RSS

momentum

Ada waktu-waktu kamu merasa segala sesuatunya berubah dan kamu sendiri yang tidak berubah.

Di lain kesempatan, kamu merasa sekumpulan masalah datang menyergap dan kamu lelah untuk terus-menerus berpikir positif.

Terkadang semuanya seperti meninggalkanmu, tidak ada untukmu, bahkan kamu merasa bahwa Tuhan pun sedang cuti selama waktu yang tak bisa diperkirakan.

Atau mungkin, saat ini kamu merasa sekeras apapun usaha yang kamu lakukan menjadi sia-sia dan keinginanmu tak tercapai.

Kamu menunggu. Menunggu sesuatu terjadi. Menunggu semuanya berubah kembali seperti semula. Menunggu sesuatu yang akan menyelesaikan masalahmu supaya kamu berpikir positif untuk hal yang lebih jelas. Dan kamu menunggu semua orang - termasuk Tuhan - kembali untuk menemanimu. Juga menunggu tanda-tanda apapun yang menunjukkan bahwa apa yang kamu lakukan tidak sia-sia.

Ketika menunggu menjadi momentum paling menegangkan yang pernah kamu rasakan. Dan sepertinya tak ada jalan keluar.

Tidak ada yang bisa kamu lakukan, selain menunggu.

Dan aku seperti kamu. Kita seperti ada di sebuah halte, meunggu sesuatu menjemput dan mengantar kita sampai ke tujuan. Dimanapun itu.

Tuesday, 23 November 2010
7:31 pm

PS: Gambar diambil dari sini

hitam dan putih

Kata seseorang, dunia ini terdiri dari dua kotak. Kotak warna hitam dan kotak warna putih. Semua orang yang jahat dimasukkan ke dalam kotak warna hitam. Sedangkan semua orang yang baik dimasukkan ke dalam kotak warna putih. Semua tukang tipu dimasukkan ke dalam kotak warna hitam. Dan yang berkata-kata jujur dimasukkan ke dalam kotak warna putih.

Tapi sebuah simbol yin dan yang mengubah pemikiran tersebut. Lantas dipercaya bahwa tiap manusia - sejahat apapun - selalu punya sisi baik. Karenanya, itu menghasilkan ide lain juga bahwa sebaik apapun manusia, ia juga punya sifat jahat.

Saya sendiri berpikir manusia tidak terdiri dari sifat jahat dan sifat baik saja. Sifat manusia jauh lebih kompleks dari itu semua. Sesuatu yang dilakukan atau diucapkan bisa saja jahat menurut yang satu tapi biasa saja menurut yang lain. Satu hal dianggap benar oleh seseorang, bisa dianggap salah oleh yang lain. Buat umat nasrani, kebenaran tentu saja enggak jauh-jauh dari Seseorang bernama Yesus. Tapi barangkali buat umat muslim lain lagi. Dari sini saja saya beranggapan bahwa jika ada seratus satu manusia di dunia ini, maka akan ada seratus satu kebenaran di duni ini. Dan kenyataannya, tidak mudah bagi manusia yang berpegang teguh pada kebenaran masing-masing untuk berteman.

Saya sedang tergila-gila dengan tokoh Jack Bauer. Siapa itu Jack Bauer? Pada sebuah kisah fiksi, Jack Bauer adalah seorang patriotik Amerika yang sering menghabiskan waktu selama dua puluh empat jam tanpa makan dan tidur untuk menumpas teroris. Kenyataannya, dalam kisah fiksi tersebut menumpas teroris tidak sesederhana Goggle V atau Ksatria Baja hitam atau Sailor Moon menumpas kejahatan - yang ketika 'BERUBAH!' maka sudah dapat ditebak musuh akan kalah walaupun bakal kembali di episode berikutnya dengan rencana baru. Kisah Jack Bauer dalam menumpas teroris ini barangkali bisa menimbulkan kontroversi karena kisahnya sering menyebut negara-negara tertentu sebagai musuh atau teroris. Selain itu, kisah ini terasa sekali nuansa show-off akan kehebatan Amerika dalam menangani teroris yang ingin ditunjukkan. Tetapi terlepas dari itu semua, ada hal-hal yang dapat saya pelajari disini. Jadi ini pelajarannya: sehebat-hebatnya Jack Bauer, ia tidak bisa melakukan apa-apa tanpa sebuah tim yang tangguh. Ia butuh orang-orang yang hebat sekaligus dapat dipercaya untuk dapat menyelesaikan misi yang diberikan padanya. Ini juga berlaku di kehidupan sesungguhnya. Sehebat-hebatnya orang, jika ia sendirian maka ia tidak ada apa-apanya. Dan meskipun kisah ini tidak banyak mengumbar adegan seks, kosakata yang sering digunakan para pemerannya barangkali ada beberapa yang tak patut untuk ditiru.

Tapi begitulah. Segala sesuatu selalu memiliki dua reaksi yang berlawanan: pro dan kontra, setuju dan tidak setuju, suka dan tidak suka. Reaksi ini sepenuhnya ada di area yang bernama hak asasi manusia. Karena itu, jika mengingat bahwa pernah ada sekumpulan manusia yang mengancam sebuah institut karena dianggap menayangkan film-film yang bisa memberikan pengaruh buruk hanya karena film-film tersebut mengangkat kaum minoritas macam homoseksual dan AIDS, saya suka gemas. Pernahkah berpikir, bahwa film-film tersebut itu, jika dilihat dari sisi lain maka dapat pula menunjukkan sebuah sisi kemanusiaan yang sedianya perlu dimiliki untuk menerima keperbedaan jalan hidup? Tapi tidak. Institut itu diancam sedemikian rupa dan ancaman ini seperti ada di luar kuasa hukum, dimana penegak-penegaknya mengkerut karena yang mengancam mengatasnamakan agama.

Saya percaya, nama agama yang mereka bawa tidak sedangkal itu. Saya percaya agama itu baik adanya. Saya percaya agama itu mengajarkan tentang kedamaian dan rasa hormat atas perbedaan yang akan selalu ada. Saya percaya. Dan saya sangat menyayangkan jika ada beberapa hal hanya dilihat dari satu sisi saja. Ini sama dengan sebuah pernyataan: "Gara-gara facebook, seorang murid dikeluarkan dari sekolah." Menurut saya, pernyataan ini aneh. Bukankah facebook itu benda mati yang merupakan alat saja? Bagaimana facebook dimanfaatkan oleh pengguna itu kuasanya betul-betul ada di tangan pengguna. Jadi, "murid itu dikeluarkan dari sekolah, karena ia ceroboh menggunakan facebook" barangkali lebih tepat. Sama juga dengan pernyataan salah seorang menteri kita bahwasanya gempa dan bencana itu adalah murka Tuhan. Memang enak sekali menyalahkan sesuatu yang lain diluar kita. Barangkali sebabnya adalah dulu waktu kecil orang tua kita sering sekali menyalahkan si meja jika kita terantuk ujungnya. Padahal meja itu hanya berdiri diam disitu tidak ngapa-ngapain.

Salahkan saja pornografi kalau ada yang namanya perkosaan. Salahkan saja perempuan kalau ada pria yang bernapsu. Salahkan Harry Potter kalau ada yang belajar sihir! Salahkan Dan Brown kalau ada orang Kristen yang jadi nggak percaya Yesus gara-gara baca bukunya! Salahkan yang lain, asal jangan saya! Saya yang paling benar! Kalau perlu, salahkan Tuhan atas semua yang terjadi! Kalau saya bercerai, maka itu kehendak Tuhan, salah Tuhan! Enak kan? Semuanya salah, kecuali saya!

Padahal segala pilihan atas apa yang disodorkan ke muka kita, sepenuhnya keputusan kita untuk bereaksi.

Nyonya John C. Maxwell berkata: "Suami saya tidak akan pernah bisa membahagiakan saya. Saya sendiri yang bisa membuat saya bahagia."

Friday, 29 October 2010
4:11 pm

PS: Apapun reaksi pembaca bukan tanggung jawab pemilik blog ;p
PPS: Gambar diambil dari sini

love being me?

Blog saya penuh d engan sarang laba-laba, kata Alice dan adik saya. Kalau kata saya selain sarang laba-laba juga ada rumput il alang tinggi-tinggi terus ada bunyi jangkrik juga: krik krik krik, terus bunyi serigala dari kejauhan: hauuuuuu... Tapi plis, pocong, kuntilanak dan sundelbolong silahkan jauh-jauh dari blog saya.

