Showing posts with label memories. Show all posts
Showing posts with label memories. Show all posts

Saturday, June 30, 2012

kotak telepon umum


Pada sebuah kotak telepon umum yang kotor dan kumuh, ada sebuah memori yang tak bisa diberi harga. Memori yang barangkali akan selalu membisikkan sesuatu bahwa cara manusia saling berhubungan senantiasa mengalami evolusi. Mengingatkanku bahwa dahulu untuk berkomunikasi jarak jauh, ada usaha keras yang harus dilakukan. Ada uang receh yang harus dikumpulkan. Ada langkah yang harus diadakan. Ada keegoisan yang harus disingkirkan. Sebab kotak telepon umum itu tentu saja milik umum, sehingga aku harus tahu diri bahwa aku bukan satu-satunya pengguna. Jadi, saat kulihat kotak telepon umum di pinggir jalan pada bulan keenam tahun dua ribu dua belas yang kotor, kumuh, dan tak berfungsi lagi, ingatanku kembali ke masa lalu.

Aku ingat betapa puasnya aku semasa SD jika jam istirahat bisa bermain bola bekel di depan kelas atau lompat tali di halaman sekolah. Tak pernah kubayangkan aku rela menukar itu semua dengan apa yang dimiliki oleh anak-anak SD jaman sekarang. Aku ingat aku merasa sangat keren jika bermain benteng-bentengan dan akulah yang berjasa menaklukkan benteng lawan. Aku ingat betapa menggebu-gebunya aku dan kawan-kawanku mengunyah permen karet Yosan hanya karena kami penasaran setengah hidup apakah kami akan menemukan huruf N di dalam bungkus yang kami buka. Aku sudah punya belasan YOSA tanpa N. Padahal 1 N saja aku temukan, aku bisa dapat hadiah sepeda. Aku curiga perusahaan permen karet Yosan akhirnya barangkali tutup karena mereka sudah menipu kami, anak-anak kecil yang masih lugu ini. Jangan kamu kira anak-anak mudah dikibulin. Dosamu besar dan balasannya tak terkira jika kamu berani membohongi anak-anak seantero nusantara secara publik.

Aku ingat semasa SMA, tak ada seorang pun di sekolah kami yang punya ponsel, tapi kami baik-baik saja. Gelak tawa dan keceriaan masih mewarnai hidup kami. Menggerutu tentang guru tertentu. Merencanakan bolos di pelajaran tertentu. Menggosipkan kakak-kakak kelas tertentu. Mentertawakan teman-teman tertentu. Semuanya kami lakukan dalam ribut. Dengan mulut kami. Bukan dengan jari kami.

Aku tidak malu juga untuk bilang bahwa dulu aku begitu kagum pada bapak presiden Soeharto, saat beliau muncul di layar tivi menemui petani dalam acara desa ke desa. Waktu itu kupikir, hebat betul seorang presiden mau turun ke sawah menemui petani. Sungguh berbeda dengan presiden sekarang yang setiap kali muncul di tivi, makin tua dan lelah saja raut wajahnya. Barangkali karena kelelahan dan kecapekan menanggung beban seluruh rakyat maka ia cuma bisa ngomong prihatin. Memprihatinkan rakyatnya dan memprihatinkan dirinya sendiri. Memang lugu saat kurenungkan saat ini betapa anak-anak sepertiku waktu itu bisa jatuh cinta pada pencitraan yang diciptakan oleh beberapa orang. Tapi bukankah anak-anak lebih berpikir positif daripada orang dewasa? Bukankah itu yang membuat masa kanak-kanak jadi istimewa? Mereka kritis tapi positif. Orang dewasa boleh kritis, tapi cenderung negatif.

