Showing posts with label fun. Show all posts
Showing posts with label fun. Show all posts

Monday, February 18, 2013

seseorang yang tak ramah

Seorang ibu sedang berjalan-jalan pagi bersama anjingnya.  Setiap pagi ia selalu menyusuri jalan yang sama. Pergi dan kembali ke rumahnya. Si ibu seseorang yang ramah, karena itu selalu ia sapa orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan dirinya.

Suatu hari, si ibu melakukan rutinitasnya seperti biasa. Salah seorang tetangga sambil mengendarai mobilnya dengan jendela terbuka, berpapasan dengannya. Seperti biasa si ibu melambaikan tangannya pada tetangga tersebut dan mulutnya siap menggerakkan senyum. Namun apa yang terjadi? Si tetangga tersenyum  pun tidak. Jangankan tersenyum, menoleh pun tidak. Wajahnya cemberut seolah-olah mengisyaratkan pada dunia bahwa ia sedang tidak ingin diganggu. Dan lewatlah si tetangga dengan mobilnya begitu saja.

Si ibu tertegun. Seumur-umur baru kali itu sikap ramahnya mendapat balasan tak menyenangkan. Ia pulang ke rumah dalam keadaan galau dan tidak tenang. Seharian ia berpikir apa salahnya sehingga ia harus mendapatkan perlakuan ramah lagi tak menyenangkan dari tetangga? Apa karena waktu itu ia tidak mengundang si tetangga ke pesta ulang tahunnya? Tapi pesta ulang tahunnya memang hanya untuk keluarga. Tak ada satu pun tetangga yang ia undang. Atau apakah anaknya bikin masalah dengan anak tetangga tersebut sehingga tetangganya jadi malas bertegur sapa dengannya? Lantas segala macam yang tak enak dan cenderung negatif berseliweran di otaknya. Membuat si ibu menghabiskan siang hingga sore hari dengan berpikir keras tentang tetangganya yang tak ramah itu.

Tak jauh dari rumah si ibu, ada rumah si tetangga tadi. Ia riang gembira karena baru mendapatkan kabar dari optik langganannya bahwa kacamatanya yang pecah tadi pagi sudah dapat diambil. Si tetangga ini, seorang perempuan muda, suntuk berat karena tak sengaja menjatuhkan kacamatanya di kamar mandi dan baru menyadari kontak lens-nya sudah tak dapat digunakan. Alhasil, ia harus berangkat kerja dengan menyetir mobil tanpa kacamata. Yang menyebabkan segala sesuatu yang di hadapannya tampak buram. Untung saja kantornya dekat dengan rumah, sehingga ia selamat sampai tujuan tanpa kacamata.

Yang si perempuan muda ini tak tahu, tetangganya – seorang ibu-ibu yang tadi pagi berpapasan dengannya tanpa si perempuan muda ini sadari sedang dihibur oleh pembantunya bahwa di dunia ini memang tak semua manusia itu ramah. Termasuk perempuan muda diatas mobil yang berpapasan dengannya pagi tadi. Yang tidak membalas sapaan ramah si ibu.
Terima saja.

Surabaya, 18 Februari 2013
3:54 pm

Sunday, April 01, 2012

tinggi di langit


Teman-temanku bilang aku kampungan. Yang lain bilang aku ndeso. Yang lebih halus bilang aku nggak gaul. Semuanya karena benda yang sekarang ada di tanganku ini. Tapi aku tak peduli. Biarpun barangkali harus sendiri aku memainkannya. Atau dengan ibuku.

Ibuku bilang, untuk memainkan benda ini, aku harus cari tanah lapang yang luas dan berumput. Kilahku, aku pernah melihat anak-anak kampung memainkannya di jalanan, kenapa aku tak boleh. Sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ada anak kampung yang tertabrak sepeda motor karena bermain dengan benda ini di jalanan. Sejak itu lah aku mulai terobsesi mencari tanah lapang yang luas dan berumput seperti kata ibuku supaya aku dapat memainkan benda yang saat ini ada di tanganku tanpa harus membahayakan diriku.

Berminggu-minggu aku mencari tanah lapang yang luas dan berumput itu. Tapi tak kunjung juga kutemukan. Pernah suatu hari kutemukan tanah lapang itu tak jauh dari rumahku. Buru-buru aku pulang mengambil mainanku dan ketika aku kembali ke tanah lapang itu, sudah ada para pria berhelm kuning yang melarangku masuk ke tanah lapang itu karena berbahaya. Kutanya pada mereka, apa bahayanya? Aku toh baru dari situ dan tahu bahwa tempat itu baik-baik saja. Tapi mereka ngotot mengatakan bahwa tempat itu berbahaya karena mereka akan segera memasang alat-alat untuk membangun ruko. Kutanya lagi pada mereka apa itu ruko. Mereka menjawab dengan tak sabar bahwa ruko adalah sesuatu yang bisa menghasilkan duit. Diamlah aku, padahal aku masih belum mengerti apa itu ruko. Apakah sama dengan bank?

Esoknya lagi kucari di tempat yang agak jauh dari rumahku. Kutemukan ada tanah lapang yang biarpun tidak terlalu luas tetapi berumput hijau segar. Lagi-lagi aku berlari pulang untuk mengambil mainanku dan kembali ke tempat itu. Dan ketika aku kembali, sudah banyak anak-anak kampung situ yang bermain bola di tanah lapang berumput hijau tadi. Ragu-ragu kulangkahkan kakiku menginjak rerumputan hijau itu, tiba-tiba ada seorang anak yang membentakku.

"Hei, kamu! Mau ngapain disini?" bentaknya. "Kamu mau mainan itu ya?" Ia menunjuk benda yang kupegang.

Kuanggukkan kepalaku berharap dia tidak marah jika aku berkata jujur.
"Kamu bukan anak kompleks sini kan? Kalau bukan anak kompleks ini tidak bisa pakai! Kamu nggak tahu sulit sekali cari tanah lapang model beginian buat kami bermain bola! Enak saja kamu mau merebut dari kami!"

Ingin sekali kujawab bahwa aku tahu dan sependapat dengannya tentang betapa sulitnya mencari tanah lapang yang luas dan berumput untuk aku bermain benda yang ada di tanganku ini dan bermain bola seperti mereka. Ingin juga kukatakan padanya bahwa aku tak bermaksud merebut dan bahwa aku tidak keberatan berbagi tanah lapang itu untuk bermain bersama. Tapi anak itu badannya lebih besar, jadi aku mundur sebelum babak belur.

Melihatku sering melamun dan selalu lunglai sesampainya di rumah sesudah mencari tanah lapang untukku bermain, ibuku turun tangan. Suatu hari ia mengajakku ke gedung olahraga yang punya lapangan sepakbola yang luas. Ibuku bilang pada petugas gedung bahwa kami datang untuk meminjam lapangan sepakbola itu sebentar saja. Hanya supaya aku dapat bermain dengan benda yang kubawa itu sejenak.

"Tak sampai satu jam lah, bapak," kata ibuku. Tapi petugas itu tetap menggelengkan kepalanya. Jika ingin meminjam lapangan bola, ibuku harus mengisi formulir tertentu disertai surat permohonan sebagai lampirannya kemudian formulir dan surat permohonan itu akan diajukan oleh petugas gedung tadi kepada bapak pengelola gedung. Nanti bapak pengelola akan memberikannya pada para pengurus gedung untuk dibawa ke rapat paripurna supaya dapat diputuskan apakah aku dapat bermain di lapangan bola itu atau tidak. Aku sungguh tak menyangka bahwa untuk bermain di lapangan bola barang sejenak saja diperlukan proses sepanjang itu. Maka aku pun menarik tangan ibuku mengajaknya pulang karena percuma bernegosiasi dengan birokrasi semacam itu. Anehnya ketika kami beranjak pulang, si petugas gedung tadi membisikkan sesuatu di telinga ibuku yang membuat raut muka ibuku begitu mengerikan. Tak pernah kulihat ibuku marah bukan main seperti hari itu.

