RSS

misterius?

Hujan sering bikin saya melankolis. Apalagi hujan yang dibarengi dengan angin seperti sekarang ini. Bikin saya sakit perut (eh, ga ada hubungannya ya?). Kalau masyarakat Tiong Hoa mengatakan hujan sama dengan mendatangkan banyak rejeki (bagaimana dengan banyak anak?), saya malah kadang-kadang berpikir bahwa hujan pertanda Tuhan sedang menangis. Entah itu menangis karena terharu atau menangis karena sedih. Silly kan? Dan kalau sedang konyol seperti itu saya suka bertanya-tanya sendiri kira-kira Tuhan menangis karena apa ya? Tapi karena Dia Tuhan yang misterius, maka saya yakin jawabannya lebih daripada sekedar menangis terharu atau menangis sedih. Mengapa harus memilh satu jika bisa memilih dua? Atau mengapa harus memilih satu atau dua jika tidak bisa memilih? Hujan juga bisa pertanda sudah waktunya mengairi tanah yang kering!

Ini mengingatkan saya pada percakapan saya dengan bapak pendeta saya yang masih muda itu. Rasa-rasanya waktu itu kami sedang bicara tentang homoseksual. Dan seingat saya, kami tidak bicara tentang benar salahnya, kami bicara di luar itu. Padahal barangkali jika saya bicara masalah itu dengan yang lain, percakapannya biasanya berkisar antara benar dan salah yang kemudian berakhir dengan perdebatan. Dia akan bilang bahwa homoseksual itu salah dan saya akan bilang bahwa homoseksual belum tentu salah! Ah, saya tahu ini memang kebiasaan buruk saya. Tiap kali membicarakan masalah-masalah semacam ini, saya lebih senang menjadi antagonis daripada protagonis. Hei, hidup lebih seru jika ada antagonis-antagonis seperti saya kan? Ya kan? Ya kan? Ibaratnya, jika sedang musim rambut di-rebonding, saya akan tetap mempertahankan rambut ikal saya. Dan jika musim rebonding lewat, diganti musim rambut keriting, saya malah akan meluruskan rambut saya. Nah lho.

Oke, balik ke pembicaraan saya dengan bapak pendeta mengenai homoseksual. Dia malah mengajak saya berpikir bahwa hidup kadang-kadang tidak harus memilih ya saja atau saja, boleh saja tidak boleh saja dan hal-hal antonim lainnya. Kadang-kadang malah hidup harus memilih untuk tidak memilih. Dan saya senang diajak berpikir demikian. Mengapa harus memilih satu jika bisa memilih lebih? Mengapa harus memilih untuk memilih jika bisa tidak memilih? Meskipun mungkin saja orang lain bakal bilang saya plin-plan. Tapi saya tidak plin-plan (memangnya ada pencuri yang ngaku jika dituduh mencuri? hehehe), lebih tepat dibilang saya ini conditions-apply-person (dan pencuri itu ngakunya kalo dia Robin Hood, hehehe). Ada satu waktu saya harus bilang ya, dan di waktu yang lain saya harus bilang tidak untuk sebuah kasus yang sama.

Hidup memang nggak bisa ditebak. Seperti sekarang ini. Baru beberapa menit yang lalu saya bilang ke hubby kalau akan ada badai. Langit gelap, gerimis, petir bersahut-sahutan dan angin kencang. Bukankah itu tanda-tanda badai? Tapi tidak. Saat ini gerimis sudah berhenti dan tak lagi terdengar suara petir. Langit memang tetap gelap, tapi bukan karena akan ada badai tapi karena memang sudah waktunya matahari balik kandang, eh keliru, sudah waktunya matahari kerja di wilayah lain di bumi ini. Kata siapa matahari punya waktu untuk beristirahat? Tidak. Dan bahkan cuaca yang tidak bisa ditebak ini pun membuktikan bahwa Tuhan memang misterius. Terkadang tidak bisa ditebak.

Jadi jika ada yang teriak: "Saya enggak akan pernah ngerti Kamu, Tuhan!", itu bisa dimengerti. Karena jika Tuhan betul-betul bisa dimengerti, Dia bukan lagi Tuhan. Kalau menurut saya karena Dia misterius itu makanya Dia adalah Tuhan.

Kenapa langit kok biru? Kenapa kok hidung bule lebih mancung dari hidungku? Kenapa rumput warnanya ijo, kok bukan merah? Kenapa manusia bisa bernafas tanpa berpikir (padahal proses-nya bisa sangat ruwet di dalam)? Kenapa bumi berputar tanpa kita jatuh dan merasakannya? Kenapa bentuk tubuh laki-laki beda dengan perempuan?

