Showing posts with label silly thought. Show all posts
Showing posts with label silly thought. Show all posts

Tuesday, May 24, 2016

tanah

Jika kau ingin belajar tentang penerimaan, jangan belajar dari aku. Belajarlah dari tanah.

Sebab tanah menerima siapapun dalam diam. Tanah tak hanya menerima orang-orang baik seperti Suster Teresa, tapi juga orang jahat seperti Hitler. Tanah tak pernah memandang latar belakang keluargamu, status sosialmu, dan profesimu. Tanah tidak menghujat. Tidak juga menghakimi. Ia berdenyut hidup, namun senyap.

Tanah menerimamu dalam diam. Dengan keanggunannya.
                Menerima pelajar.
                Menerima pelacur.
                Menerima doktor.
                Menerima koruptor.
                Menerima seniman.
                Menerima ilmuwan.
                Menerima pendeta.
                Menerima politikus.
                Menerima tuan tanah.
                Menerima buruh.
                Menerima ateis.
                Menerima teroris.
                Menerima feminis.
                Menerima komunis.
                Menerima protagonis.

Kelak tanah menerimamu, tanah menerimaku. Tanpa banyak tanya. Meski syarat dan birokrasi diberikan oleh negara.

Jika kau ingin belajar tentang penerimaan, jangan belajar dari aku. Belajarlah dari tanah.


Surabaya, 24 Mei 2016

Terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono
“Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati”

Gambar diambil dari sini
 

Thursday, May 19, 2016

gambar di dinding toilet


Kampus itu menjulang gagah dihadapanku. Bagaimana tidak gagah jika predikat terbaik sering nempel pada status universitas ini? Di mana-mana pula beritanya. Universitas terbaik. Kampus bergengsi. Mahasiswa terpandai. Fasilitas terlengkap. Citra yang selalu berhasil bikin orang berdecak kagum apabila mendengar berita apapun tentang universitas itu. Semuanya yang excellent ada di situ. Semuanya.

Kecuali hatiku.

Di depan kampus itu aku gentar sekaligus geram. Hari ini hari pertamaku sebagai mahasiswa baru setelah satu minggu orientasi. Iya, baru. Kelas baru. Guru baru yang sekarang dipanggil dosen. Tas (kebetulan) baru. Sepatu (juga kebetulan) baru. Mau tahu apa lagi yang paling baru? Topengku.

Topeng? Mengapa harus memakai topeng? Bukankah aku seharusnya gembira? Bukan gentar, apalagi geram? Sebab di luar sana banyak anak muda yang tidak seberuntung diriku.  Sehingga aku tidak perlu bekerja keras membanting tulang dan menabung untuk sekolah. Seperti anak-anak muda kurang beruntung itu. Ya kan? Ya kan? Selalu begitu nasehat yang kudapat jika aku mulai mencoba mengungkapkan isi hatiku tentang kuliah yang kuambil.

Mbok ya sudah. Turuti saja ayah ibumu biar mereka senang. Kamu kan belum tentu bisa nyenengin mereka seumur hidupmu.” Ini kata nenek.

“Kamu itu mustinya bersyukur masih bisa kuliah. Di universitas yang bergengsi lagi. Berapa banyak sih yang bisa dapat kesempatan kayak kamu? Aku pengen kuliah di situ saja nggak bisa.” Kalau yang ini kata salah seorang kawan.

Pendetaku lain lagi reaksinya saat aku mencoba menyampaikan uneg-uneg. Si pendeta malah mengajakku ke kolong jembatan. Mengajakku ke daerah pinggiran kota dimana rumah-rumah kardus dan rumah-rumah yang bahkan tidak sampai seluas ruang tamu rumahku berjajar asimetris tak keruan. Ibarat slilit di gigi yang mengganggu namun sulit untuk dicungkil. Diperlihatkannya padaku anak-anak yang dekil, kotor dan berwajah memelas. Juga ibu-ibu yang rambutnya seperti tidak keramas berbulan-bulan. Kemudian baru dimulailah khotbah pendek itu. Tentang anak-anak yang tak seberuntung aku. Tentang hidupku yang nyaman. Tentang betapa bajingannya aku kalau masih menggerutu dan mengeluh hanya karena harus mengikuti apa kata orang tua dalam memilih kuliahnya. Apa salahnya sih menuruti apa kata orang tua?

Bukannya jadi lebih baik, aku justru makin sering merenung. Apalagi waktu orientasi berlangsung. Aku merasa seperti robot. Disuruh apapun aku menurut. Dari yang aneh banget sampai yang aneh saja. Karena itu aku malah tidak banyak diincar oleh kakak-kakak senior. Sebab sangat tidak menarik menghadapi robot pasif sepertiku. Sudah robot, pasif pula. Invisible. Ya. Mungkin itu kata yang paling tepat. Aku ada namun tak ada. Aku tak ada namun ada. Ya kalau merenung ini bikin jadi optimis. Yang ada aku makin pesimis. Dan jika sudah begini, jari-jariku gatal. Ingin menggambar di mana-mana. Di kertas. Di meja. Di papan. Di tanah. Di tembok.   

Kakiku mulai melangkah masuk. Melalui gerbang megah dengan tulisan nama universitas yang dipasang dengan anggun. Ragu, namun maju. Persis di hadapan kantor Tata Usaha Fakultas Ekonomi langkah kakiku berhenti. Petugas TU menyapa ramah.

“Mahasiswa baru? Kelas perkenalan dimulai lima belas menit lagi ya. Lantai 2 di ruangan 220.”

Dalam hatiku: “Terima kasih, tapi informasi itu sudah melekat di otakku. Diingat-ingatkan berkali-kali oleh ibuku yang selalu khawatir.”

“Toilet dimana ya?” tanyaku menyahut pengumuman ramah dari petugas TU tersebut.

“Oh, kamu terus saja nanti ada belokan ke kanan. Nah, di situ toiletnya.”

Aku mengangguk dan mengikuti arahan petugas TU.

Lima belas menit. Cukup waktu untuk jari-jariku yang gatal ini.

Iya, aku ke toilet bukan untuk memenuhi panggilan alam. Jari-jariku memanggil. Dan aku tak tahan. Gatal. Sangat gatal.

Toilet sepi.

Kumasuki salah satu cubicle. Kututup pintunya rapat-rapat. Kubongkar tasku. Kuambil barang-barang yang sengaja kubawa dari rumah tanpa ayah dan ibuku tahu. 

Temboknya kuning pucat. Tidak ada apa-apa disana. Bersih. Dan baru kusadar, toilet ini wangi bukan main.

Mari, jari-jariku. Menarilah di atas tembok itu. Yang belum ada apa-apa disana. Lima belas menit waktumu.

Lima belas menit kemudian, jari-jariku tak lagi gatal. Ujung-ujungnya yang kotor kubersihkan sebisa mungkin. Dan aku melangkah keluar toilet menuju ruang 220 di lantai 2 dengan lebih ringan.

Siangnya petugas kebersihan toilet yang tadi pagi kumasuki dan menjadi tempat bermain jari-jariku heboh. Ia menjerit keras-keras saat berlari keluar toilet. Meraung-raung sambil memohon-mohon pada supervisornya untuk tidak memecatnya karena ada tembok yang tak lagi berwarna kuning pucat dan bersih. Si supervisor langsung menuju TKP dan memeriksa cubicle toilet yang sudah dikerumuni banyak orang.