Lagi-lagi alasan saya klasik n an membosankan banget kenapa kok tega membiarkan blog ini begitu saja. Ada apa? Ada apa? Biasa aja. Cuma pekerjaan yang rasanya kok nggak kasi kesempatan buat nge-blog sej enak gitu lho. Cari lagi deh kambing hitam. Paling asoy dah kalau udah ngomongin kambing hitam. Diri sendiri bisa diakali nggak kelihatan salah. Tapi ini beneran. Dan kalau sudah sampai di rumah, waktu saya dituntut anak saya yang sudah mulai pandai mencari cara untuk menarik perhatian

(Dan baru dua paragraf saya tulis, tiba-tiba ada deadline yang harus diselesaikan segera!)

Anyway, akhirnya saya bisa melanjutkan tulisan ini di rumah. Semoga tidak ada yang tiba-tiba telepon atau kirim email minta data atau sesuatu yang harus segera dikirimkan hari ini juga (plis plis plisss).

Saya mau ngomong apa yah? Beginilah kalau lagi enak-enaknya menulis terus tiba-tiba ada sesuatu yang menginterupsi. Ehh.. ehmm.. uhh.. okay, jadi begini. Ini sesuai judul ya.

Beberapa minggu terakhir ini saya dihantui perasaan bahwa saya bukan orang yang keren, tidak menarik dan biasa aja. Hobi saya standar: baca, tulis, ngopi dan maen wedding dash. Apa istimewanya? Saya pengen punya hobi travelling kayak Ria. Tapi kenyataannya bahkan membaca buku: Traveller's Tale: Belok Kanan, Barcelona! tidak menggugah keinginan saya untuk berjalan-jalan kemanapun yang saya pengen. Saya lebih senang menetap di suatu tempat yang eksotis, nyaman dan (kadang-kadang) dimana orang-orangnya tidak saya kenal. Bali dan Jogja adalah dua tempat yang saya pengen banget untuk tinggali. Dan for your information, di kedua kota itu enggak ada keluarga saya yang tinggal disana. Seandainya saya kepengen jalan-jalan or liburan or vacation, saya lebih senang pergi ke tempat-tempat seperti Disneyland, Movie World atau kalau di Melbourne, tempat kayak Royal Botanical Garden dan di luar kota itu: Sovereign Hill, dengan bau masa lalu yang kental. But that's it. Selebihnya saya lebih suka wisata kuliner dan tempat-tempat favorit wisata kuliner saya tentu di Indonesia. Lidah saya cinta mati sama makanan Indonesia. Waktu tinggal di Oz pun saya lebih sering masuk ke resto makanan Indo daripada model Subway atau McD atau Burger King. Apa boleh buat.

Selain itu, saya juga pengen punya hobi kayak Fanda, yang selalu bisa meluangkan waktu untuk fitness dan hunting buku-buku yang keren. Dari dulu saya kepengen ikutan fitness. Pernah saya bergabung dalam klub dan saya cuma bisa bertahan satu bulan, karena setiap kali fitness saya bawaannya mau makan lebih banyak dari porsi saya biasanya. Jadi untuk apa saya fitness? Plus, setelah punya anak, entah gimana sulit sekali squezze fitness time diantara waktu-waktu saya bekerja di kantor, urus anak di rumah dan pelayanan di gereja. Padahal, sumprit, nih perut sudah waktunya diurusin supaya nggak nampung makanan aja bisanya, tapi juga harus work out supaya burn fat (ceilah).

Hobi lain yang saya pengen adalah hobinya Aries, yang tiap minggunya hampir selalu ikutan hip hop dance dan pernah sekali saya tonton videonya saya mbathin: ih keren ya bisa ikutan begituan. Tapi lagi-lagi saya juga kesulitan bagi waktu untuk ikutan model beginian. Lha wong mau fitness aje susyeh minta ampun, apalagi ikutan hip hop dance?

Satu lagi hobi keren menurut saya: menikmati musik jazz. Ehh, saya nggak tahu kenapa kok penikmat musik jazz itu orang yang keren menurut saya. Saya sendiri jujur saja enggak terlalu bisa menikmati musik jazz. Jangankan musik jazz, musik klasik pun saya enggak terlalu doyan. Dulu waktu lagi hamil katanya kan baby-nya disuruh dengerin musik klasik, mommy-nya juga, biar rileks. Katanya lho. Tapi yang ada tiap kali saya dengerin musik klasik, hati saya bergetar-getar protes dan saya jadi gelisah. Karena saya gelisah, nyetrum juga tuh ke baby. Akhirnya saya jadi jarang banget dengerin musik klasik semasa hamil. Musik yang paling saya nikmati tentu saja musik-nya Project Pop, soundtrack-nya Disney (mulai dari film kartun yang jadul itu sampai High School Musical dan Up) dan lagu-lagunya Norah Jones.

Saya tahu setelah membaca semuanya ini pasti ada yang protes, mengapa kekerenan itu dinilai dari hobi? Lha terus dari apa? Hehehe. Sesungguhnya bener saya memang kepengen kelihatan keren karena punya hobi-hobi macam yang saya sebut diatas. Tapi apakah masih bisa disebut keren kalau kemudian tidak menjadi diri sendiri? Hobi saya baca, dan saya pernah berusaha untuk kelihatan keren dengan mencoba membaca biografi-biografi macam Bung Karno, Nelson Mandel, alhasil saya enggak menikmatinya tuh. Satu-satunya biografi yang berhasil saya lalap habis hanyalah biografinya The Fuhrer, si Hitler itu yang ditulis oleh William L. Shirer, seorang jurnalis Amerika yang berada di tengah-tengah perang yang dicetuskan Jerman berlangsung. Yang lain enggak pernah habis. Payah memang.

Semakin saya mencoba meniru orang lain yang saya nilai keren, makin jauhlah saya menjadi diri saya sendiri dan terasa enggak terasa, semakin tidak nyamanlah saya. Iya dong, apa ada yang merasa nyaman jika tidak menjadi diri sendiri? Karena itu berangsur-angsur saya mencoba kembali menikmati hobi-hobi saya yang membuat saya berpikir saya nggak keren. Dan hasilnya, hidup jadi lebih mudah. Ini bener. Dan hidup yang lebih mudah bikin saya nyaman. Ketika saya nyaman, saya bisa melihat positifnya hidup. Bahwa hidup masing-masing manusia sudah keren dengan cara yang berbeda-beda dari sononya tanpa perlu diubah-ubah sedemikian rupa.

Banyak yang iri dengan Agnes Monica. Dengan kecantikannya. Dengan suaranya yang bagus. Dengan popularitasnya. Tapi pernahkah ada yang iri dengan kerja kerasnya, latihan-latihan vokalnya? Bagaimana dia membangun karirnya sejak kecil? Bagaimana dengan popularitasnya, apapun yang ia lakukan selalu bisa memancing pro dan kontra? Ibaratnya, pandangan masyarakat akan berbeda jika saya yang nendang kucing di jalan dan Agnes Monica yang nendang kucing. Dan barangkali dengan kecantikan dan popularitasnya dia bisa dibuntuti dan digangguin orang-orang aneh? Ah.

Tapi begitulah. Semoga tidak ada orang yang kayak saya, atau lebih parah lagi jadi copycat orang yang terkenal. Menjadi diri sendiri jauh lebih keren daripada meniru.

Saturday, 9 October 2010
7:55 am

PS: gambar diambil dari sini, sini, sini, sini, sini, dan sini.

kehilangan

Barang yang hilang harus dicari. Tetapi jika belum dibutuhkan apakah barang yang hilang itu akan tetap dicari? Perkara mencari barang yang hilang ini bukan perkara sederhana. Manusia baru tahu betapa berharganya sebuah barang jika barang itu hilang.


Seseorang sedang bingung. Sudah beberapa hari terakhir ini ia ribut-ribut kehilangan sebuah barang. Sepertinya sepele, karena di hari-hari sebelumnya ia tidak peduli apakah barang itu ada di rumah atau tidak, hilang atau tidak. Tapi hilangnya barang ini bikin ia jengkel, apalagi jika tetangga sudah ikut ribut, bertanya apakah ia sudah menemukan barang itu atau belum, dan jika sudah mengapa tidak segera diperlihatkan. Ia jengkel karena ia pikir itu barang toh barang miliknya kenapa jadi tetangganya yang ribut? Lain lagi dengan temannya. Temannya bilang kalau barang macam beginian tidak diperlihatkan, tidak ditunjukkan pada dunia - apapun alasannya - ia sudah kehilangan rasa cinta.


