Showing posts with label personal experience. Show all posts
Showing posts with label personal experience. Show all posts

Thursday, March 20, 2014

"Ada! Ibu rumah tangga!"

Sejak subuh tadi perempuan itu sibuk. Menjerang air. Menyiapkan sarapan. Mencuci baju. Belanja sayuran di depan rumah. Supaya tiap makhluk hidup yang tinggal serumah dengannya dapat memulai hari dengan tenang. Tak berapa lama suaminya bangun. Seperti biasa, ritual yang dilakukan adalah mandi, ganti baju kemudian sarapan. Setelah membaca surat kabar sebentar, sang suami berangkat. Itu berarti tinggal makhluk hidup satu lagi dalam rumah itu yang belum memulai harinya.

Si perempuan membuka pintu kamar si makhluk hidup satunya, yaitu anak laki-lakinya – seorang mahasiswa – dengan hati-hati. Sebab ia tahu semalam anaknya tidur lewat jam dua belas karena mengerjakan tugas kuliah. Lewat pukul sembilan pagi, setelah ia merapikan kamar tidurnya, dan anaknya belum juga bangun, ia bangunkan anaknya pelan-pelan karena ia tahu pukul sepuluh anaknya harus mengikuti kelas wajib.

Sambil menggerutu sedikit, tanpa ganti baju si anak mengambil sarapan paginya, membawanya ke ruang tengah dan makan sambil nonton siaran pagi. Selesai sarapan, si perempuan, ibunya bilang air hangatnya sudah siap di kamar mandi untuknya. Pukul sepuluh kurang sedikit, si anak sudah sampai di kelasnya siap untuk mengikuti kuliah.

Di rumah, ibunya menyiapkan makan siang untuk ia sendiri lalu mulai menyeterika baju, menyapu dan mengepel lantai rumah. Menginjak sore, sang ibu akhirnya punya waktu sejenak untuk diri sendiri. Diseduhnya teh dan dibacanya novel yang minggu lalu ia beli. Tak lama, si suami pulang dan selesai lah waktu untuk diri sendiri pada hari itu. Ia kembali menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, lantas menyiapkan makan malam.

Si anak baru pulang ke rumah setelah makan malam – sambil mengomel kanan kiri tentang dosen yang menyebalkan, tugas yang sulit, teman kuliah yang cerewet dan juga pacar yang cemburuan. Didengarkannya curhatan si  anak dengan sabar sambil menemaninya makan malam. Perempuan itu mengerti bahwa malam itu akan dilewati lagi oleh anaknya hingga larut untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum rampung.

Esoknya, rutinitas sang ibu tetap sama, namun anaknya bangun lebih pagi. Ia makan sarapannya dengan cepat dan buru-buru berangkat kuliah. Pagi itu, si anak ada janji kerja kelompok bersama teman-teman sekelasnya.

Di kampus, selesai kerja kelompok, mereka ngobrol ngalor ngidul – mengeluhkan pekerjaan apa yang akan dilakukan selepas lulus nanti. Ada yang bilang kalau ia pernah ditawari kerja di bank, tapi ngeri dengan targetnya yang berbunyi satu setengah em. Ada juga yang menyahut lebih ngeri lagi kalau dapat kerja yang waktunya shift-shift­an - kapan pacarannya coba? Lantas mereka berpikir: Memang ada pekerjaan yang gampang? Yang nggak pake target?

Si anak laki-laki tadi, sambil makan bekal yang disiapkan oleh ibunya, berucap dengan lantang: “Ada! Ibu rumah tangga!”

Sementara di rumahnya, sang ibu sedang memasak makanan kesukaan anaknya untuk makan malamnya nanti karena ia tahu anaknya baru melewati dua malam yang melelahkan.

Thursday, 20 March 2014
4:45 pm
   

Wednesday, February 05, 2014

tepok jidat

Di sebuah mini market, seorang ibu muda marah-marah. Ia baru saja membeli beberapa barang disitu, dan ketika ia membayar, penjaga kasir memberinya kembalian permen dua biji. Padahal jika membaca struk yang ia terima, ia seharusnya mendapatkan kembalian sebesar empat ratus rupiah. Ini sudah kedua kalinya dalam minggu ini.

"Dua hari yang lalu saya kemari, saya juga dapat kembalian permen. Kalau permen-permen yang saya dapatkan dari sini saya kumpulkan, saya bila beli satu bungkus mie instan. Gimana? Bisa nggak saya beli satu bungkus mie instan pakai permen yang kalian beri?" tanyanya sewot. Si kasir, seorang trainee yang baru masuk hari itu hanya bisa menggelengkan kepala. Wajahnya pucat, tak menyangka di hari pertama ia masuk kerja sudah kena semprot pembeli.

"Ini bentuk lain dari korupsi!" kata si ibu muda itu tadi. "Yang nilainya kecil macam begini saja kalian lakukan, apalagi kalau ditawari yang besar! Saya laporin KPK baru tahu rasa!" Dan setelah puas mengomeli si trainee tadi, ibu muda itu pulang ke rumah.

Di rumah, suaminya sedang membaca surat kabar sambil menggerutu. "Negara ini sudah edan. Pejabat-pejabat yang digaji pakai uang pajak kita itu isinya kok koruptor semua. Wakil rakyat mbahe dewe! Ditawari Toyota Alphard satu biji plus duit bunyinya M langsung takluk. Ora nduwe udel! Mereka nggak takut karma apa? Disiksa setan di neraka? Mantan putri kecantikan ketemon korupsi! Menteri ketemon korupsi! Petinggi partai besar korupsi! Sampai orang hukum tertinggi pun korupsi! Edan! Bau uang sudah bikin mereka mabuk kepayang!"

Gerutuan sang suami disambut oleh sang istri, si ibu muda tadi yang baru marah-marah di mini market perkara uang seribu seratus tujuh puluh lima yang dikorupsi oleh pemilik mini market. Mereka berdua sepakat negara ini isinya kebanyakan oportunis yang buta dengan kekuasaan dan semerbak bau uang bergepok-gepok. Nilainya tak lagi ratusan, bahkan sudah M sampai T. Ratusan sih untuk mereka di level lele! Level hiu kayak mereka kurang jika dapat ratusan saja.

Dan pada akhirnya, mereka menyimpulkan: "Kasihan bukan kepalang KPK itu. Tugas mereka banyak dan berat…." Mereka - suami istri itu – lantas mendesah bersama-sama.

Sementara itu, trainee bagian kasir di mini market tadi termenung-menung teringat si ibu yang marah-marah padanya perkara kembalian sebesar uang empat ratus lima puluh rupiah. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu, dan mengantar anaknya yang kelas 1 SD ke sebuah mall untuk mengikuti lomba mewarnai. Jika anaknya menang, lumayan ada hadiah uang tunai yang bisa ditabung untuk membelikan anaknya tas baru.

"Tidak boleh dibantu orang tuanya ya," kata si petugas sambil menyerahkan kertas gambar untuk diwarnai anaknya setelah ia membayar uang pendaftaran.

Saat ia sedang menunggui anaknya mewarnai gambar dengan seriusnya, ia melihat beberapa orang tua lain kasak kusuk sambil menunjuk-nunjuk. Rupanya ada salah satu peserta lomba yang didampingi kedua orang tuanya, dan orang tuanya ikut mewarnai kertas bergambar milik anaknya. Beberapa sudah lapor pada petugas dan ia sendiri melihat petugas itu mencatat sesuatu di kertas yang ia pegang, jadi ia berasumsi peserta itu akan didiskualifikasi - atau paling tidak, tidak dinilai.

Tibalah mereka di akhir acara, yaitu pengumuman para pemenang lomba mewarnai. Satu per satu MC menyebutkan berurutan pemenang dari juara harapan tiga hingga juara satu. Saat nama pemenang juara satu disebut, para orang tua yang tadi kasak kusuk kembali heboh. Rupanya pemenangnya justru peserta yang orang tuanya ikut nimbrung mewarnai sehingga hasilnya memang jauh lebih bagus, rapi dan bersih dibandingkan dengan peserta lainnya – yang sebenarnya jika para panitia menggunakan akal sehat mereka, agak mustahil hasil pewarnaan serapi dan sebersih itu dilakukan oleh anak kelas 1 SD.

Namun, tak ada yang lebih mengejutkan bagi si trainee itu, selain kenyataan bahwa ia sudah pernah bertemu dengan sang ibu dari peserta juara 1. Itu ibu yang pernah marah-marah padanya perkara uang empat ratus lima puluh rupiah dan menudingnya melakukan korupsi. Punahlah sudah kesempatan untuk beli tas baru buat anaknya.