Di situ, di tembok salah satu toilet, terpampang gagah gambar pria dan wanita berdiri berjajar seperti layaknya hendak diambil gambar di studio untuk keperluan foto keluarga. Hanya kepala pria dan wanita itu berupa kepala anjing yang menetes-neteskan air liur dengan matanya yang nyalang. Dibawah gambar itu ada tulisan besar-besar seperti ini:

#AYAHIBUKUASU

Keesokan harinya, fakultas psikologi mengadakan seminar dengan topik “Menghadapi Generasi Muda yang Makin Kurang Ajar”. Laku keras. Para orang tua di kota itu berbondong-bondong datang dan mendengarkan dengan seksama nasihat dan petuah para psikolog itu. Mengangguk-angguk. Seperti cecunguk. Setuju bahwa ada yang salah dengan generasi muda zaman sekarang. Yang tidak peduli. Yang semaunya sendiri. Yang tidak punya mimpi.

Keesokan harinya lagi, surat kabar kota memuji-muji universitas bergengsi itu. Yang dengan cepat bertindak positif terhadap masalah yang mereka hadapi. Citra mereka makin naik. Statusnya makin bergengsi. Yay. Tepuk tangan, Saudara-saudara.

Dan aku? Salah satu generasi muda itu? Aku tidak peduli. Semauku sendiri. Dan aku tidak punya mimpi.

Meski jari-jariku yang selalu gatal tidak setuju aku menyandang ketiga predikat itu.

Tapi, siapa sih yang mau mendengarkan jari-jariku? Ayah ibuku saja tidak mau.


Bandung – Surabaya
 4 -19 Mei 2016

Gambar diambil dari sini.


Tuesday, November 03, 2015

dunia maya

Dunia maya adalah dunia yang mengerikan. Di dunia ini, kau belum tentu kau dan aku belum tentu aku. Aku yang kau kenal di dunia maya bisa berbeda dengan yang kau kenal di dunia nyata. Dan kau yang kukenal di dunia maya bisa berbeda dengan yang kukenal di dunia nyata. Tidakkah itu mengerikan?

Dunia maya adalah dunia penghakiman. Dimana aku menghakimi kau sebagai manusia terkeren sejagat raya dan kau menghakimi aku sebagai makhluk teraneh di seluruh muka bumi ini. Aku menghakimi tokoh-tokoh ternama berdasarkan judul dan isi sebuah artikel yang ditulis oleh orang yang bahkan tak kukenal. Tapi aku percaya. Atas nama ilmu jurnalisme. Kau? Kau menghakimi teman-temanmu melalui tulisan-tulisan singkat yang kau bagikan. Seolah-olah kalian saling mengenal satu dengan yang lain, padahal tidak sama sekali.

Dunia maya juga dunia perbandingan. Hei, kau tahu Steve Jobs yang menciptakan produk-produk Apple yang kau pakai itu ternyata tidak mengijinkan anak-anaknya menggunakan produk-produk yang ia ciptakan sendiri! Gawai-gawai yang keren dan kekinian itu? Yang sudah banyak diberikan pada anak-anakmu yang bahkan mengikat tali sepatu sendiri pun belum bisa. Lalu? Anak-anak Steve Jobs main apa? Main pasir! Main di kebun, halaman belakang rumah! Bersenang-senang di bawah sinar matahari! Dan tiba-tiba semua orang di negeri ini setuju. Bagikan. Bagikan. Bagikan. Sembari bicara setengah menasehati: tuh makanya anak-anak lu dikasi main pasir, main di kebun, senang-senang di bawah sinar matahari. Seperti anak-anaknya Steve Jobs, orang jenius itu. Aku sendiri bertanya-tanya. Dimana aku menemukan pasir terdekat buat anak-anak untuk bermain? Aku harus menempuh perjalanan minimal satu jam untuk mendapatkan pasir dengan pemandangan seadanya dan sampah-sampah yang mengganggu pandangan mata. Jika aku ingin menemukan pasir yang bersih berikut pemandangan indah, harus kulalui daratan dan lautan selama belasan jam. Merasakan mabuk darat dan mabuk laut sekaligus. Berbahagialah mereka, anak-anak pantai yang tiap hari punya hak istimewa untuk menikmati pasir dan tepi lautan dengan lengkungan setengah lingkaran fajar merah dan senja oranye tiap harinya. Kebun? Halaman belakang rumah? Mana ada kebun, atau halaman belakang rumah di kota yang sesak ini? Kebun hanya milik orang-orang kaya di daerah tertentu saja. Tentu bukan daerah tempat tinggal rakyat jelata sepertiku. Jadi mengapa kau harus repot-repot meniru Steve Jobs, kalau kau punya cara sendiri bermain dengan anak-anakmu – yang tidak mengandung produk-produk mahal yang ia ciptakan itu. Siapa Steve Jobs, sampai harus pula kau dan aku tiru caranya berrelasi dengan anak-anaknya? Tidak cukupkah kau dan aku gunakan saja produk ciptaannya? Sebab untuk itulah aku merogoh kocekku dan membayar dengan cukup mahal barang tersebut?

Hei, kau tahu tidak, Zuckerberg, pencipta Facebook yang ternama dan dianggap anak muda terkaya di seluruh dunia pun tak mengadakan pesta yang mewah! Hanya seratus orang dia undang! Kenapa kau harus buang uangmu untuk memberi makan ribuan orang di pest perkawinan yang mahal? Tak malu kau? Hah? Hah? Tapi, kenapa kau harus malu? Itu toh pestamu. Uangmu sendiri yang kau hambur-hamburkan. Kau tak harus merasa malu dan bersalah karena pesta perkawinanmu kau rayakan besar-besaran dan mewah-mewahan. Sebab itu hakmu. Seperti si Zuckerberg yang juga punya hak untuk bikin pesta perkawinannya sederhana dan eksklusif.
Dunia maya adalah dunia yang aneh. Sekaligus menghibur untukku. Sebab di sanalah aku bisa mengenakan topeng dan tetap bisa bersenang-senang. Mentertawakan apa saja yang lucu menurutku, tanpa harus kuanggap serius. Tanpa harus kupercayai sepenuh hatiku.

Hei. Tak perlu serius mengenalku di dunia maya, sebab aku tak terlalu nyata disana. Kemarilah. Duduk disampingku dan berbicaralah denganku sambil menatap mataku.

Aku lebih nyata disitu.



Surabaya, 3 November 2015
1.15 am


PS : Gambar diambil dari sini

Wednesday, June 03, 2015

bu tono dan tuntutan tetangga


Malam itu bu Tono termenung-menung. Wajahnya yang cantik kelihatan suntuk. Melihat istrinya tercinta melamun seperti itu, pak Tono menghampirinya dan mengelus-elus lengannya yang masih langsing. Bu Tono memang cantik dan badannya masih langsing. Kecantikan dan keelokannya menurun ke anaknya, si Tini.

“Ada apa, Mam kok malam-malam melamun begini?” tanya pak Tono.

“Nggak apa-apa.” Tapi wajahnya tetap kosong.

“Walah, kalau nggak apa-apa kok melamunnya sampai sebegini malam. Ayo cerita ke Papa biar lega hatimu. Kalau hati sudah lega kan, kita bisa….” Mata pak Tono tiba-tiba berbinar-binar.

Bu Tono mencubit perut suaminya yang genit. “Papa genit ah. Itu lho, Pap, tadi siang ibu-ibu tetangga ramai-ramai ke rumah kita.”

