Showing posts with label personal thought. Show all posts
Showing posts with label personal thought. Show all posts

Tuesday, May 24, 2016

tanah

Jika kau ingin belajar tentang penerimaan, jangan belajar dari aku. Belajarlah dari tanah.

Sebab tanah menerima siapapun dalam diam. Tanah tak hanya menerima orang-orang baik seperti Suster Teresa, tapi juga orang jahat seperti Hitler. Tanah tak pernah memandang latar belakang keluargamu, status sosialmu, dan profesimu. Tanah tidak menghujat. Tidak juga menghakimi. Ia berdenyut hidup, namun senyap.

Tanah menerimamu dalam diam. Dengan keanggunannya.
                Menerima pelajar.
                Menerima pelacur.
                Menerima doktor.
                Menerima koruptor.
                Menerima seniman.
                Menerima ilmuwan.
                Menerima pendeta.
                Menerima politikus.
                Menerima tuan tanah.
                Menerima buruh.
                Menerima ateis.
                Menerima teroris.
                Menerima feminis.
                Menerima komunis.
                Menerima protagonis.

Kelak tanah menerimamu, tanah menerimaku. Tanpa banyak tanya. Meski syarat dan birokrasi diberikan oleh negara.

Jika kau ingin belajar tentang penerimaan, jangan belajar dari aku. Belajarlah dari tanah.


Surabaya, 24 Mei 2016

Terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono
“Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati”

Gambar diambil dari sini
 

Tuesday, November 03, 2015

dunia maya

Dunia maya adalah dunia yang mengerikan. Di dunia ini, kau belum tentu kau dan aku belum tentu aku. Aku yang kau kenal di dunia maya bisa berbeda dengan yang kau kenal di dunia nyata. Dan kau yang kukenal di dunia maya bisa berbeda dengan yang kukenal di dunia nyata. Tidakkah itu mengerikan?

Dunia maya adalah dunia penghakiman. Dimana aku menghakimi kau sebagai manusia terkeren sejagat raya dan kau menghakimi aku sebagai makhluk teraneh di seluruh muka bumi ini. Aku menghakimi tokoh-tokoh ternama berdasarkan judul dan isi sebuah artikel yang ditulis oleh orang yang bahkan tak kukenal. Tapi aku percaya. Atas nama ilmu jurnalisme. Kau? Kau menghakimi teman-temanmu melalui tulisan-tulisan singkat yang kau bagikan. Seolah-olah kalian saling mengenal satu dengan yang lain, padahal tidak sama sekali.

Dunia maya juga dunia perbandingan. Hei, kau tahu Steve Jobs yang menciptakan produk-produk Apple yang kau pakai itu ternyata tidak mengijinkan anak-anaknya menggunakan produk-produk yang ia ciptakan sendiri! Gawai-gawai yang keren dan kekinian itu? Yang sudah banyak diberikan pada anak-anakmu yang bahkan mengikat tali sepatu sendiri pun belum bisa. Lalu? Anak-anak Steve Jobs main apa? Main pasir! Main di kebun, halaman belakang rumah! Bersenang-senang di bawah sinar matahari! Dan tiba-tiba semua orang di negeri ini setuju. Bagikan. Bagikan. Bagikan. Sembari bicara setengah menasehati: tuh makanya anak-anak lu dikasi main pasir, main di kebun, senang-senang di bawah sinar matahari. Seperti anak-anaknya Steve Jobs, orang jenius itu. Aku sendiri bertanya-tanya. Dimana aku menemukan pasir terdekat buat anak-anak untuk bermain? Aku harus menempuh perjalanan minimal satu jam untuk mendapatkan pasir dengan pemandangan seadanya dan sampah-sampah yang mengganggu pandangan mata. Jika aku ingin menemukan pasir yang bersih berikut pemandangan indah, harus kulalui daratan dan lautan selama belasan jam. Merasakan mabuk darat dan mabuk laut sekaligus. Berbahagialah mereka, anak-anak pantai yang tiap hari punya hak istimewa untuk menikmati pasir dan tepi lautan dengan lengkungan setengah lingkaran fajar merah dan senja oranye tiap harinya. Kebun? Halaman belakang rumah? Mana ada kebun, atau halaman belakang rumah di kota yang sesak ini? Kebun hanya milik orang-orang kaya di daerah tertentu saja. Tentu bukan daerah tempat tinggal rakyat jelata sepertiku. Jadi mengapa kau harus repot-repot meniru Steve Jobs, kalau kau punya cara sendiri bermain dengan anak-anakmu – yang tidak mengandung produk-produk mahal yang ia ciptakan itu. Siapa Steve Jobs, sampai harus pula kau dan aku tiru caranya berrelasi dengan anak-anaknya? Tidak cukupkah kau dan aku gunakan saja produk ciptaannya? Sebab untuk itulah aku merogoh kocekku dan membayar dengan cukup mahal barang tersebut?

Hei, kau tahu tidak, Zuckerberg, pencipta Facebook yang ternama dan dianggap anak muda terkaya di seluruh dunia pun tak mengadakan pesta yang mewah! Hanya seratus orang dia undang! Kenapa kau harus buang uangmu untuk memberi makan ribuan orang di pest perkawinan yang mahal? Tak malu kau? Hah? Hah? Tapi, kenapa kau harus malu? Itu toh pestamu. Uangmu sendiri yang kau hambur-hamburkan. Kau tak harus merasa malu dan bersalah karena pesta perkawinanmu kau rayakan besar-besaran dan mewah-mewahan. Sebab itu hakmu. Seperti si Zuckerberg yang juga punya hak untuk bikin pesta perkawinannya sederhana dan eksklusif.
Dunia maya adalah dunia yang aneh. Sekaligus menghibur untukku. Sebab di sanalah aku bisa mengenakan topeng dan tetap bisa bersenang-senang. Mentertawakan apa saja yang lucu menurutku, tanpa harus kuanggap serius. Tanpa harus kupercayai sepenuh hatiku.

Hei. Tak perlu serius mengenalku di dunia maya, sebab aku tak terlalu nyata disana. Kemarilah. Duduk disampingku dan berbicaralah denganku sambil menatap mataku.

Aku lebih nyata disitu.



Surabaya, 3 November 2015
1.15 am


PS : Gambar diambil dari sini

Sunday, May 03, 2015

dari balik jendela

Aku selalu terobsesi dengan jendela. Namun tak semua jendela menjadi obsesiku. Aku hanya terobsesi dengan jendela mobil, jendela bis dan jendela kereta api. Mereka membuatku merasa hangat dan lebih dekat dengan kehidupan manusia. Sungguh berbeda dengan jendela pesawat yang dingin dan angkuh. Jendela mobil, jendela bis, dan jendela kereta api selalu berhasil bikin aku merenung.

Dari jendela mobil, aku selalu memperhatikan manusia-manusia. Semakin kuperhatikan, semakin kupahami bahwa sungguh picik pandangan orang yang hanya mendefinisikan manusia hanya berdasarkan dari alat kelamin mereka saja. Tiap manusia memang berbeda, itu saja. Apapun kelaminnya. Barangkali itu sebabnya aku benci seragam sekolah, aku benci seragam kantor. Seragam bikin aku berpikir perbedaan adalah kriminal.

