Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Monday, May 18, 2015

ironi


“Kamu tahu mengapa aku butuh kafein?”

Tak ada hujan, tak ada angin, apalagi petir dan guntur. Tiba-tiba saja kawanku yang setengah sableng ini bertanya padaku. Padahal, sumprit, aku nggak kepengen tahu. Tapi aku kawan yang baik dan tidak sombong. Meski sableng, tetap kutanggapi pertanyaannya.

“Memangnya mengapa?” tanyaku.

“Sebab kafein selalu berhasil bikin aku kesurupan.”

Benar kan kalau kubilang kawanku ini sableng?

“Kenapa harus kesurupan?”

Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa juga aku bertanya? Pasti ngocehnya bakal lebih nggak keruan!

“Karena hanya dengan kesurupan aku bisa menulis – menjabarkan aksara yang wira-wiri di otakku ini menjadi sebuah kisah. Seperti sekarang!”

“Sekarang kamu lagi butuh kafein?”

Ia mengangguk.

Sungguh rumit kawanku ini. Mau ngomong butuh kafein saja pakai bilang butuh kesurupan segala buat menulis.

“Kamu mau nulis apa sih memangnya?” tanyaku lagi mencoba bersabar.

“Banyak! Terlalu banyak sampai aku tak tahu harus mulai dari mana!”

Ia kemudian menyodorkan surat kabar hari ini padaku.

“Coba baca,” pintanya dengan nada memerintah.

“Ogah!” jawabku judes. Asal tahu saja, aku paling malas membaca koran, sebab itu berarti aku membiarkan orang-orang yang tak kukenal – mereka yang mengaku-aku berprofesi sebagai jurnalis – meracuni isi otakku dengan berita sepihak yang mereka tulis. Tulisan jurnalis bikin orang-orang kecanduan berasumsi. Padahal asumsi belum tentu benar! Dan Surga tahu betapa bencinya aku pada manusia-manusia yang suka berasumsi.

“Ayolah! Ini bukan soal politik yang kamu benci setengah mampus itu. Ini tentang nasionalisme!”

Nasionalisme? Nah, ini baru menarik. Sebab aku juga sedang mempertanyakan nasionalisme-ku sendri. Siapa tahu bisa membuat aku segera memutuskan kemana akan kubawa nasionalisme-ku ini.

Kubuka surat kabar itu, yang isinya foto-foto orang Indonesia yang tinggal di berbagai tempat di luar negeri dan usaha mereka untuk memperkenalkan budaya Indonesia di negeri orang. Mulai dari mengajari para bule maniak keju memasak makanan Indonesa yang penuh rempah itu sampai menarikan tari tradisional Indonesia di acara-acara kenegaraan pemerintah setempat. Misi mereka tak lain tak bukan menjadi jendela bagi orang-orang asing itu untuk mengintip dan mencicipi Indonesia tanpa perlu keluar dari negeri mereka.

Selesai membaca aku malah termenung-menung, sambil menatap satu-satu foto-foto dalam surat kabar tersebut.

“Bagaimana? Katakan padaku apa yang ada dalam batok kepalamu sekarang,” ucap kawanku sesaat setelah melihat aku termenung-menung selesai membaca surat kabar yang ia sodorkan padaku.

“Apa aku harus hidup di luar negeri dulu supaya aku bisa lebih bangga dengan negeriku sendiri? Dengan budayaku sendiri?” tanyaku perlahan-lahan, seolah setiap katanya meluncur keluar dari mulutku tanpa komando dari kepala.

“Pertanyaan-pertanyaan kece!” Kawanku makin bersemangat. “Apa lagi? Apa lagi?”

“Apa itu berarti budaya kita akan jatuh di tangan orang asing lagi? Seperti dulu?” Entah setan apa yang merasuki diriku sampai aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan goblok ini. Ah, aku kenal setannya. Ya kawanku ini. Tiada lain.

“Makin kece!” Kawanku bertepuk tangan keras sekali. “Persis seperti itu yang berseliweran dalam kepalaku!”

“Kalau begitu, aku sudah mulai sama sablengnya dengan kamu,” keluhku.

“Ironi. Itu kata yang paling tepat, bukan?” tanyanya tanpa peduli bunyi keluhanku.

“Nggak tahu!” Aku pura-pura kesal meski dalam hati aku setuju dengan yang ia katakan.