Saya? Saya yang mengamati kisah ini cuma bisa getun bin gumun. Atau niru bapak presiden deh: saya prihatin. Dan saya sama sekali nggak berminat berempati menjadi ketua atau wakil ketua 1 atau wakil ketua 2 atau posisi apapun di KPK. Kerjaannya terlalu berat untuk ikut dirasakan. It's a never ending job, kayak kerjaan nyuci piring dan nyuci baju. Lha wong generasi penerusnya saja sudah diajarin seperti itu sejak kecil. 

Lebih baik saya wara-wiri di media sosial aja deh, sambil tepok jidat dan nulis di blog.

Negeri ini memang lucu.


Sunday, 2 February 2014
9.45 pm

Based on true story. 

Gambar diambil dari sini.

Monday, July 29, 2013

seorang laki-laki tua

Tak ada yang istimewa dari penampilan laki-laki tua yang sudah beruban itu. Yang khas barangkali adalah kekehnya yang cenderung beruntun dan senyumnya yang sering menghias di wajahnya. Itu saja. Tampan? Ia sudah cukup tua untuk dapat dikatakan tampan. Gagah? Ia juga sudah cukup berumur untuk dapat dikatakan gagah meski tak bungkuk jalannya. Tinggi? Ia tak juga tinggi. Sederhananya sederhana: lihatlah ia sekilas saja, belum tentu sosoknya tinggal dalam benakmu.

Berapa banyak orang, kau pikir, ingin menjadi seperti dia? Barangkali tak banyak. Dan barangkali hanya dapat dihitung dengan jari. Apalagi anak-anak muda jaman sekarang, yang cita-citanya tidak jauh-jauh dari orang terkenal, bintang film, fotomodel, penyanyi, anak band atau sederet profesi dengan bonus diliput media, diikuti paparazzi dan dimintain tanda tangan dan foto kemanapun mereka pergi. Atau yang agak beda sedikit, anak-anak muda yang bermimpi mengubah dunia dengan kepintaran mereka dikombinasikan dengan ambisi yang ditanamkan orang tua sejak kecil melalui sekumpulan piagam dan piala dari segala penjuru.

Dari sekian banyak anak-anak muda itu, berapa banyak yang melihat laki-laki tua sederhana tadi sebagai panutan? Entah. Yang jelas, ada yang perlu kau tahu tentang laki-laki tua tak menarik ini. Dulu tiap minggu, ia selalu menggandeng istrinya yang menderita alzheimer ke gereja untuk mengikuti kebaktian. Apabila ada acara makan-makan, ia akan mengambilkan sekaligus menyuapi istrinya dulu sebelum ia sendiri makan. Tak pernah kulihat atau kudengar ia mengeluh atau marah-marah pada istrinya. Ia pernah mengatakan pada kami, ia sudah berjanji akan terus menjaga istrinya apapun keadaannya, dan itu akan terus ia pegang. 

Menurutku, ia lebih dari seorang bintang film Hollywood. Atau penyanyi K-Pop yang digandrungi remaja masa kini. Atau bahkan presiden kita yang doyan ngomong prihatin itu. Laki-laki tua ini mengajarkanku arti cinta sejati yang dibungkus komitmen. Boleh jadi ia anonim, boleh jadi ia tak terkenal, tapi orang-orang seperti ia yang akan terus tinggal dalam hati ini. Menjadi inspirasi sekaligus teladan lebih daripada orang-orang terkenal itu.


Minggu, 28 Juli 2013
5 menit menuju 29 Juli 2013

#36harimenulisrandom - day 2




Saturday, June 30, 2012

kotak telepon umum


Pada sebuah kotak telepon umum yang kotor dan kumuh, ada sebuah memori yang tak bisa diberi harga. Memori yang barangkali akan selalu membisikkan sesuatu bahwa cara manusia saling berhubungan senantiasa mengalami evolusi. Mengingatkanku bahwa dahulu untuk berkomunikasi jarak jauh, ada usaha keras yang harus dilakukan. Ada uang receh yang harus dikumpulkan. Ada langkah yang harus diadakan. Ada keegoisan yang harus disingkirkan. Sebab kotak telepon umum itu tentu saja milik umum, sehingga aku harus tahu diri bahwa aku bukan satu-satunya pengguna. Jadi, saat kulihat kotak telepon umum di pinggir jalan pada bulan keenam tahun dua ribu dua belas yang kotor, kumuh, dan tak berfungsi lagi, ingatanku kembali ke masa lalu.

Aku ingat betapa puasnya aku semasa SD jika jam istirahat bisa bermain bola bekel di depan kelas atau lompat tali di halaman sekolah. Tak pernah kubayangkan aku rela menukar itu semua dengan apa yang dimiliki oleh anak-anak SD jaman sekarang. Aku ingat aku merasa sangat keren jika bermain benteng-bentengan dan akulah yang berjasa menaklukkan benteng lawan. Aku ingat betapa menggebu-gebunya aku dan kawan-kawanku mengunyah permen karet Yosan hanya karena kami penasaran setengah hidup apakah kami akan menemukan huruf N di dalam bungkus yang kami buka. Aku sudah punya belasan YOSA tanpa N. Padahal 1 N saja aku temukan, aku bisa dapat hadiah sepeda. Aku curiga perusahaan permen karet Yosan akhirnya barangkali tutup karena mereka sudah menipu kami, anak-anak kecil yang masih lugu ini. Jangan kamu kira anak-anak mudah dikibulin. Dosamu besar dan balasannya tak terkira jika kamu berani membohongi anak-anak seantero nusantara secara publik.

Aku ingat semasa SMA, tak ada seorang pun di sekolah kami yang punya ponsel, tapi kami baik-baik saja. Gelak tawa dan keceriaan masih mewarnai hidup kami. Menggerutu tentang guru tertentu. Merencanakan bolos di pelajaran tertentu. Menggosipkan kakak-kakak kelas tertentu. Mentertawakan teman-teman tertentu. Semuanya kami lakukan dalam ribut. Dengan mulut kami. Bukan dengan jari kami.

Aku tidak malu juga untuk bilang bahwa dulu aku begitu kagum pada bapak presiden Soeharto, saat beliau muncul di layar tivi menemui petani dalam acara desa ke desa. Waktu itu kupikir, hebat betul seorang presiden mau turun ke sawah menemui petani. Sungguh berbeda dengan presiden sekarang yang setiap kali muncul di tivi, makin tua dan lelah saja raut wajahnya. Barangkali karena kelelahan dan kecapekan menanggung beban seluruh rakyat maka ia cuma bisa ngomong prihatin. Memprihatinkan rakyatnya dan memprihatinkan dirinya sendiri. Memang lugu saat kurenungkan saat ini betapa anak-anak sepertiku waktu itu bisa jatuh cinta pada pencitraan yang diciptakan oleh beberapa orang. Tapi bukankah anak-anak lebih berpikir positif daripada orang dewasa? Bukankah itu yang membuat masa kanak-kanak jadi istimewa? Mereka kritis tapi positif. Orang dewasa boleh kritis, tapi cenderung negatif.

Dulu, tiap kali aku melakukan kesalahan bodoh atau ketololan yang menyebabkan amukan orang tua atau guru, aku selalu merasa malu. Aku selalu merasa ingin tenggelam sampai ke dalam bumi saja agar tak perlu bertemu siapa-siapa. Namun toh ketika teringat kembali, semua kenangan-kenangan konyol itu selalu berhasil membuatku tertawa geli. Barangkali seperti sebuah pepatah pernah mengatakan: lakukanlah hal-hal tolol semasa mudamu, agar di masa tuamu nanti, kamu punya sesuatu yang bisa kamu tertawakan. Maka aku bersyukur betapa banyak kebodohan yang pernah kubuat, dan jika kuingat-ingat aku justru tak pernah menyesalinya, yang ada hanya kegelian yang kubagikan bersama teman-teman dan keluargaku.

Oleh sebab itu, jangan salahkan aku jika aku tiba-tiba teringat bahwa ada satu waktu, aku sudah sangat bahagia jika dibelikan Chiclets, yang hingga saat ini belum pernah kutemui yang rasa dan bentuknya serupa. Atau teringat betapa asyiknya mengunyah krip-krip, makanan kecil tak sehat tapi selalu kubeli karena murah harganya, enak rasanya, dan entah dibuat dari apa. Berbeda dengan krip-krip jaman sekarang. Sudah mahal, tak sama pula dengan memori masa kecil. Atau mengenang betapa sebuah kotak telepon umum menjadi saksi hatinya dan hatiku yang tak sempat bertaut.