"Apa-apa kok duit! Sudah bobrok negara ini!" Begitu omelnya ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Aku diam saja karena merasa bersalah sebab rupa-rupanya aku sudah menularkan obsesiku pada ibuku. Hanya untuk benda yang ada di tanganku ini.

Sekonyong-konyong, kudongakkan kepalaku ke langit. Lewat jendela mobil, kulihat diatas sana ada benda serupa dengan yang sedang kupegang ini. Kuremas tangan ibuku dan menunjuk ke langit. Ibuku memekik senang, lupa dengan kemarahannya pada petugas gedung olah raga tadi. Ia langsung memutar setirnya mengikuti arah benda yang kutunjuk tadi. Belok kanan, belok kanan lagi, belok kiri, lurus, belok kanan, belok kiri lagi, seolah jalanan itu tak ada ujungnya. Tapi kemudian sekujur tubuhku bergetar karena melihat tanah lapang yang begitu luas dengan rumput hijau yang segar. Disana ada beberapa anak yang sedang bermain dengan benda seperti milikku ini. Turunlah aku dari mobil dan mendekati lapangan hijau yang selam ini kucari-cari. Anak-anak itu tersenyum dan memberi isyarat padaku untuk bergabung dengan mereka. Kulangkahkan kakiku ringan mendekati mereka. Seperti inilah rasanya ketika kamu merasa bahwa sebentar lagi obsesimu menjadi kenyataan. Ada rasa yang tak terdefinisikan saat waktu itu akan tiba.
Ibuku kemudian mengambil benda yang sedari tadi kupegang erat-erat, yang sudah menjadi obsesiku selama berminggu-minggu. Aku menarik simpul benang di ujung benda tadi sambil berjalan mundur. Tadinya berjalan, lama kelamaan aku berlari sambil menarik benang itu. Pada saat itu lah ibuku mulai melepaskan benda tadi.

"Tinggi! Tinggi!" kata anak-anak tadi sambil bersorak-sorak. "Lebih tinggi lagi! Masih bisa!"

Aku mulai menarik-narik benang mengikuti arah angin, membiarkan benda itu melayang tinggi, lebih tinggi dari gedung-gedung dan ruko-ruko. Luar biasa sensasinya. Seperti ada yang mengaduk-aduk perutku saking senangnya hatiku. Kami semua yang ada di lapangan melihat mainanku tinggi di langit, melawan sinar matahari yang menyengat. Ia bergoyang-goyang riang diatas sana, bercakap-cakap dengan angin, barangkali juga dengan awan, atau bahkan dengan burung yang kebetulan lewat. Setelah berminggu-minggu kukurung di kotak mainanku di rumah.

Terbanglah layang-layangku, walaupun kamu kuno, kamu kampungan, kamu nggak gaul jika dibandingkan dengan mainan-mainan bertombol nan canggih yang dimainkan teman-temanku di rumah mereka yang ber-AC. Terbanglah, selagi masih ada tanah-tanah lapang yang luas dan berumput hijau seperti ini di tengah-tengah gedung pencakar langit, ruko-ruko yang menjamur dan perumahan-perumahan mewah yang tersebar untuk orang-orang kaya. Terbanglah, supaya aku tahu bahwa bumi ini sesungguhnya masih bisa diselamatkan dari kapitalis-kapitalis rakus dan birokrasi-birokrasi tak penting yang saat ini merajalela.

Terbanglah, layang-layangku. Tinggi. Tinggi di langit.

Sunday, 1 April 2012
11:34 am

PS: Gambar diambil dari sini

Monday, May 31, 2010

no second chance

Once in a lifetime means there's no second chance, so I believe that you and me should grab it while we can -Troy, Everyday, High School Musical 2-

Dalam hidup enggak selalu saya dapetin apa yang saya pengen. Enggak selalu juga saya bisa lakukan apa yang saya pengen. Dulu saya mengira selalu ada kesempatan
kedua. Kenyataannya sekarang saya harus mengakui kalau ada kesempatan-kesempatan yang datang cuma sekali. Dan terkadang kalau saya renungin kesempatan yang lewat begitu saja itu karena saya cuma melihat aja kesempatan itu lewat di depan hidung saya.

Pernah suatu waktu saya dan keluarga pergi makan malam ke sebuah restoran. Restorannya ada di lantai dua. Waktu kami naik tangga, di tengah-tengah tangga ada anak kecil memakai seragam sekolah putih merah yang sudah kumal berjualan koran. Dia menawarkan dagangannya pada kami, tapi seperti biasa kami hanya menggelengkan kepala *ini kayak program otomatis udah ter-inject di otak kalo ada orang nawarin koran/ngamen di jalanan*. Entah kenapa saya keinget terus dengan anak itu. Bukan, bukan karena dia ganteng, tapi entah kesambet apa rasa kemanusiaan saya muncul. Saya lirik lagi anak itu, dia sedang menerima uang dari pengunjung lain yang membeli koran. Kemudian saya berpikir pengen beli korannya tapi nggak mau minta kembaliannya. Terus saya pikir itu sudah biasa, jadi saya kepengen beliin dia makanan di resto itu. Saya melirik lagi anak laki-laki tadi, dia sudah tertidur dengan beberapa lembaran uang di tangannya. Oke, saya memutuskan dalam hati, saya mau belikan dia makanan aja dari resto itu. Setelah melihat-lihat menu dan hendak memesan, saya lirik lagi anak laki-laki tadi. Dia sudah enggak ada disitu. Saya mencoba keluar dan mencari-cari tapi anak itu seperti raib, entah pergi kemana. Cinta memang enggak perlu dipikir, tapi dilakukan.

Cerita ini hampir mirip dengan kisah kasih di sekolah saya *ehm*. Maksudnya semasa saya di bangku sma dulu. Tapi ini dulu lho ya. Dulu. Jadi waktu itu saya dipasang-pasangin sama satu anak laki-laki (iya lah laki-laki, masa perempuan?), katakanlah namanya mr. X. Enggak disangka enggak dinyana mr X menganggap serius permainan teman-teman saya. Saya sendiri enggak tahu kalau dia serius sampai dia ngomong sungguhan via telepon *duileh, kenapa via telepon yah waktu itu?* Saya sempet aja sih ngomong iya coz menurut saya walaupun dia nggak ganteng, dia keren. Keren ini menurut saya: tinggi, pinter dan sedikit 'nakal'. Maksudnya 'nakal' bukan nakal jorok ya, tapi pernah dia dikeluarin dari pelajaran biologi gara-gara pe-ernya belom selesai dan dia malah bilang gini sama gurunya: ''Serius, Bu? Saya boleh keluar kelas? Horeeee..!!'' Dan dia menghambur keluar begitu saja keluar kelas. Di mata saya waktu itu dia keren betul waktu menghambur keluar kelas. Sementara si guru cuma geleng-geleng kepala. Errr... kok jadi ngelantur yak? Oke, jadi setelah saya ngomong iya, saya nggak bisa tidur berminggu-minggu *nah lho, lebay*, maksud saya hati saya nggak tenang, saya blom mau pacaran soalnya, mau mikirin karir dulu gitu. Eh, tapi saya masih sma ya? Kalo gitu, mikirin sekolah. Jadi akhirnya setelah beberapa hari menghindar, saya ngomong enggak sama dia. Enggak jadi maksudnya. Dan minggu-minggu setelah itu adalah minggu-minggu saya dihindari dia. Yang saya enggak sadari sih saya sebenernya suka juga sama dia. Sampai sekarang saya belum pernah ketemu lagi sama dia. And I think God forbids us to see each other. Oh, well. Tapi mungkin ini kejadian no second chance yang enggak pernah saya sesali coz my hubby is one of the best things that ever happened to me ^^.