Dari jendela mobil, aku tak hanya makin memahami manusia, tapi aku juga makin memahami negeri ini. Tahukah kamu sebuah negeri dapat dikenal dari gaya hidup rakyatnya? Dan rakyat negeri ini terdiri dari manusia-manusia yang tangguh. Bagaimana aku bilang tidak tangguh kalau aku baru saja melihat dengan mata yang tertempel di kepalaku ini ada anak, kira-kira sebaya dengan keponakanku yang baru kelas lima SD, dengan kakinya yang belum panjang mengayuh becak sambil mengepulkan asap rokoknya? Bagaimana aku bilang tidak tangguh, kalau tak hanya sekali aku melihat satu keluarga yang terdiri atas bapak, ibu dan tiga anak-anaknya yang masih kecil berada di atas satu sepeda motor – melaju kencang diantara kendaraan-kendaraan besar lainnya? Itu belum termasuk para penjaja koran dan tahu goreng yang biasa berjibaku di perempatan lalu lintas jalan raya menghirup polusi, menjejak panasnya aspal tanpa bisa menghindari teriknya sinar matahari di ubun-ubun dan dinginnya malam tanpa bulan yang tambun.

Karena itu aku tak percaya jika ada pengamat – baik dari dalam maupun luar negeri – mengatakan bahwa negeri ini tak ada harapan. Negeri ini sudah jatuh terlalu dalam, tak mungkin dapat bangkit lagi. Negeri ini cuma citra yang palsu dan tak ada yang bagus di negeri ini. Mereka keliru. Negeri ini memang dramatis, tapi negeri ini akan baik-baik saja. Meski banyak yang pesimis, tapi lebih banyak lagi yang optimis. Jalannya memang berbatu-batu, tapi negeri ini tetap melangkah maju. Ini negeri yang dipenuhi manusia-manusia tangguh, bung! Kalau kau tak percaya, tinggalkan sejenak ponsel pintar dan media sosialmu, lihatlah dari balik jendela mobilmu, jendela bis tempat kau menumpang atau jendela kereta api tempat kau menunggu sampai ke tujuanmu.

Lihat saja dan kau akan percaya.


Sunday, 3 May 2015
3:43 pm

Thursday, January 08, 2015

maria magdalena


Namanya Maria Magdalena. Ia sedang merenung. Di tepi tempat tidur pada kamarnya yang sederhana ia duduk. Kemudian ia bangkit dan membuka lemari pakaiannya. Satu per satu ia perhatikan dengan seksama busana-busana yang ia miliki. Tidak ada yang istimewa. Sudah lama ia tak membeli busana baru. Untuk apa? Toh klien-klien yang ia layani dalam pekerjaannya selama ini lebih suka apabila ia tidak mengenakan busana. Dan uang hasil pekerjaannya jarang ia gunakan untuk kepentingannya sendiri. Sebagian besar ia kirimkan pada ibunya di kampung, untuk biaya pengobatan ayahnya dan konsumsi mereka sehari-harinya. Busana yang biasa ia pakai pada waktu bekerja juga biasanya dipinjami oleh “manajer”nya. 

Tapi hari ini, ia tidak mau berbusana biasa-biasa saja. Seharusnya hari ini hari yang istimewa. Hari di mana ia memutuskan untuk “pulang”. Bukan. Bukan pulang kampung bertemu dengan ayah dan ibunya. Pulang ke rumah tempat ia dicintai dengan amat sangat. Ke sebuah tempat di mana Seseorang sudah dianiaya dan dibunuh untuknya. Rumah tempat ia sudah dibeli lunas dengan darah. Ke sanalah ia ”pulang” setelah bertahun-tahun hidup dalam penolakan diri.

Beberapa ketukan cepat di pintu terdengar. Seorang perempuan lain masuk dengan wajah berbinar-binar. Kedua tangannya berada di belakang punggungnya.

“Aku punya kejutan untukmu!” kata perempuan. Lantas tangannya menyerahkan bungkusan yang ia sembunyikan di belakang punggungnya tadi padanya.

“Apa ini?” tanya Maria Magdalena pada sahabatnya, perempuan yang baru masuk itu.

“Untukmu, Maria,” jawab sahabatnya lagi. “Kau bilang padaku kemarin kalau hari ini terlalu istimewa untuk dilewatkan dengan pakaian yang biasa-biasa saja.”

Ragu-ragu Maria Magdalena membuka bungkusan yang baru diberikan oleh sahabatnya. Dan begitulah, sebuah gaun yang cantik meluncur halus dari pegangan tangannya.

“Gaun ini… untukku?” tanya Maria Magdalena lagi tak percaya.

Sahabatnya mengangguk dengan cepat. “Iya. Untukmu,” tegasnya.

Maria Magdalena baru membuka mulutnya untuk mengucapkan kata penolakan sebelum kemudian dipotong lagi oleh sahabatnya. “Ini tidak baru. Betul. Aku pernah pakai ini sekali di pesta perkawinan ibuku yang ketiga kalinya. Dan terus terang, aku tidak mau melihat gaun ini lagi. Sungguh.”

Ia tatap kembali gaun yang baru saja diberikan untuknya, sambil berpikir-pikir apakah kisah di balik gaun yang disampaikan sahabatnya itu benar adanya atau hanya supaya ia tidak menolak pemberiannya. Sebab sahabatnya sangat tahu ia tidak pernah mau diberi sesuatu dengan cuma-cuma.  

“Betul untukku?” tanya Maria Magdalena lagi untuk yang ketiga kalinya.

“Ya besar! Tolong jangan tanya lagi untuk yang ketiga kalinya, karena kau akan terlambat. Lebih baik kau bersiap-siap sekarang. Kau tahu, mereka sangat tepat waktu,” kata sahabatnya.

Tak lama kemudian, Maria Magdalena berada di depan gedung megah yang sederhana itu. Gedung yang oleh masyarakat pada umumnya disebut dengan gereja. Dandanannya baru. Gaunnya baru. Sepatunya juga masih bagus karena jarang ia pakai. Sahabatnya memaksa untuk memakai asesoris miliknya dan menyemprot sedikit minyak wangi di daerah ketiak Maria Magdalena. Ia masuk pelan-pelan dan duduk di bangku yang masih kosong. Ia pejamkan mata dan ia berikan hatinya sungguh-sungguh untuk mengikuti jalannya ibadah hari itu sambil mengucap syukur atas cinta tanpa syarat yang diberikan olehNya.

Usai ibadah, seorang ibu-ibu cantik menghampirinya. Ibu-ibu itu menyalaminya sambil mengucapkan selamat datang dan juga berkata: “ Anu, mohon maaf sebelumnya, tapi mungkin lain kali kalau datang beribadah di gereja kami ini, minta tolong busananya yang sederhana saja. Gereja kan bukan untuk fashion show ya. Apalagi gaun seperti yang kamu pakai ini kan kurang pas gitu untuk dipakai di gereja. Sebagai perempuan kita memang harus lebih berhati-hati dengan apa yang kita pakai. Betul kan ya? Jangan sampai jemaat lain memandang kita itu seperti perempuan murahan, gitu lho. Apa lagi pakai parfum-parfum mahal seperti punya kamu ini kan. Nggak perlu lah pamer apa yang kita punya di gereja. Ah, saya  nggak perlu panjang-panjang ngomongnya, kamu pasti tahu maksud saya. Memang belum ada peraturan resmi yang tertulis dan dipublikasikan sih, tapi sedang kami godok kok di ruang rapat. Eh, tapi maksud saya, maksud kami ini baik lho, supaya kita menjaga citra sebagai perempuan dengan cara berbusana kita. Betul kan ya? Ingat, gereja bukan untuk fashion show ya. Yuk ah, saya harus berdoa dulu sambil menghitung persembahan di belakang ya. Sampai ketemu minggu depan.”

Dan ibu-ibu cantik itu berlalu begitu saja meninggalkan Maria Magdalena yang tertegun-tegun.

