RSS

saya? abstain!

Selasa, 22 Juli 2008
"Jadi kamu nyoblos nomor berapa?"
Dengan semangat empat lima *males banget semangat reformasi, semangatnya semangat demo, semangat naikin harga, semangat bikin rakyat tambah sengsara*, saya memprovokasi beberapa orang untuk memilih yang betul, sekaligus memberikan pendapat saya sambil ber-embel-embel kalau saya sih pilih... .

Orang-orang yang saya kenal, kebanyakan memang nyoblos, tapi tidak sedikit pula yang malas, mengaku sebagai anggota golongan putih dan tidak peduli.
Pokoknya hidup saya enak, what the hell apa yang terjadi di pemerintahan, what the hell siapa gubernurnya, siapa presidennya, siapa para menterinya, yang penting saya. Saya suka pingin nabok orang yang ngomong begini. Lha kan kamu tinggal disini... makan yang ditumbuhkan tanah Indonesia, berarti kamu ngambil untungnya doang dong tapi nggak mau repot? Tapiii, memang sih sempat terlintas di benak saya untuk tidak menggunakan hak saya sebagai pemilih. Saya toh nggak kenal mereka. Saya nggak terlalu ngeh dengan program-program mereka. Dan saya agak pesimis apakah mereka yang terpilih akan tetap memegang janji mereka yang dikoar-koarkan selama kampanye. Selama ini yang terjadi cuma janji-janji indah yang tidak terealisasi.

Malamnya saya nggak sengaja nonton
Legally Blond 2 di Trans7. Cuma dapat bagian akhirnya saja sih, jadi saya nggak tahu seluruh ceritanya. Di bagian akhir itu, si blondie ini butuh suara dari orang-orang legislatif. Saya suka sekali dengan apa yang dia katakan. Begini.

Ada sebuah salon yang terkenal di tengah kota. Untuk mendapatkan pelayanan di salon ini sangat sulit, harus bikin janji jauh-jauh hari, itu pun belum tentu dapat. Kecuali kamu seorang artis atau bintang film atau selebriti. Suatu hari mereka meneleponmu, kamu dapat tempat untuk
hairdo. Kamu menyerahkan kepada mereka mulai dari gaya rambut sampai warna rambut, karena kamu merasa mereka sangat profesional dan kamu akan lebih cantik jika ditangani oleh mereka. Pada akhirnya, setelah selesai, kamu merasa gaya rambut yang ditatakan untukmu jelek dan warnanya tidak cocok dengan kulitmu. Semuanya salah. Apa kamu berhak untuk marah? Tidak. Kenapa? Karena kamu tidak ikut dalam proses. Kamu punya hak untuk menyuarakan keinginanmu tapi tidak kamu lakukan. Seandainya kamu bilang kamu ingin gaya rambut seperti ini, warna rambut yang begini, dan mereka tidak melakukannya sesuai dengan keinginanmu, kamu BERHAK marah. Karena itu, kalau kamu punya kesempatan untuk menyatakan pendapat, menyuarakan pendapat, GUNAKANLAH kesempatanmu. SPEAK UP!

Saya getun. Saya terpana. Saya heran. Dan saya SETUJU. Pada pilkada Jawa Tengah kemaren, sebanyak 40% lebih memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya. Mereka abstain. Di Jawa Timur ini sendiri, sayang sekali, ternyata juga. Ada lebih dari 37 juta jiwa di dalamnya, tapi hanya 29 juta-an yang ikut memilih. Saya nggak mau menghakimi mereka, mungkin saja ada yang seperti Bang Ariel yang tidak bisa ikut karena tempat tinggal dia sekarang dengan KTP beda dan dia tidak bisa ambil cuti lagi untuk pulang dan nyoblos. Atau mungkin saja ada yang sakit, tergeletak di rumah sakit, tidak bisa ikutan. Saya nggak tahu satu persatu alasan mereka untuk abstain. Tapi saya sangat menyayangkan kalau memang sebenarnya ada yang betul-betul bisa memilih tapi menghindar untuk memilih dan memilih untuk tidak memilih. Satu suara untuk satu perbedaan.

