Ke lapangan saja! Disana sudah ada Agus dan kawan-kawan!

Anak 1 : Ayo!

KEDUA ANAK BERLARI PERGI TANPA BILANG APA-APA PADA YONG.

Yong : Weleh… ditinggal pergi gitu aja. Nggak ngomong terima kasih… nggak pamit… anak-anak jaman sekarang… Tuhanku! (KAGET KARENA TIBA-TIBA ADA ORANG MENGENAKAN TOPI PET YANG MENUTUPI WAJAHNYA) Pak.. pak.. jantung saya cuma satu, pak! Kalau saya ini sakit jantung, saya sudah mati, pak! Apa bapak lantas mau bertanggung jawab?

Orang : Maaf, Dik.

Yong : Bapak kemari mau mengambil barang juga? (BERUSAHA MELIHAT WAJAHNYA, TAPI SI EMPUNYA TERUS MENGHINDAR)

Orang : Iya, Dik.

Yong : Sebentar, Pak. (MEMBERIKAN BUNGKUSAN LAIN)

Orang : (MENGINTIP ISI KOTAK, WAJAHNYA TAK SENGAJA TERLIHAT)

Yong : (TERBATA-BATA) Wa..a wa… h… PAK PRESIDEN!!

Presiden : (MENUTUP MULUT YONG, CELINGUKAN, TAKUT-TAKUT) Diam!

Yong : Ehmm!! Ehmm!! Uhmm!!!

Presiden : Kalau kamu berjanji untuk diam, saya akan lepaskan.

Yong : Hai’la, hai’la. (Baiklah, baiklah.)

Presiden : Maaf, Dik. Tapi saya tidak mau mereka tahu saya ada disini.

Yong : Pak presiden.. sedang bersembunyi?

Presiden : Kadang-kadang seorang presiden juga membutuhkan waktu untuk sendiri. Yang mereka lakukan itu hanya menuntut, menuntut, menuntut. Meminta, meminta, meminta. Demo dimana-mana. Mereka semua ingin saya turun!

Yong : Tapi menurut yang saya dengar… maaf ya, pak presiden, keadaan di negara ini tidak jadi lebih baik dengan bapak menjadi pemimpin.

Presiden : Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya butuh kerjasama dari rakyat. Dukungan dari rakyat. Kamu tahu tidak, pada tahun 1930, keadaan rakyat Amerika lebih parah dari rakyat Indonesia sekarang. Butuh waktu hampir delapan puluh tahun untuk membangunnya jadi seperti sekarang ini! Semua ingin serba instan! Lama-lama bikin anak juga maunya instan!

Yong : (HANYA MENDENGARKAN, MELONGO KARENA MENDENGARKAN SEORANG PRESIDEN CURHAT)

Presiden : Sekarang ini lagi! Barang ini menyindir saya! Mengejek saya! Seolah-olah saya tidak berbuat apa-apa untuk negara ini! Saya bekerja keras! Tapi saya tidak bisa melakukan semuanya sendirian! Saya butuh kerjasama dari rakyat!

RAMAI-RAMAI DARI KEJAUHAN.

Presiden : Mereka menemukan saya. Saya harus pergi. Terima kasih karena sudah mendengarkan saya. Teruslah berjuang, negara ini butuh orang-orang muda seperti kamu yang mengingatkan orang-orang tentang barang sepenting ini. (BERGEGAS PERGI)

Yong : Saya malah tidak tahu isi barang ini apa… (MENCOBA MENGINTIP BUNGKUSAN YANG LAIN)

Pemudi : Halo..

Yong : Eh.. halo… (TERPESONA) Ada yang bisa saya bantu?

Pemudi : Ehm.. tadi saya terima SMS, katanya disuruh ambil barang disini?

Yong : Oh, ya. Tunggu sebentar.

Pemudi : Saya sebenarnya malas sih kemari. Sedang ada audisi jadi pemain sinetron. Dari dulu saya pengen jadi pemain sinetron lho. Tinggal nangis-nangis bombay aja, duit datang. Enak. Ditonton jutaan pemirsa di seluruh tanah air. Kalau nggak lulus audisi, ya tinggal ikut audisi Idola Masa Kini. Saya tinggal jual cerita sedih biar dapat dukungan SMS banyak. Abis itu kalau gagal jadi penyanyi kan masih bisa banting setir jadi pemain sinetron juga.