Misterius, memang. Tapi justru karena itu saya percaya padaNya.

Saturday, 30 January 2010
4:48 pm

hidup seperti kentut

Kadang-kadang saya merasa hidup ini seperti kentut. Putu Wijaya boleh bilang kematian lah yang seperti kentut karena suka datang tiba-tiba. Tapi menurut saya, hidup juga kadang-kadang seperti kentut. Tidak selalu, hanya kadang-kadang saja. Ada waktu-waktu dimana bagaimanapun saya kepengen menahan kentut itu keluar dan menganggu kenyamanan orang lain, kalau memang harus keluar ya keluar. Ibaratnya kapan saja saya kentut, itu sudah tertulis di catatannya Yang Di Atas. Enggak bisa dihindari.

Kayak saya sekarang ini. Kalau memang sudah waktunya saya harus menghadapi masalah, ya sepertinya kok memang harus saya hadapi. Sudah waktunya. Saya sering merasa enggak siap dan protes waktu dikasi masalah. Tapi begitu dikasi berkat mana ada protesnya (manusia banget..,eh salah, saya banget). Barangkali ini yang dinamakan keadilan Tuhan.

Tapi selain hidup itu terkadang seperti kentut, hidup juga adalah pilihan. Saya harus memilih untuk lari dari masalah-masalah ini, diam saja dan membiarkannya terkatung-katung atau menghadapi dengan tegar - pecahkan! Bahkan jika saya memilih untuk menghadapi pun saya tetap harus memilih, menghadapi sambil ngomel sana ngomel sini alias cari masalah juga dengan yang lain alias bikin yang lain yang tadinya fine-fine aja jadi bermasalah atau menghadapi dengan tenang, kalau memungkinkan dengan senyum (hell, seperti kaum munafik gitu?). Saya nggak bilang kalau menghadapi masalah sambil tetap senyum itu munafik. Jujur saja saya sering gagal untuk tetap tersenyum ketika menghadapi masalah. Tapi pernah suatu kali, ketika masalah saya hadapi dengan kepala dingin, membiarkan para sahabat membantu dan itu semua dijalani dengan senyum, entah bagaimana masalah tersebut jadi enggak terlalu berat. Saya enggak bohong.

Suatu waktu, saat saya sedang menyebalkan karena ngomel sana ngomel sini, saya enggak puas dengan apa yang sudah ada, dengan yang sudah saya punya. Atau saya masih saja protes kenapa sih Tuhan saya enggak boleh punya gaya hidup seperti dia yang mau belikan anaknya barang mahal sekalipun bisa tanpa perlu menabung dulu, makan tiga kali sehari di resto-resto mahal dan punya mobil pribadi yang bisa dipakai sesuka hati (ya, Tuhan, saya protes! hehehe). Dan di saat-saat seperti itu saya diijinkan melihat sebuah pemandangan yang bikin miris hati. 

Kalau saya mengantar anak saya sekolah, saya selalu melewati perempatan lalu lintas itu. Semuanya masih sama pada hari itu, sampai mata saya tertumbuk pada seorang gadis kecil yang berdiri di dekat lampu lalu lintas. Saya tebak usia gadis kecil itu belum lagi 2 barangkali dilihat dari cara berdirinya yang kurang stabil. Dia bermain-main dengan bungkusan gorengan milik ibunya yang menjajakan koran kepada para pengemudi mobil. Di dekat gadis itu ada payung yang di bawahnya digelar kain lusuh, dimana suatu ketika saya pernah juga melihat gadis kecil itu tidur nyenyak dibawah payung itu, diatas kain lusuh itu. Saya tertegun. Dan saya mendongak keatas dan bilang dalam hati, ampuni saya atas ketidaktahudirian saya, Tuhan! Saya memang tidak tahu diri. Seberapa beruntung saya dibandingkan dengan wanita penjual koran itu tadi? Seberapa beruntung anak saya dibandingkan dengan gadis kecil itu tadi? Siapa yang bilang masalah saya paling besar, enggak ada yang bisa menandingi? Siapa?

Itulah sebabnya, saya enggak terlalu suka terus-menerus melihat keatas, melihat orang-orang yang 'lebih'. Saya lebih suka lihat ke bawah dan senantiasa bersyukur atas apa yang sudah diberi. Maka yang sering saya lakukan adalah melihat ke atas jika ingin mencapai sesuatu dan melihat ke bawah untuk diingatkan kembali atas segala berkat yang sudah saya terima.