Kepergian saya ke Bandung minggu ini, selain menunaikan tugas dari kantor, saya juga kepengen banget ketemu teman lama saya. Katakanlah namanya Ms. Y. Sehari sebelum berangkat saya udah kirim message ke dia via fb. Saya minta nomornya supaya ntar kalau saya disana saya bisa kontak dia dan bisa ajak dia ketemuan gitu loh. Tapi ternyata minta nomornya tuh sesulit melakukan serving pada pertandingan voli (sumprit, saya paling nggak bisa serving bola voli, tiap kali giliran saya, bola volinya enggak pernah melewati net, boro-boro melewati net, ngelewati pemain garis belakang aja udah untung). Saya udah coba berbagai cara, dari merayu sampe pura-pura bete saya tetep enggak dapet nomornya. Anehnya, dia enggak melakukan ini ke saya aja, dia melakukan itu ke hampir semua temen sma-nya. Sampai hari terakhir saya mau kembali ke Surabaya, dia telepon saya. Dia takut saya marah. Saya enggak marah sih, saya cuma enggak ngerti aja kenapa dia kayak gitu. Seinget saya, saya enggak pernah tuh buat salah sama dia. Tapi waktu ditelepon sama Ms. Y ini saya udah menyerah. Saya pikir buat apa sih ketemu sama orang yang nggak pengen ditemui? Dia tanya kapok nggak sama dia, saya jawab aja, saya enggak kapok ke Bandung, dan dia kerasa sendiri. Dia bilang susah ya ketemu dia. Batin saya, jauh lebih susah ketemu dia daripada ketemu yosi project pop! Saya bilang ke dia, udahlah kalau memang nggak bisa jangan dipaksain sambil dalam hati saya nyanyi lagunya High School Musical 2 yang Everyday: ''Once in a lifetime means there's no second chance, so I believe that you and me should grab it while we can.'' Karena siapa sih yang bisa pastiin saya akan ke Bandung lagi, bisa ketemu dia lagi? Siapa coba?

Bandung memang aneh. Dalam waktu empat hari saya menghasilkan tiga tulisan. Saya jadi m
engerti kenapa Vicky rutin ngeblog, mungkin saya harus pindah ke Bandung supaya bisa lebih produktif ;) Ini sama anehnya dengan cerita yang siang ini saya dengar. Sepasang sahabat, katakanlah namanya Mr. S dan Ms. M di suatu siang yang menyengat berbincang-bincang di udara. Ms. M sudah menikah sementara Mr. S belum. Entah bagaimana, pembicaraan berbelok ke masa lalu. Saat Mr. S dan Ms. M masih satu kantor dan mereka boleh dibilang cukup dekat satu dengan yang lain. Mr. S tiba-tiba mengaku kalau dulu suka dengan Ms. M dan merasa brokenhearted ketika tahu Ms. M akan menikah. Ms. M enggak tahu kalau ternyata dulu Mr. S menyimpan getar-getar cinta (jadi inget lagu pertamanya Rossa nggak?). Mr. S bilang dia merasa lebih cocok jadi kakaknya aja *euh, classy banget ya?*, padahal Ms. M barangkali akan pertimbangkan Mr. S, kalau dia ngomong. Waktu dengar cerita ini, otak saya langsung bilang: ceritanya kayak cerpen di majalah Anita Cemerlang jaman dulu coy. Tapi ini yang dinamakan no second chance (btw, ini cerita beneran lho, bukan fiksi). Ms. M enggak mungkin meninggalkan keluarganya begitu tahu tentang perasaan Mr. S dan Mr. S juga nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Seandainya saja waktu itu Mr. S ngomong atau Ms. M enggak hanya menunggu, barangkali lain ceritanya.
Tuan Waktu memang enggak mau tahu, dia akan terus maju apapun yang terjadi disekitarnya. Memang manusia hanya bisa mengikuti jalannya Tuan Waktu. Entah itu dengan santai, terengah-engah, terbirit-birit atau enggak sabar, Tuan Waktu tetaplah Tuan Waktu, dia nggak selalu menawarkan kesempatan kedua. Karena itu sebisa mungkin saya harus memilih, karena tidak semua kesempatan harus saya ambil dan sebaliknya ada kesempatan yang harus saya perjuangkan biarpun berat.

Friday, 28 may 2010
4:46 pm
Cipaganti 84 to Bandara Soekarno Hatta
Dedicated to my friends: Mr. X, Ms. Y dan Mr. S

PS: Dan kayaknya saya juga kehilangan kesempatan beli beanie ini, cuma saya coba aja tapi nggak jadi beli ;(

PPS: Gambarnya diambil dari sini, sini, sini,sini

Thursday, May 06, 2010

award lagi

Sebelumnya minta maaf sebesar-besarnya buat mamanya Reyhan dan Ghaus karena keterlambatanya mamanya Vinn untuk posting award di blog. Iya, saya lagi sok sibuk. Belum bisa atur waktu seperti blogger-blogger lain yang setia dan teratur postingannya.

Anyway, ini awardnya.

Thank you bangetttt... buat awardnya. ;)
Dan ini cara-caranya :
  1. Copy dan paste aturan main ini.
  2. Copy data “The Bloger Family” di bawah ini.
  3. Paste di bagian bawah post award, nanti.
  4. Hibahkan award ini (ONLY) ke 5 blogger yang begitu dekat dengan anda.
  5. Bloger yang akan dihadiahi award namanya HARUS belum tercantum dalam data “The Bloger Family”.
  6. Cantumkan nama masing-masing dari 5 Blogger tersebut (Plus insert LINKnya!).
  7. Pencantuman nama diletakan di deret selanjutnya dari data “The Bloger Family” yang sudah ada. (Jangan lupa insert linknya)
  8. Deret data “The Bloger Family” yang anda copy, seberapapun panjangnya dan banyaknya, diganti ataupun didelete. KECUALI urutan , BOLEH diganti sekehendak anda, anda boleh meletakan nama anda di urutan no.1,2,3, atau terakhir sekalipun.
  9. WAJIB MENJALANKAN ATURAN MAIN.
Ini para pemain pendahulu ;)
Aviorclef , Mba Elly S, Mba Fanny, Mas Roel, Mba Iyaz, Mas Munir Ardi, Seti@wan Dirgant@Ra, Fanda, Reygha'mum, Jessie's Absurd World

Dengan ini secara resmi saya hibahkan awardnya kepada... eng ing eng... Lisa Boed, Grace Receiver, Ria & Kristina, Shanty dan Desi Yoanita. Makasi makasi...