“Ini jelas ironi!” tandasnya tak terima dengan jawabanku. “Coba bayangkan, bagaimana tidak ironi namanya kalau orang asing lebih tertarik dan lebih tahu tentang budaya Indonesia ketimbang orang-orang Indonesianya sendiri?”

Kalau kawanku sudah mulai berapi-api begini, akan jauh lebih aman untukku jika kututup mulutku rapat-rapat.

“Coba sekarang aku tanya, apa kamu kenal anak-anak yang dikirim orang tuanya belajar gamelan, tari tradisional atau anak-anak yang masih main congklak dan menyanyikan lagu-lagu tradisional macam cublak-cublak suweng, apuse, ampar-ampar pisang? Ada tidak? Ayo jawab!”

“Nggak ada!” jawabku makin kesal. “Puas kamu?”

“Aku ada,” sahutnya, “tapi nggak banyak. Ibaratnya seujung kelingkingku ini. Apalagi kalau kamu tinggal di pulau Jawa, yang anak-anak mudanya justru kerasukan budaya dari luar. Makanya aku setuju dengan apa kata Sujiwo Tejo: budaya luar membuat anak-anak bangsa kesurupan menjelma orang asing di negeri sendiri.” Ia menoleh padaku, menatap mataku dalam-dalam. “Bukankah itu ironi? Seperti kita?”

Pelan-pelan aku mengangguk. Sebab aku melihat dengan kepalaku sendiri, anak-anak muda Indonesia yang begitu memuja seni dan budaya luar negeri tapi tak paham seni dan budaya negeri sendiri. Ketidakpahaman bukan sesuatu yang salah sampai ia berubah bentuk menjadi ketidakpedulian.

Sama ironinya saat aku melihat kami berdua. Kawan karib, saling seloroh, saling memaki, apa adanya, saling memahami meski kami berbeda, saling mencintai tapi tak bisa bersatu.

Hanya gara-gara namaku Sinta dan nama kawanku itu Rahwana.

Hidup di negeri ini memang ironi. Tapi entah mengapa, aku dan Rahwana tetap berkawan akrab dan mencintai negeri ini mati-matian. Cinta memang ironis.


Monday, 18 May 2015
12 : 09 am

PS : gambar diambil dari sini 

Monday, July 29, 2013

seorang laki-laki tua

Tak ada yang istimewa dari penampilan laki-laki tua yang sudah beruban itu. Yang khas barangkali adalah kekehnya yang cenderung beruntun dan senyumnya yang sering menghias di wajahnya. Itu saja. Tampan? Ia sudah cukup tua untuk dapat dikatakan tampan. Gagah? Ia juga sudah cukup berumur untuk dapat dikatakan gagah meski tak bungkuk jalannya. Tinggi? Ia tak juga tinggi. Sederhananya sederhana: lihatlah ia sekilas saja, belum tentu sosoknya tinggal dalam benakmu.

Berapa banyak orang, kau pikir, ingin menjadi seperti dia? Barangkali tak banyak. Dan barangkali hanya dapat dihitung dengan jari. Apalagi anak-anak muda jaman sekarang, yang cita-citanya tidak jauh-jauh dari orang terkenal, bintang film, fotomodel, penyanyi, anak band atau sederet profesi dengan bonus diliput media, diikuti paparazzi dan dimintain tanda tangan dan foto kemanapun mereka pergi. Atau yang agak beda sedikit, anak-anak muda yang bermimpi mengubah dunia dengan kepintaran mereka dikombinasikan dengan ambisi yang ditanamkan orang tua sejak kecil melalui sekumpulan piagam dan piala dari segala penjuru.

Dari sekian banyak anak-anak muda itu, berapa banyak yang melihat laki-laki tua sederhana tadi sebagai panutan? Entah. Yang jelas, ada yang perlu kau tahu tentang laki-laki tua tak menarik ini. Dulu tiap minggu, ia selalu menggandeng istrinya yang menderita alzheimer ke gereja untuk mengikuti kebaktian. Apabila ada acara makan-makan, ia akan mengambilkan sekaligus menyuapi istrinya dulu sebelum ia sendiri makan. Tak pernah kulihat atau kudengar ia mengeluh atau marah-marah pada istrinya. Ia pernah mengatakan pada kami, ia sudah berjanji akan terus menjaga istrinya apapun keadaannya, dan itu akan terus ia pegang. 

