Showing posts with label women. Show all posts
Showing posts with label women. Show all posts

Saturday, May 30, 2015

perempuan, pelacur dan cita-cita

Di kolong jembatan layang itu mereka bertemu. Hari hampir berganti meski mereka belum menunggu terbit matahari. Dan di situlah kaki-kaki jembatan layang menjadi saksi secuplik kisah mereka.

Mereka berenam. Semuanya memakai rok, dan mengaku perempuan. Dari dandanan mereka, para lelaki hidung belang yang lewat barangkali akan segera mendekat, memilih-milih satu untuk kemudian bertanya: “Satu jamnya berapa?”

Tapi malam itu malam sepi laki-laki hidung belang. Asal tahu saja, mereka berenam itu tadi jadi luntang-lantung tanpa tujuan seperti ini karena tempat kerja mereka yang lama dan sudah terkenal sampai ke luar negeri itu ditutup dengan paksa oleh walikota setempat. Kompensasi sih kompensasi, tapi bisa bertahan sampai kapan kalau cuma mengandalkan kompensasi tok?

Salah satu dari mereka, namanya Susi, mengeluarkan rokok dari tasnya, menyalakan dan menghisapnya dalam-dalam. Yang lain, namanya Tasya, langsung menggerutu: “Ya makhluk kayak kamu ini, Sus, yang membunuh mimpi-mimpi perokok pasif seperti kami. Kamu pikir asap yang kamu hasilkan itu nggak beracun?”

“Pelacur kok punya mimpi. Sejak kapan?” sahut yang lain sambil memonyongkan bibirnya yang bergincu merah muda. Namanya Renata. Menurutku ia yang paling cantik diantara semuanya. Ia juga yang paling pendiam.

“Nggak ada asap ini juga kamu tiap hari menghirup racun dari jalanan,” kilah Susi tak peduli.

“Lho, jadi pelacur nggak boleh punya mimpi?” tanya yang lain lagi. Namanya Yusi. Kalau Yusi ini menurutku yang paling montok diantara semua, tapi yang paling kritis. Memangnya cuma mahasiswa saja yang boleh kritis? Pelacur juga!

“Boleh, boleh!”

Tiba-tiba saja suasana jadi ramai. Memperdebatkan tentang apa boleh atau tidak pekerja seks komersil macam mereka punya mimpi dan cita-cita. Awalnya banyak yang tidak setuju dengan Yusi. Sebab mereka berpikir, percuma pelacur punya cita-cita. Toh selangkangan juga yang akan berbicara dan menentukan. Tapi berangsur-angsur mereka menyadari bahwa pelacur juga manusia yang bisa dan boleh punya mimpi dan cita-cita.

Dari suasana yang ramai, sepi kemudian menyeruak. Hanya bunyi hisapan rokok Susi yang terdengar. Mereka mengenang-ngenang masa ketika masih mempunyai cita-cita.

“Dulu waktu perayaan hari Kartini, aku selalu pakai pakaian dokter, Yus,” kata Adinda. Rambutnya cepak tapi wajahnya manis. “Tapi itu bukan karena aku kepengen jadi dokter.”

“Lantas?” tanya Tasya.

“Sebab pakaian dokter yang paling gampang dicari ibuku yang sibuk. Meskipun waktu itu aku bilang aku ingin pakai kostum pilot. Menurutku gagah betul kostum pilot itu.” Adinda bercerita dengan berapi-api. “Ibu menolak karena menurutnya pekerjaan pilot hanya untuk laki-laki!”

“Bah!” semprot Hesti, salah satu perempuan yang paling kelihatan mencolok di situ. Bagaimana tidak mencolok kalau ia mengecat rambutnya dengan warna kuning menyala seperti itu. Dan jangan salah, boleh lah kau anggap rambutnya norak, tapi dia punya pelanggan yang setia dan selalu datang ke selang-, maksudku ke pelukannya - memberikan ia uang bulanan yang lumayan untuk menyekolahkan adik-adiknya di desa. Dia pula yang paling sensitif masalah beginian. “Masa mentang-mentang kita perempuan, kita tidak boleh punya cita-cita tinggi?”

“Menurutmu menjadi pilot itu cita-cita yang tinggi?” Susi balik bertanya.

“Iya dong,” jawab Adinda. “Gimana enggak tinggi kalau kerjaannya menerbangkan burung besi ke langit?”