“Lho, kok tumben arisannya siang-siang? Biasanya kan malam hari?” tanya Pak Tono heran.

“Nah itu dia. Mereka memang kemari bukan karena mau arisan, Pap. Mereka kemari karena mau demo. Mau menuntut kita. Tepatnya mau menuntut Tini, anak kita.”

“Lho? Mau demo? Mau menuntut kita? Lha apa mereka pikir kita ini anggota DPR yang sampai sekarang nggak jelas juntrungannya itu? Lagian mau ngapain juga mereka menuntut Tini? Toh Tini nggak pernah mengganggu mereka?” Pak Tono tidak terima mendengar laporan istrinya. Apalagi ini perihal anak kesayangannya.

“Iya, Pa. Mereka datang kemari untuk menuntut kejelasan tentang Tini, anak kita itu.”

“Lho kurang jelas apa si Tini itu? Dia cantik. Berprestasi. Baik. Suka menolong. Cuma kurang bisa menabung aja si Tini itu. Bawaannya belanja sendal jepit terus kalau punya duit. Ya memang aneh sih si Tini, koleksi kok malah sendal jepit begitu. Memang kurang elegan. Tapi masa gara-gara itu si Tini didemo sama tetangga?”

“Bukan, Pa. Ini bukan perkara sendal jepit koleksinya Tini. Mereka menuntut kejelasan tentang pacarnya si Tini.”

Pak Tono melongo. “Pacarnya si Tini? Memangnya Tini sudah punya pacar, Ma? Kok kamu nggak cerita ke papa? Ganteng nggak pacarnya? Kuliah dimana? Orang tuanya kerja apa?”

Bu Tono mengibaskan tangannya menyuruh suaminya diam. “Ih, papa ini gimana sih. Tini itu belum punya pacar. Dia bilang masih mau fokus kuliah dulu.”

“Lho, tapi kok tetangga menuntut kejelasan tentang pacarnya Tini?”

“Ya itu dia yang bikin mama melamun sampai malam begini. Jadi, ibu-ibu itu tadi siang kemari. Mereka bilang mereka sering melihat Tini itu pergi dan pulang diantar oleh laki-laki. Kalau laki-lakinya sama sih mereka nggak masalah. Lha ini yang anterin dan yang jemput bisa beda. Dalam satu hari bisa ada dua atau tiga laki-laki yang mengantar dan menjemput Tini. Mereka menuntut penjelasan. Sebenarnya pacarnya Tini itu yang mana sih?”

“Lha, mama kenal nggak dengan semua laki-laki yang mengantar dan menjemput Tini itu?”

“Ya mama sih tahu. Dan menurut Tini, mereka cuma berteman. Lagipula yang antar dan jemput Tini juga nggak selalu laki-laki kok. Pernah juga teman perempuannya menjemput. Mama juga bingung kenapa mereka harus dapat penjelasan tentang yang mana sesungguhnya pacar Tini. Masa Tini disuruh bohong supaya mereka puas?”

“Apa mama sudah bilang kalau anak laki-laki yang menjemput dan mengantar Tini itu cuma teman-temannya saja?”

“Sudah, tapi mereka tetap tidak percaya. Mereka tetap menuntut kejelasan tentang pacar anak kita. Sebuah nama. Kalau perlu sekaligus alamat, nama orang tua anak laki-laki itu, kuliah dimana, nanti mau kerja sebagai apa dan….”

“Lho lho… itu kan harusnya hak papa untuk bertanya. Bukan mereka.” Pak Tono tidak terima mendengar cerita istrinya. “Terus apa yang mama jawab?”

“Mama tidak bisa menjawab. Dan mereka memberi waktu sampai besok untuk menjawab tuntutan mereka. Kalau memang Tini belum punya pacar, bagaimana Mama harus bertatap muka dengan ibu-ibu itu? Nanti siapa yang akan beli kue-kue bikinan kita kalau tuntutan mereka tidak bisa Mama jawab?”

Pak Tono berpikir, kemudian membisikkan sesuatu di telinga istrinya. Seketika mata sang istri berbinar seolah baru tiba-tiba menemukan kebenaran.

Esok paginya, bu Tono menemui ibu-ibu yang menagih jawaban atas tuntutan mereka tentang pacar Tini. Dijawabnya bahwa nama pacar Tini itu Tony. Lengkapnya Antony Sitanggang. Baru-baru saja pacarannya. Antony Sitanggang ini kuliah di jurusan Manajemen Pemasaran, jadi sudah pasti cerah masa depannya. Orang tuanya cukup terpandang, tapi tidak tinggal di kota ini. Ibu-ibu tadi mengangguk-angguk puas mendengar jawaban bu Tono. 

Bu Tono lega karena ia masih bisa ikut arisan bersama ibu-ibu tadi.

Tak sampai dua bulan, ibu-ibu tadi kembali demo di depan rumah bu Tono. Kali ini mereka menuntut penjelasan kapan Tini akan menikah dengan Tony.


Wednesday, 3 June 2015
10:59 pm

participating in #NulisRandom2015

PS: Thank you, MY for inspiring me to write this story

Foto diambil dari sini 

Saturday, May 30, 2015

perempuan, pelacur dan cita-cita

Di kolong jembatan layang itu mereka bertemu. Hari hampir berganti meski mereka belum menunggu terbit matahari. Dan di situlah kaki-kaki jembatan layang menjadi saksi secuplik kisah mereka.

Mereka berenam. Semuanya memakai rok, dan mengaku perempuan. Dari dandanan mereka, para lelaki hidung belang yang lewat barangkali akan segera mendekat, memilih-milih satu untuk kemudian bertanya: “Satu jamnya berapa?”

Tapi malam itu malam sepi laki-laki hidung belang. Asal tahu saja, mereka berenam itu tadi jadi luntang-lantung tanpa tujuan seperti ini karena tempat kerja mereka yang lama dan sudah terkenal sampai ke luar negeri itu ditutup dengan paksa oleh walikota setempat. Kompensasi sih kompensasi, tapi bisa bertahan sampai kapan kalau cuma mengandalkan kompensasi tok?

Salah satu dari mereka, namanya Susi, mengeluarkan rokok dari tasnya, menyalakan dan menghisapnya dalam-dalam. Yang lain, namanya Tasya, langsung menggerutu: “Ya makhluk kayak kamu ini, Sus, yang membunuh mimpi-mimpi perokok pasif seperti kami. Kamu pikir asap yang kamu hasilkan itu nggak beracun?”

“Pelacur kok punya mimpi. Sejak kapan?” sahut yang lain sambil memonyongkan bibirnya yang bergincu merah muda. Namanya Renata. Menurutku ia yang paling cantik diantara semuanya. Ia juga yang paling pendiam.

“Nggak ada asap ini juga kamu tiap hari menghirup racun dari jalanan,” kilah Susi tak peduli.

“Lho, jadi pelacur nggak boleh punya mimpi?” tanya yang lain lagi. Namanya Yusi. Kalau Yusi ini menurutku yang paling montok diantara semua, tapi yang paling kritis. Memangnya cuma mahasiswa saja yang boleh kritis? Pelacur juga!

“Boleh, boleh!”