Menurutku, ia lebih dari seorang bintang film Hollywood. Atau penyanyi K-Pop yang digandrungi remaja masa kini. Atau bahkan presiden kita yang doyan ngomong prihatin itu. Laki-laki tua ini mengajarkanku arti cinta sejati yang dibungkus komitmen. Boleh jadi ia anonim, boleh jadi ia tak terkenal, tapi orang-orang seperti ia yang akan terus tinggal dalam hati ini. Menjadi inspirasi sekaligus teladan lebih daripada orang-orang terkenal itu.


Minggu, 28 Juli 2013
5 menit menuju 29 Juli 2013

#36harimenulisrandom - day 2




Monday, November 19, 2012

cinta

Cinta itu lucu. Apalagi kalau dirasakan sekaligus dipikirkan sesaat menjelang pernikahan. Saat itu, cinta tak lagi terasa absurd. Cinta nyata, ada dan bermuara. Legalitas yang bikin hati senang karena ada sesuatu yang baru yang akan dijalani bersama. Ada juga yang bilang cinta bukanlah cinta jika tidak membahagiakan. Tapi memang kebahagiaan itu bukan akibat, melainkan sebab. Kelak sepasang muda-mudi  yang telah berjanji setia di hadapan pendeta atau para pemuka agama lainnya berangsur-angsur akan mengerti, dalam pernikahan cinta tak lagi melulu soal rasa, melainkan hak sekaligus kewajiban. Cinta tak lagi pasif, tapi aktif. Ah, tapi bukankah cinta memang seharusnya aktif jika ingin berjalan ke tempat yang lebih baik?

Barangkali itu sebabnya aku tak pernah suka lagu-lagu cinta manusia kasmaran atau apa lah itu yang pada intinya seperti ini: “I love you just the way you are.” Kupikir, cinta tak sedangkal dan sesederhana itu. Cinta sepatutnya menjadikan manusia menjadi lebih baik dengan apa adanya ia pada dirinya.

Catatan ini ditulis setelah perjalanan dengan pesawat dari Kota Pahlawan menuju ibukota. Penumpang di sebelah tempat dudukku adalah perempuan setengah baya. Mungkin tak ada yang tahu, dan entah ia merasa atau tidak, sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Bukan. Bukan karena ia menarik atau tetap cantik meskipun usia mencuri sedikit-sedikit kulitnya yang kencang, rambutnya yang hitam dan menambahkan lemak-lemak tak perlu pada bagian tubuhnya disana-sini. Pernahkah memikirkan apa yang kupikirkan saat itu? Bahwa kelak bukannya tak mungkin aku akan seperti dia. Tak lagi muda. Kulit tak lagi kencang. Rambut tak lagi setebal atau sehitam dulu. Dan lemak-lemak… oh gosh aku berharap lemak-lemak tak perlu itu eksis di tubuhku kelak. Dan kalau nantinya aku tak lagi muda dan bahenol, masihkah suamiku mencintai dan menerimaku?

Tapi disitulah komitmen unjuk gigi. Janji yang diucapkan di depan pendeta, di hadapan para saksi, jelas bukan perkara main-main. Ini perkara kontrak seumur hidup, bersama orang yang barangkali tak kamu sadari baru setengah atau bahkan seperempatnya saja kamu kenal.  Seperti yang Meg Cabot pernah katakan:  pernikahan seumpama teken kontrak seumur hidup pada sebuah toko kue. Kue yang menurutmu enak dan gurih, sehingga bikin ketagihan. Lantas kamu berjanji pada toko kue itu bahwa  kamu akan terus membeli kuenya, apapun bentuk dan rasanya. Meskipun di sebelah toko kue tersebut muncul toko kue lain yang lebih menarik. Atau di seberang toko kue itu dibuka toko kue lainnya lagi yang kata-kata orang yang sudah mencicipi, kuenya lebih bikin ketagihan daripada toko kuemu. Dan kontrak yang sudah telanjur kamu tandatangani menyebabkan kamu tak lagi bisa mencicipi kue-kue di toko-toko yang lain – semenarik dan semenggiurkan apapun kue-kue mereka.

Cinta memang istimewa. Ia seperti ada dimana-mana. Di novel, komik, film, sinetron, panggung, lagu, mimbar keagamaan, kampus, rumah, de es be, de es be. Barangkali karena ia memberi diri dengan lapang dada untuk didefinisikan dalam berbagai bentuk oleh segala makhluk, terutama manusia.

