RSS

misterius?

Hujan sering bikin saya melankolis. Apalagi hujan yang dibarengi dengan angin seperti sekarang ini. Bikin saya sakit perut (eh, ga ada hubungannya ya?). Kalau masyarakat Tiong Hoa mengatakan hujan sama dengan mendatangkan banyak rejeki (bagaimana dengan banyak anak?), saya malah kadang-kadang berpikir bahwa hujan pertanda Tuhan sedang menangis. Entah itu menangis karena terharu atau menangis karena sedih. Silly kan? Dan kalau sedang konyol seperti itu saya suka bertanya-tanya sendiri kira-kira Tuhan menangis karena apa ya? Tapi karena Dia Tuhan yang misterius, maka saya yakin jawabannya lebih daripada sekedar menangis terharu atau menangis sedih. Mengapa harus memilh satu jika bisa memilih dua? Atau mengapa harus memilih satu atau dua jika tidak bisa memilih? Hujan juga bisa pertanda sudah waktunya mengairi tanah yang kering!

Ini mengingatkan saya pada percakapan saya dengan bapak pendeta saya yang masih muda itu. Rasa-rasanya waktu itu kami sedang bicara tentang homoseksual. Dan seingat saya, kami tidak bicara tentang benar salahnya, kami bicara di luar itu. Padahal barangkali jika saya bicara masalah itu dengan yang lain, percakapannya biasanya berkisar antara benar dan salah yang kemudian berakhir dengan perdebatan. Dia akan bilang bahwa homoseksual itu salah dan saya akan bilang bahwa homoseksual belum tentu salah! Ah, saya tahu ini memang kebiasaan buruk saya. Tiap kali membicarakan masalah-masalah semacam ini, saya lebih senang menjadi antagonis daripada protagonis. Hei, hidup lebih seru jika ada antagonis-antagonis seperti saya kan? Ya kan? Ya kan? Ibaratnya, jika sedang musim rambut di-rebonding, saya akan tetap mempertahankan rambut ikal saya. Dan jika musim rebonding lewat, diganti musim rambut keriting, saya malah akan meluruskan rambut saya. Nah lho.

Oke, balik ke pembicaraan saya dengan bapak pendeta mengenai homoseksual. Dia malah mengajak saya berpikir bahwa hidup kadang-kadang tidak harus memilih ya saja atau saja, boleh saja tidak boleh saja dan hal-hal antonim lainnya. Kadang-kadang malah hidup harus memilih untuk tidak memilih. Dan saya senang diajak berpikir demikian. Mengapa harus memilih satu jika bisa memilih lebih? Mengapa harus memilih untuk memilih jika bisa tidak memilih? Meskipun mungkin saja orang lain bakal bilang saya plin-plan. Tapi saya tidak plin-plan (memangnya ada pencuri yang ngaku jika dituduh mencuri? hehehe), lebih tepat dibilang saya ini conditions-apply-person (dan pencuri itu ngakunya kalo dia Robin Hood, hehehe). Ada satu waktu saya harus bilang ya, dan di waktu yang lain saya harus bilang tidak untuk sebuah kasus yang sama.

Hidup memang nggak bisa ditebak. Seperti sekarang ini. Baru beberapa menit yang lalu saya bilang ke hubby kalau akan ada badai. Langit gelap, gerimis, petir bersahut-sahutan dan angin kencang. Bukankah itu tanda-tanda badai? Tapi tidak. Saat ini gerimis sudah berhenti dan tak lagi terdengar suara petir. Langit memang tetap gelap, tapi bukan karena akan ada badai tapi karena memang sudah waktunya matahari balik kandang, eh keliru, sudah waktunya matahari kerja di wilayah lain di bumi ini. Kata siapa matahari punya waktu untuk beristirahat? Tidak. Dan bahkan cuaca yang tidak bisa ditebak ini pun membuktikan bahwa Tuhan memang misterius. Terkadang tidak bisa ditebak.

Jadi jika ada yang teriak: "Saya enggak akan pernah ngerti Kamu, Tuhan!", itu bisa dimengerti. Karena jika Tuhan betul-betul bisa dimengerti, Dia bukan lagi Tuhan. Kalau menurut saya karena Dia misterius itu makanya Dia adalah Tuhan.

Kenapa langit kok biru? Kenapa kok hidung bule lebih mancung dari hidungku? Kenapa rumput warnanya ijo, kok bukan merah? Kenapa manusia bisa bernafas tanpa berpikir (padahal proses-nya bisa sangat ruwet di dalam)? Kenapa bumi berputar tanpa kita jatuh dan merasakannya? Kenapa bentuk tubuh laki-laki beda dengan perempuan?

Misterius, memang. Tapi justru karena itu saya percaya padaNya.

Saturday, 30 January 2010
4:48 pm

0 komentar ajah: