RSS

misus jimmy

Ada seorang wanita tua yang luar biasa di gereja saya. Tiap minggu, dia biasa datang dengan anak laki-lakinya (temen saya tuh) atau anak perempuannya. Bergantian. Kadang-kadang dia datang di kebaktian pukul delapan, seringkali pula datang pukul sepuluh. Yang bikin saya bilang dia luar biasa adalah, tiap minggu meskipun jalannya sudah sulit dan harus menggunakan alat bantu (pernah kena stroke, jadi bagian tubuh sebelah kanan sulit untuk digerakkan), dia tetap bersemangat dan rajin ke gereja. Yang bikin dia lebih luar biasa lagi, kalau di gereja dia berusaha menyapa semua orang yang dia kenal. Saya adalah salah satunya. Kadang-kadang dia menarik tangan saya untuk menanyakan kabar saya atau anak saya, atau bahkan juz ngomong Selamat Hari Minggu. Saya aja jarang sekali ngomong Selamat Hari Minggu bahkan ke orang-orang yang saya kenal. Tapi yang bikin dia lebih lebih luar biasa lagi, dia bisa mengingat dengan baik ulang tahun orang-orang yang dia kenal dan tiap Natal, dia biasa juga mengirimi kartu natal sederhana kepada mereka. Saya pernah melihat dia kasi kartu natal kecil ke mama mertua saya. Saya pernah melihat juga dia kasi kartu selamat ulang tahun ke tante saya. Dan baru minggu yang lalu, saya dikasi kartu ucapan selamat ulang tahun buat anak saya Vinn. Dan istimewanya, kartu itu ditulisnya sendiri!!

Saya terharu bukan main waktu menerima kartu ucapan tersebut. Sudah begitu, dia juga bilang, "Maaf telat kartunya." Coz memang ulang tahun Vinn udah 12 Maret yang lalu, dan dia kasi itu baru minggu lalu. Kartu ucapannya memang mungil. Gambarnya juga tidak istimewa. Tapi kartu itu jadi luar biasa istimewa karena pada kartu mungil itu terdapat perhatian yang beraroma cinta kasih. Dari dia pula saya belajar, bahwa perhatian tuh bisa diberikan kepada setiap orang, nggak perlu dengan hadiah-hadiah mahal atau traktir di restoran mewah tapi hanya dengan senyum dan sapaan, kita bisa kasi perhatian ke orang-orang yang kita kenal. Mungkin nggak usah kasih kartu ucapan selamat ulang tahun atau selamat natal deh, tapi misal dengan SMS atau ucapan langsung.

Nama wanita tua yang luar biasa itu: Misus Jimmy alias Tante Jimmy. Buat kalian yang pergi ke gereja saya di GKI Jemursari, Surabaya, pasti deh kalian tahu.

Tapi yang bikin saya heran juga... anaknya kok nggak gitu ya?? Hehehehe....

Friday, 28 March 2008
9:22 am

how to tag??

I've got a tag from Icha weeks ago. Well, honestly, that was my first tag, so I did not know how to respond and reply and do the tag. I have told Icha about that, but it seems she is still expecting me to do something about the tag =). So, instead of using my application program in the computer to say something in the small picture, I will do it in my way. Hey, I like to do something different, rite?

So Icha..., this is only for you, coming out from the deepest heart:


I miss you, Ichaaaa... hueeeee!!!!! Even though you sometimes annoyed me... even though you were sometimes stormy... even though you sometimes liked to exaggerate something... I still miss you. I miss the way you manage to do the tasks I'd given to you, I miss you sitting in front on the usual computer and grumbling about the slow process of every application program, I miss to have lunch together with you, I miss your talkativeness, in short: I miss everything about you...!!! Come back, Chaaaaa................


Hosh hosh.... So? Is it a too-long tag? Or is it more like a message than a tag? Whatever... . For Icha... please come back to where you belong!!!!

Wednesday, 26 March 2008
8:56 am

PS: This is why this posting is purple, coz purple or pink always reminds me to Icha, hehehehe.

forgive and forget


This Easter, I have found a new me.

For me, Easter had always been busy weeks, splendid occasions and eggs (lots of eggs!). Yet, this Easter, I've got something
more than those three things.