Tak lama, ada yang menyentuh bahu Maria Magdalena. Seorang perempuan lain, lebih muda sedikit darinya, menghampirinya. Ia mengenakan pakaian ketat, rok mini dan sepatu boot keluaran terbaru. Bibirnya merah menyolok, matanya lelah dan rambutnya sedikit berantakan.

Tanya perempuan itu pada Maria Magdalena: “Aku baru lewat di depan gereja ini dan mendengarkan kalian menyanyi selama ibadah. Jam berapa kah ibadah berikutnya? Aku juga ingin merasakan apa yang kalian rasakan.”

Maria Magdalena menghembuskan nafasnya panjang. Ditatapnya kembali perempuan itu dari atas sampai bawah, kemudian tersenyum.

Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan perempuan itu. Betapa pun mudah jawabnya.




Thursday, 8 January 2015
11:46 am

Thursday, March 20, 2014

"Ada! Ibu rumah tangga!"

Sejak subuh tadi perempuan itu sibuk. Menjerang air. Menyiapkan sarapan. Mencuci baju. Belanja sayuran di depan rumah. Supaya tiap makhluk hidup yang tinggal serumah dengannya dapat memulai hari dengan tenang. Tak berapa lama suaminya bangun. Seperti biasa, ritual yang dilakukan adalah mandi, ganti baju kemudian sarapan. Setelah membaca surat kabar sebentar, sang suami berangkat. Itu berarti tinggal makhluk hidup satu lagi dalam rumah itu yang belum memulai harinya.

Si perempuan membuka pintu kamar si makhluk hidup satunya, yaitu anak laki-lakinya – seorang mahasiswa – dengan hati-hati. Sebab ia tahu semalam anaknya tidur lewat jam dua belas karena mengerjakan tugas kuliah. Lewat pukul sembilan pagi, setelah ia merapikan kamar tidurnya, dan anaknya belum juga bangun, ia bangunkan anaknya pelan-pelan karena ia tahu pukul sepuluh anaknya harus mengikuti kelas wajib.

Sambil menggerutu sedikit, tanpa ganti baju si anak mengambil sarapan paginya, membawanya ke ruang tengah dan makan sambil nonton siaran pagi. Selesai sarapan, si perempuan, ibunya bilang air hangatnya sudah siap di kamar mandi untuknya. Pukul sepuluh kurang sedikit, si anak sudah sampai di kelasnya siap untuk mengikuti kuliah.

Di rumah, ibunya menyiapkan makan siang untuk ia sendiri lalu mulai menyeterika baju, menyapu dan mengepel lantai rumah. Menginjak sore, sang ibu akhirnya punya waktu sejenak untuk diri sendiri. Diseduhnya teh dan dibacanya novel yang minggu lalu ia beli. Tak lama, si suami pulang dan selesai lah waktu untuk diri sendiri pada hari itu. Ia kembali menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, lantas menyiapkan makan malam.

Si anak baru pulang ke rumah setelah makan malam – sambil mengomel kanan kiri tentang dosen yang menyebalkan, tugas yang sulit, teman kuliah yang cerewet dan juga pacar yang cemburuan. Didengarkannya curhatan si  anak dengan sabar sambil menemaninya makan malam. Perempuan itu mengerti bahwa malam itu akan dilewati lagi oleh anaknya hingga larut untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum rampung.

Esoknya, rutinitas sang ibu tetap sama, namun anaknya bangun lebih pagi. Ia makan sarapannya dengan cepat dan buru-buru berangkat kuliah. Pagi itu, si anak ada janji kerja kelompok bersama teman-teman sekelasnya.

Di kampus, selesai kerja kelompok, mereka ngobrol ngalor ngidul – mengeluhkan pekerjaan apa yang akan dilakukan selepas lulus nanti. Ada yang bilang kalau ia pernah ditawari kerja di bank, tapi ngeri dengan targetnya yang berbunyi satu setengah em. Ada juga yang menyahut lebih ngeri lagi kalau dapat kerja yang waktunya shift-shift­an - kapan pacarannya coba? Lantas mereka berpikir: Memang ada pekerjaan yang gampang? Yang nggak pake target?

Si anak laki-laki tadi, sambil makan bekal yang disiapkan oleh ibunya, berucap dengan lantang: “Ada! Ibu rumah tangga!”

Sementara di rumahnya, sang ibu sedang memasak makanan kesukaan anaknya untuk makan malamnya nanti karena ia tahu anaknya baru melewati dua malam yang melelahkan.

Thursday, 20 March 2014
4:45 pm
   

Wednesday, February 05, 2014

tepok jidat

Di sebuah mini market, seorang ibu muda marah-marah. Ia baru saja membeli beberapa barang disitu, dan ketika ia membayar, penjaga kasir memberinya kembalian permen dua biji. Padahal jika membaca struk yang ia terima, ia seharusnya mendapatkan kembalian sebesar empat ratus rupiah. Ini sudah kedua kalinya dalam minggu ini.

"Dua hari yang lalu saya kemari, saya juga dapat kembalian permen. Kalau permen-permen yang saya dapatkan dari sini saya kumpulkan, saya bila beli satu bungkus mie instan. Gimana? Bisa nggak saya beli satu bungkus mie instan pakai permen yang kalian beri?" tanyanya sewot. Si kasir, seorang trainee yang baru masuk hari itu hanya bisa menggelengkan kepala. Wajahnya pucat, tak menyangka di hari pertama ia masuk kerja sudah kena semprot pembeli.

"Ini bentuk lain dari korupsi!" kata si ibu muda itu tadi. "Yang nilainya kecil macam begini saja kalian lakukan, apalagi kalau ditawari yang besar! Saya laporin KPK baru tahu rasa!" Dan setelah puas mengomeli si trainee tadi, ibu muda itu pulang ke rumah.

Di rumah, suaminya sedang membaca surat kabar sambil menggerutu. "Negara ini sudah edan. Pejabat-pejabat yang digaji pakai uang pajak kita itu isinya kok koruptor semua. Wakil rakyat mbahe dewe! Ditawari Toyota Alphard satu biji plus duit bunyinya M langsung takluk. Ora nduwe udel! Mereka nggak takut karma apa? Disiksa setan di neraka? Mantan putri kecantikan ketemon korupsi! Menteri ketemon korupsi! Petinggi partai besar korupsi! Sampai orang hukum tertinggi pun korupsi! Edan! Bau uang sudah bikin mereka mabuk kepayang!"

Gerutuan sang suami disambut oleh sang istri, si ibu muda tadi yang baru marah-marah di mini market perkara uang seribu seratus tujuh puluh lima yang dikorupsi oleh pemilik mini market. Mereka berdua sepakat negara ini isinya kebanyakan oportunis yang buta dengan kekuasaan dan semerbak bau uang bergepok-gepok. Nilainya tak lagi ratusan, bahkan sudah M sampai T. Ratusan sih untuk mereka di level lele! Level hiu kayak mereka kurang jika dapat ratusan saja.

Dan pada akhirnya, mereka menyimpulkan: "Kasihan bukan kepalang KPK itu. Tugas mereka banyak dan berat…." Mereka - suami istri itu – lantas mendesah bersama-sama.

Sementara itu, trainee bagian kasir di mini market tadi termenung-menung teringat si ibu yang marah-marah padanya perkara kembalian sebesar uang empat ratus lima puluh rupiah. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu, dan mengantar anaknya yang kelas 1 SD ke sebuah mall untuk mengikuti lomba mewarnai. Jika anaknya menang, lumayan ada hadiah uang tunai yang bisa ditabung untuk membelikan anaknya tas baru.