Wednesday, 6 Mei 2010
12.30 pm

Thursday, April 01, 2010

tagged

Hari ini meninggalkan banyak barang di rumah.. alhasil harus menunggu hubby yang kebetulan libur untuk dianterin di kantor. Sambil nunggu baiklah saya kerjakan pe-er dari ibu dosen Ria

Siapakah dirimu di rumah?
Diambil dari lagunya Meredith Brooks yang sempet ngetop waktu saya masih SMA dan masih terngiang-ngiang hingga saat ini karena waktu itu beneran nggak tahu arti kata 'Bitch', sampe Mr. X bilang itu artinya 'Pantai'. ;) Saya kan anak bae-bae jadi ya percaya aja.
I'm a bitch, I'm a lover, I'm a a child,
I'm a mother, I'm a sinner, I'm a saint
I do not feel ashamed

I'm your hell, I'm your dream, I'm nothing in between

Apa yang dikatakan teman-temanmu tentang dirimu?
Saya ini sebenarnya yah pendiam dan pemalu. Saya anak baek-baek.. sungguh! Tapi entah gimana, banyak teman saya enggak percaya dengan apa yang saya bilang. Soalnya
saya bilang itu waktu april mop sih jadi pada enggak percaya. Padahal sumprit waktu itu saya enggak inget kalo lagi april mop. Dan betewe, mereka bilang saya aneh bin ajaib. Mereka bertanya-tanya mami saya ngidam apa waktu hamil saya. Saya bilang mami saya ngidam bengkoang, ada yang aneh dengan ngidam bengkoang?? Bukankah bengkoang bisa membuat kulit menjadi putih seperti salju dan halus seperti sutra?? Jadi yang aneh siapa? Mereka juga bilang saya nyentrik (ini bedanya apa dengan aneh?) soalnya saya suka bilang ke teman-teman yang baru saya kenal nama yang saya ciptain sendiri. Misalnya, saya baru kenalan dengan seseorang bernama Samuel tapi menurut saya nih ya, beneran deh, dia lebih cocok pakai nama Anthony daripada Samuel, meskipun dia enggak ada mirip-miripnya dengan Anthony-nya Candy-Candy. Ya sudahlah saya terima saja dibilang aneh dan nyentrik, tapi saya percaya mereka semua sayang saya! *duileh, ini juga namanya narsis!*

Lima hal yang kau inginkan, tapi belum terpenuhi?
Cuma lima?? Saya mau lebihhhhh...
Baiklah.. lima ya..
Uhm...
Banyak sih...
Apa yaah...
Saya pengen.. Indonesia jadi lebih baik! *jyah.. kayak tagline-nya capres aja...*

Oke gini aja. Yang paling gampang.
1. Pengen maen Bungee Jumping, terus tereak sekenceng-kencengnya waktu lompa
t, biar abis itu bisa maem bakso sebanyak-banyaknya
2. Pengen naek Helikopter (katanya kok beda dengan naek pesawat ya?)
3. Pengen ker
ja di majalah
4. Pengen punya perpustakaan pribadi dimana waktu seakan berhenti, kopi terisi ulang secara otomatis, camilan selalu tersedia dan buku-bukunya selalu up-to-date (ngecessss)
5. Pengen ketemu Yosi Project Pop lagi dan kali itu I will make sure untuk foto berdua dengannya (istrinya? syuh syuh hehehe)

Seseorang yang sangat penting
Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada my hubby, my son and my family, my friends.. without you, I'm nothing! (beuh, kayak ucapan terima kasih abis terima Oscar aja..). Tapi beneran saya enggak bisa bilang hubby yang paling penting atau anak saya yang paling penting, karena menurut saya orang-orang yang saya sayangi itu semua sangat penting. Dan nulis nama mereka satu per satu disini bakal jadi energi tersendiri tuh.

Pengalaman pahit bersama mantan pacar?
Dulu lho ya ini..., enggak bilang: "Was it something i didn't say?"

Sebutkan blogger favoritmu (berdasarkan karakter blog mereka), dan sebutkan alasannya.
Ini yang paling sulit, karena menurut saya setiap blog punya keunikan masing-masing. Jika ada blog yang tidak saya sebut bukan berarti blog tersebut bukan favorit saya ya..

Saya suka blog Grace Receiver karena penulisnya memuat dua kesukaan saya: movie and book.
Saya suka blog-nya temen saya Ary & Lalat Hijau karena buat saya kerumitan kalimat-kalimat yang ia pilih untuk dijadikan tulisan dalam blog menjadi sesuatu yang unik. Selain itu karena ia membahas banyak hal yang tidak terlalu populer di kalangan umum. Ibaratnya tulisan-tulisan dia itu musik jazz bukan pop.
Tapi kalau blog-blog yang saya suka kunjungi tentu saja ada Ria & Kristina, Santi, Rikes, Vicky, Fanda, Reygha's Mum dan Lisa Boed. Semuanya menyajikan hal-hal yang selalu menarik untuk dibaca.

Kapankah anda ingin menikah?
Sebenernya sih saya pengennya nikah umur 27, apa daya ternyata 24 udah menikah..

Lagu cinta favoritmu?
ADE by: Project Pop
Terutama di bagian reffrain: Bahwa kaulah seoranggggg... malaikat di hatikuuuuuu...



Apa prinsip hidupmu?

Jadi sama itu biasa, jadi beda itu baru luar biasa.
Makanya saya suka kalimat ini:
You laugh because I'm different, I laugh because you're all the same!

Udah lho ya.. Udah takkerjain pe-ernya... Nilainya berapa, bu dosen?? (semoga lulus!)

White Thursday, 1 April 2010
1:02 pm

Sunday, March 14, 2010

BW again

1. Where is your cell phone?
Eh.. dimana ya.. aku suka sembarangan taroh hape sih.. kayaknya di sofa luar deh..

2. Relationship
Semoga baek-baek saja! Marriage life can be very complicated and difficult sometimes ;(

3. Your Hair
aslinya sih ikal, cuman kalo ikal perawatannya harus lebih ribet jadi aku lurusin aja supaya kalo lagi nggak sisiran nggak keliatan hehehe

4. Work
at best in designing workshops or creative events for young people *halah gayaaa*, lame mother and silly wife

5. Your sisters
i dont have one, just one stubborn brother

6. Your favorite thing
banyak banget! bisa dilihat di sini

7. Your dream last night
ehhh.. kayaknya petualangan ala 24 gitu..

8. Your favorite drink
coffee with cream and sugar ^^

9. Your dream car
kasi aja saya Jazz Tuhan.. supaya sesuai dengan nama saya... plisssss

10. Your shoes
Adanya high heels, cuman suka saya lepas kalo di kantor lagi ga ada orang, ganti pake sandal jepit. Sandal jepit is the best!

11. Your fears?
Being ordinary ;(

12. What do you want to be in 10 years?
Cari scholarship untuk S2, pengen move out from Indonesia (bukan karena saya nggak cinta Indonesia lho ya), tapi seandainya enggak move out from Indonesia pun saya pengen tinggal di Bali/Jogja ;)

13. Who did you hang out with last week?
Family, ngerayain ultahnya Vinn ^^

14. What are you not good at?
Menahan diri untuk nggak nyolot ;)

15. One of your wishlist item?
Saat ini sederhana saja, saya pengen punya sepatu Adidas warna putih yang kapan hari saya lihat di Matahari tuh... ;(

16. Where you grew up?
Batik City!

17. Last thing you did?
Ngopi Kopi ABC Brownies. Enak lho!

18. What are you wearing?
Kaos item celana pendek merah *semoga bukan paduan yang aneh karena saya nggak terlalu paham soal fashion*

19. Your computer?
Ga tahu spek-nya apa ini komputer coz hubby yg beli. Yang penting bisa buat maen Diner Dash, The Sims dan blogging.

20. Your pet?
Ga punya dan ga berminat

21. Your life
Complicated. (My) life is never flat! (inget iklan apa hayoo)

22. Missing
Ada satu temenku.. en my granny complete with our moments together, naek becak ke salon, ngerumpi di kamar, omel-omelan karena rebutan tipi (emak mau nonton berita, saya mau nonton Mtipi)

23. What are you thinking right now?
Kombinasi sarapan kerang dan kopi bagus ga?

24. Your car?
Karimun biru. Saya kasi nama: Munmun.

25. Your kitchen?
Dapur kecil, bumbu masak ga lengkap, maklum bukan buat masak, tapi buat ngangetin makanan doang dan masak aer.