Rabu, 23 Juli 2008

SAYA NYOBLOS! Nih buktinya.. kelingking kanan saya masih ungu sampai hari ini. Padahal saya mandi lho. Dua kali sehari.

~ Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah. ~ Yesus, Matius 22:21b

Friday, 25 Juli 2008
12:10 pm

dagangan alam

Pada waktu saya pulang ke Pekalongan, saya sempat membaca artikel di surat kabar lokal dengan tajuk: "Dagangan bernama Alam". Saya lupa persisnya, tapi si penulis mencatat bahwa seorang mantan pejabat membuka obyek wisata di suatu tempat di Jawa Tengah yang masih 'perawan' alias jarang tersentuh tangan manusia. Dan karena si mantan pejabat ini mengeluarkan cukup banyak biaya untuk membuat daerah ini jadi obyek wisata, setiap manusia yang hendak datang untuk menikmati pemandangan alam disitu tentu saja harus membayar. Katanya sih... nggak mahal. Hanya untuk biaya pemeliharaan saja.

Setelah membaca artikel itu, saya merasa giris. Kenapa? Karena manusia betul-betul sudah memanfaatkan alam yang sudah diberikan secara GRATIS oleh Sang Pencipta. Berapa banyak obyek wisata di Indonesia ini dengan pemandangan alamnya yang menakjubkan dan untuk melihatnya, kita dikenakan biaya? Bahkan untuk ke toilet yang dibangun disitu saja, pengunjung harus merogoh koceknya barang lima ratus sampai seribu perak. Kalau cuma pipis lho ya.. kalo sama buang air besar ya lebih mahal. Apalagi kalau mandi.


Berpikir lebih jauh lagi, saya melihat sebuah fenomena yang aneh tapi nyata. Manusia-manusia sekarang ini malah lebih menghargai dan memilih mesin/benda mati daripada alam yang hidup yang cuma bisa diciptakan oleh Tuhan. Kalau kamu ditanya (saya juga): pilih mana, ke Sarangan lihat danau dan menikmati pemandangan atau ke JatimPark main-main wahana macam roller coaster, rumah hantu, dsb? Kebanyakan pasti memilih JatimPark, benar? Dengan alasan:
Sarangan ga ada apa-apanya tauk... cuma liat telaga gitu doang. Rugi dah biaya bensin kalo cuma buat pergi lihat telaga. Kalau JatimPark lebih seru! Bikin adrenalin meningkat! Padahal yang dibilang seru itu lho buatan manusia semua. Telaga yang seperti di Sarangan itu kan buatan Tuhan. Emang ada ya manusia yang bikin telaga seindah itu? Atau malah jangan-jangan ada yang terang-terangan bilang: orang kalo berlibur tuh ke Jakarta aja... banyak mal-nya tuh, bisa shopping sampe bosen! Orang-orangnya juga modern, pake baju bagus semua, berbudaya itu namanya, nggak kayak desa yang mau lo kunjungin, mau lihat apa disana? Orang kampung semua, orang desa semua, orang nggak berbudaya tuh.... *kalo sampe ada yang ngomong begini di depan saya mungkin saya tinggal begitu saja hehehee... ngoceh sendiri aja lo! peace!*

Sama dengan tujuh keajaiban dunia yang sebenar-benarnya ketujuh-tujuhnya itu juga buatan manusia! Padahal ada begitu banyak keajaiban di dunia yang nggak mungkin bisa dibuat oleh tangan manusia. Pelangi di langit. Hutan-hutan. Padang rumput yang luas. Bunga-bunga yang beraneka warna. Sistem kerja bagian dalam tubuh manusia. Itu semua
absolutely amazing, tapi jarang kan tersebutkan sebagai keajaiban? Alam yang diberikan secara GRATIS sama Tuhan ini memang sudah dimanfaatkan. Tapi kalau pemanfaatan itu diikuti dengan pemeliharaan saya rasa masih ok-lah. Asalkan tidak dimusnahkan dan diganti dengan mal, apartemen bertingkat, perumahan mewah, lapangan golf (yang bukan untuk konsumsi semua orang) atau pusat perbelanjaan. Karena negara kita ini masih butuh udara segar dan tumbuh-tumbuhan hijau yang bisa mencegah banjir. Kita sudah dikasih tanah paling subur di seluruh dunia lho! Kalau orang-orangnya masih mikirin tentang pembangunan mal melulu (bikin orang jadi konsumtif tuh!), ya JANGAN HERAN kalau masih banjir setiap tahun!