"Tidak boleh dibantu orang tuanya ya," kata si petugas sambil menyerahkan kertas gambar untuk diwarnai anaknya setelah ia membayar uang pendaftaran.

Saat ia sedang menunggui anaknya mewarnai gambar dengan seriusnya, ia melihat beberapa orang tua lain kasak kusuk sambil menunjuk-nunjuk. Rupanya ada salah satu peserta lomba yang didampingi kedua orang tuanya, dan orang tuanya ikut mewarnai kertas bergambar milik anaknya. Beberapa sudah lapor pada petugas dan ia sendiri melihat petugas itu mencatat sesuatu di kertas yang ia pegang, jadi ia berasumsi peserta itu akan didiskualifikasi - atau paling tidak, tidak dinilai.

Tibalah mereka di akhir acara, yaitu pengumuman para pemenang lomba mewarnai. Satu per satu MC menyebutkan berurutan pemenang dari juara harapan tiga hingga juara satu. Saat nama pemenang juara satu disebut, para orang tua yang tadi kasak kusuk kembali heboh. Rupanya pemenangnya justru peserta yang orang tuanya ikut nimbrung mewarnai sehingga hasilnya memang jauh lebih bagus, rapi dan bersih dibandingkan dengan peserta lainnya – yang sebenarnya jika para panitia menggunakan akal sehat mereka, agak mustahil hasil pewarnaan serapi dan sebersih itu dilakukan oleh anak kelas 1 SD.

Namun, tak ada yang lebih mengejutkan bagi si trainee itu, selain kenyataan bahwa ia sudah pernah bertemu dengan sang ibu dari peserta juara 1. Itu ibu yang pernah marah-marah padanya perkara uang empat ratus lima puluh rupiah dan menudingnya melakukan korupsi. Punahlah sudah kesempatan untuk beli tas baru buat anaknya.

Saya? Saya yang mengamati kisah ini cuma bisa getun bin gumun. Atau niru bapak presiden deh: saya prihatin. Dan saya sama sekali nggak berminat berempati menjadi ketua atau wakil ketua 1 atau wakil ketua 2 atau posisi apapun di KPK. Kerjaannya terlalu berat untuk ikut dirasakan. It's a never ending job, kayak kerjaan nyuci piring dan nyuci baju. Lha wong generasi penerusnya saja sudah diajarin seperti itu sejak kecil. 

Lebih baik saya wara-wiri di media sosial aja deh, sambil tepok jidat dan nulis di blog.

Negeri ini memang lucu.


Sunday, 2 February 2014
9.45 pm

Based on true story. 

Gambar diambil dari sini.

Friday, November 22, 2013

percakapan tahi kucing

"Jaman sekarang tidak ada yang namanya pemberian yang tulus!" sabdanya suatu sore.

Seharusnya aku membalas sabdanya dengan pertanyaan seperti ini: "Kok bisa?" atau "Mengapa kamu bilang begitu?" atau "Maksudmu?" Tapi mulutku terkunci, karena aku tak sudi terperangkap dengan sabdanya yang sok tahu itu. Lagipula aku sedang sibuk.

"Hadiah-hadiah itu macam tahi kucing yang berceceran di jalan. Dan kamu tahu, semua kucing itu tidak tahu diri!"

Lagi-lagi aku diam, sebab aku kurang setuju jika ada yang mengatakan bahwa kucing itu hewan yang tidak tahu diri. Kucing justru hewan yang tahu diri. Ia tahu bahwa dirinya dijadikan mitos di banyak tempat, karena itu dia bisa seenaknya hidup disana-sini tanpa ada yang berani macam-macam dengannya. Kalau menurutku hewan yang paling tidak tahu diri itu kecoak. Buruk rupa tapi pede nongol di tempat-tempat tak seronok seperti kamar mandi dan toilet, tempat manusia mengumbar kelamin masing-masing dan bagian-bagian tubuh yang biasanya tertutup.

"Begini maksudku," katanya lagi.

Benar kan? Tak disahuti pun ia masih menyerocos, apalagi jika kusahuti.

"Suatu waktu kamu bertemu dengan seorang bapak tua penjaja makanan. Ia sudah tua, terlihat selalu letih, dan jika berjalan selalu menggunakan tongkat. Kamu kasihan, kemudian kamu bantu ia berjalan. Kamu belikan makanan. Kamu beri uang untuk ongkos perjalanan pulang. Keesokan harinya, kamu melihat lagi bapak tua ini. Dan kamu merasa kamu masih harus membantunya, maka kamu lakukan hal yang sama. Kamu bantu ia berjalan, kamu belikan makanan dan kamu beri juga uang untuk ongkos perjalanan pulang."

"Tidak ada yang salah dengan itu kan?" sahutku akhirnya.

"Ya! Tidak ada yang salah dengan itu," katanya lagi makin bersemangat. "Sampai suatu ketika bapak tua tadi berubah jadi penuntut. Ketika melihatmu datang, ia akan mendatangimu, memintamu membantunya berjalan. Memintamu membelikan makanan. Ia mulai berani mengatakan ia tidak suka nasi padang yang kamu belikan di rumah makan A. Ia lebih suka nasi padang di rumah makan B - yang harganya lebih mahal. Kemudian ia juga akan minta uang untuk ongkos perjalanan pulang. Seperti biasanya. Dan ketika kamu tidak bisa memberikan itu semua, ia akan marah-marah. Menuntut. Seolah-olah pemberian yang awalnya kamu berikan dengan tulus dan cuma-cuma sudah berupa bentuk menjadi hak yang seharusnya ia terima."

"Ha! Bisa jadi! Tapi itu tidak lantas menjadi alasan utama buatmu mengatakan pemberian itu seperti tahi kucing!" Aku mulai memanas, sebab aku kurang rela mengakui bahwa apa yang dikatakannya ada benarnya.

Ia tersenyum-senyum senang melihatku membalas perkataannya. "Sekarang coba bayangkan. Kamu menyetir mobilmu malam-malam seperti yang barusan kamu lakukan, kemudian kamu melihat seseorang tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan tidak sadar. Apa kamu akan berhenti dan menolongnya? Atau paling tidak, memeriksa keadaannya?"

"Tentu saja!" sahutku cepat.

"Benarkah?" Ia tersenyum sinis. "Kalau memang begitu, mengapa kemarin malam kamu tidak melakukannya?"

Aku terdiam. Teringat kemarin malam ketika aku menolak menghentikan mobil saat ada laki-laki terjatuh dari motor. Kataku saat itu: "Ya kalau dia jatuh beneran? Kalau ternyata dia preman yang pura-pura jatuh? Gimana? Mau jadi apa kita? Lagian kamu nggak baca koran apa? Banyak kasus yang kayak begitu. Mau menolong malah bikin kantong bolong. Taruhannya nyawa!"

Ia tersenyum-senyum lagi. "Percayalah, bukan kamu satu-satunya yang berpikir seperti itu. Hidup di jaman sekarang ini, memang kita harus ekstra hati-hati. Jadi benar kan teoriku?"

Aku mulai manggut-manggut cemberut. Antara membenarkan tapi gengsi untuk mengakuinya dan yang sedang kulakukan tak kunjung selesai sebab aku sesungguhnya kurang mengerti apa yang kulakukan.

"Nenekku juga begitu!" cerocosnya lagi. "Tiap ulang tahun, ia dapat banyak hadiah. Dari anak-anaknya. Tapi yang paling dia tunggu-tunggu tentu dari anak laki-lakinya yang sulung. Om-ku itu! Yang paling kaya diantara saudara-saudaranya. Bisnisnya paling sukses, mobilnya lima, rumahnya besar. Makanya dia juga yang paling didengar oleh Nenek, soalnya hadiah darinya untuk Nenekku selalu mahal. Terakhir Nenek dibelikan gadget yang paling baru. Sampai terharu biru Nenekku dibuatnya. Hatinya sudah dibeli oleh Om-ku itu!"