Hidup boleh seperti kentut, tapi jika kentut itu benar terjadi pilihan apa yang harus saya ambil? Menyalahkan orang lain? Minta maaf jika bau? Atau segera diobati? Semuanya ada di tangan saya. Dan saya jelas tidak ingin meniru nenek moyang saya si Hawa yang nyalahin si ular atas keputusannya sendiri memakan buah terlarang itu. Setidaknya, saya akan berusaha.

Thursday, 28 January 2010
7:23 pm

i think i still love..

Saya sedang berpikir. Barangkali saya salah, tapi barangkali juga saya enggak salah (meskipun tidak sepenuhnya benar). Saya memang ingin sekali tinggal di luar negeri. Saya ingin kembali ke Australia. Dan kenyataan bahwa saya suka tinggal disana dan sering membanding-bandingkan dengan kehidupan disini barangkali membuat jengah. Ada yang bilang saya mengagung-agungkan negara tertentu. Ah, barangkali benar, barangkali juga tidak terlalu benar.

Tapi kenyataan yang betul-betul asli dan enggak main adalah ini: saya cinta Indonesia. Berapa kali saya menangis dan merindukan Indonesia saat saya disana. Tak terhitung. Dan tanyalah pada teman-teman dekat saya, makanan apa yang menjadi favorit saya. Bukan, bukan pizza, bukan steak, bukan keju (yaiks! saya benci keju! saya bilang, keju itu mambu sikil >> bau kaki, coba aja cium kaki kalian, terus cium keju-nya, kan sama tuh baunya). Saya cinta makanan Indonesia. Saya tersiksa setengah mati karena ternyata masak ala Indonesia itu mahal dan susah disana. Tapi saya enggak peduli, saking cintanya lidah saya dengan masakan Indonesia.

Saya memang keturunan cina, tapi saya enggak bangga dibilang keturunan cina. Apalagi saya pernah mengalami diteriakin "Cina!" oleh segerombolah anak-anak laki-laki yang tidak saya kenal sama sekali. Dan saya sakit hati. Bahwa saya enggak bangga dibilang keturunan cina bisa dibuktikan dengan saya enggak suka nonton film mandarin. Enggak suka belajar bahasa mandarin. Bahkan untuk sekedar bilang jumlah uang dengan bahasa cina paling sederhana pun saya masih mikir. Makanya, hubby sering bilang saya casingnya aja yang cina, dalamnya Indonesia banget.

Saya akui, banyak kritikan saya ajukan ke negeri ini. Kenapa? Karena saya cinta! Saya enggak mengkritik negara lain, karena saya enggak peduli! Dan seandainya saya kadang-kadang terlihat membandingkan, itu karena menurut saya ada baiknya sesuatu yang baik dari tetangga atau negara lain dicontoh. Masa saya akan bilang: tuh negara tetangga aja korup, ya kita enggak papa korup juga atau tuh negara tetangga aja suka copycat, masa kita enggak copycat juga? Masa saya bilang begitu? Hal baik lainnya tentang negara ini yang enggak ada di negara tetangga yang sering saya sebut adalah kalau malam diatas jam sepuluh saya enggak khawatir bakal kelaparan, pasalnya selalu ada aja yang lewat di depan rumah, entah itu tahu tek, atau nasi goreng, bahkan kadang-kadang bakso. Kalau di negara tetangga mah udah pada tutup, yang ada toko kecil dua puluh empat jam itu yang jual makanan-makanan instan dengan porsi enggak niat (gile, perut kayak saya mah enggak cukup kalau buat diisi chocolate bar atau wafer segitu doang, bisa protes berat).

Jadi saya minta maaf deh kalau memang ada yang terganggu juga dengan postingan saya yang kelihatannya terlalu menjelek-jelekkan Indonesia. Saya tetap menghargai kok, jangan khawatir. Itu menandakan bahwa saya eksis (lho?), hehehe, maksud saya, itu menandakan bahwa anda care dengan blog ini. Sama kayak saya yang mengkritik terus nih negara (yang hari ini katanya bakal ada demo besar-besaran ya?) karena saya care. Seperti yang Hale Berry pernah bilang: anda tidak berhak atas sebuah pujian, jika anda tidak mau dikritik.

