Showing posts with label spiritual thought. Show all posts
Showing posts with label spiritual thought. Show all posts

Thursday, January 08, 2015

maria magdalena


Namanya Maria Magdalena. Ia sedang merenung. Di tepi tempat tidur pada kamarnya yang sederhana ia duduk. Kemudian ia bangkit dan membuka lemari pakaiannya. Satu per satu ia perhatikan dengan seksama busana-busana yang ia miliki. Tidak ada yang istimewa. Sudah lama ia tak membeli busana baru. Untuk apa? Toh klien-klien yang ia layani dalam pekerjaannya selama ini lebih suka apabila ia tidak mengenakan busana. Dan uang hasil pekerjaannya jarang ia gunakan untuk kepentingannya sendiri. Sebagian besar ia kirimkan pada ibunya di kampung, untuk biaya pengobatan ayahnya dan konsumsi mereka sehari-harinya. Busana yang biasa ia pakai pada waktu bekerja juga biasanya dipinjami oleh “manajer”nya. 

Tapi hari ini, ia tidak mau berbusana biasa-biasa saja. Seharusnya hari ini hari yang istimewa. Hari di mana ia memutuskan untuk “pulang”. Bukan. Bukan pulang kampung bertemu dengan ayah dan ibunya. Pulang ke rumah tempat ia dicintai dengan amat sangat. Ke sebuah tempat di mana Seseorang sudah dianiaya dan dibunuh untuknya. Rumah tempat ia sudah dibeli lunas dengan darah. Ke sanalah ia ”pulang” setelah bertahun-tahun hidup dalam penolakan diri.

Beberapa ketukan cepat di pintu terdengar. Seorang perempuan lain masuk dengan wajah berbinar-binar. Kedua tangannya berada di belakang punggungnya.

“Aku punya kejutan untukmu!” kata perempuan. Lantas tangannya menyerahkan bungkusan yang ia sembunyikan di belakang punggungnya tadi padanya.

“Apa ini?” tanya Maria Magdalena pada sahabatnya, perempuan yang baru masuk itu.

“Untukmu, Maria,” jawab sahabatnya lagi. “Kau bilang padaku kemarin kalau hari ini terlalu istimewa untuk dilewatkan dengan pakaian yang biasa-biasa saja.”

Ragu-ragu Maria Magdalena membuka bungkusan yang baru diberikan oleh sahabatnya. Dan begitulah, sebuah gaun yang cantik meluncur halus dari pegangan tangannya.

“Gaun ini… untukku?” tanya Maria Magdalena lagi tak percaya.

Sahabatnya mengangguk dengan cepat. “Iya. Untukmu,” tegasnya.

Maria Magdalena baru membuka mulutnya untuk mengucapkan kata penolakan sebelum kemudian dipotong lagi oleh sahabatnya. “Ini tidak baru. Betul. Aku pernah pakai ini sekali di pesta perkawinan ibuku yang ketiga kalinya. Dan terus terang, aku tidak mau melihat gaun ini lagi. Sungguh.”

Ia tatap kembali gaun yang baru saja diberikan untuknya, sambil berpikir-pikir apakah kisah di balik gaun yang disampaikan sahabatnya itu benar adanya atau hanya supaya ia tidak menolak pemberiannya. Sebab sahabatnya sangat tahu ia tidak pernah mau diberi sesuatu dengan cuma-cuma.  

“Betul untukku?” tanya Maria Magdalena lagi untuk yang ketiga kalinya.

“Ya besar! Tolong jangan tanya lagi untuk yang ketiga kalinya, karena kau akan terlambat. Lebih baik kau bersiap-siap sekarang. Kau tahu, mereka sangat tepat waktu,” kata sahabatnya.

Tak lama kemudian, Maria Magdalena berada di depan gedung megah yang sederhana itu. Gedung yang oleh masyarakat pada umumnya disebut dengan gereja. Dandanannya baru. Gaunnya baru. Sepatunya juga masih bagus karena jarang ia pakai. Sahabatnya memaksa untuk memakai asesoris miliknya dan menyemprot sedikit minyak wangi di daerah ketiak Maria Magdalena. Ia masuk pelan-pelan dan duduk di bangku yang masih kosong. Ia pejamkan mata dan ia berikan hatinya sungguh-sungguh untuk mengikuti jalannya ibadah hari itu sambil mengucap syukur atas cinta tanpa syarat yang diberikan olehNya.