Semuanya tertawa mendengar jawaban Adinda yang seenaknya. Semuanya kecuali Hesti. “Ini bukan cuma perkara menjadi pilot. Ini tentang cita-cita. Yang dipertanyakan oleh Yusi tadi. Buat aku cita-cita itu hak semua manusia. Nah kita ini kan masih manusia tho? Berarti kita semua masih boleh punya cita-cita tho?”

“Iya kita ini memang manusia, Hes. Tapi kita ini pelacur! Kalau pelacur kayak kita ini masih boleh punya cita-cita, nasib kita nggak berakhir di kolong jembatan layang seperti sekarang!” gerutu Susi sambil membuang puntung rokoknya dan mengambil rokok baru.

Tasya langsung menyambar dan membuang rokok barunya Susi. “Justru supaya kita nggak terus-terusan berakhir di sini, kita harus punya cita-cita, Sus! Sekarang coba katakan padaku tentang mimpi-mimpimu! Cita-citamu waktu kecil, yang mungkin sampai sekarang masih ingin kamu perjuangkan!”

Susi misuh. “Sudah kubilang aku tidak punya cita-cita! Kalau aku punya cita-cita, aku nggak akan berada di sini bersama pecundang macam kalian!”

“Cita-citaku sederhana,” sahut Yusi. “Aku cuma ingin bertemu dengan laki-laki yang mencintai aku apa adanya, menikah dan punya anak.”

Hanya bunyi klakson mobil dari kejauhan yang menyela. Teman-teman Yusi terdiam mendengar cita-cita Yusi. Hesti yang pertama kali berucap keras. “Menikah? Mana ada yang sederhana dari menikah dan beranak? Ujung-ujungnya kamu tetap berakhir di bawah ketiak laki-laki! Dan kamu dihujani lagi tuntutan-tuntutan lainnya! Pilihan-pilihan yang serba salah, seperti: menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier? Terus apa kamu pikir keduanya sama enaknya? Enggak! Ibu rumah tangga akan diremehkan dan wanita karier akan dihujat. Anak nakal ibu disalahkan, anak pintar, ayah dipuji! Dari mana sederhananya cita-citamu itu, Yus?”

“Wah, kamu jangan cuma bisa menjelek-jelekkan mimpi kawan-kawanmu, Hes. Jangan-jangan kamu sendiri tidak punya cita-cita?” ucap Tasya panas.

“Cita-citaku jadi politikus, Sya!” jawab Hesti cepat. “Terus aku akan maju jadi presiden! Coba bayangkan headline surat kabar ibukota kelak kalau aku naik jadi presiden: Mantan Pelacur Resmi Menjadi Presiden. Nah! Kurang keren apa kalau dibandingkan dengan cita-citamu tadi, Yus?”

“Iya, terus habis jadi presiden, ternyata kamu ditangkap KPK gara-gara korupsi! Lebih keren lagi media cetak akan menulis: Presiden Hesti Ditahan KPK Terkait Masalah Moralitas. Jadi politikus kok dibilang keren. Manisnya itu di mulut doang, hatinya berlobang,” sahut Tasya pedas.

“Kayak punya elu!” Adinda menyambar yang langsung disambut gelak tawa teman-temannya. “Cita-cita itu nggak usah yang tinggi-tinggi. Kalau ketinggian nanti jatuh. Cita-citaku lebih sederhana dari jeng Yusi. Aku cuma pengen sekolah lagi. Belajar bisnis, supaya enggak lagi-lagi menggantungkan nasib pada orang lain.”

“Sekolah lagi, tapi nulis skripsinya dibantu joki ye, Din, biar cepet lulusnya,” sindir Susi. “Kalau kamu gimana, Ren? Dari tadi bengong aja kayak Bagong.”

Renata menatap kawan-kawannya di balik bulu matanya yang lentik. “Aku pengen jadi laki-laki.”

Jawaban Renata kali ini betulan disambut senyap seketika. Tidak ada cita-cita yang lebih ambisius ketimbang cita-cita Renata.

