Esoknya, rutinitas sang ibu tetap sama, namun anaknya bangun lebih pagi. Ia makan sarapannya dengan cepat dan buru-buru berangkat kuliah. Pagi itu, si anak ada janji kerja kelompok bersama teman-teman sekelasnya.
4:45 pm
Written 4:43 PM by ~ jessie ~
family, personal experience, personal thought, silly thought, women 3 commentsWritten 12:01 AM by ~ jessie ~
cinta, family, personal experience, personal thought, silly thought 2 commentsWritten 1:40 AM by ~ jessie ~
memories, personal experience, personal thought, silly thought 2 commentsWritten 10:21 AM by ~ jessie ~
family, fantasi, personal experience, personal thought, silly thought 4 comments
tempat yang eksotis, nyaman dan (kadang-kadang) dimana orang-orangnya tidak saya kenal. Bali dan Jogja adalah dua tempat yang saya pengen banget untuk tinggali. Dan for your information, di kedua kota itu enggak ada keluarga saya yang tinggal disana. Seandainya saya kepengen jalan-jalan or liburan or vacation, saya lebih senang pergi ke tempat-tempat seperti Disneyland, Movie World atau kalau di Melbourne, tempat kayak Royal Botanical Garden dan di luar kota itu: Sovereign Hill, dengan bau masa lalu yang kental. But that's it. Selebihnya saya lebih suka wisata kuliner dan tempat-tempat favorit wisata kuliner saya tentu di Indonesia. Lidah saya cinta mati sama makanan Indonesia. Waktu tinggal di Oz pun saya lebih sering masuk ke resto makanan Indo daripada model Subway atau McD atau Burger King. Apa boleh buat.
a pengen punya hobi kayak Fanda, yang selalu bisa meluangkan waktu untuk fitness dan hunting buku-buku yang keren. Dari dulu saya kepengen ikutan fitness. Pernah saya bergabung dalam klub dan saya cuma bisa bertahan satu bulan, karena setiap kali fitness saya bawaannya mau makan lebih banyak dari porsi saya biasanya. Jadi untuk apa saya fitness? Plus, setelah punya anak, entah gimana sulit sekali squezze fitness time diantara waktu-waktu saya bekerja di kantor, urus anak di rumah dan pelayanan di gereja. Padahal, sumprit, nih perut sudah waktunya diurusin supaya nggak nampung makanan aja bisanya, tapi juga harus work out supaya burn fat (ceilah).
zz itu orang yang keren menurut saya. Saya sendiri jujur saja enggak terlalu bisa menikmati musik jazz. Jangankan musik jazz, musik klasik pun saya enggak terlalu doyan. Dulu waktu lagi hamil katanya kan baby-nya disuruh dengerin musik klasik, mommy-nya juga, biar rileks. Katanya lho. Tapi yang ada tiap kali saya dengerin musik klasik, hati saya bergetar-getar protes dan saya jadi gelisah. Karena saya gelisah, nyetrum juga tuh ke baby. Akhirnya saya jadi jarang banget dengerin musik klasik semasa hamil. Musik yang paling saya nikmati tentu saja musik-nya Project Pop, soundtrack-nya Disney (mulai dari film kartun yang jadul itu sampai High School Musical dan Up) dan lagu-lagunya Norah Jones.
Punya orang tua yang hidupnya enggak jauh-jauh dari main musik dan ikutan paduan suara di gereja bikin masa kecil saya juga enggak jauh-jauh dari dua hal itu. Karena dari kecil saya ikutan paduan suara, saya sering sekali mengolok-olok sepupu saya yang suaranya kebetulan fals. Olok-olokannya sih biasanya terjadi kalau sepupu saya mulai nyanyi kemudian saya akan teriak-teriak, "Weekk.. fals.. fals...." Dan saya enggak ingat kenapa kok saya se-nasty itu sama sepupu saya, sampai-sampai mamanya sepupu saya itu bilang gini sama saya, "Nanti dia nggak mau ikutan paduan suara lho kamu bilang fals fals terus." Tapi itu enggak menghentikan saya untuk terus menggoda sepupu saya tiap kali nyanyi. Alhasil, saya enggak ingat, kapan dia terakhir nyanyi di depan saya.