Ah. Memori memang mahal harganya. Keliru. Memori tidak mahal, ia tak terbeli. Sepintar apapun manusia memproduksi tiruan barang-barang masa lalu, memori tetap lah memori. Tak dapat dibeli, tak bisa pula ditukar. Sheila on 7 lagi-lagi benar saat mereka menyanyi: bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan.

Kotak telepon umum itu, kulewati lagi pagi ini. Masih tegak berdiri meski renta. Masih kokoh berdiri meski kotor. Masih angkuh menatap jalan meski disfungsi. Barangkali karena menyadari, ia ada disitu untuk mengingatkan kami, bahwa hari ini ada karena masa lalu. Oleh sebab itu, tak sepantasnya masa lalu dilupakan begitu saja.


Saturday, 30 June 2012
1:30 am

Tuesday, February 28, 2012

ada orang gila


Ada orang gila di pinggir jalan. Ia tertawa-tawa sendiri. Ia senyum-senyum sendiri. Ia bicara-bicara sendiri. Dan saat aku lewat, ia menyapaku dengan giginya yang hitam-hitam. Orang gila tidak pernah sombong. Ia selalu menyapa orang-orang yang lewat di depannya dengan senyum, walaupun ia tak kenal dengan orang-orang itu.

Orang gila itu mengaduk-aduk tempat sampah yang baunya minta ampun. Ragu-ragu kutinggalkan ia karena perut ini sudah protes minta makan. Namun dari sudut mataku, ia mengambil sesuatu, kembali tertawa-tawa, kemudian makan sesuatu yang ia ambil dari tempat sampah itu dengan riang gembira.

Aku mau muntah.

Masuklah aku ke rumah makan dekat orang gila tadi bercengkerama dengan tempat sampah. Kupesan makanan. Kemudian aku merenung. Dari balik jendela, aku masih melihat orang gila tadi makan di dekat tempat sampah yang baunya minta ampun. Kembali aku merenung. Barangkali makanku tiap hari tidak selalu di rumah makan. Hanya kadang-kadang di restoran sedikit mahal. Namun tak sekalipun aku pernah makan sesuatu yang kuambil dari tempat sampah. Tak pernah. Sehingga orang gila itu membuatku hatiku ciut, bahwa sesungguhnya, hidupku ini sudah terlalu mewah. Dan kemewahan bukan sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Kemewahan adalah bonus tak penting, jika dibandingkan dengan hidup itu sendiri.

Kuangkat tanganku memanggil pelayan rumah makan. Memesan satu paket nasi ayam goreng untuk dibungkus – sambil berjanji akan memberanikan diri memberikan itu untuk orang gila yang kutemui tadi. Orang gila yang selalu menyapa orang-orang asing baginya dengan senyum.

Kulirik kembali keluar jendela. Hatiku runtuh. Orang gila itu sudah tidak ada. Kupelototi jalanan depan rumah makan namun tak juga kutemukan. Aku menyesal. Aku menyesal harus merenung terlebih dahulu sebelum membelikan makanan untuknya. Aku menyesal.

Barangkali itu pertama kalinya aku iri pada orang gila. Orang gila akan memberikan senyum pada orang-orang lain meski ia tak kenal. Orang gila tidak perlu memikirkan apa kata orang lain jika melihat perbuatannya. Orang gila tak perlu repot-repot takut sakit perut karena makan dari tempat sampah. Orang gila tidak khawatir akan hari esok – apakah ia masih akan bertahan hidup, atau mati bertemu Sang Pencipta.

Merenung – memang tak selalu baik adanya.
Orang gila – memang tak selalu berbahaya, bisa jadi ia inspiratif sebagaimana adanya ia.


Tuesday. 28 Februari 2012
10.05 am

Wednesday, February 15, 2012

semangkuk, dua mangkuk ronde

Ada yang istimewa dari semangkuk ronde di malam hari saat gerimis. 


Memang apa istimewanya? Warung rondenya juga tidak terletak di jalan besar sehingga ramai dikunjungi orang. Nama warungnya juga tidak terkenal. Sungguh tak sebanding dengan nama-nama besar yang memajang foto laki-laki tua berkumis atau badut berambut kribo berwarna merah. 


Semangkuk ronde ini jadi istimewa karena disandingkan dengan semangkuk ronde lainnya, dinikmati di malam hari saat gerimis di hari Valentine. Mengingatkan sepasang kekasih tersebut bahwa ungkapan cinta tak harus mahal. Merayakan cinta tak harus dengan makan malam di restoran glamor. Bercinta tak melulu seks. Cukup dengan dua mangkuk ronde. 


Sesederhana dan seistimewa itu.






Tuesday, 14 February 2012
11.47 pm
before the Valentine Day went away

Tuesday, January 10, 2012

warung kopi di pinggir jalan


Tahukah, kawan, ada yang salah dengan warung kopi di pinggir jalan itu. Bukan. Bukan letaknya yang di pinggir jalan yang salah. Juga bukan apa yang disediakan yang salah. Tidak pernah ada yang salah pada secangkir kopi. Kesalahan selalu ada pada keputusan peminum. Walaupun tak semua peminum kopi itu salah. Warung kopi itu selalu bikin hati perempuan itu tak tenang tiap kali ia lewat. Ia selalu merasa tak enak hati dan sering mengumpat perlahan tiap kali ujung matanya menemukan warung kopi itu. Seolah-olah keberadaannya itu betul-betul sudah mengganggu hidupnya.

Dan tahukah, kawan, warung kopi itu sudah bikin ia berdosa karena cemburu. Ia cemburu karena disana hanya ia temukan makhluk paling arogan sedunia yang bernama laki-laki. Tidak ada perempuan disana. Semuanya laki-laki. Seolah-olah disana tidak ada jenis kelamin lain. Mereka menyeruput kopi perlahan-lahan sambil mengepulkan asap rokok. Dan selagi asap rokok beredar diatas kepala, mulut mereka komat-kamit - bergosip satu dengan yang lain. Siapa bilang hanya perempuan yang bergosip? Laki-laki pun demikian. Tidak cukup hanya itu, ada papan-papan catur yang siap kapanpun untuk dipakai oleh pengunjung. Tentu saja laki-laki lawan laki-laki. Jarang kau akan temukan laki-laki lawan perempuan di ajang pertarungan catur di sebuah warung kopi pinggir jalan. Laki-laki lawan perempuan hanya akan kau temukan di atas ranjang bergoyang yang berderit-derit. Begitulah yang kau akan temukan dalam sebuah warung kopi di pinggir jalan yang ia benci itu. Pada pagi hari.

Tahukah kawan, warung kopi itu menunjukkan pada dunia bahwa laki-laki selalu punya waktu untuk diri mereka. Tidak peduli apakah mereka masih sekolah, jomblo, berpacaran, duda, dan yang menikah sekali pun.

Tapi, kawan, cobalah tengok tak berapa jauh dari warung kopi itu. Disana ada pasar. Ribut dan kumuh seperti kandang ayam yang tidak pernah dibersihkan. Di pasar itu niscaya kau akan tahu bahwa hidup seringkali memang tidak adil adanya. Perempuan-perempuan tercecer disana, tua, muda, setengah baya dan kebanyakan tangan kanan mereka menggendong bayi, tangan kiri menggandeng anaknya yang sulung sekaligus plastik berisikan belanjaan hari itu.

Ia benci warung kopi di pinggir jalan itu. Namun ia juga tak kalah bencinya dengan pasar yang tak jauh dari warung kopi tadi. Setengah mati ia berharap warung kopi itu roboh dan diganti dengan sesuatu dimana perempuan-perempuan dapat berkumpul santai di pagi hari tanpa merasa bersalah dan tak jauh dari situ ada pasar dimana makhluk arogan bernama laki-laki itu berkeliaran bingung tak tentu arah karena tak tahu mau makan apa mereka hari itu dan oleh sebab itu mereka tak tahu apa yang harus mereka beli. Dan juga bingung bagaimana harus berbelanja sekaligus menjaga anak-anak mereka.

Hingga suatu hari, harapannya jadi kenyataan. Persis seperti yang ia inginkan. Lengkap dengan kebingungan para laki-laki yang ia tanggapi dengan bahak paling kencang yang pernah bisa ia semburkan.