Lagi-lagi aku menggerutu tanda setuju dengannya tapi tak rela kalau ia benar, sambil bertanya-tanya dalam hati apakah memang benar sudah tidak ada lagi pemberian yang tulus di dunia ini?

"Seperti tadi pagi," lanjutnya, "aku ditelepon marketing bank. Dia bilang karena aku sudah menjadi nasabah yang setia, mereka mau memberikan kompensasi. Semacam hadiah begitu. Hadiahnya sejumlah uang. Tapi ternyata setelah penjelasan yang panjang dan ruwet, aku baru tahu kalau yang dimaksud hadiah uang itu adalah pinjaman yang katanya berbunga rendah. Nah, kubilang juga apa? Mana ada hadiah gratisan kayak begitu. Tahi kucing!" Ia mengumpat lagi sambil tertawa-tawa.

"Kamu bisa nggak sih diem sebentar dan bantuin aku?" potongku sewot. "Ini mobil kalau nggak segera dibetulkan kita bisa semalaman disini!"

Sebelum ia menyahut, seorang bapak setengah baya mendekat. Di tangannya ada seperangkat alat. "Mari saya bantu, Dik. Saya lihat dari tadi adik berdua kesulitan membetulkan."

Kemudian tanpa menunggu jawaban, si bapak dengan cekatan mencari kerusakan dan membetulkannya.
Ia, kawanku yang cerewet itu tersenyum-senyum sambil berbisik di telingaku: "Paling-paling dia mengharapkan duit dari kita."

"Duitku tinggal lima puluh ribu! Buat isi bensin!" semprotku mendelik.

Tak berapa lama si bapak memberi isyarat padaku untuk menyalakan mesin. Dan, voila! Mesin menyala! Aku lega karena tak perlu disini semalaman, kawanku yang cerewet itu lega karena lagi-lagi bisa membuktikan teorinya tentang pemberian. Diselipkannya selembar uang berwarna biru di tangan si bapak.

Aku tersenyum.

Bukan. Bukan karena pada akhirnya aku sepakat dengan kawanku yang cerewet itu yang bikin aku tersenyum. Aku tersenyum karena lembaran uang berwarna biru dari kawanku itu ditolak oleh si bapak.

Dan si bapak pergi begitu saja, meninggalkan kawanku dengan mulutnya yang menganga lebar. Lebar sekali. Selebar senyumku.

Yang dikira tahi kucing itu ternyata rasanya manis.


Friday, 22 November 2013
03:06 pm

Gambar diambil dari sini

Saturday, August 10, 2013

pagar

Seorang asing baru pindah ke sebuah negeri. Konon di negeri itu tanahnya subur, penduduknya ramah,  cuacanya bersahabat dan lain-lain yang baik. Istilah kerennya: gemah ripah loh jinawi. Itu sebabnya barangkali ia pindah ke negeri tersebut. 

Ia beli sebuah rumah mungil, untuk dirinya sendiri. Serupa dengan rumahnya yang mungil, ia bangun pagar yang mungil pula. Tetangganya terheran-heran melihat pagar semungil itu. Mereka belum pernah melihat pagar semungil itu. Karena itu setiap kali ada yang lewat rumah si orang asing ini, tak pernah ada yang lewat begitu saja tanpa peduli. Selalu ada yang berhenti, entah untuk mengomentari, entah untuk sekedar menunjuk, entah untuk mentertawakan, entah apapun.

Si orang asing itu heran melihat laku para tetangganya. Masakan hanya karena pagar, mereka jadi bertingkah aneh seperti itu? 

Suatu pagi, saat ia sedang sarapan di dekat jendela - ia memang selalu sarapan di dekat jendela - ia melihat pemandangan yang mengejutkan sekaligus menakjubkan. Pagar rumahnya lenyap! Astaganaga. Bergegas ia keluar dari rumah untuk memeriksa. Ia tertegun melihat bahwa si pencuri - kalau memang ada orang gila yang mencuri pagar - telah dengan teliti untuk tidak meninggalkan jejak maupun bekas. Tetangga-tetangga yang kebetulan lewat di depan rumahnya dan mendengarkan cerita tentang lenyapnya pagar si orang asing itu menyarankan untuk lapor polisi saja. Namun, si orang asing memutuskan untuk tidak lapor siapa-siapa, karena sebetulnya pagar itu tidak ia buat dari bahan yang istimewa sehingga dapat dijual lagi dengan harga mahal. Pagarnya tidak terbuat dari besi, yang barangkali jika dijual, si pencuri bisa mendapatkan uang untuk makan seminggu dua minggu. Pagarnya itu terbuat dari kayu dan kayunya pun ia kumpulkan dari bekas bangunan yang hampir ambruk. Hanya orang gila yang mau beli.

Sebab itu, esoknya ia bangun kembali pagarnya. Masih dengan bahan yang sama. Masih dengan bentuk yang sama. Dan masih dengan tinggi yang sama. Dan pagar yang baru ini masih mendapatkan reaksi yang sama dari para tetangganya. Reaksi heran bin tak mengerti. Si orang asing tidak peduli. Rumah itu toh rumahnya sendiri. Pagar itu pagarnya sendiri. Ia yang bikin. Ia yang mendirikan. Memangnya para tetangga itu menyumbang apa sampai-sampai ia harus peduli dengan reaksi mereka?  

Beberapa hari kemudian, peristiwa pagi itu terulang kembali. Saat ia sedang duduk untuk sarapan, dilihatnya bahwa pagarnya sudah kembali lenyap. Dan lagi-lagi seperti sebelumnya, lenyapnya juga tak berbekas. Tak ada tanda-tanda pagar itu dicuri dengan paksa. Pagar itu seperti hilang begitu saja. Orang asing itu mulai bertanya-tanya dalam hatinya apakah ada salah satu dari para tetangganya yang ingin usil dan mengerjain ia. Beberapa tetangga yang mengusulkan untuk lapor polisi kini mulai mengusulkan untuk minta bantuan orang pintar. Orang pintar disini adalah orang yang pintar menemukan barang-barang hilang dengan cara yang aneh. Bukan pintar karena di sekolah ia selalu juara atau pintar karena umur dua puluhan sudah mendapatkan gelar PhD. 

Tapi, lagi-lagi si orang asing memutuskan untuk membangun kembali pagarnya seperti semula. Masih dengan bahan yang sama. Masih dengan bentuk yang sama. Dan masih dengan tinggi yang sama. Meskipun untuk itu, ia mendapatkan tambahan reaksi dari para tetangganya. Selain aneh, ia mulai mendapatkan tambahan label 'gila'. Yang sopan biasanya cukup mengatakan: 'kurang waras'. Tapi yang terang-terangan juga tak kalah banyak. Sehingga, tak lama ia juga mulai terbiasa dibilang 'laki-laki aneh yang gila'. Sudah aneh, gila pula. Biar saja. Ia masih bisa hidup meski dibilang aneh lagi gila. Yang penting ia tahu bahwa ia tidak gila betulan.

Hingga di pagi hari yang lain, peristiwa tersebut lagi-lagi terulang. Pagarnya lenyap. Lagi. Untuk yang ketiga kalinya. Dan yang ketiga kalinya itu berhasil bikin laki-laki ini jengkel. Apa salahnya sehingga ia harus selalu kehilangan pagar? Pagar yang tak berharga pula! Pagar yang cuma terbuat dari bahan bekas pula! Pagar yang saking pendeknya, sebenarnya bisa membuat si pencuri berpikir ulang untuk mencuri isi rumahnya saja ketimbang mencuri pagarnya yang jelek itu. 