26. Your favorite colour?
Blue!

27. Last time you laugh?
Tadi malam kayaknya..

28. Last time you cried?
Tadi malam juga, kelilipan

29. Love
my life, my fam, my friends and especially The Creator of Everything in universe!

30. So, who wants to share their one's? how about?
maksude? *sambil melompong*

31. Person elected to the tag (tag ini diteruskan kepada)
Ehhh.. sapa yahh.. Sapa aja yang mau ngerjain aja dahhh.. hehehehe

Minggu, 14 March 2010
8:54 am

Monday, February 22, 2010

the 'hot' award

Pertama-tama... makasiiiiiii banget buat Fanda yang udah kasih award ini ke saya, beneran deh berasa kayak Paris Hilton gitu, meskipun saya masih merasa dia nggak hot-hot amat lah, masih hot-an indomie yang baru keluar dari panci setelah direbus.

Nih awardnya:
Gimana nggak bangga? Awardnya cool gitu.. Hehehehe.. Sekali lagi, makasi ya, Fanda... Fanda juga 'hot' kok! ;)

Monday, 22 February 2010
11:18 am

PS: Eh apa award ini juga harus di-share langsung ya? Kalo iya, maka saya juga kasi award ini ke... Icha, Shanti, Lisa Boed dan Reygha's Mum. Saya kasi juga ke Fanda karena meskipun dia udah dapet orang lain, saya menganggap dia 'hot' juga.. hehehehe. Oiya! Ria & Kristina juga dapet!

Thursday, February 18, 2010

si emak

"It is as grandmothers that our mothers come into the fullness of their grace." - Christopher Morley

Berbahagialah mereka yang punya kakek. Saya enggak punya kakek, hanya punya satu nenek dari pihak mama saya. Dan ternyata punya satu nenek juga sesuatu yang membahagiakan. Dulu saya kepengen sekali punya kakek. Biasanya cucu perempuan bisa cukup dekat dengan kakek kan? Tapi dulu saya juga cukup dekat dengan nenek saya. Dan menurut saya, nenek saya sedikit unik. Saya menemukan bahwa nenek saya unik sejak saya menemukan sebuah kaset Westlife album yang pertama di salah satu rak dekat televisi di rumah saya di kampung halaman. Waktu itu saya sudah kuliah di Surabaya dan sedang pulang liburan. Biasanya kaset-kaset seperti itu justru saya yang beli. Tapi karena saya bukan penggemar Westlife, saya nggak pernah beli album mereka. Lebih unik lagi waktu saya nemuin VCD klip-klipnya Westlife (Swear It Again, Flying Without Wings, I Have A Dream, ingat ga?) di rak yang sama. Kemudian saya tanya adik saya, apa dia yang beli. Kalau betul dia yang beli maka itu juga sesuatu yang baru. Adik saya juga bukan penggemar Westlife. Kemudian saya tanya papi saya, kali beliau membelikan anaknya yang paling cantik ini. Tapi papi saya juga bilang enggak beli. Yang beli kaset berikut VCD itu ternyata NENEK saya. Bujubune... saya langsung ngacir menemui nenek saya (saya manggilnya emak) dan bertanya akan kebenaran yang aneh tersebut. Kira-kira begini bunyi percakapan kami:

Saya: Lho, emak yang beli kaset ama VCD Westlife ini tho?
Emak: Iya. Memangnya kenapa? Nggak boleh?

Saya: (terpana sambil melongo) Memangnya Emak tahu Westlife?

Emak: Ya tahu tho. Lagu-lagune apik-apik (bagus-bagus, Red). Emak paling seneng sama yang paling banyak nyanyi tu lho, sapa n
amane? Saya: Ehm.. Shane?
Emak: Iya itu! Pokoke kalo nyanyi mulute bentuke kotak.

Saya: *Gubrak*

Itu keunikan pertam
a yang baru saya sadari. Tapi berikut-berikutnya saya baru sadar kalo memang emak saya ini unik bin stylish. Beliau rajin ke salon untuk ngebenerin rambut. Udah gitu, jumlah sepatu beliau lebih banyak dari sepatu saya. Terus beliau rajin menyemir rambut. Nyemir sendiri lho, enggak pake semir sepatu tentu saja, tapi pake semir rambut. Pernah nih beliau dibelikan oleh salah satu menantunya semir hitam, tapi rupanya tante saya ini salah baca. Tante saya beliin semir rambut buat emak saya yang hitam kebiruan. Emak saya tahu sih, tapi beliau bilang enggak papa sama-sama hitamnya, padahal kalau dibawah sinar matahari rambutnya jadi semburat ungu. Bah, cucunya aja kalah stylish!

Suatu hari setelah kebaktian di gereja jam 6 pagi (selesai sekitar jam set
engah 8), beliau minta cepat-cepat diantar pulang. Saya bingung, tumben banget nih si emak minta cepat-cepat pulang. Ya saya tanya kenapa kok buru-buru. Jawaban si emak: "Sebentar lagi ada tinju. Mike Tyson yang main. Emak mau lihat!" Cape dee... Terus pernah juga suatu sore saya lagi nonton MTV, pas lagunya "All around the World"nya Oasis lagi diputar. Emak saya lagi-lagi bilang, "Bagus nih lagu. Enak." Saya yang nggak terlalu suka lagu-lagunya Oasis cuma bisa mengedip-ngedipkan mata tanda tak percaya.

Hanya saja, saat ini saya sudah enggak lagi bisa menikmati momen-momen unik dan hangat itu lagi. Mengapa? Sudah beberapa tahun terakhir ini kondisi emak saya menurun. Jika saya bilang menurun, maka itu artinya emak saya udah nggak bisa apa-apa lagi. Untuk bertahan hidup seperti makan, minum, mandi, buang air kecil, buang air besar dan minum obat harus selalu dibantu. Pikunnya semakin menjadi. Jika ditemui beliau jarang bisa mengenali. Atau jika mengenali pun, mulut beliau enggak bisa menyebut namanya. Dan minggu lalu, kondisi beliau semakin menurun. Tidak mau makan, tidak mau minum, hanya tidur saja. Tubuhnya semakin dingin sebelum beliau dilarikan ke rumah sakit. Kabar terakhir yang saya dengar malah katanya kami harus bersiap-siap menunggu 'sesuatu'. Percayalah, 'sesuatu' itu bukan sesuatu yang menyenangkan.

Semoga yang terbaik saja yang terjadi.. ;(

Thursday, 18 February 2010
4:08 pm

PS: Tulisan ini dibuat untuk emak saya yang sedang berbaring tak sadar di rumah sakit ratusan kilometer dari tempat saya sekarang. Setiap momen denganmu selalu unik, Mak, termasuk momen kita bertengkar begitu pulang dari salon karena tukang salonnya salah potong rambut cucumu ini. Maaf ya, Mak...