Usai ibadah, seorang ibu-ibu cantik menghampirinya. Ibu-ibu itu menyalaminya sambil mengucapkan selamat datang dan juga berkata: “ Anu, mohon maaf sebelumnya, tapi mungkin lain kali kalau datang beribadah di gereja kami ini, minta tolong busananya yang sederhana saja. Gereja kan bukan untuk fashion show ya. Apalagi gaun seperti yang kamu pakai ini kan kurang pas gitu untuk dipakai di gereja. Sebagai perempuan kita memang harus lebih berhati-hati dengan apa yang kita pakai. Betul kan ya? Jangan sampai jemaat lain memandang kita itu seperti perempuan murahan, gitu lho. Apa lagi pakai parfum-parfum mahal seperti punya kamu ini kan. Nggak perlu lah pamer apa yang kita punya di gereja. Ah, saya  nggak perlu panjang-panjang ngomongnya, kamu pasti tahu maksud saya. Memang belum ada peraturan resmi yang tertulis dan dipublikasikan sih, tapi sedang kami godok kok di ruang rapat. Eh, tapi maksud saya, maksud kami ini baik lho, supaya kita menjaga citra sebagai perempuan dengan cara berbusana kita. Betul kan ya? Ingat, gereja bukan untuk fashion show ya. Yuk ah, saya harus berdoa dulu sambil menghitung persembahan di belakang ya. Sampai ketemu minggu depan.”

Dan ibu-ibu cantik itu berlalu begitu saja meninggalkan Maria Magdalena yang tertegun-tegun.

Tak lama, ada yang menyentuh bahu Maria Magdalena. Seorang perempuan lain, lebih muda sedikit darinya, menghampirinya. Ia mengenakan pakaian ketat, rok mini dan sepatu boot keluaran terbaru. Bibirnya merah menyolok, matanya lelah dan rambutnya sedikit berantakan.

Tanya perempuan itu pada Maria Magdalena: “Aku baru lewat di depan gereja ini dan mendengarkan kalian menyanyi selama ibadah. Jam berapa kah ibadah berikutnya? Aku juga ingin merasakan apa yang kalian rasakan.”

Maria Magdalena menghembuskan nafasnya panjang. Ditatapnya kembali perempuan itu dari atas sampai bawah, kemudian tersenyum.

Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan perempuan itu. Betapa pun mudah jawabnya.




Thursday, 8 January 2015
11:46 am

Monday, April 23, 2012

hidup adalah mencari

Seumur hidup, barangkali tujuan utama makhluk yang bernama manusia adalah mencari. Mencari jati diri, mencari makna, mencari kebenaran. Ia bisa-bisa saja berkata bahwa ia sudah tak lagi mencari. Ujung pencariannya sudah ketemu. Akhir pencariannya sudah kelihatan. Tapi selama ia masih bernafas dan menjejakkan kaki di bumi ini, sesungguhnya ia masih terus mencari.

Aku selalu berpikir bahwa cara manusia mencari kebenaran tidak sama satu dengan yang lain. Seperti sudah kubilang berkali-kali, jika ada seratus ribu manusia di muka bumi ini, maka ada seratus ribu cara untuk mencari kebenaran. Makanya, aku tak setuju denganmu saat kamu bilang bahwa kebenaran hanya bisa didapat di dalam tembok gereja. Maaf jika sudah lama aku melihat bahwa tembok gereja dibangun semakin tinggi, hingga ada satu momentum orang-orang mengira gereja hanya untuk orang-orang terpilih. Orang-orang khusus. Orang-orang spesial. Orang-orang tertentu. Yang harum baunya. Yang mahal asesorisnya. Yang terhormat busananya. Tidak boleh terlalu kumuh. Tidak boleh terlalu seksi. Tidak boleh terlihat berandalan. Intinya: hanya untuk orang-orang tertentu saja.