Namun, ada yang ia tak tahu. Dalam warung kopi yang ia benci itu, yang ia kira tak ada makhluk lain selain laki-laki, ada satu perempuan disana. Dan ia mengutuk apa yang sudah terjadi. Karena perempuan-perempuan yang berkumpul di warung kopi membuat dia rugi besar. Tawar-menawar harga tiada henti. Permintaan diskon yang tak masuk akal. Juga tuntutan promo buy one get one. Dan tak jauh dari situ, para pedagang di pasar bersorak-sorak gembira, karena para laki-laki yang berbelanja itu percaya dengan harga yang mereka berikan dan membayarnya tanpa berkata suatu apapun. Di rumah, istri-istri mereka mencak-mencak karena uang belanja tiba-tiba melambung tinggi sehingga  mereka tak lagi bisa mendapatkan tambahan untuk berbelanja baju dan sepatu di mall.  

Siapa yang mengira?

Friday, 25 November 2011
11:34 pm

Revised: 
Tuesday, 10 January 2012 
2:17 pm

PS: Gambar diambil dari sini 

Tuesday, December 13, 2011

sebuah cermin dan seorang pemilik restoran

Pada sebuah restoran ada sebuah cermin yang tingginya menjulang hingga ke langit-langit. Si empunya restoran cinta betul dengan cermin itu karena melaluinya ia seperti menonton layar lebar yang dibintangi oleh tamu-tamunya sendiri. Jika sedang sendu hatinya atau muram harinya, ditatapnya cermin itu lama-lama pada jam-jam makan dimana restorannya dipenuhi pengunjung untuk mengisi perut mereka. Dan hatinya kembali senang, harinya kembali riang. Suatu hari, saat restorannya kembali ramai dengan pengunjung, ditatapnya kembali cermin itu lama-lama. Mencoba mencari kehangatan dan keakraban yang bisa bikin hatinya kembali senang dan harinya kembali riang dari para pengunjungnya. Tapi berapa kalipun mengejapkan mata hingga mendelik, tetap saja hatinya masih sendu dan harinya masih muram. Bertanya-tanyalah ia pada diri sendiri apa ada yang salah pada dirinya atau cermin itu. Ia dongakkan lagi kepalanya, ditatapnya kembali cermin kebanggaannya itu lekat-lekat, kemudian ia tersentak. Keesokan harinya ia tatap kembali cermin itu, dan tetap saja tak ia temukan yang ia cari. Begitu juga dengan keesokan harinya lagi dan lagi dan lagi.

Barulah setelah frustasi selama berminggu-minggu tak menemukan yang ia biasa ia dapatkan dari tamu-tamunya, sebuah kesadaran menggetok kepalanya atas sebuah pertanyaan tentang mengapa tak lagi bisa ia lihat kehangatan pada cermin itu. Dan barangkali untuk pertama kalinya, matanya beralih menatap langsung pada pengunjung-pengunjungnya, pada tamu-tamunya. Diamatinya tiap keluarga yang makan disitu. Diamatinya satu persatu dan kemudian hatinya semakin sedih, harinya makin muram. Masuklah ia ke ruangannya dan menangis tersedu-sedu disana

Tamu-tamunya, keluarga-keluarga yang datang ke restorannya, yang dulu selalu membawa kehangatan atas keakraban yang terjalin diantara mereka sudah berubah. Tak lagi ada kehangatan yang ia rasakan. Meskipun duduk mengelilingi satu meja, bersama-sama dalam satu tempat, mereka sibuk sendiri-sendiri. Mereka tak lagi saling ngobrol, saling berceloteh, atau saling melempar gurauan. Mereka asyik sendiri-sendiri dengan benda yang ada di tangan mereka. Tersenyum-senyum sendiri sambil membaca entah apa pada benda itu. Anak tak lagi ngobrol dengan ayah ibunya karena sibuk memberi komentar pada status teman-temannya di situs jejaring sosial. Istri tak lagi berceloteh manja pada suaminya karena sibuk dengan online shop yang baru ia rintis. Kakak tak lagi menggoda adiknya karena sibuk memperbarui status tentang dimana ia berada saat itu. Nenek tak lagi dapat berbincang-bincang dengan cucunya karena cucunya sibuk menggebuki musuh melalui benda yang ia pegang kemana-mana. Mereka hanya berhenti sibuk dengan benda itu jika makanan datang.

Tak lama kemudian, pada jurnal hariannya si empunya resto dengan menggebu-gebu menulis begini:  Apa jadinya sebuah keluarga jika mereka sudah tak saling peduli satu dengan yang lain? Apa jadinya sebuah keluarga jika mereka lebih peduli dengan siapa yang tidak bersama-sama dengan mereka daripada dengan siapa yang bersama-sama dengan mereka? Jika sebuah keluarga harus sibuk, bukankah seharusnya mereka harus sibuk mempedulikan satu dengan yang lain? Mengapa kelihatannya jauh lebih penting apa yang terjadi di luar sana ketimbang apa yang terjadi pada keluarganya sendiri? Apa cermin itu harus kuhancurkan agar aku tak perlu lagi melihat keluarga modern tapi dingin yang lebih sering muncul daripada keluarga yang akrab dan hangat?

Pemilik restoran itu lantas berhenti menulis. Direnungkannya kembali yang ia tulis dan melalui jendela ruangan kantornya ia tatap kembali tamu-tamunya. Sudut matanya menemukan sebuah keluarga dengan tawa dan gelak yang telinganya rindukan. Senyumnya mengembang. Tak perlu ia hancurkan cermin itu, karena ia percaya masih ada keluarga-keluarga yang tetap akrab dan hangat di tengah-tengah modernitas yang sedang merajalela.

Ia keluar dari ruangannya, mendekati meja dimana keluarga yang sudah membuat hatinya kembali senang dan harinya kembali riang. Dan senyumnya semakin lebar. Karena tak ada benda-benda mahal dan katanya pintar itu diatas meja mereka.

“Mau pesan apa? Hari ini saya yang traktir,” katanya kemudian.

                Surabaya, 23 September 2011 
PS : Gambar diambil dari sini

Friday, October 08, 2010

love being me?

Blog saya penuh d engan sarang laba-laba, kata Alice dan adik saya. Kalau kata saya selain sarang laba-laba juga ada rumput il alang tinggi-tinggi terus ada bunyi jangkrik juga: krik krik krik, terus bunyi serigala dari kejauhan: hauuuuuu... Tapi plis, pocong, kuntilanak dan sundelbolong silahkan jauh-jauh dari blog saya.

Lagi-lagi alasan saya klasik n an membosankan banget kenapa kok tega membiarkan blog ini begitu saja. Ada apa? Ada apa? Biasa aja. Cuma pekerjaan yang rasanya kok nggak kasi kesempatan buat nge-blog sej enak gitu lho. Cari lagi deh kambing hitam. Paling asoy dah kalau udah ngomongin kambing hitam. Diri sendiri bisa diakali nggak kelihatan salah. Tapi ini beneran. Dan kalau sudah sampai di rumah, waktu saya dituntut anak saya yang sudah mulai pandai mencari cara untuk menarik perhatian

(Dan baru dua paragraf saya tulis, tiba-tiba ada deadline yang harus diselesaikan segera!)

Anyway, akhirnya saya bisa melanjutkan tulisan ini di rumah. Semoga tidak ada yang tiba-tiba telepon atau kirim email minta data atau sesuatu yang harus segera dikirimkan hari ini juga (plis plis plisss).

Saya mau ngomong apa yah? Beginilah kalau lagi enak-enaknya menulis terus tiba-tiba ada sesuatu yang menginterupsi. Ehh.. ehmm.. uhh.. okay, jadi begini. Ini sesuai judul ya.

Beberapa minggu terakhir ini saya dihantui perasaan bahwa saya bukan orang yang keren, tidak menarik dan biasa aja. Hobi saya standar: baca, tulis, ngopi dan maen wedding dash. Apa istimewanya? Saya pengen punya hobi travelling kayak Ria. Tapi kenyataannya bahkan membaca buku: Traveller's Tale: Belok Kanan, Barcelona! tidak menggugah keinginan saya untuk berjalan-jalan kemanapun yang saya pengen. Saya lebih senang menetap di suatu tempat yang eksotis, nyaman dan (kadang-kadang) dimana orang-orangnya tidak saya kenal. Bali dan Jogja adalah dua tempat yang saya pengen banget untuk tinggali. Dan for your information, di kedua kota itu enggak ada keluarga saya yang tinggal disana. Seandainya saya kepengen jalan-jalan or liburan or vacation, saya lebih senang pergi ke tempat-tempat seperti Disneyland, Movie World atau kalau di Melbourne, tempat kayak Royal Botanical Garden dan di luar kota itu: Sovereign Hill, dengan bau masa lalu yang kental. But that's it. Selebihnya saya lebih suka wisata kuliner dan tempat-tempat favorit wisata kuliner saya tentu di Indonesia. Lidah saya cinta mati sama makanan Indonesia. Waktu tinggal di Oz pun saya lebih sering masuk ke resto makanan Indo daripada model Subway atau McD atau Burger King. Apa boleh buat.