Pada suatu hari yang cerah (karena sedikit mendung, tentu saja, apaan sih..), saya kedapatan chat dengan seorang teman tentang sebuah provider layanan ponsel di Indonesia. Maaf, nama dan merk tidak akan saya cantumkan daripada saya kena tuntut, enggak ada duit buat sewa pengacara dan enggak ada waktu buat pergi ke pengadilan. Jadi dia mengeluh kalau promonya provider ini sifatnya default. Jadi segalanya otomatis tanpa pelanggan meminta. Padahal, promo-nya itu ya enggak sekedar promo, tapi harus membayar, jadi setiap harinya selalu ada pulsa yang terpotong. Plis deh, hari gini gitu loh, mana ada yang gratis? Sebenernya sih saya setuju ama dia, enggak seharusnya provider bikin promo-nya default, karena kalau saya enggak pakai kan saya rugi, udah pulsa kepotong setiap hari, promo-nya enggak pernah saya gunakan. Tapi yang bikin saya mengkerutkan kening adalah waktu dia ngomong gini: "Telepon aja sana ke service center-nya, puas-puasin diri marahin mbak CS-nya! Hahahahaha."
Saya kemudian mikir, mencoba memposisikan diri jadi mbak CS-nya itu yang kemungkinan besar enggak ikutan bikin sistem promo-nya, yang tugasnya cuma melayani pelanggan dan yang cuma disodori rule system-nya aja untuk disampaikan ke pelanggan, terutama jika ada yang complain. Saya pasti nggak akan terima dimarahi dan dimaki-maki oleh teman saya itu. Saya pasti akan bilang, "Pak, silahkan hubungi langsung direktur saya, dan tanyakan pada beliau kenapa ini promo dibikin seperti orang nggak niat kasi promo. Jangan tanya saya, saya cuma terima jadi saja. Dan tanyakan juga, boleh nggak saya cuti besok, supaya libur dari penelepon-penelepon kayak bapak. Oya, tanyakan juga, kapan gaji saya keluar, pak? Ini sudah tanggal 1!" Saya yakin setelah itu pasti akan dapat libur terus, alias dikeluarin.
Susah ya cari uang? Customer service kayak mbak-mbak yang di provider-provider ponsel itu juga pasti kenyang dimaki-maki dan dimarahin orang. Saya pernah sih telepon dan marah tapi saya enggak pernah memaki karena saya sepenuhnya sadar orang yang saya hadapi itu bukan si pembuat sistem. Lagipula yang namanya memaki itu enggak bisa bikin puas kok, puasnya palingan di menit-menit awal, sisanya malah kepikiran terus sibuk membela diri karena sudah memaki orang lain.
Susah ya cari uang? Para marketing kartu kredit yang biasanya suka menghadang setelah belanja di hypermarket itu juga pasti kebal juga ditolak sama orang. Ya kalau orang menolaknya dengan baik-baik, kalau sama marah-marah? Atau dengan ketus?
Salut saya untuk orang-orang yang bekerja menerima keluhan orang, karena disitulah kesabaran diuji dan disitulah awal pembelajaran untuk rendah hati. Enggak ada yang salah dengan kerendahan hati, karena kerendahan hati adalah langkah pertama untuk mau belajar jadi lebih baik. (yakk.. sokwise.com).
Monday, 5 July 2010
2:15 pm
PS: Buddy, if you want to criticize something, at least do it with style.. ;)
PPS: gambal diambil dari sini
yang membeli koran. Kemudian saya berpikir pengen beli korannya tapi nggak mau minta kembaliannya. Terus saya pikir itu sudah biasa, jadi saya kepengen beliin dia makanan di resto itu. Saya melirik lagi anak laki-laki tadi, dia sudah tertidur dengan beberapa lembaran uang di tangannya. Oke, saya memutuskan dalam hati, saya mau belikan dia makanan aja dari resto itu. Setelah melihat-lihat menu dan hendak memesan, saya lirik lagi anak laki-laki tadi. Dia sudah enggak ada disitu. Saya mencoba keluar dan mencari-cari tapi anak itu seperti raib, entah pergi kemana. Cinta memang enggak perlu dipikir, tapi dilakukan.
