RSS

hidup seperti kentut

Kadang-kadang saya merasa hidup ini seperti kentut. Putu Wijaya boleh bilang kematian lah yang seperti kentut karena suka datang tiba-tiba. Tapi menurut saya, hidup juga kadang-kadang seperti kentut. Tidak selalu, hanya kadang-kadang saja. Ada waktu-waktu dimana bagaimanapun saya kepengen menahan kentut itu keluar dan menganggu kenyamanan orang lain, kalau memang harus keluar ya keluar. Ibaratnya kapan saja saya kentut, itu sudah tertulis di catatannya Yang Di Atas. Enggak bisa dihindari.

Kayak saya sekarang ini. Kalau memang sudah waktunya saya harus menghadapi masalah, ya sepertinya kok memang harus saya hadapi. Sudah waktunya. Saya sering merasa enggak siap dan protes waktu dikasi masalah. Tapi begitu dikasi berkat mana ada protesnya (manusia banget..,eh salah, saya banget). Barangkali ini yang dinamakan keadilan Tuhan.

Tapi selain hidup itu terkadang seperti kentut, hidup juga adalah pilihan. Saya harus memilih untuk lari dari masalah-masalah ini, diam saja dan membiarkannya terkatung-katung atau menghadapi dengan tegar - pecahkan! Bahkan jika saya memilih untuk menghadapi pun saya tetap harus memilih, menghadapi sambil ngomel sana ngomel sini alias cari masalah juga dengan yang lain alias bikin yang lain yang tadinya fine-fine aja jadi bermasalah atau menghadapi dengan tenang, kalau memungkinkan dengan senyum (hell, seperti kaum munafik gitu?). Saya nggak bilang kalau menghadapi masalah sambil tetap senyum itu munafik. Jujur saja saya sering gagal untuk tetap tersenyum ketika menghadapi masalah. Tapi pernah suatu kali, ketika masalah saya hadapi dengan kepala dingin, membiarkan para sahabat membantu dan itu semua dijalani dengan senyum, entah bagaimana masalah tersebut jadi enggak terlalu berat. Saya enggak bohong.

Suatu waktu, saat saya sedang menyebalkan karena ngomel sana ngomel sini, saya enggak puas dengan apa yang sudah ada, dengan yang sudah saya punya. Atau saya masih saja protes kenapa sih Tuhan saya enggak boleh punya gaya hidup seperti dia yang mau belikan anaknya barang mahal sekalipun bisa tanpa perlu menabung dulu, makan tiga kali sehari di resto-resto mahal dan punya mobil pribadi yang bisa dipakai sesuka hati (ya, Tuhan, saya protes! hehehe). Dan di saat-saat seperti itu saya diijinkan melihat sebuah pemandangan yang bikin miris hati. 

Kalau saya mengantar anak saya sekolah, saya selalu melewati perempatan lalu lintas itu. Semuanya masih sama pada hari itu, sampai mata saya tertumbuk pada seorang gadis kecil yang berdiri di dekat lampu lalu lintas. Saya tebak usia gadis kecil itu belum lagi 2 barangkali dilihat dari cara berdirinya yang kurang stabil. Dia bermain-main dengan bungkusan gorengan milik ibunya yang menjajakan koran kepada para pengemudi mobil. Di dekat gadis itu ada payung yang di bawahnya digelar kain lusuh, dimana suatu ketika saya pernah juga melihat gadis kecil itu tidur nyenyak dibawah payung itu, diatas kain lusuh itu. Saya tertegun. Dan saya mendongak keatas dan bilang dalam hati, ampuni saya atas ketidaktahudirian saya, Tuhan! Saya memang tidak tahu diri. Seberapa beruntung saya dibandingkan dengan wanita penjual koran itu tadi? Seberapa beruntung anak saya dibandingkan dengan gadis kecil itu tadi? Siapa yang bilang masalah saya paling besar, enggak ada yang bisa menandingi? Siapa?

Itulah sebabnya, saya enggak terlalu suka terus-menerus melihat keatas, melihat orang-orang yang 'lebih'. Saya lebih suka lihat ke bawah dan senantiasa bersyukur atas apa yang sudah diberi. Maka yang sering saya lakukan adalah melihat ke atas jika ingin mencapai sesuatu dan melihat ke bawah untuk diingatkan kembali atas segala berkat yang sudah saya terima.

Hidup boleh seperti kentut, tapi jika kentut itu benar terjadi pilihan apa yang harus saya ambil? Menyalahkan orang lain? Minta maaf jika bau? Atau segera diobati? Semuanya ada di tangan saya. Dan saya jelas tidak ingin meniru nenek moyang saya si Hawa yang nyalahin si ular atas keputusannya sendiri memakan buah terlarang itu. Setidaknya, saya akan berusaha.

Thursday, 28 January 2010
7:23 pm

3 komentar ajah:

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Betul Jess. Semua orang kentut. Anjingku dulu juga suka kentut. Hamsterku juga. Mungkin ikanku juga, tapi susah bedain dia kentut apa glegekan apa napas, soalnya sama2 bergelembung ke atas. Maksudku everybody makes mistakes. Iya benar, yang penting kita mau membetulkan dan berhenti menuding...meskipun kadang sulit, misalnya kalo konsekuensinya sangat tidak menyenangkan. Pasti kita cari temen susah deh. Halah curcol.

Aku sering banget merasa tidak tahu diri karena aku udah sangat beruntung tapi hobi banget misuh2 eh ngeluh2. Jarang sih aku iri sama orang yang lebih kaya atau gaya hidupnya lebih jetset. Aku pikir di Jakarta atmosfernya sangat mengagung-agungkan gaya hidup dan status ekonomi, makanya aku paling tidak suka hidup di sana. Aku paling iri sama orang yang punya keluarga yang hangat. Punya orang-orang deket yang disayangi dan bisa bicara dari hati ke hati. Tapi belakangan aku berusaha melihat keluargaku sendiri dengan cara yang berbeda, bahwa kehangatan harus dimulai dari diri kita sendiri, bukan diminta dari orang lain. Seperti postinganmu kemarin, mencintai itu meskipun, bukan karena. Sekian curcol saya yang lengkap. Hahaha...

wongmuntilan said...

Inspiratif!!!

Saya kadang merasakan hal yang sama, iri setelah melihat teman yang mampu traveling ke luar negeri 4 kali dalam setahun, iri melihat si A, si B, lalu saya melihat korban gempa Haiti yang kekurangan makanan, lantas saya merasa diri amat beruntung.

Tapi nanti kapan-kapan saya akan lupa lagi akan semua hal di atas, dan mulai lagi kepengen seperti si C yang baru saja beli rumah baru yang bagus... lalu melihat penderitaan orang lain, kemudian merasa diri beruntung (lagi).

Bagai lingkaran yang tak putus-putus ^^

Huah, bego banget ya saya... ^^

jc said...

@Ria (aku yakin!): Betul! Lebih baik iri punya keluarga hangat daripada keluarga kaya tapi dingin (soale hidupe di kutub utara, jaka sembung?). Ya apa boleh buat, aku harus ngaku kalo kadang2 aku tolol karena sering iri sama gaya hidup yang 'gampang' kayak gitu. Padahal kalo hidup ini 'gampang2' aja mah kaga ada menariknya yah? Hehehe.
Wes ngerti curcol kw? ;))

@Santi aka wongmuntilan: He-eh gitu terus yah, aneh banget deh kita yah.. udah, sesama bego dilarang saling bego2in diri sendiri (lho?) mari kita terus bersyukur! ;)