Tapi menurutmu sendiri, siapa Tuhan? Katamu, Tuhan adalah pencipta alam semesta ini. Kutanya, apakah jawaban itu kamu temukan sendiri? Kamu bilang tidak. Kamu bilang guru agamamu yang bilang begitu. Maka kutanya lagi, jadi siapa Tuhan menurutmu? Kemudian jawabmu, Tuhan adalah Yesus, nabi yang menyelamatkan manusia-manusia berdosa di dunia ini diatas kayu salib. Kutanya, darimana jawaban itu kamu dapatkan? Kamu jawab lagi dari pendeta di gereja. Sudah kubilang, kataku sewot, kalau menurutmu sendiri bagaimana? Lantas satu per satu jawaban meluncur dari mulutmu. Tuhan adalah ini. Tuhan adalah itu. Tuhan itu begini. Tuhan itu begitu. Ini itu, begini begitu. Tapi waktu kutanya lagi, kamu selalu bilang bahwa jawaban itu kamu dapatkan dari orang lain. Jika kamu mengenal Tuhan dari orang lain, lalu untuk apa kamu percaya padaNya? Kamu toh tidak mengenalNya sendiri. Apa kamu yakin Tuhan yang kamu percaya itu sama dengan Tuhan orang-orang yang kamu sebut tadi?

Kemudian kamu diam. Entah jengkel atau putus asa mendengarku bertanya tak henti-henti. Barangkali hanya karena tidak ingin bertengkar saja, kamu tidak menutup mulutku dengan apapun yang bisa tanganmu jangkau.

Tapi kamu harus tahu, bahwa aku sedang mencari sendiri jawaban tentang Tuhan seumur hidupku. Aku tak mau mendefinisikan Tuhan berdasarkan apa yang orang lain katakan padaku. Karena makna Tuhan bagi hidup mereka barangkali dapat berbeda dengan makna Tuhan bagi hidupku. Apakah ada yang salah dengan itu? Apakah ada yang salah jika aku mulai mencari Tuhan dari luar tembok gereja? Tembok yang menurutku sudah menjulang terlalu tinggi sehingga orang-orang yang ada di dalamnya telanjur hidup enak sehingga enggan melangkahkan kaki keluar dan melihat ada apa saja yang terjadi di luar tembok gereja yang tinggi itu. Apakah ada yang salah jika aku mulai mencari Tuhan dengan cara-cara yang tidak biasa kamu lakukan? Dengan mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani satu ke Kebaktian Kebangunan Rohani lainnya, misalnya? Dengan membaca buku rohani satu ke buku rohani lainnya, misalnya? Tak dapatkah aku mencari Tuhan di tempat-tempat yang menurutmu gelap dan suram, yang kamu masukkan dalam kotak sekularisme? Hanya karena aku percaya Tuhan dapat hadir dengan berbagai bentuk?

Ada yang berbeda tatkala aku mencari sendiri makna Tuhan untuk hidupku. Aku merasa lebih hidup karena aku selalu bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang barangkali terdengar bodoh dan konyol, tapi ketika kutemukan jawabannya, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi lebih sederhana. Dan aku makin menyadari bahwa hidup tak serumit yang aku kira sebelum kuajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku juga merasa lebih bergairah, karena aku tak melulu ikut kata orang lain untuk mencari makna Tuhan - hanya supaya aku dapat segera punya jawaban yang memuaskan kuping saja.

Sampai hari ini aku masih terus mencari. Dan menurutku, Tuhan sesungguhnya tidak rumit. Aku lah yang rumit. Aku lah yang lebih sering mengada-adakan sesuatu yang tidak ada dan meniadakan sesuatu yang sesungguhnya ada. Aku juga pelan-pelan memahami bahwa yang sering kamu namakan berkat tidak melulu soal materi. Tidak melulu soal uang, kesuksesan dan kebahagiaan menurut ukuran manusia pada umumnya. Pada sebuah masalah, pada sebuah kisah sedih, pada sebuah tragedi, ada sesuatu yang sesungguhnya dapat membuat kamu lebih merasakan saripati hidup. Sehingga ketika kamu berdoa, kamu tak lagi menunggu sesuatu yang menurutmu baik akan terjadi. Kamu hanya berdoa karena hatimu ingin berdoa. Sehingga ketika kamu dirundung masalah tak henti, kamu akan berhenti menunggu kapan akhir bahagia itu tiba seperti dongeng Cinderella. Sehingga ketika kamu melihat kemiskinan, kamu tak lagi melihat bahwa itu sebuah kesalahan, sebuah dosa yang harus ditebus supaya si miskin dapat rutin makan di restoran mewah atau sering minum kopi di cafe bersama teman-temannya yang berjas atau nonton tivi yang isinya sebenarnya kebanyakan sampah.

