Showing posts with label spiritual experience. Show all posts
Showing posts with label spiritual experience. Show all posts

Monday, April 23, 2012

hidup adalah mencari

Seumur hidup, barangkali tujuan utama makhluk yang bernama manusia adalah mencari. Mencari jati diri, mencari makna, mencari kebenaran. Ia bisa-bisa saja berkata bahwa ia sudah tak lagi mencari. Ujung pencariannya sudah ketemu. Akhir pencariannya sudah kelihatan. Tapi selama ia masih bernafas dan menjejakkan kaki di bumi ini, sesungguhnya ia masih terus mencari.

Aku selalu berpikir bahwa cara manusia mencari kebenaran tidak sama satu dengan yang lain. Seperti sudah kubilang berkali-kali, jika ada seratus ribu manusia di muka bumi ini, maka ada seratus ribu cara untuk mencari kebenaran. Makanya, aku tak setuju denganmu saat kamu bilang bahwa kebenaran hanya bisa didapat di dalam tembok gereja. Maaf jika sudah lama aku melihat bahwa tembok gereja dibangun semakin tinggi, hingga ada satu momentum orang-orang mengira gereja hanya untuk orang-orang terpilih. Orang-orang khusus. Orang-orang spesial. Orang-orang tertentu. Yang harum baunya. Yang mahal asesorisnya. Yang terhormat busananya. Tidak boleh terlalu kumuh. Tidak boleh terlalu seksi. Tidak boleh terlihat berandalan. Intinya: hanya untuk orang-orang tertentu saja.

Tapi menurutmu sendiri, siapa Tuhan? Katamu, Tuhan adalah pencipta alam semesta ini. Kutanya, apakah jawaban itu kamu temukan sendiri? Kamu bilang tidak. Kamu bilang guru agamamu yang bilang begitu. Maka kutanya lagi, jadi siapa Tuhan menurutmu? Kemudian jawabmu, Tuhan adalah Yesus, nabi yang menyelamatkan manusia-manusia berdosa di dunia ini diatas kayu salib. Kutanya, darimana jawaban itu kamu dapatkan? Kamu jawab lagi dari pendeta di gereja. Sudah kubilang, kataku sewot, kalau menurutmu sendiri bagaimana? Lantas satu per satu jawaban meluncur dari mulutmu. Tuhan adalah ini. Tuhan adalah itu. Tuhan itu begini. Tuhan itu begitu. Ini itu, begini begitu. Tapi waktu kutanya lagi, kamu selalu bilang bahwa jawaban itu kamu dapatkan dari orang lain. Jika kamu mengenal Tuhan dari orang lain, lalu untuk apa kamu percaya padaNya? Kamu toh tidak mengenalNya sendiri. Apa kamu yakin Tuhan yang kamu percaya itu sama dengan Tuhan orang-orang yang kamu sebut tadi?

Kemudian kamu diam. Entah jengkel atau putus asa mendengarku bertanya tak henti-henti. Barangkali hanya karena tidak ingin bertengkar saja, kamu tidak menutup mulutku dengan apapun yang bisa tanganmu jangkau.

Tapi kamu harus tahu, bahwa aku sedang mencari sendiri jawaban tentang Tuhan seumur hidupku. Aku tak mau mendefinisikan Tuhan berdasarkan apa yang orang lain katakan padaku. Karena makna Tuhan bagi hidup mereka barangkali dapat berbeda dengan makna Tuhan bagi hidupku. Apakah ada yang salah dengan itu? Apakah ada yang salah jika aku mulai mencari Tuhan dari luar tembok gereja? Tembok yang menurutku sudah menjulang terlalu tinggi sehingga orang-orang yang ada di dalamnya telanjur hidup enak sehingga enggan melangkahkan kaki keluar dan melihat ada apa saja yang terjadi di luar tembok gereja yang tinggi itu. Apakah ada yang salah jika aku mulai mencari Tuhan dengan cara-cara yang tidak biasa kamu lakukan? Dengan mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani satu ke Kebaktian Kebangunan Rohani lainnya, misalnya? Dengan membaca buku rohani satu ke buku rohani lainnya, misalnya? Tak dapatkah aku mencari Tuhan di tempat-tempat yang menurutmu gelap dan suram, yang kamu masukkan dalam kotak sekularisme? Hanya karena aku percaya Tuhan dapat hadir dengan berbagai bentuk?