Ah, tapi aku percaya kamu akan temukan sendiri definisi cintamu – khusus untukmu sendiri. Karena perjalanan cinta masing-masing orang itu berbeda. Dan perbedaan itu melahirkan definisi cinta yang berbeda-beda pula. Dan tak ada yang lebih indah dari sesuatu yang berbeda-beda. Sebab warna hitam tak lagi mencolok dan kelihatan indahnya jika dijajarkan dengan hitam lainnya.

Tulisan ini untuk sepupuku yang menikah hari Sabtu, 17 November 2012 kemarin. Kuucapkan selamat mencintai, dicintai, bercinta dan mendefinisikan cinta mereka sendiri.


Jakarta, 16 November 2012
11:42 pm

PS : Gambar courtesy of Daniel A. Sudarmadi

Monday, March 05, 2012

hidup ini (masih) indah

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat aku melihat dan mendengar tawa riang anak-anak perempuan bermain lompat tali di kampung dekat rumahku.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat aku melihat seorang pemuda bertampang dan berpakaian preman membantu seorang nenek tua menyeberang jalan.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat aku melihat sepasang kekasih generasi Y duduk berdua sambil berbincang-bincang hangat di sebuah restoran mahal tanpa sibuk sendiri-sendiri dengan ponsel pintar di tangan.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat aku melihat seorang ibu duduk di atas trotoar di pinggir jalan, sambil menyuapi anak-anaknya dengan sebungkus nasi di tangan, dan anak-anaknya masih saling bercanda satu dengan yang lain.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat di bagian kedatangan pada sebuah bandara, masih banyak pekik riang dan tawa menyambut keluarga atau teman yang baru turun dari pesawat.

Aku tahu hidup ini (masih) indah saat kulihat sekuntum bunga berwarna putih yang aku tak tahu namanya tumbuh dan mengembangkan kelopaknya diatas tanah yang ditutupi semen oleh manusia.

Aku juga tahu bahwa hidup ini (masih) indah saat hujan turun membasahi tanah dan rerumputan, cangkir berisi kopi instan favorit masih mengepul, Norah Jones masih bisa bernyanyi dan masih banyak buku yang belum habis dibaca.

Hidup ini (masih) indah saat aku, kamu, kita melihat semua yang ada di sekitar dari mata anak-anak kecil yang polos. Saat aku, kamu, kita melihat kesederhanaan sebagai sesuatu yang istimewa. Saat aku, kamu, kita tidak punya definisi yang kaku tentang sebuah keindahan dan kecantikan.

Dan kamu tahu? Hidup ini terasa (lebih) indah meski tak selalu kamu makan di restoran mewah. Tak selalu kamu bisa berlibur ke luar negeri sewaktu-waktu. Tak selalu pendapatanmu gemuk setiap bulan. Juga tak selalu sepatu, tas dan baju-mu ditempeli merek-merek macam Prada, Armani, Vera Wang, dan kawan-kawannya.

Tak selalu. Percaya?


Sunday, 4 March 2012
11.09 pm

PS: Gambar diambil dari sini

Wednesday, February 15, 2012

semangkuk, dua mangkuk ronde

Ada yang istimewa dari semangkuk ronde di malam hari saat gerimis. 


Memang apa istimewanya? Warung rondenya juga tidak terletak di jalan besar sehingga ramai dikunjungi orang. Nama warungnya juga tidak terkenal. Sungguh tak sebanding dengan nama-nama besar yang memajang foto laki-laki tua berkumis atau badut berambut kribo berwarna merah. 


Semangkuk ronde ini jadi istimewa karena disandingkan dengan semangkuk ronde lainnya, dinikmati di malam hari saat gerimis di hari Valentine. Mengingatkan sepasang kekasih tersebut bahwa ungkapan cinta tak harus mahal. Merayakan cinta tak harus dengan makan malam di restoran glamor. Bercinta tak melulu seks. Cukup dengan dua mangkuk ronde. 


Sesederhana dan seistimewa itu.






Tuesday, 14 February 2012
11.47 pm
before the Valentine Day went away

Monday, February 14, 2011

hari yang baik untuk mati

Hari ini, jika bisa diwakili oleh sebuah warna, barangkali warna yang paling tepat adalah hitam keabu-abuan. Hari dimana sebuah pikiran mampir di benaknya bahwa mati barangkali lebih baik daripada hidup.