Sialan, masa gara-gara barang ini hilang ia dibilang manusia tanpa cinta? Ia masih punya perasaan, dan kalau manusia masih punya perasaan tentu saja ia punya rasa cinta. Enak saja! Maka ia semakin jengkel. Jengkel karena tetangga yang cerewet, teman yang sok menghakimi dan barang itu yang tak kunjung ketemu sementara harinya sudah semakin dekat.

Semakin dekat harinya bikin pikiran jadi aneh-aneh. Di lain waktu jika ia meluncur di jalan raya, melihat barang-barang yang serupa dengan barangnya, ingin ia mencurinya, membawa pulang satu saja untuk menutup mulut tetangga yang cerewet itu dan bilang pada temannya bahwa ia masih punya rasa cinta.

Hanya ketika suatu hari sebuah bisikan menyapa kuping hatinya, ia seperti terantuk kesadaran. Tak sepantasnya barang yang hilang itu ia cari dengan sepenuh hati demi orang lain! Barang itu miliknya dan jelas berarti buat ia! Berarti untuk menunjukkan siapa ia, jati dirinya! Dan karenanya jika barang itu hilang, tidak seharusnya ia mencari demi orang lain! Seharusnya ia mencari barang itu karena jika barang itu hilang dan tidak bisa ditemukan dimanapun juga maka identitas dirinya juga patut dipertanyakan! Ia harus mencari barang itu demi dirinya sendiri! Demi rasa cinta yang ia miliki!


Oleh karena itulah hari ini, sebelum esok tiba ia bertekad untuk menemukannya. Dimanapun. Dan jika ia temukan ia akan jaga dengan segenap jiwa.


Barang yang hilang bukanlah masalah sepele. Apalagi jika yang hilang adalah selembar kain dengan dua warna: merah dan putih. Selembar kain yang menunjukkan identitas sebuah bangsa yang merdeka, untuk ditunjukkan pada dunia bahwa bangsa itu ada untuk berkontribusi membuat dunia ini jadi lebih baik.


Esok akan ia kibarkan bendera itu. Bukan untuk tetangganya, bukan juga untuk temannya. Ia kibarkan bendera itu untuk dirinya - untuk tunjukkan bahwa ia bangga menjadi anak Indonesia. Ia cinta negeri ini meski manusia-manusia yang tinggal di atasnya mabuk uang dan jabatan, sibuk menghakimi satu dengan yang lain, repot membela kepentingan kelompoknya sendiri dan tidak berhenti untuk tidak peduli.


Minggu, 15 Agustus 2010

15.13 WIB


PS: gambar diambil dari sini

limbo

Pernah merasa tidak percaya diri?
Saya sering.

Pernah merasa tidak mampu?
Saya sering.

Dan akhir-akhir ini lebih sering dari sebelumnya.
Apa yang terjadi jika orang yang paling dekat denganmu, instead of giving kata-kata penyemangat, malah menyuruh mundur for the sake of courtesy?

I'm such in Limbo now..


Thursday, 12 August 2010
9:30 am

berdoa...mulai!

Pada sebuah rapat di organisasi Kristen, sang pemimpin rapat hendak mengakhiri setelah beberapa keputusan diambil. Ketika si pemimpin rapat bilang: "Kita akan tutup rapat ini dengan doa yang akan dipimpin oleh....". Entah seperti ada sesuatu yang menggerakkan, peserta rapat serentak pura-pura tak melihat si pemimpin. Sebagian besar langsung menunduk seolah-olah siap untuk segera berdoa dan yang lain melihat ke arah sebaliknya - mengalihkan pandangan mata dari si pemimpin. Si pemimpin tadi tiba-tiba ketawa dan berkata: "Baiklah, doa akan saya pimpin sendiri karena semuanya tiba-tiba menunduk. Entah karena takut saya tunjuk atau memang langsung siap untuk berdoa." Para peserta rapat lantas ikut tertawa mendengar sindiran si pemimpin rapat.

Kisah nyata ini bikin saya berpikir-pikir memangnya kenapa sih kalau disuruh berdoa? Apa sulitnya berdoa jika katanya doa itu komunikasi kita dengan Tuhan? Mengapa berdoa jadi semacam momok yang harus ditakuti? Saya sendiri mengakui kalau ada pertemuan-pertemuan seperti itu, jika bisa yang lain berdoa maka dengan senang hati biar yang lain berdoa. Kenapa? Ternyata saya lebih kepikiran dengan apa kata orang tentang doa saya nantinya! Apakah doa saya cukup layak untuk didengar banyak orang? Jangan-jangan nanti orang lain bakal bilang: "Eh doamu aneh banget sih... masa 'supaya sampai di tempat ini dengan selamat'? Emang ada yang namanya 'selamat' disini?" atau ada yang bakal bilang: "Duh doamu kepanjangan, aku sampai ketiduran tadi." atau "Ya ampun doa apa doa, kok pendek banget?" Kadang-kadang komentar yang sering dimaksudkan baik oleh yang berkomentar bikin orang jadi grogi campur nervous untuk berdoa di depan banyak orang. Padahal barangkali Tuhan - kepada Siapa saya berdoa - enggak terlalu peduli dengan tata bahasa saya, panjang pendek doa saya dan apapun yang saya katakan (kecuali kalau saya misuh dan memaki Tuhan). Saya sering sih mengingatkan diri sendiri, udahlah enggak usah dipeduliin, tapi kadang-kadang entah gimana pikiran-pikiran macam gitu masih saja menghantui padahal belum tentu orang-orangnya peduli juga apa yang saya doain.

Perkara terlalu memikirkan apa kata orang ini sering sekali dikeluhkan oleh teman-teman saya di dunia maya maupun dunia nyata. Bahkan ada yang terang-terangan mengeluh kalau ternyata susah banget menyenangkan hati semua orang. Dan kepadanya saya bilang, enggak akan pernah seumur hidup kita, kita bakal bisa menyenangkan hati semua orang. Selalu akan ada saja orang yang tidak setuju sama kita. Saya nggak bisa ngebayangin kalau saya terus berusaha untuk menyenangkan hati semua orang maka saya akan menjadi orang yang paling tidak menyenangkan di seluruh dunia. Saya jadi orang paling plin-plan sedunia. Dan saya akan terus membohongi diri saya terus menerus demi supaya orang lain bisa senang sama saya. Padahal rumus kehidupan dimana-mana sebenarnya sama: jadilah dirimu sendiri dan jujurlah pada dirimu sendiri, karena orang lain justru enggak akan pernah percaya pada saya kalau saya enggak jujur pada diri saya sendiri. Di lain waktu ada yang pernah berharap bisa membaca pikiran orang lain, dan lagi-lagi kepadanya saya ngomong, percayalah kadang-kadang ketidaktahuan merupakan sumber kebahagiaan manusia.

Menjadi diri sendiri di tanah air Indonesia yang saya cintai ini saya sadari penuh menjadi pergumulan tersendiri. Terkadang susah sekali menolak sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak sesuai dengan pendapat saya hanya karena sungkan. Sungkan karena yang diajak bicara itu jauh lebih tua dari saya. Sungkan karena yang diajak bicara itu atasan saya. Sungkan karena takut menyakiti hati yang diajak bicara. Kenyataannya saya sering menemukan jauh lebih mudah untuk bilang setuju walau hati bilang sebaliknya hanya supaya orang itu tetap menyukai saya. Coba bayangkan, kamu enggak suka dengan seseorang dan suatu hari kamu harus ketemu dengan dia dan dia mengajak kamu pergi. Kira-kira apa yang bakal kamu lakukan? Sungkan menolak supaya dia enggak tahu kalau kamu enggak suka dengan dia atau bagaimana? Asal tahu aja, untuk perkara seperti ini, saya sering menolak dengan berbagai macam alasan jika saya merasa tidak nyaman pergi dengan seseorang. Dan entah bagaimana kejujuran sering dianggap sama dengan 'galak' atau 'unpleasant character'. Saya bisa bersikap ramah dengan orang yang enggak saya sukai dan saya enggak akan pernah stab dia dari belakang tapi untuk bekerjasama dan berkata setuju padahal di hati berkata tidak? I dont think so.