Dan kemudian kamu juga akan mengerti bahwa Tuhan lebih besar dari cinta, lebih besar dari seluruh keadilan di dunia ini, bahkan jika dijadikan satu sekalipun, dan bahwa Tuhan lebih besar dari sebutan apapun yang sudah manusia ciptakan untuk menamaiNya, sebab apapun sebutannya, terlebih penting apa yang ada di hatimu, dan untuk apa kamu menyebut demikian.

Sampai mati nanti aku pasti akan terus mencari. Tapi yang kucari bukan Tuhan, karena Ia memberi diri untuk ditemukan dalam berbagai bentuk. Yang kucari adalah pengenalanku akan Ia yang lebih dulu mengenalku. Dan Alkitab hanyalah salah satu cara.


Monday, 23 April 2012
12.55 pm

PS: Gambar diambil dari sini

Friday, March 26, 2010

manusia yang lentur

Manusia mana sih yang sama sekali lepas dari masalah? Alladin pernah bermimpi bahwa suatu hari ia akan menjadi kaya, tinggal di istana dan bebas dari masalah. Tapi benarkah menjadi kaya dan tinggal di istana itu bebas dari masalah? Karen sebaliknya Jasmine merasa menjadi putri dan tinggal di istana adalah suatu masalah karena ada banyak hal yang ia ingin hindari tapi tidak bisa, contohnya: dia harus kawin meskipun tak ingin. Tapi begitulah. Dari yang miskin hingga kaya, jelek hingga cakep, semuanya pasti pernah punya masalah. Termasuk saya sekarang ini.

Tetapi saya pikir ma
nusia itu seperti karet. Lentur. Semakin ditarik seharusnya ia takkan putus melainkan semakin panjang. Saya mulai berpikir ini sejak beberapa waktu yang lalu. Pada waktu itu saya dan mami saya pergi ke kantor pajak di daerah Jagir-Wonokromo (orang Surabaya pasti tahu). Menurut saya, jarak antara rumah saya yang di daerah Surabaya Selatan ke kantor pajak itu enggak terlalu jauh - kalau naik kendaraan, kalau jalan kaki ya memang ajubileh jauhnya, sampai di kantor pajak yang ada malah nggak jadi bayar pajak tapi petugas pajaknya yang heboh nanganin saya yang pingsan sambil melolong-lolong minta sego sambel. Oya, intermezzo, ngurus pajak enggak seribet yang selama ini orang kira. Hanya lima menit, nggak pakai antri, ruangan pake asi, eh ase dan petugasnya juga rampi - ramah dan rapi (kok saya jadi ngiklanin pajak yah?). Karena sebentar itu mami saya komentar begini: ''Udah? Cuma gitu aja? Ga cucuk ambek adohe (ga seimbang dengan jauhnya).'' Mami saya ini seumur hidupnya tinggal di Pekalongan, jadi arti kata 'dekat' buat mami saya ya perjalanan yang bisa ditempuh dengan kaki dan lima menit nyampe. Dulu saya juga begitu. Buat saya Pekalongan-Comal itu jauh, tapi ternyata masih lebih jauh rumah saya yang sekarang ke Kenjeran padahal kedua tempat itu masih berada dalam satu kota. Saya yang dulu barangkali sependapat dengan mami saya, kalau jarak dari rumah saya ke kantor pajak memang jauh. Kenyataannya hampir sepuluh tahun saya tinggal di Surabaya saya jadi sadar bahwa jarak itu enggak jauh. Jauh itu berarti rumah saya ke Pasar Atum atau rumah saya ke Jembatan Merah Plaza. Saya jadi terbiasa. Tanpa saya sadari saya sudah menyesuaikan diri dengan kota Surabaya. Pekalongan-Comal dirasa sudah tak jauh lagi.

Itulah sebabnya saya bilang manusia itu lentur, karena sebenarnya manusia didisain untuk dapat mengatasi apapun yang terjadi dalam hidupnya. Kalau saya pikir-pikir, sadar enggak sadar ternyata saya berhasil juga melewati s
etiap masalah yang lewat dalam hidup saya. Bahkan jika ingin lebih direnungkan, masalah-masalah yang ada itu justru bikin saya lebih dewasa, lebih mengerti tentang hal-hal yang semula sama sekali enggak terpikirkan. Hidup di dunia ini memang seperti belajar di sebuah sekolah yang dinamakan school of life. Karena itu ada yang namanya ujian. Saya benci ketika masalah datang. Apalagi jika datangnya serombongan langsung, enggak satu-satu, enggak mau tahu, enggak sabaran dan enggak pergi-pergi padahal udah diusir-usir. Tapi ketika masalah itu akhirnya berlalu saya jadi orang yang sedikit berbeda dari saya sebelumnya.