Banyak orang takut mati. Sebagian besar mengakuinya, namun sisanya bilang bukan kematiannya yang ditakuti tapi bagaimana cara mereka mati. Ia berpikir, kematian seperti gentayangan menakuti semua orang karena orang-orang itu tidak tahu ada apa dibalik kematian itu? Kemana jiwa mereka pergi? Masih bisakah mereka melihat orang-orang yang mereka cintai? Mereka kenal? Masih bisakah mereka membenci orang-orang yang mereka benci waktu mereka hidup? Atau masih bisakah mereka menyeruput minuman favorit masing-masing?

Hari ini, ia tidak peduli. Hari ini, menurutnya, hari yang baik untuk mati. Seorang teman pernah berandai-andai bahwa ada hari yang indah untuk mati. Dimana cuaca demikian bagus. Udara demikian segar. Segala sesuatu berjalan dengan baik. Orang-orang yang dicintainya ada disitu semua. Tapi jika semuanya begitu indah, ia berkilah pada temannya, mengapa harus mati? Hari ini, dimana segala sesuatu tidak ada yang beres, adalah hari yang baik untuk mati. Umpama sebuah ruangan, maka yang biasa tersusun rapi di ruangan tersebut, terjungkir kesana-kemari. Tempat tidur yang biasanya berada di dekat dinding, ada di tengah-tengah ruangan, merusak estetika interior. Kunci mobil yang harusnya ada diatas rak supaya mudah dijangkau ada di bawah kolong sofa, entah siapa yang iseng menaruhnya disitu. Buku-buku yang tersusun rapi menurut abjad, tiba-tiba tercecer hingga ke ujung-ujung ruangan.

Seperti itulah.

Belum keluar dari rumah saja ia merasakan yang tidak biasa. Pengamen yang biasanya tidak boleh masuk dalam kompleks rumahnya tiba-tiba ada di depan rumahnya menyanyikan sesuatu yang tak jelas dan tentu saja mengganggu telinganya. Dan ketika diusir, pengamen itu malah mengoceh dengan kata-kata kasar. Dalam perjalanan menuju ke tempat kerjanya, seharusnya menjadi sesuatu yang biasa jika ada kendaraan umum yang mendadak berhenti tanpa tahu aturan sehingga ia juga harus mendadak mengerem mobilnya. Ada orang-orang bodoh yang memarkir di pinggir jalan sempit, menyebabkan kemacetan konyol yang selalu bikin ia jengkel. Ada tukang koran di perempatan lalu lintas yang memaksa untuk membeli korannya walaupun ia tidak ingin. Dan semuanya tiba-tiba bikin ia capek. Ia lelah dituntut untuk selalu mengerti keadaan mereka. Kasihan supir kendaraan umum itu, jangan diomeli. Mereka masih bekerja di bawah sinar terik matahari, deras berpeluh sementara mungkin kau sudah duduk di ruangan ber-pendingin. Begitu kata seorang teman jika ia mulai mengomel tentang kendaraan umum yang sepertinya bebas dari peraturan lalu lintas jalan raya. Ia capek untuk terus-menerus mengerti bahwa tukang koran itu hanya sedang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya barangkali, dan pekerjaan yang ia lakukan jauh lebih menyenangkan daripada tukang koran brengsek itu. Ia capek untuk harus selalu mengerti apa yang sekiranya salah di matanya, tapi sepertinya tidak ada yang melakukan hal yang serupa terhadapnya. Sekali saja dalam hidupnya, ia ingin menjadi makhluk egois. Yang tidak perlu memikirkan orang lain.

Di kantor, mendadak semuanya salah. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia membenci hari kerjanya. Tapi hari ini, ia begitu rindu akhir pekan. Akhir pekan yang tidak akan berakhir. Tanpa peduli lagi bahwa sesuatu yang abadi hanya milik Yang Abadi dan jika ia memiliki sesuatu yang tidak memiliki akhir maka cepat atau lambat ia akan bosan.

Hidup menjadi sesuatu yang tak lagi menarik. Petualangan yang ada di dalamnya sudah tak lagi seru. Hari ini, hari yang baik untuk mati.

Karena itu, ia keluar kantor, membawa mobilnya kencang-kencang. Entah kemana. Ia ingin lepas. Ingin bebas dari penat yang mengganggu. Dan jika kematian adalah jawabnya, ia tidak keberatan untuk itu.

Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba saja ia ada di bandara. Toh tidak ada yang perlu dijemputnya hari ini. Ia juga tidak berencana pergi kemana-mana. Tapi disanalah ia, seolah-olah bandara adalah tempat sakral yang bisa mengembalikan akal sehatnya supaya bisa berpikir waras lagi padahal disanalah tempat perpisahan biasa terjadi.

Hari yang baik untuk mati.

Melangkahlah kakinya hendak membeli tiket. Kemana pun. Jam berapa pun. Berapa pun harganya. Dikeluarkannya dompetnya…

“Ayah!!”

Ia menoleh, cemberut karena terganggu dengan teriakan itu. Dan sedetik kemudian ia terpana melihat pemandangan itu. Seorang anak perempuan berkuncir dua lari mendapati ayahnya yang menangkapnya dan menggendongnya berputar-putar. Anak perempuan itu tertawa senang. Tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak peduli ada seorang perempuan yang berpendapat bahwa hari itu hari yang baik untuk mati. Tidak peduli.

Ia baru saja melihat cinta.

Sekonyong-konyong ia melihat cinta dimana-mana. Anak yang menjemput ayahnya. Suami yang menjemput istrinya. Anak laki-laki yang menjemput teman-temannya. Adik yang menjemput kakaknya. Supir yang menjemput bosnya. Paman yang menjemput keponakannya. Perempuan yang menjemput kekasihnya.

Jika ada perpisahan, maka ada pertemuan.

Jika ada hari yang baik untuk mati, barangkali hari ini bukan hari yang baik untuk mati.

Jika masih ada cinta, tiap hari bukan hari yang baik untuk mati dan berhenti hidup.

Jika memang lelah untuk selalu mengerti, tak apa lelah, istirahat, untuk kembali bersahabat dengan hidup yang selalu memberikan sesuatu yang baru.

Sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang tidak selalu pada tempatnya. Sesuatu yang jungkir balik dan tidak pakai aturan.

Karena semuanya itu hidup dan hidup tidak mati. Waktu tidak akan berhenti hanya karena ia ingin mati. Semuanya akan tetap melanjutkan hidup walaupun ia tidak.

“Selamat hari Valentine!” sapa seorang petugas. “Penerbangan kemana?”

Ia lupa hari ini hampir seluruh manusia di dunia bercinta. Dengan apa dan siapa saja.

Lebih baik bercinta daripada mati, ia tersenyum dalam hati.

Setidaknya untuk hari ini.

Ia belum mau mati.

Dan warna hari ini berangsur-angsur berubah.

Tak lagi hitam keabu-abuan.


Surabaya, 14 February 2011

In the morning – on a busy intersection

Inspired by "Hari yang indah untuk mati"

Thursday, February 04, 2010

buku-buku dunia khayal saya

Pada suatu malam (bukan 'ku sendiri, tiada yang menemani', itu mah lagu), waktu saya lagi asyik baca The High Lord - Book 3 of The Black Magician Trilogy, hubby ngomong gini.

Hubby: Lho, kok sudah buku ketiga? Rasanya kapan hari baru buku pertama deh.
Saya: (dengan ekspresi cape deee) Hah? Yang buku kedua sudah selesai takbaca yo.

Hubby: Kok bisa sih kamu baca 2 buku setebal itu dalam waktu dua minggu?
Saya: Lah.. ba
gus ceritanya ini. Seru. Yang buku kedua kemarin cepet-cepet kukembalikan supaya bisa pinjam buku ketiga kok.
Hubby: Enak ya bisa seneng baca buku itu. Aku baca komik wae nggak lama terus tidur. (ceritanya curcol nihhh)

Habis ngomongin ini, saya sempet mikir. Saya bener-bener enggak bisa bayangin orang yang nggak suka baca itu gimana. Tapi enggak usah jauh-jauh nyari, ternyata hubby enggak suka baca. Dia berusaha untuk suka, tapi karena dari kecil dia sendiri enggak terbiasa membaca, itu kebawa sampe sekarang. Mungkin lebih tepat membaca itu memang minat atau hobby yah. Ini sama saja dengan seseorang yang jago maen piano dan suka banget sama musik enggak bisa bayangin orang-orang yang nggak bisa maen piano d
an nggak ngerti musik. Jadi intinya, kita mungkin enggak akan pernah bisa maksa orang untuk berminat atau tertarik pada sesuatu.