Selain itu, saya juga pengen punya hobi kayak Fanda, yang selalu bisa meluangkan waktu untuk fitness dan hunting buku-buku yang keren. Dari dulu saya kepengen ikutan fitness. Pernah saya bergabung dalam klub dan saya cuma bisa bertahan satu bulan, karena setiap kali fitness saya bawaannya mau makan lebih banyak dari porsi saya biasanya. Jadi untuk apa saya fitness? Plus, setelah punya anak, entah gimana sulit sekali squezze fitness time diantara waktu-waktu saya bekerja di kantor, urus anak di rumah dan pelayanan di gereja. Padahal, sumprit, nih perut sudah waktunya diurusin supaya nggak nampung makanan aja bisanya, tapi juga harus work out supaya burn fat (ceilah).

Hobi lain yang saya pengen adalah hobinya Aries, yang tiap minggunya hampir selalu ikutan hip hop dance dan pernah sekali saya tonton videonya saya mbathin: ih keren ya bisa ikutan begituan. Tapi lagi-lagi saya juga kesulitan bagi waktu untuk ikutan model beginian. Lha wong mau fitness aje susyeh minta ampun, apalagi ikutan hip hop dance?

Satu lagi hobi keren menurut saya: menikmati musik jazz. Ehh, saya nggak tahu kenapa kok penikmat musik jazz itu orang yang keren menurut saya. Saya sendiri jujur saja enggak terlalu bisa menikmati musik jazz. Jangankan musik jazz, musik klasik pun saya enggak terlalu doyan. Dulu waktu lagi hamil katanya kan baby-nya disuruh dengerin musik klasik, mommy-nya juga, biar rileks. Katanya lho. Tapi yang ada tiap kali saya dengerin musik klasik, hati saya bergetar-getar protes dan saya jadi gelisah. Karena saya gelisah, nyetrum juga tuh ke baby. Akhirnya saya jadi jarang banget dengerin musik klasik semasa hamil. Musik yang paling saya nikmati tentu saja musik-nya Project Pop, soundtrack-nya Disney (mulai dari film kartun yang jadul itu sampai High School Musical dan Up) dan lagu-lagunya Norah Jones.

Saya tahu setelah membaca semuanya ini pasti ada yang protes, mengapa kekerenan itu dinilai dari hobi? Lha terus dari apa? Hehehe. Sesungguhnya bener saya memang kepengen kelihatan keren karena punya hobi-hobi macam yang saya sebut diatas. Tapi apakah masih bisa disebut keren kalau kemudian tidak menjadi diri sendiri? Hobi saya baca, dan saya pernah berusaha untuk kelihatan keren dengan mencoba membaca biografi-biografi macam Bung Karno, Nelson Mandel, alhasil saya enggak menikmatinya tuh. Satu-satunya biografi yang berhasil saya lalap habis hanyalah biografinya The Fuhrer, si Hitler itu yang ditulis oleh William L. Shirer, seorang jurnalis Amerika yang berada di tengah-tengah perang yang dicetuskan Jerman berlangsung. Yang lain enggak pernah habis. Payah memang.

Semakin saya mencoba meniru orang lain yang saya nilai keren, makin jauhlah saya menjadi diri saya sendiri dan terasa enggak terasa, semakin tidak nyamanlah saya. Iya dong, apa ada yang merasa nyaman jika tidak menjadi diri sendiri? Karena itu berangsur-angsur saya mencoba kembali menikmati hobi-hobi saya yang membuat saya berpikir saya nggak keren. Dan hasilnya, hidup jadi lebih mudah. Ini bener. Dan hidup yang lebih mudah bikin saya nyaman. Ketika saya nyaman, saya bisa melihat positifnya hidup. Bahwa hidup masing-masing manusia sudah keren dengan cara yang berbeda-beda dari sononya tanpa perlu diubah-ubah sedemikian rupa.

Banyak yang iri dengan Agnes Monica. Dengan kecantikannya. Dengan suaranya yang bagus. Dengan popularitasnya. Tapi pernahkah ada yang iri dengan kerja kerasnya, latihan-latihan vokalnya? Bagaimana dia membangun karirnya sejak kecil? Bagaimana dengan popularitasnya, apapun yang ia lakukan selalu bisa memancing pro dan kontra? Ibaratnya, pandangan masyarakat akan berbeda jika saya yang nendang kucing di jalan dan Agnes Monica yang nendang kucing. Dan barangkali dengan kecantikan dan popularitasnya dia bisa dibuntuti dan digangguin orang-orang aneh? Ah.

Tapi begitulah. Semoga tidak ada orang yang kayak saya, atau lebih parah lagi jadi copycat orang yang terkenal. Menjadi diri sendiri jauh lebih keren daripada meniru.

Saturday, 9 October 2010
7:55 am

PS: gambar diambil dari sini, sini, sini, sini, sini, dan sini.

Tuesday, July 20, 2010

fals!

Punya orang tua yang hidupnya enggak jauh-jauh dari main musik dan ikutan paduan suara di gereja bikin masa kecil saya juga enggak jauh-jauh dari dua hal itu. Karena dari kecil saya ikutan paduan suara, saya sering sekali mengolok-olok sepupu saya yang suaranya kebetulan fals. Olok-olokannya sih biasanya terjadi kalau sepupu saya mulai nyanyi kemudian saya akan teriak-teriak, "Weekk.. fals.. fals...." Dan saya enggak ingat kenapa kok saya se-nasty itu sama sepupu saya, sampai-sampai mamanya sepupu saya itu bilang gini sama saya, "Nanti dia nggak mau ikutan paduan suara lho kamu bilang fals fals terus." Tapi itu enggak menghentikan saya untuk terus menggoda sepupu saya tiap kali nyanyi. Alhasil, saya enggak ingat, kapan dia terakhir nyanyi di depan saya.

Percaya nggak percaya, hukum karma terjadi sama saya gara-gara olok-olok saya terhadap sepupu saya itu. Dan hukum karmanya terjadi bertahun-tahun kemudian saat dia pindah ke Bandung dan saya pindah ke Surabaya. Memang jauh, tapi seperti kata Andrea Hirata, langit menyimpan ejekan-ejekan saya untuk ditumpahkannya kembali keatas kepala saya.


Di Surabaya saya masih ikutan paduan suara. Kata pelatih saya masuk soprano 1. Belum terlalu lama ikutan, saya diajak teman-teman pemuda masuk teater gereja dan saya merasakan sesuatu yang beda. Saya merasa itu dunia saya sebenarnya. Ketika ikutan paduan suara dan belajar musik, saya merasa saya ikutan itu semua karena orang tua saya. Papi dan mami saya asing dengan dunia teater. Dan semangat saya, meskipun tidak pernah ikutan teater sebelumnya, seperti minyak yang dilempari korek api yang menyala. Yang kemudian menyebabkan saya undur dari paduan suara. Perhatian. Undur dari paduan suara tidak menyebabkan saya berpendapat suara saya jelek atau fals. Suara saya lumayan lah. Tetap masuk soprano 1 gitu lho. Saya merasa saya mampu jadi singer, merasa yakin kalau saya bisa jadi pemandu pujian. Tapi yang namanya keyakinan bisa runtuh hanya karena ada orang-orang yang tidak berpendapat sama dengan saya.

"Cece suaranya kurang pas."

"Haduh, kamu mau nyanyi? Jemaatnya pada lari, Jes."

Itu kalau di gereja.


"Ampun, ce, ampun.. jangan nyanyi lagi." >> pas lagi nyoba nyanyi lagunya KLA Project: Yogyakarta

"Lha lagunya kok jadi kayak gitu?" >> pas lagi nyoba nyanyi lagunya Evanescence: Bring Me to Life

Ini di tempat karaokean.