Makanya saya enggak pernah menggunakan roda untuk mengibaratka
n jalan hidup ini. Bagi beberapa orang barangkali datangnya masalah itu adalah saat-saat sedang dibawah. Buat saya masalah ibarat ujian untuk naik kelas, karenanya saya menggunakan sekolah untuk mengibaratkan kehidupan saya. Buat saya tidak ada kehidupan atas dan bawah, bahwa saat di atas adalah saat-saat sukses, saat-saat sehat, saat-saat uang menggunung seperti punyanya paman gober dan saat di bawah adalah saat-saat sebaliknya. Buat saya tidak seperti itu. Bahkan saat-saat yang biasa dianggap sukses itu pun pasti ada juga masalah menghadang.

Karena itu juga saya masih heran jika ada yang bertanya: ''Does God exist?'' Mau percaya tidak percaya Ia tetap ada. Coba perhatikan diri sendiri, sekeliling dan semesta ini. Begitu rumit dan kompleksnya sistem kehidupan di semesta ini. Bahkan sistem perputaran planet mengelilingi matahari pun begitu mengesankan. Tidak usah jauh-jauh, bagaimana mata manusia melihat sesuatu kemudian mengirimkannya pada otak untuk menterjemahkan sesuatu itu menjadi sebuah kata kemudian dikirimkan kembali ke lidah untuk berbicara hanya dalam hitung sepersepuluh atau barangkali seperseratus detik dengan cara kerja yang sedemikian rupa. Dengan segala sistem yang berjalan secara simply extraordinary ini masihkah percaya bahwa tak ada yang mengatur semuanya ini? The Being behind all of these things?

Manusia itu memang lentur. Ia didisain untuk kuat menghadapi setiap masalah. Jadi jangan pernah menyerah. Menyerah hanya untuk orang yang malas. Dan saya sedang berusaha mengatakan itu pada diri saya sendiri.

Thursday, 25 March 2010
11:21 pm

Saturday, January 30, 2010

misterius?

Hujan sering bikin saya melankolis. Apalagi hujan yang dibarengi dengan angin seperti sekarang ini. Bikin saya sakit perut (eh, ga ada hubungannya ya?). Kalau masyarakat Tiong Hoa mengatakan hujan sama dengan mendatangkan banyak rejeki (bagaimana dengan banyak anak?), saya malah kadang-kadang berpikir bahwa hujan pertanda Tuhan sedang menangis. Entah itu menangis karena terharu atau menangis karena sedih. Silly kan? Dan kalau sedang konyol seperti itu saya suka bertanya-tanya sendiri kira-kira Tuhan menangis karena apa ya? Tapi karena Dia Tuhan yang misterius, maka saya yakin jawabannya lebih daripada sekedar menangis terharu atau menangis sedih. Mengapa harus memilh satu jika bisa memilih dua? Atau mengapa harus memilih satu atau dua jika tidak bisa memilih? Hujan juga bisa pertanda sudah waktunya mengairi tanah yang kering!

Ini mengingatkan saya pada percakapan saya dengan bapak pendeta saya yang masih muda itu. Rasa-rasanya waktu itu kami sedang bicara tentang homoseksual. Dan seingat saya, kami tidak bicara tentang benar salahnya, kami bicara di luar itu. Padahal barangkali jika saya bicara masalah itu dengan yang lain, percakapannya biasanya berkisar antara benar dan salah yang kemudian berakhir dengan perdebatan. Dia akan bilang bahwa homoseksual itu salah dan saya akan bilang bahwa homoseksual belum tentu salah! Ah, saya tahu ini memang kebiasaan buruk saya. Tiap kali membicarakan masalah-masalah semacam ini, saya lebih senang menjadi antagonis daripada protagonis. Hei, hidup lebih seru jika ada antagonis-antagonis seperti saya kan? Ya kan? Ya kan? Ibaratnya, jika sedang musim rambut di-rebonding, saya akan tetap mempertahankan rambut ikal saya. Dan jika musim rebonding lewat, diganti musim rambut keriting, saya malah akan meluruskan rambut saya. Nah lho.