Thursday, 28 January 2010
9:40 am

PS: Saya tetap cinta Indonesia, meskipun segala sesuatunya kadang berjalan tak tentu arah, berantakan dan bikin sakit kepala. Saya tetap cinta Indonesia, meskipun saya pernah diteriakin bukan Indonesia. Saya tetap cinta Indonesia meskipun orang-orangnya kadang enggak bisa saya mengerti. Dan menurut saya, cinta adalah meskipun, bukan karena.

gurita di jalan raya dan orang-orang Indonesia

Pernah dengar buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS nggak? Yang ini nih:

Nama penulisnya George Junus Aditjondro (ternyata orang Pekalongan lho!). Setahu saya sih penulisnya ini seorang wartawan. Dan saya sama sekali enggak tahu dan enggak tertarik untuk membaca kalau nggak nonton pertengkarannya si penulis dengan Ramadhan Pohan yang pada waktu temu wicara tentang buku tersebut mengkritisi (atau menghina?) tulisan-tulisan George. George marah dan memukul Pohan dengan kertas (itu masih dibilang memukul ga sih?) Enggak lama kemudian buku tandingannya keluar, yang nulis ternyata juniornya si George. Kontroversi memang iklan terbaik ya, karena terbit buku tandingannya itu saya semakin tertarik untuk membaca isinya. Walaupun setelah itu, saya mendapat kabar bahwa bukunya George itu akhirnya enggak boleh beredar. Yahh...

Sampai kemarin siang. Saya pergi bareng hubby, vinn dan omanya vinn ke mal. Waktu mobil lagi berhenti di perempatan lalu lintas, ada dua lak
i-laki berseliweran menawarkan dagangan. Spesialnya, dagangannya bukan berupa koran, apalagi kacang rebus atau tahu! Dagangannya berupa buku yang enggak boleh beredar itu tadi. Berikut percakapan yang terjadi di mobil sambil menunggu lampu hijau menyala kembali.

Hubby: "Itu buku bukannya udah nggak boleh b
eredar ya?"
Me: "Iya, nggak boleh."
Hubby: (masih belum menyerah) "Apa nggak bolehnya cuma di toko buku? Lha itu masih diedarin."

Me: (masih cuek) "Kayaknya."
Hubby: "Kok aneh, enggak boleh beredar kok malah jualan di tempat ginian."
Me: "Halah, pembajakan itu juga dilarang tapi vcd-vcd dan cd-cd bajakan juga masih beredar dimana-mana!"
Hubby: "Iya sih. Tapi tempat ginian kan ada po
lisi, mosok polisine enggak ngelarang."
Me: (sambil bicara dalam hati: Suamiku, kau te
rlalu polos...) "Ya polisine kan tinggal dikasi uang, habis perkara!"
Hubby: "Welcome to Indonesia ya."

Me: Doh..

Kalau dipikir-pikir, hidup di Indonesia ini mudah
lho, dengan catatan: kalau kita punya duit lebih. Ya gimana enggak, banyak sekali kasus di Indonesia ini bisa selesai hanya dengan duit. Kalau awalnya dibilang: wah, enggak bisa, prosedurnya bukan seperti itu, terus orang yang bilang itu kita kasi amplop (yang isinya duit), jawabannya bisa gini: ya nanti bisa kami bantu lah. Berapa kali saya dengar cerita dari orang-orang yang kena tilang, kalau mereka lebih milih 'kasi' duit damai ke polisinya daripada ribet ke pengadilan segala. Kata siapa budaya sogok-menyogok, suap-menyuap hanya milik Artalyta dkk yang di penjara mewah itu? Kata siapa? Kita semua familiar dengan budaya suap-menyuap. Supaya lebih mudah, lebih gampang, dan enggak buang waktu. Kita orang cuma punya waktu dua puluh empat jam sehari, daripada ngantri sendiri bikin SIM, mending langsung pesen aja ke Calo, bayar lebih mahal enggak papa yang penting langsung jadi dan enggak capek!

Orang-orang yang biasa pakai duit untuk m
elicinkan banyak hal yang mbulet di birokrasi biasanya kurang bisa survive di negara-negara maju macam US, Australia, dll. Semuanya harus sesuai aturan, tapi memang sih bedanya birokrasi dan prosedur di sono enggak serumit disini. Herannya, kayak bayar parkir, meskipun enggak ada tukang parkirnya ya mereka tetep bayar tuh. Mereka sadar diri. Jadi ingat dulu waktu tinggal di Oz, kemana-mana naik tram. Naik tram itu harus ada tiketnya. Tiketnya bisa yang setahun-an, 6 bulan-an, bulanan, minggu-an atau per 2 jam.
Sekali naik, ada semacam mesin untuk kita memasukkan kartu itu.