Tiba-tiba saja suasana jadi ramai. Memperdebatkan tentang apa boleh atau tidak pekerja seks komersil macam mereka punya mimpi dan cita-cita. Awalnya banyak yang tidak setuju dengan Yusi. Sebab mereka berpikir, percuma pelacur punya cita-cita. Toh selangkangan juga yang akan berbicara dan menentukan. Tapi berangsur-angsur mereka menyadari bahwa pelacur juga manusia yang bisa dan boleh punya mimpi dan cita-cita.

Dari suasana yang ramai, sepi kemudian menyeruak. Hanya bunyi hisapan rokok Susi yang terdengar. Mereka mengenang-ngenang masa ketika masih mempunyai cita-cita.

“Dulu waktu perayaan hari Kartini, aku selalu pakai pakaian dokter, Yus,” kata Adinda. Rambutnya cepak tapi wajahnya manis. “Tapi itu bukan karena aku kepengen jadi dokter.”

“Lantas?” tanya Tasya.

“Sebab pakaian dokter yang paling gampang dicari ibuku yang sibuk. Meskipun waktu itu aku bilang aku ingin pakai kostum pilot. Menurutku gagah betul kostum pilot itu.” Adinda bercerita dengan berapi-api. “Ibu menolak karena menurutnya pekerjaan pilot hanya untuk laki-laki!”

“Bah!” semprot Hesti, salah satu perempuan yang paling kelihatan mencolok di situ. Bagaimana tidak mencolok kalau ia mengecat rambutnya dengan warna kuning menyala seperti itu. Dan jangan salah, boleh lah kau anggap rambutnya norak, tapi dia punya pelanggan yang setia dan selalu datang ke selang-, maksudku ke pelukannya - memberikan ia uang bulanan yang lumayan untuk menyekolahkan adik-adiknya di desa. Dia pula yang paling sensitif masalah beginian. “Masa mentang-mentang kita perempuan, kita tidak boleh punya cita-cita tinggi?”

“Menurutmu menjadi pilot itu cita-cita yang tinggi?” Susi balik bertanya.

“Iya dong,” jawab Adinda. “Gimana enggak tinggi kalau kerjaannya menerbangkan burung besi ke langit?”

Semuanya tertawa mendengar jawaban Adinda yang seenaknya. Semuanya kecuali Hesti. “Ini bukan cuma perkara menjadi pilot. Ini tentang cita-cita. Yang dipertanyakan oleh Yusi tadi. Buat aku cita-cita itu hak semua manusia. Nah kita ini kan masih manusia tho? Berarti kita semua masih boleh punya cita-cita tho?”

“Iya kita ini memang manusia, Hes. Tapi kita ini pelacur! Kalau pelacur kayak kita ini masih boleh punya cita-cita, nasib kita nggak berakhir di kolong jembatan layang seperti sekarang!” gerutu Susi sambil membuang puntung rokoknya dan mengambil rokok baru.

Tasya langsung menyambar dan membuang rokok barunya Susi. “Justru supaya kita nggak terus-terusan berakhir di sini, kita harus punya cita-cita, Sus! Sekarang coba katakan padaku tentang mimpi-mimpimu! Cita-citamu waktu kecil, yang mungkin sampai sekarang masih ingin kamu perjuangkan!”

Susi misuh. “Sudah kubilang aku tidak punya cita-cita! Kalau aku punya cita-cita, aku nggak akan berada di sini bersama pecundang macam kalian!”

“Cita-citaku sederhana,” sahut Yusi. “Aku cuma ingin bertemu dengan laki-laki yang mencintai aku apa adanya, menikah dan punya anak.”

Hanya bunyi klakson mobil dari kejauhan yang menyela. Teman-teman Yusi terdiam mendengar cita-cita Yusi. Hesti yang pertama kali berucap keras. “Menikah? Mana ada yang sederhana dari menikah dan beranak? Ujung-ujungnya kamu tetap berakhir di bawah ketiak laki-laki! Dan kamu dihujani lagi tuntutan-tuntutan lainnya! Pilihan-pilihan yang serba salah, seperti: menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier? Terus apa kamu pikir keduanya sama enaknya? Enggak! Ibu rumah tangga akan diremehkan dan wanita karier akan dihujat. Anak nakal ibu disalahkan, anak pintar, ayah dipuji! Dari mana sederhananya cita-citamu itu, Yus?”

“Wah, kamu jangan cuma bisa menjelek-jelekkan mimpi kawan-kawanmu, Hes. Jangan-jangan kamu sendiri tidak punya cita-cita?” ucap Tasya panas.

“Cita-citaku jadi politikus, Sya!” jawab Hesti cepat. “Terus aku akan maju jadi presiden! Coba bayangkan headline surat kabar ibukota kelak kalau aku naik jadi presiden: Mantan Pelacur Resmi Menjadi Presiden. Nah! Kurang keren apa kalau dibandingkan dengan cita-citamu tadi, Yus?”

“Iya, terus habis jadi presiden, ternyata kamu ditangkap KPK gara-gara korupsi! Lebih keren lagi media cetak akan menulis: Presiden Hesti Ditahan KPK Terkait Masalah Moralitas. Jadi politikus kok dibilang keren. Manisnya itu di mulut doang, hatinya berlobang,” sahut Tasya pedas.

“Kayak punya elu!” Adinda menyambar yang langsung disambut gelak tawa teman-temannya. “Cita-cita itu nggak usah yang tinggi-tinggi. Kalau ketinggian nanti jatuh. Cita-citaku lebih sederhana dari jeng Yusi. Aku cuma pengen sekolah lagi. Belajar bisnis, supaya enggak lagi-lagi menggantungkan nasib pada orang lain.”

“Sekolah lagi, tapi nulis skripsinya dibantu joki ye, Din, biar cepet lulusnya,” sindir Susi. “Kalau kamu gimana, Ren? Dari tadi bengong aja kayak Bagong.”

Renata menatap kawan-kawannya di balik bulu matanya yang lentik. “Aku pengen jadi laki-laki.”

Jawaban Renata kali ini betulan disambut senyap seketika. Tidak ada cita-cita yang lebih ambisius ketimbang cita-cita Renata.

“Aku bosan jadi perempuan. Capek jadi perempuan. Tuntutannya banyak. Penghakimannya sepanjang jaman. Jangankan punya cita-cita, tidak diremehkan sekali-sekali saja aku sudah bersyukur,” kata Renata. “Mana yang lebih ramai dihujat dan dimaki-maki oleh masyarakat saat seorang pekerja seks dengan tarif puluhan juta disorot oleh media? Sang mucikari? Si pekerja seks? Atau pelanggannya? Nggak lain nggak bukan ya si pekerja seksnya! Mucikari nomor dua! Lah pelanggannya ke mana? Melenggang kakung begitu saja, pokoknya nafsu mereka sudah terpuaskan dan sudah juga mengeluarkan kocek untuk itu. Aman. Asal ada duit, kamu nggak akan terusik. Nah, terus pansel KPK yang baru saja dibentuk itu. Yang isinya perempuan semua itu. Yang isinya nggak cuma perempuan-perempuan biasa, tapi perempuan-perempuan pintar dan berpendidikan. Tetap aja diremehkan oleh masyarakat. Sepintar apa pun perempuan, tetap aja dinilai nggak punya kompetensi dan kemampuan buat perkara-perkara yang membutuhkan otak untuk berpikir. Bahkan ada yang terang-terangan menulis di media cetak nasional, kalau pembentukan pansel yang isinya perempuan semua ini kemunduran besar buat negara. Status pemimpin tetap lebih layak dipegang makhluk-makhluk berpenis itu. Bagaimana aku tidak bosan jadi perempuan? Tidak capek jadi perempuan? Aku kepengen jadi laki-laki saja. Supaya tidak melulu diremehkan, dihujat dan dihakimi!”