Ditanyainya para tetangga satu persatu. Pernahkah ada diantara mereka yang pernah mengalami peristiwa aneh seperti yang ia alami? Dan satu persatu pula para tetangganya menggeleng. Tak ada satu pun dari mereka yang pernah kehilangan pagar. Maka, ia memutuskan untuk mengamati pagar-pagar rumah para tetangganya. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Diamatinya dengan takjub, bahwa baru ia sadari, para tetangganya rupanya orang-orang kaya, sebab mereka membangun pagar dengan bahan-bahan yang mahal dan pagar itu berdiri tegak menjulang tinggi, sehingga hampir mustahil ada orang yang melompat masuk tanpa ketahuan si empunya rumah. Ada pula pagar yang dilengkapi dengan aliran listrik, sehingga bagi yang nekad masuk ke rumah tanpa diundang, akan terkena sengatan listrik yang tak main-main. Ada juga pagar yang meskipun sudah dibangun tinggi dengan ujung-ujung runcing diatasnya, masih juga dijaga anjing berwajah menyeramkan. Si orang asing ini tertegun-tegun bin terheran-heran melihat pagar-pagar rumah tetangganya. Hingga di ujung jalan, ada rumah dengan pagar yang tinggi, kuat dan selalu terkunci. Beberapa inci dari pagar yang itu, ada pagar lain yang lebih tinggi, lebih kuat dan juga terkunci. Ia makin terheran-heran. Di balik pagar itu ada rumah yang besar, mewah namun kelihatan kesepian. Salah satu tetangganya bilang, rumah itu milik salah satu orang terkaya di kota itu. Ia cuma mengangguk-angguk.

Lantas ujung matanya menemukan sesuatu di kotak sampah rumah besar yang kesepian itu. Dilihatnya sepotong kayu yang ia kenal. Sepotong kayu dengan bahan yang sama yang ia pakai untuk membangun pagar rumahnya. Dikoreknya lebih dalam kotak sampah itu, dan ia menemukan potongan-potongan kayu lainnya. Makin terheran-heranlah ia. Masakan orang yang paling kaya di kota ini yang mencuri pagar rumahnya yang murahan itu?

Tak lama sebuah mobil mewah berhenti di dekatnya. Si supir menyuruhnya masuk. Entah bagaimana ia menurut saja. Ia merasa ini ada hubungannya dengan pagar-pagarnya yang lenyap. 

Di dalam mobil itu ada seorang tua. Laki-laki dengan tongkat di tangan, yang memandanganya sedemikian rupa, namun lantas tersenyum sedih. 

Dengan wajah sayu, laki-laki tua itu minta maaf padanya. Ia mengaku pada si orang asing bahwa ia yang mencuri pagar-pagar rumahnya. Mengapa, tanya orang asing itu. 

Dan beginilah jawabnya kepada orang asing itu: "Kucuri pagar rumahmu karena aku cemburu. Aku cemburu karena kamu masih punya rasa percaya pada orang-orang yang hidup di sekelilingmu. Kamu percaya meski pagar rumahmu pendek, orang takkan datang untuk mengganggumu atau mengobrak-abrik isi rumahmu buat mencari barang berharga untuk dicuri. Coba lihat aku. Lihat para tetanggamu. Aku cemburu sekaligus marah karena tak terima masih ada orang sepertimu yang masih punya rasa percaya. Aku? Aku tak percaya pada orang lain. Aku bahkan tak percaya pada istri dan anak-anakku sendiri. Aku tak percaya pada pegawai-pegawaiku. Mereka kelihatannya saja setia padaku, tapi mereka sebenarnya setia pada uangku. Asalkan aku masih punya lembaran-lembaran uang untuk disumpalkan ke mulut mereka, mereka takkan menyentuhku. Aku tak percaya pada mereka. Tak percaya pada siapapun di dunia ini. Karena itulah kubangun pagarku tinggi-tinggi, kubuat dua kali lipat, supaya aku tetap merasa aman."

Mendengar serentetan curahan hati laki-laki tua pencuri pagar rumahnya yang baru saja ia kenal, tiba-tiba saja orang asing itu merasa menjadi manusia yang paling beruntung dan paling bahagia di muka bumi ini. Dan itu semua karena ia memiliki sesuatu yang sederhana dan barangkali tak ia sadari ia miliki sebelumnya, yaitu: rasa percaya. Kali ini diamatinya satu persatu rumah-rumah yang ia lewati melalui jendela mobil mewah milik laki-laki tua itu. Makin banyak rumah yang ia lewati, makin prihatinlah ia. Laki-laki tua tadi benar, wabah penyakit rasa percaya itu sudah menjangkit sedemikian rupa di negeri ini - setidaknya di kota tempat ia tinggal ini. Pagar-pagar yang menjulang tinggi. Orang-orang yang bergegas masuk ke rumah tanpa menyapa kanan kiri. Anak kecil yang jatuh dan tak ada yang menolong, karena mereka takut anak kecil itu hanya pura-pura jatuh dan pada akhirnya yang berniat menolong malah jadi buntung sebab barang berharganya dicuri. Ia bahkan jadi teringat liputan di sebuah stasiun televisi yang memperlihatkan para polisi dan petugas keamanan repot mengosongkan jalan demi keamanan presiden dan rombongan yang akan lewat. Apa jadinya jika presiden tak lagi percaya pada rakyatnya?

Maka dengan sendu ia putuskan untuk turun dari mobil mewah itu. Barangkali tempat ini bukan tempat yang tepat untuk orang sepertinya. Ia tak bisa hidup terus-menerus dengan rasa curiga. Ia tak bisa begitu saja membunuh rasa percaya yang ia miliki. Sama seperti pagar rumahnya yang dicuri, seperti itulah yang ia rasakan saat ini: rasa percaya yang sedikit berkurang. Dan ia tak suka rasa percayanya dicuri orang yang baru ia kenal. Ia masih ingin membangun pagarnya pendek-pendek, dengan bahan yang tak mahal dan tetap tak punya rasa curiga terhadap orang-orang yang lewat depan rumahnya.

Pagi berikutnya, para tetangga menemukan rumah orang asing itu kosong. Pagar yang baru sudah dibangun. Masih dengan bahan yang sama. Masih dengan bentuk yang sama. Masih dengan tinggi yang sama. Hanya kali ini ada papan yang bertuliskan demikian:

"Masuklah hai kamu yang kelaparan, yang kehausan, yang ingin berteduh dari cuaca tak bersahabat. Tak perlu mengetuk, masuk saja dan percayalah semuanya tersedia untuk kamu yang membutuhkan."

Sayangnya, hingga bertahun-tahun kemudian, rumah itu tetap kosong. Tak ada yang mengetuk, tak ada yang masuk. Ada yang bilang itu rumah hantu. Ada yang bilang itu jebakan teroris. Ada juga yang tak percaya semuanya tersedia untuk yang membutuhkan. Yang pasti, pagarnya tak lagi ada yang mencuri. Sampai suatu ketika papan itu akhirnya dicabut pemerintah setempat dan diganti dengan papan bertuliskan: "DISITA. MILIK NEGARA."