Kalau tiket yang kita punya bulanan, maka enggak perlu masukin kartu enggak papa asal di balik tiket sudah tercetak valid date-nya sampai kapan. Kalau yang untuk per 2 jam itu (sepuluh kali naik), tiap kali naik tram/bis/kereta, mesti masukin ke mesin. Kalau ketahuan enggak masukin ke mesin, terus pas ada pemeriksaan, denda-nya cukup besar. Kan sayang boo. Tapi dasar orang-orang Indonesia ya, adaaa aja caranya untuk 'menghemat'. Kadang-kadang kalau pegang tiketnya yang per 2jam-an, dia duduknya di dekat mesin, kalau enggak ada pemeriksaan ya enggak dimasukin, tapi kalau tiba-tiba ada pemeriksaan ya cepet-cepet dimasukin. Bikin malu sih emang.

Enggak tahu juga kira-kira budaya kayak beginian bakal berakar sampai kapan. Karena pada kenyataannya banyak orang di Indonesia masih butuh duit. Perbedaan si kaya dan si miskin itu jauh. Banyak yang bisa keluar negeri tiga kali sebulan dan makan enak di resto mahal sehari sekali, tapi enggak sedikit pula yang bingung besok mau makan apa karena uang sudah habis untuk belanja hari ini.

Monday, 25 January 2010
10:00 am

passive income, come to me!

A business that makes nothing but money is a poor business.
-Henry Ford-


Semuanya bermula dari telepon. Tante saya tanya apa saya bersedia dititipin barang dagangan temennya untuk ditawarkan kepada orang-orang kantor saya. Barang dagangannya berupa tupperware warna-warni yang bagus itu. Sebenarnya tante saya itu bilang ke temennya kalau saya itu orangnya pendiam (iya, saya tahu, pasti banyak yang enggak setuju), kalau nggak dijitak nggak bunyi. Beliau enggak sepenuhnya salah sih, karena di keluarga hubby (tante saya ini adiknya mama mertua), saya memang nggak terlalu banyak cerita masalah-masalah pribadi. Mau ngomongin lanjutan sinetron yang mereka ikutin, wong saya nggak ngikutin sinetron. Mau ngomongin gosip di infotainment, wong saya juga enggak suka nonton infotainment (apalagi yang itu tuh, presenternya bunyinya gini: Pemirsa, apakah hati keduanya yang sudah bertaut itu mampu menghadapi badai cobaan seberat ini? Pokoknya yang lebay.com itu lho). Saya mau ngomongin buku pertama dari trilogi The Black Magician yang lagi saya baca, mereka yang nggak nyambung. Malah nanti bukunya ditengking, hush hush, hehehe. Jadi wajarlah kalau di keluarga hubby saya dianggap pendiam (lagi pemalu).

Oke, back to the topic. Saya akhirnya setuju untuk dititipin barang-barang tersebut berikut katalognya. Setelah diberi petunjuk tentang bagaimana cara menjual dan harga-harganya, berangkatlah saya dengan gagah berani ke kantor sambil bawa barang-barang tersebut. Setelah saya tawarkan ke beberapa yang saya kenal dan ada yang melihat-lihat katalog, ada satu orang yan gpesan. Hore! Besoknya saya bawa lagi tuh barang-barang dan katalognya, tapi kali ini saya LUPA kalau saya bawa, jadi saya tidak menawar-nawarkan ke tempat lain. Begitu juga hari berikutnya dan hari berikutnya. Kemudian saya jadi berpikir, saya nih memang yah nggak ada bakat untuk dagang gitu lho. Yang kayak begini bukan pertama kalinya lho. Dulu saya pernah ditawari jual obat (bukan, bukan jual obat di depan pasar yang tereak-tereak itu), sampai ikut seminarnya segala, tapi ini obat harganya mahal walaupun katanya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit mematikan. Jadi target pasarnya tentu orang-orang kelas menengah keatas. Waktu itu saya masih nge-kost, jadi teman-teman saya ya kebanyakan teman-teman kuliah yang juga nge-kost dan tiap akhir bulan selalu belingsatan menunggu-nunggu kiriman dari ortu supaya tetap bisa makan tiga kali sehari. Terus pernah juga saya ditawari untuk jadi agen asuransi. Setelah itu ada lagi jual produk kesehatan dan perawatan kulit (oiya, produk ini juga menawarkan sabun cuci pakaian yang mahal begete tapi konon bisa menghilangkan noda yang paling sulit sekalipun dalam sekali cuci). Lalu seolah belum cukup, saya juga ditawarin untuk ikutan menjual pembalut wanit. Pembalut ini harganya diatas rata-rata, tiga kali lipat dari harga pembalut yang biasa kita lihat di supermarket. Tapi konon lebih bersih, tidak terbuat dari bubur kertas dan sehat untuk daerah rawan kewanitaan. Nggak tanggung-tanggung, kalau saya setuju utk jadi downline jualan pembalut ini, saya diajarin bagaimana mempresentasikannya. Lengkap dengan percobaan-percobaan untuk membandingkan pembalut biasa dan pembalut luar biasa ini. Saya juga pernah lumayan serius menjalankan produk-produk kecantikan dari Swedia. Hasilnya sama: NIHIL. Kalau diamat-amati, kesemuanya ini memiliki pola yang more or less sama, yaitu pola multilevel marketing dengan sistem upline dan downline. Iming-imingya juga sama, yaitu dapet PASSIVE INCOME. Dan yang menggelikan lagi, hampir semua yang menawarkan juga mengatakan hal-hal yang mirip, yang intinya: asal ada kemauan disitu ada jalan atau asal mau berusaha semua orang bisa melakukannya atau asal mau belajar, pasti bisa. Jadi inget kata-katanya Ayub Yahya, si penulis artikel Kristiani yang juga pernah ditawari hal serupa, dia kepengen banget jawab: memangnya
asal mau belajar, kamu juga bisa menjadi penulis seperti saya?