Dulu, tiap kali aku melakukan kesalahan bodoh atau ketololan yang menyebabkan amukan orang tua atau guru, aku selalu merasa malu. Aku selalu merasa ingin tenggelam sampai ke dalam bumi saja agar tak perlu bertemu siapa-siapa. Namun toh ketika teringat kembali, semua kenangan-kenangan konyol itu selalu berhasil membuatku tertawa geli. Barangkali seperti sebuah pepatah pernah mengatakan: lakukanlah hal-hal tolol semasa mudamu, agar di masa tuamu nanti, kamu punya sesuatu yang bisa kamu tertawakan. Maka aku bersyukur betapa banyak kebodohan yang pernah kubuat, dan jika kuingat-ingat aku justru tak pernah menyesalinya, yang ada hanya kegelian yang kubagikan bersama teman-teman dan keluargaku.

Oleh sebab itu, jangan salahkan aku jika aku tiba-tiba teringat bahwa ada satu waktu, aku sudah sangat bahagia jika dibelikan Chiclets, yang hingga saat ini belum pernah kutemui yang rasa dan bentuknya serupa. Atau teringat betapa asyiknya mengunyah krip-krip, makanan kecil tak sehat tapi selalu kubeli karena murah harganya, enak rasanya, dan entah dibuat dari apa. Berbeda dengan krip-krip jaman sekarang. Sudah mahal, tak sama pula dengan memori masa kecil. Atau mengenang betapa sebuah kotak telepon umum menjadi saksi hatinya dan hatiku yang tak sempat bertaut.

Ah. Memori memang mahal harganya. Keliru. Memori tidak mahal, ia tak terbeli. Sepintar apapun manusia memproduksi tiruan barang-barang masa lalu, memori tetap lah memori. Tak dapat dibeli, tak bisa pula ditukar. Sheila on 7 lagi-lagi benar saat mereka menyanyi: bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan.

Kotak telepon umum itu, kulewati lagi pagi ini. Masih tegak berdiri meski renta. Masih kokoh berdiri meski kotor. Masih angkuh menatap jalan meski disfungsi. Barangkali karena menyadari, ia ada disitu untuk mengingatkan kami, bahwa hari ini ada karena masa lalu. Oleh sebab itu, tak sepantasnya masa lalu dilupakan begitu saja.


Saturday, 30 June 2012
1:30 am

Friday, October 08, 2010

love being me?

Blog saya penuh d engan sarang laba-laba, kata Alice dan adik saya. Kalau kata saya selain sarang laba-laba juga ada rumput il alang tinggi-tinggi terus ada bunyi jangkrik juga: krik krik krik, terus bunyi serigala dari kejauhan: hauuuuuu... Tapi plis, pocong, kuntilanak dan sundelbolong silahkan jauh-jauh dari blog saya.

Lagi-lagi alasan saya klasik n an membosankan banget kenapa kok tega membiarkan blog ini begitu saja. Ada apa? Ada apa? Biasa aja. Cuma pekerjaan yang rasanya kok nggak kasi kesempatan buat nge-blog sej enak gitu lho. Cari lagi deh kambing hitam. Paling asoy dah kalau udah ngomongin kambing hitam. Diri sendiri bisa diakali nggak kelihatan salah. Tapi ini beneran. Dan kalau sudah sampai di rumah, waktu saya dituntut anak saya yang sudah mulai pandai mencari cara untuk menarik perhatian

(Dan baru dua paragraf saya tulis, tiba-tiba ada deadline yang harus diselesaikan segera!)

Anyway, akhirnya saya bisa melanjutkan tulisan ini di rumah. Semoga tidak ada yang tiba-tiba telepon atau kirim email minta data atau sesuatu yang harus segera dikirimkan hari ini juga (plis plis plisss).

Saya mau ngomong apa yah? Beginilah kalau lagi enak-enaknya menulis terus tiba-tiba ada sesuatu yang menginterupsi. Ehh.. ehmm.. uhh.. okay, jadi begini. Ini sesuai judul ya.