Ada yang berbeda tatkala aku mencari sendiri makna Tuhan untuk hidupku. Aku merasa lebih hidup karena aku selalu bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang barangkali terdengar bodoh dan konyol, tapi ketika kutemukan jawabannya, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi lebih sederhana. Dan aku makin menyadari bahwa hidup tak serumit yang aku kira sebelum kuajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku juga merasa lebih bergairah, karena aku tak melulu ikut kata orang lain untuk mencari makna Tuhan - hanya supaya aku dapat segera punya jawaban yang memuaskan kuping saja.

Sampai hari ini aku masih terus mencari. Dan menurutku, Tuhan sesungguhnya tidak rumit. Aku lah yang rumit. Aku lah yang lebih sering mengada-adakan sesuatu yang tidak ada dan meniadakan sesuatu yang sesungguhnya ada. Aku juga pelan-pelan memahami bahwa yang sering kamu namakan berkat tidak melulu soal materi. Tidak melulu soal uang, kesuksesan dan kebahagiaan menurut ukuran manusia pada umumnya. Pada sebuah masalah, pada sebuah kisah sedih, pada sebuah tragedi, ada sesuatu yang sesungguhnya dapat membuat kamu lebih merasakan saripati hidup. Sehingga ketika kamu berdoa, kamu tak lagi menunggu sesuatu yang menurutmu baik akan terjadi. Kamu hanya berdoa karena hatimu ingin berdoa. Sehingga ketika kamu dirundung masalah tak henti, kamu akan berhenti menunggu kapan akhir bahagia itu tiba seperti dongeng Cinderella. Sehingga ketika kamu melihat kemiskinan, kamu tak lagi melihat bahwa itu sebuah kesalahan, sebuah dosa yang harus ditebus supaya si miskin dapat rutin makan di restoran mewah atau sering minum kopi di cafe bersama teman-temannya yang berjas atau nonton tivi yang isinya sebenarnya kebanyakan sampah.

Dan kemudian kamu juga akan mengerti bahwa Tuhan lebih besar dari cinta, lebih besar dari seluruh keadilan di dunia ini, bahkan jika dijadikan satu sekalipun, dan bahwa Tuhan lebih besar dari sebutan apapun yang sudah manusia ciptakan untuk menamaiNya, sebab apapun sebutannya, terlebih penting apa yang ada di hatimu, dan untuk apa kamu menyebut demikian.

Sampai mati nanti aku pasti akan terus mencari. Tapi yang kucari bukan Tuhan, karena Ia memberi diri untuk ditemukan dalam berbagai bentuk. Yang kucari adalah pengenalanku akan Ia yang lebih dulu mengenalku. Dan Alkitab hanyalah salah satu cara.


Monday, 23 April 2012
12.55 pm

PS: Gambar diambil dari sini

Thursday, July 10, 2008

balada school of rock

Kemarin malam, saya panik. Apa pasal?

Di kantor saya, lagi ada acara untuk mahasiswa selama liburan. Acaranya berlangsung selama empat hari, dan hari ini adalah hari ketiga. Judul acara itu adalah Rally (Career) Movie. Kalau dilihat dari judulnya pasti sudah bisa tertebak kalau acaranya itu ya NONTON FILM! School of Rock adalah salah satu film yang akan ditonton. Dan film ini akan ditonton hari ini. Total film yang ditonton selama empat hari itu ya empat judul film. Satu hari satu film. Rencana awal saya adalah membeli keempat film itu, sekaligus menjadikannya properti kantor yang bisa ditonton kapan saja. Tapi waktu beli, yang ada cuma dua judul. Sayang sekali, School of Rock nggak termasuk yang ada di toko. Mungkin karena film ini sudah nggak terlalu baru, jadi toko juga malas nyetok. Dasar saya itu suka melakukan sesuatu itu mepet-mepet. Pikir saya, ntar aja kalo sudah dekat harinya akan saya pinjam di rental langganan saya; filmnya udah lama ini masa ada yang pinjam.