Thursday, February 11, 2010

my favorite things

Dulu saya tergila-gila dengan film Sound of Music. Entah sudah berapa kali saya putar sejak saya pertama kali nonton. Kadang-kadang saya membayangkan seandainya saya jadi si Maria-nya (tapi ogah ah, masa baru kawin aja anaknya udah 7!). Tapi lebih sering saya ngebayangin jadi si Liesl sih karena terpesona menonton adegan dia menari-nari di gazebo bareng Rolfe tukang pos sambil nyanyi "I am sixteen going on seventeen, I know that I'm naive.." Ya maklum waktu itu saya nonton memang lagi remaja gitu.. jadi kan enggak salah kalau saya ngebayangin jadi Liesl? Adegan lain yang saya sukai adalah adegan di kamarnya Maria pada waktu hujan petir bersama anak-anak Von Trapp - waktu mereka nyanyi The Favorite Things. Pada saat itu sih saya bingung kok favoritnya aneh-aneh semua, kayak tetesan air hujan pada bunga mawar, kumis anak kucing (Raindrops on roses and whiskers on kittens) atau kotak cokelat yang diikat oleh tali (Brown paper packages tied up with strings) atau butiran salju yang jatuh diatas hidungku dan bulu mataku (Snowflakes that stay on my nose and eyelashes).

Kemudian saya mencoba mengingat-ingat apa-apa saja sih yang menjadi favorit things saya. Dan ternyata jadi seperti ini daftarnya:

1. Bau kopi dalam ruangan tertutup.
Entah kenapa saya suka sekali dengan bau kopi. Rasanya seperti bisa mengirimkan energi tersendiri gitu lho *iya saya tahu ini alasan aja soalnya saya memang doyan ngopi*. Makanya dulu waktu saya married temanya ya berbau kopi dan berwarna cokelat krim. Sebenarnya saya juga pengen ruangan resepsinya bau seperti di Starbucks itu, tapi susah bikinnya. Harus belanja biji kopi banyak-banyak kayaknya..

2. Bau rumput yang habis dipotong dan kena air hujan.
Saya baru sadar hal ini pada waktu beberapa hari yang lalu datang ke kantor yang halaman rumputnya baru dipotong dan kena air hujan. Harummmm sekali baunya. Jauh lebih harum daripada bau kentut orang yang habis makan jengkol.

3. Bunyi air hujan.
Apalagi kalau saya sudah di rumah. Bukan, bukan yang tik tik tik bunyi hujan di atas genting... Ehm, tapi sebenarnya saya suka hujan. Saya selalu kepengen lari keluar rumah atau keluar kantor kalau lagi hujan, tapi memang kehidupan orang dewasa itu tidak pernah terlalu menarik. Lebih sering enggak jadinya karena bakal dianggap orang edan. Tetangga-tetangga pasti pada keluar dan sibuk nengking saya, begitu juga teman-teman kantor bakal pingsan kebingungan karena saya lari ke lapangan hijau di depan ruangan saya pada waktu hujan. Tapi saya suka hujan. Makanya saya enggak pernah bawa jas hujan meskipun naik motor. Badan yang basah karena kehujanan rasanya cukup nikmat untuk dirasakan. *Pantes batuk saya enggak sembuh-sembuh*

4. Tawa teman-teman saya.
Enggak ada yang lebih bikin saya seneng mendengar teman-teman saya mendengarkan saya bicara dan kemudian mereka tertawa. Iya, saya ngaku, sebenernya dulu saya enggak kepengen jadi bintang film atau penyanyi, tapi lebih pengen jadi badut atau pelawak dan masuk dalam grup srimulat. Sekarang aja kalau pas nonton Extravaganza saya merasa kepengen gabung sama mereka (alasan aja, yang sebenernya saya kepengen ketemu Omesh).

5. Roti cokelat buatan sendiri.
Kalau pagi saya suka bikin roti cokelat. Roti ini saya pakai untuk melengkapi menu sarapan saya yang lain yaitu: kopi. Caranya mudah sekali. Tunggu tukang roti yang biasa lewat di depan rumah, karena biasanya mereka bawa roti-roti baru. Tapi kalau tukang roti enggak lewat-lewat sementara perut udah nagih atau jam dinding pun tertawa, eh salah, maksud saya jam dinding menunjukkan kalau sudah waktunya berangkat kerja maka terpaksa saya meluncur sejenak ke minimarket terdekat untuk beli roti dengan menanggung resiko roti itu tidak terlalu baru alias roti kemaren. Kalau roti sudah di tangan, saya biasanya ambil dua lembar, saya olesi mentega (menurut saya, palmboom lebih oke daripada blueband) dan saya taburi meses ceres cokelat original (ingat, yg original, bukan yang susu, rasanya lain!). Setelah itu... makan time! Enggak ada yang lebih nikmat selain roti buatan sendiri, menteganya pas, mesesnya pas, enggak pake panggang-panggangan!

6. Boneka ika
n pari hitam saya.
Boneka ini dibelikan oleh ex-boyfriend saya yang sekarang menyandang status sebagai hubby saya. Saya
masukkan boneka ini dalam daftar ini karena boneka ini mengingatkan saya bahwa saya punya kekasih yang ajaib. Dimana kekasih-kekasih yang lain lebih repot membelikan pacar-pacar mereka boneka Teddy Bear yang manis atau boneka anjing-anjingan yang lucu atau Winnie the Pooh yang kuning nan montok, dia malah membelikan saya boneka pari hitam. Enggak ada manis-manisnya sama sekali. Tapi boneka itu juga lah yang meyakinkan saya bahwa memang saya lebih suka dapat hadiah yang ajaib daripada hadiah yang biasa-biasa aja. Ini mengingatkan saya untuk bilang terima kasih juga buat cicik ipar saya (hai, cicik!!) atas kado ultahnya yang bikin saya membelalakkan mata karena tidak ada sekalipun dalam pikiran saya bakal membeli gaun seperti itu. (jangan pada penasaran!)

7. Lelucon papi saya.
Papi saya adalah salah satu orang paling konyol yang saya kenal. Di samping kebiasaan-kebiasaan buruknya yang saya benci (seperti: menumbuhkan kumis tebal, membatalkan janji mendadak dan meneror saya dengan pertanyaan kalau saya dapat telepon dari teman laki-laki). Salah satu lelucon yang papi saya buatkan untuk saya yang paling saya ingat adalah begini. Waktu itu saya pergi berdua ke pantai pagi-pagi sekali. Rasanya saya masih SD, entah kelas dua atau kelas tiga. Baru saja sampai di pantai, saya bilang ke papi saya: "Pi, yesi kebelet eek." Papi saya enggak lantas heboh, dia malah mencari-cari sesuatu diatas pasir, kemudian tangannya mengambil sesuatu itu terus ditaruh ke telapak tangan saya. Sebuah batu kecil. Saya jadi bingung. Otak anak kecil saya berpikir, papi aneh nih, orang kebelet eek malah dikasi batu. Papi saya bilang: "Kamu pegang batu itu sampai kita pulang ke rumah." Alhasil, sampai di rumah papi saya tanya: "Sudah sana eek." Malah saya yang sudah lupa kalau kebelet. Waktu sudah besar, saya jadi tahu kalau papi saya kasi saya batu bukan buat cebok atau bikin wc di tempat, tapi untuk membuat saya berpikir dan lupa kalau saya kebelet eek. Hmm.. saya jadi kangen papi saya nih (fyi, papi saya sudah meninggal tiga tahun yang lalu).