Moving in my new house was one thing. But, who knew that the moving in could bear a problem, which had been buried for years and nobody but God knew that it had been wildly growing?


From time to time, actually, Easter only means two BIG things: FORGIVEN and FORGIVING. It seems that simple, but it is NOT simple at all. Forgiving is not simple, yet is not easy as well. Jesus has died on the cross so that all people in the world could be forgiven so that their sins be washed away. And His Death was not painless. It was very painful, extremely deadly and extraordinarily cruel. My problem (I mentioned above) dealt much with the two big things. And I just realized that I almost hated that person. We had a quarrel (not just quarrel), nearly the same with our last one few years ago (and we still remembered it, for goodness' sake!!). While we thought we finished the problem, I still planted my hatred to her. I still feel to dislike her from time to time. Until the day came....


I went to church a week before Easter. The sermon talked about being like Jesus. To be like Jesus - according to the sermon - is to be ready to be a better being, a better human. We need to let God to touch our heart, spread peace inside and change us. God sometimes seems to let us deal with big problems, but behind it, there is something very precious to be learned.

A week after that, I had to get ready to become Worship Leader, which meant I had to prepare not just the liturgy but also my heart. With hatred planted and wildly grown in it, how could I be a blessing? Slowly but sure, God had been guiding me to celebrate Easter from old angle. It was no longer about busy weeks, splendid celebrations, nor eggs, but how to forgive and... forget. I have learned that God always forgives my sins and mistakes, but what if he remembers all those sins and mistakes? I just could not afford to imagine! When the big God has forgiven and forgotten my sins and mistakes, then why should I not forget the person's mistakes? Why should I plant hatred in my deepest heart? Why should I remember every terrible words coming out from her mouth just because she also remembered our quarrel few years ago and makes sure that she will not forget this one as well? Why should I? As though I haven't been forgiven by God... as though I were not Christian... as though my sins haven't been forgotten by God....


Now I came to think about this. I don't want to care about her remembering our quarrel few years ago and few weeks ago. For short, I don't care if she might hate me and forgive all things I have done but not to forget. That is her business with God. But this... this is my business with God - that I want to live with peace. I want to live without the hatred planted and grown in my heart. I want to forgive and forget, just like what God has done for me. I want to be a better being, to be like Jesus. Well, I know I will never be like Jesus, but at least I will try my best to always be a better human - to always reach the next levels He has provided for me.

Welcome back, new me.... Happy easter, all!!

Tuesday, 25 March 2008
1:29 pm

sekolah dan laskar-laskarnya

Kerja di sebuah institusi pendidikan tidak lantas menyebabkan saya dapat melihat kecintaan dan gairah belajar yang besar. Berulang kali saya harus mengelus dada, karena dari sekian ribu mahasiswa yang kuliah di tempat saya bekerja, barangkali hanya segelintir yang betul-betul punya niat untuk belajar. Padahal untuk dapat kuliah disini, diperlukan merogoh kocek yang tidak sedikit. Saya mengelus dada lebih keras lagi ketika nonton film: Denias, Senandung di Atas Awan hasil kolaborasi antara Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen dan baca buku tetralogi: Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Sekilas film ini tidak ada hubungannya dengan buku tetralogi tersebut. Penulisnya juga lain. Tetapi film dan buku ini sama-sama bercerita tentang kisah nyata seseorang yang berjuang dalam hidupnya untuk memperoleh pendidikan yang layak.