Yong : Ini. (MEMBERIKAN BUNGKUSAN LAIN)

Pemudi : (MENGINTIP ISI KOTAK, MENGELUH) Hari gini masih butuh barang kayak begini?? Nggak berguna! (MELEMPAR KOTAK) Sialan! Sia-sia saya nyetir jauh-jauh kemari hanya untuk ditipu! (MELENGGANG PERGI, MARAH-MARAH)

Yong : Lho, Non! Kok ditinggal! Non! Wah.. bener juga kata bapak tadi. Akan ada yang menolak hadiah ini! Jadi semakin penasaran…

Geng A : Hei, Cina!

Yong : (TERKEJUT, KETAKUTAN)

Geng B : Ternyata kamu!

Yong : Eh.. ehm.. ada perlu apa ya?

Geng C : Tidak usah pura-pura tidak tahu!

Geng D : Kamu mau balas dendam ya? Main-main dengan kami?

Yong : Enggak! Enggak!

Geng B : Kami mau ambil barang!

Yong : Baik, baik, tunggu sebentar. (MEMBERIKAN SATU KOTAK)

Geng A : Hei, Cina. Apa mata kamu itu saking kecilnya sampai tidak bisa melihat kami ini ada berapa? Empat! Empat!

Yong : Baik, baik. (MENGAMBILKAN TIGA KOTAK LAGI)

Geng ABCD: (MENGINTIP MASING-MASING KOTAK, TERTAWA TERBAHAK-BAHAK)

Geng D : Paling-paling dia tidak tahu isinya, Tong, kalau dilihat dari mukanya.

Geng B : Biar saja. Barang ini toh bukan miliknya. Barang ini milik kami. Penduduk asli negeri ini.

Yong : Maksud kalian?

Geng C : Kasi liat aja!

Geng A : (MEMBERIKAN KOTAKNYA PADA YONG, SAMBIL SENYUM MENGEJEK) Tapi ingat, ini bukan milikmu! Jelas berharga! Tapi hanya untuk kami. Tidak untukmu!

Yong : (MEMBUKA KOTAK, MENGELUARKAN BENDERA MERAH PUTIH, DAN GULUNGAN BERTULISKAN PANCASILA)

Geng A : Benar kan?

Geng D : Memang bukan buat kamu!

Yong : (MENGELUS BENDERA ITU DENGAN HATI-HATI) Ini punyaku juga.

Geng B : Bukan! (MENCOBA MEREBUT BENDERA)

Yong : Punyaku! Aku lahir disini! Biar mataku sipit, kamu bilang aku keturunan cina, tapi aku lahir dan besar disini!

Geng C : Kamu bukan orang Indonesia! Kamu tidak berhak memiliki bendera ini! Bendera ini kebanggaan kami!

Yong : Tidak! Kalian sudah bikin malu bendera ini! Kalian meludahi kesuciannya! Malah kalian sudah membuang juga pancasila! Pancasila apanya! Kemanusiaan yang adil dan beradab apanya! Kalau memang kalian beradab, kalian tidak akan meneriaki orang hanya karena kami keturunan cina!

Geng A : Berani kamu!

Yong : Jelas berani! Pancasila bikin saya ingat tentang Tuhan Yang Maha Esa! Tentang manusia yang adil dan beradab! Tentang Indonesia bersatu! Tentang kerakyatan yang berhikmat! Tentang keadilan di seluruh tanah air! Wajah saya boleh keturunan cina! Tapi saya orang Indonesia! Saya mencintai negeri ini! Biarpun manusia-manusianya berpikiran picik dan sempit seperti kalian!

Geng D : (MAU MEMUKUL YONG, TAPI DITAHAN KAWAN-KAWANNYA)

Geng B : Ada orang, Don. Ayo lari!

Yong : (TERPAKU AKAN KEBERANIANNYA SENDIRI)

Lelaki : (TEPUK TANGAN) Saya bangga. Saya tidak salah memilih orang.