8. my little dude's smile.
Banyak yang bilang anak saya
kalau senyum mirip banget sama saya. Ah, bilang aja senyum saya manis, kok repot amat bilang anak saya kalau senyum mirip sama saya segala. Tapi memang enggak ada yang ngalahin senyum anak saya di mata saya. Kalau dia lagi nyebelin, lagi bikin ulah, lagi menuntut perhatian sepenuhnya dari saya padahal saya bener-bener kebelet pipis, kemudian dia tersenyum, hati saya leleh (lu kata es batu?). Saya khawatir nanti kalau sudah besar dia bisa menyogok saya kalau tahu tentang hal ini. Misalnya: "Mom, minta mobil dong." Terus saya jawab: "Enggak bisa! Kamu umur tujuh belas tahun aja masih lima tahun lagi masa sekarang udah minta mobil?" Terus dia senyum, kemudian saya ngomong: "Baiklah, nak, kamu mau minta yang apa? Nokia atau Blackberry?" *loh?*

Setelah saya baca-baca ulang, kok ya ternyata yang jadi favorit saya aneh-aneh juga ya, berarti saya normal dong? Enggak aneh? Tapi saya setuju dengan lagunya Julie Andrews yang My Favorite Things itu:
When the dog bites, when the bee stings, when I'm feeling sad, I simply remember my favorite things, and then I don't feel so bad.

Cheer up, Everybody. God loves you! Plusss... BESOK HARI VALENTINE DAN IMLEK-AN booo... Dengan ini saya mengucapkan: Met merayakan hari valentine yaaa... Ingat Valentine enggak cuma buat pasangan-pasangan kekasih aja, Valentine juga buat keluarga dan teman-teman! Met merayakan Tahun Baru Cina juga (buat yang merayakan), jangan lupa angpao buat saya... ;)

Saturday, 13 February 2010
4:52 pm

Thursday, February 04, 2010

buku-buku dunia khayal saya

Pada suatu malam (bukan 'ku sendiri, tiada yang menemani', itu mah lagu), waktu saya lagi asyik baca The High Lord - Book 3 of The Black Magician Trilogy, hubby ngomong gini.

Hubby: Lho, kok sudah buku ketiga? Rasanya kapan hari baru buku pertama deh.
Saya: (dengan ekspresi cape deee) Hah? Yang buku kedua sudah selesai takbaca yo.

Hubby: Kok bisa sih kamu baca 2 buku setebal itu dalam waktu dua minggu?
Saya: Lah.. ba
gus ceritanya ini. Seru. Yang buku kedua kemarin cepet-cepet kukembalikan supaya bisa pinjam buku ketiga kok.
Hubby: Enak ya bisa seneng baca buku itu. Aku baca komik wae nggak lama terus tidur. (ceritanya curcol nihhh)

Habis ngomongin ini, saya sempet mikir. Saya bener-bener enggak bisa bayangin orang yang nggak suka baca itu gimana. Tapi enggak usah jauh-jauh nyari, ternyata hubby enggak suka baca. Dia berusaha untuk suka, tapi karena dari kecil dia sendiri enggak terbiasa membaca, itu kebawa sampe sekarang. Mungkin lebih tepat membaca itu memang minat atau hobby yah. Ini sama saja dengan seseorang yang jago maen piano dan suka banget sama musik enggak bisa bayangin orang-orang yang nggak bisa maen piano d
an nggak ngerti musik. Jadi intinya, kita mungkin enggak akan pernah bisa maksa orang untuk berminat atau tertarik pada sesuatu.

Dari kecil saya suka buku. Correction: saya suka buku tapi buku fiksi, jadi buku yang
enggak nyata ceritanya. Buku-buku non fiksi yang saya baca ya textbook semasa kuliah sebelum penjurusan. Setelah penjurusan, textbook saya justru novel-novel, puisi-puisi dan drama. Juz info, saya dari sastra inggris dan penjurusan yang saya ambil itu literature, bukan linguistic (saya putus asa sekali dengan bidang ini, IP saya sempat jeblok gara-gara mata kuliah wajib yang linguistic ini - curcol lagi deh..). Dulu saya suka sekali baca buku Lima Sekawan. Tokoh favorit saya tentu saja Georgina Kirrin alias George Kirrin, putri seorang ilmuwan (Quentin Kirrin) yang cerdas dan suka memotong rambutnya pendek-pendek supaya disangka laki-laki.

Selain buku Lima Sekawan, saya juga suka baca buku Little Women-nya Louissa May Alcott. Dan tokoh favorit dalam buku itu tentu saja si Jo. Anak perempuan tomboy yang enggak becus pakai rok, suka permainan-permainan yang membutuhkan energi, bisa berteman dengan siapa saja, agak ceroboh dan bermimpi untuk menjadi seorang penulis.

Buku ketiga yang dulu paling sering juga saya baca adalah buku-bukunya Laura Ingalls Wilder. Entah sudah berapa kali saya baca. Saya suka dengan tulisan perjalanan keluarga Ingalls. Dari tinggal di hutan, sampai tinggal di kota kecil dan bertemu dengan suaminya yang bernama Almanzo (cool name, i love it!). Dari keempat bersaudara perempuan itu, tentu saja saya paling suka dengan Laura yang kadang-kadang enggak nurut sama orang tuanya, selalu kepengen tahu terhadap sesuatu, dan bisa marah juga ngebales kalau diperlakukan tidak adil. "Setengah pint" adalah julukan Pa Ingalls pada Laura (dulu saya juga kepengen dipanggil "setengah pint" sama papi saya, tapi malah dibilang aneh karena kepanjangan). Beda dengan kakaknya si Mary yang lemah lembut, selalu taat pada orang tua, cantik dan bermata biru. Dan membaca bukunya Laura Ingalls ini bikin saya kepengen melakukan perjalanan juga dengan gerobak (gerobak? maksud saya yang kayak di gambar itu lho) dan kuda, kemudian punya rumah di padang rumput sehingga bisa main-main di sungai. Kenyataannya rumah saya di Pekalongan malah di tengah kota, dekat dengan pasar dan kali Loji yang kali-nya cokelat banget (percayalah, cokelatnya sama sekali tidak menggugah selera) sehingga tidak memungkinkan saya untuk bermain-main disitu.

Kesukaan saya dengan buku fiksi pernah ditanyakan oleh parttimer kantor saya si Rikes. Dia tanya kenapa saya lebih suka buku fiksi daripada buku non-fiksi yang lebih menjabarkan sebuah realita dan kenyataan yang ada di dunia ini. Saya sempat membela diri, karena itu berarti dia menuduh saya orang yang enggak hidup di dunia ini dan maunya yang enggak nyata-enggak nyata saja (sorry, kalau duit, tentu saja saya mau yang nyata, nggak ada yang mau terima duit nggak nyata soalnya). Kemudian setelah itu saya berpikir, saya enggak peduli deh, memang saya suka dengan buku fiksi. Hei, just info lagi, bukunya Laura Ingalls itu kisah nyata lho! Dan saya suka sekali. Tapi sebagian besar buku yang saya baca memang buku dunia khayal. Makanya saya tergila-gila dengan Harry Potter, Eragon dan The Black Magician. Buat saya, dunia khayalan lebih indah, lebih aneh, lebih absurd dan lebih tak terbatas dibanding dunia yang saya tinggali sekarang.

Saya senang saya bisa doyan membaca buku karena itu berarti jika saya sudah sumpek dengan dunia nyata, saya bisa lari sejenak ke dunia khayalan. Bagi banyak orang, buku boleh merupakan jendela dunia, tapi buat saya, buku adalah pintu kemana saja - pintu ke tempat-tempat yang ingin saya kunjungi biarpun hanya melalui benak.

Thursday, 4 February 2010
3:29 pm

PS: Tapi anehnya kok sampai sekarang saya belum pernah berhasil baca Alkitab sampai habis ya? Huhuhuhuhu... T_T (maaf saya kecilin ukuran font-nya, saya malu soalnya)

Wednesday, February 03, 2010

ask me?

