RSS

gurita di jalan raya dan orang-orang Indonesia

Pernah dengar buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS nggak? Yang ini nih:

Nama penulisnya George Junus Aditjondro (ternyata orang Pekalongan lho!). Setahu saya sih penulisnya ini seorang wartawan. Dan saya sama sekali enggak tahu dan enggak tertarik untuk membaca kalau nggak nonton pertengkarannya si penulis dengan Ramadhan Pohan yang pada waktu temu wicara tentang buku tersebut mengkritisi (atau menghina?) tulisan-tulisan George. George marah dan memukul Pohan dengan kertas (itu masih dibilang memukul ga sih?) Enggak lama kemudian buku tandingannya keluar, yang nulis ternyata juniornya si George. Kontroversi memang iklan terbaik ya, karena terbit buku tandingannya itu saya semakin tertarik untuk membaca isinya. Walaupun setelah itu, saya mendapat kabar bahwa bukunya George itu akhirnya enggak boleh beredar. Yahh...

Sampai kemarin siang. Saya pergi bareng hubby, vinn dan omanya vinn ke mal. Waktu mobil lagi berhenti di perempatan lalu lintas, ada dua lak
i-laki berseliweran menawarkan dagangan. Spesialnya, dagangannya bukan berupa koran, apalagi kacang rebus atau tahu! Dagangannya berupa buku yang enggak boleh beredar itu tadi. Berikut percakapan yang terjadi di mobil sambil menunggu lampu hijau menyala kembali.

Hubby: "Itu buku bukannya udah nggak boleh b
eredar ya?"
Me: "Iya, nggak boleh."
Hubby: (masih belum menyerah) "Apa nggak bolehnya cuma di toko buku? Lha itu masih diedarin."

Me: (masih cuek) "Kayaknya."
Hubby: "Kok aneh, enggak boleh beredar kok malah jualan di tempat ginian."
Me: "Halah, pembajakan itu juga dilarang tapi vcd-vcd dan cd-cd bajakan juga masih beredar dimana-mana!"
Hubby: "Iya sih. Tapi tempat ginian kan ada po
lisi, mosok polisine enggak ngelarang."
Me: (sambil bicara dalam hati: Suamiku, kau te
rlalu polos...) "Ya polisine kan tinggal dikasi uang, habis perkara!"
Hubby: "Welcome to Indonesia ya."

Me: Doh..

Kalau dipikir-pikir, hidup di Indonesia ini mudah
lho, dengan catatan: kalau kita punya duit lebih. Ya gimana enggak, banyak sekali kasus di Indonesia ini bisa selesai hanya dengan duit. Kalau awalnya dibilang: wah, enggak bisa, prosedurnya bukan seperti itu, terus orang yang bilang itu kita kasi amplop (yang isinya duit), jawabannya bisa gini: ya nanti bisa kami bantu lah. Berapa kali saya dengar cerita dari orang-orang yang kena tilang, kalau mereka lebih milih 'kasi' duit damai ke polisinya daripada ribet ke pengadilan segala. Kata siapa budaya sogok-menyogok, suap-menyuap hanya milik Artalyta dkk yang di penjara mewah itu? Kata siapa? Kita semua familiar dengan budaya suap-menyuap. Supaya lebih mudah, lebih gampang, dan enggak buang waktu. Kita orang cuma punya waktu dua puluh empat jam sehari, daripada ngantri sendiri bikin SIM, mending langsung pesen aja ke Calo, bayar lebih mahal enggak papa yang penting langsung jadi dan enggak capek!

Orang-orang yang biasa pakai duit untuk m
elicinkan banyak hal yang mbulet di birokrasi biasanya kurang bisa survive di negara-negara maju macam US, Australia, dll. Semuanya harus sesuai aturan, tapi memang sih bedanya birokrasi dan prosedur di sono enggak serumit disini. Herannya, kayak bayar parkir, meskipun enggak ada tukang parkirnya ya mereka tetep bayar tuh. Mereka sadar diri. Jadi ingat dulu waktu tinggal di Oz, kemana-mana naik tram. Naik tram itu harus ada tiketnya. Tiketnya bisa yang setahun-an, 6 bulan-an, bulanan, minggu-an atau per 2 jam.
Sekali naik, ada semacam mesin untuk kita memasukkan kartu itu.

Kalau tiket yang kita punya bulanan, maka enggak perlu masukin kartu enggak papa asal di balik tiket sudah tercetak valid date-nya sampai kapan. Kalau yang untuk per 2 jam itu (sepuluh kali naik), tiap kali naik tram/bis/kereta, mesti masukin ke mesin. Kalau ketahuan enggak masukin ke mesin, terus pas ada pemeriksaan, denda-nya cukup besar. Kan sayang boo. Tapi dasar orang-orang Indonesia ya, adaaa aja caranya untuk 'menghemat'. Kadang-kadang kalau pegang tiketnya yang per 2jam-an, dia duduknya di dekat mesin, kalau enggak ada pemeriksaan ya enggak dimasukin, tapi kalau tiba-tiba ada pemeriksaan ya cepet-cepet dimasukin. Bikin malu sih emang.

Enggak tahu juga kira-kira budaya kayak beginian bakal berakar sampai kapan. Karena pada kenyataannya banyak orang di Indonesia masih butuh duit. Perbedaan si kaya dan si miskin itu jauh. Banyak yang bisa keluar negeri tiga kali sebulan dan makan enak di resto mahal sehari sekali, tapi enggak sedikit pula yang bingung besok mau makan apa karena uang sudah habis untuk belanja hari ini.

Monday, 25 January 2010
10:00 am

2 komentar ajah:

Anonymous said...

Indonesia gak buruk - buruk amat kok, jangan terlalu mengagung - agungkan Australia ah..

Berikut pengakuan dari orang yang tinggal di Australia sendiri..
http://www.abc.net.au/news/stories/2009/11/18/2745801.htm

Roy G Biv:

18 Nov 2009 10:09:15am

Australia is definitely one of the most corrupt countries on Earth. I mean, just last week I went to renew my drivers licence and the guy behind the counter wouldn't even serve me until I handed over $50 and a goat. Then on my way home I had to stop at the local drug baron's place to drop off this week's protection money. Unfortunately I was a little late (I had to pay off 3 policemen who stopped me on the way for "speeding") and they had to break one of my fingers (luckily just one though it makes it hard to type). Now the guy next to me has shifted our fence to take over half my yard. I went to the town planning office to complain, but the guy who works there is the brother-in-law-once-removed of my neighbour. I had to pay him $10,000 just to get half of my yard back. And don't get me started about executive salaries...

jc said...

Mr/Ms. Anonymous: Ah, enggak kok, saya enggak mengagung-agungkan Australia juga.. disana juga racism loh, dan sangat arrogant. Soal corrupt ato enggak, ya memang pendapat orang masing-masing. Tulisan ini kan berdasarkan pengalaman saya, nah waktu itu saya enggak mengalaminya sendiri, jadi ya enggak saya tulis. Saya yakin Indonesia masih bisa bangkit kok. Btw, saya cinta Indonesia lho. Saya lebih senang dibilang orang Indonesia daripada orang keturunan Cina.
Salam kenal yaaa.. Thanks for the comment.