Teman-teman Renata melongo mendengar pidato sepanjang itu. Renata yang cantik dan pendiam, tiba-tiba menjadi corong yang mewakili suara hati mereka sebagai perempuan.

“Aku mengundurkan diri jadi calon presiden, Ren,” kata Hesti akhirnya. “Kamu yang lebih pantas. Dan kalau kelak kamu jadi presiden, jangan lupa memperjuangkan nasib-nasib orang-orang pinggiran seperti kita. Kita bukan barang. Bukan obyek untuk seenaknya digunjingkan, dihakimi dan dicaci maki.”

Waktu sudah di atas angka dua belas. Tengah malam sudah lewat. Betul-betul malam yang sepi laki-laki hidung belang, tapi ramai mimpi dan cita-cita. Sungguh magis apa yang bisa diubah sang waktu saat berganti hari. Seolah-olah dunia kemarin bisa sangat berbeda dengan dunia hari ini. Hari baru setiap pagi.

Susi mengambil sebatang rokok dari kantungnya lagi. Tasya sudah hampir menyemprot Susi sampai ia berkata begini: “Ijinkan aku menyulut rokokku yang satu ini, Kawan. Sebab ini akan menjadi yang terakhir untukku. Ini cita-citaku sejak dulu.”

Kawan-kawannya bersorak.

Pagi-pagi, orang-orang ramai mengerubungi sudut kolong jembatan layang. Di situ tergeletak beberapa mayat yang selangkangannya berdarah-darah. Semuanya laki-laki. Ditengarai yang mati seorang pejabat setempat bersama para ajudannya.

Seorang saksi bersumpah, pembunuhnya adalah para perempuan pekerja seks komersil yang biasa mangkal di situ. Motif mereka membunuh? Entahlah. Yang jelas pejabat itu memang sudah terkenal suka birahi tiba-tiba saat lewat tengah malam.

Seharusnya pejabat itu tahu, jangan pernah main-main dengan para pelacur yang punya cita-cita.


Saturday, 30 May 2015
11.03 pm

Diinspirasi oleh enam perempuan jejadian yang saya temui di malam tanggal dua puluh enam bulan lima tahun dua ribu lima belas. :)


Monday, May 18, 2015

ironi


“Kamu tahu mengapa aku butuh kafein?”

Tak ada hujan, tak ada angin, apalagi petir dan guntur. Tiba-tiba saja kawanku yang setengah sableng ini bertanya padaku. Padahal, sumprit, aku nggak kepengen tahu. Tapi aku kawan yang baik dan tidak sombong. Meski sableng, tetap kutanggapi pertanyaannya.

“Memangnya mengapa?” tanyaku.

“Sebab kafein selalu berhasil bikin aku kesurupan.”

Benar kan kalau kubilang kawanku ini sableng?

“Kenapa harus kesurupan?”

Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa juga aku bertanya? Pasti ngocehnya bakal lebih nggak keruan!

“Karena hanya dengan kesurupan aku bisa menulis – menjabarkan aksara yang wira-wiri di otakku ini menjadi sebuah kisah. Seperti sekarang!”

“Sekarang kamu lagi butuh kafein?”

Ia mengangguk.

Sungguh rumit kawanku ini. Mau ngomong butuh kafein saja pakai bilang butuh kesurupan segala buat menulis.

“Kamu mau nulis apa sih memangnya?” tanyaku lagi mencoba bersabar.

“Banyak! Terlalu banyak sampai aku tak tahu harus mulai dari mana!”

Ia kemudian menyodorkan surat kabar hari ini padaku.

“Coba baca,” pintanya dengan nada memerintah.

“Ogah!” jawabku judes. Asal tahu saja, aku paling malas membaca koran, sebab itu berarti aku membiarkan orang-orang yang tak kukenal – mereka yang mengaku-aku berprofesi sebagai jurnalis – meracuni isi otakku dengan berita sepihak yang mereka tulis. Tulisan jurnalis bikin orang-orang kecanduan berasumsi. Padahal asumsi belum tentu benar! Dan Surga tahu betapa bencinya aku pada manusia-manusia yang suka berasumsi.

“Ayolah! Ini bukan soal politik yang kamu benci setengah mampus itu. Ini tentang nasionalisme!”

Nasionalisme? Nah, ini baru menarik. Sebab aku juga sedang mempertanyakan nasionalisme-ku sendri. Siapa tahu bisa membuat aku segera memutuskan kemana akan kubawa nasionalisme-ku ini.

Kubuka surat kabar itu, yang isinya foto-foto orang Indonesia yang tinggal di berbagai tempat di luar negeri dan usaha mereka untuk memperkenalkan budaya Indonesia di negeri orang. Mulai dari mengajari para bule maniak keju memasak makanan Indonesa yang penuh rempah itu sampai menarikan tari tradisional Indonesia di acara-acara kenegaraan pemerintah setempat. Misi mereka tak lain tak bukan menjadi jendela bagi orang-orang asing itu untuk mengintip dan mencicipi Indonesia tanpa perlu keluar dari negeri mereka.

Selesai membaca aku malah termenung-menung, sambil menatap satu-satu foto-foto dalam surat kabar tersebut.

“Bagaimana? Katakan padaku apa yang ada dalam batok kepalamu sekarang,” ucap kawanku sesaat setelah melihat aku termenung-menung selesai membaca surat kabar yang ia sodorkan padaku.

“Apa aku harus hidup di luar negeri dulu supaya aku bisa lebih bangga dengan negeriku sendiri? Dengan budayaku sendiri?” tanyaku perlahan-lahan, seolah setiap katanya meluncur keluar dari mulutku tanpa komando dari kepala.

“Pertanyaan-pertanyaan kece!” Kawanku makin bersemangat. “Apa lagi? Apa lagi?”

“Apa itu berarti budaya kita akan jatuh di tangan orang asing lagi? Seperti dulu?” Entah setan apa yang merasuki diriku sampai aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan goblok ini. Ah, aku kenal setannya. Ya kawanku ini. Tiada lain.

“Makin kece!” Kawanku bertepuk tangan keras sekali. “Persis seperti itu yang berseliweran dalam kepalaku!”

“Kalau begitu, aku sudah mulai sama sablengnya dengan kamu,” keluhku.

“Ironi. Itu kata yang paling tepat, bukan?” tanyanya tanpa peduli bunyi keluhanku.

“Nggak tahu!” Aku pura-pura kesal meski dalam hati aku setuju dengan yang ia katakan.

“Ini jelas ironi!” tandasnya tak terima dengan jawabanku. “Coba bayangkan, bagaimana tidak ironi namanya kalau orang asing lebih tertarik dan lebih tahu tentang budaya Indonesia ketimbang orang-orang Indonesianya sendiri?”

Kalau kawanku sudah mulai berapi-api begini, akan jauh lebih aman untukku jika kututup mulutku rapat-rapat.

“Coba sekarang aku tanya, apa kamu kenal anak-anak yang dikirim orang tuanya belajar gamelan, tari tradisional atau anak-anak yang masih main congklak dan menyanyikan lagu-lagu tradisional macam cublak-cublak suweng, apuse, ampar-ampar pisang? Ada tidak? Ayo jawab!”