angku sma dulu. Tapi ini dulu lho ya. Dulu. Jadi waktu itu saya dipasang-pasangin sama satu anak laki-laki (iya lah laki-laki, masa perempuan?), katakanlah namanya mr. X. Enggak disangka enggak dinyana mr X menganggap serius permainan teman-teman saya. Saya sendiri enggak tahu kalau dia serius sampai dia ngomong sungguhan via telepon *duileh, kenapa via telepon yah waktu itu?* Saya sempet aja sih ngomong iya coz menurut saya walaupun dia nggak ganteng, dia keren. Keren ini menurut saya: tinggi, pinter dan sedikit 'nakal'. Maksudnya 'nakal' bukan nakal jorok ya, tapi pernah dia dikeluarin dari pelajaran biologi gara-gara pe-ernya belom selesai dan dia malah bilang gini sama gurunya: ''Serius, Bu? Saya boleh keluar kelas? Horeeee..!!'' Dan dia menghambur keluar begitu saja keluar kelas. Di mata saya waktu itu dia keren betul waktu menghambur keluar kelas. Sementara si guru cuma geleng-geleng kepala. Errr... kok jadi ngelantur yak? Oke, jadi setelah saya ngomong iya, saya nggak bisa tidur berminggu-minggu *nah lho, lebay*, maksud saya hati saya nggak tenang, saya blom mau pacaran soalnya, mau mikirin karir dulu gitu. Eh, tapi saya masih sma ya? Kalo gitu, mikirin sekolah. Jadi akhirnya setelah beberapa hari menghindar, saya ngomong enggak sama dia. Enggak jadi maksudnya. Dan minggu-minggu setelah itu adalah minggu-minggu saya dihindari dia. Yang saya enggak sadari sih saya sebenernya suka juga sama dia. Sampai sekarang saya belum pernah ketemu lagi sama dia. And I think God forbids us to see each other. Oh, well. Tapi mungkin ini kejadian no second chance yang enggak pernah saya sesali coz my hubby is one of the best things that ever happened to me ^^.
ntor, saya juga kepengen banget ketemu teman lama saya. Katakanlah namanya Ms. Y. Sehari sebelum berangkat saya udah kirim message ke dia via fb. Saya minta nomornya supaya ntar kalau saya disana saya bisa kontak dia dan bisa ajak dia ketemuan gitu loh. Tapi ternyata minta nomornya tuh sesulit melakukan serving pada pertandingan voli (sumprit, saya paling nggak bisa serving bola voli, tiap kali giliran saya, bola volinya enggak pernah melewati net, boro-boro melewati net, ngelewati pemain garis belakang aja udah untung). Saya udah coba berbagai cara, dari merayu sampe pura-pura bete saya tetep enggak dapet nomornya. Anehnya, dia enggak melakukan ini ke saya aja, dia melakukan itu ke hampir semua temen sma-nya. Sampai hari terakhir saya mau kembali ke Surabaya, dia telepon saya. Dia takut saya marah. Saya enggak marah sih, saya cuma enggak ngerti aja kenapa dia kayak gitu. Seinget saya, saya enggak pernah tuh buat salah sama dia. Tapi waktu ditelepon sama Ms. Y ini saya udah menyerah. Saya pikir buat apa sih ketemu sama orang yang nggak pengen ditemui? Dia tanya kapok nggak sama dia, saya jawab aja, saya enggak kapok ke Bandung, dan dia kerasa sendiri. Dia bilang susah ya ketemu dia. Batin saya, jauh lebih susah ketemu dia daripada ketemu yosi project pop! Saya bilang ke dia, udahlah kalau memang nggak bisa jangan dipaksain sambil dalam hati saya nyanyi lagunya High School Musical 2 yang Everyday: ''Once in a lifetime means there's no second chance, so I believe that you and me should grab it while we can.'' Karena siapa sih yang bisa pastiin saya akan ke Bandung lagi, bisa ketemu dia lagi? Siapa coba?
etar-getar cinta (jadi inget lagu pertamanya Rossa nggak?). Mr. S bilang dia merasa lebih cocok jadi kakaknya aja *euh, classy banget ya?*, padahal Ms. M barangkali akan pertimbangkan Mr. S, kalau dia ngomong. Waktu dengar cerita ini, otak saya langsung bilang: ceritanya kayak cerpen di majalah Anita Cemerlang jaman dulu coy. Tapi ini yang dinamakan no second chance (btw, ini cerita beneran lho, bukan fiksi). Ms. M enggak mungkin meninggalkan keluarganya begitu tahu tentang perasaan Mr. S dan Mr. S juga nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Seandainya saja waktu itu Mr. S ngomong atau Ms. M enggak hanya menunggu, barangkali lain ceritanya.