Saya sih bukannya anti dengan multilevel marketing atau dengan iming-iming passive income aka pensiun di usia muda. Siapa sih yang enggak kepengen dapet duit dateng sendiri sementara kita ongkang-ongkang kaki di rumah. Seperti kata Robert T. Kiyosaki: "Biarlah uang anda yang bekerja, bukan anda." Siapa? Saya juga mau. Tapi barangkali sampai sekarang saya belum diijinkan untuk dapat passive income, karena saya sendiri tidak mau otak saya karatan karena nggak dipakai, otot-otot tubuh kaku karena nggak terlalu banyak gerak, kemudian badan saya membengkak, kulit-kulit menggelambir dan yang bisa saya lakukan cuma berbaring sambil ngemil karena dengan uang yang bekerja saya bisa juga punya robot yang mengerjakan hal remeh-temeh lainnya (oke, sepertinya saya sedang menceritakan sinopsis film Wall-E).

Makanya saya rada salut juga sama para agen asuransi yang sudah punya passive income di usia muda mereka dan berhasil mengumpulkan poin untuk dapat bonus berlibur keluar negeri setahun tiga kali. Saya salut sama yang bisa dapat downline banyak sehingga biarpun dia enggak bekerja keras tiap hari menawarkan dagangannya, dia masih dapat penghasilan. Sungguh, saya salut. Sekarang ini, tujuan saya masih sederhana (dan mulia) yaitu membantu teman tante saya itu.

Dan tahu tidak? Saya mulai putus asa. Pembaca ada yang mau pesan? Bagus lho produknya! ;)

Friday, 22 January 2010
12:05 pm

judgement everywhere

Pernahkah berpikir demikian? Suatu pagi saat kau bangun dari tidurmu yang tidak terlalu nyenyak, mendapati bahwa perutmu sakit, tidak bisa sarapan dan harus bolak-balik ke kamar mandi, dan itu semua menyebabkan kau telat masuk kantor. Setiba di kantor, kau dapatkan salah satu rekan kerjamu menegurmu karena datang terlambat tanpa peduli apa alasan dibalik keterlambatanmu. Sementara, bosmu yang kau lapori malah tidak merasa masalah. Kesal? Banget!

Tapi itulah dunia yang sekarang kita tempati. Banyak yang berlagak jadi Tuhan. Bilang ini boleh, itu nggak boleh. Ini dosa itu dosa. Ini haram dan itu tidak. Enggak pernah mencoba berpikir apa sih yang ada di balik itu semua. Apa yang ada dibalik orang-orang melakukan apa yang mereka lakukan. Kejadian diatas itu misalnya, ia terlambat bukan kemauan dia. Dia sih pengennya nggak terlambat, tapi apa mau dikata perut berkata lain? Kalau sudah sakit perut seperti itu, mungkin juga enggak kepikiran untuk sempet beritahu orang kantor. Saya suka nggak habis pikir dengan orang-orang yang berpikir demikian. Sebelum lihat orang lain, sebelum tunjuk-tunjuk kesalahan orang lain, mbok coba lihat diri sendiri dulu, sudah beres belum? Untuk pertanyaan ini, kadang-kadang
ada yang menjawab: SUDAH BERES SEMUA, DIRIKU SUCI ADANYA, karena itu ia sibuk menuding-nuding orang lain dan kesalahan-kesalahan mereka.