Dari kecil saya suka buku. Correction: saya suka buku tapi buku fiksi, jadi buku yang
enggak nyata ceritanya. Buku-buku non fiksi yang saya baca ya textbook semasa kuliah sebelum penjurusan. Setelah penjurusan, textbook saya justru novel-novel, puisi-puisi dan drama. Juz info, saya dari sastra inggris dan penjurusan yang saya ambil itu literature, bukan linguistic (saya putus asa sekali dengan bidang ini, IP saya sempat jeblok gara-gara mata kuliah wajib yang linguistic ini - curcol lagi deh..). Dulu saya suka sekali baca buku Lima Sekawan. Tokoh favorit saya tentu saja Georgina Kirrin alias George Kirrin, putri seorang ilmuwan (Quentin Kirrin) yang cerdas dan suka memotong rambutnya pendek-pendek supaya disangka laki-laki.

Selain buku Lima Sekawan, saya juga suka baca buku Little Women-nya Louissa May Alcott. Dan tokoh favorit dalam buku itu tentu saja si Jo. Anak perempuan tomboy yang enggak becus pakai rok, suka permainan-permainan yang membutuhkan energi, bisa berteman dengan siapa saja, agak ceroboh dan bermimpi untuk menjadi seorang penulis.

Buku ketiga yang dulu paling sering juga saya baca adalah buku-bukunya Laura Ingalls Wilder. Entah sudah berapa kali saya baca. Saya suka dengan tulisan perjalanan keluarga Ingalls. Dari tinggal di hutan, sampai tinggal di kota kecil dan bertemu dengan suaminya yang bernama Almanzo (cool name, i love it!). Dari keempat bersaudara perempuan itu, tentu saja saya paling suka dengan Laura yang kadang-kadang enggak nurut sama orang tuanya, selalu kepengen tahu terhadap sesuatu, dan bisa marah juga ngebales kalau diperlakukan tidak adil. "Setengah pint" adalah julukan Pa Ingalls pada Laura (dulu saya juga kepengen dipanggil "setengah pint" sama papi saya, tapi malah dibilang aneh karena kepanjangan). Beda dengan kakaknya si Mary yang lemah lembut, selalu taat pada orang tua, cantik dan bermata biru. Dan membaca bukunya Laura Ingalls ini bikin saya kepengen melakukan perjalanan juga dengan gerobak (gerobak? maksud saya yang kayak di gambar itu lho) dan kuda, kemudian punya rumah di padang rumput sehingga bisa main-main di sungai. Kenyataannya rumah saya di Pekalongan malah di tengah kota, dekat dengan pasar dan kali Loji yang kali-nya cokelat banget (percayalah, cokelatnya sama sekali tidak menggugah selera) sehingga tidak memungkinkan saya untuk bermain-main disitu.

Kesukaan saya dengan buku fiksi pernah ditanyakan oleh parttimer kantor saya si Rikes. Dia tanya kenapa saya lebih suka buku fiksi daripada buku non-fiksi yang lebih menjabarkan sebuah realita dan kenyataan yang ada di dunia ini. Saya sempat membela diri, karena itu berarti dia menuduh saya orang yang enggak hidup di dunia ini dan maunya yang enggak nyata-enggak nyata saja (sorry, kalau duit, tentu saja saya mau yang nyata, nggak ada yang mau terima duit nggak nyata soalnya). Kemudian setelah itu saya berpikir, saya enggak peduli deh, memang saya suka dengan buku fiksi. Hei, just info lagi, bukunya Laura Ingalls itu kisah nyata lho! Dan saya suka sekali. Tapi sebagian besar buku yang saya baca memang buku dunia khayal. Makanya saya tergila-gila dengan Harry Potter, Eragon dan The Black Magician. Buat saya, dunia khayalan lebih indah, lebih aneh, lebih absurd dan lebih tak terbatas dibanding dunia yang saya tinggali sekarang.

Saya senang saya bisa doyan membaca buku karena itu berarti jika saya sudah sumpek dengan dunia nyata, saya bisa lari sejenak ke dunia khayalan. Bagi banyak orang, buku boleh merupakan jendela dunia, tapi buat saya, buku adalah pintu kemana saja - pintu ke tempat-tempat yang ingin saya kunjungi biarpun hanya melalui benak.