Sudahlah, apapun kata orang, enggak akan ada habisnya. Seperti kata iklan di tipi itu, waktu belum menikah ditanya "kapan kawin?", terus waktu sudah menikah ditanya lagi "udah isi belum?", nanti kalau sudah punya anak satu kayak saya tetep ditanya lagi "kapan nih adiknya?" Ngikutin kata orang enggak pernah ada habisnya. Jadi kalau saya sih jika sudah melewati garis batas privasi saya, saya akan bilang ke mereka, "Sori, lu udah ngelewati bates, silahkan mundur beberapa langkah...."

Jadi... berdoa... MULAI!

Monday, 2 August 2010
1:51 pm

fals!

Punya orang tua yang hidupnya enggak jauh-jauh dari main musik dan ikutan paduan suara di gereja bikin masa kecil saya juga enggak jauh-jauh dari dua hal itu. Karena dari kecil saya ikutan paduan suara, saya sering sekali mengolok-olok sepupu saya yang suaranya kebetulan fals. Olok-olokannya sih biasanya terjadi kalau sepupu saya mulai nyanyi kemudian saya akan teriak-teriak, "Weekk.. fals.. fals...." Dan saya enggak ingat kenapa kok saya se-nasty itu sama sepupu saya, sampai-sampai mamanya sepupu saya itu bilang gini sama saya, "Nanti dia nggak mau ikutan paduan suara lho kamu bilang fals fals terus." Tapi itu enggak menghentikan saya untuk terus menggoda sepupu saya tiap kali nyanyi. Alhasil, saya enggak ingat, kapan dia terakhir nyanyi di depan saya.

Percaya nggak percaya, hukum karma terjadi sama saya gara-gara olok-olok saya terhadap sepupu saya itu. Dan hukum karmanya terjadi bertahun-tahun kemudian saat dia pindah ke Bandung dan saya pindah ke Surabaya. Memang jauh, tapi seperti kata Andrea Hirata, langit menyimpan ejekan-ejekan saya untuk ditumpahkannya kembali keatas kepala saya.


Di Surabaya saya masih ikutan paduan suara. Kata pelatih saya masuk soprano 1. Belum terlalu lama ikutan, saya diajak teman-teman pemuda masuk teater gereja dan saya merasakan sesuatu yang beda. Saya merasa itu dunia saya sebenarnya. Ketika ikutan paduan suara dan belajar musik, saya merasa saya ikutan itu semua karena orang tua saya. Papi dan mami saya asing dengan dunia teater. Dan semangat saya, meskipun tidak pernah ikutan teater sebelumnya, seperti minyak yang dilempari korek api yang menyala. Yang kemudian menyebabkan saya undur dari paduan suara. Perhatian. Undur dari paduan suara tidak menyebabkan saya berpendapat suara saya jelek atau fals. Suara saya lumayan lah. Tetap masuk soprano 1 gitu lho. Saya merasa saya mampu jadi singer, merasa yakin kalau saya bisa jadi pemandu pujian. Tapi yang namanya keyakinan bisa runtuh hanya karena ada orang-orang yang tidak berpendapat sama dengan saya.

"Cece suaranya kurang pas."

"Haduh, kamu mau nyanyi? Jemaatnya pada lari, Jes."

Itu kalau di gereja.


"Ampun, ce, ampun.. jangan nyanyi lagi." >> pas lagi nyoba nyanyi lagunya KLA Project: Yogyakarta

"Lha lagunya kok jadi kayak gitu?" >> pas lagi nyoba nyanyi lagunya Evanescence: Bring Me to Life

Ini di tempat karaokean.


Karena beberapa kali dibilang suara saya fals, nggak cuma jemaat yang bakal pulang tapi tikus yang ngendon di tempat tersembunyi dalam gereja pun bisa lari terbirit-birit, maka itu menyebabkan suatu perubahan keyakinan dalam diri saya. Iya, saya berpindah keyakinan dari
bisa nyanyi jadi nggak bisa nyanyi. Hingga sampai sekarang saya enggak pernah mau lagi ikutan paduan suara. Saya enggak mau berhubungan dengan yang nyanyi-nyanyi lagi. Dan saya cuma akan pergi ke tempat karaokean sama hubby aja, karena dia masih menganggap suara saya masih jauh lebih lumayan dari suara dia. Meskipun terkadang saya masih diminta untuk jadi MC di kebaktian, saya selalu minta singer yang vokalnya cukup kuat untuk mengimbangi saya, karena bisa dipastikan saya enggak akan banyak nyanyi. Mungkin ini juga yang dirasain sama sepupu saya itu.

Perpindahan keyakinan dari
merasa bisa jadi merasa tidak bisa itu tidak segera saya sadari bahwa mungkin ini pembalasan dari olok-olok saya ke sepupu waktu kecil. Barangkali waktu itu sepupu saya juga capek hati dan berdoa, "Tuhan, semoga suara dia juga fals!" yang kemudian jadi penyebab suara saya yang berubah jadi fals. Jadi dulu sebenarnya nggak fals, tapi karena sepupu saya doa seperti itu maka suara saya jadi fals. Yak.. kembali lagi mencari kambing hitam untuk dikebiri. Pantes sudah nggak ada lagi kambing hitam. Memang harus dilestarikan spesies itu. Lebih mudah memang menunjuk kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Jadi benar lah kata pepatah itu bahwa kuman di seberang lautan tampak tapi balok di kepala sendiri tak tampak. Dan butuh orang lain dengan perlakuan sama yang saya berikan untuk menyadarkan saya bahwa saya juga enggak bagus-bagus amat dan sama sekali enggak layak untuk menilai orang lain. It's like a big slap on my cheek.

Barangkali saya merasa saya cukup bagus di teater sekarang. Saya bisa nulis, saya bisa akting,
hell, lihatlah keatas, lihat sekeliling. Lihatlah bahwa ketika saya merasa puas maka saya akan berhenti belajar. Saya akan berhenti berusaha. Dan saya akan langsung menuding orang lain jelek. Saya tidak mau. Saya suka menulis, dan saya enggak merasa tulisan saya bagus. Terkadang saya merasa naskah saya enggak layak untuk dipentaskan. Terlalu membosankan. Terlalu aneh. Terlalu mengkhayal. Terlalu absurd. Saya mungkin enggak akan pernah kembali ke kelompok paduan suara. Tapi barangkali sekarang alasannya bukan karena saya merasa suara saya fals, tapi lebih pada untuk mengingatkan saya bahwa saya pernah suatu waktu berdiri dan menatap orang lain dengan keangkuhan tiada rupa dan mengeluarkan kata-kata tak senonoh macam, "Kamu enggak bisa! Suara kamu fals!"

Saya enggak marah dengan orang-orang yang sudah bilang suara saya fals dan bikin tikus gereja lari terbirit-birit atau kecoa dapur langsung pingsan. Terima kasih karena sudah bikin saya sadar bahwa tidak hanya gengsi saja yang letaknya di pantat, tapi juga kecongkakan dan keangkuhan. Dan setelah dipantatin, bisa dibuang jauh-jauh supaya tidak berani kembali dekat-dekat.


Tuesday, 20 July 2010
9:49 pm

PS: Gambar diambil dari sini

susahnya cari uang

Pada suatu hari yang cerah (karena sedikit mendung, tentu saja, apaan sih..), saya kedapatan chat dengan seorang teman tentang sebuah provider layanan ponsel di Indonesia. Maaf, nama dan merk tidak akan saya cantumkan daripada saya kena tuntut, enggak ada duit buat sewa pengacara dan enggak ada waktu buat pergi ke pengadilan. Jadi dia mengeluh kalau promonya provider ini sifatnya default. Jadi segalanya otomatis tanpa pelanggan meminta. Padahal, promo-nya itu ya enggak sekedar promo, tapi harus membayar, jadi setiap harinya selalu ada pulsa yang terpotong. Plis deh, hari gini gitu loh, mana ada yang gratis? 

Sebenernya sih saya setuju ama dia, enggak seharusnya provider bikin promo-nya default, karena kalau saya enggak pakai kan saya rugi, udah pulsa kepotong setiap hari, promo-nya enggak pernah saya gunakan. Tapi yang bikin saya mengkerutkan kening adalah waktu dia ngomong gini: "Telepon aja sana ke service center-nya, puas-puasin diri marahin mbak CS-nya! Hahahahaha."