Friday, 18 July 2008
10:09 am

nostalgi(l)a ala friendster

Seringkali saya dengar ada percakapan seperti ini.

Seseorang: Halo, apa kabar? Lama nggak ketemu.
Yang lain: Baik. Kamu?
Seseorang: Baik juga. Punya friendster ga? Kalo punya, add saya dong.
Yang lain: Punya. Emailmu apa? Nanti saya add.

Begitulah. Orang kalau punya friendster baru dianggap gaul, kalo nggak punya nanti jawabannya kayak begini: yah, kok nggak punya sih, nggak seru lo, nggak gaul lo. Teman saya di kantor nggak pernah absen buka friendster. Melihat-lihat foto terbaru dari teman-temannya. Komentar-komentar yang diberikan teman-temannya. Upload foto-foto terbarunya.

Sudah beberapa waktu terakhir ini saya nggak aktif buka friendster. Update foto juga nggak. Sampai ada teman saya di Melbourne meninggalkan pesan untuk update foto pun saya masih tidak bergeming. Bukannya apa-apa, tapi karena beberapa waktu yang lalu, komputer saya di kantor tidak bisa buat upload foto. Tiap kali mau upload selalu error. Lama-lama malas saya. Tapi sejak komputer saya di-upgrade, saya mulai buka-buka friendster lagi. Mulanya cuma satu kali, tapi beberapa hari terakhir ini mulai sering berkirim pesan lagi ke teman-teman. Menanyakan kabar mereka. Mulai kasih-kasih comment ke teman yang suka kasih comment juga. Puncaknya hari ini nih....

Saya memang pengen banget ketemu teman-teman lama SMA saya. Hebatnya friendster kan itu tuh. Kamu bisa ketemu sama orang yang tidak terduga sama sekali. Malah dulu ada teman saya yang menemukan sepupunya yang telah lama hilang *ceilah* di friendster. Hari ini, saya ketemu sama teman saya, sekaligus my first crush waktu saya SMP *sst... confidential ini!*. Dan hebatnya lagi, dia masih SINGLE.

Setelah saya kasih comment dan add dia, saya mulai mikir lagi nih. Kalau diperhatikan, entah gimana, orang-orang yang dulu pernah saya taksir dan naksir saya, waktu sekarang ketemu, semuanya masih SINGLE. Yang bikin saya tambah heran, mereka ternyata nggak setampan yang saya kira dulu ya.. Dulu saya merasa mereka tuh orang-orang tampan lho! Ternyata di atas langit masih ada langit, hehehe.

Sekian nostalgi(l)a dari saya... hehehe. Iseng banget sih.


Monday, 14 July 2008
1:16 pm

balada school of rock

Kemarin malam, saya panik. Apa pasal?

Di kantor saya, lagi ada acara untuk mahasiswa selama liburan. Acaranya berlangsung selama empat hari, dan hari ini adalah hari ketiga. Judul acara itu adalah Rally (Career) Movie. Kalau dilihat dari judulnya pasti sudah bisa tertebak kalau acaranya itu ya NONTON FILM! School of Rock adalah salah satu film yang akan ditonton. Dan film ini akan ditonton hari ini. Total film yang ditonton selama empat hari itu ya empat judul film. Satu hari satu film. Rencana awal saya adalah membeli keempat film itu, sekaligus menjadikannya properti kantor yang bisa ditonton kapan saja. Tapi waktu beli, yang ada cuma dua judul. Sayang sekali, School of Rock nggak termasuk yang ada di toko. Mungkin karena film ini sudah nggak terlalu baru, jadi toko juga malas nyetok. Dasar saya itu suka melakukan sesuatu itu mepet-mepet. Pikir saya, ntar aja kalo sudah dekat harinya akan saya pinjam di rental langganan saya; filmnya udah lama ini masa ada yang pinjam.