“Nggak ada!” jawabku makin kesal. “Puas kamu?”

“Aku ada,” sahutnya, “tapi nggak banyak. Ibaratnya seujung kelingkingku ini. Apalagi kalau kamu tinggal di pulau Jawa, yang anak-anak mudanya justru kerasukan budaya dari luar. Makanya aku setuju dengan apa kata Sujiwo Tejo: budaya luar membuat anak-anak bangsa kesurupan menjelma orang asing di negeri sendiri.” Ia menoleh padaku, menatap mataku dalam-dalam. “Bukankah itu ironi? Seperti kita?”

Pelan-pelan aku mengangguk. Sebab aku melihat dengan kepalaku sendiri, anak-anak muda Indonesia yang begitu memuja seni dan budaya luar negeri tapi tak paham seni dan budaya negeri sendiri. Ketidakpahaman bukan sesuatu yang salah sampai ia berubah bentuk menjadi ketidakpedulian.

Sama ironinya saat aku melihat kami berdua. Kawan karib, saling seloroh, saling memaki, apa adanya, saling memahami meski kami berbeda, saling mencintai tapi tak bisa bersatu.

Hanya gara-gara namaku Sinta dan nama kawanku itu Rahwana.

Hidup di negeri ini memang ironi. Tapi entah mengapa, aku dan Rahwana tetap berkawan akrab dan mencintai negeri ini mati-matian. Cinta memang ironis.


Monday, 18 May 2015
12 : 09 am

PS : gambar diambil dari sini 

Sunday, May 03, 2015

dari balik jendela

Aku selalu terobsesi dengan jendela. Namun tak semua jendela menjadi obsesiku. Aku hanya terobsesi dengan jendela mobil, jendela bis dan jendela kereta api. Mereka membuatku merasa hangat dan lebih dekat dengan kehidupan manusia. Sungguh berbeda dengan jendela pesawat yang dingin dan angkuh. Jendela mobil, jendela bis, dan jendela kereta api selalu berhasil bikin aku merenung.

Dari jendela mobil, aku selalu memperhatikan manusia-manusia. Semakin kuperhatikan, semakin kupahami bahwa sungguh picik pandangan orang yang hanya mendefinisikan manusia hanya berdasarkan dari alat kelamin mereka saja. Tiap manusia memang berbeda, itu saja. Apapun kelaminnya. Barangkali itu sebabnya aku benci seragam sekolah, aku benci seragam kantor. Seragam bikin aku berpikir perbedaan adalah kriminal.

Dari jendela mobil, aku tak hanya makin memahami manusia, tapi aku juga makin memahami negeri ini. Tahukah kamu sebuah negeri dapat dikenal dari gaya hidup rakyatnya? Dan rakyat negeri ini terdiri dari manusia-manusia yang tangguh. Bagaimana aku bilang tidak tangguh kalau aku baru saja melihat dengan mata yang tertempel di kepalaku ini ada anak, kira-kira sebaya dengan keponakanku yang baru kelas lima SD, dengan kakinya yang belum panjang mengayuh becak sambil mengepulkan asap rokoknya? Bagaimana aku bilang tidak tangguh, kalau tak hanya sekali aku melihat satu keluarga yang terdiri atas bapak, ibu dan tiga anak-anaknya yang masih kecil berada di atas satu sepeda motor – melaju kencang diantara kendaraan-kendaraan besar lainnya? Itu belum termasuk para penjaja koran dan tahu goreng yang biasa berjibaku di perempatan lalu lintas jalan raya menghirup polusi, menjejak panasnya aspal tanpa bisa menghindari teriknya sinar matahari di ubun-ubun dan dinginnya malam tanpa bulan yang tambun.

Karena itu aku tak percaya jika ada pengamat – baik dari dalam maupun luar negeri – mengatakan bahwa negeri ini tak ada harapan. Negeri ini sudah jatuh terlalu dalam, tak mungkin dapat bangkit lagi. Negeri ini cuma citra yang palsu dan tak ada yang bagus di negeri ini. Mereka keliru. Negeri ini memang dramatis, tapi negeri ini akan baik-baik saja. Meski banyak yang pesimis, tapi lebih banyak lagi yang optimis. Jalannya memang berbatu-batu, tapi negeri ini tetap melangkah maju. Ini negeri yang dipenuhi manusia-manusia tangguh, bung! Kalau kau tak percaya, tinggalkan sejenak ponsel pintar dan media sosialmu, lihatlah dari balik jendela mobilmu, jendela bis tempat kau menumpang atau jendela kereta api tempat kau menunggu sampai ke tujuanmu.

Lihat saja dan kau akan percaya.


Sunday, 3 May 2015
3:43 pm

Thursday, September 25, 2014

blah blah blah


Awalnya cuma karena kepepet. Betul. Kepepet. Kalian tahu kan teori the power of kepepet? Teori ini sungguh ada, nyata dan berkuasa. Dan konon, lebih powerful daripada The Wizard of Oz atau bahkan  Voldemort himself.

Pernah suatu hari ada yang bertanya pada saya, saya lupa siapa. Begini dia tanya: “Bagaimana ceritanya kamu bisa bikin naskah panggung?” Jawaban saya enteng: “Kepepet. Nggak ada orang lain yang mau repot-repot bikin. Yang mau repot-repot bikin sudah minggat ke luar negeri.” Ini juga betulan, nggak bohong, dan nggak bermaksud merendah. Saya sudah cukup rendah (baca: pendek) tanpa perlu direndah-rendahkan. Waktu itu saya memang menulis karena kepepet.

Karena itu lah, ketika naskah panggung yang dibikin dengan menggunakan teori the power of kepepet ini dipentaskan, karakter-karakternya dihidupkan, dan para penonton mengapresiasi apa yang terjadi diatas panggung berikut dialog-dialognya, rasa bangga belum ada. Yang ada rasa senang sekaligus rasa haru. Biar saja orang bilang saya sungguh India, karena harus merasa terharu hanya gara-gara naskah bikinan hasil the power of kepepet tadi diproduksi. Memang itu kenyataannya. 


Kata orang, jika ada yang pertama, maka ada yang kedua, ketiga dan seterusnya. Itu pula yang terjadi pada saya. Saat naskah ketiga dan seterusnya dipertunjukkan, rasa senang berangsur-angsur bersembunyi – diganti dengan rasa bangga. Nah, seharusnya saya tahu, yang namanya rasa bangga alias kebanggaan ini kalau dibiarkan terus tumbuh bisa menjadi rasa sombong alias kesombongan. Bangga boleh, sombong tentu jangan. Kata nenek saya begitu sih. 


Saya nggak ingat juga sejak kapan saya mulai dicari pada saat orang-orang butuh naskah ‘custom’. Custom disini maksudnya ‘minta’. Minta naskah dengan tema ini. Minta naskah dengan jumlah pemain segini. Minta naskah untuk pentas dua puluh menit atau satu jam atau dua jam. Minta naskah kolosal, ada nyanyi-nyanyinya tapi jangan sulit-sulit, ada puisi-puisinya, ada ayat-ayat Alkitabnya, dan sebagainya dan sebagainya. Awalnya saya setres. Lha, dipikir mereka, saya ini super apa? Saya nggak nganggur, broow. Tapi ya itu, diakui atau tidak diakui, disadari atau tidak disadari, ternyata saya menikmati proses pembuatan naskah dan proses produksi naskah tersebut. Jadi, biarpun sambil nggerundel dan nggak yakin, saya terima saja permintaan mereka. 