Yong : (MASIH MEMANDANG BENDERA DAN PANCASILA DI TANGANNYA, TAK PERCAYA)

Lelaki : Bendera dan pancasila itu lebih pantas ada di tanganmu daripada di tangan orang-orang itu. Mereka tidak tahu apa arti sebuah bendera. Bendera bukan hanya simbol suatu bangsa yang besar, tapi juga wakil dari jiwa-jiwa bangsa itu sendiri. Merah itu berani, putih itu suci. Apa artinya berani kalau itu merusak perdamaian? Apa artinya suci kalau tidak ada keberanian untuk terus berjuang? Terima kasih sudah repot-repot menjaga barang-barang ini. Saya ambil sisanya.

Yong : (MENGEMBALIKAN BENDERA DAN PANCASILA YANG DIPEGANGNYA)

Lelaki : Benda-benda itu akan lebih berguna di tangan mas Yong. Biarpun cina, Mas Yong lebih nasionalis daripada orang-orang yang mengaku penduduk asli itu. Negara ini butuh manusia-manusia seperti mas Yong. Tidak peduli umurnya, tidak peduli sukunya, tidak peduli agamanya. Bukankah perbedaan seharusnya menyatukan?

Yong : Benar, pak. Pelangi itu indah, karena warna pelangi tidak hanya satu. Tapi banyak. Terima kasih sudah mengingatkan saya lagi akan cinta saya pada negeri ini, Pak. Betul apa kata John F. Kennedy. Jangan bertanya seberapa besar cinta negara pada anda, tapi bertanyalah seberapa besar cinta anda untuk negara anda.

Lelaki : (TERBAHAK) Saya setuju sekali! Baiklah, saya harus pergi. Masih banyak orang-orang yang harus mengambil barang-barang ini. Sudah saya bilang, priceless kan?

LELAKI PERGI KE ARAH KANAN, YONG SEBALIKNYA. BISA DIBOLAK-BALIK. YONG MENINGGALKAN TEMPAT SAMBIL MEMBACA PANCASILA.

By: Jessie
Wednesday, 18 June 2008
11:10 pm
Terima kasih untuk Putu Wijaya, yang sudah bikin saya sadar akan rasa kebangsaan yang seharusnya sudah ada dalam diri ini sejak dulu.
Untuk orang-orang yang pernah meneriaki saya ‘CINA!’: “Saya bukan Cina, saya Indonesia.”

ingat-ingat masa lalu

Kemarin saya menemukan dus yang isinya barang-barang lama saya dan hubby. Sebuah buku nongol diantara tumpukan barang-barang lama itu. Saya ambil, saya bersihkan dari debu terus saya buka. Isinya bikin pikiran saya melanglang buana ke momen-momen pada waktu saya kuliah dulu. Sebagai informasi, saya dulu kuliah di jurusan Sastra Inggris, yang berarti banyak berhubungan dengan buku-buku sastra (termasuk prosa, puisi dan drama), menulis (jurnal, esai, penelitian, metode kuantitatif) dan ngomong-ngomong (dalam bahasa Inggris tentunya!)

Isi buku itu adalah jurnal pada waktu saya mengikuti mata kuliah Menikmati Sastra (Literary Enjoyment). Namanya memang aneh sih, tapi saya menikmati betul tuh kelas itu. Tiap minggu kami disuruh bikin jurnal. Boleh pengalaman pribadi, boleh pengalaman orang lain, boleh juga cuma sekedar imajinasi atau opini. Ini nih jurnal saya waktu itu. Jangan diejek ya... coz saya juga waktu itu kan masih belajar... eh sekarang juga masih belajar sih....

