RSS

passive income, come to me!

A business that makes nothing but money is a poor business.
-Henry Ford-


Semuanya bermula dari telepon. Tante saya tanya apa saya bersedia dititipin barang dagangan temennya untuk ditawarkan kepada orang-orang kantor saya. Barang dagangannya berupa tupperware warna-warni yang bagus itu. Sebenarnya tante saya itu bilang ke temennya kalau saya itu orangnya pendiam (iya, saya tahu, pasti banyak yang enggak setuju), kalau nggak dijitak nggak bunyi. Beliau enggak sepenuhnya salah sih, karena di keluarga hubby (tante saya ini adiknya mama mertua), saya memang nggak terlalu banyak cerita masalah-masalah pribadi. Mau ngomongin lanjutan sinetron yang mereka ikutin, wong saya nggak ngikutin sinetron. Mau ngomongin gosip di infotainment, wong saya juga enggak suka nonton infotainment (apalagi yang itu tuh, presenternya bunyinya gini: Pemirsa, apakah hati keduanya yang sudah bertaut itu mampu menghadapi badai cobaan seberat ini? Pokoknya yang lebay.com itu lho). Saya mau ngomongin buku pertama dari trilogi The Black Magician yang lagi saya baca, mereka yang nggak nyambung. Malah nanti bukunya ditengking, hush hush, hehehe. Jadi wajarlah kalau di keluarga hubby saya dianggap pendiam (lagi pemalu).

Oke, back to the topic. Saya akhirnya setuju untuk dititipin barang-barang tersebut berikut katalognya. Setelah diberi petunjuk tentang bagaimana cara menjual dan harga-harganya, berangkatlah saya dengan gagah berani ke kantor sambil bawa barang-barang tersebut. Setelah saya tawarkan ke beberapa yang saya kenal dan ada yang melihat-lihat katalog, ada satu orang yan gpesan. Hore! Besoknya saya bawa lagi tuh barang-barang dan katalognya, tapi kali ini saya LUPA kalau saya bawa, jadi saya tidak menawar-nawarkan ke tempat lain. Begitu juga hari berikutnya dan hari berikutnya. Kemudian saya jadi berpikir, saya nih memang yah nggak ada bakat untuk dagang gitu lho. Yang kayak begini bukan pertama kalinya lho. Dulu saya pernah ditawari jual obat (bukan, bukan jual obat di depan pasar yang tereak-tereak itu), sampai ikut seminarnya segala, tapi ini obat harganya mahal walaupun katanya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit mematikan. Jadi target pasarnya tentu orang-orang kelas menengah keatas. Waktu itu saya masih nge-kost, jadi teman-teman saya ya kebanyakan teman-teman kuliah yang juga nge-kost dan tiap akhir bulan selalu belingsatan menunggu-nunggu kiriman dari ortu supaya tetap bisa makan tiga kali sehari. Terus pernah juga saya ditawari untuk jadi agen asuransi. Setelah itu ada lagi jual produk kesehatan dan perawatan kulit (oiya, produk ini juga menawarkan sabun cuci pakaian yang mahal begete tapi konon bisa menghilangkan noda yang paling sulit sekalipun dalam sekali cuci). Lalu seolah belum cukup, saya juga ditawarin untuk ikutan menjual pembalut wanit. Pembalut ini harganya diatas rata-rata, tiga kali lipat dari harga pembalut yang biasa kita lihat di supermarket. Tapi konon lebih bersih, tidak terbuat dari bubur kertas dan sehat untuk daerah rawan kewanitaan. Nggak tanggung-tanggung, kalau saya setuju utk jadi downline jualan pembalut ini, saya diajarin bagaimana mempresentasikannya. Lengkap dengan percobaan-percobaan untuk membandingkan pembalut biasa dan pembalut luar biasa ini. Saya juga pernah lumayan serius menjalankan produk-produk kecantikan dari Swedia. Hasilnya sama: NIHIL. Kalau diamat-amati, kesemuanya ini memiliki pola yang more or less sama, yaitu pola multilevel marketing dengan sistem upline dan downline. Iming-imingya juga sama, yaitu dapet PASSIVE INCOME. Dan yang menggelikan lagi, hampir semua yang menawarkan juga mengatakan hal-hal yang mirip, yang intinya: asal ada kemauan disitu ada jalan atau asal mau berusaha semua orang bisa melakukannya atau asal mau belajar, pasti bisa. Jadi inget kata-katanya Ayub Yahya, si penulis artikel Kristiani yang juga pernah ditawari hal serupa, dia kepengen banget jawab: memangnya
asal mau belajar, kamu juga bisa menjadi penulis seperti saya?