Beberapa minggu terakhir ini saya dihantui perasaan bahwa saya bukan orang yang keren, tidak menarik dan biasa aja. Hobi saya standar: baca, tulis, ngopi dan maen wedding dash. Apa istimewanya? Saya pengen punya hobi travelling kayak Ria. Tapi kenyataannya bahkan membaca buku: Traveller's Tale: Belok Kanan, Barcelona! tidak menggugah keinginan saya untuk berjalan-jalan kemanapun yang saya pengen. Saya lebih senang menetap di suatu tempat yang eksotis, nyaman dan (kadang-kadang) dimana orang-orangnya tidak saya kenal. Bali dan Jogja adalah dua tempat yang saya pengen banget untuk tinggali. Dan for your information, di kedua kota itu enggak ada keluarga saya yang tinggal disana. Seandainya saya kepengen jalan-jalan or liburan or vacation, saya lebih senang pergi ke tempat-tempat seperti Disneyland, Movie World atau kalau di Melbourne, tempat kayak Royal Botanical Garden dan di luar kota itu: Sovereign Hill, dengan bau masa lalu yang kental. But that's it. Selebihnya saya lebih suka wisata kuliner dan tempat-tempat favorit wisata kuliner saya tentu di Indonesia. Lidah saya cinta mati sama makanan Indonesia. Waktu tinggal di Oz pun saya lebih sering masuk ke resto makanan Indo daripada model Subway atau McD atau Burger King. Apa boleh buat.

Selain itu, saya juga pengen punya hobi kayak Fanda, yang selalu bisa meluangkan waktu untuk fitness dan hunting buku-buku yang keren. Dari dulu saya kepengen ikutan fitness. Pernah saya bergabung dalam klub dan saya cuma bisa bertahan satu bulan, karena setiap kali fitness saya bawaannya mau makan lebih banyak dari porsi saya biasanya. Jadi untuk apa saya fitness? Plus, setelah punya anak, entah gimana sulit sekali squezze fitness time diantara waktu-waktu saya bekerja di kantor, urus anak di rumah dan pelayanan di gereja. Padahal, sumprit, nih perut sudah waktunya diurusin supaya nggak nampung makanan aja bisanya, tapi juga harus work out supaya burn fat (ceilah).

Hobi lain yang saya pengen adalah hobinya Aries, yang tiap minggunya hampir selalu ikutan hip hop dance dan pernah sekali saya tonton videonya saya mbathin: ih keren ya bisa ikutan begituan. Tapi lagi-lagi saya juga kesulitan bagi waktu untuk ikutan model beginian. Lha wong mau fitness aje susyeh minta ampun, apalagi ikutan hip hop dance?

Satu lagi hobi keren menurut saya: menikmati musik jazz. Ehh, saya nggak tahu kenapa kok penikmat musik jazz itu orang yang keren menurut saya. Saya sendiri jujur saja enggak terlalu bisa menikmati musik jazz. Jangankan musik jazz, musik klasik pun saya enggak terlalu doyan. Dulu waktu lagi hamil katanya kan baby-nya disuruh dengerin musik klasik, mommy-nya juga, biar rileks. Katanya lho. Tapi yang ada tiap kali saya dengerin musik klasik, hati saya bergetar-getar protes dan saya jadi gelisah. Karena saya gelisah, nyetrum juga tuh ke baby. Akhirnya saya jadi jarang banget dengerin musik klasik semasa hamil. Musik yang paling saya nikmati tentu saja musik-nya Project Pop, soundtrack-nya Disney (mulai dari film kartun yang jadul itu sampai High School Musical dan Up) dan lagu-lagunya Norah Jones.

Saya tahu setelah membaca semuanya ini pasti ada yang protes, mengapa kekerenan itu dinilai dari hobi? Lha terus dari apa? Hehehe. Sesungguhnya bener saya memang kepengen kelihatan keren karena punya hobi-hobi macam yang saya sebut diatas. Tapi apakah masih bisa disebut keren kalau kemudian tidak menjadi diri sendiri? Hobi saya baca, dan saya pernah berusaha untuk kelihatan keren dengan mencoba membaca biografi-biografi macam Bung Karno, Nelson Mandel, alhasil saya enggak menikmatinya tuh. Satu-satunya biografi yang berhasil saya lalap habis hanyalah biografinya The Fuhrer, si Hitler itu yang ditulis oleh William L. Shirer, seorang jurnalis Amerika yang berada di tengah-tengah perang yang dicetuskan Jerman berlangsung. Yang lain enggak pernah habis. Payah memang.