Karena beberapa kali dibilang suara saya fals, nggak cuma jemaat yang bakal pulang tapi tikus yang ngendon di tempat tersembunyi dalam gereja pun bisa lari terbirit-birit, maka itu menyebabkan suatu perubahan keyakinan dalam diri saya. Iya, saya berpindah keyakinan dari
bisa nyanyi jadi nggak bisa nyanyi. Hingga sampai sekarang saya enggak pernah mau lagi ikutan paduan suara. Saya enggak mau berhubungan dengan yang nyanyi-nyanyi lagi. Dan saya cuma akan pergi ke tempat karaokean sama hubby aja, karena dia masih menganggap suara saya masih jauh lebih lumayan dari suara dia. Meskipun terkadang saya masih diminta untuk jadi MC di kebaktian, saya selalu minta singer yang vokalnya cukup kuat untuk mengimbangi saya, karena bisa dipastikan saya enggak akan banyak nyanyi. Mungkin ini juga yang dirasain sama sepupu saya itu.

Perpindahan keyakinan dari
merasa bisa jadi merasa tidak bisa itu tidak segera saya sadari bahwa mungkin ini pembalasan dari olok-olok saya ke sepupu waktu kecil. Barangkali waktu itu sepupu saya juga capek hati dan berdoa, "Tuhan, semoga suara dia juga fals!" yang kemudian jadi penyebab suara saya yang berubah jadi fals. Jadi dulu sebenarnya nggak fals, tapi karena sepupu saya doa seperti itu maka suara saya jadi fals. Yak.. kembali lagi mencari kambing hitam untuk dikebiri. Pantes sudah nggak ada lagi kambing hitam. Memang harus dilestarikan spesies itu. Lebih mudah memang menunjuk kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Jadi benar lah kata pepatah itu bahwa kuman di seberang lautan tampak tapi balok di kepala sendiri tak tampak. Dan butuh orang lain dengan perlakuan sama yang saya berikan untuk menyadarkan saya bahwa saya juga enggak bagus-bagus amat dan sama sekali enggak layak untuk menilai orang lain. It's like a big slap on my cheek.

Barangkali saya merasa saya cukup bagus di teater sekarang. Saya bisa nulis, saya bisa akting,
hell, lihatlah keatas, lihat sekeliling. Lihatlah bahwa ketika saya merasa puas maka saya akan berhenti belajar. Saya akan berhenti berusaha. Dan saya akan langsung menuding orang lain jelek. Saya tidak mau. Saya suka menulis, dan saya enggak merasa tulisan saya bagus. Terkadang saya merasa naskah saya enggak layak untuk dipentaskan. Terlalu membosankan. Terlalu aneh. Terlalu mengkhayal. Terlalu absurd. Saya mungkin enggak akan pernah kembali ke kelompok paduan suara. Tapi barangkali sekarang alasannya bukan karena saya merasa suara saya fals, tapi lebih pada untuk mengingatkan saya bahwa saya pernah suatu waktu berdiri dan menatap orang lain dengan keangkuhan tiada rupa dan mengeluarkan kata-kata tak senonoh macam, "Kamu enggak bisa! Suara kamu fals!"

Saya enggak marah dengan orang-orang yang sudah bilang suara saya fals dan bikin tikus gereja lari terbirit-birit atau kecoa dapur langsung pingsan. Terima kasih karena sudah bikin saya sadar bahwa tidak hanya gengsi saja yang letaknya di pantat, tapi juga kecongkakan dan keangkuhan. Dan setelah dipantatin, bisa dibuang jauh-jauh supaya tidak berani kembali dekat-dekat.


Tuesday, 20 July 2010
9:49 pm

PS: Gambar diambil dari sini

Monday, July 05, 2010

susahnya cari uang

Pada suatu hari yang cerah (karena sedikit mendung, tentu saja, apaan sih..), saya kedapatan chat dengan seorang teman tentang sebuah provider layanan ponsel di Indonesia. Maaf, nama dan merk tidak akan saya cantumkan daripada saya kena tuntut, enggak ada duit buat sewa pengacara dan enggak ada waktu buat pergi ke pengadilan. Jadi dia mengeluh kalau promonya provider ini sifatnya default. Jadi segalanya otomatis tanpa pelanggan meminta. Padahal, promo-nya itu ya enggak sekedar promo, tapi harus membayar, jadi setiap harinya selalu ada pulsa yang terpotong. Plis deh, hari gini gitu loh, mana ada yang gratis? 

Sebenernya sih saya setuju ama dia, enggak seharusnya provider bikin promo-nya default, karena kalau saya enggak pakai kan saya rugi, udah pulsa kepotong setiap hari, promo-nya enggak pernah saya gunakan. Tapi yang bikin saya mengkerutkan kening adalah waktu dia ngomong gini: "Telepon aja sana ke service center-nya, puas-puasin diri marahin mbak CS-nya! Hahahahaha."

Saya kemudian mikir, mencoba memposisikan diri jadi mbak CS-nya itu yang kemungkinan besar enggak ikutan bikin sistem promo-nya, yang tugasnya cuma melayani pelanggan dan yang cuma disodori rule system-nya aja untuk disampaikan ke pelanggan, terutama jika ada yang complain. Saya pasti nggak akan terima dimarahi dan dimaki-maki oleh teman saya itu. Saya pasti akan bilang, "Pak, silahkan hubungi langsung direktur saya, dan tanyakan pada beliau kenapa ini promo dibikin seperti orang nggak niat kasi promo. Jangan tanya saya, saya cuma terima jadi saja. Dan tanyakan juga, boleh nggak saya cuti besok, supaya libur dari penelepon-penelepon kayak bapak. Oya, tanyakan juga, kapan gaji saya keluar, pak? Ini sudah tanggal 1!" Saya yakin setelah itu pasti akan dapat libur terus, alias dikeluarin.

Susah ya cari uang? Customer service kayak mbak-mbak yang di provider-provider ponsel itu juga pasti kenyang dimaki-maki dan dimarahin orang. Saya pernah sih telepon dan marah tapi saya enggak pernah memaki karena saya sepenuhnya sadar orang yang saya hadapi itu bukan si pembuat sistem. Lagipula yang namanya memaki itu enggak bisa bikin puas kok, puasnya palingan di menit-menit awal, sisanya malah kepikiran terus sibuk membela diri karena sudah memaki orang lain. 

Susah ya cari uang? Para marketing kartu kredit yang biasanya suka menghadang setelah belanja di hypermarket itu juga pasti kebal juga ditolak sama orang. Ya kalau orang menolaknya dengan baik-baik, kalau sama marah-marah? Atau dengan ketus? 

Salut saya untuk orang-orang yang bekerja menerima keluhan orang, karena disitulah kesabaran diuji dan disitulah awal pembelajaran untuk rendah hati. Enggak ada yang salah dengan kerendahan hati, karena kerendahan hati adalah langkah pertama untuk mau belajar jadi lebih baik. (yakk.. sokwise.com).

Monday, 5 July 2010
2:15 pm

PS: Buddy, if you want to criticize something, at least do it with style.. ;)
PPS: gambal diambil dari sini

Monday, May 31, 2010

no second chance

Once in a lifetime means there's no second chance, so I believe that you and me should grab it while we can -Troy, Everyday, High School Musical 2-

Dalam hidup enggak selalu saya dapetin apa yang saya pengen. Enggak selalu juga saya bisa lakukan apa yang saya pengen. Dulu saya mengira selalu ada kesempatan
kedua. Kenyataannya sekarang saya harus mengakui kalau ada kesempatan-kesempatan yang datang cuma sekali. Dan terkadang kalau saya renungin kesempatan yang lewat begitu saja itu karena saya cuma melihat aja kesempatan itu lewat di depan hidung saya.

Pernah suatu waktu saya dan keluarga pergi makan malam ke sebuah restoran. Restorannya ada di lantai dua. Waktu kami naik tangga, di tengah-tengah tangga ada anak kecil memakai seragam sekolah putih merah yang sudah kumal berjualan koran. Dia menawarkan dagangannya pada kami, tapi seperti biasa kami hanya menggelengkan kepala *ini kayak program otomatis udah ter-inject di otak kalo ada orang nawarin koran/ngamen di jalanan*. Entah kenapa saya keinget terus dengan anak itu. Bukan, bukan karena dia ganteng, tapi entah kesambet apa rasa kemanusiaan saya muncul. Saya lirik lagi anak itu, dia sedang menerima uang dari pengunjung lain yang membeli koran. Kemudian saya berpikir pengen beli korannya tapi nggak mau minta kembaliannya. Terus saya pikir itu sudah biasa, jadi saya kepengen beliin dia makanan di resto itu. Saya melirik lagi anak laki-laki tadi, dia sudah tertidur dengan beberapa lembaran uang di tangannya. Oke, saya memutuskan dalam hati, saya mau belikan dia makanan aja dari resto itu. Setelah melihat-lihat menu dan hendak memesan, saya lirik lagi anak laki-laki tadi. Dia sudah enggak ada disitu. Saya mencoba keluar dan mencari-cari tapi anak itu seperti raib, entah pergi kemana. Cinta memang enggak perlu dipikir, tapi dilakukan.