Waktu saya mendengar berita tentang foto Pre-Wedding diharamkan (dan di-review dengan sangat bagus oleh Ibu Vicky), saya terhenyak. Dan saya lebih tertegun lagi saat mendengar berita bahwa tidak hanya itu saja yang diharamkan. Rebonding (conditions apply), perempuan dengan gaya rambut Punk dan tukang ojek perempuan juga haram hukumnya. Jadi, kalau laki-laki dengan gaya
rambut Punk boleh? Tukang ojek laki-laki boleh? Alasannya apa? Rambut punk enggak nyaman dilihat? Atau kelihatan berandalan? Saya pernah tuh lihat cewek, masih muda, di sebuah tram pas saya lagi di Melbourne. Dandanannya cewek ini serba hitam, rambutnya pun rada dibikin berantakan, matanya diwarnai hitam, kaus kaki hitam, baju hitam, pokoknya warna yang mencolok dari dia itu hitam. Bisa dibilang dandanannya agak mirip dengan Marilyn Manson. Istilahnya: Dandan Gothic. Kayak gini nih.
Barangkali kalau dia dandan seperti itu terus jalan-jalan di Mal di Indonesia sudah jadi tontonan khalayak kali ya, tapi yang ini enggak. Semua cuek aja (kecuali saya! Hehehe). Sampai ketika berhenti di tram stop, seorang nenek tua masuk, cewek berdandan hitam-hitam ini lah yang pertama kali berdiri dan menyerahkan tempat duduknya. Jadi kata siapa sih orang yang suka dandan aneh-aneh itu jahat? Berperilaku negatif? Suka menyerang? Enggak juga tuh.

Tukang ojek perempuan enggak pantas? Menyinggung perasaan laki-laki? Atau karena lebih laku? Saya heran, kenapa sih enggak pada mikirin gimana caranya supaya kemiskinan di negeri ini dihapus? Gimana caranya korupsi diberantas? Gimana caranya supaya pendidikan semakin maju? Yang ada malah ngurusin moral orang lain! Ngurusin hidup orang lain! Gaya rambut itu seni. Dan memang enggak semua orang suka. Tapi kalau kita mengikuti semua yang orang lain suka, kita bisa cepet mati karena stress. Seperti kata temen-temen saya, istilah lain dari nyenengin semua orang di dunia ini adalah MISSION IMPOSSIBLE.

Untuk conditions apply-nya Rebonding itu sempet bikin saya ketawa geli. Kenapa? Waktu itu saya nonton tivi. Orangnya bilang begini: “Lho Rebonding itu kan enggak diperbolehkan kalau tujuannya untuk kemaksiatan. Untuk kejahatan. Tapi kalau untuk supaya rambutnya lebih sehat, lebih rapi, tujuannya baik, ya enggak papa. Malah dianjurkan.” Kira-kira begitulah kalimat-kalimat yang diucapkan. Kalau memang begitu, ya semuanya enggak diperbolehkan dong. Pisau itu dibuat untuk keperluan dapur, tapi kalau dipakai untuk membunuh ya emang nggak boleh. Jarum suntik itu berguna jika di tangan dokter yang memakainya untuk menyembuhkan pasien, tapi kalau ditangan anak muda yang digunakan untuk ngobat ya juga jadi nggak baik tujuannya. Sandal juga dipakai untuk keperluan alas kaki, kalau dipakai untuk ngelempar orang ya jelas nggak boleh, bisa digampar nanti. Lha apa bedanya coba dengan Rebonding? Segala sesuatu itu, jika dipergunakan sebagaimana mestinya ya enggak bakal apa-apa, enggak bahaya. Yang bikin semuanya jadi berlebihan kan manusianya sendiri, kok malah ‘obyek’nya yang disalahin. Itu sama dengan begini: yang napsu itu laki-laki kok yang dilarang-larang perempuan! Itu sudah menganggap perempuan sebagai obyek.

Saya hanya berpikir demikian: hidup ini enggak melulu terdiri dari hitam dan putih. Ada kalanya kita berdiri diatas wilayah abu-abu. Yang artinya, kalau menurut saya baik, belum tentu menurutmu baik. Begitu juga sebaliknya. Jadi marilah kita saling menghormati apa yang masing-masing yakini baik adanya. Enggak usah mengurusi moral orang lain. Moral itu urusan pribadi. Moral itu urusan masing-masing individu dengan Yang Di Atas. Juga jangan lupa, jika kita menghakimi, dengan cara yang sama persis seperti itulah kita akan dihakimi? Memang enak?