Saya sih bukannya anti dengan multilevel marketing atau dengan iming-iming passive income aka pensiun di usia muda. Siapa sih yang enggak kepengen dapet duit dateng sendiri sementara kita ongkang-ongkang kaki di rumah. Seperti kata Robert T. Kiyosaki: "Biarlah uang anda yang bekerja, bukan anda." Siapa? Saya juga mau. Tapi barangkali sampai sekarang saya belum diijinkan untuk dapat passive income, karena saya sendiri tidak mau otak saya karatan karena nggak dipakai, otot-otot tubuh kaku karena nggak terlalu banyak gerak, kemudian badan saya membengkak, kulit-kulit menggelambir dan yang bisa saya lakukan cuma berbaring sambil ngemil karena dengan uang yang bekerja saya bisa juga punya robot yang mengerjakan hal remeh-temeh lainnya (oke, sepertinya saya sedang menceritakan sinopsis film Wall-E).

Makanya saya rada salut juga sama para agen asuransi yang sudah punya passive income di usia muda mereka dan berhasil mengumpulkan poin untuk dapat bonus berlibur keluar negeri setahun tiga kali. Saya salut sama yang bisa dapat downline banyak sehingga biarpun dia enggak bekerja keras tiap hari menawarkan dagangannya, dia masih dapat penghasilan. Sungguh, saya salut. Sekarang ini, tujuan saya masih sederhana (dan mulia) yaitu membantu teman tante saya itu.

Dan tahu tidak? Saya mulai putus asa. Pembaca ada yang mau pesan? Bagus lho produknya! ;)

Friday, 22 January 2010
12:05 pm

6 komentar ajah:

~~Devita~~ said...

Pembalutnya merk anion ya?

jc said...

aku lupa! hehehehe..

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Hahahahaha. Artikel yang lucu Jess. Wah ini juga pengalamannya si Kristina (kayaknya dia juga pernah posting di blog, tapi itu kasusnya si Piter yang lupa pacaran dan sampe presentasi ama mantan pacar demi cari downline MLM dan bikin Kristina ngamuk hehe).

Passive income memang ide yang baik, artinya kita dididik punya mental mandiri dan bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Tapi kalo yang ditonjolkan pasif income-nya mnrtku ini cenderung maruk.com. Apalagi kalau kita belum punya modal. kalo kluargaku yang pedagang selalu punya prinsip: "nyantrik dulu (magang) barulah belajar punya usaha sendiri dan besarin modal" Jadi pasif income yang sehat dimulai dari aktif income dan dikumpulkan menjadi modal. Pasif income tidak akan terjadi tanpa penanaman modal. Dan kalo kita harus presentasi kanan-kiri itu namanya sales, bukan penanam modal. Jadi, kalau kita masih muda, sehat dan berpendidikan, janganlah jauh2 mikir jualan tupperware, sabun cuci, make up atau pembalut wanita (kecuali tujuannya cuman biar kalo beli barang2 di atas dapet diskon). Kerja yang baik, naikkan karir, cari pekerjaan yang bikin antusias (join writing competition Jess?) dan pasif income bisa terjadi nanti, begitu tabungan kita cukup. Ngapain sih mikir pensiun orang berada di puncak karir aja belom?

jc said...

Wadalah kalau aku jadi Kristina ya reaksino podho: ngamuk, hahahaha. Terus sekarang masih? ;)

Iya nih, wah rasane ora kehitung kok sing nawari dgn iming2 passive income kuwi (lek iki rasane aku rodo berlebihan, masih bisa lah diitung hehehe), tapi sing kadang2 mengganggu iku justru wong2 sing enggak henti2nya menelpon utk menarikku jadi agen, atau untuk ikut asuransinya atau untuk beli rumah, wah pokoke ganggu tenan. Ngomong 'tidak' malah ora direken. Tapi kw bener lek mumpung masih muda gini, ngapain mikir pensiun yo? Lak nggak seru maneh urip-e? Hahaha.. Join writing competition? Mau join-an bikin novel aja, Ya?

REYGHA's mum said...

Asyik nih mulain rajin posting...ayo ayo aku suka bahasamu...xixixix...passive income?...wah dapat pencerahan dari ria nih...

jc said...

@Reygha's Mum: iya Ria memang suka mencerahkan hahahaha... Sebenernya sih mo passive income juga nggak papa yah.. asal pendekatannya memang kudu yahud dan enggak berkesan maksa *ada lho yang maksa2 banget, kan kalo yg bener2 berminat malah jadi ilfil*. Plus, kalo kerja kayak gitu, buat ibu2 kayak kita ini kan jadi bisa bagi waktu buat anak juga yah.. hehehe *walah malah curcol*