Oke.. sampai disini paham ya? Karena habis ini saya akan ceritakan sesuatu yang kelihatannya nggak ada hubungannya sama sekali dengan cerita saya barusan.

Dua hari yang lalu, saya ditelpon teman gereja. Dia meminta (agak maksa juga sih) saya untuk jadi liturgos di kebaktian pemuda minggu ini. Hah? Minggu ini? Iya! Minggu ini! Mereka bukannya tanpa persiapan atau suka ndadak-ndadak kayak saya, tapi karena liturgos yang terjadwal tiba-tiba dikirim kantornya ke luar kota pada hari itu. Meskipun saya agak keberatan *ya iya lah keberatan, persiapannya cuma berapa hari bo??*, saya iyakan juga permintaan mereka. Yang berarti, saya harus secepat kilat berpikir tentang lagu-lagu dan susunan kata-kata yang harus saya ucapkan minggu nanti dihadapan jemaat. Bukan sesuatu yang main-main ini.

Sampai disini masih paham kan? Nggak ada hubungannya? Kayaknya nggak ada... tapi ada!

Kemarin malam, saya latihan untuk kebaktian minggu ini. Sebelum berangkat latihan, saya mampir ke rental langganan saya untuk pinjam School of Rock itu. Sesampainya di rental langganan saya, mbak-nya bilang kalau film itu lagi keluar, ada yang pinjam. Shock-lah saya! Lha, terus besok anak-anak nonton apa kalau film-nya nggak ada? Ya sudahlah, saya keluar sambil menggondol judul film untuk hari terakhir *sebelum keduluan orang*. Was-was juga hati ini, tapi saya pikir di gereja nanti saya kan bakal ketemu anak-anak Ubaya, kali aja ada yang punya atau pinjam di rental langganan mereka yang dekat Ubaya. Di gereja, waktu latihan saya kenalan dengan pengiringnya, seorang cewek, pemain piano yang bisa main sambil merem sementara jari-jarinya bergerak lincah diatas tuts, dan ternyata masih SMA! Tapi waktu jam sudah hampir menunjukkan pukul sembilan malam, saya mulai panik dan berkoar-koar. "Aduh... aku harus cepet pulang ini... aku belom dapet film buat besok...." Sang pianis bertanya: "Film apa ce?" "School of Rock.""Kayaknya aku punya... eh tapi takcari dulu ya.. kayaknya di dus-dus." "Iya deh tolong cariin dong... abis ini aku juga mo ke rental lainnya." Sepulang dari itu, saya ngebut isi bensin terus pergi ke rental yang bukan langganan saya dann... film itu TIDAK ADA. Wah pusing tujuh keliling saya. Tapi parttimer saya dengan kalemnya bilang, kalo memang nggak ada filmnya ya film untuk hari keempat dulu aja diputar, habis perkara. Malam itu juga, saya SMS sang pianis, dan ternyata dia memang PUNYA filmnya. Rumahnya?? DEKET banget!!! Lima menit naek motor juga nyampe.

Setelah DVD School of Rock itu di tangan saya, saya mikir. Kenapa bisa kayak serendipiti begini ya? Seandainya saya nggak mau jadi liturgos dadakan minggu ini, saya nggak akan kenalan dengan sang pianis ini. Dan kalau saya nggak kenalan dengan sang pianis ini, belum tentu saya dapat VCD/DVD School of Rock malam itu. Yang bikin saya geleng-geleng juga, memangnya sang pianis ini waktu dulu beli DVD School of Rock tahu kalau nantinya akan ada yang sangat membutuhkannya seperti saya? Hal se-complicated ini mustahil kalau tidak ada yang mengatur. Siapa? Ya tentu saja Dia yang Di Atas. Yang memperhatikan seluruh aktifitas manusia di muka bumi ini. Yang tahu satu persatu karakter-karakter dan sifat-sifatnya, sehingga bisa mengatur hal-hal serumit meskipun terlihat sepele seperti proses mendapatkan pinjaman DVD School of Rock tadi. Dia yang lebih tahu apa yang akan terjadi di masa depan, yang rancangan-rancanganNya jauh melebihi apa yang kita pikirkan.