Denias mengambil setting di Papua, sambil memamerkan keindahan alamnya yang masih hijau. Film ini bahkan berhasil mengambil gambar sebuah pelangi yang sudah tidak pernah saya nikmati lagi sejak saya tinggal di Surabaya. Bagusssss sekali. Menonton film ini membuat saya bernafas lega, karena masih ada tempat seindah itu di Indonesia ini. Sayang sekali keindahan seperti itu sering diabaikan. Orang-orang lebih memilih hijrah ke Jakarta yang katanya lebih modern. Semakin modern, semakin bagus, katanya. Lebih menjanjikan. Katanya. Lebih dekat ke pemerintah pusat, jadi kalau ada apa-apa, mau protes, gampang. Tinggal ngejogrok di depan kantor pemerintah pusat atau kantor kepresidenan sambil mengibarkan spanduk-spanduk dan berorasi. Barangkali lebih baik terabaikan seperti Papua, karena dengan terabaikan itu, Papua masih jauh dari tangan-tangan jahil yang gatal menggerus pepohonan, padang rumput, hutan menjadi gedung bertingkat, perumahan mewah, lapangan golf dan mal. Cukuplah saya membandingkan Jakarta dengan Papua. Saat ini saya mau bercerita tentang seorang DENIAS. Dia pernah menulis di sebuah buku untuk diberikan pada gurunya ketika ia mengajukan keinginannya untuk bersekolah di sekolah kota. Begini bunyinya. Nama saya Denias. Mama saya suruh saya sekolah. Karena dia bilang gunung takut pada anak sekolah. Tapi kenyataannya untuk bersekolah pun bukan sesuatu yang mudah buat dia. Sebagai seorang anak laki-laki dan tinggal bersama-sama orang-orang sekampungnya dengan adat tradisional yang kental, ayahnya berharap ia tinggal bersama ayahnya untuk membantu ayahnya bekerja. Sekolah terdekat di kampung Denias hanyalah sebuah gubuk rentan beratapkan jerami yang jika terkena angin kencang barangkali akan segera rubuh. Jarang pula seorang guru mau ditempatkan di pedalaman seperti itu. Satu-satunya guru yang mau, harus kembali ke Jawa karena istrinya sakit. Yang menggantikan guru tersebut hanyalah seorang tentara, yang tak lama kemudian harus memenuhi panggilan tugasnya di luar Papua. Tetapi keinginan Denias untuk mendapatkan pendidikan yang layak begitu besar. Gairah belajarnya luar biasa. Luar biasa besar sehingga ia memutuskan untuk lari dari rumah, ke kota yang jauhnya bermil-mil supaya bisa sekolah di sekolah yang bagus. Tetapi untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan belajar di sekolah yang bagus pun tidak mudah bagi Denias. Karena ia miskin, ia tidak punya uang untuk membayar uang sekolah. Karena miskin itu pula, seorang temannya, anak kepala suku menganggap ia tidak layak bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Pendeknya, anak kampung ya nggak usah mimpi mau sekolah! Tapi, kerasnya niat Denias buat sekolah bikin ibu guru di sekolah kota itu terenyuh. Sayangnya tidak semua guru ikut terenyuh. Lebih banyak yang lebih suka mengikuti prosedur yang berlaku daripada bersusah-susah memperjuangkan satu anak kampung yang kepengen sekolah.



Lain lagi dengan buku tetralogi: Laskar Pelangi. Mengambil setting di Belitong, tempat terabaikan lain di Indonesia, Laskar Pelangi juga bercerita tentang anak-anak yang mau belajar dan berotak cerdas tetapi harus berjuang keras supaya bisa sekolah. Sepuluh anak, salah satunya adalah penulis sendiri, bersekolah di gubuk doyong *juga* dengan keadaan sekolah yang separuh rubuh, padahal tak jauh dari situ, berdiri sekolah mewah bertajuk SEKOLAH NEGERI. Sekolah itu tentu saja hanya buat mereka yang berduit, yang mampu menyekolahkan anak-anaknya tanpa khawatir jumlah angka yang harus dibayar. Tetapi, sekolah di bangunan yang separuh rubuh tidak lantas menyebabkan sepuluh anak laskar pelangi ini berhenti belajar. Justru sekolah yang megap-megap nafasnya itu *setiap saat khawatir akan ditutup karena kurang murid* melecut semangat anak-anak itu. Penulisnya sendiri seolah-olah ingin nimbrung beropini bahwa kecerdasan tidak hanya diukur dari kepandaian di bidang tertentu macam matematika, fisika, kimia, atau pelajaran yang butuh daya ingat dan ketelitian tinggi, tapi juga mereka yang punya jiwa seni yang cukup tinggi meskipun nilai matematikanya bobrok. Mereka yang tidak punya daya ingat cukup kuat untuk menghafal tapi mampu memimpin kelas dengan baik. Bahwa sekolah tidak hanya untuk mereka yang berduit, tapi untuk mereka yang mau belajar dan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.