Oke.. sampai disini paham ya? Karena habis ini saya akan ceritakan sesuatu yang kelihatannya nggak ada hubungannya sama sekali dengan cerita saya barusan.

Dua hari yang lalu, saya ditelpon teman gereja. Dia meminta (agak maksa juga sih) saya untuk jadi liturgos di kebaktian pemuda minggu ini. Hah? Minggu ini? Iya! Minggu ini! Mereka bukannya tanpa persiapan atau suka ndadak-ndadak kayak saya, tapi karena liturgos yang terjadwal tiba-tiba dikirim kantornya ke luar kota pada hari itu. Meskipun saya agak keberatan *ya iya lah keberatan, persiapannya cuma berapa hari bo??*, saya iyakan juga permintaan mereka. Yang berarti, saya harus secepat kilat berpikir tentang lagu-lagu dan susunan kata-kata yang harus saya ucapkan minggu nanti dihadapan jemaat. Bukan sesuatu yang main-main ini.

Sampai disini masih paham kan? Nggak ada hubungannya? Kayaknya nggak ada... tapi ada!

Kemarin malam, saya latihan untuk kebaktian minggu ini. Sebelum berangkat latihan, saya mampir ke rental langganan saya untuk pinjam School of Rock itu. Sesampainya di rental langganan saya, mbak-nya bilang kalau film itu lagi keluar, ada yang pinjam. Shock-lah saya! Lha, terus besok anak-anak nonton apa kalau film-nya nggak ada? Ya sudahlah, saya keluar sambil menggondol judul film untuk hari terakhir *sebelum keduluan orang*. Was-was juga hati ini, tapi saya pikir di gereja nanti saya kan bakal ketemu anak-anak Ubaya, kali aja ada yang punya atau pinjam di rental langganan mereka yang dekat Ubaya. Di gereja, waktu latihan saya kenalan dengan pengiringnya, seorang cewek, pemain piano yang bisa main sambil merem sementara jari-jarinya bergerak lincah diatas tuts, dan ternyata masih SMA! Tapi waktu jam sudah hampir menunjukkan pukul sembilan malam, saya mulai panik dan berkoar-koar. "Aduh... aku harus cepet pulang ini... aku belom dapet film buat besok...." Sang pianis bertanya: "Film apa ce?" "School of Rock.""Kayaknya aku punya... eh tapi takcari dulu ya.. kayaknya di dus-dus." "Iya deh tolong cariin dong... abis ini aku juga mo ke rental lainnya." Sepulang dari itu, saya ngebut isi bensin terus pergi ke rental yang bukan langganan saya dann... film itu TIDAK ADA. Wah pusing tujuh keliling saya. Tapi parttimer saya dengan kalemnya bilang, kalo memang nggak ada filmnya ya film untuk hari keempat dulu aja diputar, habis perkara. Malam itu juga, saya SMS sang pianis, dan ternyata dia memang PUNYA filmnya. Rumahnya?? DEKET banget!!! Lima menit naek motor juga nyampe.

Setelah DVD School of Rock itu di tangan saya, saya mikir. Kenapa bisa kayak serendipiti begini ya? Seandainya saya nggak mau jadi liturgos dadakan minggu ini, saya nggak akan kenalan dengan sang pianis ini. Dan kalau saya nggak kenalan dengan sang pianis ini, belum tentu saya dapat VCD/DVD School of Rock malam itu. Yang bikin saya geleng-geleng juga, memangnya sang pianis ini waktu dulu beli DVD School of Rock tahu kalau nantinya akan ada yang sangat membutuhkannya seperti saya? Hal se-complicated ini mustahil kalau tidak ada yang mengatur. Siapa? Ya tentu saja Dia yang Di Atas. Yang memperhatikan seluruh aktifitas manusia di muka bumi ini. Yang tahu satu persatu karakter-karakter dan sifat-sifatnya, sehingga bisa mengatur hal-hal serumit meskipun terlihat sepele seperti proses mendapatkan pinjaman DVD School of Rock tadi. Dia yang lebih tahu apa yang akan terjadi di masa depan, yang rancangan-rancanganNya jauh melebihi apa yang kita pikirkan.