REFLECTION (theme: Nature)
When I was a kid
I just like to bit
I even still remember
My mom made me like amber
But now,
I have had my own way
That in my life row
Nature becomes my reflection
You see me as fire
As I threat you like dragon
And burn away anyone
My hear will be white like snow
Which shall liquid
While you shower me with your love
I'm like a dove
She always wants to fly away
But going home when she is tired
I am as a small river
Eternally flows down the sea of life
But sometimes wants to utter from the rule
Just watch a tree and you watch me
Standing stronger and stronger
Because the sun, the air and the water love it so much
So that it can grow up
I can't live without beloved
My family, my friends, my lover and the most
My Lord's touch
I'm like the wind, from time to time
Can comfort you and endanger you
Even though you dislike me too much
You cannot disown
You need my heart to touch
As you need an angel from heaven
Score: nice and daring

UNSENT (theme: people around you)
Dear Iwan,
It's been two years,
But two thousand years for me
I wonder you're here
Like a flower with her bee
Still remember in my mind
A shape of one face
That two years ago I found
Showered my soul to be fresh
I never had a brave
To entrust you - a piece of my heart
I used to have a love
That I want to be apart
I was too weak to reach you
So I got hurt
When I closed my book of life
That you had filled
Now you're there and I'm here
There's a wall we cannot see
Though every night I'm on my knees for prayer
I know your love doesn't belong to me
Time goes on and on
I reopen my closed book of life
And write a new page for another love
My day of loving you is done
But I learn something to dive
That love is not to puff!
Score: very good

CHRISTIAN WORLD OF MINE (theme: nationalism)
born in Christian environment
made me grow up
as the girl who loves not resentment
that have a faith like a rock
is a must
even though I'm Chinese
i know neither the tradition
nor the basis
i am an Indonesian
i want to be proud of my country
but sometimes they supposed me not
just because i'm yellow (and they're brown)
and have a cross at my necklace
they do not tell on my face
that i'm disliked
but eyes are always honest, right?
i am Christian indeed
they killed my friends
still love is inside of me
they bombed my Lord's house
i forgive them deeply
they discriminate me by disdain
praying for them is the one i thought
is it not enough?
i do those things
not because of you or them!
i do it because
HE told me to do so
what else?
nothing to pause
i only follow my Father's role
Score: wonderful

SKY OF MY SOUL (theme: imagination)
While I'm standing in the middle of the night
And I look at the sky
I want someone by my side
To accompany me to fly
I wish I could feel my stars around me
Comfort me in the darkest night
O, my stars, my twinkle stars
If only you could tell me
How gloomy my bustling city
Though lamps light on the streets
Still, my heart is so lonely
O, my sky, my red sky
Could you tell me why
People wear the masks on their face
And pretend to say the world needs to refresh
O, my star, my falling star
I wish I could fly with you
Leaving this city and its roar
But I know I can't do
Do you know, my falling star?
Help me to find a piece of my soul
You cannot find it in a bar
Neither in my friend's heart, Paul
When you're gone, my falling star
I regain I am still on my place
To go on my life with its war
But something happens inside of me
That my wish might be fulfilled
When I don't stop to try
Gathering piece by piece of my soul
And unite it!
My soul has come back
Score: excellent

A LITTLE GIRL AND HER BROTHER (theme: my past)
I saw a little girl and her brother
They walked hand in hand
Going to church together
They sit on the chair and did not pretend
That they could sing better than their Sunday school teacher
I saw a little girl and her brother
When their mother bought the little brother some toys
She whined her mother to buy a kite for her
And her mother said, "Sweetie, it's for boys."
Four days later the little girl didn't want to play with her brother
I saw a little girl and her brother
Having a breakfast in one morning
But, why did they shout each other?
O, the little girl was late coming
When her brother had been ready with his father
Going to school for studying
I saw a little girl and her brother
Something changed of them
I thought they looked taller
The brother was quite handsome
When the little girl was sweeter
What happened with them?
I do not see a little girl and her brother anymore
Where are they? Where are they?
In my ear, someone whispered,
"I could say."
Being aware, I was in front of my mirror
I smiled with the girl in front of me
"It's you when you were in your childhood."
The girl in the mirror answered,
"You're not wrong."
Score: imaginative and good language

ETERNAL HAPPINESS (theme: feeling)
Through the fine land,
I grow my precious life
Through the swift river
I flow the whole of my soul
Through the shinny sun
I feel the light of my heart
Through the beautiful flower
I realize the wonderful beauty I have
Through the friendly wind
I blow my friendship breath
Through the blue sky
I paint my romantic feeling
Through the greedy grasshopper
I listen to the music of my world
Through the singing bird
I send my love letter
Through the stars in the night
I kiss my lover goodbye
Through the colorful rainbow
I color my black world
Through God's creation around me
Eternal happiness is inside of me
Score: very good

A STORY ABOUT TRIXY AND HER CAR (theme: future)
Trixy is in a traffic jam
She is headache and feels hot
She wish that her car can run out of this jam
But when she is thinking of her and her old car, both
Suddenly she hears something
Her car says to her,
"Boss, what are you thinking?"
For a while she thinks someone is talking to her
However, no one but her car
"My car can speak!" she screams
Her stomach makes some noises and when she thinks about a bar;
"If only my car can give me some food," she dreams
There they are, french-fries and coca-cola after her
Being surprised, a beautiful music is heard,
comforting her soul and heart
Like a bird on a shady tree
Trixy feels very comfortable
Her car whispers to her ear carefully,
"Let me switch on the air conditioner."
Soon, she can feel some chilly air nicely
While she almost sleeps,
she remembers having a meeting in her office
So, she orders her car to jump and fly
Leaving the traffic jam
She press a button and her car has been ready with its wings;
But someone shouts at her
Then she realizes that she is still in traffic jam
with her old car
Still headache and hot and noisy stomach
and absolutely without her speaking car
Score: excellent

Setelah saya baca-baca lagi... SAYA MALU. Kok bisa ya saya nulis kayak begituan???

Tuesday, 24 June 2008
2:38 pm

teganya..

Tega

Sungguh tega
Saya tidak menyangka
Dengan ini saya ucapkan
Selamat tinggal sementara
Untukmu kekasihku...












Sambal, cabe dan semua yang pedas...
Hiks...
Ini semua gara-gara lambung yang kumat!
Seminggu yang akan menyiksa!

Thursday, 19 June 2008
3:03 pm

alienated?

Pernah merasa teraliansi? Atau alienated? Biasanya terjadi pada waktu kamu merasa yang lain bersenang-senang sementara kamu tidak. Yang lain bersibuk-sibuk ria sementara kamu tidak. Yang lain diundang ke sebuah pernikahan sementara kamu tidak. Pernah? Kalau pernah, terima kasih, karena SAYA tidak sendirian!

Sebenar-benarnya, saya nggak terlalu peduli kalau tidak diundang ke sebuah pernikahan. Saya juga nggak peduli kalau ada seseorang yang bertanya: "Diundang dia nggak?" Saya masih nggak peduli kalau ada orang kedua bertanya: "Diundang dia nggak?" Tapi saya mulai peduli sekaligus geregetan kalau ada tiga atau lebih yang bertanya! Yang pertama geregetan dengan yang usil bertanya, yang kedua geregetan karena kelihatannya semua orang berpendapat saya adalah orang yang
mustinya ikut diundang oleh dia.

Saya mencoba berpikir positif:
mungkin undangannya nggak nyampe atau mungkin lupa atau mungkin nggak sengaja kan orang penting tuh pasti banyak yang diundang. Dan banyak atau-atau yang lainnya. Tapi tetep saja, karena begitu banyaknya orang yang menanyakan hal serupa, mau nggak mau, keberatan nggak keberatan, saya jadi kepikiran. Kalau sudah begini ya yang muncul yang jelek-jelek: kenapa ya.. apa saya pernah bikin kesalahan ama dia atau apa dia nggak suka sama saya atau dia pernah sakit hati sama saya. Dan yang jelek-jelek itu tentu saja mengganggu! Sampai kebawa mimpi segala lho!

Setelah itu, saya mencoba berpikir ulang.
Worthed nggak sih saya mikirin sampai kayak begini? Ada untungnya nggak sih saya sampai terganggu kayak begini? Yang ada kan malah stress *buktinya maag saya kambuh setelah bertahun-tahun nggak pernah!*, betul nggak? Jadi, hari ini saya mencoba menyingkirkan jauh-jauh rasa nggak enak itu. Saya berdoa supaya pikiran-pikiran jelek itu tidak bertandang lagi ke otak saya. Bikin lumutan!