Semakin saya mencoba meniru orang lain yang saya nilai keren, makin jauhlah saya menjadi diri saya sendiri dan terasa enggak terasa, semakin tidak nyamanlah saya. Iya dong, apa ada yang merasa nyaman jika tidak menjadi diri sendiri? Karena itu berangsur-angsur saya mencoba kembali menikmati hobi-hobi saya yang membuat saya berpikir saya nggak keren. Dan hasilnya, hidup jadi lebih mudah. Ini bener. Dan hidup yang lebih mudah bikin saya nyaman. Ketika saya nyaman, saya bisa melihat positifnya hidup. Bahwa hidup masing-masing manusia sudah keren dengan cara yang berbeda-beda dari sononya tanpa perlu diubah-ubah sedemikian rupa.

Banyak yang iri dengan Agnes Monica. Dengan kecantikannya. Dengan suaranya yang bagus. Dengan popularitasnya. Tapi pernahkah ada yang iri dengan kerja kerasnya, latihan-latihan vokalnya? Bagaimana dia membangun karirnya sejak kecil? Bagaimana dengan popularitasnya, apapun yang ia lakukan selalu bisa memancing pro dan kontra? Ibaratnya, pandangan masyarakat akan berbeda jika saya yang nendang kucing di jalan dan Agnes Monica yang nendang kucing. Dan barangkali dengan kecantikan dan popularitasnya dia bisa dibuntuti dan digangguin orang-orang aneh? Ah.

Tapi begitulah. Semoga tidak ada orang yang kayak saya, atau lebih parah lagi jadi copycat orang yang terkenal. Menjadi diri sendiri jauh lebih keren daripada meniru.

Saturday, 9 October 2010
7:55 am

PS: gambar diambil dari sini, sini, sini, sini, sini, dan sini.

Thursday, June 24, 2010

ayah, seekor anak kucing dan manusia-manusia sok tahu

Seekor anak kucing mati di pinggir jalan. Entah sepeda motor atau kendaraan roda empat menyerempetnya tanpa ampun sehingga ia tergeletak begitu saja dengan usus memburai. Setiap orang yang lewat mengernyitkan hidungnya jijik. Ada juga yang langsung lari menghindari mayat binatang malang itu. Sampai seorang perempuan muda lewat dan mendekatinya.
Ia menatap anak kucing itu lama-lama, seperti tidak peduli dengan bau yang sudah menyengat menghampiri cuping hidungnya. Kemudian ia menangis. Mulanya hanya satu-dua tetes lewat diatas pipinya, tapi kemudian ia sesenggukan. Orang-orang mulai heran melihat seorang perempuan muda berdiri dekat anak kucing yang mati sambil menangis. Mereka mengira anak kucing ini peliharaan perempuan muda itu.

Tapi mereka salah.

Anak kucing dan perempuan muda tadi tidak ada hubungannya sama sekali. Apakah jika tidak ada hubungan maka tidak ada urusan dengan emosi? Belum tentu. Perempuan muda tadi contohnya. Ia masih disitu. Menangis sesenggukan sambil terus menatap si anak kucing - tidak peduli dengan orang-orang yang lewat. Dan ketika menit demi menit berlalu dan perempuan itu masih saja disitu, orang-orang mulai berpikir dia tidak waras karena menangisi anak kucing yang mati di pinggir jalan. Toh masih banyak anak kucing lainnya. Yang butuh tempat perlindungan dan makanan. Yang tidak berwarna cokelat kotor seperti yang mati tadi.

Namun itu toh yang hanya berhasil dilihat oleh mata manusia. Dalam hati perempuan muda itu, siapa yang tahu?

Perempuan itu tidak menangisi si anak kucing yang mati. Ia hanya teringat masa lalu. Ketika anak kucingnya terserempet mobil ayahnya hingga mati dan lehernya hampir terputus. Ia ingat betapa sedihnya hatinya melihat anak kucingnya mati. Itu terjadi ketika ia masih duduk di bangku SMP. Suram sekali hari itu.