Perhatikan ini: saya menulis tak lagi dengan the power of kepepet , sudah ada reaksi kimia disana. Semacam phenylethylamine  yang entah sejak kapan tinggal di dalem sini. Saya jatuh cinta dengan proses menulis. Jatuh cinta dengan proses berubahnya naskah menjadi satu produksi yang hidup di atas panggung. Dan orang yang jatuh cinta itu bermacam-macam bentuknya. Bentuk saya? Bergairah dan berusaha merendah, tapi wujud yang keluar barangkali adalah kebanggaan yang terlalu tinggi. Jauh lebih tinggi dari tinggi badan saya yang sebenarnya.


Mau ngomong kalau saya sombong aja kok susah amat ya. Iya, saya kok jadi sombong. Saya merasa pinter. Saya merasa super. Saya merasa saya harus selalu didengerin kalau proses produksi naskah saya sudah dimulai. Saya yang tadinya enggak pede ngomongin bagaimana cara bikin naskah panggung, mendadak jadi merasa yang ahli. Padahal apalah saya ini sih dibandingkan Arifin C. Noer, Nano Riantiarno, Agus Noor yang kemampuannya jauuuuhhh diatas saya itu? Yang sudah go international sejak lama. Diakui sana-sini sebagai  penulis. Lha saya? Yang mengakui saya penulis itu ya saya sendiri, dan suami saya kayaknya. Itu pun karena saya yang paksa suami. Suami bisa saya paksa dengan ancaman “Ntar malem tidur sendiri loh!” atau “Ntar malem posisinya nggak macem-macem loh!” atau… tuh kan saya jadi ngelantur.

Jadi ceritanya saya ini lagi berusaha keras. Gimana sih caranya supaya saya tetap serendah atau sependek fisik saya? Kenapa sulit untuk tetap merasa jadi orang biasa? Sulit untuk netral terhadap diri sendiri? Sulit untuk meletakkan ego, gengsi dan kebanggaan berlebih itu di bawah pantat saya?


Saya jadi penasaran, gimana ya si William Shakespeare kalau sekarang masih hidup dan melihat naskah The Twelfth Night dipentaskan berulang-ulang? Gimana ya rasanya si Victor Hugo melihat novel Les Miserable-nya jadi pertunjukan musikal panggung yang memenangkan 8 Tony Awards? Atau si Jonathan Larson yang nggak sempat mengalami kesuksesan Rent hasil karyanya karena keburu mati sebelum sukses dipentaskan di panggung Broadway?


Saya nggak mau ah mati dulu gara-gara diduduki kesombongan saya sendiri  sebelum melihat hasil karya saya dipentaskan di panggung besar minimal di Taman Ismail Marzuki. Tuh kan, sombong lagi. 


Ah, susahnya untuk tidak mengembangkempiskan hidung saat diapresiasi. Susahnya untuk stay cool saat dipuji. Susahnya untuk tidak sombong....




Curcol bla bla bla ini ditulis di sela-sela tugas revisi bikin SOP dan proposal kegiatan di kantor
Kamis, 25 September 2014
11:27 am

PS: Hati, tolong jangan berharap ‘like’ atau pujian yah… Plisss….

Thursday, March 20, 2014

"Ada! Ibu rumah tangga!"

Sejak subuh tadi perempuan itu sibuk. Menjerang air. Menyiapkan sarapan. Mencuci baju. Belanja sayuran di depan rumah. Supaya tiap makhluk hidup yang tinggal serumah dengannya dapat memulai hari dengan tenang. Tak berapa lama suaminya bangun. Seperti biasa, ritual yang dilakukan adalah mandi, ganti baju kemudian sarapan. Setelah membaca surat kabar sebentar, sang suami berangkat. Itu berarti tinggal makhluk hidup satu lagi dalam rumah itu yang belum memulai harinya.

Si perempuan membuka pintu kamar si makhluk hidup satunya, yaitu anak laki-lakinya – seorang mahasiswa – dengan hati-hati. Sebab ia tahu semalam anaknya tidur lewat jam dua belas karena mengerjakan tugas kuliah. Lewat pukul sembilan pagi, setelah ia merapikan kamar tidurnya, dan anaknya belum juga bangun, ia bangunkan anaknya pelan-pelan karena ia tahu pukul sepuluh anaknya harus mengikuti kelas wajib.

Sambil menggerutu sedikit, tanpa ganti baju si anak mengambil sarapan paginya, membawanya ke ruang tengah dan makan sambil nonton siaran pagi. Selesai sarapan, si perempuan, ibunya bilang air hangatnya sudah siap di kamar mandi untuknya. Pukul sepuluh kurang sedikit, si anak sudah sampai di kelasnya siap untuk mengikuti kuliah.

Di rumah, ibunya menyiapkan makan siang untuk ia sendiri lalu mulai menyeterika baju, menyapu dan mengepel lantai rumah. Menginjak sore, sang ibu akhirnya punya waktu sejenak untuk diri sendiri. Diseduhnya teh dan dibacanya novel yang minggu lalu ia beli. Tak lama, si suami pulang dan selesai lah waktu untuk diri sendiri pada hari itu. Ia kembali menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, lantas menyiapkan makan malam.

Si anak baru pulang ke rumah setelah makan malam – sambil mengomel kanan kiri tentang dosen yang menyebalkan, tugas yang sulit, teman kuliah yang cerewet dan juga pacar yang cemburuan. Didengarkannya curhatan si  anak dengan sabar sambil menemaninya makan malam. Perempuan itu mengerti bahwa malam itu akan dilewati lagi oleh anaknya hingga larut untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum rampung.

Esoknya, rutinitas sang ibu tetap sama, namun anaknya bangun lebih pagi. Ia makan sarapannya dengan cepat dan buru-buru berangkat kuliah. Pagi itu, si anak ada janji kerja kelompok bersama teman-teman sekelasnya.

Di kampus, selesai kerja kelompok, mereka ngobrol ngalor ngidul – mengeluhkan pekerjaan apa yang akan dilakukan selepas lulus nanti. Ada yang bilang kalau ia pernah ditawari kerja di bank, tapi ngeri dengan targetnya yang berbunyi satu setengah em. Ada juga yang menyahut lebih ngeri lagi kalau dapat kerja yang waktunya shift-shift­an - kapan pacarannya coba? Lantas mereka berpikir: Memang ada pekerjaan yang gampang? Yang nggak pake target?

Si anak laki-laki tadi, sambil makan bekal yang disiapkan oleh ibunya, berucap dengan lantang: “Ada! Ibu rumah tangga!”

Sementara di rumahnya, sang ibu sedang memasak makanan kesukaan anaknya untuk makan malamnya nanti karena ia tahu anaknya baru melewati dua malam yang melelahkan.

Thursday, 20 March 2014
4:45 pm
   

Friday, November 22, 2013

percakapan tahi kucing

"Jaman sekarang tidak ada yang namanya pemberian yang tulus!" sabdanya suatu sore.

Seharusnya aku membalas sabdanya dengan pertanyaan seperti ini: "Kok bisa?" atau "Mengapa kamu bilang begitu?" atau "Maksudmu?" Tapi mulutku terkunci, karena aku tak sudi terperangkap dengan sabdanya yang sok tahu itu. Lagipula aku sedang sibuk.