Saya tertegun. Kalau hal yang rumit tapi kelihatan sepele ini saja Dia pikirkan, mengapa saya harus khawatir? Mengapa harus takut menghadapi masalah? Dia toh akan selalu ada. Dan Dia mengerti apa yang saya hadapi. Dia cuma ingin saya... PERCAYA. Simple, yet difficult. To do. Tapi saya mau. Kalau bukan Dia, siapa lagi yang harus saya percaya?

Thursday, 10 July 2008
9:38 am

Thursday, June 12, 2008

sebuah percakapan



Suatu hari, waktu saya lagi nge-
blue dan sok melankolis sambil mengasihani diri sendiri, Tuhan mampir. Jangan bayangkan Beliau pake jubah putih ya... karena waktu itu Beliau lagi pake kaos oblong biasa dan celana batik. Hah?? Batik??? Iya! Nggak nyangka kan?? Kemudian terjadilah percakapan itu:

Jessie (J): Tumben pake celana batik, Tuhan? Biasanya yang saya lihat di buku-buku bergambar dan yang dikatakan orang-orang yang mengaku ketemu dengan Tuhan, Tuhan selalu pake jubah putih yang bercahaya dan bikin silau.
Tuhan (T): Bosen pake jubah putih melulu. Memangnya Saya tidak punya pakaian lain? Dan bukannya di Surabaya lagi nge-trend batik-batikan? Saya juga mengikuti trend.

J: Apa kabar, Tuhan?

T: Ah... tidak penting bagaimana kabar Saya. Kamu sendiri, sedang apa? Kok wajahmu kusut betul?
J: Lagi merenungi nasib, Tuhan.

T: Memangnya nasibmu kurang baik?

J: Enggak juga sih...

T: Nah terus?

J: Saya iri aja, Tuhan sama mereka yang kayaknya nggak pernah punya kesulitan hidup. Mau apa-apa kok gampang. Mau ke luar negeri, duitnya ada. Mau beli rumah lagi, duitnya ada. Mau beli mobil baru, duitnya ada. Lha saya? Wah ya mana mungkin... rumah yang sekarang aja masih nyicil, Tuhan, masa mau beli mobil baru...
T: Kamu lagi pengen mobil tho?

J: (
dengan semangat) Tuhan mau kasih ya?? Wah, terima kasih lho, Tuhan! Saya pengennya Toyota Yaris, Tuhan! Tapi kalo nggak boleh, Honda Jazz juga nggak papa! Nggak boleh juga?? KIA Picanto deh Tuhan... kan lebih murah ya kalo ga salah?
T: Memangnya kamu sudah siap punya mobil?
J: Apa yang perlu disiapkan, Tuhan? Kalo sudah punya mobil, saya akan belajar sampai bisa!

T: Tuh kan.. kamu sendiri belum bisa nyetir. Belajar nyetir dulu!
J: Ya saya pasti akan belajar nyetir kalo sudah ada mobil sendiri!

T: Ya sekarang kan kamu sudah ada mobil, apa yang sudah kamu lakukan dengan mobil itu?

J: (
bingung) Ehm... Suzuki Karimun saya yang biru itu? Memangnya apa yang harus dilakukan?
T: Ya kalau misalnya mobil itu lagi rewel... lampu dim-nya mati, temperatur-nya naik terus kalau lagi dipakai, terus kamu apakan?
J: Biasanya
hubby yang ngurus, Tuhan. Saya mah nggak tahu urusan mobil kayak begitu...
T: Persis! Kalau kamu nggak tahu gimana cara ngurusnya, kenapa minta mobil?
J: E.. a.. i.. u.. o...