Tapi lagi-lagi, ia sesenggukan bukan hanya karena teringat anak kucingnya yang mati bertahun-tahun yang lalu. Ia sesenggukan karena mengingat masa-masa yang sudah lalu itu. Ia teringat pergi ke pantai dengan ayahnya. Ia teringat membuat panik ayahnya saat belajar mengendarai sepeda motor.
Ia teringat benda-benda yang dibelikan ayah tanpa sepengetahuan ibunya. Ia teringat dibelikan soto ayam belakang gereja oleh ayahnya sepulang sekolah atau nasi gudeg malam-malam selepas pulang dari kursus. Ia teringat kumis ayahnya selalu menggoda dan menggelitik pipinya. Ia teringat ayahnya. 

Dan karena ia teringat ayahnya itu pula ia sesenggukan. Hari-hari dimana ia tidak mengerti kenapa ayahnya selalu ingin tahu tentang teman-teman lelakinya? Kenapa ayahnya terobsesi memelihara kumis? Kenapa kulit ayahnya hitam padahal saudara-saudaranya tidak? Kenapa ayahnya tahu cerita-cerita dan skandal yang terjadi sampai sudut kota? Kenapa ayahnya tidak pernah terus terang jika ia punya masalah? Dan kenapa ayahnya meninggalkannya sebelum melihat cucunya?

Perempuan itu rindu ayahnya. Sesenggukan di jalan di depan anak kucing yang mati bukan berarti ia menangisi anak kucing itu. Ia hanya tiba-tiba rindu. Dan rindu selain datang tanpa memberitahu, tidak bisa diredam, apalagi diabaikan atau ditunda.

Karena itu lah, ketika ia puas sesenggukan, ia langkahkan kakinya ringan dan mengerti bahwa akan selalu ada manusia-manusia sok tahu, yang walaupun tidak betul-betul tahu apa yang ada dalam pikirannya tapi merasa tahu sambil mulutnya menggumam: “Orang gila.”

Thursday, 24 June 2010
11:01 am

Catatan hari ayah yang terlambat beberapa hari.

PS: Gambal diambil dari sini

Monday, July 14, 2008

nostalgi(l)a ala friendster

Seringkali saya dengar ada percakapan seperti ini.

Seseorang: Halo, apa kabar? Lama nggak ketemu.
Yang lain: Baik. Kamu?
Seseorang: Baik juga. Punya friendster ga? Kalo punya, add saya dong.
Yang lain: Punya. Emailmu apa? Nanti saya add.

Begitulah. Orang kalau punya friendster baru dianggap gaul, kalo nggak punya nanti jawabannya kayak begini: yah, kok nggak punya sih, nggak seru lo, nggak gaul lo. Teman saya di kantor nggak pernah absen buka friendster. Melihat-lihat foto terbaru dari teman-temannya. Komentar-komentar yang diberikan teman-temannya. Upload foto-foto terbarunya.

Sudah beberapa waktu terakhir ini saya nggak aktif buka friendster. Update foto juga nggak. Sampai ada teman saya di Melbourne meninggalkan pesan untuk update foto pun saya masih tidak bergeming. Bukannya apa-apa, tapi karena beberapa waktu yang lalu, komputer saya di kantor tidak bisa buat upload foto. Tiap kali mau upload selalu error. Lama-lama malas saya. Tapi sejak komputer saya di-upgrade, saya mulai buka-buka friendster lagi. Mulanya cuma satu kali, tapi beberapa hari terakhir ini mulai sering berkirim pesan lagi ke teman-teman. Menanyakan kabar mereka. Mulai kasih-kasih comment ke teman yang suka kasih comment juga. Puncaknya hari ini nih....

Saya memang pengen banget ketemu teman-teman lama SMA saya. Hebatnya friendster kan itu tuh. Kamu bisa ketemu sama orang yang tidak terduga sama sekali. Malah dulu ada teman saya yang menemukan sepupunya yang telah lama hilang *ceilah* di friendster. Hari ini, saya ketemu sama teman saya, sekaligus my first crush waktu saya SMP *sst... confidential ini!*. Dan hebatnya lagi, dia masih SINGLE.