“Aku bosan jadi perempuan. Capek jadi perempuan. Tuntutannya banyak. Penghakimannya sepanjang jaman. Jangankan punya cita-cita, tidak diremehkan sekali-sekali saja aku sudah bersyukur,” kata Renata. “Mana yang lebih ramai dihujat dan dimaki-maki oleh masyarakat saat seorang pekerja seks dengan tarif puluhan juta disorot oleh media? Sang mucikari? Si pekerja seks? Atau pelanggannya? Nggak lain nggak bukan ya si pekerja seksnya! Mucikari nomor dua! Lah pelanggannya ke mana? Melenggang kakung begitu saja, pokoknya nafsu mereka sudah terpuaskan dan sudah juga mengeluarkan kocek untuk itu. Aman. Asal ada duit, kamu nggak akan terusik. Nah, terus pansel KPK yang baru saja dibentuk itu. Yang isinya perempuan semua itu. Yang isinya nggak cuma perempuan-perempuan biasa, tapi perempuan-perempuan pintar dan berpendidikan. Tetap aja diremehkan oleh masyarakat. Sepintar apa pun perempuan, tetap aja dinilai nggak punya kompetensi dan kemampuan buat perkara-perkara yang membutuhkan otak untuk berpikir. Bahkan ada yang terang-terangan menulis di media cetak nasional, kalau pembentukan pansel yang isinya perempuan semua ini kemunduran besar buat negara. Status pemimpin tetap lebih layak dipegang makhluk-makhluk berpenis itu. Bagaimana aku tidak bosan jadi perempuan? Tidak capek jadi perempuan? Aku kepengen jadi laki-laki saja. Supaya tidak melulu diremehkan, dihujat dan dihakimi!”

Teman-teman Renata melongo mendengar pidato sepanjang itu. Renata yang cantik dan pendiam, tiba-tiba menjadi corong yang mewakili suara hati mereka sebagai perempuan.

“Aku mengundurkan diri jadi calon presiden, Ren,” kata Hesti akhirnya. “Kamu yang lebih pantas. Dan kalau kelak kamu jadi presiden, jangan lupa memperjuangkan nasib-nasib orang-orang pinggiran seperti kita. Kita bukan barang. Bukan obyek untuk seenaknya digunjingkan, dihakimi dan dicaci maki.”

Waktu sudah di atas angka dua belas. Tengah malam sudah lewat. Betul-betul malam yang sepi laki-laki hidung belang, tapi ramai mimpi dan cita-cita. Sungguh magis apa yang bisa diubah sang waktu saat berganti hari. Seolah-olah dunia kemarin bisa sangat berbeda dengan dunia hari ini. Hari baru setiap pagi.

Susi mengambil sebatang rokok dari kantungnya lagi. Tasya sudah hampir menyemprot Susi sampai ia berkata begini: “Ijinkan aku menyulut rokokku yang satu ini, Kawan. Sebab ini akan menjadi yang terakhir untukku. Ini cita-citaku sejak dulu.”

Kawan-kawannya bersorak.

Pagi-pagi, orang-orang ramai mengerubungi sudut kolong jembatan layang. Di situ tergeletak beberapa mayat yang selangkangannya berdarah-darah. Semuanya laki-laki. Ditengarai yang mati seorang pejabat setempat bersama para ajudannya.

Seorang saksi bersumpah, pembunuhnya adalah para perempuan pekerja seks komersil yang biasa mangkal di situ. Motif mereka membunuh? Entahlah. Yang jelas pejabat itu memang sudah terkenal suka birahi tiba-tiba saat lewat tengah malam.

Seharusnya pejabat itu tahu, jangan pernah main-main dengan para pelacur yang punya cita-cita.


Saturday, 30 May 2015
11.03 pm

Diinspirasi oleh enam perempuan jejadian yang saya temui di malam tanggal dua puluh enam bulan lima tahun dua ribu lima belas. :)


Thursday, January 08, 2015

maria magdalena


Namanya Maria Magdalena. Ia sedang merenung. Di tepi tempat tidur pada kamarnya yang sederhana ia duduk. Kemudian ia bangkit dan membuka lemari pakaiannya. Satu per satu ia perhatikan dengan seksama busana-busana yang ia miliki. Tidak ada yang istimewa. Sudah lama ia tak membeli busana baru. Untuk apa? Toh klien-klien yang ia layani dalam pekerjaannya selama ini lebih suka apabila ia tidak mengenakan busana. Dan uang hasil pekerjaannya jarang ia gunakan untuk kepentingannya sendiri. Sebagian besar ia kirimkan pada ibunya di kampung, untuk biaya pengobatan ayahnya dan konsumsi mereka sehari-harinya. Busana yang biasa ia pakai pada waktu bekerja juga biasanya dipinjami oleh “manajer”nya. 

Tapi hari ini, ia tidak mau berbusana biasa-biasa saja. Seharusnya hari ini hari yang istimewa. Hari di mana ia memutuskan untuk “pulang”. Bukan. Bukan pulang kampung bertemu dengan ayah dan ibunya. Pulang ke rumah tempat ia dicintai dengan amat sangat. Ke sebuah tempat di mana Seseorang sudah dianiaya dan dibunuh untuknya. Rumah tempat ia sudah dibeli lunas dengan darah. Ke sanalah ia ”pulang” setelah bertahun-tahun hidup dalam penolakan diri.