Saya tertegun. Kalau hal yang rumit tapi kelihatan sepele ini saja Dia pikirkan, mengapa saya harus khawatir? Mengapa harus takut menghadapi masalah? Dia toh akan selalu ada. Dan Dia mengerti apa yang saya hadapi. Dia cuma ingin saya... PERCAYA. Simple, yet difficult. To do. Tapi saya mau. Kalau bukan Dia, siapa lagi yang harus saya percaya?

Thursday, 10 July 2008
9:38 am

stasiun tivi oh stasiun tivi

Kemarin saya nonton berita. Enggak nonton sih, tapi dengar. Karena jam-jam segitu saya biasanya lagi suapin dinner anak saya. Dan saya tidak membiasakan anak saya makan sambil nonton tivi. Makanya ruang makan dan ruang tengah di rumah saya ini terpisah. Yang saya dengar dari berita di tivi itu adalah peringatan buat masyarakat untuk bersiap-siap menghadapi naiknya (lagi!) harga BBM dunia dan gas elpiji. Saya heran juga sih, berita nih jarang ya ada yang bagus gitu. Kalau nggak kenaikan harga ya, demo di berbagai tempat. Seolah-olah itu belum cukup, ya masih ada orang-orang yang bikin kerusuhan kayak pembunuhan, bikin geng yang bullying temen-temennya. Malah katanya baru-baru ini ditangkap tertuduh anggota teroris. Wahhh... nggak ada yang bikin hati adem tentrem deh.... Saya ingat nih ada stasiun tivi yang pernah menayangkan program judulnya GOOD NEWS. Jadi isinya tuh berita-berita baik semua. Tapi kayaknya cuma sebentaran doang tuh. Mungkin nggak dapat rating yang bagus ya? Orang-orang lebih suka mendengarkan berita yang jelek-jelek di kuping. Lebih terbiasa dengan kisah-kisah yang bikin miris hati.

Pada waktu itu juga, program berita ini menayangkan bapak presiden yang menghimbau masyarakat supaya hemat energi, macam BBM, listrik dan air. Dan uniknya, para jurnalis ini memperlihatkan beberapa rumah dan kantor para pejabat yang justru tidak hemat energi. Yang air mancurnya menyala sepanjang hari. Yang lampunya terus menyala di siang hari dengan matahari yang terik. Yang mobil dinasnya terus meluncur di jalanan seharian. Pendeknya, stasiun tivi ini juga ingin mengatakan, jangan cuma rakyat saja yang diharuskan hemat energi, om presiden! Anak buah situ juga!

Sayang seribu sayang, di stasiun tivi yang sama dengan menayangkan program tersebut, ditayangkan juga program entertainment yang membutuhkan SMS yang sebanyak-banyaknya dengan tarif premium, yang artinya per SMS dikenakan biaya IDR 2000. Jadi supaya idola anda tidak turun, ya SMS sebanyak-banyaknya dong. Peduli setan lu abis duit berapa. Peduli amat duit belanja lu abis buat beli pulsa. Yang penting idola lu nggak turun dari panggung. Kontradiksi? Banget! Di zaman susah kayak begini, yang mana harga pada naek semua, kok ya masih ada program yang mengeruk habis uang hanya untuk SMS supaya idolanya nggak turun! Kalo SMS dan teleponnya gratis sih nggak masalah! Lha ini? Malah saya pernah baca ada yang begitu fanatiknya dengan salah satu kontestan sampai dia beli pulsa habis IDR 1.000.000 (hitung tuh nol-nya!) hanya supaya kontestan yang dia sukai itu enggak pulang kampung dan jadi idola lokal. Tidak jadi idola nasional. Terus terang aja sih, saya suka aja nonton acara kayak beginian, tapi tanpa drama-dramaan lho ya! Nggak pake acara tangis-tangisan bombay pula! Saya juga pernah ikutan SMS. Tapi abis itu saya mikir juga... ngapain lagi saya ikutan SMS kayak begini? Misalkan dia menang lho, memangnya dia tahu saya ikutan SMS? Enggak kan? So, what for? Jadi akhirnya saya hanya duduk sebagai penonton pasif di depan tivi. Itu pun akhirnya nggak jadi tayangan wajib tonton, karena jam-nya pas dengan latihan teater. Ya mending saya pilih latihan teater, dapet ilmu dan bisa ketemu en ngobrol ama temen-temen di teater.