Saya prihatin dengan anak-anak orang kaya yang kuliah di tempat saya bekerja ini. Masuk ke kelas hanya untuk duduk terkantuk-kantuk atau bergosip dengan teman-teman satu genk atau mencoret-coret kertas atau ribut sendiri. Datang terlambat, klewas-klewes. Waktu ujian, malah curi-curi kesempatan untuk kerjasama dengan teman. Kalau diberi tugas, dibuatnya asal-asalan, jiplak sana, contoh sini, yang penting selesai dan dijilid rapi, nggak peduli biarpun isinya sampah. Awas saja buat bapak dosen kalau tetap dikasi nilai jelek. Dosennya nggak masuk, malah bersukacita, seperti dapet rejeki nomplok, padahal mereka bayar untuk kuliah disini. Kalau dosennya masuk terus malah menggerutu, dosen kok rajin betul, tidak memberi kesempatan buat mahasiswa-mahasiswinya yang manis ini untuk santai sejenak, libur. Saya heran. Saya prihatin. Saya gregetan. Banyak orang diluar sana yang kepengen kuliah saja tidak mampu, cuma bisa sampai SMA. Boro-boro SMA, lebih banyak lagi yang nggak tamat SD dan SMP. Terus kalau sudah begini, salah siapa? Mau dibawa kemana generasi-generasi bangsa ini?


Belajar tidak harus di sekolah yang bagus. Dari sekolah yang hampir separuh rubuh pun bisa menghasilkan laskar-laskar penerus bangsa.


Monday, 10 March 2008
11:32 am

"You're never too old to learn..."

saya, boss saya dan institusi X



Saya sangka institusi segede gajah gitu ramah pelayanannya, ternyata ajubileh....


Gini nih. Kamis lalu saya diundang rapat ke Institusi X. Institusi ini mengajak kita untuk kerjasama suatu acara. Di undangan tertulis:

Hari/Tanggal : Kamis, 28 Februari 2008

Waktu : 13.00 - selesai

Tempat : Gedung Perpustakaan lt. 6, Sekretariat ABC

Maap beribu maap kalo banyak yang saya samarkan. Ini saya lakukan untuk menjaga harkat dan martabat institusi tersebut, biarpun saya tidak dibayar.
So, karena undangannya mengatakan rapat dimulai pukul 13, jadi pukul 12 lewat sedikit, saya dan boss sudah meluncur di jalan. Kami sampai disana pukul 13 kurang dikittttt. Oleh sang sopir yang baik hatinya, kami diturunkan persis di depan gedung perpustakaan. Nggak persis-persis amat sih, soalnya depan gedung itu lapangan ijo. Trus sampe dah kita di dalem gedung perpustakan-nya. Tolah-toleh, akhirnya saya mutusin untuk tanya petugas perpus (ibu-ibu berkerudung merah, eh putih ding!).

Saya : Permisi, Bu. Kami diundang rapat. Tempatnya di gedung ini, sekretariat ABC. Itu dimana ya, Bu?
Ibu : (mikir dulu) Oh, itu (jarinya nunjuk keluar), ntar belok kiri.

Saya : Lho, tapi di suratnya tertulis di gedung Perpustakaan lt. 6.

Ibu : Oh, kalo gitu, masuk aja (jarinya nunjuk ke arah kanannya dia), ntar ada lift, naek lift itu ke lantai 5. Dari lantai 5 ke lantai 6 cuma bisa naik manual, soalnya lift-nya baru rusak.

Saya : (sambil mikir
kok aneh betul yak)