Wednesday, 18 June 2008
8:42 am

sebuah percakapan



Suatu hari, waktu saya lagi nge-
blue dan sok melankolis sambil mengasihani diri sendiri, Tuhan mampir. Jangan bayangkan Beliau pake jubah putih ya... karena waktu itu Beliau lagi pake kaos oblong biasa dan celana batik. Hah?? Batik??? Iya! Nggak nyangka kan?? Kemudian terjadilah percakapan itu:

Jessie (J): Tumben pake celana batik, Tuhan? Biasanya yang saya lihat di buku-buku bergambar dan yang dikatakan orang-orang yang mengaku ketemu dengan Tuhan, Tuhan selalu pake jubah putih yang bercahaya dan bikin silau.
Tuhan (T): Bosen pake jubah putih melulu. Memangnya Saya tidak punya pakaian lain? Dan bukannya di Surabaya lagi nge-trend batik-batikan? Saya juga mengikuti trend.

J: Apa kabar, Tuhan?

T: Ah... tidak penting bagaimana kabar Saya. Kamu sendiri, sedang apa? Kok wajahmu kusut betul?
J: Lagi merenungi nasib, Tuhan.

T: Memangnya nasibmu kurang baik?

J: Enggak juga sih...

T: Nah terus?

J: Saya iri aja, Tuhan sama mereka yang kayaknya nggak pernah punya kesulitan hidup. Mau apa-apa kok gampang. Mau ke luar negeri, duitnya ada. Mau beli rumah lagi, duitnya ada. Mau beli mobil baru, duitnya ada. Lha saya? Wah ya mana mungkin... rumah yang sekarang aja masih nyicil, Tuhan, masa mau beli mobil baru...
T: Kamu lagi pengen mobil tho?

J: (
dengan semangat) Tuhan mau kasih ya?? Wah, terima kasih lho, Tuhan! Saya pengennya Toyota Yaris, Tuhan! Tapi kalo nggak boleh, Honda Jazz juga nggak papa! Nggak boleh juga?? KIA Picanto deh Tuhan... kan lebih murah ya kalo ga salah?
T: Memangnya kamu sudah siap punya mobil?
J: Apa yang perlu disiapkan, Tuhan? Kalo sudah punya mobil, saya akan belajar sampai bisa!

T: Tuh kan.. kamu sendiri belum bisa nyetir. Belajar nyetir dulu!
J: Ya saya pasti akan belajar nyetir kalo sudah ada mobil sendiri!

T: Ya sekarang kan kamu sudah ada mobil, apa yang sudah kamu lakukan dengan mobil itu?

J: (
bingung) Ehm... Suzuki Karimun saya yang biru itu? Memangnya apa yang harus dilakukan?
T: Ya kalau misalnya mobil itu lagi rewel... lampu dim-nya mati, temperatur-nya naik terus kalau lagi dipakai, terus kamu apakan?
J: Biasanya
hubby yang ngurus, Tuhan. Saya mah nggak tahu urusan mobil kayak begitu...
T: Persis! Kalau kamu nggak tahu gimana cara ngurusnya, kenapa minta mobil?
J: E.. a.. i.. u.. o...

T: (
lebih semangat) Kamu ingat perumpamaan talenta? Kenapa ada yang Saya beri lima talenta, ada yang Saya beri dua talenta, ada yang Saya beri satu talenta? Karena Saya tahu siapa yang lebih siap diberi lima talenta. Saya tahu, dia akan bertanggung jawab akan lima talenta itu dan ketika kembali pada Saya, lima talenta itu sudah berbuah lima lagi! Kenapa ada yang Saya beri satu talenta? Karena Saya tahu, dia hanya akan menyimpannya saja dan tidak digunakan! Satu saja dia tidak bisa mempertanggung jawabkan apalagi diberi lima!
J: Jadi ini tentang kesiapan?