Itu baru salah satu program entertainment stasiun tivi itu lho! Belum sinetronnya, yang kadang-kadang rubbish banget ceritanya. Yang isinya cuma mikirin kisah cinta india-nya aja. Jadi saya balik aja deh, jangan cuma pemerintah dan pejabat yang disorot buat hemat energi, pak direktur tivi ***I, sampeyan juga kasi program yang bikin rakyatnya berhemat juga dong!

Friday, 4 July 2008
10.15 am

seorang asing di kampung halamannya

Minggu lalu saya pulang ke hometown saya. Saya memang sudah jarang sekali pulang. Ya gimana bisa sering, Surabaya-Pekalongan tuh harus ditempuh 10 jam perjalanan kalau naek mobil. Kalau naek kereta api, harus ada yang jemput di stasiun pake mobil. Harus pakai mobil, karena saya bawa anak kecil yang berarti barang bawaan saya segambreng. Kalo naek becak... *coz disana ga ada taxi!*, mau berapa becak coba disewa? Terus kalo naek pesawat... SEJAK KAPAN Pekalongan ada bandara?? Jadi akhirnya balik Pekalongan juga kudu naek mobil pribadi.

Waktu mobil mulai memasuki kota Pekalongan, saya celingak-celinguk *itu setelah dibangunkan oleh hubby, saya ketiduran!*. Banyak yang sudah berubah. Jalan yang dulu boleh dilewati mobil, sekarang nggak boleh. Enggak tahu kenapa. Sekolah yang dulu kumus-kumus, sekarang sudah direnovasi jadi bagus banget. Rumah tetangga yang kelihatan kumuh, sekarang udah dibetulin. Sampai penasaran saya, apa dalamnya juga sebagus luarnya. Pas saya lewat dan kebetulan buka, astaganaga, cuma luarnya doang yang diperbaiki, dalamnya masih persis seperti dulu. Hehehe... Betul kan? Don't judge book by its cover deh, hehehe.

Itu baru bangunan-bangunan dan suasana kotanya lho! Belum orang-orangnya! Kalo orang-orangnya, dilihat dari penampilan sih kebanyakan nggak berubah. Yang berubah ya mereka yang dulu saya kenal waktu kecil, sekarang sudah pada tinggi-tinggi semua. Udah jadi remaja. Tapi ibu-ibu yang jualan ember di pinggir jalan dekat rumah saya juga penampilannya masih gitu-gitu aja. Teman-temannya mami saya di gereja juga penampilannya masih gitu-gitu aja, nggak banyak yang berubah. Yang berubah adalah sikap mereka terhadap saya! Begitu lihat saya, mereka cuma say hello, tapi sepertinya enggan untuk elaborate. Selebihnya cuma bisik-bisik sambil nunjuk-nunjuk saya dan anak saya. Ada yang cuma say hello dari kejauhan tapi tidak mendekat untuk sekedar berbasa-basi. Malah ada yang cuekin saya. Tapi ada juga yang menyapa saya dan bilang saya banyak berubah. Maksud mereka tentu saja penampilan saya. Padahal seperti yang teman saya si Desi bilang: itu cuma chasing doang!

Saya nggak sepenuhnya nyalahin mereka, sih. Memang saya yang jarang pulang. Kalau pulang pun saya jarang kumpul-kumpul lagi sama mereka. Lebih suka wisata kuliner aja. Soto tauco pak Dullah. Nasi pecel Yu Mas. Bakso Dullah. Mie pangsit mpek Hoo. Es Duren jalan Merak. Mungkin aja buat mereka saya sudah jadi orang asing, dan karena itu saya jadi merasa saya asing di kampung halaman saya sendiri.


Tak apa lah. Saya tahu perubahan-perubahan akan selalu ada. Mau tidak mau, keberatan tidak keberatan tentu saja saya harus menghadapinya.


I still love my hometown, anyway.

Thursday, 3 July 2008
12:24 pm