Beberapa ketukan cepat di pintu terdengar. Seorang perempuan lain masuk dengan wajah berbinar-binar. Kedua tangannya berada di belakang punggungnya.

“Aku punya kejutan untukmu!” kata perempuan. Lantas tangannya menyerahkan bungkusan yang ia sembunyikan di belakang punggungnya tadi padanya.

“Apa ini?” tanya Maria Magdalena pada sahabatnya, perempuan yang baru masuk itu.

“Untukmu, Maria,” jawab sahabatnya lagi. “Kau bilang padaku kemarin kalau hari ini terlalu istimewa untuk dilewatkan dengan pakaian yang biasa-biasa saja.”

Ragu-ragu Maria Magdalena membuka bungkusan yang baru diberikan oleh sahabatnya. Dan begitulah, sebuah gaun yang cantik meluncur halus dari pegangan tangannya.

“Gaun ini… untukku?” tanya Maria Magdalena lagi tak percaya.

Sahabatnya mengangguk dengan cepat. “Iya. Untukmu,” tegasnya.

Maria Magdalena baru membuka mulutnya untuk mengucapkan kata penolakan sebelum kemudian dipotong lagi oleh sahabatnya. “Ini tidak baru. Betul. Aku pernah pakai ini sekali di pesta perkawinan ibuku yang ketiga kalinya. Dan terus terang, aku tidak mau melihat gaun ini lagi. Sungguh.”

Ia tatap kembali gaun yang baru saja diberikan untuknya, sambil berpikir-pikir apakah kisah di balik gaun yang disampaikan sahabatnya itu benar adanya atau hanya supaya ia tidak menolak pemberiannya. Sebab sahabatnya sangat tahu ia tidak pernah mau diberi sesuatu dengan cuma-cuma.  

“Betul untukku?” tanya Maria Magdalena lagi untuk yang ketiga kalinya.

“Ya besar! Tolong jangan tanya lagi untuk yang ketiga kalinya, karena kau akan terlambat. Lebih baik kau bersiap-siap sekarang. Kau tahu, mereka sangat tepat waktu,” kata sahabatnya.

Tak lama kemudian, Maria Magdalena berada di depan gedung megah yang sederhana itu. Gedung yang oleh masyarakat pada umumnya disebut dengan gereja. Dandanannya baru. Gaunnya baru. Sepatunya juga masih bagus karena jarang ia pakai. Sahabatnya memaksa untuk memakai asesoris miliknya dan menyemprot sedikit minyak wangi di daerah ketiak Maria Magdalena. Ia masuk pelan-pelan dan duduk di bangku yang masih kosong. Ia pejamkan mata dan ia berikan hatinya sungguh-sungguh untuk mengikuti jalannya ibadah hari itu sambil mengucap syukur atas cinta tanpa syarat yang diberikan olehNya.

Usai ibadah, seorang ibu-ibu cantik menghampirinya. Ibu-ibu itu menyalaminya sambil mengucapkan selamat datang dan juga berkata: “ Anu, mohon maaf sebelumnya, tapi mungkin lain kali kalau datang beribadah di gereja kami ini, minta tolong busananya yang sederhana saja. Gereja kan bukan untuk fashion show ya. Apalagi gaun seperti yang kamu pakai ini kan kurang pas gitu untuk dipakai di gereja. Sebagai perempuan kita memang harus lebih berhati-hati dengan apa yang kita pakai. Betul kan ya? Jangan sampai jemaat lain memandang kita itu seperti perempuan murahan, gitu lho. Apa lagi pakai parfum-parfum mahal seperti punya kamu ini kan. Nggak perlu lah pamer apa yang kita punya di gereja. Ah, saya  nggak perlu panjang-panjang ngomongnya, kamu pasti tahu maksud saya. Memang belum ada peraturan resmi yang tertulis dan dipublikasikan sih, tapi sedang kami godok kok di ruang rapat. Eh, tapi maksud saya, maksud kami ini baik lho, supaya kita menjaga citra sebagai perempuan dengan cara berbusana kita. Betul kan ya? Ingat, gereja bukan untuk fashion show ya. Yuk ah, saya harus berdoa dulu sambil menghitung persembahan di belakang ya. Sampai ketemu minggu depan.”