"Hadiah-hadiah itu macam tahi kucing yang berceceran di jalan. Dan kamu tahu, semua kucing itu tidak tahu diri!"

Lagi-lagi aku diam, sebab aku kurang setuju jika ada yang mengatakan bahwa kucing itu hewan yang tidak tahu diri. Kucing justru hewan yang tahu diri. Ia tahu bahwa dirinya dijadikan mitos di banyak tempat, karena itu dia bisa seenaknya hidup disana-sini tanpa ada yang berani macam-macam dengannya. Kalau menurutku hewan yang paling tidak tahu diri itu kecoak. Buruk rupa tapi pede nongol di tempat-tempat tak seronok seperti kamar mandi dan toilet, tempat manusia mengumbar kelamin masing-masing dan bagian-bagian tubuh yang biasanya tertutup.

"Begini maksudku," katanya lagi.

Benar kan? Tak disahuti pun ia masih menyerocos, apalagi jika kusahuti.

"Suatu waktu kamu bertemu dengan seorang bapak tua penjaja makanan. Ia sudah tua, terlihat selalu letih, dan jika berjalan selalu menggunakan tongkat. Kamu kasihan, kemudian kamu bantu ia berjalan. Kamu belikan makanan. Kamu beri uang untuk ongkos perjalanan pulang. Keesokan harinya, kamu melihat lagi bapak tua ini. Dan kamu merasa kamu masih harus membantunya, maka kamu lakukan hal yang sama. Kamu bantu ia berjalan, kamu belikan makanan dan kamu beri juga uang untuk ongkos perjalanan pulang."

"Tidak ada yang salah dengan itu kan?" sahutku akhirnya.

"Ya! Tidak ada yang salah dengan itu," katanya lagi makin bersemangat. "Sampai suatu ketika bapak tua tadi berubah jadi penuntut. Ketika melihatmu datang, ia akan mendatangimu, memintamu membantunya berjalan. Memintamu membelikan makanan. Ia mulai berani mengatakan ia tidak suka nasi padang yang kamu belikan di rumah makan A. Ia lebih suka nasi padang di rumah makan B - yang harganya lebih mahal. Kemudian ia juga akan minta uang untuk ongkos perjalanan pulang. Seperti biasanya. Dan ketika kamu tidak bisa memberikan itu semua, ia akan marah-marah. Menuntut. Seolah-olah pemberian yang awalnya kamu berikan dengan tulus dan cuma-cuma sudah berupa bentuk menjadi hak yang seharusnya ia terima."

"Ha! Bisa jadi! Tapi itu tidak lantas menjadi alasan utama buatmu mengatakan pemberian itu seperti tahi kucing!" Aku mulai memanas, sebab aku kurang rela mengakui bahwa apa yang dikatakannya ada benarnya.

Ia tersenyum-senyum senang melihatku membalas perkataannya. "Sekarang coba bayangkan. Kamu menyetir mobilmu malam-malam seperti yang barusan kamu lakukan, kemudian kamu melihat seseorang tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan tidak sadar. Apa kamu akan berhenti dan menolongnya? Atau paling tidak, memeriksa keadaannya?"

"Tentu saja!" sahutku cepat.

"Benarkah?" Ia tersenyum sinis. "Kalau memang begitu, mengapa kemarin malam kamu tidak melakukannya?"

Aku terdiam. Teringat kemarin malam ketika aku menolak menghentikan mobil saat ada laki-laki terjatuh dari motor. Kataku saat itu: "Ya kalau dia jatuh beneran? Kalau ternyata dia preman yang pura-pura jatuh? Gimana? Mau jadi apa kita? Lagian kamu nggak baca koran apa? Banyak kasus yang kayak begitu. Mau menolong malah bikin kantong bolong. Taruhannya nyawa!"

Ia tersenyum-senyum lagi. "Percayalah, bukan kamu satu-satunya yang berpikir seperti itu. Hidup di jaman sekarang ini, memang kita harus ekstra hati-hati. Jadi benar kan teoriku?"

Aku mulai manggut-manggut cemberut. Antara membenarkan tapi gengsi untuk mengakuinya dan yang sedang kulakukan tak kunjung selesai sebab aku sesungguhnya kurang mengerti apa yang kulakukan.

"Nenekku juga begitu!" cerocosnya lagi. "Tiap ulang tahun, ia dapat banyak hadiah. Dari anak-anaknya. Tapi yang paling dia tunggu-tunggu tentu dari anak laki-lakinya yang sulung. Om-ku itu! Yang paling kaya diantara saudara-saudaranya. Bisnisnya paling sukses, mobilnya lima, rumahnya besar. Makanya dia juga yang paling didengar oleh Nenek, soalnya hadiah darinya untuk Nenekku selalu mahal. Terakhir Nenek dibelikan gadget yang paling baru. Sampai terharu biru Nenekku dibuatnya. Hatinya sudah dibeli oleh Om-ku itu!"

Lagi-lagi aku menggerutu tanda setuju dengannya tapi tak rela kalau ia benar, sambil bertanya-tanya dalam hati apakah memang benar sudah tidak ada lagi pemberian yang tulus di dunia ini?

"Seperti tadi pagi," lanjutnya, "aku ditelepon marketing bank. Dia bilang karena aku sudah menjadi nasabah yang setia, mereka mau memberikan kompensasi. Semacam hadiah begitu. Hadiahnya sejumlah uang. Tapi ternyata setelah penjelasan yang panjang dan ruwet, aku baru tahu kalau yang dimaksud hadiah uang itu adalah pinjaman yang katanya berbunga rendah. Nah, kubilang juga apa? Mana ada hadiah gratisan kayak begitu. Tahi kucing!" Ia mengumpat lagi sambil tertawa-tawa.

"Kamu bisa nggak sih diem sebentar dan bantuin aku?" potongku sewot. "Ini mobil kalau nggak segera dibetulkan kita bisa semalaman disini!"

Sebelum ia menyahut, seorang bapak setengah baya mendekat. Di tangannya ada seperangkat alat. "Mari saya bantu, Dik. Saya lihat dari tadi adik berdua kesulitan membetulkan."

Kemudian tanpa menunggu jawaban, si bapak dengan cekatan mencari kerusakan dan membetulkannya.
Ia, kawanku yang cerewet itu tersenyum-senyum sambil berbisik di telingaku: "Paling-paling dia mengharapkan duit dari kita."

"Duitku tinggal lima puluh ribu! Buat isi bensin!" semprotku mendelik.

Tak berapa lama si bapak memberi isyarat padaku untuk menyalakan mesin. Dan, voila! Mesin menyala! Aku lega karena tak perlu disini semalaman, kawanku yang cerewet itu lega karena lagi-lagi bisa membuktikan teorinya tentang pemberian. Diselipkannya selembar uang berwarna biru di tangan si bapak.

Aku tersenyum.

Bukan. Bukan karena pada akhirnya aku sepakat dengan kawanku yang cerewet itu yang bikin aku tersenyum. Aku tersenyum karena lembaran uang berwarna biru dari kawanku itu ditolak oleh si bapak.

Dan si bapak pergi begitu saja, meninggalkan kawanku dengan mulutnya yang menganga lebar. Lebar sekali. Selebar senyumku.

Yang dikira tahi kucing itu ternyata rasanya manis.


Friday, 22 November 2013
03:06 pm

Gambar diambil dari sini