Cerita ini hampir mirip dengan kisah kasih di sekolah saya *ehm*. Maksudnya semasa saya di bangku sma dulu. Tapi ini dulu lho ya. Dulu. Jadi waktu itu saya dipasang-pasangin sama satu anak laki-laki (iya lah laki-laki, masa perempuan?), katakanlah namanya mr. X. Enggak disangka enggak dinyana mr X menganggap serius permainan teman-teman saya. Saya sendiri enggak tahu kalau dia serius sampai dia ngomong sungguhan via telepon *duileh, kenapa via telepon yah waktu itu?* Saya sempet aja sih ngomong iya coz menurut saya walaupun dia nggak ganteng, dia keren. Keren ini menurut saya: tinggi, pinter dan sedikit 'nakal'. Maksudnya 'nakal' bukan nakal jorok ya, tapi pernah dia dikeluarin dari pelajaran biologi gara-gara pe-ernya belom selesai dan dia malah bilang gini sama gurunya: ''Serius, Bu? Saya boleh keluar kelas? Horeeee..!!'' Dan dia menghambur keluar begitu saja keluar kelas. Di mata saya waktu itu dia keren betul waktu menghambur keluar kelas. Sementara si guru cuma geleng-geleng kepala. Errr... kok jadi ngelantur yak? Oke, jadi setelah saya ngomong iya, saya nggak bisa tidur berminggu-minggu *nah lho, lebay*, maksud saya hati saya nggak tenang, saya blom mau pacaran soalnya, mau mikirin karir dulu gitu. Eh, tapi saya masih sma ya? Kalo gitu, mikirin sekolah. Jadi akhirnya setelah beberapa hari menghindar, saya ngomong enggak sama dia. Enggak jadi maksudnya. Dan minggu-minggu setelah itu adalah minggu-minggu saya dihindari dia. Yang saya enggak sadari sih saya sebenernya suka juga sama dia. Sampai sekarang saya belum pernah ketemu lagi sama dia. And I think God forbids us to see each other. Oh, well. Tapi mungkin ini kejadian no second chance yang enggak pernah saya sesali coz my hubby is one of the best things that ever happened to me ^^.

Kepergian saya ke Bandung minggu ini, selain menunaikan tugas dari kantor, saya juga kepengen banget ketemu teman lama saya. Katakanlah namanya Ms. Y. Sehari sebelum berangkat saya udah kirim message ke dia via fb. Saya minta nomornya supaya ntar kalau saya disana saya bisa kontak dia dan bisa ajak dia ketemuan gitu loh. Tapi ternyata minta nomornya tuh sesulit melakukan serving pada pertandingan voli (sumprit, saya paling nggak bisa serving bola voli, tiap kali giliran saya, bola volinya enggak pernah melewati net, boro-boro melewati net, ngelewati pemain garis belakang aja udah untung). Saya udah coba berbagai cara, dari merayu sampe pura-pura bete saya tetep enggak dapet nomornya. Anehnya, dia enggak melakukan ini ke saya aja, dia melakukan itu ke hampir semua temen sma-nya. Sampai hari terakhir saya mau kembali ke Surabaya, dia telepon saya. Dia takut saya marah. Saya enggak marah sih, saya cuma enggak ngerti aja kenapa dia kayak gitu. Seinget saya, saya enggak pernah tuh buat salah sama dia. Tapi waktu ditelepon sama Ms. Y ini saya udah menyerah. Saya pikir buat apa sih ketemu sama orang yang nggak pengen ditemui? Dia tanya kapok nggak sama dia, saya jawab aja, saya enggak kapok ke Bandung, dan dia kerasa sendiri. Dia bilang susah ya ketemu dia. Batin saya, jauh lebih susah ketemu dia daripada ketemu yosi project pop! Saya bilang ke dia, udahlah kalau memang nggak bisa jangan dipaksain sambil dalam hati saya nyanyi lagunya High School Musical 2 yang Everyday: ''Once in a lifetime means there's no second chance, so I believe that you and me should grab it while we can.'' Karena siapa sih yang bisa pastiin saya akan ke Bandung lagi, bisa ketemu dia lagi? Siapa coba?

Bandung memang aneh. Dalam waktu empat hari saya menghasilkan tiga tulisan. Saya jadi m
engerti kenapa Vicky rutin ngeblog, mungkin saya harus pindah ke Bandung supaya bisa lebih produktif ;) Ini sama anehnya dengan cerita yang siang ini saya dengar. Sepasang sahabat, katakanlah namanya Mr. S dan Ms. M di suatu siang yang menyengat berbincang-bincang di udara. Ms. M sudah menikah sementara Mr. S belum. Entah bagaimana, pembicaraan berbelok ke masa lalu. Saat Mr. S dan Ms. M masih satu kantor dan mereka boleh dibilang cukup dekat satu dengan yang lain. Mr. S tiba-tiba mengaku kalau dulu suka dengan Ms. M dan merasa brokenhearted ketika tahu Ms. M akan menikah. Ms. M enggak tahu kalau ternyata dulu Mr. S menyimpan getar-getar cinta (jadi inget lagu pertamanya Rossa nggak?). Mr. S bilang dia merasa lebih cocok jadi kakaknya aja *euh, classy banget ya?*, padahal Ms. M barangkali akan pertimbangkan Mr. S, kalau dia ngomong. Waktu dengar cerita ini, otak saya langsung bilang: ceritanya kayak cerpen di majalah Anita Cemerlang jaman dulu coy. Tapi ini yang dinamakan no second chance (btw, ini cerita beneran lho, bukan fiksi). Ms. M enggak mungkin meninggalkan keluarganya begitu tahu tentang perasaan Mr. S dan Mr. S juga nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Seandainya saja waktu itu Mr. S ngomong atau Ms. M enggak hanya menunggu, barangkali lain ceritanya.
Tuan Waktu memang enggak mau tahu, dia akan terus maju apapun yang terjadi disekitarnya. Memang manusia hanya bisa mengikuti jalannya Tuan Waktu. Entah itu dengan santai, terengah-engah, terbirit-birit atau enggak sabar, Tuan Waktu tetaplah Tuan Waktu, dia nggak selalu menawarkan kesempatan kedua. Karena itu sebisa mungkin saya harus memilih, karena tidak semua kesempatan harus saya ambil dan sebaliknya ada kesempatan yang harus saya perjuangkan biarpun berat.

Friday, 28 may 2010
4:46 pm
Cipaganti 84 to Bandara Soekarno Hatta
Dedicated to my friends: Mr. X, Ms. Y dan Mr. S

PS: Dan kayaknya saya juga kehilangan kesempatan beli beanie ini, cuma saya coba aja tapi nggak jadi beli ;(

PPS: Gambarnya diambil dari sini, sini, sini,sini

Thursday, May 20, 2010

tentang naskah, penulisnya dan teater

Saya nggak tahu mulai kapan saya suka dunia teater. Saya juga nggak ingat sejak kapan saya menulis naskah drama. Tapi saya baru sadar bahwa hidup saya enggak jauh-jauh dari bikin naskah drama sejak beberapa minggu terakhir ini. Enggak, saya enggak lagi show-off, nunjukin kalau saya pinter banget bikin naskah drama. Menurut saya, naskah drama saya nggak ada apa-apanya dibandingin naskah dramanya Putu Wijaya atau WS Rendra atau Remy Silado. Oopss.. jauh ya? Jangankan mereka, menurut saya naskah drama saya masih enggak ada apa-apanya dibandingkan senior saya yang sekarang tinggal di San Jose, amrik sono. Jauh banget dah. Kalau sampai sekarang saya masih diminta bikin naskah saya kira barangkali itu karena dua hal. Satu, saya yang lebih sering available untuk dimintain tolong. Dua, saya orangnya kan baik hati dan enggak sombong, jadi susah nolak permintaan orang *hohohoho*.