T: (
lebih semangat) Kamu ingat perumpamaan talenta? Kenapa ada yang Saya beri lima talenta, ada yang Saya beri dua talenta, ada yang Saya beri satu talenta? Karena Saya tahu siapa yang lebih siap diberi lima talenta. Saya tahu, dia akan bertanggung jawab akan lima talenta itu dan ketika kembali pada Saya, lima talenta itu sudah berbuah lima lagi! Kenapa ada yang Saya beri satu talenta? Karena Saya tahu, dia hanya akan menyimpannya saja dan tidak digunakan! Satu saja dia tidak bisa mempertanggung jawabkan apalagi diberi lima!
J: Jadi ini tentang kesiapan?

T: Betul! Kalau menurut Saya, kamu sudah siap punya mobil baru, ya pasti tanpa banyak cingcong Saya akan kasi! Kalau menurut Saya, kamu sudah siap punya uang banyak sekaligus mengaturnya dengan baik terus mau pergi ke luar negeri, ya Saya pasti akan kasi! Lha memangnya kamu sudah siap? Jangan-jangan nanti kalau Saya kasi uang banyak, kamu nggak bisa mengelola dengan baik dan habis dalam waktu singkat! Jangan-jangan nanti kalau Saya kasi mobil baru, tidak sampai setahun, mobil itu sudah kumal dan tak terawat!

J: (
diam saja)
T: Lagi-lagi persoalannya tentang rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Sulit sekali membuat kalian para manusia bersyukur atas apa yang sudah dipunyai. Kamu sekarang sudah punya rumah, apa kamu sadar, ada banyak orang diluar sana tidak punya rumah yang layak untuk ditinggali? Setiap saat khawatir akan ambruk. Kalau hujan tetap basah, kalau panas juga kepanasan. Kamu minta mobil, apa kamu belum juga sadar, kalau bumi ini sudah sedemikian panas dan kotornya, tidak perlu lagi tambahan polusi dari asap mobilmu? Belum lagi bahan bakar yang akan kamu pakai? Kalian keruk habis-habisan alam ini tapi tidak berpikir tentang bagaimana merawatnya, bagaimana nanti nasib anak cucu kalian!

J: Saya... tidak berpikir sejauh itu...
T: Memang! Kalau semua manusia berpikir jauh ke depan, bumi tidak akan jadi begini! Kalau semua manusia berpikir positif dan selalu bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki dan bukannya malah iri melihat orang lain, bumi akan jadi tempat yang menyenangkan untuk ditinggali! Tapi bumi jadi begini buruk dan manusia mulai resah untuk tinggal di bumi, salah siapa? Salah Saya, pasti!
Wong kalau ada orang mau bercerai aja ngomongnya Semua ini kehendak Tuhan. Salah Saya lagi!
J: (
malu) Iya... kadang-kadang saya, eh, kami menyalahkan Tuhan atas semua keburukan yang terjadi...
T: Padahal siapa yang buat itu semua? Saya kasi bumi yang indah, Saya suruh pelihara, dipelihara nggak?

J: Nggak...

T: Nah!

Sampai disini percakapan berhenti. Tuhan membiarkan saya merenung sejenak sambil senyum-senyum. Kemudian pamit. Dia bilang, Dia harus mampir-mampir lagi ke tempat lain, tapi saya tidak perlu khawatir, karena Dia tetap ada dalam hati saya, kalau saya mengijinkanNya.

Saya mengijinkanNya. Biarpun kadang-kadang saya sok melankolis, saya sok nge-blue, tapi Dia nggak pernah meninggalkan hati saya biarpun saya tutup kuping tidak mau mendengarkan. Dan Dia bukan Tuhan yang kuno, Dia gaul. Tahu nggak? Tuhan dengan kaos oblong dan celana batik??

Thursday, 12 June 2008
9:10 am