Oke, balik ke pembicaraan saya dengan bapak pendeta mengenai homoseksual. Dia malah mengajak saya berpikir bahwa hidup kadang-kadang tidak harus memilih ya saja atau saja, boleh saja tidak boleh saja dan hal-hal antonim lainnya. Kadang-kadang malah hidup harus memilih untuk tidak memilih. Dan saya senang diajak berpikir demikian. Mengapa harus memilih satu jika bisa memilih lebih? Mengapa harus memilih untuk memilih jika bisa tidak memilih? Meskipun mungkin saja orang lain bakal bilang saya plin-plan. Tapi saya tidak plin-plan (memangnya ada pencuri yang ngaku jika dituduh mencuri? hehehe), lebih tepat dibilang saya ini conditions-apply-person (dan pencuri itu ngakunya kalo dia Robin Hood, hehehe). Ada satu waktu saya harus bilang ya, dan di waktu yang lain saya harus bilang tidak untuk sebuah kasus yang sama.

Hidup memang nggak bisa ditebak. Seperti sekarang ini. Baru beberapa menit yang lalu saya bilang ke hubby kalau akan ada badai. Langit gelap, gerimis, petir bersahut-sahutan dan angin kencang. Bukankah itu tanda-tanda badai? Tapi tidak. Saat ini gerimis sudah berhenti dan tak lagi terdengar suara petir. Langit memang tetap gelap, tapi bukan karena akan ada badai tapi karena memang sudah waktunya matahari balik kandang, eh keliru, sudah waktunya matahari kerja di wilayah lain di bumi ini. Kata siapa matahari punya waktu untuk beristirahat? Tidak. Dan bahkan cuaca yang tidak bisa ditebak ini pun membuktikan bahwa Tuhan memang misterius. Terkadang tidak bisa ditebak.

Jadi jika ada yang teriak: "Saya enggak akan pernah ngerti Kamu, Tuhan!", itu bisa dimengerti. Karena jika Tuhan betul-betul bisa dimengerti, Dia bukan lagi Tuhan. Kalau menurut saya karena Dia misterius itu makanya Dia adalah Tuhan.

Kenapa langit kok biru? Kenapa kok hidung bule lebih mancung dari hidungku? Kenapa rumput warnanya ijo, kok bukan merah? Kenapa manusia bisa bernafas tanpa berpikir (padahal proses-nya bisa sangat ruwet di dalam)? Kenapa bumi berputar tanpa kita jatuh dan merasakannya? Kenapa bentuk tubuh laki-laki beda dengan perempuan?

Misterius, memang. Tapi justru karena itu saya percaya padaNya.

Saturday, 30 January 2010
4:48 pm

Tuesday, August 05, 2008

cinta yang tertolak

Prinsip saya yang pertama: kalau bisa dikerjakan sendiri, kenapa harus merepotkan orang lain?
Prinsip saya yang kedua: kalau
lebih beres dikerjakan sendiri, kenapa harus menyuruh orang lain?

Celakanya, kedua prinsip ini suka bikin saya kerepotan sendiri. Hasilnya, saya terlalu sibuk dengan hal-hal yang nggak perlu karena saya terlalu sombong untuk minta bantuan orang lain.


Beberapa waktu belakangan ini, ada saja masalah di depan mata. Yang satu belum selesai, yang lain sudah menghadang. Sambil tertawa terbahak-bahak,
mr. problem berdiri sambil mengangkangkan kaki dan meleceh-lecehkan saya. Dan saya masih saja berkata tidak pada semua yang menawarkan bantuan.

Hasilnya?
Saya stress sendiri.

Saya putus asa sendiri.

Saya merasa tidak bahagia sendiri.

Padahal itu semua karena saya!

Sampai suatu malam hubby bilang gini ke saya.

"People around you love you very much, but you always refuse their love."


Kepala saya seperti terbentur sesuatu. Prinsip-prinsip saya telah mengikat saya begitu rupa sehingga saya tidak menyadari bahwa orang-orang menawarkan bantuan dan pertolongan bukan karena mereka merasa superior, tapi karena mereka mencintai saya. Lebih celakanya lagi, prinsip itu pulalah yang sudah membungkam mulut saya untuk berseru minta pertolongan kepada Tuhan. Saya TERLALU SOMBONG untuk minta tolong.

Rasanya itu yang mengakibatkan keresahan dan kegelisahan saya beberapa waktu terakhir ini. Jawabannya cuma satu.

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia
yang memberi kekuatan kepadaku."

Filipi 4:13

Tuesday, 5 August 2008
11:59 am