Saya kemudian mikir, mencoba memposisikan diri jadi mbak CS-nya itu yang kemungkinan besar enggak ikutan bikin sistem promo-nya, yang tugasnya cuma melayani pelanggan dan yang cuma disodori rule system-nya aja untuk disampaikan ke pelanggan, terutama jika ada yang complain. Saya pasti nggak akan terima dimarahi dan dimaki-maki oleh teman saya itu. Saya pasti akan bilang, "Pak, silahkan hubungi langsung direktur saya, dan tanyakan pada beliau kenapa ini promo dibikin seperti orang nggak niat kasi promo. Jangan tanya saya, saya cuma terima jadi saja. Dan tanyakan juga, boleh nggak saya cuti besok, supaya libur dari penelepon-penelepon kayak bapak. Oya, tanyakan juga, kapan gaji saya keluar, pak? Ini sudah tanggal 1!" Saya yakin setelah itu pasti akan dapat libur terus, alias dikeluarin.

Susah ya cari uang? Customer service kayak mbak-mbak yang di provider-provider ponsel itu juga pasti kenyang dimaki-maki dan dimarahin orang. Saya pernah sih telepon dan marah tapi saya enggak pernah memaki karena saya sepenuhnya sadar orang yang saya hadapi itu bukan si pembuat sistem. Lagipula yang namanya memaki itu enggak bisa bikin puas kok, puasnya palingan di menit-menit awal, sisanya malah kepikiran terus sibuk membela diri karena sudah memaki orang lain. 

Susah ya cari uang? Para marketing kartu kredit yang biasanya suka menghadang setelah belanja di hypermarket itu juga pasti kebal juga ditolak sama orang. Ya kalau orang menolaknya dengan baik-baik, kalau sama marah-marah? Atau dengan ketus? 

Salut saya untuk orang-orang yang bekerja menerima keluhan orang, karena disitulah kesabaran diuji dan disitulah awal pembelajaran untuk rendah hati. Enggak ada yang salah dengan kerendahan hati, karena kerendahan hati adalah langkah pertama untuk mau belajar jadi lebih baik. (yakk.. sokwise.com).

Monday, 5 July 2010
2:15 pm

PS: Buddy, if you want to criticize something, at least do it with style.. ;)
PPS: gambal diambil dari sini

ayah, seekor anak kucing dan manusia-manusia sok tahu

Seekor anak kucing mati di pinggir jalan. Entah sepeda motor atau kendaraan roda empat menyerempetnya tanpa ampun sehingga ia tergeletak begitu saja dengan usus memburai. Setiap orang yang lewat mengernyitkan hidungnya jijik. Ada juga yang langsung lari menghindari mayat binatang malang itu. Sampai seorang perempuan muda lewat dan mendekatinya.
Ia menatap anak kucing itu lama-lama, seperti tidak peduli dengan bau yang sudah menyengat menghampiri cuping hidungnya. Kemudian ia menangis. Mulanya hanya satu-dua tetes lewat diatas pipinya, tapi kemudian ia sesenggukan. Orang-orang mulai heran melihat seorang perempuan muda berdiri dekat anak kucing yang mati sambil menangis. Mereka mengira anak kucing ini peliharaan perempuan muda itu.

Tapi mereka salah.

Anak kucing dan perempuan muda tadi tidak ada hubungannya sama sekali. Apakah jika tidak ada hubungan maka tidak ada urusan dengan emosi? Belum tentu. Perempuan muda tadi contohnya. Ia masih disitu. Menangis sesenggukan sambil terus menatap si anak kucing - tidak peduli dengan orang-orang yang lewat. Dan ketika menit demi menit berlalu dan perempuan itu masih saja disitu, orang-orang mulai berpikir dia tidak waras karena menangisi anak kucing yang mati di pinggir jalan. Toh masih banyak anak kucing lainnya. Yang butuh tempat perlindungan dan makanan. Yang tidak berwarna cokelat kotor seperti yang mati tadi.

Namun itu toh yang hanya berhasil dilihat oleh mata manusia. Dalam hati perempuan muda itu, siapa yang tahu?

Perempuan itu tidak menangisi si anak kucing yang mati. Ia hanya teringat masa lalu. Ketika anak kucingnya terserempet mobil ayahnya hingga mati dan lehernya hampir terputus. Ia ingat betapa sedihnya hatinya melihat anak kucingnya mati. Itu terjadi ketika ia masih duduk di bangku SMP. Suram sekali hari itu.

Tapi lagi-lagi, ia sesenggukan bukan hanya karena teringat anak kucingnya yang mati bertahun-tahun yang lalu. Ia sesenggukan karena mengingat masa-masa yang sudah lalu itu. Ia teringat pergi ke pantai dengan ayahnya. Ia teringat membuat panik ayahnya saat belajar mengendarai sepeda motor.
Ia teringat benda-benda yang dibelikan ayah tanpa sepengetahuan ibunya. Ia teringat dibelikan soto ayam belakang gereja oleh ayahnya sepulang sekolah atau nasi gudeg malam-malam selepas pulang dari kursus. Ia teringat kumis ayahnya selalu menggoda dan menggelitik pipinya. Ia teringat ayahnya. 

Dan karena ia teringat ayahnya itu pula ia sesenggukan. Hari-hari dimana ia tidak mengerti kenapa ayahnya selalu ingin tahu tentang teman-teman lelakinya? Kenapa ayahnya terobsesi memelihara kumis? Kenapa kulit ayahnya hitam padahal saudara-saudaranya tidak? Kenapa ayahnya tahu cerita-cerita dan skandal yang terjadi sampai sudut kota? Kenapa ayahnya tidak pernah terus terang jika ia punya masalah? Dan kenapa ayahnya meninggalkannya sebelum melihat cucunya?

Perempuan itu rindu ayahnya. Sesenggukan di jalan di depan anak kucing yang mati bukan berarti ia menangisi anak kucing itu. Ia hanya tiba-tiba rindu. Dan rindu selain datang tanpa memberitahu, tidak bisa diredam, apalagi diabaikan atau ditunda.

Karena itu lah, ketika ia puas sesenggukan, ia langkahkan kakinya ringan dan mengerti bahwa akan selalu ada manusia-manusia sok tahu, yang walaupun tidak betul-betul tahu apa yang ada dalam pikirannya tapi merasa tahu sambil mulutnya menggumam: “Orang gila.”

Thursday, 24 June 2010
11:01 am

Catatan hari ayah yang terlambat beberapa hari.

PS: Gambal diambil dari sini

ruangan yang berdenyut


Ada sebuah ruangan yang berdenyut. Jika si empunya ruangan sedang merasa senang, maka denyutnya berirama riang. Sebaliknya jika si empunya ruangan sedang merasa sedih, denyutnya pun ikut berirama sendu. 

Di dalam ruangan tersebut ada jiwa-jiwa yang hidup – ikut berdenyut meski terkadang tak seirama dengan denyut ruangannya. Jiwa-jiwa itu bisa hidup karena si empunya rumah masih memberikan cinta kepada mereka.

Suatu hari denyutnya berhenti. Denyut yang berhenti menyebabkan iramanya pun tak lagi bergerak. Angin musim dingin menusuk masuk dalam ruangan tersebut. Mengalirkan rasa yang tak terbayangkan sehingga semuanya ikut membeku. 

Jiwa-jiwa yang hidup itu.. tak lagi hidup. Mereka tak bergerak. Mereka beku. Menanti sesuatu yang tak kunjung datang. Sesuatu yang menghangatkan supaya mereka tak lagi kaku. Supaya mereka kembali dapat bergerak berirama satu dengan yang lain. 

Si empunya ruangan adalah seorang perempuan. Masih muda. Perempuan muda yang baru sebentar menyandang status sebagai seorang ibu. Semasa kecil dalam pengertiannya seorang ibu adalah sosok yang hebat – sosok yang membanggakan. Dimengertinya pula bahwa ibu adalah panggilan terindah di dunia. Selepas lajang, menikah dengan lelaki yang dicintainya, rencana tinggal rencana. Rencana untuk tidak secepat itu menyandang status sebagai seorang ibu, karena rupanya Tuhan tidak setuju dan siapa pula yang dapat menghindari jika mauNya demikian? 

Dan begitulah. Perempuan itu menjadi seorang ibu. Cerita klasik dan mudah ditebak. Tetapi menjadi seorang ibu ternyata tidaklah mudah. Seorang ibu lebih banyak disalahmengerti, oleh suaminya, oleh anaknya, oleh keluarganya dan juga.. oleh kawan-kawannya.

“Waktu! Berhentilah sejenak!” teriaknya. “Sejenak saja! Supaya dalam sejenak itu aku dapat membagi waktuku dengan kawan-kawan, dengan sahabat-sahabat!”

Tapi tidak. Waktu tidak peduli. Ia terus berjalan biarpun manusia-manusia seperti perempuan tadi berteriak-teriak supaya dia berhenti. Dan semuanya jadi serba salah.