Tadi mampir ke sebuah blog dan menemukan web ini. Iseng-iseng aja sih. Kayaknya ini web sebenarnya lebih cocok untuk selebritis-selebritis Indonesia, karena gunanya untuk bertanya *apaan sih saya nih, kaga jelas banget*. Misalnya begini nih:

What is your bad habit? >> Apa kelinci jelekmu? Eh salah, apa kebiasaan burukmu? atau When will you have second child? >> Tolong jangan tanyakan ini, eh salah, kapan anak kedua?

Seperti itu deh! Kalau ada lho ya.. kalau nggak ada juga nggak papa. Namanya juga iseng.. hehehehe.

Jadi kalau mau tanya-tanya sesuatu tentang saya, jangan ngomong di belakang, langsung aja tanya saya di sini. Saya jamin, enggak akan saya jotos kok *kecuali kalau pertanyaannya mulai aneh-aneh dan mengganggu kayak: berapa jumlah rambut di kepalamu? itu namanya bikin stres*.

Wednesday, 3 February 2010
4:21 pm



Tuesday, October 27, 2009

masih tentang facebook

Kadang-kadang, diantara status-status tak jelas yang berseliweran di dinding facebook saya, ada satu atau dua status yang berkesan 'ngomel' atau 'nyindir'. Yang paling baru tulisannya kira-kira begini: "Facebook ini apakah untuk ajang pertemanan atau ajang narsisme yah?" Sebelum status ini, saya sudah pernah juga baca yang rada ngomel: "Enggak ngerti kenapa sih pada nulis status-status nggak penting!" atau "Hello, guys, emang gue pikirin lu mau kentut kek, mau beol kek, perlu gitu nulis di status?" Yang tulisannya nyindir juga ada: "Kayaknya ngumpulin status-status di facebook nih bisa jadi cerita menarik!"

Jujur aja, dulu saya sempet rada kecanduan dan lumayan sering update status ga penting. Tapi dulu update status saya masih hitungan jam, bukan hitungan menit (bandingkan dengan twitter-nya para seleb yang bisa beberapa meni
t sekali nge-tweet, saya pikir mereka orang tersibuk sedunia, tapi kenyataannya, saya aja nggak bisa nge-tweet beberapa menit sekali seperti mereka). Lama kelamaan saya nggak mau merasa terlalu attach dengan facebook. Oke, saya ngaku, setiap kali duduk manis di kursi kantor, facebook adalah salah satu web yang saya buka secara rutin selain email pribadi dan email kantor saya, tapi beberapa waktu terakhir saya enggak terlalu sering update status (bener nggak? bener!).

Kemudian saya pikir-pikir (sesuai hobi saya yang suka observing people's behavior), sebenarnya menarik juga loh mengamati status-status yan
g ter-update setiap harinya. Dan setelah mengamat-amati cukup lama, saya mengkategorikan facebook's status updater menjadi seperti di bawah ini:
1. Reporter
Updater kategori ini sering menulis kayak: @Kampung Daun, makanannya enak euy atau lagi nge-gym nih, duh kapan kurusnya yah atau atau hanya baru bangun tidur, tapi masih ngantuk atau hanya sekedar @home. Makanya saya kasi nama reporter karena rata-rata statusnya melaporkan keadaan, tempat pelapor berada dan apa yang baru saja dilakukan
2.
Ecclesiastic (alias rohaniwan/rohaniwati) Updater tipe ini biasanya suka quote dari Alkitab atau nulis doa kayak: Dear God, forgive me and all my sins atau kadang-kadang juga ngutip syair lagu rohani kayak a whole new world..ehhh salah, salah itu bukan lagu rohani kan ya? Uhm, kayak S'bab Kau besar, kekuatanMu ajaib, tiada seperti Engkau... atau kadang bisa juga nulis: Tuhan tak pernah tertidur, jadi jangan pernah menyerah.
3. Gamer
Updater tipe ini biasanya suka minta-minta tolong untuk membantu dia melawan mafia dalam MAFIA WAR (game opo sih iki... sering di-invite, tapi sekali tidak tetap tidak!). Atau suka. Sekarang enggak cuma Mafia War, ada juga Vampire War, terus Castle Age (kalau ga salah) terus Pet Society terus Farmville terus Sorority Life terus Aquarium terus.. weleh banyak pokoke.

4. Quizzer
Seperti nama kategorinya, bisa ditebak bahwa updater tipe ini suka sekali ngikutin quiz yang tersedia di facebook (kadang-kadang saya juga sih hihihi, tapi biasanya quiz yang cukup menarik, kalau hanya 'Hantu apa yang ada di kamar anda?', mending saya nggak ikut deh, daripada kepikiran).
5. Hidden-message messenger

Kalau updater tipe ini biasanya nulis status untuk ditujukan ke salah satu orang aja, walaupun mungkin empat ratus friends lainnya membaca status, enggak masalah buat dia. Yang penting orang yang dimaksud juga dapet pesan tersembunyi dari dia. Updater tipe ini juga bisa saja mengungkapkan cinta pada seseorang tapi belum punya keberanian untuk mengungkapkan langsung. Contoh status: Kangen kamu
...
6. Promoter
Updater ini biasanya punya toko online jadi sering mempublikasikan 'barang-barang dagangannya'. Katanya sih, via facebook ini cukup efektif untuk meningkatkan penjualan. Statusnya tentu saja berkisar: Ada barang baru lho.. sila
hkan dilihat-lihat dulu.. (iyah, cie.. jangan kesindir loh!!! wkaakakaka)
7. Curhat Mania (maap saya ga nemu bahasa inggrisnya 'curhat', haruskah: heart devoter? i dont think so)
Biasanya statusnya berisi curhat-curhat pribadi, dan kadang-kadang nggak nyadar kalau dengan nulis status itu x friends dalam list dia akan menerima status tersebut. Jadi misal dia nulis status: aku patah hatiiii... dan jumlah temannya ada 1000, maka 1000 orang itu tahu bahwa dia sedang patah hati.

8. Questioner
Bisa dilihat dari kategorinya, updater tipe ini biasanya statusnya berkisar pertanyaan. Misalnya: ada yang tahu gempa terakhir itu berapa skala
richter? Tapi kadang-kadang juga bisa: enaknya makan siang ini makan apa ya? ada ide? atau kenapa sih semuanya terjadi padaku?? Yang terakhir ini pertanyaan retoris yang ga perlu jawaban maupun comment sebenernya, tapi karena penulis menulis di facebook maka dia juga nggak bisa ngelarang orang kasi comment di statusnya dia.
9. Quoter
Kayaknya saya cukup sering nih di tipe ini karena i love insightful quotes very much! Jadi kalau dapet quote bagus dari film or dari buku or dari email biasanya saya tulis di status. Contohnya: to be a princess you have to believe that you a
re.
10. Announcer
Maksudnya tukang kasi pengumuman. Misal mo ada acara apa gitu terus update status: Buat panitia XX, nanti jangan lupa rapat jam 7 malam yah. On time lohhh...

Sisanya? Yah... mungkin ada yang mau nambahin?

Intinya sih.. enggak masalah deh mau tulis status apa. Tapi memang harus berhati-hati dalam update status. Karena enggak jarang juga orang bisa tersinggung dengan status yang ter-update padahal yang menulis belum tentu bermaksud demikian. Apalagi yang mengandung unsur SARA. Yakin deh, diantara friendlist kita tuh kemungkinannya kecil sekali kalau satu agama semua. Juga jangan sampai de
h, update status berupa keluhan tentang bos tapi lupa kalau boss juga ada di frenlist. Kayak gini:

I hate to say but yes.. Facebook is where your privacy is not private anymore. Just be careful, guys...

Tuesday, 27 October 2009
12:20 pm