Dan ibu-ibu cantik itu berlalu begitu saja meninggalkan Maria Magdalena yang tertegun-tegun.

Tak lama, ada yang menyentuh bahu Maria Magdalena. Seorang perempuan lain, lebih muda sedikit darinya, menghampirinya. Ia mengenakan pakaian ketat, rok mini dan sepatu boot keluaran terbaru. Bibirnya merah menyolok, matanya lelah dan rambutnya sedikit berantakan.

Tanya perempuan itu pada Maria Magdalena: “Aku baru lewat di depan gereja ini dan mendengarkan kalian menyanyi selama ibadah. Jam berapa kah ibadah berikutnya? Aku juga ingin merasakan apa yang kalian rasakan.”

Maria Magdalena menghembuskan nafasnya panjang. Ditatapnya kembali perempuan itu dari atas sampai bawah, kemudian tersenyum.

Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan perempuan itu. Betapa pun mudah jawabnya.




Thursday, 8 January 2015
11:46 am

Thursday, March 20, 2014

"Ada! Ibu rumah tangga!"

Sejak subuh tadi perempuan itu sibuk. Menjerang air. Menyiapkan sarapan. Mencuci baju. Belanja sayuran di depan rumah. Supaya tiap makhluk hidup yang tinggal serumah dengannya dapat memulai hari dengan tenang. Tak berapa lama suaminya bangun. Seperti biasa, ritual yang dilakukan adalah mandi, ganti baju kemudian sarapan. Setelah membaca surat kabar sebentar, sang suami berangkat. Itu berarti tinggal makhluk hidup satu lagi dalam rumah itu yang belum memulai harinya.

Si perempuan membuka pintu kamar si makhluk hidup satunya, yaitu anak laki-lakinya – seorang mahasiswa – dengan hati-hati. Sebab ia tahu semalam anaknya tidur lewat jam dua belas karena mengerjakan tugas kuliah. Lewat pukul sembilan pagi, setelah ia merapikan kamar tidurnya, dan anaknya belum juga bangun, ia bangunkan anaknya pelan-pelan karena ia tahu pukul sepuluh anaknya harus mengikuti kelas wajib.

Sambil menggerutu sedikit, tanpa ganti baju si anak mengambil sarapan paginya, membawanya ke ruang tengah dan makan sambil nonton siaran pagi. Selesai sarapan, si perempuan, ibunya bilang air hangatnya sudah siap di kamar mandi untuknya. Pukul sepuluh kurang sedikit, si anak sudah sampai di kelasnya siap untuk mengikuti kuliah.

Di rumah, ibunya menyiapkan makan siang untuk ia sendiri lalu mulai menyeterika baju, menyapu dan mengepel lantai rumah. Menginjak sore, sang ibu akhirnya punya waktu sejenak untuk diri sendiri. Diseduhnya teh dan dibacanya novel yang minggu lalu ia beli. Tak lama, si suami pulang dan selesai lah waktu untuk diri sendiri pada hari itu. Ia kembali menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, lantas menyiapkan makan malam.

Si anak baru pulang ke rumah setelah makan malam – sambil mengomel kanan kiri tentang dosen yang menyebalkan, tugas yang sulit, teman kuliah yang cerewet dan juga pacar yang cemburuan. Didengarkannya curhatan si  anak dengan sabar sambil menemaninya makan malam. Perempuan itu mengerti bahwa malam itu akan dilewati lagi oleh anaknya hingga larut untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum rampung.

Esoknya, rutinitas sang ibu tetap sama, namun anaknya bangun lebih pagi. Ia makan sarapannya dengan cepat dan buru-buru berangkat kuliah. Pagi itu, si anak ada janji kerja kelompok bersama teman-teman sekelasnya.

Di kampus, selesai kerja kelompok, mereka ngobrol ngalor ngidul – mengeluhkan pekerjaan apa yang akan dilakukan selepas lulus nanti. Ada yang bilang kalau ia pernah ditawari kerja di bank, tapi ngeri dengan targetnya yang berbunyi satu setengah em. Ada juga yang menyahut lebih ngeri lagi kalau dapat kerja yang waktunya shift-shift­an - kapan pacarannya coba? Lantas mereka berpikir: Memang ada pekerjaan yang gampang? Yang nggak pake target?

Si anak laki-laki tadi, sambil makan bekal yang disiapkan oleh ibunya, berucap dengan lantang: “Ada! Ibu rumah tangga!”

Sementara di rumahnya, sang ibu sedang memasak makanan kesukaan anaknya untuk makan malamnya nanti karena ia tahu anaknya baru melewati dua malam yang melelahkan.