Pernah ia habiskan waktu bersama kawan-kawannya, menikmati kembali seperti momentum-momentum dulu ketika lajang. Tapi ketika ia pulang ke rumah, didapatinya anaknya lebih dekat dengan pengasuhnya. Tak lagi memilih bersama dengannya. Tak lagi merasa kehilangan saat ia pergi. Hatinya hancur.

Setengah mati ia berusaha untuk dekat kembali pada anaknya. Dan tentu saja dia harus membayar dengan sesuatu. Dia kehilangan kawan-kawannya, karena kawan-kawannya beranggapan ia tak lagi dapat diganggu dan diajak bersenang-senang. Hatinya hancur.

Ia mencoba bernegosiasi dengan waktu. Dan tatkala ia berhasil memperdaya waktu dan memiliki momentum-momentum dengan anak dan kawan-kawannya, ia lantas menyadari satu hal. Ia masih memiliki seorang suami. Dan seorang suami membutuhkan waktu dan energi tersendiri. Suaminya baik, ia mencoba mengerti apa yang dialami istrinya. Tetapi suami tetaplah suami yang membutuhkan waktu dan bercangkir-cangkir teh panas untuk bercakap-cakap layaknya sepasang kekasih sejati. Dan hatinya lagi-lagi.. hancur.

Ada yang salah. Dan setiap langkah yang menjadikannya salah membuat angin musim dingin dalam ruangan perempuan itu semakin kencang bertiup. Menyebabkan musim dingin lebih lama dari biasanya. Jika lebih lama lagi, kebekuan itu akan retak, pecah dan hancur. 

Perempuan itu tidak ingin membuat ruangan berisi jiwa-jiwa yang ia cintai hancur. Ia ingin ruangan itu kembali berdenyut. Seirama. Seperti senandung musim semi. Dimana kehangatan sibuk mondar-mandir menyebarkan rona kebahagiaan. 

Semuanya berawal dari diri. 

Perempuan itu menengadahkan kepalanya ke langit. Memohon hujan air hangat. 

Mulanya gerimis, lalu badai.

Ia tidak minta badai. Ia hanya minta hujan air hangat. Ia meraung-raung – minta supaya langit menghentikan amukannya. Tapi langit seperti tuli.

Badai berhenti setelah beberapa waktu. Di atas langit ada secercah cahaya dan selarik pelangi. Ruangannya kembali berdenyut, pelan-pelan. Pelan-pelan. Pelan-pelan. Waktu seolah mempermainkan talinya, memperpanjang tiap momentum. Hingga satu per satu kebekuan mulai mencair. Pelan-pelan. Tapi mencair. 

Dan ruangan itu kembali berdenyut. Meski belum seirama.

Butuh sebuah pengertian yang teramat besar untuk menjadikannya kembali seirama.

Pelan-pelan. Perempuan itu tersenyum menengadah ke langit. Perempuan itu tersenyum memandang suaminya. Memandang anaknya. Memandang kawan-kawannya. Memandang hidupnya. 

Denyut kehidupan terkadang hanya perlu dirasakan, dimengerti dan dilakukan. Nikmatilah setiap detiknya, karena ia takkan terulang dan denyutnya akan berhenti selamanya. Dan ketika denyut itu berhenti selamanya, sekeras apapun perempuan itu memohon, ia tetap akan berhenti.

Karena itu.. mengertilah.


Monday, 21 June 2010

4:22 pm

PS: Gambar diambil dari sini

no second chance

Once in a lifetime means there's no second chance, so I believe that you and me should grab it while we can -Troy, Everyday, High School Musical 2-

Dalam hidup enggak selalu saya dapetin apa yang saya pengen. Enggak selalu juga saya bisa lakukan apa yang saya pengen. Dulu saya mengira selalu ada kesempatan
kedua. Kenyataannya sekarang saya harus mengakui kalau ada kesempatan-kesempatan yang datang cuma sekali. Dan terkadang kalau saya renungin kesempatan yang lewat begitu saja itu karena saya cuma melihat aja kesempatan itu lewat di depan hidung saya.

Pernah suatu waktu saya dan keluarga pergi makan malam ke sebuah restoran. Restorannya ada di lantai dua. Waktu kami naik tangga, di tengah-tengah tangga ada anak kecil memakai seragam sekolah putih merah yang sudah kumal berjualan koran. Dia menawarkan dagangannya pada kami, tapi seperti biasa kami hanya menggelengkan kepala *ini kayak program otomatis udah ter-inject di otak kalo ada orang nawarin koran/ngamen di jalanan*. Entah kenapa saya keinget terus dengan anak itu. Bukan, bukan karena dia ganteng, tapi entah kesambet apa rasa kemanusiaan saya muncul. Saya lirik lagi anak itu, dia sedang menerima uang dari pengunjung lain yang membeli koran. Kemudian saya berpikir pengen beli korannya tapi nggak mau minta kembaliannya. Terus saya pikir itu sudah biasa, jadi saya kepengen beliin dia makanan di resto itu. Saya melirik lagi anak laki-laki tadi, dia sudah tertidur dengan beberapa lembaran uang di tangannya. Oke, saya memutuskan dalam hati, saya mau belikan dia makanan aja dari resto itu. Setelah melihat-lihat menu dan hendak memesan, saya lirik lagi anak laki-laki tadi. Dia sudah enggak ada disitu. Saya mencoba keluar dan mencari-cari tapi anak itu seperti raib, entah pergi kemana. Cinta memang enggak perlu dipikir, tapi dilakukan.

Cerita ini hampir mirip dengan kisah kasih di sekolah saya *ehm*. Maksudnya semasa saya di bangku sma dulu. Tapi ini dulu lho ya. Dulu. Jadi waktu itu saya dipasang-pasangin sama satu anak laki-laki (iya lah laki-laki, masa perempuan?), katakanlah namanya mr. X. Enggak disangka enggak dinyana mr X menganggap serius permainan teman-teman saya. Saya sendiri enggak tahu kalau dia serius sampai dia ngomong sungguhan via telepon *duileh, kenapa via telepon yah waktu itu?* Saya sempet aja sih ngomong iya coz menurut saya walaupun dia nggak ganteng, dia keren. Keren ini menurut saya: tinggi, pinter dan sedikit 'nakal'. Maksudnya 'nakal' bukan nakal jorok ya, tapi pernah dia dikeluarin dari pelajaran biologi gara-gara pe-ernya belom selesai dan dia malah bilang gini sama gurunya: ''Serius, Bu? Saya boleh keluar kelas? Horeeee..!!'' Dan dia menghambur keluar begitu saja keluar kelas. Di mata saya waktu itu dia keren betul waktu menghambur keluar kelas. Sementara si guru cuma geleng-geleng kepala. Errr... kok jadi ngelantur yak? Oke, jadi setelah saya ngomong iya, saya nggak bisa tidur berminggu-minggu *nah lho, lebay*, maksud saya hati saya nggak tenang, saya blom mau pacaran soalnya, mau mikirin karir dulu gitu. Eh, tapi saya masih sma ya? Kalo gitu, mikirin sekolah. Jadi akhirnya setelah beberapa hari menghindar, saya ngomong enggak sama dia. Enggak jadi maksudnya. Dan minggu-minggu setelah itu adalah minggu-minggu saya dihindari dia. Yang saya enggak sadari sih saya sebenernya suka juga sama dia. Sampai sekarang saya belum pernah ketemu lagi sama dia. And I think God forbids us to see each other. Oh, well. Tapi mungkin ini kejadian no second chance yang enggak pernah saya sesali coz my hubby is one of the best things that ever happened to me ^^.