PS: Dan kayaknya saya juga kehilangan kesempatan beli beanie ini, cuma saya coba aja tapi nggak jadi beli ;(
Saya nggak tahu mulai kapan saya suka dunia teater. Saya juga nggak ingat sejak kapan saya menulis naskah drama. Tapi saya baru sadar bahwa hidup saya enggak jauh-jauh dari bikin naskah drama sejak beberapa minggu terakhir ini. Enggak, saya enggak lagi show-off, nunjukin kalau saya pinter banget bikin naskah drama. Menurut saya, naskah drama saya nggak ada apa-apanya dibandingin naskah dramanya Putu Wijaya atau WS Rendra atau Remy Silado. Oopss.. jauh ya? Jangankan mereka, menurut saya naskah drama saya masih enggak ada apa-apanya dibandingkan senior saya yang sekarang tinggal di San Jose, amrik sono. Jauh banget dah. Kalau sampai sekarang saya masih diminta bikin naskah saya kira barangkali itu karena dua hal. Satu, saya yang lebih sering available untuk dimintain tolong. Dua, saya orangnya kan baik hati dan enggak sombong, jadi susah nolak permintaan orang *hohohoho*.
Yang menarik dari ikutan teater adalah kadang-kadang kami dibilang orang-orang aneh. Saya sendiri enggak tahu kenapa. Tapi kalau ditanya apa sih menariknya berakting di atas panggung teater? Maka jawab saya (dan barangkali pemain-pemain teater lainnya) adalah begini. Panggung teater jadi sebuah tempat yang asyik banget karena disana kami bisa jadi apapun yang mungkin enggak pernah kami bayangkan sebelumnya. Jadi orang gila? Jadi pelacur? Jadi ibu-ibu tua yang suka marah-marah? Jadi orang yang buta tuli? Semuanya bisa. Apapun yang enggak bisa dilakukan dalam keseharian bisa dilakukan di atas panggung. Ini yang bikin menarik! Ini yang bikin asyik! Tapi ini pula yang barangkali penyebab kami dibilang orang-orang aneh (asal jangan dibilang orang-orangan sawah aja), karena kami menikmati peran jadi orang lain di luar diri kami sendiri. Jujur aja, latihan buat sebuah pementasan (besar atau kecil sama aja) itu cukup berat. Saya suka dengan klub teater di gereja saya karena pementasannya enggak sekedar drama meja kursi yang ceritanya melulu tentang keluarga atau sepasang suami istri yang suaminya kecewa pada gereja, dsb, tapi klub teater di gereja saya lebih senang mementaskan sesuatu yang kontemporer, yang menyebabkan jemaat yang menonton ikutan berpikir ini drama maksudnya apa. Kalau jemaat masih bingung, pendeta yang berkhotbah bisa membantu menginterpretasikan isi drama tersebut. Selain itu - ini yang menurut saya cukup istimewa - penggunaan microphone (baik wireless maupun tidak) adalah tabu hukumnya. Jadi para pemain dipaksa belajar vocal sehingga mengucapkan dialog pun harus menggunakan suara perut, lebih bagus lagi diafragma. Supaya seluruh penonton dalam gedung gereja (yang akustiknya sangat enggak bagus ) dapat mendenger kata per kata yang diucapkan. Dulu saya pikir suara perut kayak begitu cuma digunakan untuk paduan suara atau nyanyi, tapi ternyata enggak juga. Yang boleh dipakai hanya standing microphone yang nggak akan mengganggu gerak-gerik pemain. Pokoknya pemain enggak boleh pegang microphone atau menggunakan wireless microphone. Yang menempel di tubuh pemain adalah yang ada hubungannya dengan peran dia. Pelatih yang sekarang bilang sebabnya enggak boleh pakai microphone adalah mengganggu estetika panggung dan saya setuju. Masa ada orang gila bawa-bawa microphone kemana-mana?
Tulisan ini saya persembahkan buat temen-temen seperjuangan saya di Teater Imaji, Surabaya yang lucu-lucu, yang gemar membuat orang tertawa dan pementasan-pementasannya enggak kalah lucu dari extravaganza, srimulat dan opera van java dijadiin satu *haiyah*. Jangan menyerah. Jangan manja. Jangan berhenti. Jangan menyerah selagi nafas kalian masih ada, selagi semangat itu masih ada, selagi dunia ini belum kiamat. Jangan manja karena kemanjaan adalah bentuk lain dari kemalasan, karena hanya orang malas lah yang enggak pernah kepengen untuk maju. Jangan berhenti bekerja serabutan dan saling tolong menolong dan tetep yang terbaik yang diberikan. Jangan. Setengah-setengah hanya untuk orang biasa, padahal kita semua tahu kita orang biasa yang jadi luar biasa karena Dia yang nyiptain kita semua. (Lama-lama ini tulisan jadi kayak pidato presiden di hari Kebangkitan Nasional deh..)