T: Betul! Kalau menurut Saya, kamu sudah siap punya mobil baru, ya pasti tanpa banyak cingcong Saya akan kasi! Kalau menurut Saya, kamu sudah siap punya uang banyak sekaligus mengaturnya dengan baik terus mau pergi ke luar negeri, ya Saya pasti akan kasi! Lha memangnya kamu sudah siap? Jangan-jangan nanti kalau Saya kasi uang banyak, kamu nggak bisa mengelola dengan baik dan habis dalam waktu singkat! Jangan-jangan nanti kalau Saya kasi mobil baru, tidak sampai setahun, mobil itu sudah kumal dan tak terawat!

J: (
diam saja)
T: Lagi-lagi persoalannya tentang rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Sulit sekali membuat kalian para manusia bersyukur atas apa yang sudah dipunyai. Kamu sekarang sudah punya rumah, apa kamu sadar, ada banyak orang diluar sana tidak punya rumah yang layak untuk ditinggali? Setiap saat khawatir akan ambruk. Kalau hujan tetap basah, kalau panas juga kepanasan. Kamu minta mobil, apa kamu belum juga sadar, kalau bumi ini sudah sedemikian panas dan kotornya, tidak perlu lagi tambahan polusi dari asap mobilmu? Belum lagi bahan bakar yang akan kamu pakai? Kalian keruk habis-habisan alam ini tapi tidak berpikir tentang bagaimana merawatnya, bagaimana nanti nasib anak cucu kalian!

J: Saya... tidak berpikir sejauh itu...
T: Memang! Kalau semua manusia berpikir jauh ke depan, bumi tidak akan jadi begini! Kalau semua manusia berpikir positif dan selalu bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki dan bukannya malah iri melihat orang lain, bumi akan jadi tempat yang menyenangkan untuk ditinggali! Tapi bumi jadi begini buruk dan manusia mulai resah untuk tinggal di bumi, salah siapa? Salah Saya, pasti!
Wong kalau ada orang mau bercerai aja ngomongnya Semua ini kehendak Tuhan. Salah Saya lagi!
J: (
malu) Iya... kadang-kadang saya, eh, kami menyalahkan Tuhan atas semua keburukan yang terjadi...
T: Padahal siapa yang buat itu semua? Saya kasi bumi yang indah, Saya suruh pelihara, dipelihara nggak?

J: Nggak...

T: Nah!

Sampai disini percakapan berhenti. Tuhan membiarkan saya merenung sejenak sambil senyum-senyum. Kemudian pamit. Dia bilang, Dia harus mampir-mampir lagi ke tempat lain, tapi saya tidak perlu khawatir, karena Dia tetap ada dalam hati saya, kalau saya mengijinkanNya.

Saya mengijinkanNya. Biarpun kadang-kadang saya sok melankolis, saya sok nge-blue, tapi Dia nggak pernah meninggalkan hati saya biarpun saya tutup kuping tidak mau mendengarkan. Dan Dia bukan Tuhan yang kuno, Dia gaul. Tahu nggak? Tuhan dengan kaos oblong dan celana batik??

Thursday, 12 June 2008
9:10 am

mari bangkit bersama: atas nama cinta

20 Mei yang lalu adalah seratus tahunnya Kebangkitan Nasional untuk negeri Indonesia ini. Memang agak telat kalau saya menulis tentang itu sekarang. Tapi saya jadi ingat lagi apa yang dulu pengen saya tulis tapi tidak punya waktu untuk menumpah-ruahkan ke blog saya ini.

Pada suatu infotainment, beberapa seleb (baca: pemain sinetron *bukan
bintang sinetron lho!*) diwawancarai tentang situasi dan kondisi bangsa Indonesia saat ini dan apa yang sudah dilakukan oleh mereka. Di tengah carut-marutnya suasana panas di ekosistem politik, ekonomi dan sosial Indonesia, saya pikir cukup unik juga infotainment ini meminta pendapat dan opini dari para pemain sinetron itu. Mereka toh jarang terlihat mencemplungkan diri untuk ikut mengatasi masalah pelik bangsa Indonesia yang itu, kecuali kalau ada pilkada. Nangkring wajah di iklan mereka. Mungkin biar dikira tetap nasionalis. Jadi menghibur sekaligus memberikan pesan moral. Tapi yang didapat saya kira hanyalah jawaban-jawaban ala kadarnya dan klise. Cakep di kuping, tapi melaksanakannya belum tentu. Jawaban-jawaban yang memang harus diomongkan, diucapkan karena ditanya, kalau tidak ditanya ya mbuh.