Thursday, 20 March 2014
4:45 pm
   

Thursday, September 05, 2013

tips (nggak) berguna (banget) seputar ibu hamil

Saya biasanya jarang (atau malah tidak pernah?) menulis tips-tips. Lebih banyak yang bilang tulisan saya aneh dan nggak banyak yang paham dan suka dengan tulisan saya. Yah… saya nggak bisa maksa orang suka dengan tulisan saya sih. Tapi untuk kali ini, saya kepengen menulis tips-tips berdasarkan pengalaman saya selama 9 bulan dekat dan ikut dalam pergumulan kawan saya yang sedang hamil anak pertama. Ketika saya ikut merasakan pergumulan kawan saya ini, saya baru sadar bahwa sungguh, hamil di negeri ini bisa sangat rumit. Maaf apabila saya lagi-lagi membandingkan keadaan waktu saya hamil di Melbourne dulu. Sangat berbeda. Jadi perempuan hamil di Melbourne itu jauh lebih tenang, damai, dan sentosa walaupun barangkali jauh dari kerabat yang bisa membantu sewaktu-waktu. Disini, orang hamil (terkadang) harus siap jadi tontonan. Anda ingin jadi selebriti dadakan? Hamil-lah! :D Anda laki-laki dan tidak bisa hamil sehingga tidak bisa menjadi selebriti dadakan? Hamili-lah anak politikus yang sedang berencana nyapres, unggah ke youtube, bagikan beritanya lewat media sosial, dijamin Anda juga bisa jadi selebriti dadakan! :P

Sudah gitu, orang-orang di sekitarnya juga ikutan sibuk ngasi tahu nggak boleh ini dan itu. Tapi lucunya hampir nggak ada yang ngasi tempat duduk buat orang hamil kalau pas ada acara-acara hajatan atau menjauh waktu mau merokok begitu melihat ada ibu hamil di dekatnya.