Ya disitulah saya, masuk ke ruang dalamnya perpustakaan sambil celingak-celinguk kayak lutung. Untung aja, liftnya gampang ditemuin. Sampai di lantai 5, kita celingak-celinguk lagi. Kali ini kayak monyet. Kemana pula tangga menuju lantai 6? Nah, tu dia. Di pintu tertempel kertas kusut. Tertulis diatasnya: TANGGA KE LANTAI 6. Kita buka pintunya... eng ing eng... ternyata tu tangga kayak tangga darurat gitu modelnya. Udah gitu, suasananya jadi serem bok. Abisnya banyak sarang laba-laba *halah kayak ada laba-labanya aja, ngomong aja
sawangen*, trus pegangan tangganya tu warna biru kehitam-hitaman alias kotor bok. Tembok-temboknya keliatan banget kalo udah lama tak tersentuh kain pel atau kain pembersih. Lantainya apalagi. Tak tok tak tok... bunyi langkah kami, bukan bunyi langkah kuda! Berasa di rumah berhantu ajah. Akhirnya sampailah kita di lantai 6. Karena kebelet pipis, saya sempatkan mampir ke toilet yang seramnya hampir mirip dengan tangga tadi. Kalau dibuat untuk lokasi syuting MAHASISWI NGESOT cocok kali ya. Tapi apa daya alam memanggil maka tidak saya hiraukan keseraman toilet tersebut. Bagaimana dengan suasana diluarnya? Singggg..... sepi bok! Lengang banget! Kita celingak-celinguk lagi. Kayak lutung lagi. Trus ada empat mahasiswa di ujung sono, kami hampiri.

Saya : Permisi, sekretariat ABC sebelah mana ya?

Mahasiswa 1 : Sekretariat ABC (wajah bingung sambil nengok ke teman-temannya)

Mahasiswa 2 : Nggak ada sekretariat ABC, Mbak *sialan, gua dipanggil mbak pula*.

Bos saya : (Nyebutin kepanjangannya ABC)

Mahasiswa 3 : Coba tanya aja ke ruangan situ, Bu (sambil nunjuk ke ruangan pojok dengan pintu yg terbuka)


Di pintu itu tertulis: RUANG MULTIMEDIA. Ada dua ibu muda disana. Dan keduanya malah bingung, yang kayaknya mikir kalo kita berdua nih udah salah alamat alias nyasar. Baru setelah bos saya nyebutin kepanjangan ABC itu, baru ngeh dia kalo kita nggak salah alamat, apalagi nyasar! Dia telepon entah-siapa trus kasi tau saya dan boss saya kalo rapatnya tuh ternyata di Ruang Teater depan puskom. Info-nya cuma itu. Lah mana kita tahu ruang teater itu dimana? Puskom itu dimana??? Kita kan bukan orang situ?? Kita nih TAMU, ingat?? Boss saya tanya, apa masih di gedung Perpustakaan ini? Dia jawab, iya masih satu gedung. Di lantai 1. Jadi? Jadi? Sia-sia nih kita berseram-seram ria naek haunted stair itu?? Ya udah, akhirnya kita turun lagi ke lantai 5. Dari lantai 5 turun pake lift yang ukurannya cuman 2x1 meter.
Pas mau keluar dari perpustakaan, ada bapak-bapak yang jaga pintu keluar *bukan satpam lho*. Dia memandang kita dengan aneh. Trus kita tanya.

Saya : Ruang teater sebelah mana ya, Pak?

Bapak : Ruang teater apa, Bu? (sambil memandang kami seolah-olah mau ngomong ruang teater yang mana? ruang teater disini tuh banyak, tercecer dimana-mana.)

Saya : Kami ini diundang rapat di ruang teater. Depannya puskom.

Bapak : Oooo... ruang teater A?
Boss saya : (sedikit kesal) Ya nggak tahu, Pak. Kami ini bukan orang sini, orang luar.

Bapak : (dengan nada setengah ngajari) Itu ruang teater A, Bu. Ibu keluar aja dari gedung ini, terus belok kiri, kalo notok, belok ke kanan. Itu ada gedung puskom, depannya itu ruang teater A.

Saya dan boss saya : (sambil nggondok) Terima kasih, Pakkkkk!!!!

Let's get the hell out of here!!!! Buset dah! Niat ngundang nggak seh???? Udah jam rapatnya nggak disebutin selesai jam berapa, ruangnya dimana nggak jelas. Emang kita nganggur??? Akhirnya tanpa ba bi bu, tanpa mencari gedung puskom, mo ruang teater A kek, ruang teater B kek, ruang tekek kek, kaga peduli!!! Pulang!!!!! Kembali ke kantor!!! Masih banyak yang harus diselesaikan!!!

Moral yang didapat dari pengalaman ini: Kalau dapet undangan, lihat dulu jam dan tempatnya, kalo udah jelas yang dituju baru berangkat deh!

Wednesday, 5 March 2007
2:57 pm