Saturday, 10 August 2013

Gambar diambil dari sini


Friday, August 09, 2013

tindik


Mengunjungi kawan yang baru bersalin itu terkadang menjadi dilema tersendiri untukku. Di satu sisi, aku ikut gembira, seorang lagi bayi molek lahir dan ada sepasang suami istri yang bahagia menyambut si bayi. Harapan dan jiwa baru untuk peradaban manusia. Di sisi lain, aku malah berpikir yang tidak-tidak, seperti bumi yang makin penuh dan sesak. Terutama apabila bayi itu lahir di pulau Jawa. Kebebasan memang cuma mitos, karena seandainya manusia memang makhluk bebas, maka sedari dini ia bisa menentukan ingin lahir ke bumi ini atau tidak.

Dilema yang lebih dalam lagi kurasakan apabila persalinan itu mengandung anak perempuan yang lahir. Tiba-tiba saja - entah bagaimana - aku bisa merasa kasihan pada bayi perempuan yang baru lahir. Apalagi bayi perempuan yang belum juga seminggu menghirup polusi udara itu sudah dilubangi kedua telinganya untuk digantungi sesuatu yang bernama anting-anting. Seolah-olah sebagai pertanda bagi si orang tua bahwa bayi mereka resmi menyandang jenis kelamin perempuan. Vagina sebagai penanda saja tak cukup, sebab vagina tidak diperuntukkan untuk dilihat khalayak umum. Padahal dunia perlu tahu bayi ini berjenis kelamin perempuan.

Tindik pada telinga bayi perempuan sejak lahir bagiku seperti tuntutan yang diputuskan di ruang pengadilan tanpa pembelaan. Bayangkan. Semenjak kecil, perempuan sudah dituntut untuk mengenakan anting-anting. Sesuatu yang tak diberikan pada para bayi laki-laki. Bagaimana jika kelak bayi-bayi perempuan itu seperti diriku yang menyesali kedua lubang di telingaku yang sudah bertahun-tahun tak kugantungi sesuatu? Dan juga bertanya-tanya sepertiku, mengapa untuk telingaku sendiri, aku sudah kehilangan hak untuk tidak melubanginya?

Jadi beginilah aku berpikir. Disini, di negeri tempat aku tinggal ini, dimana tindik begitu penting untuk dilakukan pada seorang bayi perempuan, seumpama hutan belantara bagi para perempuan. Kau takkan pernah merasa aman dan harus selalu waspada. Tindik adalah simbol, bahwa menjadi perempuan di negeri ini sama dengan diserbu oleh banyak kata 'seharusnya'. Perempuan seharusnya pakai rok. Perempuan seharusnya tidak duduk mengkangkang. Perempuan seharusnya berambut panjang. Anak perempuan seharusnya bermain boneka dan pada hari Kartini bersedia didandani seperti ondel-ondel, lengkap dengan gincu tebal, rambut palsu yang berat dan berjalan dengan terseok-seok karena sepatu sewaan yang tak nyaman. Perempuan seharusnya akrab dengan baju warna merah muda dan belanja di musim diskonan. Perempuan seharusnya kawin sebelum umur 30, sebab bisa diberi stempel 'tidak laku' jika lewat dari umur segitu. Perempuan seharusnya.... Dan tiba-tiba aku merasa tak rela. Tak rela membayangkan betapa panjang daftar 'seharusnya' yang akan kutulis apabila kupaksa untuk meneruskan.

Aku tak pernah suka kedua lubang di telingaku. Buatku, kedua lubang itu kesia-siaan belaka sebab aku nyaris tak pernah menggunakannya. Aku menerima dibilang makhluk aneh hanya karena aku bercerita bahwa saat umurku dua tahun, aku sudah berani bertengkar dengan ibuku perkara baju berenda yang hendak dipakaikan ke tubuhku. Oh betapa aku benci dengan baju berenda yang bisa bikin tubuhku gatal-gatal. Aku juga tak malu mengakui bahwa aku suka duduk mengkangkang tanpa bermaksud tidak sopan atau sengaja melawan aturan moral yang dibikin masyarakat untuk perempuan. Duduk mengkangkang saat berkendara bikin aku merasa aman dan duduk mengkangkang saat santai bikin aku nyaman. Bukankah cara duduk ini seperti selera makan? Jika aku suka sambel terasi, lantas apa itu dosa? Aku toh tidak merepotkan orang lain?

Diam-diam aku berharap, kelak banyak perempuan memahami bahwa sebenarnya mereka cuma punya satu aturan 'seharusnya'. Perempuan seharusnya punya hak untuk mendefinisikan sendiri hidup dan mimpi mereka, tanpa perlu diatur-atur negara dan masyarakat. Ya. Sesederhana itu.

Tapi mungkin ini hanya pikiran konyolku belaka. Barangkali juga berlebihan. Barangkali.

Friday, 9 August 2013
02:07 am

Gambar diambil dari sini

Monday, July 29, 2013

seorang laki-laki tua

Tak ada yang istimewa dari penampilan laki-laki tua yang sudah beruban itu. Yang khas barangkali adalah kekehnya yang cenderung beruntun dan senyumnya yang sering menghias di wajahnya. Itu saja. Tampan? Ia sudah cukup tua untuk dapat dikatakan tampan. Gagah? Ia juga sudah cukup berumur untuk dapat dikatakan gagah meski tak bungkuk jalannya. Tinggi? Ia tak juga tinggi. Sederhananya sederhana: lihatlah ia sekilas saja, belum tentu sosoknya tinggal dalam benakmu.

Berapa banyak orang, kau pikir, ingin menjadi seperti dia? Barangkali tak banyak. Dan barangkali hanya dapat dihitung dengan jari. Apalagi anak-anak muda jaman sekarang, yang cita-citanya tidak jauh-jauh dari orang terkenal, bintang film, fotomodel, penyanyi, anak band atau sederet profesi dengan bonus diliput media, diikuti paparazzi dan dimintain tanda tangan dan foto kemanapun mereka pergi. Atau yang agak beda sedikit, anak-anak muda yang bermimpi mengubah dunia dengan kepintaran mereka dikombinasikan dengan ambisi yang ditanamkan orang tua sejak kecil melalui sekumpulan piagam dan piala dari segala penjuru.

Dari sekian banyak anak-anak muda itu, berapa banyak yang melihat laki-laki tua sederhana tadi sebagai panutan? Entah. Yang jelas, ada yang perlu kau tahu tentang laki-laki tua tak menarik ini. Dulu tiap minggu, ia selalu menggandeng istrinya yang menderita alzheimer ke gereja untuk mengikuti kebaktian. Apabila ada acara makan-makan, ia akan mengambilkan sekaligus menyuapi istrinya dulu sebelum ia sendiri makan. Tak pernah kulihat atau kudengar ia mengeluh atau marah-marah pada istrinya. Ia pernah mengatakan pada kami, ia sudah berjanji akan terus menjaga istrinya apapun keadaannya, dan itu akan terus ia pegang. 

Menurutku, ia lebih dari seorang bintang film Hollywood. Atau penyanyi K-Pop yang digandrungi remaja masa kini. Atau bahkan presiden kita yang doyan ngomong prihatin itu. Laki-laki tua ini mengajarkanku arti cinta sejati yang dibungkus komitmen. Boleh jadi ia anonim, boleh jadi ia tak terkenal, tapi orang-orang seperti ia yang akan terus tinggal dalam hati ini. Menjadi inspirasi sekaligus teladan lebih daripada orang-orang terkenal itu.