Jadi ini beberapa tips yang tidak sengaja saya kumpulkan selama 9 bulan ini (kawan saya sudah melahirkan bayi yang sehat dan lucu, selamat untuknya):
  1. Kalau Anda kebetulan melihat kenalan Anda hamil, perlakukan dia biasa saja. Tidak perlu heboh seperti melihat selebriti Hollywood atau Jokowi atau Nikita Willy atau Lee Min Ho (asli, saya sampai google untuk dapetin nama ini) lewat di depan mata. Perempuan hamil juga manusia biasa. Tidak perlu lebay bombay menyapa heboh apalagi sampai mengelus perutnya di depan banyak orang. Yang terakhir ini lain persoalan apabila yang Anda kenal itu memang sahabat Anda atau kerabat dekat Anda. Tapi kalau Anda hanya berteman biasa saja dengannya, lebih sopan apabila tidak perlu memakai elusan di perut. Apakah Anda mau kalau sedang jalan tiba-tiba ada seorang kenalan (bukan sahabat, apalagi keluarga) tiba-tiba mengelus perut Anda (yang mungkin berlemak itu)?
  2. Anda ingin memberikan perhatian pada kenalan Anda yang sedang hamil? Cukup berikan saja kursi Anda (kalau Anda sedang duduk) untuknya pada acara-acara besar seperti pesta pernikahan, ulang tahun, dsb. Atau menjauh lah darinya saat ingin merokok. Kalau hendak bertanya, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan umum seperti: “Sudah berapa bulan? Sehat-sehat saja semuanya?” Tidak perlu dilanjutkan dengan: “Anaknya cowok atau cewek?” Dan kalau Anda sudah tahu kenalan Anda itu sedang hamil anak kedua, kemudian pertanyaan “anaknya cowok atau cewek?” ini dijawab dengan jenis kelamin yang sama dengan anak pertama, akan lebih sopan apabila Anda tidak merespon dengan: “Ooo..ya nggak papa jenis kelamin sama dengan anak pertama.” Darimana Anda tahu ia ingin punya anak dengan jenis kelamin berbeda? Fyi, tidak semua ibu hamil nyaman dengan pertanyaan yang menyangkut jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Ada yang memang belum tahu, ada yang memang tidak ingin semua orang tahu hingga waktunya nanti, ada juga yang memang karena alasan medis, jenis kelamin tidak bisa dilihat. Kalau memang Anda sungguh-sungguh memberi perhatian padanya, tunggulah saat kelahiran bayinya, toh Anda akan tahu juga jenis kelamin si bayi dalam perutnya.
  3. Tidak perlu menakuti-nakuti perempuan hamil dengan yang seperti ini: “jangan benci sama si A, nanti anaknya mirip sama si A lho” atau “jangan marah-marah sama si B, nanti kalau anakmu mirip dia gimana?”. Yang seperti ini sama sekali tidak logis, apalagi ilmiah. Coba bayangkan, bagaimana mungkin si anak akan mirip si A kalau si ibu nggak ngapa-ngapain sama si A? Bagaimana mungkin si anak akan mirip si B kalau si ibu tidur bareng sama si B aja enggak? Jadi, save your breath dengan perkataan yang sia-sia ini. Ingat Firman Tuhan, perkataan sia-sia juga harus dipertanggungjawabkan di hari penghakiman *halah* :P.
  4. Masih berkaitan dengan tips nomor 1, tidak perlu juga berlebihan dalam memperlakukan ibu hamil  dengan mengatakan tidak boleh ini dan tidak boleh itu. Tidak boleh makan ini dan tidak boleh makan itu. Yang wajar saja lah. Sebab pada dasarnya kondisi tiap ibu hamil itu sangat bervariasi. Ada ibu hamil yang memang rentah keguguran dan oleh karena itu ada batasan-batasan yang harus diikuti tapi ada juga ibu hamil yang sangat sehat sehingga hampir tidak ada batasan bahkan dalam hal makanan sekaligus. Oya, minum air es bisa bikin bayi besar itu mitos lho. Yang bisa bikin bayi besar itu kalau ibu hamil punya riwayat penyakit diabetes atau memang sangat suka sekali dengan makanan dan minuman manis. Jadi bukan es-nya yang bikin besar, tapi manisnya itu. Makan makanan pedas juga nggak masalah asal tidak menjadikan si ibu diare. Kalau diare, baru bermasalah karena si ibu akan kekurangan cairan tubuh. Tapi apabila tidak berlebihan, silahkan aja santap nasi ayam penyet Bu Kris dengan sambel pedas yang legendaris itu! Segala sesuatu yang tidak berlebihan itu masih baik adanya, dan itu berlaku tidak hanya untuk perempuan hamil saja, tapi memang untuk seluruh makhluk, kecuali amoeba mamalia (iya, ini makhluk ciptaan saya, cuma belum saya patenkan, soalnya saya lagi sibuk mikirin masalah negara).
  5. Oya, satu lagi. Anda nggak perlu harus bertanya atau berkomentar kok tiap kali bertemu dengan orang hamil. Masih banyak sejuta topik yang lebih asyik untuk dibicarakan daripada lagi-lagi bertanya "Sudah berapa bulan?" atau "Anaknya cowok atau cewek?" atau "Ini anak keberapa?" atau "Udah 6 bulan? Kok kecil?" atau "Baru 4 bulan? Kok gede banget perutnya?" Yakin lah, tanpa Anda bertanya atau berkomentar pun, si ibu hamil ini pasti sudah menjawab ribuan *ini bisa betulan! :P* pertanyaan serupa dari orang lain. Just give her a break. Santai aja. Ibu-ibu hamil juga masih membicarakan soal Ben Affleck jadi Batman, soal wig-nya Nicky Minaj yang segambreng, soal cuaca yang tak keruan, soal Miss World vs Rupiah yang melemah, soal banyak manusia tak tahu diri yang mencalonkan diri jadi presiden tahun depan, soal rumah makan yang baru buka, dsb kok. 

Saya nggak ahli menulis tips sih. Jadi minta maaf kalau ada yang sudah telanjur baca ini karena mengira akan berguna untuk bangsa dan negara tapi pada kenyataannya tidak. Saya siap bertanggungjawab di hari kiamat nanti dan akan berkata bahwa yang saya tulis ini murni berdasarkan pengalaman dan perasaan pribadi. Dan untuk kawan saya yang baru saja melahirkan: selamat menempuh hidup baru! :)

*Waktunya undur diri sebelum ditimpuk tomat busuk, telor ceplok dan es cendol sekaligus oleh para pembaca* :P

Thursday, 5 September 2013
12:28 pm

PS: Gambar diambil dari sini

Friday, August 09, 2013

tindik


Mengunjungi kawan yang baru bersalin itu terkadang menjadi dilema tersendiri untukku. Di satu sisi, aku ikut gembira, seorang lagi bayi molek lahir dan ada sepasang suami istri yang bahagia menyambut si bayi. Harapan dan jiwa baru untuk peradaban manusia. Di sisi lain, aku malah berpikir yang tidak-tidak, seperti bumi yang makin penuh dan sesak. Terutama apabila bayi itu lahir di pulau Jawa. Kebebasan memang cuma mitos, karena seandainya manusia memang makhluk bebas, maka sedari dini ia bisa menentukan ingin lahir ke bumi ini atau tidak.