Seingat saya, sejak kecil saya memang suka menulis drama. Saya ingat karena saya pernah nemu tulisan saya lima putri di sebuah negeri yang ditinggal orang tuanya dan kerajaannya hendak diambil alih oleh kepala rumah tangga kerajaan. Yang saya enggak nemu adalah akhir ceritanya, jadi entah naskah itu terselesaikan atau tidak, saya enggak tahu. Terus pernah juga waktu kelas dua SMP, ketika guru bahasa Indonesia menyuruh kami untuk bikin kelompok dan mentasin drama di kelas, saya pula yang tulis naskahnya untuk kelompok saya. Tapi saya sama sekali enggak ingat tentang apa tulisan saya itu. Terus waktu kecil saya juga suka sekali mainan boneka kertas yang baju-bajunya bisa diganti-ganti. Biasanya saya beli banyak-banyak tapi orang-orang yang saya pakai cuma dua atau tiga biji alias itu-itu aja. Kemudian dari dua atau tiga biji orang-orangan kertas itu saya mulai bikin cerita. Ceritanya memang hanya di kepala saya aja, tapi saya ingat saya menikmati betul saat-saat bermain boneka kertas murahan itu. Rasanya pe-er dan segala tetek bengeknya bisa saya tinggalkan hanya untuk main-main dengan boneka-boneka kertas yang kepalanya gampang putus itu (dan biasanya saya isolasi kembali). Ketika saya akhirnya beneran nulis naskah untuk dipentasin dan ditonton orang banyak, naskah pertama saya aneh banget dan rasanya enggak heran memang kalau waktu itu ada satu orang di gereja saya yang ketawa-ketawa sambil ngomong: "kamu pakai kata 'kau' terlalu banyak nih". Setelah saya baca lagi, emang iya sih, dan saya jadi ikutan ketawa. Dari satu naskah yang dipentasin jadi dua. Dari dua menjadi tiga. Sampai sekarang entah udah berapa naskah yang dipentasin, saya enggak sempet ngitung, bukan karena saking banyaknya jadi enggak bisa dihitung.

Dulu di awal-awal saya bikin naskah untuk dipentasin, saya masih ikut-ikut bantuin sutradara tanpa diminta (orang Pekalongan bilang "ngerusuhi"). Kalau sutradara atau pelatih menginterpretasikan naskah saya lain dari yang saya maksudkan maka saya akan bilang ke mereka kalau maksud saya (yang nulis) bukan begitu. Tapi berangsur-angsur pula saya belajar, bahwa penulis naskah sebetulnya sama sekali tidak punya kuasa untuk mengatur sutradara dalam mementaskan naskah si penulis. Penulis naskah boleh memberi masukan kepada sutradara tapi enggak boleh maksa masukannya diterima. Misalnya, naskah untuk peran A sebenarnya dimaksudkan untuk 1 orang saja, tapi oleh sutradara dimainkan menjadi 3 orang untuk peran A, itu adalah interpretasi dan improvisasi sutradara yang sudah enggak menjadi hak si penulis naskah untuk protes. Penulis naskah baru boleh marah kalau dialog yang sudah ditulis diputarbalikan, dimodifikasi hampir lebih dari separo dan inti dan alur cerita jadi tidak sama lagi, tapi pementasan tetap jalan dengan judul yang sama. Itu sama saja dengan menggunakan naskah baru dengan judul lama. Makanya sekarang ini kalau naskah saya dipilih untuk dipentaskan saya betul-betul akan menyerahkan semuanya ke sutradara, walaupun (ini bener, saya enggak bohong) mulut saya pengen ngomong banyak kalau ada sesuatu yang menurut saya nggak pas dengan yang saya inginkan. Barangkali ini bentuk lain dari sebuah kebanggaan berlebihan yang harus saya hilangkan ;(.

Yang menarik dari ikutan teater adalah kadang-kadang kami dibilang orang-orang aneh. Saya sendiri enggak tahu kenapa. Tapi kalau ditanya apa sih menariknya berakting di atas panggung teater? Maka jawab saya (dan barangkali pemain-pemain teater lainnya) adalah begini. Panggung teater jadi sebuah tempat yang asyik banget karena disana kami bisa jadi apapun yang mungkin enggak pernah kami bayangkan sebelumnya. Jadi orang gila? Jadi pelacur? Jadi ibu-ibu tua yang suka marah-marah? Jadi orang yang buta tuli? Semuanya bisa. Apapun yang enggak bisa dilakukan dalam keseharian bisa dilakukan di atas panggung. Ini yang bikin menarik! Ini yang bikin asyik! Tapi ini pula yang barangkali penyebab kami dibilang orang-orang aneh (asal jangan dibilang orang-orangan sawah aja), karena kami menikmati peran jadi orang lain di luar diri kami sendiri. Jujur aja, latihan buat sebuah pementasan (besar atau kecil sama aja) itu cukup berat. Saya suka dengan klub teater di gereja saya karena pementasannya enggak sekedar drama meja kursi yang ceritanya melulu tentang keluarga atau sepasang suami istri yang suaminya kecewa pada gereja, dsb, tapi klub teater di gereja saya lebih senang mementaskan sesuatu yang kontemporer, yang menyebabkan jemaat yang menonton ikutan berpikir ini drama maksudnya apa. Kalau jemaat masih bingung, pendeta yang berkhotbah bisa membantu menginterpretasikan isi drama tersebut. Selain itu - ini yang menurut saya cukup istimewa - penggunaan microphone (baik wireless maupun tidak) adalah tabu hukumnya. Jadi para pemain dipaksa belajar vocal sehingga mengucapkan dialog pun harus menggunakan suara perut, lebih bagus lagi diafragma. Supaya seluruh penonton dalam gedung gereja (yang akustiknya sangat enggak bagus ) dapat mendenger kata per kata yang diucapkan. Dulu saya pikir suara perut kayak begitu cuma digunakan untuk paduan suara atau nyanyi, tapi ternyata enggak juga. Yang boleh dipakai hanya standing microphone yang nggak akan mengganggu gerak-gerik pemain. Pokoknya pemain enggak boleh pegang microphone atau menggunakan wireless microphone. Yang menempel di tubuh pemain adalah yang ada hubungannya dengan peran dia. Pelatih yang sekarang bilang sebabnya enggak boleh pakai microphone adalah mengganggu estetika panggung dan saya setuju. Masa ada orang gila bawa-bawa microphone kemana-mana?

Secara pribadi, kalau saya ditanya, dalam sebuah pertunjukkan teater, apa yang paling bisa dibanggakan? Saya nggak akan menjawab pementasannya atau akting para pemainnya atau dekorasi panggungnya atau make-up pemain yang keren atau sound system yang bagus atau lighting yang memukau atau kostum panggung. Sebaliknya saya akan bilang, sebuah pertunjukan teater yang sukses adalah pertunjukkan dimana kerjasama antara pemain dan kru di balik layar dapat saling mengisi dengan baik. Bagaimana mereka bekerjasama itu menentukan kesuksesan pertunjukan. Dan kerjasama yang baik membutuhkan tiupan dari Surga. Betul semua yang saya sebutin diatas itu sangat mendukung, tapi jika orang-orangnya enggak bisa bekerjasama dengan baik dan enggak membutuhkan tenaga dari Yang Di Atas, pementasan itu enggak akan punya nyawa.

Tulisan ini saya persembahkan buat temen-temen seperjuangan saya di Teater Imaji, Surabaya yang lucu-lucu, yang gemar membuat orang tertawa dan pementasan-pementasannya enggak kalah lucu dari extravaganza, srimulat dan opera van java dijadiin satu *haiyah*. Jangan menyerah. Jangan manja. Jangan berhenti. Jangan menyerah selagi nafas kalian masih ada, selagi semangat itu masih ada, selagi dunia ini belum kiamat. Jangan manja karena kemanjaan adalah bentuk lain dari kemalasan, karena hanya orang malas lah yang enggak pernah kepengen untuk maju. Jangan berhenti bekerja serabutan dan saling tolong menolong dan tetep yang terbaik yang diberikan. Jangan. Setengah-setengah hanya untuk orang biasa, padahal kita semua tahu kita orang biasa yang jadi luar biasa karena Dia yang nyiptain kita semua. (Lama-lama ini tulisan jadi kayak pidato presiden di hari Kebangkitan Nasional deh..)

Suatu hari nanti. Suatu hari. Suatu hari saya kepengen jadi penulis naskah yang bisa bikin cerita sekeren... 24 ;) *maap lagi tergila-gila 24 soalnya*
.

Sunday, 23 May 2010
2:14 pm
after two exhausting days

PS: gambar paling atas saya ambil dari sini, yang lain-lainnya milik pribadi ;)