Minggu, 28 Juli 2013
5 menit menuju 29 Juli 2013

#36harimenulisrandom - day 2




Monday, January 28, 2013

beranak

Alkisah di penghujung  tahun 2012, pada akhir sebuah pesta keluarga, seorang perempuan muda menunggu suaminya yang mengambil mobil sambil menggandeng anaknya yang berumur lima tahun. Tak lama kemudian, berdiri di sebelahnya seorang perempuan setengah baya. Perempuan setengah baya itu tersenyum pada perempuan muda tadi dan juga tersenyum pada anaknya. Capek dan lelah karena seharian belum sempat istirahat, perempuan muda ini tidak berminat untuk membuka percakapan dengan perempuan setengah baya tadi. Tapi memang terkadang hidup tak selalu memberikan apa yang kau inginkan. Perempuan setengah baya tadi menyapa perempuan muda itu begini: "Anaknya baru satu ya? Kok nggak nambah? Sudah besar lho anaknya." Kemudian kepada si anak kecil, perempuan setengah baya ini melanjutkan cerocosannya: "Kamu nggak pengen punya adik, Nyo?"

Lantas tanpa babibu, perempuan muda itu mengeluarkan pisau dari tasnya (entah bagaimana pisau itu ada di dalam tasnya) dan ditusukkannya pisau itu sekuat tenaga pada perempuan setengah baya yang tidak ia kenal sama sekali namun sudah sok tahu mencampuri hidupnya. Habis perkara, bukan? Bunuh mereka yang tidak bisa jaga mulut dan lancang bertanya yang bukan urusannya. Sebab ia tak habis mengerti, dari milyaran topik di seluruh dunia ini untuk membuka percakapan, termasuk topik paling biasa macam cuaca sekalipun, mengapa perempuan setengah baya itu harus memilih topik yang itu?

Tapi tidak. Bukankah hidup tak selalu memberikan apa yang kau inginkan? Sayangnya pembunuhan keji tersebut hanya ada di pikiran perempuan muda itu tadi. Yang sesungguhnya terjadi, perempuan muda itu cuma mesem sambil menggandeng anaknya menjauh dari perempuan setengah baya itu tadi. Sebab ia tahu, barangkali jika ia lebih lama berdiri di dekat perempuan tadi, apa yang ada di pikirannya bisa betulan terjadi. Dan ia tidak berminat masuk penjara hanya gara-gara perempuan setengah baya yang tidak bisa menjaga mulutnya. 

Sudah lama perempuan muda itu berpendapat bahwa beranak bukanlah perkara yang mudah. Yang nikmat dari beranak barangkali hanyalah saat-saat kau merasa membubung tinggi di awan-awan selama beberapa detik kemudian tak lama terdengar dengkuran lembut pasanganmu di sebelah. Tapi beranak? 

Perempuan muda itu memiliki pekerjaan yang bagus dan karir yang mapan. Ya. Mereka bilang, manusia macam dia biasa masuk dalam kategori berlabel: wanita karir. Ya. Wanita karir yang sering disalahpahami banyak orang, mulai dari yang tua sampai yang muda. Mulai dari yang mengaku beragama sampai yang tidak beragama. Wanita karir yang selalu dituding menyalahi kodrat dan tidak sayang pada keluarga, khususnya anak-anaknya. Yang meninggalkan anak-anaknya di tangan pembantu atau baby sitter. Yang dengan mudahnya sering dituduh tidak becus mengurus anak-anaknya sendiri. Sejatinya kata mereka yang mengaku lebih tahu, perempuan itu seharusnya seperti Ainun, istri mantan presiden Habibie yang memutuskan untuk tidak bekerja karena ia tidak mau meninggalkan anak-anaknya di tangan orang lain sehingga ia tidak bisa membentuk sendiri karakter anak-anaknya demi sebuah eksistensi dan harga diri sebagai wanita sukses. Ya. Makan saja kata-kata itu, sebab perempuan muda itu berpendapat menjadi ibu tidak lah sesempit pandangan "tugas wanita adalah di rumah dan merawat anak-anak" atau “memutuskan karir untuk membentuk karakter anak-anak di rumah”. Pandangan yang menurut perempuan muda itu sangat fungsional. Persis seperti kata Aristoteles. Peran perempuan di dunia ini fungsional, yaitu supaya laki-laki lebih bebas berekspresi dan berkarir sesuka hati. Juga seperti kata pepatah yang sering didengung-dengungkan motivator, pendeta, atau bahkan tokoh nasional bahwa dibalik laki-laki yang sukses ada perempuan yang hebat. Sungguh terdengar elok dan indah di kuping. Sehingga para perempuan tak cukup harus mendengar sekali, tapi berkali-kali. 

Tapi beranak memang tak semudah mengambil pembantu atau baby sitter setiap kali kau memproduksi bayi, kata perempuan muda tadi. Supaya kelak orang-orang dapat melihat betapa suburnya kau dan betapa kayanya suamimu sebab lima anak-anakmu masing-masing didampingi baby sitter satu persatu. Atau barangkali semudah itu sebenarnya beranak? Bayar satu, dua atau bahkan tiga pembantu atau baby sitter, sesuai dengan jumlah anakmu, sehingga kau tidak perlu repot sebab tahi dan air seni anakmu sudah ada yang mengurus?

Perempuan itu bertanya-tanya lagi dalam hatinya. Masih tidak terima dengan pepatah yang terdengar elok tadi. Jika dibalik laki-laki sukses ada perempuan yang hebat, apakah itu berarti dibalik perempuan sukses ada laki-laki hebat? Ia tidak yakin. Yang lebih masuk akal barangkali begini: dibalik perempuan sukses ada laki-laki yang cemburu. Karena dunia sepertinya sudah telanjur sepakat dengan Aristoteles, Francis Bacon atau bahkan Immanuel Kant dan sejumlah filsuf lainnya bahwa bukan kodrat perempuan untuk sukses di bidang selain rumah tangga. Ada yang salah dengan wanita karir yang sukses. Bahkan ada yang berpendapat wanita karir yang sukses takkan pernah bahagia selama ia belum mendapatkan laki-laki dimana mereka bisa mendedikasikan hidup mereka untuk bercinta dan beranak dengan.

Dan ditengah-tengah kegalauan hatinya, perempuan muda itu menatap anaknya yang sedang tidur dan suaminya yang sedang bekerja. Ia tahu, diluar sana lebih banyak perempuan tak seberuntung dirinya memiliki suami yang mau mengerti urusan rumah tangga dan ikut repot membantu menjaga anak. Yang mau mengerti bahwa keputusan beranak semata-mata bukan karena ketakutan anaknya akan kesepian tanpa kehadiran saudara kandung ataupun kekhawatiran bahwa anaknya akan kerepotan merawat kedua orang tuanya yang sudah renta kelak ketika ia dewasa. Diluar sana, lebih banyak lagi laki-laki yang merasa dirinya suami sekaligus raja yang harus selalu dituruti kemauannya. Yang berpikir bahwa pekerjaannya adalah cari duit sambil menanamkan benih pada sel telur istrinya dan pekerjaan istri adalah menunggu suami di rumah, memasak dan tentu saja beranak setelah benih berhasil tertanam. Ia bersyukur suaminya tak pernah menghakiminya karena ia tetap memilih untuk berkarir dan suaminya juga percaya bahwa kedekatan orang tua dan anak tak semata-mata hasil dari kuantitas waktu tapi lebih pada kualitas. Siapa yang bilang wanita karir tak bisa dekat dengan anak-anaknya? Siapa yang bilang wanita karir tak dapat ikut membentuk karakter anak-anaknya hanya karena delapan jam atau lebih dihabiskan untuk pekerjaan mereka di kantor? Hanya yang buta dan tak mau percaya lah yang bilang demikian.

Dipeluknya anaknya dalam tidur, dan anak itu bergumam ditelinga perempuan muda tadi: "I love you, Mom."

Monday, 28 January 2013
03:42 pm

PS : Gambar diambil dari sini