Dilema yang lebih dalam lagi kurasakan apabila persalinan itu mengandung anak perempuan yang lahir. Tiba-tiba saja - entah bagaimana - aku bisa merasa kasihan pada bayi perempuan yang baru lahir. Apalagi bayi perempuan yang belum juga seminggu menghirup polusi udara itu sudah dilubangi kedua telinganya untuk digantungi sesuatu yang bernama anting-anting. Seolah-olah sebagai pertanda bagi si orang tua bahwa bayi mereka resmi menyandang jenis kelamin perempuan. Vagina sebagai penanda saja tak cukup, sebab vagina tidak diperuntukkan untuk dilihat khalayak umum. Padahal dunia perlu tahu bayi ini berjenis kelamin perempuan.

Tindik pada telinga bayi perempuan sejak lahir bagiku seperti tuntutan yang diputuskan di ruang pengadilan tanpa pembelaan. Bayangkan. Semenjak kecil, perempuan sudah dituntut untuk mengenakan anting-anting. Sesuatu yang tak diberikan pada para bayi laki-laki. Bagaimana jika kelak bayi-bayi perempuan itu seperti diriku yang menyesali kedua lubang di telingaku yang sudah bertahun-tahun tak kugantungi sesuatu? Dan juga bertanya-tanya sepertiku, mengapa untuk telingaku sendiri, aku sudah kehilangan hak untuk tidak melubanginya?

Jadi beginilah aku berpikir. Disini, di negeri tempat aku tinggal ini, dimana tindik begitu penting untuk dilakukan pada seorang bayi perempuan, seumpama hutan belantara bagi para perempuan. Kau takkan pernah merasa aman dan harus selalu waspada. Tindik adalah simbol, bahwa menjadi perempuan di negeri ini sama dengan diserbu oleh banyak kata 'seharusnya'. Perempuan seharusnya pakai rok. Perempuan seharusnya tidak duduk mengkangkang. Perempuan seharusnya berambut panjang. Anak perempuan seharusnya bermain boneka dan pada hari Kartini bersedia didandani seperti ondel-ondel, lengkap dengan gincu tebal, rambut palsu yang berat dan berjalan dengan terseok-seok karena sepatu sewaan yang tak nyaman. Perempuan seharusnya akrab dengan baju warna merah muda dan belanja di musim diskonan. Perempuan seharusnya kawin sebelum umur 30, sebab bisa diberi stempel 'tidak laku' jika lewat dari umur segitu. Perempuan seharusnya.... Dan tiba-tiba aku merasa tak rela. Tak rela membayangkan betapa panjang daftar 'seharusnya' yang akan kutulis apabila kupaksa untuk meneruskan.

Aku tak pernah suka kedua lubang di telingaku. Buatku, kedua lubang itu kesia-siaan belaka sebab aku nyaris tak pernah menggunakannya. Aku menerima dibilang makhluk aneh hanya karena aku bercerita bahwa saat umurku dua tahun, aku sudah berani bertengkar dengan ibuku perkara baju berenda yang hendak dipakaikan ke tubuhku. Oh betapa aku benci dengan baju berenda yang bisa bikin tubuhku gatal-gatal. Aku juga tak malu mengakui bahwa aku suka duduk mengkangkang tanpa bermaksud tidak sopan atau sengaja melawan aturan moral yang dibikin masyarakat untuk perempuan. Duduk mengkangkang saat berkendara bikin aku merasa aman dan duduk mengkangkang saat santai bikin aku nyaman. Bukankah cara duduk ini seperti selera makan? Jika aku suka sambel terasi, lantas apa itu dosa? Aku toh tidak merepotkan orang lain?

Diam-diam aku berharap, kelak banyak perempuan memahami bahwa sebenarnya mereka cuma punya satu aturan 'seharusnya'. Perempuan seharusnya punya hak untuk mendefinisikan sendiri hidup dan mimpi mereka, tanpa perlu diatur-atur negara dan masyarakat. Ya. Sesederhana itu.

Tapi mungkin ini hanya pikiran konyolku belaka. Barangkali juga berlebihan. Barangkali.

Friday, 9 August 2013
02:07 am

Gambar diambil dari sini