Kepergian saya ke Bandung minggu ini, selain menunaikan tugas dari kantor, saya juga kepengen banget ketemu teman lama saya. Katakanlah namanya Ms. Y. Sehari sebelum berangkat saya udah kirim message ke dia via fb. Saya minta nomornya supaya ntar kalau saya disana saya bisa kontak dia dan bisa ajak dia ketemuan gitu loh. Tapi ternyata minta nomornya tuh sesulit melakukan serving pada pertandingan voli (sumprit, saya paling nggak bisa serving bola voli, tiap kali giliran saya, bola volinya enggak pernah melewati net, boro-boro melewati net, ngelewati pemain garis belakang aja udah untung). Saya udah coba berbagai cara, dari merayu sampe pura-pura bete saya tetep enggak dapet nomornya. Anehnya, dia enggak melakukan ini ke saya aja, dia melakukan itu ke hampir semua temen sma-nya. Sampai hari terakhir saya mau kembali ke Surabaya, dia telepon saya. Dia takut saya marah. Saya enggak marah sih, saya cuma enggak ngerti aja kenapa dia kayak gitu. Seinget saya, saya enggak pernah tuh buat salah sama dia. Tapi waktu ditelepon sama Ms. Y ini saya udah menyerah. Saya pikir buat apa sih ketemu sama orang yang nggak pengen ditemui? Dia tanya kapok nggak sama dia, saya jawab aja, saya enggak kapok ke Bandung, dan dia kerasa sendiri. Dia bilang susah ya ketemu dia. Batin saya, jauh lebih susah ketemu dia daripada ketemu yosi project pop! Saya bilang ke dia, udahlah kalau memang nggak bisa jangan dipaksain sambil dalam hati saya nyanyi lagunya High School Musical 2 yang Everyday: ''Once in a lifetime means there's no second chance, so I believe that you and me should grab it while we can.'' Karena siapa sih yang bisa pastiin saya akan ke Bandung lagi, bisa ketemu dia lagi? Siapa coba?

Bandung memang aneh. Dalam waktu empat hari saya menghasilkan tiga tulisan. Saya jadi m
engerti kenapa Vicky rutin ngeblog, mungkin saya harus pindah ke Bandung supaya bisa lebih produktif ;) Ini sama anehnya dengan cerita yang siang ini saya dengar. Sepasang sahabat, katakanlah namanya Mr. S dan Ms. M di suatu siang yang menyengat berbincang-bincang di udara. Ms. M sudah menikah sementara Mr. S belum. Entah bagaimana, pembicaraan berbelok ke masa lalu. Saat Mr. S dan Ms. M masih satu kantor dan mereka boleh dibilang cukup dekat satu dengan yang lain. Mr. S tiba-tiba mengaku kalau dulu suka dengan Ms. M dan merasa brokenhearted ketika tahu Ms. M akan menikah. Ms. M enggak tahu kalau ternyata dulu Mr. S menyimpan getar-getar cinta (jadi inget lagu pertamanya Rossa nggak?). Mr. S bilang dia merasa lebih cocok jadi kakaknya aja *euh, classy banget ya?*, padahal Ms. M barangkali akan pertimbangkan Mr. S, kalau dia ngomong. Waktu dengar cerita ini, otak saya langsung bilang: ceritanya kayak cerpen di majalah Anita Cemerlang jaman dulu coy. Tapi ini yang dinamakan no second chance (btw, ini cerita beneran lho, bukan fiksi). Ms. M enggak mungkin meninggalkan keluarganya begitu tahu tentang perasaan Mr. S dan Mr. S juga nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Seandainya saja waktu itu Mr. S ngomong atau Ms. M enggak hanya menunggu, barangkali lain ceritanya.
Tuan Waktu memang enggak mau tahu, dia akan terus maju apapun yang terjadi disekitarnya. Memang manusia hanya bisa mengikuti jalannya Tuan Waktu. Entah itu dengan santai, terengah-engah, terbirit-birit atau enggak sabar, Tuan Waktu tetaplah Tuan Waktu, dia nggak selalu menawarkan kesempatan kedua. Karena itu sebisa mungkin saya harus memilih, karena tidak semua kesempatan harus saya ambil dan sebaliknya ada kesempatan yang harus saya perjuangkan biarpun berat.

Friday, 28 may 2010
4:46 pm
Cipaganti 84 to Bandara Soekarno Hatta
Dedicated to my friends: Mr. X, Ms. Y dan Mr. S

PS: Dan kayaknya saya juga kehilangan kesempatan beli beanie ini, cuma saya coba aja tapi nggak jadi beli ;(

PPS: Gambarnya diambil dari sini, sini, sini,sini

hari ini...

Hari ini aku melihat seorang perlente menghampiriku dan menawarkan produk perusahaannya, berharap aku bisa berhenti sejenak mendengarkan apa yang ingin ia katakan, lebih baik lagi membeli produknya
Aku menolaknya, kulangkahkan kakiku sok sibuk sambil geleng-geleng seperti ondel-ondel

Hari ini aku melihat supir bemo mempercepat kendaraannya sambil berharap aku mau jadi penumpangnya
Aku menolaknya sambil melirik jam yang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam
Lantas aku berenung, betapa panjang jam kerja supir bemo dibandingkan jam kerjaku

Hari ini aku melihat tiga anak kecil seumur anakku
Tidur di atas trotoar beratap langit malam, beralaskan tikar lusuh sambil menghirup udara yang sudah bercampur polusi


Hari ini aku melihat diriku sendiri yang sering mengomel atas hal-hal sederhana dalam hidupku
Hari ini aku malu
Maafin aku ya, Tuhan


Bandung, 26 May 2010

11.22 pm

dari sebuah bandara

Dalam sebuah perpisahan yang manis (bukan sambil tereak-tereak ngomong: "Pokoknya kita cerai! Kamu lebih sayang burung-burungmu daripada aku!") biasanya terjadi rasa haru, rasa penyesalan dan rasa sedih, entah itu datangnya bertubi-tubi atau sedikit-sedikit saja, tapi biasanya ada. Itu yang barangkali kami rasakan kemarin malam. Sahabat saya, saudari angkat saya, dan kadang-kadang musuh yang menyenangkan akan melanjutkan hidupnya di tempat lain. Ini juga berarti bahwa wakut-waktu biasanya saya melihat dia dimana-mana sudah hilang. Kemarin malam, kesan dan pesan dilayangkan. Betapa ia sudah menjadi inspirasi, menjadi teladan, menjadi seseorang yang jelas akan dirindukan ketika ia pergi. Dan saya berpikir, barangkali ini gunanya sebuah perpisahan, untuk menunjukkan betapa berharganya orang itu sebetulnya bagi saya. Ironis memang.

Saya enggak sempat ngomong banyak pada sahabat saya itu. Bukan apa-apa, saya mencoba berkata banyak tentangnya. Tapi saya ternyata enggak kuat dan saya lagi terlalu sombong untuk menangis di depan orang banyak. Karena itu saya pakai cara ini, dimana meskipun saya menangis tersedu-sedu waktu menulisnya pun enggak masalah karena enggak akan ada orang yang tahu.


So here goes... just for you.
Non,
It's a privilege to know you
It's a privilege to have those wonderful moments with you
Masa-masa ketawa cekakak-cekiki bareng
Masa-masa gila-gilaan bareng

Masa-masa bertengkar dan kemudian baikan lagi

Masa-masa saling curhat dan saling mendukung

Masa-masa yang enggak akan terlupakan

I know I was not always be there for you
I know sometimes we had different things in mind about anything
I know
But be sure about this: you have a special room in my heart forever
And I thank God about that

Manusia-manusia seperti hidup dalam bandara-bandara raksasa. Perpisahan terjadi ketika satu manusia melangkah memasuki pintu keluar, melambaikan tangan dari balik ruang berkaca dan naik ke pesawat yang akan menerbangkannya untuk tinggal di bandara raksasa yang lain.

"It's not goodbye, it's see you again."


25 May 2010
7:58 pm

on a plane between two talkative businessmen

Gambar diambil dari sini

tentang naskah, penulisnya dan teater

Saya nggak tahu mulai kapan saya suka dunia teater. Saya juga nggak ingat sejak kapan saya menulis naskah drama. Tapi saya baru sadar bahwa hidup saya enggak jauh-jauh dari bikin naskah drama sejak beberapa minggu terakhir ini. Enggak, saya enggak lagi show-off, nunjukin kalau saya pinter banget bikin naskah drama. Menurut saya, naskah drama saya nggak ada apa-apanya dibandingin naskah dramanya Putu Wijaya atau WS Rendra atau Remy Silado. Oopss.. jauh ya? Jangankan mereka, menurut saya naskah drama saya masih enggak ada apa-apanya dibandingkan senior saya yang sekarang tinggal di San Jose, amrik sono. Jauh banget dah. Kalau sampai sekarang saya masih diminta bikin naskah saya kira barangkali itu karena dua hal. Satu, saya yang lebih sering available untuk dimintain tolong. Dua, saya orangnya kan baik hati dan enggak sombong, jadi susah nolak permintaan orang *hohohoho*.