Thursday, 4 February 2010
3:29 pm

PS: Tapi anehnya kok sampai sekarang saya belum pernah berhasil baca Alkitab sampai habis ya? Huhuhuhuhu... T_T (maaf saya kecilin ukuran font-nya, saya malu soalnya)

Saturday, August 15, 2009

jatuh cinta

Sepupu saya lagi jatuh cinta.

Dan saya baru sadar bahwa orang yang sedang jatuh cinta kadang-kadang bisa menjadi egois. Jika ketemu maka pembicaraannya juga berkisar tentang dia yang lagi pedekate. Jika ngobrol juga berkisar tentang dia yang begini dan begitu. Kalau saya mau ikutan cerita, nanti balik lagi jadi tentang dia lagi.

Jatuh cinta memang bikin orang jadi egois.

Tapi jatuh cinta yang sebenar-benarnya sebenarnya juga tidak jadi egois. Aneh ya? Ia jadi egois jika tidak sedang bersama yang di-jatuh-cinta-i. Jika sedang bersama dengan yang di-jatuh-cinta-i, ia akan penuh perhatian dan kasih sayang.

Jadi memang benar bahwa jatuh cinta seperti melihat dua sisi mata uang yang berbeda tapi lekat satu dengan yang lain. Egois tapi tidak egois.

"Aku nggak percaya cinta!"
"Tapi kamu pacaran sampai empat kali! Kalau nggak pakai cinta lantas pakai apa? Pakai tai?"
"Mereka yang cinta padaku! Bukan aku yang cinta pada mereka! Aku nggak percaya cinta!"

Menyedihkan. Dunia ini penuh dengan orang yang jatuh cinta. Tidak percaya? Banyak manusia egois kan? Dan di dunia yang penuh dengan orang yang jatuh cinta ini, ada juga orang yang bilang dia nggak percaya cinta. Menyedihkan sekali. Ironis.

Ada cinta di secangkir kopi.
Ada cinta di jalan raya.
Ada cinta di kantin kampus.
Ada cinta di kantor sempit berukuran 1x5 meter.
Ada cinta di facebook.
Ada cinta di sambal terasi.
Ada cinta di sepeda motor tua yang berisik.
Ada cinta dimana-mana.

Biarpun egois. Biarpun tidak tahu diri. Biarpun kadang tak masuk akal. Biarpun bisu. Jatuh cinta tetap mengesankan.

Jatuh cintalah pada orang yang sama jika ia memang berharga bagimu untuk dijatuhi cinta. Tapi jatuh cintalah pada orang yang berbeda jika orang yang sama tak lagi dirasa berharga bagimu untuk dijatuhi cinta. Tapi berilah orang yang sama itu rasa hormat karena setidaknya ia pernah membuatmu merasakan cinta.

Saturday, 15 August 2009
12:22 am

ps: to the one I love till now, the one who still sticks with me, whatever freaky I am, whatever irrationally I am, whatever ugly I am.. I am still falling in love with you, San..


Monday, June 02, 2008

naksir lagi

Kayaknya... saya lagi naksir seseorang.

Gawat kan?

Kenapa gawat?

Coz saya ini udah married, remember?

Dan naksir yang kali ini... nyaris ke taraf tergila-gila.

Kenapa saya sampai tergila-gila coba?

Karena dia keren banget...

Saya cinta dunia teater.

Dan mereka yang bisa main dengan bagus dan kerennya diatas panggung pasti akan menarik hati saya.

Jumat malam kemarin, dia bermain bagus sekali

Lari kesana, lari kesini, lompat kesana, lompat kesini.

Keringatnya bercucuran, tapi aneh, justru keringat itu bikin dia tambah keren.

Saya tambah naksir... wah... dosa nggak sih naksir orang keren walaupun sudah menikah?

Orang keren lho.

Bukan orang tampan.

Keren karena sesuatu yang dia lakukan.

Dan yang bikin saya tambah naksir berkali-kali lipat, pada waktu para pemain pada maju untuk membungkukkan badan berterima kasih pada penonton yang hadir, dia tidak tampak di barisan paling depan.

Padahal dia pemeran utama! He is the life and the soul of the play!

Saya celingukan cari dia, ternyata dia ada di barisan paling belakang. Nggak akan kelihatan kalau nggak nyari.

Jadi... boleh nggak saya naksir dia? Tergila-gila dengannya? Saya sudah married lho.

Monday, 2 June 2008
9:11 am