Setelah saya kasih comment dan add dia, saya mulai mikir lagi nih. Kalau diperhatikan, entah gimana, orang-orang yang dulu pernah saya taksir dan naksir saya, waktu sekarang ketemu, semuanya masih SINGLE. Yang bikin saya tambah heran, mereka ternyata nggak setampan yang saya kira dulu ya.. Dulu saya merasa mereka tuh orang-orang tampan lho! Ternyata di atas langit masih ada langit, hehehe.

Sekian nostalgi(l)a dari saya... hehehe. Iseng banget sih.


Monday, 14 July 2008
1:16 pm

Tuesday, June 24, 2008

ingat-ingat masa lalu

Kemarin saya menemukan dus yang isinya barang-barang lama saya dan hubby. Sebuah buku nongol diantara tumpukan barang-barang lama itu. Saya ambil, saya bersihkan dari debu terus saya buka. Isinya bikin pikiran saya melanglang buana ke momen-momen pada waktu saya kuliah dulu. Sebagai informasi, saya dulu kuliah di jurusan Sastra Inggris, yang berarti banyak berhubungan dengan buku-buku sastra (termasuk prosa, puisi dan drama), menulis (jurnal, esai, penelitian, metode kuantitatif) dan ngomong-ngomong (dalam bahasa Inggris tentunya!)

Isi buku itu adalah jurnal pada waktu saya mengikuti mata kuliah Menikmati Sastra (Literary Enjoyment). Namanya memang aneh sih, tapi saya menikmati betul tuh kelas itu. Tiap minggu kami disuruh bikin jurnal. Boleh pengalaman pribadi, boleh pengalaman orang lain, boleh juga cuma sekedar imajinasi atau opini. Ini nih jurnal saya waktu itu. Jangan diejek ya... coz saya juga waktu itu kan masih belajar... eh sekarang juga masih belajar sih....

REFLECTION (theme: Nature)
When I was a kid
I just like to bit
I even still remember
My mom made me like amber
But now,
I have had my own way
That in my life row
Nature becomes my reflection
You see me as fire
As I threat you like dragon
And burn away anyone
My hear will be white like snow
Which shall liquid
While you shower me with your love
I'm like a dove
She always wants to fly away
But going home when she is tired
I am as a small river
Eternally flows down the sea of life
But sometimes wants to utter from the rule
Just watch a tree and you watch me
Standing stronger and stronger
Because the sun, the air and the water love it so much
So that it can grow up
I can't live without beloved
My family, my friends, my lover and the most
My Lord's touch
I'm like the wind, from time to time
Can comfort you and endanger you
Even though you dislike me too much
You cannot disown
You need my heart to touch
As you need an angel from heaven
Score: nice and daring

UNSENT (theme: people around you)
Dear Iwan,
It's been two years,
But two thousand years for me
I wonder you're here
Like a flower with her bee
Still remember in my mind
A shape of one face
That two years ago I found
Showered my soul to be fresh
I never had a brave
To entrust you - a piece of my heart
I used to have a love
That I want to be apart
I was too weak to reach you
So I got hurt
When I closed my book of life
That you had filled
Now you're there and I'm here
There's a wall we cannot see
Though every night I'm on my knees for prayer
I know your love doesn't belong to me
Time goes on and on
I reopen my closed book of life
And write a new page for another love
My day of loving you is done
But I learn something to dive
That love is not to puff!
Score: very good

CHRISTIAN WORLD OF MINE (theme: nationalism)
born in Christian environment
made me grow up
as the girl who loves not resentment
that have a faith like a rock
is a must
even though I'm Chinese
i know neither the tradition
nor the basis
i am an Indonesian
i want to be proud of my country
but sometimes they supposed me not
just because i'm yellow (and they're brown)
and have a cross at my necklace
they do not tell on my face
that i'm disliked
but eyes are always honest, right?
i am Christian indeed
they killed my friends
still love is inside of me
they bombed my Lord's house
i forgive them deeply
they discriminate me by disdain
praying for them is the one i thought
is it not enough?
i do those things
not because of you or them!
i do it because
HE told me to do so
what else?
nothing to pause
i only follow my Father's role
Score: wonderful