Seingat saya, sejak kecil saya memang suka menulis drama. Saya ingat karena saya pernah nemu tulisan saya lima putri di sebuah negeri yang ditinggal orang tuanya dan kerajaannya hendak diambil alih oleh kepala rumah tangga kerajaan. Yang saya enggak nemu adalah akhir ceritanya, jadi entah naskah itu terselesaikan atau tidak, saya enggak tahu. Terus pernah juga waktu kelas dua SMP, ketika guru bahasa Indonesia menyuruh kami untuk bikin kelompok dan mentasin drama di kelas, saya pula yang tulis naskahnya untuk kelompok saya. Tapi saya sama sekali enggak ingat tentang apa tulisan saya itu. Terus waktu kecil saya juga suka sekali mainan boneka kertas yang baju-bajunya bisa diganti-ganti. Biasanya saya beli banyak-banyak tapi orang-orang yang saya pakai cuma dua atau tiga biji alias itu-itu aja. Kemudian dari dua atau tiga biji orang-orangan kertas itu saya mulai bikin cerita. Ceritanya memang hanya di kepala saya aja, tapi saya ingat saya menikmati betul saat-saat bermain boneka kertas murahan itu. Rasanya pe-er dan segala tetek bengeknya bisa saya tinggalkan hanya untuk main-main dengan boneka-boneka kertas yang kepalanya gampang putus itu (dan biasanya saya isolasi kembali). Ketika saya akhirnya beneran nulis naskah untuk dipentasin dan ditonton orang banyak, naskah pertama saya aneh banget dan rasanya enggak heran memang kalau waktu itu ada satu orang di gereja saya yang ketawa-ketawa sambil ngomong: "kamu pakai kata 'kau' terlalu banyak nih". Setelah saya baca lagi, emang iya sih, dan saya jadi ikutan ketawa. Dari satu naskah yang dipentasin jadi dua. Dari dua menjadi tiga. Sampai sekarang entah udah berapa naskah yang dipentasin, saya enggak sempet ngitung, bukan karena saking banyaknya jadi enggak bisa dihitung.

Dulu di awal-awal saya bikin naskah untuk dipentasin, saya masih ikut-ikut bantuin sutradara tanpa diminta (orang Pekalongan bilang "ngerusuhi"). Kalau sutradara atau pelatih menginterpretasikan naskah saya lain dari yang saya maksudkan maka saya akan bilang ke mereka kalau maksud saya (yang nulis) bukan begitu. Tapi berangsur-angsur pula saya belajar, bahwa penulis naskah sebetulnya sama sekali tidak punya kuasa untuk mengatur sutradara dalam mementaskan naskah si penulis. Penulis naskah boleh memberi masukan kepada sutradara tapi enggak boleh maksa masukannya diterima. Misalnya, naskah untuk peran A sebenarnya dimaksudkan untuk 1 orang saja, tapi oleh sutradara dimainkan menjadi 3 orang untuk peran A, itu adalah interpretasi dan improvisasi sutradara yang sudah enggak menjadi hak si penulis naskah untuk protes. Penulis naskah baru boleh marah kalau dialog yang sudah ditulis diputarbalikan, dimodifikasi hampir lebih dari separo dan inti dan alur cerita jadi tidak sama lagi, tapi pementasan tetap jalan dengan judul yang sama. Itu sama saja dengan menggunakan naskah baru dengan judul lama. Makanya sekarang ini kalau naskah saya dipilih untuk dipentaskan saya betul-betul akan menyerahkan semuanya ke sutradara, walaupun (ini bener, saya enggak bohong) mulut saya pengen ngomong banyak kalau ada sesuatu yang menurut saya nggak pas dengan yang saya inginkan. Barangkali ini bentuk lain dari sebuah kebanggaan berlebihan yang harus saya hilangkan ;(.

Yang menarik dari ikutan teater adalah kadang-kadang kami dibilang orang-orang aneh. Saya sendiri enggak tahu kenapa. Tapi kalau ditanya apa sih menariknya berakting di atas panggung teater? Maka jawab saya (dan barangkali pemain-pemain teater lainnya) adalah begini. Panggung teater jadi sebuah tempat yang asyik banget karena disana kami bisa jadi apapun yang mungkin enggak pernah kami bayangkan sebelumnya. Jadi orang gila? Jadi pelacur? Jadi ibu-ibu tua yang suka marah-marah? Jadi orang yang buta tuli? Semuanya bisa. Apapun yang enggak bisa dilakukan dalam keseharian bisa dilakukan di atas panggung. Ini yang bikin menarik! Ini yang bikin asyik! Tapi ini pula yang barangkali penyebab kami dibilang orang-orang aneh (asal jangan dibilang orang-orangan sawah aja), karena kami menikmati peran jadi orang lain di luar diri kami sendiri. Jujur aja, latihan buat sebuah pementasan (besar atau kecil sama aja) itu cukup berat. Saya suka dengan klub teater di gereja saya karena pementasannya enggak sekedar drama meja kursi yang ceritanya melulu tentang keluarga atau sepasang suami istri yang suaminya kecewa pada gereja, dsb, tapi klub teater di gereja saya lebih senang mementaskan sesuatu yang kontemporer, yang menyebabkan jemaat yang menonton ikutan berpikir ini drama maksudnya apa. Kalau jemaat masih bingung, pendeta yang berkhotbah bisa membantu menginterpretasikan isi drama tersebut. Selain itu - ini yang menurut saya cukup istimewa - penggunaan microphone (baik wireless maupun tidak) adalah tabu hukumnya. Jadi para pemain dipaksa belajar vocal sehingga mengucapkan dialog pun harus menggunakan suara perut, lebih bagus lagi diafragma. Supaya seluruh penonton dalam gedung gereja (yang akustiknya sangat enggak bagus ) dapat mendenger kata per kata yang diucapkan. Dulu saya pikir suara perut kayak begitu cuma digunakan untuk paduan suara atau nyanyi, tapi ternyata enggak juga. Yang boleh dipakai hanya standing microphone yang nggak akan mengganggu gerak-gerik pemain. Pokoknya pemain enggak boleh pegang microphone atau menggunakan wireless microphone. Yang menempel di tubuh pemain adalah yang ada hubungannya dengan peran dia. Pelatih yang sekarang bilang sebabnya enggak boleh pakai microphone adalah mengganggu estetika panggung dan saya setuju. Masa ada orang gila bawa-bawa microphone kemana-mana?

Secara pribadi, kalau saya ditanya, dalam sebuah pertunjukkan teater, apa yang paling bisa dibanggakan? Saya nggak akan menjawab pementasannya atau akting para pemainnya atau dekorasi panggungnya atau make-up pemain yang keren atau sound system yang bagus atau lighting yang memukau atau kostum panggung. Sebaliknya saya akan bilang, sebuah pertunjukan teater yang sukses adalah pertunjukkan dimana kerjasama antara pemain dan kru di balik layar dapat saling mengisi dengan baik. Bagaimana mereka bekerjasama itu menentukan kesuksesan pertunjukan. Dan kerjasama yang baik membutuhkan tiupan dari Surga. Betul semua yang saya sebutin diatas itu sangat mendukung, tapi jika orang-orangnya enggak bisa bekerjasama dengan baik dan enggak membutuhkan tenaga dari Yang Di Atas, pementasan itu enggak akan punya nyawa.

Tulisan ini saya persembahkan buat temen-temen seperjuangan saya di Teater Imaji, Surabaya yang lucu-lucu, yang gemar membuat orang tertawa dan pementasan-pementasannya enggak kalah lucu dari extravaganza, srimulat dan opera van java dijadiin satu *haiyah*. Jangan menyerah. Jangan manja. Jangan berhenti. Jangan menyerah selagi nafas kalian masih ada, selagi semangat itu masih ada, selagi dunia ini belum kiamat. Jangan manja karena kemanjaan adalah bentuk lain dari kemalasan, karena hanya orang malas lah yang enggak pernah kepengen untuk maju. Jangan berhenti bekerja serabutan dan saling tolong menolong dan tetep yang terbaik yang diberikan. Jangan. Setengah-setengah hanya untuk orang biasa, padahal kita semua tahu kita orang biasa yang jadi luar biasa karena Dia yang nyiptain kita semua. (Lama-lama ini tulisan jadi kayak pidato presiden di hari Kebangkitan Nasional deh..)

Suatu hari nanti. Suatu hari. Suatu hari saya kepengen jadi penulis naskah yang bisa bikin cerita sekeren... 24 ;) *maap lagi tergila-gila 24 soalnya*
.

Sunday, 23 May 2010
2:14 pm
after two exhausting days

PS: gambar paling atas saya ambil dari sini, yang lain-lainnya milik pribadi ;)