Thursday, 21 January 2010
11:51 am

kesempatan

Dalam banyak kali, saya sering kehilangan kesempatan. Blogging adalah salah satunya. Suatu malam, tiba-tiba berbagai ide berseliweran di kepala say auntuk ditulis. Beruntungnya dan anak sudah tidur, jadi saya punya kesempatan untuk menuangkan ide-ide itu dalam bentuk tulisan. Saya ketik tulisan itu di communicator saya karena saya malas menyalakan PC. Selesai. Itu betul-betul kesempatan yang mungkin satu diantara dua puluh atau bahkan tiga puluh, karena tidak asetiap ide yang tiba-tiba mampir di kepala saya bisa saya tangkap dan saya penjarakan di tulisan saya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dicegah (jadi inget pelajaran bahasa indonesia), apa daya tulisan-tulisan saya (termasuk tulisan yang satu diantara dua puluh atau bahkan tiga puluh itu!) terhapus dari communicator saya! Apa sebab? Olala, ternyata anak saya yang sempet main-main dengan communicator saya itu yang menghapus! Tidak tanggung-tanggung, ia juga menghapus satu folder berisi tulisan-tulisan saya yang idenya menclok di tempat-tempat tak senonoh seperti toilet kantor, ruang rapat, ruang tunggu, dsb. Folder lain yang berhasil ia hapus adalah file-file wav berisi sound untuk ringtone panggilan masuk dan SMS yang lucu-lucu dan unik, macam: TERETERTETETERETETTTTT... LAPOR! ADA TELEPON MASUKKKKK... GRAK! PENGHORMATAN KEPADA YANG MENELEPON! TERETRETTERET... Sangat cocok jika dipasang di awal bulan Agustus untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI.

Dari situ saya sempet berpikir, memang kesempatan itu datangnya cuma sekali ya. Saya sempet mencoba menulis lagi tulisan di malam keberuntungan itu tapi hasilnya tetap BLANK. Dan saya sama sekali nggak ingat apa saja yang sudah saya tulis seperti orang kesurupan malam itu. Edan.

Ini mengingatkan saya pada beberapa waktu yang lalu, saat banyak sekali facebookers yang ada di frenlist untuk mengundang saya bergabung di topik: TOLAK PERMEN SEBAGAI KEMBALIAN! Intinya sih sepertinya menolak permen sebagai pengganti kembalian (iya saya tahu, ini nggak terlalu menjelaskan). Kan sering tuh di minimarket-minimarket terdekat, kalau kembaliannya Rp 7.150 misalnya, yang dikembalikan cuma lembaran lima ribu satu, seribuan dua (atau kadang-kadang duaribuan satu) dan permen 2 biji, kalau beruntung bisa dapet 3 biji, berarti permennya dihitung harga 50 perak per biji. Kadang-kadang sih memang bikin kesel, wong kita nggak mau beli permen kok dikasi kembalian permen. Seratus perak kan juga berguna. Bayangkan kalo mau beli kacang rebus seribu, terus di dompet cuma ada sembilan ratus rupiah, seandainya kembalian yang tadi dikasi permen itu kepingan seratu satu kan pas tuh! Ga perlu ngeluarin lembar seratus ribu untuk minta kembali sembilan puluh sembilan ribu! Masa seratus ribu mau dibuat beli kacang rebus semuanya? Dapet gerobaknya kali!

Saya nggak confirm semua undangan itu karena menurut saya itu bukan sesuatu yang terlalu esensial. Misalnya saya confirm, terus itu grup dapet 100,000 facebooker yang enggak setuju untuk dapet kembalian permen, apa minimarket-minimarket dekat rumah saya tahu? Belum tentu! Plus... ini ceritanya. Kadang-kadang gara-gara saya dapat kembalian permen itu, saya punya permen disaat-saat saya membutuhkan. Misalnya saat pendeta yang berkhotbah bikin ngantuk, nah permen bisa membantu kita mencegah berbuat dosa, seperti tidur di tengah kebaktian. Selain itu, saya juga jadi tahu kalo permen merk Station Rasa ada yang rasa cappucinno! Oke, saya tahu itu nggak terlalu penting, tapi on a more serious note, saya bicara soal kesempatan. Karena terkadang kesempatan mirip seperti Tusuk Jelangkung: datang tak diundang, pulang tak diantar. Apapun kesempatan itu, baik yang secara langsung disodorkan, atau bahkan yang lewat saja, jika bisa di-grab, kita nggak akan pernah menyesal. Dan percayalah, nggak ada yang suka dengan penyesalan.

Semoga setelah ini, saya dapat kesempatan untuk studi lanjut di luar negeri. ;)

Wednesday, 13 January 2009
12:03 pm
started in
salah satu tempat tak senonoh ;P