Rata-rata para pemain sinetron ini jawabnya sama: krisis ekonomi, korupsi, pendidikan yang tidak layak, kemiskinan yang merajalela, harga pangan yang semakin menjulang, dsb. Yang menarik sekaligus bikin saya tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut adalah jawabannya seorang Dude Herlino. Dia ditanya, apa sih yang sudah dia lakukan untuk bangsa yang sedang bermasalah ini. Jawabannya:
Sebagai pemain sinetron ya tugas saya menghibur para pemirsa di rumah dengan akting saya. Maaf mungkin tidak bisa sama persis dengan yang diucapkan Mas Dude, tapi intinya kira-kira begitulah. Saya terbahak kencang sekali, sampai mbak-nya Vinn tanya apa ada yang lucu. Ya tentu saja buat dia jawaban diplomatis si Dude itu nggak lucu! Karena dia dan ribuan orang di tanah air Indonesia ini termasuk mereka yang doyan nonton program tivi bernama SINETRON! Program tivi yang mengumbar cinta absurd nan kekanak-kanakan sekaligus murahan dengan peran utama tipikal *yang anehnya selalu cewek!*. Saya heran rakyat Indonesia ini masih mau saja nonton program rubbish kayak begini. Menghibur dilihat dari sisi mana? Isinya kan tangis-tangisan melulu! Jahat-jahatan melulu! Iri-irian melulu! Pembahasannya berkisar antara masalah kawin tidak kawin, cinta tidak cinta, merebut atau direbut, selingkuh atau tidak selingkuh, dan penderitaan tiada henti. Lokasi syutingnya juga berkisar antara rumah mewah, jalan raya *yang kemudian pemerannya tertabrak mobil*, rumah sakit dan mobil. Yang kesenengan ya stasiun tivinya, para pemainnya *yang konon katanya dibayar puluhan juta untuk satu episode* dan rumah produksinya. Lha masih suka dinikmati kok sama pemirsa. Kan bikin rating untuk iklan tinggi tuh! Jadi yang terhibur siapa?

Saya suka iklan tentang Kebangkitan Nasional yang dibintangi oleh Deddy Mizwar:

BANGKIT

Bangkit itu susah
Susah melihat orang lain susah

Senang melihat orang lain senang


Bangkit itu takut

Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya


Bangkit itu mencuri

Mencuri perhatian dunia dengan prestasi


Bangkit itu marah

Marah karena martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu malu

Malu jadi benalu

Malu karena minta melulu


Bangkit itu tidak ada

Tidak ada kata menyerah

Tidak ada kata putus asa


Bangkit itu aku

Untuk Indonesiaku


Benarkah aku? Siapa aku? Mereka yang seumuran dengan om Deddy Mizwar, yang rasa nasionalisme nya masih tinggi? Siapa aku? Mereka yang lebih tua lagi, mantan pejuang bangsa yang dulu angkat bambu runcing membela negara? Siapa aku? Pejabat-pejabat daerah dan pimpinan tertinggi di pemerintahan? Siapa aku? Generasi muda yang lebih suka hidup santai, mengalir begitu saja, tidak punya mimpi, tidak peduli dan suka berfoya-foya? Yang cita-citanya berkisar antara jadi model, penyanyi, bintang film, pemain sinetron atau presenter? Siapa aku? Aku, kamu, dan siapa saja yang merasa Indonesia ini adalah tempat lahir, dibesarkan, dan mencintai bangsa ini biarpun bangsa ini tidak balas mencintai kita. Cinta... tidak hanya bicara tentang pria dan wanita, apa yang kita lakukan untuk bangsa ini pun seharusnya atas nama cinta. Bukan iming-iming uang lebih, mobil dan rumah dinas apalagi jabatan. Bukan.

Monday, 9 June 2008
2:46 pm

ps: Well, hey... merayakan kebangkitan nasional tidak harus selalu pada tanggal 20 Mei kan? 9 Juni juga bisa. 10 Juni juga bisa. Tiap hari!