SKY OF MY SOUL (theme: imagination)
While I'm standing in the middle of the night
And I look at the sky
I want someone by my side
To accompany me to fly
I wish I could feel my stars around me
Comfort me in the darkest night
O, my stars, my twinkle stars
If only you could tell me
How gloomy my bustling city
Though lamps light on the streets
Still, my heart is so lonely
O, my sky, my red sky
Could you tell me why
People wear the masks on their face
And pretend to say the world needs to refresh
O, my star, my falling star
I wish I could fly with you
Leaving this city and its roar
But I know I can't do
Do you know, my falling star?
Help me to find a piece of my soul
You cannot find it in a bar
Neither in my friend's heart, Paul
When you're gone, my falling star
I regain I am still on my place
To go on my life with its war
But something happens inside of me
That my wish might be fulfilled
When I don't stop to try
Gathering piece by piece of my soul
And unite it!
My soul has come back
Score: excellent

A LITTLE GIRL AND HER BROTHER (theme: my past)
I saw a little girl and her brother
They walked hand in hand
Going to church together
They sit on the chair and did not pretend
That they could sing better than their Sunday school teacher
I saw a little girl and her brother
When their mother bought the little brother some toys
She whined her mother to buy a kite for her
And her mother said, "Sweetie, it's for boys."
Four days later the little girl didn't want to play with her brother
I saw a little girl and her brother
Having a breakfast in one morning
But, why did they shout each other?
O, the little girl was late coming
When her brother had been ready with his father
Going to school for studying
I saw a little girl and her brother
Something changed of them
I thought they looked taller
The brother was quite handsome
When the little girl was sweeter
What happened with them?
I do not see a little girl and her brother anymore
Where are they? Where are they?
In my ear, someone whispered,
"I could say."
Being aware, I was in front of my mirror
I smiled with the girl in front of me
"It's you when you were in your childhood."
The girl in the mirror answered,
"You're not wrong."
Score: imaginative and good language

ETERNAL HAPPINESS (theme: feeling)
Through the fine land,
I grow my precious life
Through the swift river
I flow the whole of my soul
Through the shinny sun
I feel the light of my heart
Through the beautiful flower
I realize the wonderful beauty I have
Through the friendly wind
I blow my friendship breath
Through the blue sky
I paint my romantic feeling
Through the greedy grasshopper
I listen to the music of my world
Through the singing bird
I send my love letter
Through the stars in the night
I kiss my lover goodbye
Through the colorful rainbow
I color my black world
Through God's creation around me
Eternal happiness is inside of me
Score: very good

A STORY ABOUT TRIXY AND HER CAR (theme: future)
Trixy is in a traffic jam
She is headache and feels hot
She wish that her car can run out of this jam
But when she is thinking of her and her old car, both
Suddenly she hears something
Her car says to her,
"Boss, what are you thinking?"
For a while she thinks someone is talking to her
However, no one but her car
"My car can speak!" she screams
Her stomach makes some noises and when she thinks about a bar;
"If only my car can give me some food," she dreams
There they are, french-fries and coca-cola after her
Being surprised, a beautiful music is heard,
comforting her soul and heart
Like a bird on a shady tree
Trixy feels very comfortable
Her car whispers to her ear carefully,
"Let me switch on the air conditioner."
Soon, she can feel some chilly air nicely
While she almost sleeps,
she remembers having a meeting in her office
So, she orders her car to jump and fly
Leaving the traffic jam
She press a button and her car has been ready with its wings;
But someone shouts at her
Then she realizes that she is still in traffic jam
with her old car
Still headache and hot and noisy stomach
and absolutely without her speaking car
Score: excellent

Setelah saya baca-baca lagi... SAYA MALU. Kok bisa ya saya nulis kayak begituan???

Tuesday, 24 June 2008
2:38 pm